Tipe: Koran
Tanggal: 1993-07-09
Halaman: 07
Konten
A HARIAN EKONOMI NERACA 9Juli 1993 H | B URAN Iklan di Majalah Sastra *Asal Jangan Harus Begini Begitu Setiba Ramadhan dari Eropa, ia diajak Sudjati SA membuka rubrik essay ber- sama Nugroho dalam maja- lah yang sudah mapan, Kisah, pimpinan HB. Jassin. Lagi-lagi, Kisah mati. "En- tah karena essay-essay saya dalam rubrik Persada atau memang Kisah yang sudah pada puncaknya mengalami engap-engapan." Selanjutnya, Ramadhan bekerja di Kantor Berita Antara juga di majalah Sia- sat diajak Asrul Sani mene- ruskan tugasnya mengurus rubrik kebudayaan. Saat ke- mandekan berbudaya masih belum cair, TIM lahir hampir berbarengan setelah berdiri Dewan Kesenian Jakarta. Ketika itu, Asrul Sani, Rosi- han Anwar, dan Ramadhan langsung menghadap guber- nur Ali Sadikin. Apalagi ka- lau bukan rayuan untuk mendirikan majalah kebuda- yaan. "Tak panjang tanya, bang Ali langsung mena- nyakan, perlu biaya berapa?" ujar si pengarang Priangan si Jelita ini. "Saat itu kami tak punya pikiran untuk masang iklan di majalah, dan lagi siapa yang mau pasang? Sekarang, barangkali tidak mustahil, barangkali sekarang ada yang bakal mau. Entahlah," kata Ramadhan kon- yang dang sebagai editor buku- buku mengenai Soeharto. Juni 1968, terbit majalah Budaya Jawa,yang hingga matinya tak pernah terpikir- kan mengenai iklan yang bisa jadi penunjang pener- bitan tersebut. "Sewaktu di Siasat hingga kemudian menjadi Siasat Baru kami pun tak pernah membicara- kan iklan. Sepihak punya keyakinan bahwa di mana pun majalah kebudayaan ha- rus dibantu satu lembaga yang mengerti benar pen- tingnya majalah budaya se- perti ini. omi ba- ton b- no- er- asi ka in ile mi m. e- er- an cu ng a, a. 7- n a g e, Sastrawan besar, Rama- dhan KH, pernah punya angan-angan. Sejak SMA ia ingin menerbitkan ma-jalah kebudayaan atau setidaknya duduk di tengah-tengah re- daksi majalah "terhormat" meng-urus rubrik kebudaya- an. Tapi nasib menentukan lain, majalah hasil ujudan- nya itu mati di tengah jalan. "Apalah namanya maja- lah itu ketika saya SMA di Bogor. Majalah atau bahkan selebaran stensilan Seroja saja. Cuma sempat terbit dua nomor, setelah itu mati. Se- galanya juga dari kocek saya pribadi, itu tidak berarti. Toh, di dalamnya ada tulisan yang saya rasa cukup bagus. Tulisan tangan Asrul Sani yang waktu itu bertempat tinggal di Bogor," cerita Ra- madhan KH pada Diskusi Sastra Majalah Budaya Dulu, Kini, dan Esok di TIM, Rabu (7/7). Ketika jadi mahasiswa di Jakarta, lanjutnya, Rama- dhan diajak Muharyo Djojo- digdo dan Nugroho Notosu- santo menerbitkan sebuah majalah, di dalamnya ada rubrik kebudayan. "Uangnya dari mas Sribudoyo, entah dari mana, saya tidak mau tahu. Nampaknya ia punya dan ia menyanggupi. uang Lahirlah Kompas, sebuah majalah yang punya ambisi berisi tulisan sastra dan seni. Muharyo punya pembawaan kuat buat ber-kocak, maka supaya majalah tak tegang, di dalamnya disediakan tem- pat untuk berkocak-kocak, kata Ramadhan saat diskusi itu, kerjasama majalah Tem- po dan PWI sub Kebudayaan. Sayang, Kompas yang ter- bit tahun 50-an itu, terpaksa harus mati juga. "Saya me- mang tak lama ikut serta, karena keburu berangkat ke Eropa. Cerita Nugroho dan Muharyo, Kompas mati ka- rena keuangan seret, peng- edarannya buruk dan tidak menentu, dan kesalahan di- timpakan pada pihak yang notabene mengeluarkan duit. Celakalah dia. Tapi sekarang, majalah Kompas meninggalkan bekas yang berarti dalam sejarah sastra kita," tuturnya di depan pe- serta yang penuh minat mendengarkan. Jumat, 9 Juli 1993 12.00 Wild Rose 13.00 The Flying Doctors 14.00 Sesame Street 15.00 Airwolf 16.00 17.00 Riptide The A. Team 18.00 18.30 Seputar Indonesia 19.00 Berita Nasional Rumah Kami 00.35 01.35 19.30 Tak Tik Boom 20.00 Macgyver 21.00 Dunia Dalam Berita 21.30 Info Bisnis 21.35 Aneka Dialog 22.35 Film Unggulan Sepekan "Veronica C, Deadly Minds Another World Berita Terakhir. Di luar negeri pun majalah kebudayaan selalu bisa hadir dan berjalan de- ngan sponsorship dari badan atau lembaga yang paham benar akan masalah ini," kata Ramadhan. Festival Bintang Ala Nippon-kan Pesta "Festival Bintang" atau "Tanabata Matsuri" yang menghidangkan aneka ma- kanan dan minuman khas Jepang secara istimewa, ditampilkan dari tanggal 5 sampai 11 Juli 1993 di restoran Nippon-Kan (Teppa- nyaki Room) di Jakarta Hilton International. dimanjakan pula, misalnya menu Tender- loin atau sirloin sebanyak 100 gram, menu Ozeki 159 gram. Sedangkan mereka yang kuat makan dapat menikmati 180 gram daging sapi berkualitas tinggi dalam menu Yokozuna. Saus spesial akan disajikan sebagai pelengkap. Untuk acara khusus itu, koki dari Jepang Ogawa-San telah menyusun tiga menu spe- sial yaitu Komusubi, Özeki dan Yokozuna, yang disajikan secara teppanyaki yaitu di- hidangkan panas-panas langsung dari kom- por. Makanan ditawarkan seharga Rp yang 51.000 per orang untuk menu Komusubi, Rp 57.000 untuk Özeki dan Rp 68.000 untuk Yokozuna itu, akan cepat membangkitkan selera makanan kita karena dipersiapkan dan dimasak di depan mata kita atau teppanyaki. Setiap menu terdiri atas hidangan rebus, selada, umpan tekak, sayuran, hidangan laut, daging sapi, nasi dan sup, serta buah pencuci mulut. Santapan dibuka dengan aneka hi- dangan rebus khas negeri Sakura dan selada buah dengan saus strawberry yang segar. Masih sebagai pembuka juga akan disajikan aneka umpan cekak Teppan, pilihan koki. Sebagai hidangan utama akan disiapkan beragam sayuran segar yang terdiri atas ba- wang Jepang, jamur enoki, asparagus, wortel dan jamur shiitake. Para tamu yang memilih menu Komusubi dapat menikmati tiga jenis hidangan laut: ikan, kerang dan cumi-cumi. Menu Ozeki disajikan empat macam hi- dangan laut: ikan, kerang, ikan salem dan ti- ram. Sedang menu Yokozuna juga me- nampilkan lobster. Mereka yang menyukai daging sapi akan ACARA HOTEL INDONESIA: Lobby "Musik Tradisional setiap hari 08.00- 10.00 Ganesha Bar "Netty Gales & Idrus Organis 19.00-21.45 *Jakarta Quintet 22.00-23.45 Ramayana Lounge Musik Tradisional Modern 17.00-23.00 Ramayana Terrace "Kelompok 60 19.30-22.30-Nirwanan Supper Club Jakarta Quintet 20.00- 21.30 *Metty Galles, Grace dan Jakar- ta Band 21.30-01.00-Nusantara Res- taurant "Festival makanan dan keseni- an Jawa Barat (sampai 11 Juli) JAKARTA HILTON INTERNATIO- NAL:Kudus Bar "Manneke & Renny O 18.00-21.00 'Eddy Sumlang & Anna Ebbro 18.00-tengah malam - Taman Sari Grill Restaurant 'Sari Nada Trio tiap hari 19.00-22.00-Pizaria Restau- rant RHYTMANILA 20.30-00.30* - R EKRE A S Jumat, 9 Juli 1993 14.30 17.00 17.30 "Kesalahan besar yang menyayat hati sampai seka- rang pernah saya lakukan adalah memotong karangan Mochtar Lubis. Pesan saya, jangan berbuat seperti saya, Sepulangnya Ramadhan supaya tidak sesal sampai dari Eropa (1954), ia disera- sekarang seperti saya alami, hi mengemudikan majalah memotong karangan sekali Menara, terbitan Sticusa. pun ekornya, sedikit." (Rat) MANDARIN ORIENTAL:Captain's Bar Playmeters (Filipina) dan Al Cas- tra Plus (Indonesia) menyajikan lagu- lagu pilihan 19.45-01.15-Cliper Lounge Solo Piano Lukaman Hakim atau Ms H Noveria Embuy 19.00-tengah ma- lam' TAMAN IMPIAN JAYA ANCOL TVRI 15.00 15.30 16.30 Cerdas Cermat Buat orang Indonesia yang makanan po- koknya nasi tidak perlu khawatir, karena santapan Jepang tiada lengkap tanpa nasi. Termasuk juga dalam ketiga menu di atas adalah nasi goreng atau mie goreng ala Jepang. Pimpinan Sticusa waktu itu menyerahkan secara mutlak kebijaksanaan padanya, begitu pun dengan bang Ali. "Itu membuka jalan buat kami, kebebasan mutlak ada pada kami." Sebagai penutup atau pencuci mulut, di- hidangkan koktil buah gaya Jepang yang berupa potongan mangga, pepaya dan me- lon segar dengan kue ketan dan es krim vanila, dengan dilapisi saus gula merah yang manis. SAHID JAYA HOTEL & TOWER Bengawan Solo Retestaurant "Siteran Musik oleh Panglejar Manah 18.00- 22.30 Lobby Tower Musik Tradisio- nal Indonesia Gamelan oleh Tina's Group-Sukohardjo-The Conservatory TEATER IMAX KEONG EMAS Solo Pianist-Yusuf 07.00-10.00 "Live Film Indonesia Indah 10.30/14.30/ Intertaiment bersama G + 4 Quartet 16.15 Anak-anak Indonesia 11.45 20.00-23.00 Our New Lobby Lounge "The First Emperor of China 12.45/ "Pakalolo's Band tiap hari 20.00-te- 15.15 'Untaian Manikam 13.45 ngah malam Angklung Plus (setiap PUSAT KEBUDAYAAN PERAN- Jumat) 18.00-tengah malam CIS Senopati 20.30 Film "Pierot Le Fou Galaxy Rangers" Film Pengetahuan "Invention" Musik "Mancagita Iklan untuk Majalah Sastra Anda berminat. Untuk informasi leng- kap dan pemesanan tempat, silahkan meng- hubungi telepon nomer (021) 570-3600 pe- sawat 5023. (Reza) Mengenai iklan pada majalah kebudayaan, Rama- dhan punya pengalaman di TIM ketika bergaul dengan Oesman Effendi dan Trisno Sumardjo. "Almarhum Oes- man Effendi saat itu seperti amatlah jijiknya dengan ik- lan yang diasongkan pihak industrialis. Rasanya tak pernah satu bannerpun di pasang di TIM yang berasal dari perusahaan. Barangka- li ia amat benci pada perusa- haan raksasa multi nasional. Perusahaan itu seperti di- anggapnya musuh kita." SDN 2 Talang, Lampung SDN Cipinang Melayu, 08 Pg. Jak-Tim SDN Karehkel II, Bogor Siaran Berita Sore Sekarang, ujar Rama- dhan, kita berada di zaman lain. Barangkali pimpinan majalah Horison sekarang, Goenawan Mohammad yang juga bicara pada diskusi itu, punya pandangan lain me- ngenai iklan. Menurut Ra- madhan, kalau ada lembaga yang membantu hadirnya majalah kebudayaan di tengah kita, harus kita sam- but, wellcome. "Asal jangan menetapkan, harus begini, harus begitu. Kebebasan harus berada di tangan pengemudi majalah itu. Sebaiknya jangan cuma ada satu majalah sastra dan seni di tengah kita saat ini, seperti idaman Mhd. Rustan- di yang tak pernah kesam- paian. Bahayanya, selera kita digiring ke satu arah," kata Ramadhan. Kiat Manajement judul: Tekun dan berhasil oleh: Drs. Marzuki Usman. Di akhir pembicaraan dis- kusi yang dihadiri antara lain HB. Jassin, DS. Mul- yanto, dan Satyagraha Hoe- rip, Ramadhan berpesan pa- da pengendali majalah sastra sekarang yang jauh lebih muda darinya. 18.00 Negeri Tercinta Nusantara 18.15 Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta" Karya Nyata 22.20 Film Kartun "Adventures of the 22.35 Pasar Seni 20.00 "Friday Jazz Nite bersama Ireng Maulana Production, menampilkan Armando Band - Pantai Ria Pretty Dankdut bersama Orkes Melayu Hendesa Group" HERWINDO ART GALLERY: JL Monginsidi 81 Kebayoran Baru "Pa- meran Lukisan karya Rodulf G Usman (sampai 19 Juli) GEDUNG SENI RUPA P&K Gam- bir: "Pameran lukisan Bagong Kussu- diardjo (sampai 13 Juli)* 18.30 18.58 Tinjauan acara malam ini 19.00 Siaran Berita Malam 19.30 Siaran Pedesaan 20,00 Bintang Nusantara 21.00 21.30 judul: Rotan oleh: Ibu Sujito Pelajaran Bahasa Arab judul: Di toko Souvenir (1) oleh: Drs. Hidayat Siaran Dunia Dalam Berita Arena dan Juara Sepak Bola "Liga Prancis" kos.Marseille vs Lille. Tinjauan Acara Esok hari Berita Terakhir 22.45 Sepekan Film Pilihan judul : Robocop 24.00 Tutup Programa 2 16.30 Film Kartun "Alfred J Kwak" 17.00 Film Pengetahuan "Rendevous" 17.30 Berita Ibu Kota & Agenda Jakarta 18.00 Film Seri "Lou Grant" 19.00 Berita Malam 19.30 English News Service Seni Tradisional 20,00 21.00 judul: Ketoprak "Minak Jinggo" Tutup I "Dewi Sri" (Anthony Wibowo), "Perahu Bersandar" (Mozes Misdy) dan "Kuda dan Matahari" (Muryotohartoyo). Tiga pesona dari mata batin dunia lain." Tiga Pesona Pelukis Nuswantara Mozes Misdy (kelahiran Gambiran Banyuwangi 14 Desember 1941) kembali tampil dalam pameran ber- sama di Balai Budaya, Ja- karta. Kali ini bersama Mur- yotohartoyo dan Anthony Wibowo. Danarto." Dua pelukis yang sempat menjadi gurunya saat Muryoto menjalani pendidikan di STSRI (seko- lah tinggi seni rupa) Yogya- karta. Sosok penari, wanita, perahu, bunga, alam dan lingkungan terutama kehi- dupan nelayan merupakan obyek Mozes. Warna warni terolah dengan spontanitas yang ekspresif, adalah gaya dasarnya. Mozes dengan pe- rahu yang dikenal dengan "merek dagang"nya hingga kini masih disandangnya. "Pameran ini anggaplah satu program tahunan saya. Ada pameran atau tidak, tiap hari saya habiskan waktu buat melukis. Karena melu- kis sudah menjadi kebutuh- an dan panggilan jiwa," "kata pelukis yang sudah meng- habiskan Rp 400 juta untuk membangun galeri pribadi di sekitar TMII, Jakarta itu. karena pameran bertiga itu Ini (perlu) diucapkannya, digelar di tengah masa pa- meran tunggalnya di Execu- tive Club Jakarta Hilton, akan berakhir Sabtu (10/7).*** yang Akan halnya Muryotohar- toyo (kelahiran Bausasran Yogyakarta 1 Maret 1942), tampil dengan ujud karya- nya yang "dipengaruhi nalu- ri lohgika penciptaan senilu- kis Fajar Sidik dan naluri artistik penciptaan senilukis Balada Anak Desa, ada- lah salah satu serial di TPI yang mengangkat tema ten- tang anak-anak. Serial ini ditujukan untuk melihat ba- gaimana kehidupan anak- anak yang berada di desa, dengan berbagai permasa- lahan yang mereka harus hadapi. Balada Keberanian Anak Desa di TPI "Banyak serial yang men- ceritakan tentang anak, tapi pada serial ini anak bukan sebagai objek tapi sebagai subjek. Balada Anak ini juga Grup lawak "Empat Se- kawan membuat serial si- netron komedi berjudul Liku-liku Laki-laki. Meng- angkat tema tentang sepu- tar dunia laki-laki dengan segala bentuk problemati- kanya: pekerjaan, cita-cita, juga cinta. Dalam bentukan unik, te- rasa dirancang dengan kete- nangan dan dibangun dalam kecermatan, rumit, meng- hasilkan keindahan khas, lu- kisan Muryoto tetap melon- tarkan dengan lembut- pikiran (perenungan dan gagasan), yang meminjam kata-kata Kahlil Gibran, ia bergerak dalam gelora rasa. Tentang ujud dan penga- ruh dari dua pelukis itu, Mur- yoto bilang "Bahkan menda- sari pula anggapanku, bah- wa senilukis adalah suatu penciptaan seni, yang dinya- takan atau dibangun dengan ilmu dan pengetahu kisan." lu- "Serial komedi itu akan dipadu dengan masalah- masalah yang sedang trend di masayarakat. Misalnya bagaimana kehidupan se- orang pengangguran yang mempunyai banyak hara- pan, dan cita. Wartawan idealis yang mencoba men- junjung tinggi profesinya. Juga anak muda yang men- jalankan profesi kalangan bawah dan banyak dileceh- kan," kata Komar. Dalam aktivitas senilukis- nya, setelah mengawali pen- didikan senilukis di Sang- garbambu, Yogyakarta, 1960 yoto sempat berpameran di dan STSRI 1965-1969, Mur- kota-kota Jawa-Madura, 1963-1965 dalam "Muhibah Keliling Sanggarbambu." Lalu, 1974, pameran berdua Bambang Bujono di Balai Bu- daya Jakarta, 1975 pameran "Seni Rupa baru Indonesia 75" bersama B. Munni Ardhi, Siti Adyati, Jim Supangkat, Bachtiar Zainoel, Harsono, Hardi, Ris Purwana, Anyool Broto, Pandu Sudewo, Nanik Mirna. Selain itu, sejak 1974 "Melalui sinetron ini kami menyadari bahwa kami harus mengembang- kan sikap sebagai seorang seniman, bahwa kesenian ini adalah dunia yang kami geluti bukan sekedar un- tuk iseng-iseng atau untuk mencari popularitas". Menurut dia, latar bela- kang dari kemauan untuk ikut terlibat dalam pro- duksi sinetron adalah sa- ngat sederhana, yaitu ikut terlibat dalam bentuk kese- nian yang begitu variabel. dibuat oleh dua Production House (PH), yaitu Pancania- ga Indo Perkasa dan Cipta Lestari Swadaya," kata Syamsudin CH Haesy, pada launching di Perbanas, Ja- karta.Yang cukup menarik, kata Symasudin, tema yang diangkat dari serial ini ialah bagaimana rasa kesetiaka- wanan seorang anak terha- dap keluarga, teman dan lingkungan. Debbie Cynthia Dewi, pro- duser Cipta Lestari Swada- ia aktif mengikuti Pameran Besar (Bienalle) Senilukis Indo-nesia yang diadakan Dewan Kesenian Jakarta. "Kami sudah tampil dari satu panggung ke panggung lain, melemparkan humor lewat radiojuga layar televisi. Sine- tron memang bukan sesuatu yang kelewat aneh bagi kami, karena toh dalam acara ta- hun baru TPI yang lalu, kami datang dengan sinetron Bara Buru Baru." Anthony Wibowo (kelahir- an Malang, Jatim 16 Agus- tus 1945) tampil dengan unikum lain. Dengan konsep berkesenian yang dilakoni dalam apa yang dinyatakan nya sebagai "kesadaran di- namika Gerak, Tergerak, Bergerak dan Menggerak- kan," Anthony lebih menyu- kai melukis dengan sentuh- an-sentuhan spontan-lang- sung menggunakan ke- lima jari tangannya. Konsep itu pula yang men- desak naluri Anthony untuk menyentuh gerak cahaya, "merekam siraman cahaya, dan mengalirkannya ke atas kanvas" dengan ujung- ujung jarinya. Cahaya itu, tetap saja membentuk ujud, yang jadinya unik dalam tuangan kesannya. ya, katakan, serial ini se- ngaja kami buat karena film anak-anak masih kurang se- Unikumnya itu pada 1991 penelitian kualitatif Puslit terpilih sebagai studi kasus IKIP Negeri Malang dengan judul "Penelitian tentang se- orang pelukis bernama An- thony Wibowo beserta karya- karyanya," dengan tim peneliti Dr Sutopo, Drs Katjik S (AI), Drs Imam Mdr. dan Drs Triono W. Tetapi, Supiyo katakan "Saya memang merasa tidak mempunyai hak moral un- Sang pelukis sendiri ada- tuk menjatuhkan vonnis lah mahasiswa IKIP Negeri angka sebuah gambar, apa- Malang, 1970-1973 yang lagi lukisan karya pelukis kemudian mengajar seniru- yang sudah punya nama." di kota itu sepanjang 1974- pa (ibrs) 1980. Bersama pelukis Ali- min Tamin dan Agus Djaja antaranya, ia mendirikan CITRA-Himpunan Pelukis Indonesia-Bali, selain aktif sebagai penulis senirupa di berbagai media-massa. point itu pada posisi teratas." Liku-liku Laki-Laki didu- kung artis-artis yang cukup ternama: Ria Irawan, Nia Zulkarnaen, HIM Damsyik, Debby Sahertian, Kusno Sudjarwadi. Disutradarai oleh Yasman Yazid, penulis skenario Cuk F. Kristanto. Episode pertama akan dita- yangkan pada Minggu 11 Juli jam 19.30-20.30, dan selanjutnya seminggu sekali di RCTI. H.B. Supiyo, seorang pe- nulis yang mengantar pa- meran bertiga itu mengata- kan "Berkelana dengan bekal indera rasa bersama Tiga Pesona Pelukis Nuswantara ini bakal mempertajam mata batin kita. Di tengah makin gemuruhnya pesona dunia yang tak jarang cuma mem- peruncing mata lahiriah kita, lukisan-lukisan yang tersaji dalam pameran ini akan bahwa masih ada "dunia" kembali menyadarkan kita, lain yang mempesona mata batin kita: dunia seni lukis." Untuk menilai lukisan ia mengelak. Ia sebut gurunya di SMA de Britto, Yogyakar- ta yang 42 tahun silam beru- cap "Meskipun tanganmu ge- bar, tetapi jiwamu bisa metar memegang pencil gam- "membaca" gambar mana yang layak diberi nilai 4 atau 6. Tanyakan pada nuranimu, dan gunakan rasa yang ber- gelora dalam jiwamu." Liku-liku Laki-laki Sinetron Komedi Situasi Empat Sekawan adalah wartawan di Harian Desas Desus. Di sebarang rumah itu, tinggal Komar, Wakil Pimpinan Redaksi Harian Desas Desus. Tokoh ini begitu kuat semangat- nya untuk memantapkan wibawa di hadapan anak buahnya. Juga kata Derry, "Kami sadar kesenian juga sebuah bisnis. Meskipun, bukan berarti bahwa kami meng- anggap, bekerja dalam kese- nian layaknya bekerja di se- Dikisahkan, Derry dan buah pabrik. Karena, bagai- Ginanjar yang tinggal di satu manapun, kesenian memiliki rumah titipan. Ginanjar sesuatu yang tak dimiliki seorang penganguran yang oleh sebuah mesin, yaitu memilki banyak harapan dan rasa. Kami menempatkan cita-cita, sedangkan Derry DERRY (duduk) dan KOMAR-Wartawan Desas-desus Perkembangan ini cukup menarik karena dengan lang- kah itu, persaingan antara empat stasiun televisi: TVRI, TPI, RCTI, SCTV, dan AN- TV akan semakin tajam dan memberikan warna tersen- diri dalam setiap penayang- annya untuk menarik pemirsa. "SCTV secara resmi akan menjadi pendatang baru dalam persaingan televisi di Indonesia. Juga kami akan memisahkan diri dari RCTI yang selama ini program siaran kami selalu sama," kata Slamet Supoyo, Dirut SCTV, pada acara jumpa pers (6/6) di Jakarta. Sementara M.S. Ralie Siregar Dirut RCTI menga- takan, pada 24 Agustus nanti RCTI dan SCTV akan diteri- ma di 10 kota besar Jakarta, Bandung, Semarang, Yogya- karta, Solo, Surabaya, Den- Padahal, jika ia berha- dapan dengan Pimpinan Redaksinya hampir-ham- pir tak punya daya. Ke- giatan rutinnya adalah membelikan rokok dan ke- troprak bagi si boss. Ditam- bah lagi, ia begitu takut terhadap istrinya. Di tengah para tokoh itu, ada Eman, penjual roti yang rada urakan. Ia tak ragu-ragu mengantarkan roti ke rumah langganan- nya malam-malam, kar- ena esok pagi dia ada keper- luan lain. Tiga Pesona Pelukis Nuswantara Di Balai Budaya 5-11 Juli 1993 No. Judul Lukisan Karya Muryoto Hartoyo 1. Kuda dan Matahari 2. Wanita 3. Anugrah 4. Image Bidang-Bidang 5. Bidang-Bidang Bersentuhan Episode pertama ini cu- kup menarik, meski guyon- an yang tampil terlalu dipaksakan dan terasa ku- rang menggigit. Misalnya Ginanjar, saat sedang me- nunggu kiriman dia terli- hat memakai helm yang ka- tanya nanti berguna untuk melindungi dia dari lem- paran tabung gas oleh tu- kangnya. Dia kena juga. *(wan) Harapan Kehidupan Alam Kebahagiaan Dua Insan 8. Kehidupan 9. Dua Insan Dalam 10. Bunga Wijayakusuma 11. Wanita dan Barong 12. Kuda 13. Susunan Bidang- Bidang A'Geomitris 14. Bidang-Bidang Berdampingan 6789 Karya Mozes Misdy 1. Bunga I Perahu l Perahu IIl Bunga II Pantai I Bunga III 2. 3. 4. 5. 6. 7. Perahu III 8. Bunga V 9. Perahu IV 10. Bunga V 11. Pantai II 12. Flamboyant 13. Pemandangan Karya Anthony Wibowo 1. Tentang Tiga Wanita 2. Siraman Cahaya '93 3. Cahaya Bulan Biru '93 4. Penari '93 5. Cahaya Bulan Kuning 6. Perjumpaan Kesaksian 7. Burung Punya Sarang 8. Teratai (Tunjung) 9. Bougenvile Dalam Vas 10. Alamanda untuk adik, 11. Sri sang penabur 12. Wanita dan Biolanya 13. Pintu Hitam Bahan Cat Minyak Cat Minyak Cat Minyak Cat Minyak Cat Minyak Cat Minyak Cat Minyak Cat Minyak Mulai 24 Agustus nanti pasar Dili, Ambon dan Ba- Indonesia semakin marak likpapan. dengan siaran-siaran televi- si nasional. Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI) dan Surya Citra Televisi In- donesia (SCTV) akan meng- udara secara nasional. "Dan nanti akhir 1993, kami akan menambah jang- kauan siaran di Banjarma- sin, Samarinda, Medan, Pa- lembang, Batam, Menado, Ujungpandang, dan Ma- lang," kata Ralie. Cat Minyak Cat Minyak Cat Minyak Cat Minyak Cat Minyak Cat Minyak SCTV Cat Minyak Cat Minyak Cat Minyak Cat Minyak PLASATE Cat Minyak Cat Minyak Cat Minyak Pintu Putih 14. Satu Sudut Kota Malang (Jembatan Splendid) Cat Minyak 15. Kebanggaan Masa Kecil Cat Minyak 16. Penari Pemula Cat Minyak 50 x 60 40 x 60 90 x 100 50 x 60 Cat Minyak 90 x 100 Cat Minyak 70 x 80 Cat Minyak 220 x 120 Cat Minyak 50 x 60 Cat Minyak 110 x 120 Cat Minyak 70 x 80 110 x 120 110 x 120 95 x 125 Untuk memperkuat siar- an ini akan didirikan sta- siun relay, yang biaya pen- diriannya ditanggung bersa- ma RCTI dan SCTV. Besar- nya biaya Rp 50 miliar un- tuk itu. Kenapa lebih lebih meng- Akrilik 90 x 100 Cat Minyak 115 x 135 Cat Minyak 100 x 120 Cat Minyak 60 x 80 Cat Minyak Akrilik Akrilik 100 x 120 100 x 120 90 x 100 Akrilik Cat Minyak Cat Minyak 95 x 135 Cat Minyak 115 x 135 Cat Minyak 45 x 65 Cat Minyak 70 x 140 RCTI dan SCTV Siaran Nasional kali. "Untuk yang pertama ini, 6 episode dibuat Acara Impor Tetap Membanjir oleh Pancaniaga Indo Perka- sa, sedangkan 6 episode beri- kutnya kami yang membuat- nya," kata Debby Cynthia. Tokoh serial ini adalah keluarga seorang janda yang tidak mampu, Mak Parto yang hanya mengandalkan tenaga sebagai seorang bu- ruh. Dia tidak mampu meng- hidupi dua anaknya yang su- dah sekolah di SMP dan SD. Surtini, anak tertua duduk di kelas tiga SMP dan Sumin- to, bungsu di kelas VI SD. Balada Anak Desa dibuat dalam serial yang cukup banyak, 12 episode. Enam episode awal yaitu, Sepeda Baru, Mengungkap Misteri, Hari-hari yang Sendu, Ka- wan Baru, Gelang Kawat da Kembalikan Jipangku. Para pemain dalam serial ini adalah Saptaria Prabo- wo, Ekandari, Koko Mamiek, Andi Susanto, Aryo Danaro, Yoyok Aryo dan Nizar Zul- mi. Lokasi shooting dikawa- san Borobudur, Magelang Ja- wa Tengah, sekitar 40 km dari Yogyakarta. Mulai dita- yangkan setiap Jumat jam 11.30. Episode pertama Se- peda Baru telah ditayang- kan.*(wan) Ukuran RCTI 100 x 90 70 x 55 100 x 90 70 x 55 70 x 55 100 x 90 70 x 55 45 x 35 Mengenai persaingan dengan stasiun televisi lain, Ralie menanggapi, soal itu biasa. Dalam berbisnis juga penuh dengan persaingan. "Sedangkan antara RCTI dan SCTV tidak akan terjadi persaingan. Tapi persaing- an kami sehat. Kami akan saling mengisi segala keku- rangan. Dan itu kami sadari 60 x 46 70 x 55 60 x 60 70 x 55 70 x 55 70 x 55 TPI ANTV 80 x 85 85 x 100 95 x 135 80 x 100 80 x 100 17 Harga Rp. 3.000.000, Rp. 2.000.000,- Rp. 4.000.000, Rp. 3.000.000,- TVRI Rp. 2,500.000, Rp. 4.000.000 Rp. 2.500.000 Rp. 2.000.000,- Rp. 2.500.000, Rp. 2.500.000- Rp. 3.000.000 Rp. 2.500.000, Rp. 2.500.000 Rp. 2.500.0002 Rp. 2.000.000,- Rp. 2.000.000 Rp. 10.000.000 Rp. 2.000.000,- Rp. 7.500.000, Rp. 4.000.000 Rp. 12.000.000,- Rp. 2.500.000 Rp. 12.500.000,- Rp. 3.500.000,- Rp. 10.000.000 Rp. 12.500.000, Rp.9.000.000,- Rp. 4.000.000, Rp. 5.000.000,- Rp. 4.500.000,- Rp. 2.500.000,- Rp. 4.500.000 Rp. 4.500.000,- Rp. 4600.000 Rp. 3.500.000, Rp. 3.500.000 Rp. 7.000.000 Rp. 7.000.000,- Rp. 2.000.000,- Rp. 6.000.000 Rp. 7.000.000,- Rp. 3.000.000, Rp. 3.000.000,- kami pasti memiliki pangsa pasar yang berbeda, dan pasarlah yang akan menen- tukan." Mengenai program siar- an, Eduard Depari, Mana- jer PR RCTI mengatakan, presentase siaran menunjuk SK Menpen no 111 tentang Hiburan, Olah Raga, Iklan La-yanan Masyarakat, yakni 50%. Pendidikan, Kebuda- yaan dan Agama 20 %, Siar- an Nia-ga 20 % dan siaran berita, penerangan dan in- formasi 10%. Mengenai presentase didies utamakan perkembangan di untuk hiburan adalah 30 per- wilayah Indonesia Timur, sen produksi lokal sedang- Eduard Depari mengatakan, kan 70 % produksi impor.. ini hanya untuk memberi- Walau diakui,dari survey kan pemerataan saja di bi- yang dilakukan, produksi lo- dang informasi. "Kami sadar kal ternyata mampu Indonesia Timur ini terting. menyedot banyak pemirsa, gal mengenai informasi. Juga karena produksi lokal lebih wilayah timur ini sangat mudah untuk dimengerti. mudah dimasuki siaran dari Australia, jadi kami membe- rikan alternatif untuk mem- berikan keseimbangan." Ralie menambahkan, perkembangan siaran TV di wilayah Asia Pasifik begitu pesat sekali, 35 persen diisi oleh negara-negara di wila- yah Aspac, sedangkan 45 % siaran diisi Amerika. Sementara itu Indrieni Basarah, Direktur Operasi SCTV menanggapai masalah siaran yang akan ditayang- kan nanti berbeda dengan RCTI. "Misalnya pada wak- tu RCTI menyiarkan olah- raga, SCTV akan menyiar- kan musik. Perbedaan siar- an ini akan memberikan alternatif kepada para pe- mirsa." Ralie Siregar mengata- kan, produksi luar ini cukup murah. "Bayangkan saja un- tuk satu episode Mac Giver saja harganya hanya US$ 3000 (setara Rp 6,5 juta). Se- dangkan produksi lokal bisa mencapai puluhan juta. Jadi kami akan memperbanyak produksi luar dari setiap acara. Bisa dikatakan untuk RCTI saja produksi lokalnya nanti akan mencapai 20 persen, sedangkan untuk produksi impor 80 persen." Kesempatan Kerja Dengan adanya siaran na- sional RCTI dan SCTV akan membuka banyak kesempat- an kerja, karena di kota-kota yang terjangkau siaran akan dibangun stasiun transmisi. "Pegawai yang akan diambil kami prioritaskan dari daerah setempat. Tambahan pegawai ini akan mencapai 200-250 orang," kata Ralie. Pembangunan stasiun- stasiun transmisi ini meli- batkan pihak swasta nasio- nal, terutama untuk wilyah Indonesia Bagian Timur. *(wan)
