Tipe: Koran
Tanggal: 1997-08-23
Halaman: 04
Konten
Sabtu, 23 Agustus 1997 Penerbit Pemimpin Umum/Pendiri Wakil Pemimpin Umum Pemimpin Redaksi/ Penanggung Jawab wekil Pemimpin Perusahaan Managing Editor Sekretaris Redaksi Redaktur Anggota Redaksi Terbit Tarip Iklan Alamat Telepon Perwakilan Jakarta Perwakilan Banda Aceh SIUPP Dicetak Oleh t 1 1 : : : : : : : JI.Halat Medan Yayasan SIKAP PRESS. Harta Susanto. Supandi Kusuma. analisa H. Soffyan. H. Ali Soekardi. Joeli Salim. Paulus M. Tjukrono. H. War Djamil. A. H. Amir Siregar, H. Kaharudin, H. Bahari Effendy, H. Naswan Effendi, Usman Alie, H. War Djamil, Mulyadi Franseda, H. Ismail Lubis, H. Basyir Ahzar, Buoy Harjo, Agus Salim, H. Azmi Majid (foto). M. Hatta Lubis, Mac. Reyadi MS, A. Rivai Siregar, Hasan Basri Ns, Timbul O. Simarmata, Johan Jambak, ww Ismugiman, Idris Pasaribu, M. Sulaiman, Ali Sati Nasu- tion, Samil Chandra, M. Nur, Hermansyah, Aswadi, Faisal Fardede, Kwa Tjen Siung. Hendar Tusmin, Anthony Limtan. Ka A inggu 7 kali. Seminggu 7 Rp. 4.500,- per mm/kolom (umum). AP Rp. 3.000,- per mm/kolom (keluarga). Jalan Jend. A. Yani No. 35-43 Medan. Kotak Pos : 1481. Telex No. : 51326 ANALIS IA. Fax: (061) - 514031, Telegram: ANALISA MDN. Redaksi : 556655 (2 saluran)/511256. Acur Tata Usaha : 554711 (3 saluran)/513554. San Frans Tandun, Jln. K.H. Hasyim Ashari. No. 43-A Jak. Pusat Tel. 3446609/3844339/3453912 Fax. (021)-363388. Fa H. Harun Keuchik Leumiek Jalan Tgk. Cik Ditiro 106 Tel. (0651)- 23839. Fax: (0651) 23839. SK. Menpen No. 023/SK/MENPEN/SIUPP/A.7/1985. Tanggal 24 Desember 1985. P.T. KUMANGO Medan (Isi di luar tanggung jawab pencetak). Tajukrencana Sepatu Pelajar DIRENCANAKAN pelajar semua jenjang dan jenis se- kolah akan memakai sepatu yang bentuk, warna dan logo yang sama. Penyeragaman sepatu pelajar itu telah menda- pat persetujuan dari Depdikbud dan uji coba dilakukan pada beberapa Sekolah Dasar (SD) di Jawa Timur dan Jawa Barat. Tujuan penyeragaman sepatu pelajar adalah positif. Ka- lau pakaian pelajar telah diseragamkan seperti selama ini termasuk topi, dasi dan warna kaos kaki serta warna sepa- tu, kini giliran bentuk sepatu itu yang diseragamkan. Sa- saran akhir tentunya, para pelajar saat ke sekolah akan me- ngenakan seragam lengkap yang sama bentuk, jenis warna serta logonya. Penyeragaman bagi para pelajar juga mengandung un- sur pembinaan, memupuk dan mempertebal persatuan serta kesatuan. Rasa kebersamaan itu sangat diperlukan agar pe- lajar merasakan satu dalam berbagai hal. Tiada perbedaan, terutama yang menyangkut penampilan yang bersifat ma- teri adalah hal terpenting dalam kebersamaan tersebut. Jika selama ini terjadi tawuran (perkelahian) antar pe- lajar, antara lain disebabkan ada titik rawan dalam rasa ke- bersamaan itu. Bukan mustahil muncul perbedaan yang sa- ngat tajam dalam beberapa sisi, yang akhirnya memicu ta- wuran. Dalam situasi perekonomian seperti saat ini, di mana sebagian pelajar adalah dari golongan biasa dan/atau seder- hana, rasa kebersamaan itu sangat diperlukan agar pelajar tetap merasa kompak, menyatu dan tidak merasa ada perbedaan. Mungkin, dalam penerapan penyeragaman sepatu pe- lajar itu, ada beberapa yang patut menjadi bahan pertím- bangan. Pertama, benar-benar tidak terdapat unsur paksaan dalam hal pembelian sepatu tersebut. Artinya, meski un- tuk keseragaman sebenarnya harus (wajib) dibeli, tetapi da- lam masa transisi ini, cukup bersifat himbauan. rif Kedua, pihak penyalur hendaknya memberlakukan ta- yang sudah disepakati dengan Depdikbud. Jangan de- ngan alasan macam-macam, lalu menaikkan harga, seum- pama dengan dalih jarak dari pabrik dengan lokasi sekolah sehingga ongkos angkut harus ditambah. Ketiga, secara bertahap para guru tetap menganjurkan kepada pelajar agar saat membeli sepatu baru untuk meng- ganti sepatu lama yang rusak, supaya membeli sepatu stan- dard tersebut. Keempat, pihak penyalur supaya menyedia- kan sepatu itu melalui kios-kios yang mudah dihubungi atau dicari oleh pelajar di berbagai kota. Terakhir, hal yang patut menjadi perhatian supaya ma- sa transisi dari saat ini untuk penyeragaman sepatu pelajar itu diberi waktu yang cukup lama, bukan bersifat mende- sak. Terus terang, situasi kehidupan sekarang bukan wak- tu yang tepat untuk membebankan orangtua dengan ber- bagai pengeluaran ini dan itu. Patut pula dicatat, penyeragaman sepatu pelajar jangan menimbulkan masalah baru. Kenaikan uang sekolah, har- ga buku wajib yang tidak pernah turun, sesungguhnya ti- dak perlu ditambah dengan biaya lain termasuk sepatu pe- lajar. Berikan waktu agar pelajar secara sadar tanpa beban, mengganti sepatu karena memang saatnya harus diganti. Hal ini mungkin jalan terbaik dibanding ada unsur paksaan. Surat Pembach Jangan Cuma Iurannya, Tapi Mutu Siarannya. SEKARANG ramai lagi pe mungutan iyuran televisi TVRI. Pemungutan langsung dilakukan petugas didampingi petugas keamanan yang sudah dilaksa nakan di ibukota Jakarta. Akibatnya timbul bermacam tanggapan yang umumnya ku rang menyetujui cara yang dilaksanakan. Alasan sementara para anggota Dewan dan LKI (Lembaga Konsumen Indonesia) bahwa pemungutan iuran TVRI belum lagi di undang-undangkan, jadi belum ada kekuatan yang dapat memaksakan masyarakat pemilik pesawat tv untuk mem- bayar iuran bulanan. Dari tahun ke tahun masalah iuran pesawat televisi (TVRI) ini selalu saja muncul dan setiap kali dilaksanakan pasti ada saja yang tidak setuju. Kalau dipikir-pikir secara logika, bahwa dengan muncul lima TV swasta, maka masyara kat pemirsa lebih banyak memilih menyaksikan tayangan TV swasta ketimbang TVRI, meskipun ha rus mendongkol dengan acara iklannya yang kelewat banyak dan visualnya pun memang ter kadang''kelewatan" banget. Bagaimana orang tidak lebih suka menyaksikan TV swasta, karena yang ditayangkan film- film yang bagus acara hiburannya juga lebih menarik. Sementara yang ditayangkan TVRI selalu monoton, itu ke itu saja. Film yang ditayangkan, film-film yang sudah terlalu usang, bahkan sinetron nasional nya pun yang sudah berulangkali ditayangkan masih juga disa- jikan. Siapa yang tak bosan ! Sebenarnya yang paling perlu diperhatikan oleh TVRI adalah masalah perbaikan mutu siaran- nya. Bagaimana agar TVRI lebih menarik dalam acara-acaranya, sehingga menarik hati pemirsa untuk melihatnya. Jadi mutu siarannya dulu yang diperbaiki. RASMIANTI S Nama dan alamat harus jelas Sertakan Fotokopi KTP Pengaduan Masyarakat Maunya Cepat Ditanggapi Mayarakat sudah lama memen dam kejengkelan akibat di biarkannya beroperasi warung remang-remang di kawasan terse but. Di warung remang-remang itu disediakan minuman keras dan juga wanita penghibur yang di datangkan pemilik warung dari luar daerah. Para warga desa tersebut ber sama remaja mesjid sudah me minta secara baik agar pemiliknya menutup warung yang membuat "kotor" kampung mereka tapi tidak diindahkan. Begitu pula pengaduan berupa surat keberat an telah dilayangkan oleh masyarakat serta remaja mesjid kepada pejabat Muspika setem- pat, namun juga tidak mendapat tanggapan. Akhirnya terjadilah perusakan dan pembakaran per alatan terhadap warung maksiat tersebut, sementara petugas pun tak dapat berbuat apa-apa. Kesiapan Bahasa Indonesia dalam Era Perdagangan Bebas PERKEMBANGAN bahasa Indonesia semakin hari semakin pesat. Perkembangan yang paling jelas dapat dilihat dari arus derasnya pemasukan istilah setiap hari ke dalam khazanah kosakata kita tambah lagi dikaitkan dengan semakin merambahnya pasar global saat ini. lebih dikenal dengan pasar bebas itu mulai dilaksanakan dengan sesama negara Asean pada tahun 2003 dan bersama-sama dengan negara Asia Pasifik plus Amerika Serikat dimulai pada tahun 2010 maka sudah sepatutnya semuanya profesi mempersiapkan diri meng hadapinya. Yang agak menarik justru bagi kalangan profesi kedokteran yang tergabung dalam IDI (Ikatan Dokter Indonesia). Mereka justru menjadikan bahasa Indonesia menjadi senjata pamungkas bagi masuknya para dokter asing yang melakukan investasi di negara kita yakni dengan merencanakan membuat aturan-aturan seperti lulus dalam tes khusus kemam puan berbahasa Indonesia bagi para dokter asing yang akan ber- praktik di Indonesia. Pada era tahun 90-an kita belum akrab dengan istilah yen- daka, merger,mal, franchise (waralaba), akuisisi, properti, dan lain-lain. MASPRIANTO JK. JI. Asrama-Helvetia Medan. Sekarang ini istilah itu sudah menjadi bahan pembicaraan tidak saja di kalangan ekonom tapi juga dalam masyarakat. Gejala seper- ti inilah yang akan terus menerus berkembang dan mempengaruhi perkembangan bahasa Indonesia kita. TERLAMBAT DIANTISIPASI Perkembangan istilah tersebut terasa agak terlambat diantisipasi oleh kalangan pembina bahasa Indonesia karena cepatnya arus istilah tersebut memasuki-negara kita baik melalui media cetak maupun elektronik seperti in- ternet. Bila istilah tersebut telah digunakan dalam pembicaraan para ahli khusus dalam disiplin il- munya setelah itu baru para pem- bina bahasa Indonesia melakukan inventarisasi dan mencoba men- cari padanannya dalam bahasa Indonesia. Oleh sebab, lebih banyak ke sukaran menerjemahkan konsep tersebut dalam bahasa kita suatu cara mengubah bunyi istilah atau kata tersebut sehingga menjadi bunyi bahasa Indonesia. Misalnya kata "mall" diubah menjadi "mal", yang konsep dalam kata aslinya bermakna pasar yang. dilengkapi dengan tempat hiburan dengan kesan santai dan orang mengunjunginya untuk rileks. Atau sebuah wilayah yang sejuk. tidak punya organ, atau sebuah lingkungan total dengan berbelan- ja bukan lagi sekedar berbelanja tetapi sebuah pengalaman total yang menyenangkan (Moore, 1991). Konsep ini sesuai dengan dijelas kan di atas dialihkan ke dalam BILA kebudayaan-kebu dayaan atau nilai-nilai budaya dari seantero dunia bertemu dalam sebuah iklim kebebasan total maka dapat diramalkan sesuatu akan terjadi. Nilai-nilai yang berbeda-beda itu akan sa ling dahulu mendahului dan, bahkan unggul mengungguli. Keadaan yang kini tak dapat dihindari ini pasti dapat me ngakibatkan kekuatiran kekuatir an. Generasi tua yang lebih con- cerned, misalnya para orang tua, tokoh-tokoh masyarakat, pe muka agama dan juga para apa ratur pemerintahan, sebagaimana biasanya akan menganggap per- saingan kultural global ini sebagai keadaan yang kurang mengun- tungkan bagi anggota-anggota generasi yang lebih muda. ADA satu kelemahan atau ke lalaian pejabat kita dalam mene rima pengaduan atau laporan dari masyarakat. Acap kali pengaduan dari masyarakat dianggap sepele dan lambat menanggapi nya. Akibatnya bisa membuat masyarakat apatis terhadap apa yang terjadi di lingkungannya, tetapi ada pula yang berakibat se mun, generasi yang lebih tua baliknya. Masyarakat bisa timbul dihinggapi perasaan penuh ke jengkel dan marahnya sehingga menimbulkan perbuatan yang tidak dikehendaki. kuatiran dan tak jarang keta kutan dalam menyaksikan per ubahan yang tampaknya mulai tak terkendalikan itu. Seperti kejadian penghancuran dan pembakaran alat-alat di warung tempat maksiat di Tanah Enam Ratus Medan Marelan baru-baru ini. Generasi tua tersebut, oleh sebab itu, acapkali menganjurkan pembentukan semacam sistim penangkal atau sistim ketahanan budaya, walaupun tentunya ada saja di antaranya yang belum faham benar tentang keseluruhan kompleksitas isu ketahanan budaya itu. Memasuki gerbang pintu era kesejagatan sebagaimana se karang ini, tentu saja banyak orang memiliki perasaan yang bercampur baur. Orang-orang muda menyambutnya dengan lega, hampir-hampir tanpa rasa was-was, karena terlanjur mem- bayangkan sebuah dunia baru yang tanpa sekat-sekat dan tan- pa hambatan komunikasi. Na *** ADALAH generasi yang lebih tua tersebut yang acapkali mengkhawatirkan keselamatan para kawula muda itu dalam ber- tarung dengan pergelindingan bola budaya modernisasi itu. Oleh: Drs. Khairil Ansari, M.Pd bahasa Indonesia dengan meng gantikannya dengan "mal" saja karena tidak terdapat kata dalam bahasa kita yang dapat menam pung keseluruhan konsep dalam bahasa aslinya. Demikian pula istilah-istilah lainnya kebanyakan diubah dengan melakukan cara seperti itu. KESIAPAN BAHASA INDONESIA Ada pertanyaan yang seperti agak meragukan apakah bahasa Indonesia milik kita yang tercin- ta ini siap memasuki era per dagangan bebas ? Kesiapan dalam konteks ini dimaksudkan apakah bahasa Indonesia siap dipelajari sebagai bahasa asing. Tentu saja bahasa Indonesia yang berakar dari bahasa Melayu ini sangat siap untuk dipelajari oleh bangsa lain sebagimana pula kita mempelajari bahasa asing. Bahasa Indonesia yang memiliki ciri kesederhanaan yang tidak memiliki aturan-aturan waktu dalam setiap kata kerjanya seperti bahasa Inggris dan bahasa Eropa pada umumnya. Bagi bangsa Asia dan sebagian kawasan Pasifik tidak terlalu sulit mempelajarinya. Mungkin saja bagi orang Eropa yang pada umumnya berbahasa Inggris, Pe rancis maupun Jerman memiliki kesukaran karena sudah terbiasa mengkotak-kotakkan verba (kata kerja) berdasarkan waktu memi liki kesukaran. Akan tetapi bagi kita hal tersebut tidak perlu men- jadi persoalan besar. Menurut hemat penulis yang menjadi persoalan besar adalah perlakuan eufemisme yang tidak pada tempatnya dan penghegemo nian makna yang dilakukan oleh suprastruktur yang dapat mem- bawa perkembangan bahasa Indo nesia menjadi tidak merealitas. Di sisi ini mungkin para penutur. asing yang belajar bahasa In- donesia terheran-heran karena apabila guru bahasa Indonesia tidak menjelaskan hakikat makna drung semakin terancam kebera- daan dan peranannya. Kekuatiran-kekuatiran yang dapat dirasakan dalam pan- dangan pandangan tersebut di atas (yang sudah barang tentu. hanya mewakili segelintir pen- dirian saja dari begitu banyak pendapat anggota generasi senior tersebut) kurang lebih telah turut membangkitkan kesadaran baru akan pentingnya semacam 'sis tim penangkal" baru yang dapat diberi nama "ketahanan bu daya." Kesadaran akan perlunya semacam mekanisme pertahanan diri tersebut seringkali banyak disuarakan kendatipun dalam berbagai kosa kata yang berbeda. Wapres Try Sutrisno telah mengatakan bahwa," Di era kese- jagatan seperti sekarang ini, setiap negara justru semakin memerlukan jati diri kebangsaan- nya." Dalam redaksi kata kata yang berbeda, Menhankam Edi Sudrajat menyiratkan hal yang kurang lebih sama." Sejarah peradaban umat manusia," demi kian Edi Sudrajat, telah memberikan pelajaran bahwa kehancuran dan kepunahan satu masyarakat bangsa selalu di dahului kemunduran budaya bangsa yang bersangkutan." Di media massa, cara pandang yang rada cenderung memojok- kan budaya global secara tidak proporsional (misalnya asumsi bahwa segala borok dalam kehi dupan kultural kita pasti berasal dari "luar") kadang-kadang tam- pak digembos sejadi jadinya.. Masyarakat awam, sebagai kon sekwensinya, begitu mudah menggantungkan isu kekurangan- kekurangan internal pada pe nyebab-penyebab yang abstrak dan terkadang fiktif. Kenyataan ini malangnya terlarut lebih jauh lagi ke dalam sloganisme politis kosong tanpa sentuhan wajar skeptisisme atau pun kontekstualisme. Pendeknya, begitulah status quo prilaku kultural masyarakat kita pada umumnya di mana masih ada ke yakinan bahwa diri sendiri atau budaya sendiri tidaklah pernah cacat sama sekali kecuali kalau terdapat eksploitasi eksternal. ANALISA Menyingkapi Isu Ketahanan Budaya luk hidup di dunia. Oleh: Drs. Harkiman.MA Dan hukum ini, tanpa in- terferensi oleh keadaan-keadaan lain di luarnya, menentukan bahwa mahluk hidup yang lebih kuat dan unggul saja yang akan terus bertahan hidup, sedangkan yang lemah dan tak mampu ber- saing akan tersingkir dengan sen- dirinya dan lalu mati. Tentang masuknya berbagai media informasi luar negeri semisal media cetak dan media elektronika berteknologi tinggi, misalnya, Menko Polkam Soesilo Soedarman telah pernah menun jukkan kekhawatirannya yang besar. "Tanpa terasa," kata nya," hal-hal tersebut bisa men- jadi ancaman yang menjadikan SEJAUH ini mungkin terkesan insan insan Indonesia tidak ada puritanisme tetapi yang agaknya hiprokritis. Anggapan bahwa diri sendiri tidak lagi perlu belajar memperbaiki kekurangan- erikhtiar kekurangan kita atau mengikis habis nilai-nilai yang menghambat kemajuan tersebut (apalagi yang terdapat dalam warisan nenek moyang kita) menguasai kesadaran masyarakat kita. mengenal jati dirinya pada 10 hingga 15 tahun mendatang, dan membentuk cara pandang dan sikap hidup yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila." ... Oleh sebab itu, hampir-hampir tidak pernah lagi terdengar para Sementara itu, Wapres Try Sutrisno mensinyalir masuknya pengaruh budaya global dengan merujuk antara lain pada mun- culnya tindakan-tindakan ke kerasan. akhir-akhir ini. Dikatakannya bahwa budaya luar Makanya kita harapkan di tersebut mengandung nilai-nilai pejabat atau pemuka masyarakat mana pun ada pengaduan kebe yang tidak sesuai dengan budaya yang mau dengan segala kebesar ratan dari masyarkat seperti yang nasional kita yang luhur. an hati dan kejujuran membeber di Marelan ini hendaknya para pe- "Pengaruh budaya global," kan kelemahan-kelemahan yang jabat setempat cepat menang gapi kata Try Sutrisno,"telah sama- inheren pada jantung kebudayaan dan benar-benar bersikap adil sama kita rasakan di mana hak kita sendiri. Sebaliknya, segala demi kepentingan masyarakat dan kebebasan individu lebih cacat dan cela dibiarkan saja ter- banyak. menonjol, sehingga nilai-nilai tutup di bawah tikar puritanisme kebersamaan, kekeluargaan dan yang naif dan sesat. kegotong royongan, serta rasa Dapatlah sekarang dipertanya tanggung jawab dan kewajiban kan di sini apakah bagi kepentingan bersama, cen- kebudayaan kontemporer kita sur-unsur tersirat dari kata-kata seperti : diamankan, kesalahan prosedur, kemitraan, rawan-pangan, dice kal, unjuk rasa, dibina, pembe basan tugas, dan lain-lain. Persoalan tersebut terletak dalam bidang makna. Secara kebahasaan misalnya kata diaman kan itu bermakna dibuat menjadi aman beranalogi dengan diasin kan yang bermakna dibuat men- jadi asin. Akan tetapi makna kebahasaan itu telah bergeser men jadi justru orang yang diamankan itu dibuat menjadi tidak aman atau diliputi kecemasan karena memikirkan bagaimana nasibnya sampai pengadilan memberikan keputusan. Kemungkinan pemikiran dari Para penutur asing yang bela- jar bahasa Indonesia tentu diajar kalangan IDI hanya inilah senjata yang dapat menapis arus besar para dokter asing karena dari sudut keahlian dan perangkat per alatan tentu para dokter kita sulit bersaing dengan mereka. kan menuruti kaidah kebahasaan tersebut. Lalu pertanyaan selan jutnya apakah pengajaran bahasa Indonesia itu hanya sampai pada tahap makna kebahasaan itu ? Justru kenyataan dalam masya rakat makna yang hadir dengan kata diamankan itu sudah berge ser menjadi ditangkap. Nah hal ini menimbulkan persoalan apakah masih relevan lagi mengajarkan kaidah kebahasaan seperti itu yang pada hakikatnya memang itulah sebenarnya makna kata ter sebut. Untuk tahap awal mungkin harus mengantisipasi secara awal cara ini ampuh tetapi mereka juga bahwa dalam perkembangan akhir sudah semakin banyak orang asing yang belajar bahasa Indonesia baik di negaranya maupun di Indonesia. Saat ini sudah puluhan negara membuka Jurusan Bahasa Indonesia di per guruan tingginya dengan peminat yang makin besar. Misalnya Australia karena menganggap In- donesia adalah negara penting masa depan justru menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa asing pertama yang dipelajari se- jak sekolah menengah. Persoalan lain pada umumnya karena perkembangan ilmu dan teknologi bangsa Eropa lebih dulu maju dari kita dan konsekuen- sinya mereka lebih memiliki pan dangan objektif. Apakah kita akan memberikan pemaknaan itu melalui sudut pandang subjektif karena secara realitas maknanya sudah disimpangkan. Di sinilah akan terjadi kendala bila hakikat makna kata sudah diselewengkan oleh pihak lain yang memiliki kekuatan dan kewenangan. ERA PERDAGANGAN BEBAS Sebagimana telah disepakati negara yang tergabung dalam AFTA dan APEC bahwa pelaksa- naan era perdagangan bebas atau seperti korupsi, kolusi, nepo tisme, ketakdisiplinan, primor- dialisme, kecemburuan sosial, kebrutalan, fenomena bonek (hoo liganisme), dan seterusnya itu adalah semata-mata akibat dari pengaruh budaya asing? Dan "duri-duri dalam daging" tersebut tidaklah bersumber sama sekali dari kerapuhan jati diri budaya, kita sendiri? Dan, oleh karena itu, kita tak dapat dipersalahkan?. Dengan kata lain, apakah tan- pa pergaulan dan interaksi yang alamiah dengan dunia luar (seper- ti yang terjadi dewasa ini), kebudayaan nenek moyang kita pasti akan tetap suci, murni dan tidak mengandung kelemahan atau kebobrokan inheren seperti yang disebutkan di atas?. Sebaliknya, salahkah kita bila mengatakan bahwa kebudayaan kontemporer kita dengan status quonya yang dicirikan oleh unsur- unsur negatif diatas pada laiknya adalah juga sebuah sistim budaya yang pada prinsipnya rapuh alias kurang kompetitif? Dan, oleh sebab itu, perlu peninjauan kem- bali secara keseluruhan (baca : bukan secara politis saia) bila kita ingin kebudayaan nasional In- donesia mempunyai ketahanan diri yang maksimal dalam per aturan dan persengketaan global seperti disebutkan di atas. Lalu, dalam konteks pembentukan su atu sistim ketahanan budaya kita, apakah prioritasnya proteksi, seleksi atau absorbsi?. Sebenarnya untuk menghadapi persaingan di masa depan itu ter- pulang kepada penataan sumber daya manusia Indonesia. Ironis nya bidang pendidikan sebagai alat pembentuk dan pengembang sumber daya manusia itu belum benar-benar diutamakan dan benar-benar diperhatikan. Lihat lah anggaran pendidikan kita masih juga belum mencapai tingkat 25% seperti yang dilaku kan oleh negara-negara industri Dalam melihat pola eksistensi kebudayaan nasional kita dewasa ini, saya mencatat masih belum terdapat kadar realisme yang ideal dalam cara pandang masya rakat kita pada umumnya. Ke cenderungan klasik yang melihat kebudayaan nasional sebagai "kejayaan lampau" dan, oleh sebab itu, tidak ada sangkut paut- nya dengan kehidupan yang riil pada saat ini masih mewarnai sikap dan prilakú budaya kita secara substansial. dalam pola ekspresi masyarakat. kita yang disebabkan antara lain oleh rasa takut mereka untuk berbeda pendapat dan pun rasa enggan untuk berterus terang. Situasi tersebut akhirnya merembes pada kurangnya keta- jaman, keberanian dan kemauan untuk menyingkapi kelemahan- kelemahan yang built-in pada kebudayaan nasional kita sendiri. Tidaklah sulit melihat bahwa nilai-nilai budaya destruktif yang melekat seperti parasit pada kebudayaan nasional kontem- porer dewasa ini adalah bukti bahwa kebudayaan nenek mo yang yang luhur itu tidak lagi berpengaruh besar dalam kehidup an modern yang amat materia listis sekarang ini. Kendatipun tidak banyak orang mengakuinya secara ter- buka, lunturnya kebudayaan tradisional bisa saja menandakan ketidakrelevansian ataupun ketidak unggulan nilai-nilai tradisi itu sen- diri dalam mengarungi lautan era kesejagatan. Atau, bisa juga kea- daan ini menandakan semakin ba nyaknya orang Indonesia yang meninggalkan nilai-nilai tradisi karena menganggap nilai-nilai tersebut tidak sedikitpun men- dukung kultur modern yang men- junjung tinggi materialisme dan individualisme. Terakhir, semakin maraknya caçat-cacat kultural seperti korup- si, kolusi, dan lain lain, tersebut mungkin pula mengisyaratkan su dah munculnya sebuah kebudaya an baru yang penuh kekerasan, keserakahan, ketidakadilan dan lain-lain. Kecuali itu, kurang dimaklumi bahwa persinggungan budaya secara kolosal tersebut adalah proses historis yang wajar saja. Bahwa kebudayaan kebudayaan berbagai bangsa akan bersing gungan dan berdialog dalam satu tata dunia baru tidaklah perlu di besar besarkan sebagai suatu bahaya atau ancaman yang po tensial Sebagai buktinya, masih ba Bukan merupakan hasil sebuah nyak orang yang berbicara ten- keputusan politis bersama me tang kebudayaan nasional kon lainkan konsekwensi logis dari temporer dengan menyinggung sebuah ketakterhindaran kultural "nilai-nilai luhur warisan nenek sebual dunia yang semakin me moyang" secara diluar konteks. nyempit, kompetisi multi- Sebagai akibatnya, wujud dan kultul tersebut selalu terjadi kualitas kebudayaan nasional dalam setiap kurun waktu dalam yang terkini dapat begitu saja sejara dunia, kendatipun dalam kebal dari penilaian, pengamatan, skala Jang bervariasi. pengoreksian dan perubahan. DiIndonesia, misalnya, per- Dan, rendahnya realisme dalam singgngan budaya telah terjadi cara pandang kita tersebut makin pada wal sejarah pra modern diperburuk lagi oleh sifat khas dan odern kita (dengan pe masyarakat Indonesia yang di netral budaya Hindu, Buddha, kenal tidak suka mengkritik diri Kriste dan Islam) dan terjadi pula Pada saat sekarang ini (dengh fenomena ko-eksistensi kebud yaan kebudayaan daerah DALAM diskursus sosio- yang rbeda-beda). Jadi dengan politik dewasa ini, masyarakat demikan, kekuatiran kekuatiran sendiri tampaknya kurang semetara orang di masyarakat transparan akan reaksi-reaksi harush diinsafi secara propor- sendiri. tersebut saja. mereka sendiri yang majemuk siona dan tidak semata-mata terhadap perubahan-perubahan dituju. yang terjadi dalam kehidupan globa an pada era kebudayaan kultural. Ada pula semacam Ha keengganan dalam menyuarakan interes pula dimaklumi bahwa sesuatu yang sama sekali baru terset, si kultural secara global atau yang tidak mewakili keya niani terjadi atas dasar Darwi- kinan dan perasaan mainstream. ajarae yang universal. Menurut Walhasil, terjadilah repetisi- huku Charles Darwin ada repetisi yang kehilangan makna sisten dalam kehidupan makh alam yang berlaku secara KABARNYA FILM ASING DI TELEVISI BAKAL TIDAK BOLEH LAGI DISULIH BAHASA KE BAHASA INDONESIA, BANG...! & baru. Jika memang kita konsekuen akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia itu harus tercermin dari penghargaan dan penataan dalam pendidikan kita yang masih bergelut dengan "se abrek" persoalan di dalamnya. Jadi wajar bila tingkat kemam puan sumber daya manusia kita seperti yang dilansir oleh Bap- penas masih berada pada pering kat kelompok ratusan di antara bangsa-bangsa di dunia. BAHASA MAMPU BERSAING Berkaitan dengan menyongsong pelaksanaan Seminar Bahasa dan Tatkala berinteraksi secara bebas dalam iklim kebudayaan global, kebudayaan - kebudayaan di dunia ini akan saling pengaruh mempengaruhi, takluk-menakluk kan serta ganti menggantikan. Dalam arena perebutan pengaruh dan kekuasaan tersebut, nilai- nilai budaya yang unggul (tak per- soalan dari manapun mereka berasal) akan tetap bertahan hidup sedangkan yang tidak ung- gul akan segera tersingkir atau terkalahkan. Nilai-nilai kebudayaan na- sional, setinggi apapun ku alitasnya di dengung-dengungkan dalam retorika-retorika sosio- politis selama ini, akan tetap mengalami ujian berat dalam berinteraksi dengan nilai-nilai yang berasal dari kebudayaan lain. Setiap nilai budaya dalam kancah pergaulan global tersebut akan berusaha untuk terus ber- tahan hidup sambil terus menerus menyesuaikan diri. van. Demikianlah maka nilai-nilai modern yang sekarang dikenal unggul telah menaklukkan serta menggantikan nilai-nilai tradi- sional usang yang tak sanggup lagi bertahan hidup atau me nyesuaikan diri. Nilai-nilai efi- siensi dan efektivitas, misalnya, menggantikan unsur-unsur tra disi-tradisi yang menganjurkan pemborosan dan ketidakefekti Proses seleksi alam ini akan berjalan terus secara wajar dan semestinya tanpa bisa di bendung lagi oleh kekuatan apapun yang non-alamiah. Lalu, kita bertanya : Bagai mana menyoroti isi ketahanan budaya dalam konteks ini? Bagaimana pula merekayasa sesuatu yang kita berinama ketahanan budaya itu? Dan, apakah membangun konstruksi yang bernama ketahanan budaya itu bukan merupakan kemustahi lan belaka? Karena bagaimana pun interferensi eksternal tidak akan dapat mempengaruhi jalan- nya seleksi alam secara Darwinian tersebut?. Saya berpendapat bahwa keta hanan budaya suatu bangsa adalah kulminasi dari berbobot tidaknya nilai-nilai budaya bangsa tersebut dan bukan sebuah mekanisme pertahanan diri yang diciptakan kemudian secara politis. Dengan kata lain, ketahanan budaya kita semata- mata adalah keunggulan kita dalam bertahan dan menjadi ung- gulan dalam putaran proses in- teraksi kultural global yang berasaskan ajaran Charles Dar- win di atas. Dan, ketahanan tersebut hanya dapat dilihat dan diukur setelah proses seleksi alam tersebut ber- jalan. Oleh sebab itu, ketahanan budaya yang tengah kita per- soalkan itu tidak akan kita peroleh semata-mata dari pe ngucilan diri secara sengaja dari pergaulan yang kosmopolit. IYA-NANTI KITA TIDAK BISA LAGI MELIHAT ORANG INDIA, JAGO SILAT CINA, ORANG SPANYOL, DAN ORANG ASING LAIN BICARA INDONE- SIA, DUL...! WIWID -97.. Sastra Himpunan Pembina Ba hasa Indonesia (HPBI) tanggal 7-9 Juli 1997 lalu, HPBI yang merupakan salah satu dari ra tusan organisasi profesi yang memusatkan perhatian dalam pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia dan bergabung dalam OPI (Organisasi Perofesi Indonesia) hendaklah menyadari berbagai permasalahan di atas. Dari tema-tema yang ditawar kannya cukup menarik untuk disimak dan dikaji lebih jauh dengan para pakar di luar bidang bahasa sehingga hasilnya benar- benar dapat membawa manfaat menjadikan bahasa Indonesia kita Atas dasar itu pulalah kita dapat mengurangi kekuatiran yang berlebihan terhadap efek negatif dari era globalisasi. Ken- datipun mungkin ada nilai-nilai tertentu dari kebudayaan nasional yang akan tersingkirkan, toh nilai-nilai yang unggul dari kebudayaan lain akan dapat diab- sorbsi dan diadaptasi sesuai dengan selera kita untuk mengisi kevakuman nilai tersebut. Se dangkan, nilai-nilai budaya kita yang unggul dan berkualitas akan tetap bertahan: malahan akan diserap oleh kebudayaan kebu dayaan lain di dunia. Nilai-nilai inilah yang akan membentuk karakter dan jati diri kebudayaan nasional kontem- porer kita itu. Tetapi tentu saja, seperti prinsip-prinsip universal yang berlaku menurut ajaran Darwin itu, nilai-nilai yang ung- gul tersebut pun akan terus di uji lagi di masa mendatang oleh nilai- nilai budaya baru lainnya. *** SEKITAR tiga persen dari bayi baru lahir di Indonesia mem- punyai kelainan bawaan yang di sebabkan oleh faktor lingkungan, genetik dan interaksi antar ke duanya (multifaktorial), kata Ke tua Bagian Ilmu Kesehatan Anak (IKA) Fakultas Kedokteran Undip Semarang, Prof. Dr. dr. I. Sudig bia DSAK. "Meskipun angka tersebut ter masuk rendah, namun kelainan bawaan itu dapat mengakibatkan angka kematian dan kesakitan yang tinggi pada bayi baru lahir", kata Sudigbia belum lama ini. Ia mengemukakan, sekitar 10 persen kematian selama periode perinatal dan 40 persen kematian periode satu tahun pertama dise babkan oleh kelainan bawaan ter sebut, yang dapat diklasifikasikan sebagai malformasi, deformasi dan disrupsi. Sudigbia menjelaskan, malfor masi adalah suatu kelainan mor- fologi dari suatu organ sebagai akibat dari proses intrinsik yang abnormal pada perkembangan em brio. Deformasi merupakan suatu kelainan yang disebabkan oleh- tekanan yang abnormal sehingga dapat merubah bentuk, ukuran atau posisi sebagian dari tubuh yang semula berkembang normal. Sedangkan disrupsi disebab kan oleh faktor ekstrinsik yang mengakibatkan destruksi pada jaringan atau organ yang semula berkembang normal, paparnya. PENCEGAHAN Halaman 4 - YANG terjadi dewasa ini di In- donesia adalah kenyataan bahwa nilai-nilai luhur kebudayaan na- sional (seperti yang disebutkan Wapres Try Sutrisno di atas) tersebut semakin tertinggal jauh ke belakang. Hal ini dapat dilihat terutama dalam kebudayaan per kotaan di Indonesia yang mulai ditandai materialisme dan kon- sumerisme yang ekstrim. Yang dikhawatirkan adalah bahwa dengan terus tidak popu beberapa PTS di Medan. Sudigbia, yang juga Ketua SMF Anak RSUP Dr Kariadi Se marang mengatakan, secara umum untuk mencegah kelainan bawaan harus dihindari penyebab kelainan tersebut. Tiga Persen Bayi Punya Kelainan Bawaan Caranya, antara lain dengan mengetahui prinsip-prinsip terato menjadi bahasa yang mampu ber saing dengan bahasa-bahasa yang sudah menjadi bahasa interna- sional seperti bahasa Inggris, Perancis, Arab, Spanyol, Jerman, dan lain-lain. Semoga di usianya yang sudah 27 tahun organisasi ini dapat melahirkan hal-hal yang berman faat khususnya bagi perkem bangan bahasa dan sastra In- donesia dan umumnya bagi me mantapkan rasa persatuan dan kesatuan bangsa yang akhir-akhir ini semakin mendapat tantangan dan cobaan bertubi-tubi. Penulis Staf Pengajar FPBS IKIP Medan, dan Sekretaris HPBI Cabang Medan. lernya nilai-nilai unggul tradi- sional tersebut dalam kehidupan masyarakat sehari-hari maka kebudayaan nasional akan se makin berkurang kekuatan intrin- siknya terutama dalam memasuki interaksi kultural global nanti. Jadi, seperti terlihat jelas dalam alasan di atas, isu ketahanan budaya sangatlah kompleks. Bukan merupakan hasil rekayasa politis atau interferensi pemerin- tah semata, ketahanan budaya adalah keadaan di mana nilai- nilai budaya kita dapat bertahan hidup dan terus menyempur- nakan diri sebagai manifestasi keunggulannya dalam pertaru ngan kultural global. Untuk men- capai tingkat ketahanan budaya yang tinggi, juga diperlukan wawasan kebudayaan yang luas pula. Dan, wawasan tersebut men- cakup kesadaran akan keung- gulan dan sekaligus kelemahan kultural kita sendiri serta berusaha meningkatkan dan memperbaikinya dari dalam. Tetapi, satu hal dapat dipastikan: ketahanan budaya tidak akan ter- wujud dengan pengucilan diri dari pergaulan internasional, dengan menyombongkan nilai-nilai luhur nenek moyang yang telah diting- galkan sama sekali, atau dengan menyalahkan pengaruh budaya global secara membabi buta. Penulis adalah pengamat masalah-masalah sosial-sastra-budaya dan pengajar pada logi untuk mencegah kelainan ba waan karena faktor lingkungan. Dengan terotologi bisa diketahui adanya teratogen yang dapat berupa obat, zat kimia, infeksi maupun penyakit ibu. Sedangkan untuk mencegah genetik dapat dilakukan dengan kelainan bawaan karena faktor cara konseling genetik, yaitu melakukan konseling pranikah un tuk mendeteksi adanya resiko ting gi atau pembawaan sifat terhadap kelainan maupun penyakit terten tu. Selain itu, menurut dia, juga dapat dilakukan uji tapis dan diagnosis pranatal, pengakhiran kehamilan yang sangat selektif, uji tapis bayi baru lahir yang berguna untuk mendiagnosis seca ra dini beberapa kelainan meta bolik. (Ant). Dari Redaksi PARA penyumbang tulisan/artikel dimintakan perhatiannya sebagai beri kut: 1. Panjang tulisan/artikel minimal empat dan mak simal tujuh halaman/folio diketik dengan spasi rang kap dan tidak timbal balik. 2. Bukan tindasan, serta bukan fotokopi. 3. Tidak atau belum dikirim kan ke media massa lain nya. 4. Pada akhir/ujung tulisan sebutkan identitas, profesi penulis serta alumnus dari mana. 5. Sertakan alamat terbaru yang jelas, dan jangan lupa sertakan fotokopi KTP yang masih berlaku.
