Tipe: Koran
Tanggal: 1996-03-02
Halaman: 08
Konten
HALAMAN 8 Dewa Putu Lendra "Menggugat" Wayang Pertunjukan kesenian wayang seringkali diidentikkan dengan pertunjukan film layar tancap di desa-desa. Itu dulu. Kini pertunjukan wayang seakan makin jauh dari masyarakatnya. Hal itu dapat dicermati dari makin berkurangnya peminat dan kedekatan masyarakat terhadap kesenian ini. Peminat seni pedalangan pun makin minim. Ini sempat dikeluhkan pihak lembaga seni seperti SMKI dan STSI. Di sisi lain, wayang yang dulu sangat disakralkan, kini tak beda jauh dengan barang kerajinan lainnya. Di art shop-art shop, swalayan, dan pasar seni, tak sulit mendapatkan wayang dengan harga yang tak terlalu melambung. Bagaimana soal kualitasnya? Inilah yang dikhawatirkan serta "digugat Dewa Putu Lendra (76), dalang sekaligus perajin wayang dari Gianyar. Berikut petikan perbincangannya dengan Putu Witari. Bisa diceritakan awal ketertarikan Anda menggeluti dunia pedalangan? Sejak kecil saya mempunyai cita-cita menjadi seorang dalang. Menjadi seor- ang dalang bagi saya adalah suatu ke- banggaan, sebab saat mendalang seakan- akan saya masuk ke dalam cerita terse- but. Ketertarikan saya pada dunia dalang karena dalang adalah seniman yang ser- ba bisa. Karena itulah saya makin ter- motivasi untuk tetap eksis menggeluti kesenian ini. Di samping itu, dalang di zaman dulu sangat sedikit, karena itu saya makin bersemangat belajar. Konon, dalang adalah sosok seni- man serba bisa. Menurut Anda? Memang, seorang dalang menguasai berbagai keterampilan yang di dunia Bar- at jarang dimiliki oleh seorang seniman. Jarang ada seniman Barat yang memili- ki keterampilan yang banyak. Karena itu seorang dalang harus bisa menembang, menari, menabuh gender, memainkan wayang, memiliki pengetahuan agama dan ritual, serta pengetahuan umum lain- nya. Dengan seringnya dalang memberi- kan petuah-petuah pada penonton maka dalang juga sering disebut seniman tu- tur. Sejak kapan Anda intens mengge- luti kesenian ini? Mulai tahun 1938 saya sudah pentas di beberapa daerah, khususnya di wilayah Gianyar dan Badung. Saya tidak pernah belajar ngewayang dalam arti berguru secara formal. Keterampilan ini saya dapatkan dari menonton per- tunjukan wayang di Sukawati. Setelah tamat SR (sekolah rakyat) tahun 1936 bersama teman saya, Ida Bagus Regeng (alm), saya sering mengikuti Nyoman Granyam (alm) dari Sukawati. Sayang Ida Bagus Regeng tidak menjadi da- lang, hanya saya yang mengikuti jejak Granyam. Sejak itulah melihat orang bisa ngewayang saya menjadi terdor- ong terus belajar. Saya sering berjalan lima kilometer untuk menonton pertun- jukan wayang. Setelah menonton, di rumah saya sering membuat wayang dari kertas karton. Itulah yang saya pentaskan di depan teman-teman. Karena ngewayang kertas itulah saya menjadi seperti orang gila. Maksudnya? Dulu sebelum saya di-winten (pem- bersihan dan penyucian diri-red) saya sudah menghibur teman-teman dengan memakai wayang kertas. Saat itu saya sudah hafal dengan cerita-cerita pe- DEWI SARASWATI wayangan. Suatu hari kebetulan kajeng kliwon, saya baru habis ngewayang kertas di rumah. Wayang-wayang saya masih berserakan begitu pula dengan kelir. Badan saya terasa panas dan tidak Catatan..... Ball Post wit ingat apa-apa. Jika saya memakai baju dan kain, saya langsung pingsan. Or- angtua saya kebingungan dan merasa kasihan kepada saya, karena saat itu saya sudah dewasa. Selama 30 hari RUMAH seniman tua dari kota seni, Gianyar ini cukup asri di tengah kokok beberapa ayam jantan dalam kurungan. Tampak pula seperangkat gong milik sebuah tempekan di Banjar Pas Dalem, Gianyar, Wayang-wayang bergantun- gan di bale gede dan di sebuah ruangan terbuka, menunjukkan pemiliknya me- mang pencinta wayang dan seorang dalang. Dewa Putu Lendra, asal Teges Gianyar, kelahiran 1920, memang seorang dalang dan penatah wayang mumpuni. Tidak mengherankan jika di halaman rumahnya akan kita dapatkan pemandangan berbagai jenis wayang dijemur. Wayang-wayang itulah yang diincar dalang di Bali, serta peminat wayang dari mancanegara. Di bale gede tersebut, ketika ditemui Bali Post belum lama ini, lelaki yang kulitnya sudah mulai keriput itu, tengah membuat sket-sket wayang. "Ampura, kubun titiange kari megaburan, durusan melinggih (Maaf rumah saya masih berantakan. Silakan duduk-red)," ujar Lendra sambil membenahi sejumlah way- ang yang berserakan. Lendra (76) adalah putra tunggal dari pasangan Dewa Made Kerug dengan Gusti Putu Lengser. Menjadi dalang memang sudah menjadi cita-citanya sejak kecil. Masa kecilnya ia lewati dengan penuh penderitaan. "Sambil sekolah di SR saya berkeliling ke hutan-hutan dan terkadang mondok di hutan untuk mencari kayu. Karena dengan upah inilah saya membiayai sekolah saya," kenangnya. Lendra kecil juga suka menjahit baju, menjual baju keliling sambil memper- dalam tari baris yang ia sukai dan cerita-cerita pewayangan. Beranjak dewasa dan tamat SR Lendra sudah aktif mendalang ke berbagai daerah di Bali. Pagi harinya ia menjahit baju pesanan, malamnya mendalang. Hampir tiap hari ia begadang. "Dalam sebulan cuma lima kali saya tidak mendalang. Karena itulah, akhimya sekarang saya kena batunya dan harus istirahat," ujar ayah dari 16 putra ini. Selain itu Lendra juga mantan pemain sepak bola. la sering menjadi pemain tengah. TAMPAKNYA dunia pewayangan sudah menjadi bagian dari hidupnya. Wa- lau sakit ia paksakan diri ngewayang. "Tidak enak membatalkan acara. Tetapi yang saya herankan kalau sudah ngewayang sakit saya mendadak hilang. Suara saya yang serak bisa berubah seperti biasa," papamya. Kiprah kesenimanannya telah ditunjukkan ke berbagai pelosok desa di Bali. Demikian pula wayang hasil karyanya sudah banyak dimainkan oleh dalang lain. Wayangnya juga banyak dikoleksi turis-turis mancanegara, baik dari Aus- tralia, Jenewa, Jepang, Belanda, Kanada maupun beberapa negara lainnya di Eropa. Wayangnya juga tersimpan di Museum Bali dan Taman Mini Indonesia Indah (TMI). Berkat ketekunannya di bidang seni, suami Jro Nyoman Nurastini ini pemah meraih penghargaan Wija Kusuma (1983), Dharma Kusuma Madia (1982). Di samping itu Lendra juga mengikuti Pekan Wayang Indonesia ke-IV (1983) yang diselenggarakan oleh Sari Wangi Jakarta. Di Jakarta, Lendra mendemontrasi- kan ngukir wayang dan pameran wayang. la tampil sebagai pemenang Imena- tah wayang (1982), juara I pembuatan wayang Kresnaarjuna (1982), dan beber- apa penghargaan lainnya disabet. Tiap PKB Lendra juga aktif pameran wayang. Kini di usianya yang makin senja, Lendra melewati hari-harinya bergelut den- gan wayang-wayangnya. la tidak mampu lagi ngewayang ke berbagai daerah. Bakat seninya ini ia wariskan kepada anaknya, Dewa Nyoman Kencana, seor- ang guru di SMP 3 Gianyar. (wit) saya berada dalam kamar dan puasa tidak makan dan tidak minum. Jika saya ditutupi kain, langit terasa menindih saya. Terkadang saya lari terbirit-bir- it seperti orang gila. Lantas pada hari ke-30 datang seorang pedanda (pendeta-red) melukat (membersihkan-red) saya. Be- liau lantas menasihati saya, ka- tanya, jika saya benar-benar in- gin menjadi dalang, saya harus menjalani pewintenan dulu. Setelah itu saya langsung dibuatkan banten di sebuah gria, dan besoknya saya kembali menghibur teman-te- man saya. Apa hubungan antara pewintenan dengan profesi sebagai dalang? Hal ini erat sekali hubunga- nnya. Sebab saat ngewayang, kita kan menceritakan orang lain dan lebih utamanya men- ceritakan para dewa. Selain itu, cerita wayang memiliki kekua- tan. Makanya, sebelum menja- di dalang setelah di-winten harus mekebah (mencoban- Dalem. Karena itu, seseorang yang ya terlebih dahulu-red) di Pura menjadi dalang harus benar-benar ber- sih dan suci. Hal inilah yang menyebabkan adanya sebutan jro da- lang atau mangku dalang. Demikian pula dengan proses pembuatan wayang. Sebagai perajin wayang harus juga be- nar-benar bersih agar wayang yang kita buat mataksu. Sekarang masyarakat (penonton- red) tidak banyak yang menguasai ba- hasa Kawi. Sebagai seorang dalang, bagaimana Anda menyiasati kondisi ini? Dalam kaitannya dengan media tutur, seorang dalang memang dituntut paham dan lancar menggunakan bahasa Kawi dan bahasa Bali. Kedua bahasa inilah yang digunakan dalam pertunjukan. Ba- hasa Kawi biasanya saya gunakan untuk tokoh-tokoh dewa, pendeta berbagai rak- sasa, raja-raja, dan binatang-binatang. Sedangkan bahasa Bali digunakan oleh tokoh parekan (punakawan, abdi raja). Tiap pementasan kita harus belajar bagaimana reaksi penonton terhadap pe- mentasan kita. Maksudnya, jika penon- ton tampak kurang memahami bahasa Kawi ya harus lebih banyak kita gunakan bahasa Bali, bila perlu campur bahasa Indonesia. Anda dikenal sebagai pembuat wayang yang cukup mataksu. Bagaim- ana ceritanya? Bersamaan dengan proses belajar saya yang otodidak dalam dunia peda- langan, saya juga tertarik membuat way- ang. Saya sering mencari contoh way- ang di Tegal Tamu dari seorang pembuat wayang di sana. Dari contoh tersebut saya tiru dan terus pelajari. Tahun 1936, ketika saya masih sekolah di SR, saya membuat wayang dari kertas karton. Tahun 1938 baru saya membuat way- ang kulit. Tahun itu juga langsung saya pentaskan. Saya merasa bangga dapat membawakan hasil karya saya sendi- ri. Menurut Anda bagaimana perkembangan wayang sekarang? Pada dasarnya baik. Tetapi kebanya- kan wayang-wayang sekarang tidak se- suai dengan karakter tokoh wayang. Saya terus mengamati wayang-wayang buatan perajin lainnya dan mempelajari bagaim- ana menghasilkan wayang lebih me- narik. Bentuk wayang yang ideal menurut Anda? Bali Post- Kul SABTU UMANI MARET Wayang di Televisi WAYANG kini telah "datang" ke ru- mah-rumah kita. Ini memang gejala menarik sekaligus cukup menggembirakan. Kesenian rakyat yang dulunya sangat populer dan akrab dengan masyarakatnya dan belakan- gan sempat membuat harap-harap cemas karena kurang diminati, kini mulai "menda- pat perhatian. Paling tidak, apa yang dilaku- kan Indosiar, salah satu TV swasta yang cuk- up konsisten menayangkan kesenian-kesenian rakyat, cukup menawar "dahaga" pencinta wayang. Sayangnya jam tayangan kesenian ini terlalu larut, sehingga dapat diduga yang me- nontonnya pun hanya mereka yang memang betul-betul penggemar wayang. Sesungguhnya TVRI Denpasar, sejak be- berapa tahun lalu, juga secara berkala menggelar kesenian wayang, tentunya ter- kait dengan hari-hari tertentu. Misalnya saat Tumpek Wayang, Sabtu Kliwon Wuku Way- ang. Lantas, apakah upaya ini cukup mam- pu membangkitkan kecintaan kita pada ke- senian wayang? Tampaknya memang tidak mudah menjawab. Sebab, meskipun kese- nian ini telah hadir ke rumah-rumah lewat televisi, ternyata menonton wayang di tele- visi memang tak senikmat menonton perge- laran langsung. Soalnya, banyak sandungan. "Menonton wayang di televisi dengan yang sesungguhnya beda. Banyak hal yang tidak akan kita dapatkan," papar Dr. I Way- an Dibia, beberapa waktu lalu. Sebaliknya, sepintar-pintarnya seorang dalang, konon tidak akan puas bila pentas di televisi. Begitu pula bagi pemirsa, tidak akan pernah dapat melihat pementasan way- ang yang bermutu di layar kaca. "Itu bisa dimaklumi. Sebab, menonton wayang di televisi jelas kita kurang dapat menyatu dengan pertunjukan itu. Demikian juga soal taksu ki dalang, tak kita rasakan. Apalagi ujung-ujungnya di sela iklan. Bagaimana lantas emosi kita, jelas terpu- tus-putus," papar dosen STSI Denpasar itu sembari menambahkan, di satu sisi jelas ada dampak positifnya. Ada beberapa hal yang menyebabkan Wayang ideal tentunya yang sesuai dengan kar- akter tokoh pewayangan. Misalnya tokoh Arjuna (Lendra menunjukkan wayang arjuna buatannya). Tokoh Arjuna hendaknya dibuat tampan dan postur tubuhnya bagus. Karena Arjuna identik dengan kar- akter tersebut, tapi kebanyakan perajin-perajin buat saja. Karakter wayang 50 persen mempengaruhi sekarang tidak memperhatikan hal itu, mereka asal daya pikat penonton. Demikian pula perajin way- ang harus memperhatikan pengadeg wayang, uku- nanya, ukirannya harus halus. Semua itu merupa- rannya, kualitas kulit yang dipakai, bentuknya, war- kan suatu seni. sebagai wayang? Kulit sapi yang bagaimana baik digunakan erik. Kalau kita membeli yang masih mentah dan Tentunya kulit sapi yang sudah bersih dan dik- baru dikuliti agak sulit memilihnya. Kulit yang baik akan terlihat terang atau putih terang seperti kaca. Kulit seperti itu sekarang ini agak sulit mencarin- ya. Harganya pun cukup mahal, per lembar kini mencapai seratus ribu (Rp 100.000). Jika membuat sekeropak wayang memerlukan tujuh lembar ku- lit. Soal pewarnaan? Agar kualitas warna terjaga dengan baik dan tah- an lama saya biasanya memakai ancur (pengencern- ya memakai ancur). Warna yang saya pakai tetap warna biasa, sedangkan warna hitam saya gunakan mangsi. Saya tidak pernah memakai cat, karena se- lain mempengaruhi seninya, kualitasnya tidak baik. mutu pementasan wayang merosot bila pentas di studio TV. Sebagaimana H Oleh Dwikora Pue dan W. Sup Akibat terba diketahui, pementasan wayang kulit (terutama bap adegan. wayang kulit Bali) sangat mementingkan layar dan lampu blencong untuk menampilkan bayan- sering diperas, gan yang bermutu. Soalnya, yang ditonton diadakan. Wa masyarakat adalah bayangan wayang, bukan da- secara baik, aki langnya, juga bukan penabuhnya. Dalam pemen- bisa tasan ini, yang dipentingkan adalah permainan bayang-bayang. didengar la Jika pentas tayangkan TV, kulit di bale banjar atau di pura, semua lampu bagaimana kese Karena itulah, tiap ada pementasan wayang ngkinkan bisa n yang ada di dekat panggung dimatikan atau di- kulit juga tidak tutup sementara agar cahayanya tidak berpapasan Makin banyak dengan blencong (lampu wayang). Dengan kata mangat dalang lain, di sekitar pementasan, hanya boleh ada satu sar sambutan p lampu yakni blencong. gainya untuk te Blencong ini pun harus memakai minyak ke- mendapat bahan lapa. Dengan satu blencong, bayangan wayang penonton. Jadi s akan menjadi hitam pekat. Akibat kobaran api bat dan merupak yang meliuk-liuk, wayang yang terbuat dari ku suasana itu tidal lit sapi itu akan tampak bergerak-gerak hidup pemula atau la seperti bernapas. kesepian tanpa Nah, dari segi teknis ini, rupanya sulit dilaku- membayangkan kan bila pentas di studio. Jika ada lampu lain mng di layar ka selain blencong, maka bayangan wayang jadi mentasannya, d hambar, kurang hitam pekat. Beda dengan way- Bila rekaman ang kulit Jawa. Penontonnya justru lebih bany-kan terhadap dra ak di belakang layar. Jadi yang ditonton, bukan sya, barangkali permainan bayangan. Penonton juga menonton da- Sebab ada peno lang, penabuh dan kemolekan pasinden. Namun, persoal Selama ini ada kesan, pementasan wayang kulit Sebagaimana bi Bali di TV tidak hanya menonjolkan bayangan, na- kesenian wayan mun juga wajah dalang dan penabuhnya. Dalang dan kan minimal d penabuh mungkin sekali-sekali ingin nampang dan penonton akan t dilihat pemirsa. Adanya perasaan yang mungkin disediakan TV j manusiawi itu bisa dimaklumi. Namun risikonya, Bagaimana ji ya itu, mutu pementasan menjadi kurang sreg. kan secara bersa Namun pementa Warna Hilang gong. Pementas Masalah teknis lainnya, adalah soal waktu. Waktu iong. Namun yang terbatas, membuat dalang kurang bebas sa sulit. Sebab, mengembangkan kreativitas. Umumnya, tiap ada tasan wayang sel pementasan wayang, paling tidak empat "warna" nungan). Dengan harus ada. Misalnya, suasana heroik (yang ditampil ng dipotong, la kan dalam adegan perang), romantis (saat bercinta- lagi diawali kay Konon wayang hasil karya Anda sangat dige- hatikan mutu. D mari dalang maupun turis asing? pak saya bisa n Saya juga kurang mengerti. Saya tidak pernah dibantu empat te merasa mempromosikan diri. Mungkin ini promosi dari mulut ke mulut saja. Kebanyakan wayang-way- Apakah ada ang saya dibeli oleh dalang-dalang dari Badung, be- ang? berapa dari daerah wayang di Gianyar, Klungkung, y dan Tabanan. Tamu-tamu asing juga banyak yang Tentu saja. Se memesan. Bahkan, pesanan dari Jenewa empat ker- ging. Hal ini dim opak yang meliputi wayang Parwa, Ramayana, Ca- hargai orang, ma lonarang, dan wayang Cupak. Ada juga dikirim ke ang lain. Biasan Australia, Kanada, dan Belanda. Di samping itu, ada wayang saya me pesanan dari Taman Mini Indonesia Indah (TMII), sina, demikian p Museum Bali, juga beberapa tamu dari Eropa lain- sai. Jika membua nya. hanya membuat Apakah Anda pernah membuat wayang sac- ara masal? Tidak. Saya tidak pernah memproduksi wayang secara besar-besaran. Ini hanya pekerjaan sambi- lan. Sambilan tiang ngijeng (sambil menunggui ru- mah-red). Sekarang saya sudah tidak aktif lagi nge- wayang, karena sering sakit-sakitan apalagi baru habis operasi dua kali. Bagaimana mengenai harganya? Harga wayang saya memang lebih mahal dari perajin lainnya. Walaupun mahal kebanyakan tamu- tamu yang datang memesan puas. Karena para tamu sudah mengetahui mana wayang yang baik dan ba- gus, mana yang tidak. Biasanya satu keropak way- ang saya dibeli dua belas sampai lima belas juta rupiah (Rp 12-15 juta). Ada juga yang sampai dua puluh juta rupiah (Rp 20 juta). Saya tetap memper- Apa kendala ajin wayang? Saya rasa tidal sa serba salah ka gantar tamunya s ing itu, saya juga lau saya bisa tent Brege dan ajakar ditawari ngeway dan pedalangan c Sekarang ba art shop, toko, d rut Anda? sialkan sering kal Wayang yang wayangan. Para ang tersebut seca Jayaprana dan Layonsari Dalam Pentas Seni D SUZUKI UBUD PT. CAHAYA SURYA AGUNG PELIATAN TELP. 96198 UBUD HADIAH LANGSUNG GRATIS 1 BH. TAPE COMPO 1 BH. RADIO 2 BAND UM. BUNGA: satu ua orang seniman muda Bali secara kebetulan dan hampir bersamaan terpaut hatinya dengan lakon Jayaprana dan Layonsari. Kebetu- lan pula mereka mentransformasi- kannya lewat bingkai estetika seni tari. Hanya interpretasi dan aksen- tuasi garap mereka yang berbeda. Yang berkisah lewat id- iom tari yang ber- nuansa naratif, dan yang satu lagi bertutur dengan olah tari murni berdimensi ab- straktif. Yang per- tama berkisah di- wakili sekian tokoh, dan yang kedua hanya berucap dengan dua penari. Dia adalah Ni Ketut Tutiek Rah- ayu dan Ni Way- Suartini. KREDIT: RP. 500.000,-/BRAVO RP. 700.000,-/TORNADO RP. 1.000.000,-/SHOGUN 1,25% Tetap 2.35% Turun JW.: 4TH. 1 BH. KIPAS ANGIN 1 LB. KUPON BELANJA RP. 50.000 JAKET + HELM SPORT SERVICE GRATIS 6 X +3 KL OLI UNTUK 50 PEMBELI PERTAMA MELAYANI JUAL BELI CASH KREDIT DAN TUKAR TAMBAH SGL. MERK PT. CAHAYA SURYA AGUNG PELIATAN UBUD C. 550 an Keduanya maha- siswi tingkat akhir di Sekolah 您 Tutiek Rahayu dan Suartini sama-sama kesemsem "Jayaprana". Bali Post/ks ngi orang. Cerita ketulusan Jayaprana memang sungguh mengagumkan. Derita dan kesetiaan Layonsari juga begitu mengharukan. Apakah Romeo dan Juliet ala Bali ini ad- alah kisah nyata? Tak jelas. Tetapi agaknya sebagian orang Bali mempercayainya sebagai tragedi cinta dan kehidupan yang benar-be- nar terjadi. Pada dasarnya cerita ini memang sarat dengan muatan nilai. Misalnya integ- ritas dan loyalitas yang tinggi pada diri Jayaprana. Atau tentang ketabahan dan cin- ta yang agung dari seorang wanita bernama Layonsari. cap dua sejoli, Jayaprana dan Layonsari. Dia- khiri dengan hancurnya cinta kasih mereka kare- na nafsu liar sang raja. Romantika hidup Jayaprana, dari seorang anak telantar hingga menjadi petinggi kera- jaan yang akhirnya harus dibunuh, telah menyundut hati dari generasi ke generasi. Gambaran kecantikan serta cinta suci Lay- onsari, seorang gadis desa yang sederhana, sempat menjadi idola dan idaman para wan- ita Bali. Nafsu binatang Raja Kalianget juga telah dimaki oleh siapa pun yang menjun- jung moralitas. Tinggi Seni Indo- nesia (STSI) Denpasar. tel "Sandhya Duhkita". Keduanya juga menggelar Fragmentari "Kelayon", jika dilihat dari karya tarinya itu berkaitan orientasi ceritanya, berkisah setelah Jayapra- dengan ujian sarjana seni na dibunuh oleh Patih Saunggaling atas per- Legenda Jayaprana-Layonsari begitu lekat di (S1) mereka di perguruan intah Raja Kalianget. Tutiek Rahayu menekan hati masyarakat Bali. Begitu menyentuh, kisah tinggi tersebut, awal Febru- kan pada penggarapan konflik batin yang dua sejoli itu hingga orang Bali cenderung ari lalu. Tutiek Rahayu mendera tokoh Layonsari. Sedangkan memitoskannya. Sebuah gundukan yang diya- tampil dengan tajuk "Kelay- "Sandhya Duhkita" lebih kronologis. Dimu- kini sebagai kuburan Jayaprana di Teluk Teri- on" dan Suartini dengan ti- lai dengan manisnya madu cinta yang dike- ma, hingga kini dengan taksim masih dikunju- Kisah Jayaprana-Layonsari dituturkan, dulu, lewat tradisi mesatua atau lewat un- gkapan tembang. Bait-bait pupuh ginada dalam Gaguritan Jayaprana sering dikutip dan dialunkan. Lirik yadin te magedong batu (meskipun berumah batu) yang melukiskan ketabahan Jayaprana menyongsong kema- tiannya, sering dipakai memotivasi atau membesarkan hati orang yang pesimis atau khawatir berlebihan. Versi Drama Gong Di samping itu, baik di masa lalu maupun kini, media seni pertunjukan tradisional ber- peran penting mensosialisasikan lakon Jayaprana. Dulu, pementasan drama tari Arja dengan lakon Jayaprana sering tak lepas dari kucuran air mata penonton. Sekitar tahun 1915-1920 sebuah grup Arja dari Singapadu, Gianyar, sangat terkenal membawakan lakon Jayaprana" sehingga diberi sebutan Arja Jayaprana. sempat mengharu-biru berbagai lapisan Drama gong yang kini tetap populer, juga masyarakat dengan kisah Jayaprana. Atau bisa jadi, mulusnya kelahiran drama gong pada tahun 1967 yang langsung melejit, ber- kat memakai cerita legenda yang sudah me- masyarakat dan "sakral": Jayaprana? Seke- ha Drama Gong Abianbase, Gianyar, pelopor teater rakyat ini, tersohor di seluruh Bali dengan lakon "Jayaprana"-nya. Kini di era media massa audiovisual, kisah romantis namun tragis ini juga sempat di- angkat ke layar perak atau digarap dalam bungkus sinema elektronik yang ditayangkan lewat layar gelas. Terlepas dari interpretasi dan ekspresi artistiknya, ternyata Jayaprana tidak hanya menjadi milik masyarakat Pulau Dewata. Muatan nilai yang dikandungnya universal adanya. Siapa pun pantas ment- eladani heroisme yang ditunjukkan oleh Jayaprana, panglima perang yang berasal dari rakyat jelata ini. Atau siapa pun boleh setuju atau tidak setuju dengan penolakan Layon- sari ketika hendak diperistri seorang pengua- sa yang bergelimang harta benda. Versi cerita Jayaprana di tengah masyarakat Bali hampir sama. Begitu juga di kalangan seniman seni pertunjukan tradision- al, tak ada perbedaan yang prinsipil, terma- suk pula penafsiran karakter masing-masing tokoh. Jayaprana gagah, tampan, pintar dan berperilaku santun. Layonsari ayu, lembut, penurut dan setia. Raja Kalianget berwibawa namun terlalu mengobral nafsu birahinya. Begitu pula gambaran tokoh-tokoh lainnya; telah mengkristal dalam imajinasi orang Bali. Jika ada pelencengan karakter tokoh, mu- ngkin banyak penonton yang tak setuju bah- kan protes. Tahun 1991, sutradara teater Teguh Karya pernah menggarap cerita Jayaprana dan Lay- onsari. Namun versi cerita yang diangkatnya agak berbeda dengan yang umum dikenal di Bali. Garapan drama "Jayaprana - Layonsa- ri"-nya Teguh bersumber dari naskah drama dalam bahasa Inggris yang ditulis oleh Jeff Last, orang Belanda yang pernah bertugas sebagai guru di Bali selama beberapa tahun. Pada naskah Jeff Last ada tokoh antagonis semacam Sakuni dalam cerita Mahabharata DI tengah b dia elektronika menjadi tak dik sebenarnya ama formasi nilai da Dongeng begit tan yang sedem tak mendapat t dan tradisi men telah akrab dala dibiarkan terher Dongeng, sa alah salah satu dan dilestarikan budaya Indones berguna bagi p anak. Seorang a mang seharusn berlandaskan pa donesia guna m menjadi manus bisa terlepas da ri. Dengan alas waris tradisi bu sebuah tradisi al ya dengan sister itu tak bersifat kata, tetap meny nya. Maka, aka generasi untuk Dalam hal in bahwa sebuah b kanlah merupak kan suatu prose datipun demikia tersentak dan dis yang cemburu dan dengan berbagai cara beru- ran waktu begitu disi dari sebuah tata apik sebaga Sekarang ini bagaimana seora kepada anak atau saha mendepak Jayaprana dari sisi raja. Per- bedaan yang terbalik adalah di bagian kli- maks cerita. Jayaprana tidak dibunuh oleh Saunggaling, tetapi justru pepatih itu sendi- ri terbunuh oleh keris yang diberikan raja. Jayaprana baru terbunuh saat menabrak keris jadi lagi komuni yang dipegang oleh raja. Sebagai sebuah dra ma kehidupan versi Belanda ini, terasa lebih logis. Sedangkan versi Bali agak simbolis dan filosofis. Kadek Suartaya anak atau nenek nya, ibu dan nen at menyelipkan bentukan pribadi hal pesan ini an pribadi dan mora 4cm
