Arsip
Halaman Artikel
Creative Commons License

Jika anda mendapati gambar tidak sesuai dengan spesifikasi data (salah tanggal dan atau salah penomoran halaman), posisi gambar landscape, satu gambar terdapat dua halaman, kualitas gambar kabur, anda bisa melaporkan data tersebut agar segera diperbaiki dengan menekan tombol laporkan.

Kata Kunci Pencarian:

​
Nama: Bali Post
Tipe: Koran
Tanggal: 1996-03-02
Halaman: 09

Konten


HALAMAN 9 Bal Post ULTUR SABTU UMANS, 2 MARET 1996 Televisi kurang Seru? cintaan), tragedi (saat ada Oleh Dwikonra dan W. Supartha kesedihan), dan humor wayang kulit (terutiap adegan. at mementingkan lay yang bisa diselipkan pada k menampilkan bay sering diperas, bahkan salah satu "warna" sering alnya, yang dito ditiadakan. Warna" itu sering pula tidak muncul secara baik, akibat tidak ada respon penonton yang Akibat terbatasnya waktu, keempat "warna" ini gan wayang, bukan buhnya. Dalam penebisa didengar langsung oleh dalang. kan adalah permain memakai minyak ng, bayangan way Jika pentas di bale banjar atau bukan untuk di- tayangkan TV, empat "warna" tadi lebih memu- a pementasan wangkinkan bisa muncul secara menonjol. Sebab, se- di pura, semua li bagaimana kesenian drama tradional lain, wayang ung dimatikan ata yanya tidak berpapa kulit juga tidak bisa dipisahkan dengan penonton. Makin banyak jumlah penonton, makin besar se- wayang). Dengan mangat dalang untuk tampil lebih baik. Makin be- , hanya boleh ada sar sambutan penonton, makin besar pula seman- gatnya untuk terus bermain. Bahkan, dalang sering mendapat bahan humor secara spontanitas dari suara penonton. Jadi seakan-akan penonton itu ikut terli- bat dan merupakan bagian dari pertunjukan itu. Nah, suasana itu tidak ada di studio TV. Seorang dalang pemula atau lantaran kurang kreatif, akan merasa kesepian tanpa kehadiran penonton. Ia tidak bisa membayangkan berapa pasang mata yang nongk- rong di layar kaca. Siapa saja yang menonton pe- mentasannya, dan bagaimana pula tanggapannya. Akibat kobaran yang terbuat dan bergerak-gerak hi , rupanya sulit dilak Jika ada lampu ayangan wayang ja at. Beda dengan wa mya justru lebih ba yang ditonton, buk ton juga menonton an pasinden. mentasan wayang k onjolkan bayangan enabuhnya. Dalang ali ingin nampang rasaan yang mung mi. Namun risikony njadi kurang steg alah soal waktu. Wa alang kurang beb . Umumnya, tiap a Bila rekaman di luar studio, seperti yang dilaku- kan terhadap drama gong atau kesenian drama lain- nya, barangkali soal "kesepian" tadi bisa diatasi. Sebab ada penonton yang bisa memberikan respon. Namun, persoalannya adalah masalah waktu tadi. Sebagaimana biasanya, untuk dapat menampilkan kesenian wayang dengan baik, waktu yang dibutu- hkan minimal dua setengah jam. Kurang dari itu, penonton akan tidak puas. Sedangkan waktu yang disediakan TV jauh lebih singkat. Bagaimana jika kesenian wayang itu ditayang- kan secara bersambung? Ini pernah dilakukan TVRI Namun pementasan wayang beda dengan drama Warna Hilgong. Pementasan drama gong bisa dipotong-po- tong. Namun memotong pementasan wayang tera sa sulit. Sebab, sudah menjadi "hukum", pemen- tasan wayang selalu diawali dan diakhiri kayon (gu- nungan). Dengan demikian, jika pementasan way- ang dipotong, lalu apakah pementasan berikutnya lagi diawali kayon? Atau ditayangkan begitu saja tidak empat "wana heroik (yang ditampil omantis (saat berci ya Anda sangat digs hatikan mutu. Dalam menatah wayang satu kero- asing? pak saya bisa menghabiskan waktu satu tahun dibantu empat tenaga. ti. Saya tidak perna Mungkin ini promo anyakan wayang-way lang dari Badung be ng juga banyak yang ari Jenewa empat ke Apakah ada sesajennya saat membuat way- ang? Gianyar, Klungkung guy it at cb nab Equ nov Tentu saja. Sebab perajin memiliki Dewa Sang- ging. Hal ini dimaksudkan agar karyanya lebih di- hargai orang, mataksu, dan dapat berguna bagi or- ang lain. Biasanya sebelum membuat sekeropak wayang saya membuat banten peras ajengan dak- sina, demikian pula setelah wayang tersebut sele- sai. Jika membuat wayang hanya dua-tiga buah saya hanya membuat canangsari. arwa, Ramayana, Ada juga dikirim k a. Di samping itu, ad onesia Indah (TMI amu dari Eropa lais mbuat wayang sac memproduksi wayang ya pekerjaan samb ambil menungguin a tidak aktif lagi nge sakitan apalagi ban ganya? ng lebih mahal dan al kebanyakan tam as. Karena para tam g yang baik dan be a satu keropak way pai lima belas jut ga yang sampai du Saya tetap memper Apa kendala dalam profesi Anda sebagai per- ajin wayang? Saya rasa tidak ada. Tetapi terkadang saya mera- sa serba salah karena para guide yang datang men- gantar tamunya sering meminta persenan. Di samp- ing itu, saya juga tidak bisa berbahasa Inggris. Ka- lau saya bisa tentu sudah ke Jenewa bersama Tuan Brege dan ajakan ke California saya terima. Saya ditawari ngewayang, mengajar membuat wayang dan pedalangan di sana. Sekarang banyak dijual wayang-wayang di art shop, toko, dan swalayan. Bagaimana menu- rut Anda? Wayang yang dijual bebas dan terlalu dikomer- sialkan sering kali mengabaikan konsep-konsep pe- wayangan. Para perajinnya sering membuat way- ang tersebut secara asal-asalan, tidak memperhati- tanpa ada kayon? Dari segi teknis, tak ada per- soalan. Namun dari segi etis, pementasan itu seakan melanggar pakem. Mengapa Menonton Bayangan Mengapa bayangan wayang yang dipenting- kan dalam pementasan wayang kulit Bali, ru- panya memang cukup beralasan. Misalnya, dari segi namanya saja, yakni "wayang" berasal dari kata "bayang" (dalam bahasa daerah "b" bisa diubah menjadi "w", seperti kata ""batu" menjadi "watu", "bani" menjadi "wani", dsb). Selain itu, ada pendapat, kedudukan dalang saat pementasan sama dengan Tuhan. Karena itu, ia memiliki wewenang untuk "menghidup- kan" semua makhluk hidup dalam pementasan, termasuk para dewa. Karena sebagai Tuhan, wajarlah bila dalang yang berada di belakang blencong tidak bisa dilihat langsung oleh pen- onton akibat dihalangi sinar lampu blencong yang menyilaukan mata. Dari segi seni, kehadiran blencong sangat mendukung mutu pementasan ketimbang lam- pu listrik. Kobaran api lampu bisa ditutup den- gan sekelopak batang pisang, bila dalang me- nampilkan suasana sandikala, atau remang-re- mang. Bahkan dalam pementasan Wayang Ca- lonarang, konon ada dalang memakai lampu sentir untuk memainkan tokoh leak. Wayang leak itu menarik-nari, bukan karena wayangn- ya yang dimainkan tapi lampunya. Dengan demikian, dalam pementasan wayang, bukan hanya permainan wayang yang terlihat namun juga permainan lampu, tata cahaya. Nah, masalah-masalah teknis inilah yang sulit dilakukan bila wayang kulit pentas di stu- dio TV. Namun, bila ingin betul-betul me- nampilkan kesenian wayang kulit di TV den- gan sempurna, maka rekamannya sebaiknya di luar studio, agar dapat ditonton masyarakat umum, kemudian ditayangkan secara utuh. Bila cara itu tidak ditempuh, maka selamanya pe- mentasan wayang kulit di TV akan terkesan kurang seru tidak bisa sreg. Karena itu, bila ada yang menilai bahwa mutu pementasan wayang kulit merosot di TV, tampaknya tak bijak buru-buru memvonis ki dalang. kan karakter wayang, pengadegan, warna, ukiran, mutu dan nilai seninya. Memang terkadang indah dipandang, jika menjadi suatu pajangan. Tetapi jika diperhatikan secara seksama wayang-wayang terse- but tampak kurang karismatik. Hanya sebatas pa- jangan. Tetapi sepertinya tamu-tamu asing lebih senang jika memesan langsung ke dalang sekaligus sebagai perajinnya: 0 spes Kini pertunjukan wayang tampaknya mulai berjarak dengan masyarakatnya. Tak jarang per- tunjukan wayang kurang diminati - kalah sa- ing dengan pertunjukan seni modern. Bagaima- na tangagapan Anda? Inilah kenyataan yang harus kita hadapi. Hal ini juga merupakan suatu tantangan bagi dalang-dalang muda sekarang ini. Tidak bisa dimungkiri ada ko- mpetisi antara pertunjukan seni tradisi dengan seni populer. Mungkin pengaruh televisi, film masuk desa, dan hiburan lainnya lebih menarik minat masyarakat. Suatu bukti di zaman modern ini, per- tunjukan kesenian tradisi tidak lagi jadi primadona masyarakat desa. Menurut saya, mengantisipasi permasalahan ini hendaknya kita mencontoh masyarakat Jawa yang memasyarakatkan wayang kepada generasi mudanya. Mengapa kita tidak men- contoh adanya festival dalang cilik di Jawa, pada- hal Bali lebih dikenal dengan kesenian tradisinya. Festival wayang kulit di Bali saja sudah jarang di- laksanakan. Bagaimana kita dapat membangkitkan kembali kesenian tradisi ini. Ini dapat dimulai dari memperbaiki cara penyajian ki dalang dan berb- agai terobosan yang tentunya harus direkayasa pe- merintah. Jagat Wayang dengan Siasat Spektakuler TEATER wayang mungkin tak komunikatif seperti di masa lalu. Apakah ini yang jadi penyebab minimnya minat orang menekuni seni pertunjukan ini? Atau mungkin karena teater ini cukup rumit. Wayang, memang sebuah teater total. Artinya dalam seni pertunjukan ini ada beberapa unsur kesenian seperti seni rupa, sastra, karawitan, dan tari. Belum lagi sekian pengetahuan yang mesti Cimiliki oleh seorang dalang: sutradara dan sekaligus pemain tunggal teater itu sendiri. U jian sarjana seni (S1) di Sekolah Tinggi Seni Indo nesia (STSI) Denpasar, awal Februari lalu hanya ber hasil menampilkan tiga peserta. Mereka adalah I Ketut Murtana dengan garapan wayang berjudul "Mu- lat Sarira", I Made Gunadnya dengan karya bertajuk "Amerta Wise", dan Ida Bagus Gde Eka Darma Laksana tampil dengan titel "Bener Iku Bener". Ketiganya berusaha hadir dengan kemerde- kaan berolah seni. Murtana bertutur tentang I Cupak yang berwajah jelek yang menggugat dan meminta para dewa untuk mengubah wajahnya men- jadi pria tampan. Gunadnya berkisah tentang Kalarahu yang ke- palanya terpenggal senjata sakti Dewa Wisnu karena raksasa itu hendak mencuri air kehidupan yang dijaga para dewa. Sedangkan IB Laksana bercerita tentang kepatuhan seorang murid terhadap gurunya yakni Bima terhadap guru besar Drona. Ketiga dalang muda itu hadir dengan semangat inovatif. Betapa tidak, mereka berusaha menghindar dari sinar magis lampu blen- cong yang statis tapi diganti dengan lampu obor yang bergerak lincah dan kadang-kadang dimatihidupkan. Lampu warna-warni elektrik modern lebih diberi ruang. Batang pisang tempat menancapkan wayang juga tersingkir. Gedok wayang juga jarang terdengar buny- inya. Layar atau kelirnya pun tidak statis namun bergerak naik- turun, ke depan dan ke belakang yang berukuran sekian lipat dari tirai wayang biasanya. Kampus Kegelisahan dalam seni pewayangan Bali sebenarnya sudah menggejala sejak delapan tahun terakhir ini. Diawali dengan mun- culnya kreasi wayang yang dinamai "pakeliran layar berkembang" pada tahun 1988 garapan I Ketut Kodi dan I Dewa Wicaksana. Tahun-tahun berikutnya hadir olah wayang yang namanya mengekor penyebutan "layar" seperti wayang "layar dinamis" karya I Made Sidia, wayang "layar padat" oleh I Gusti Sudarta, wayang "layar kaca" Igarapan I Wayan Warga. Dan baru I Ketut Sudiana yang menghindar dari episode penamaan layar, karena ia tampil dengan wayang golek yang tak begitu memanfaatkan layar. Ada beberapa kesamaan ciri dari semua penggarapan wayang tersebut. Ciri umumnya adalah kecenderungan kolosalisasi. Dimain- kan oleh banyak dalang. Memakai beranekaa lampu elektrik. Me- manfaatkan layar lebar. Ada engadegan-pengadegan langsung oleh para dalang atau oleh para penari khusus. Dan dipentaskan dalam panggung yang lebar-luas. Namun masing-masing olah wayang itu mencoba mencari-cari identitasnya. Karya Kodi dan Wicaksana yang mengangkat cerita Arjuna Wiwaha misalnya, masih kental dengan warna tradisinya. ondum Karya pedalangan dengan semangat inovatif. Masih terdengar aksen-aksen suara gedok. Masih anut dengan struk- tur penampilan wayang kulit tradisional Bali. Sedang Sidia tampak tak begitu terikat. Garapan wayangnya yang bertutur tentang Bima mencari roh ayahnya ke sorga sudah bercanda dengan trik-trik, up- amanya bagaimana Bima terbang di angkasa. Kodi, Wicaksana, Sidia, Sudarta, Warga, Sudiana adalah para dalang muda yang juga orang kampus. Kreativitas cipta wayangn- ya yang telah disebut di atas, menguak berkaitan dengan ujian akhirnya di Jurusan Pedalangan STSI Denpasar. Jadi dorongan un- tuk merengkuh nilai "akademis" mempunyai andil membidani kela- hiran karya-karya seni wayang bernuansa inovatif-eksperimental itu. Namun sebuah inovasi tak inovatif lagi bila sudah terjebak dalam pengulangan dan kemacetan ide. Niat dan siasat kreatif justru terke- san tersesat dalam kebingunan. Apalagi dalam konteks cipta seni, tentu orisinalitas atau setidaknya identitas segar semestinya dike- jar. Belum lagi persoalan bagaimana menjalin komunikasi yang apre- siatif dengan masyarakat penonton. Sudahkah kesadaran itu hadir dalam karya cipta teater wayang di Bali? Rasional aat wayang-wayang itu dipentaskan, memang mendapat antu- siasme yang tinggi dari penonton. Tapi bisakah ia disosialisasikan di luar kampus? Atau bisakah ia diterima di tengah masyarakat Bali yang masih "fanatik" dengan wayang tradisional? Di sinilah prob- lemnya. Tak satu pun dari wayang itu pernah digelar berkaitan den- gan odalan di pura misalnya. Bali Post/ks Bahkan dalam forum apresiatif independen pun belum pernah ada gagasan untuk menghadirkannya. Semuanya hanya mengalami pentas perdana. Setelah itu entah ke mana. Dewa Wicaksana yang saat ini sedang studi kajian seni pertunjukan di UGM Yogyakarta mengakui garapan wayangnya hanya digelar saat meraih S1-nya di STSI Denpasar. "Rasanya kreasi wayang semacam itu sulit berkembang di masyarakat karena pementasannya memerlukan persiapan yang ekstra rumit," ungkapnya suatu hari. Eksistensi kesenian atau sebuah kreativitas seni memang patut memperhitungkan faktor masyarakat pendukung. Demikian pula karya seni dalam konteks kepentingan "akademis", seharusnya perlu memproyeksikan nuansa aplikatifnya. Agaknya untuk menge- jar nilai "akademis" tidak identik dengan kolosal atau spektakul- er. Mungkin sebuah gagasan dan penampilan yang sederhana dan simpel tapi sarat dengan tata garap dan tata ucap kreatif-orisinal, lebih punya bobot artistik-ilmiah serta menjanjikan nilai terapan yang rasional. Adalah dalang I Wayan Wija (43), seorang seniman alam di Desa Sukawati, Gianyar. Ia menciptakan wayang yang berkisah tentang tingkah-polah satwa dan kaitannya dengan kehidupan manusia. Wayang Tantri, demikian masyarakat menyebut kreasi wayangnya. Pola dan pakem wayang tradisi tetap dipakai oleh dalang yang te- lah melanglangbuana itu. Kini wayang yang digelarperdanakan tahun 1984 itu disukai penonton wayang di Bali. Bahkan tahun lalu pernah dipentaskan di Amerika Serikat. Kadek Suartaya -nya. udiovisual, kisah d juga sempat di digarap dalam wang ditayangkan dari interpretasi rnyata Jayaprana masyarakat Pulau g dikandungnya in pantas ment tunjukkan oleh yang berasal dari Dongeng, Anak, dan Budi Luhur DI tengah budaya modern yang dikuasai me- dia elektronika dewasa ini, dongeng makin lama menjadi tak dikenal anak-anak. Padahal, dongeng sebenarnya amat efektif dijadikan medium trans- formasi nilai dan etika agar anak berbudi luhur. Dongeng begitu tak kuasa menanggung himpi- pun boleh setujutan yang sedemikian deras, sehingga kini makin nolakan Layon seorang pengua enda. ma di tengah a. Begitu juga dib tak mendapat tempat. Akankah nasib dongeng dan tradisi mendongeng yang sejak dahulu kala telah akrab dalam budaya masyarakat Indonesia dibiarkan terhempas kandas begitu saja? Dongeng, sastra lisan berjenis prosa ini ad- jukan tradisionalah salah satu tradisi yang perlu diselamatkan prinsipil, terma masing-masing pan, pintar dan ri ayu, lembut, nget berwibawa afsu birahinya. -tokoh lainnya, nasi orang Bali. ter tokoh, mu dan dilestarikan. Sebab, tradisi yang berakar pada budaya Indonesia ini memiliki fungsi sosial amat berguna bagi pembentukan perilaku seorang anak. Seorang anak atau generasi Indonesia me- mang seharusnya memiliki kepribadian yang berlandaskan pada jiwa dan pribadi budaya In- donesia guna meningkatkan kemampuan dirinya menjadi manusia pasca-Indonesia. Mereka tak bisa terlepas dan terasing dari budayanya sendi- Dengan alasan, tiap generasi menjadi ahli waris tradisi budaya generasi sebelumnya. Han- ya dengan sistem pewarisan seperti itulah, maka sebuah tradisi akan tetap bisa lestari. Pelestarian itu tak bersifat kaku tapi fleksibel. Dalam arti kata, tetap menyesuaikan dengan situasi zaman- nya. Maka, akan menjadi tanggung jawab tiap generasi untuk upaya pelestarian tersebut. Dalam hal ini, kita memang tetap mengakui bahwa sebuah budaya atau kebudayaan itu bu- kanlah merupakan sesuatu yang given, melain- kan suatu proses dialektika yang dinamis. Ken- datipun demikian adanya, di sini kita harus bisa tersentak dan disadarkan betapa sebuah perputa- ran waktu begitu leluasa membunuh sebuah tra- sisi raja. Perdisi dari sebuah peradaban yang sebelumnya ter- tata apik sebagai pranata sosial. tak setuju bah. er Teguh Karya prana dan Lay- ng diangkatnya mum dikenal di ana - Layonsa- i naskah drama itulis oleh Jeff ernah bertugas eberapa tahun. koh antagonis a Mahabharata agai cara beru di bagian kli dibunuh oleh atih itu sendi Hiberikan raja. nenabrak keris gai sebuah dra- Sekarang ini kita tak lagi bisa menyaksikan bagaimana seorang ibu atau nenek mendongeng kepada anak atau cucunya sebelum tidur. Tak ter- jadi lagi komunikasi yang harmonis antara ibu- anak atau nenek-cucu. Sehingga, pada giliran- mi, terasa lebihnya, ibu dan nenek tak memungkinkan lagi dap- k simbolis dan dek Suartaya at menyelipkan pesan yang mengarah pada pem- bentukan pribadi anak yang berbudi luhur. Pada- hal pesan ini amat berharga bagi pembentukan pribadi dan moralitas anak. Di samping itu, juga "Dongeng, sastra lisan berjenis prosa ini adalah salah satu tradisi yang perlu diselamatkan dan dilestarikan. Sebab, tradisi yang berakar pada budaya Indonesia ini memiliki fungsi sosial amat berguna bagi pem- bentukan perilaku seorang anak. Seorang anak atau genera- si Indonesia memang seharusnya memiliki kepribadian yang berlandaskan pada jiwa dan pribadi budaya Indonesia guna meningkatkan kemampuan dirinya menjadi manusia pasca-Indonesia." untuk menajamkan imajinasi dan hati nurani anak sudah tentu mereka amat suka. Apalagi saat ini dalam kehidupannya baik secara horizontal (hubun- dengan munculnya berbagai televisi swasta, mere- gannya dengan sesama dan alamnya) maupun se- ka benar-benar khusyuk di depan layar televisi. cara vertikal (hubungannya dengan Tuhan). Jika mereka tidak menonton televisi, mereka akan Adanya kesenjangan hubungan antara tradisi menghabiskan waktunya untuk mendengarkan (khususnya dongeng) dengan anak merupakan radio transistor, tape recorder, atau video games. fenomena sosial anak yang tengah terjadi sekarang Maka, jangan bermimpi jika mereka bisa men- ini. Kesenjangan atau keterlepasan hubungan ini dengarkan ibu atau neneknya mendongeng. Aki- memang sangat menonjol terjadi di kota-kota, ter- batnya, mereka tentunya tak akan pernah tahu utama kota-kota besar. Tetapi, keterlepasan dengan bagaimana kisah "Sangkuriang" atau "Malin tradisi semacam itu agaknya merembet juga sam- Kundang", "Hikayat Mahabharata", "Ramaya- pai ke desa-desa, dan bahkan sampai ke dusun- na", "Lutung Kasarung", "Ciung Wanara", "Si dusun paling terpencil. Hal ini tentunya tak lepas Bawang Putih" dan "Si Bawang Merah", dan se- dari banyaknya masyarakat memiliki media elek- bagainya. Pada giliannya, mereka tak akan pernah tronika (televisi dan radio). tahu apa pesan yang ada di dalam kisah-kisah atau Kini keadaan dan zaman sama sekali telah pesan yang diselipkan pendongeng (ibu atau nenekn- berubah. Seorang anak, baik yang berada di kota ya). Mereka tak pernah tahu bagaimana nilai didak- maupun di dusun, dalam benaknya akan dipenuhi tis di dalamnya. rekaman bagaimana kehebatan "Power Rangers", Konsekuensi logis dari semuanya itu, maka kini "Kura-kura Ninja", "Speed Ranger", "Robocop", ada semacam kecenderungan yang kian menguat "Jiban" atau "Astro Boy". Dapat dikatakan, mere- tentang munculnya anak-anak yang terasing dalam ka hampir tiap saat menonton atau menyaksikan budayanya sendiri. Dalam kecenderungan seperti kisah-kisah yang sebenarnya bukan berasal dari tr- itu, perilaku atau pribadi anak tak terbentuk dari adisi budaya Indonesia itu. Tetapi karena keheba- budaya Indonesia. Kenyataan sosial anak yang sep- tan, teknik, dan kecanggihan penayangannya maka erti itu tentunya sangat disayangkan. Seterusnya Bali Post/ks mereka akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang tak jelas juntrungnya. Tak dilandasi akar budaya Indonesia yang kuat. Kepribadian seorang anak yang demikian itu tentunya akan tercermin mela- lui tingkah lakunya sehari-hari. Misalnya, tak sedi- kit anak yang meniru-niru segala perlakuan tokoh- tokoh idola anak dalam kisah-kisah yang diton- tonnya itu. Maka, yang salah atau yang bertentan- gan dengan kepribadian bangsa pun akan tetap ditirunya. Selain itu, sebagian besar anak yang kehidu- pannya terlalu banyak digembleng tontonan semacam itu, mengalami penurunan etika. Apala- gi jika orangtua si anak itu dalam kesehariannya tak punya waktu untuk memperhatikan dan mem- bina kepribadian anaknya. Contohnya lagi, tak sedi- kit anak yang kalau berbicara kepada orang yang lebih tua (orang tua, paman, bibi) memanggilnya dengan kamu, kau, dan seterusnya. Mereka tak per- nah bisa membedakan nilai rasa dari kata-kata yang digunakannya. Tentunya masih banyak contoh lain- nya. Dalam konteks inilah sebenarnya dongeng amat bermanfaat bagi si anak. Dongeng memberi kontribusi besar pada perilaku atau kepribadian seorang anak. kan sekarang adalah bagaimana upaya atau alter- Untuk itu, masalah yang perlu segera dipikir- natif kita untuk tetap menghidupkan tradisi men- dongeng di tengah budaya modern ini? Jika tradisi mendongeng alam lama tak memungkinkan lagi bagaimana memanfaatkan media elektronika se- dilakukan dewasa ini, maka perlu dipikirkan bagai sarana untuk mendongeng? Dalam hal ini, yang penting di sini adalah agar esensi dan sub- stansi dari dongeng itu sendiri tetap bisa lestari. Yakni menanamkan nilai dan etika budaya Indo- televisi dan radio berupaya menayangkan dan nesia pada kepribadian si anak. Patut dipuji, jika menyiarkan cerita anak-anak yang bersumber dari kisah-kisah budaya Indonesia, kendatipun porsinya masih terlalu kecil dibandingkan den- gan film anak-anak yang kisah-kisahnya diim- por dari Barat. merupakan tradisi budaya Indonesia yang perlu Alhasil, dapat dikatakan di sini bahwa dongeng tetap dilestarikan secara dinamis. Yang perlu di- lakukan dalam rangka pelestarian itu, bagaimana tas. membuat sintesa antara tradisi dengan moderni- Putera Manuaba Klinik dan Wayang Babad WAYANG adalah kesenian tua. Pada zaman primitif, ia, dalam bentuknya yang paling seder- hana, berfungsi sebagai media komunikasi den- gan roh-roh leluhur. Masuknya pengaruh Hindu ke Tanah Air mengangkat wayang menjadi seni pertunjukan yang multidimensional; bernuansa estetik, hiburan, pendidikan etik dan moral, fil- safat hidup dan kehidupan, ritual, serta masih banyak lagi. Pokoknya wayang adalah tontonan dan cermin yang karismatik. Setelah mengalami perjalanan yang demiki an panjang, wayang mempunyai "saingan" yang beragam. Namun, kini ada fenomena wayang tak berwibawa seperti dulu lagi. Sebagai seni hibu- ran, wayang agaknya tak memiliki daya magnet lagi. Memang dalam beberapa ritual tertentu ke- hadiran wayang masih diharapkan. Namun se- bagai tontonan yang berdimensi tuntunan, ia mu- lai tak percaya diri. Tokoh-tokoh wayang panu- tan yang dulu jadi idola seperti "minder" ber- hadapan dengan tokoh-tokoh modern fiktif abad global yang kini begitu gencar mencekoki gen- erasi muda kita. Apakah wayang telah tergusur? Mungkin be- lum. Setidaknya di tengah keprihatinan yang mendera pentas wayang belakangan ini masih terselip optimisme di kalangan seniman pedalan- gan. Harapan itu bisa kita tengok di lumbung seni pewayangan Bali, Desa Sukawati. Di sini selain regenerasi para dalang dan pemain gamelannya berlangsung secara alamiah, yang menarik ad- alah munculnya gairah kreatif. Setelah muncul- nya Wayang Tantri (1984) ciptaan dalang Way- ang Wija (43) yang kini mulai memasyarakat, tak lama lagi akan menguak Wayang Babad karya Ketut Klinik (37), seorang dalang yang sedang menanjak dan juga seorang penari topeng. Perdana Selain Wayang Parwa (Mahabharata) dan Wayang Ramayana, di Bali terdapat beberapa jenis wayang seperti Wayang Gambuh yang ber- sumber dari cerita Panji, Wayang Calonarang yang berangkat dari lakon Calonarang, Wayang Cupak yang berkisah tentang kakak-beradik Cu- pak-Gerantang, dan beberapa lagi. Namun yang umum dikenal adalah Wayang Parwa dan Way- ang Ramayana. Sedang wayang-wayang lainnya sulit dijumpai pementasannya. Bahkan Wayang Gambuh yang konon pernah populer, kini sudah hampir punah. Wayang Babad, seperti na- manya, bersumber dari cerita semi sejarah. Ide wayang ini muncul tahun 1993. "Waktu itu saya mulai menekuni dramatari topeng. Ketika menelusuri ceri- ta-cerita babad itulah saya sep- erti mendapat inspirasi untuk membuat seni pertunjukan way- ang dengan lakon babad," un- gkap Klinik yang juara I Festi- val Dalang Dewasa se-Bali pada tahun 1989. Idenya itu, katanya, mulai ia rintis untuk diwujudkan setahun kemudian. Langkah awal yang dilaku- kan Klinik untuk merealisasikan gagasannya ini adalah membuat wayang. Bagi dalang yang per- nah memperdalam keterampilan menatah wayang di Bantul, Yo- sulit. "Yang memerlukan renun- gyakarta, ini agaknya tak begitu gan mendalam adalah menafsir- kan tokoh-tokoh yang akan dibuat dalam bentuk wayang dua dimensi," papar Klinik. Namun dengan ketekunannya serta baik lewat pementasan topeng penghayatannya terhadap cerita, tokoh-tokoh penting dan tam- maupun membaca sastra babad, kini ia telah merampungkan 60 bahan. "Lengkapnya nanti akan berjumlah sekitar seratus buah (wayang). Wayang Babad ini dipergelarkan perdana 22 Februari lalu di Pura Dalem Sukawati. Sebelum- nya, Klinik dan pemain gamelannya mengada- kan latihan dengan penuh gairah. Yang menarik, wayang baru ini diiringi dengan gamelan pelog bernada tujuh (saih pitu). Dengan gamelan semacam ini lebih memungkinkan adanya varia- si modulasi dan perpindahan nada. Iringannya yang sengaja digarap baru ini ditata oleh I Made Subandi dan I Ketut Buda Astra, keduanya lulus- an STSI Denpasar. Terhina Struktur penyajian Wayang Babad ini masih anut dengan tatanan wayang tradisi yang kita ke- nal. Ada musik permulaan yang dilanjutkan den- gan penampilan kayon. Ada sidang, baik pihak kanan maupun pihak kiri. Terakhir tentu saja ada siat, perang. Di tengah-tengah itu juga terselip adegan roman atau percintaan. Jika dalam Wayang Parwa dan Ramayana atau seni pertunjukan tradisional Bali ada punakawan, dalam Wayang Babad ini pun demikian. Dalang Klinik yang pernah menunjukkan kebolehannya di Jepang (1982), Amerika (1993) dan Kanada (1995), menciptakan juga empat tokoh simbol rakyat jelata itu. Kebo dan Pengadangan untuk tokoh kanan serta Jelaung dan Petung untuk tokoh kiri. "Masing-masing tokoh saya coba berikan karakter yang khas," kata Bapak dua putra itu. Pementasan perdana Wayang Babad itu men- gambil lakon Dalem Waturenggong memerangi Blambangan. Alkisah, lamaran Dalem Watureng- gong mempersunting putri Dalem Blambangan te- lah diterima dengan suka cita. Namun ketika se- dang menyongsong hari perkawinan yang berba- hagia itu, muncul utusan Dalem Blambangan dari Jawa wayang membatalkan atau mengembalikan lamaran Dalem Waturenggong. Merasa terhina, Raja Bali ini tak kuasa membendung amarahnya. Serta merta ia mengutus orang kepercayaannya, Patih Ularan, untuk menyerang Blambangan. Ularan dan pasukannya berhasil menaklukkan Blambangan. Dengan emosional ia memenggal kepala Dalem Blambangan. Namun kemenangan dan oleh-oleh kepala Dalem Blambangan yang disodorkan Patih Ularan dengan penuh rasa bangga, justru tak men- genakkan Dalem Waturenggong. Karena dianggap terlalu kejam dan melewati batas, Patih Ularan dipe- cat dan diusir. Kadek Suartaya PT. BISMA TUNAS JAYA SENTRAL YAMAHA JL. TEUKU UMAR 7276 TELP.232528 DENPASAR Dapatkan...! YAMAHA PILIHAN UTAMA BONUS LEBARAN dari YAMAHA untuksetiap pembelian motor bebek Yamaha BERLAKU DARI TGL. 15 JANUARI S/D 15 MARET 1996 Gratis: - 1 Jacket Exclusive - Helm Exclusive - Gantungan Kunci 3 Kali Service KEUNGGULAN TEKNOLOGI Hadiah Langsung Rice Cooker & Payung Eksklusif Yamaha UANG MUKA RINGAN KHUSUS P.N.S. UANG MUKA 0% YAMAHA C. 457 4cm