Arsip
Halaman Artikel
Creative Commons License

Jika anda mendapati gambar tidak sesuai dengan spesifikasi data (salah tanggal dan atau salah penomoran halaman), posisi gambar landscape, satu gambar terdapat dua halaman, kualitas gambar kabur, anda bisa melaporkan data tersebut agar segera diperbaiki dengan menekan tombol laporkan.

Kata Kunci Pencarian:

Nama: Bali Post
Tipe: Koran
Tanggal: 1998-04-05
Halaman: 06

Konten


4cm Halaman 6 SERIAL RUMAH ANGKER kan kejadian yang mereka ala- mi di rumah angker itu, namun kedua anak itu tersenyum- senyum saja. "Kita main karam- bol, game di komputer, biliar mini. Tak ada hantu. Pokoknya damai saja. Hantu lebih suka ke- pada anak-anak penakut dan banci macam kalian," ejek Gad- ing kepada kawan-kawannya itu. Badeng hanya tersenyum masam mendengar ejekan Ga- ding. PADA malam kedua suasa- na kian mencekam. Hantu di rumah itu kian nyata meláku- kan terornya. Gading dan Badeng tidak lagi dapat belajar atau bermain dengan nyaman. Kedua anak itu diliputi perasaan takut, terutama Badeng. Wajah anak itu lebih banyak dibasahi keringat. Tiba-tiba lampu hias gantung di ruang tengah bergoyang dan berbunyi gemerincing. Makin lama suara gemerincing itu makin keras, bergoyang dengan ayunan yang sangat tinggi. An- Bali Post ANAK-ANAK dar duduk di dinding. Ruang tengah di mana mereka berada benar-benar berantakan seper- ti kapal pecah. Sejenak anak itu membisu, tak lagi tahu harus berbuat apa selain hanya ter- mangu dan berjaga-jaga apa lagi yang akan dilakukan hantu ini kepada mereka. Tampaknya hantu ini meng- inginkan kita terjaga semalam suntuk," gumam Badeng tanpa menoleh kepada Gading. Gading tak menyahut. Ia menghembuskan napasnya kuat-kuat sambil mengedari pandangannya ke sekitar ruang kalau-kalau hantu itu mulai lagi dengan lempar-melempar ben- da. Tetapi sejauh itu belum ada tanda-tanda hantu itu berulah. Lengang masih bergayut. "Aneh," kata Gading pelan sambil meraih tas sekolahnya. "Tidakkah kau rasakan keane- han saat hntu ini beruntun me- lempar benda-benda ke arah kita, Ding?" "Apanya yang aneh?" tanya Badeng tak mengerti. "Perhatikan benda-benda CERITA ANAK W. SUARDIKA gin berderu kencang di dalam yang dipakai menimpuk kita,” (3) Teror Dalam Rumah PAGI, saat Gading dan Badeng terjaga, mereka menda- patkan segalanya berantakan. Jendela terbuka, kain gorden tersingkap, kalender yang ter- gantung di dinding terlepas, taplak meja dan vas berserakan di lantai. Kedua anak itu ber- pandangan. Jika Gading han- ya tersenyum kecut, maka Badeng segera pucat pasi. "Jadi hantu itu ada," Gu- mam Badeng dengan suara se- rak. Gading hanya angkat bahu. "Kau harus percaya hantu di rumah ini memang ada, Ding," ujar Badeng sambil turun dari tempat tidur. Anak itu memper- hatikan ruang yang beranta- kan. "Jika ini ulah hantu," kata Gading mengikuti sahabatnya turun dari tempat tidur,, "setidaknya ia masih menun- jukkan rasa takutnya kepada kita." "Maksudmu?" tanya Badeng. "Maksudku, hantu ini han- ya membuat isi rumah ini be- rantakan, tetapi bukan meng- ganggu tidur kita," Jawab Badeng. Badeng menggeleng-geleng- kan kepalanya. Jika hantu itu mau, ia sanggup membuat kita mati," tukas Badeng dengan wajah yang tak sanggup lagi menutupi ketakutannya. "Pendeknya, mereka sudah mulai memperlihatkan dirinya kepada kita." "Belum," bantah Gading. "Baru tanda-tanda." "Ya, sama saja. Gading tampaknya enggan lagi berbantah. Ia lebih dulu melangkah ke kamar mandi. Tetapi ketika ia memutar ke- ran, yang mengucur bukannya air, melainkan darah. Bau amis merebak memenuhi kamar mandi. Anak itu terperanjat. Tetapi sebentar kemudian ia sanggup menguasai diri. "Badeng teriak Gading. "Ya!" balas Badeng. "Coba kau hidupkan wa- stafel di ruang tengah," pinta Gading, lalu ia menunggu. Tak berapa lama kemudian Gading mendengar jeritan sahabatnya itu. "Kerannya mengeluarkan darah, kan?" "Y...ya...ya," sahut Badeng gugup. 'Di kamar mandi juga," seru Gading seraya keluar kamar mandi menemui Badeng yang gemetar di ruang tengah. "Hantu di rumah ini mulai meneror kita," kata Gading. "Ya," sahut gading lirih. Untuk beberapa saat kedua anak itu membisu. "Ding." Ya? "Kau masih mau menempati rumah ini?" tanya Badeng. Gading mengangguk. "Kau?" "Tergantung kau saja," "sahut Badeng lirih. "Tetapi kau tampaknya ragu- ragu dan ketakutan." "Memang," Badeng men- gakui. "Tetapi aku ingin tahu apa yang selanjutnya dilakukan hantu itu di rumah ini." Gading menepuk bahu kawannya. "Betul. Aku juga in- gin tahu apa selanjutnya terja- di. Ayo, kita berangkat ke sekolah tanpa mandi," ajak Ga- ding sambil mengganti pakaian. Di sekolah, mereka memu- tuskan untuk tidak mencerita- kan apa yang terjadi. Beberapa kali Resta mendesak dan menyuruh mereka mencerita- ruang itu dan memporak-poran- dakan segala yang ada; gelas- gelas jatuh, gorden bersibak, bufet bergetar dan bergoyang dan mungkin akan jatuh jika kedua anak itu tidak dengan erat memegangnya. "Suasana begini gaduh, teta- pi mengapa tidak ada yang da- tang ke mari, Ding?" bisik Badeng di sela-sela kecemasan- nya. seru Gading sambil menunjuk benda-benda yang berserakan di depan mereka. "Semuanya benda-benda yang tak akan melukai kita. Artinya, tak ada benda-benda tajam seperti pecahan kaca, pi- sau dapur, batu, kayu dan se- jenisnya. Benda-benda yang di- pakai menimpuk kita tak melu- kai kita. Itu artinya, hantu di rumah ini tak ada maksud bu- ruk kepada kita." "Kalau mereka tak bermak- sud buruk, lantas mengapa mes- ti harus membuat ruangan be- rantakan?" bantah Badeng. "Kupikir hantu ini tengah mem- permainkan kita sebelum kita benar-benar dihabisi." PERMAINAN oleh: kesumat Adik-adik, dibawah ini ada dua gambar yang sama tetapi sebetulnya berbeda. Cobalah cari ada 6 perbedaannya, kemudian tulis perbedaannya itu pada kolom jawaban yang terdapat dibawah gambar tersebut. 5. 6. Ferra Astari Dewi: Tidak Ingin Jadi Pembalap AIR cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga. Demikian- lah pepatah yang mungkin cuk- up tepat dialamatkan pada anak cilik Nyoman Ferra Astari Gading tak menyahut. Na- Dewi (9). Menjelang ulang mun hati kecilnya tak sependa- tahunnya, 14 April mendatang, pat dengan sahabatnya ini. Teta- dia berhasil menyabet juara pi, entahlah. Ia tak dapat pertama kejuaraan tenis terbu- membuktikan lebih jauh. ka Dharma Praja Cup bebera- Lama mereka menunggu pa waktu lalu untuk kelompok kalau hantu itu berulah lagi. umur 10 tahun di bagian tung- Namun sejauh itu keadaan gal. Di samping itu, anak pem- tetap tenang. Ketakutan kedua balap nasional Made Ferry As- anak itu pun berangsur-angsur tawa ini berpasangan dengan berkurang. Yang kemudian ter- kakaknya, juga menyabet jua- jadi hanyalah bagaimana mere- ra dua di bagian ganda kelom- ka menahan agar mata yang pok umur 14 tahun. Prestasin- memberat karena kantuk tak ya ini menambah deretan gelar sampai membuat mereka ter- yang diraihnya setelah sebel- tidur. Namun sekuat-kuat umnya meraih juara satu di mereka menahan kantuk, toh Porseni Kodya Denpasar beber- akhirnya rontok juga. Kedua apa waktu lalu juga dalam anak itu pun akhirnya tergolek bidang tenis. di lantai dingin di ruang tengah. Ferra yang siswi kelas 3 SD Cipta Dharma itu, memang tidaklah seperti ayahnya se- "Entahlah. Barangkali dari luar sana rumah ini terlihat ten- ang. Kita saja yang disihir oleh hantu ini untuk panik," jawab Gading. Atau... Gading tak lagi dapat melanjutkan kalimatnya ketika sebuah vas bunga melun- cur ke arah mereka. Menun- duk, Deng?" teriak Gading. Berbarengan kedua anak itu tiarap, dan vas bunga itu kemu- dian membentur dinding. Na- mun lemparan-lemparan berb- agai benda seperti buku, tas mereka, sapu bulu, meja karam- bol, disket terus saja mengham- bur menghujam kedua anak itu. Dengan cekatan Gading ber- kelit, namun tidak bagi Badeng. Karena dicekam perasaan takut, anak itu hanya sanggup membungkus dirinya dengan kedua tangannya. Maka tak pel- ak, Badeng dihujani berbagai lemparan benda-benda. Saat lemparan benda-benda itu terhenti, Badeng masih ter- lihat membungkus dirinya den- gan kedua tangannya. Ia melon- Kedua anak itu tak sadar jak kaget ketika Gading meny- ketika perlahan-lahan tubuh entuh bahunya. "Urusan lem- mereka terangkat lalu melay- par-melempar sudah selesai," ang ke ruang tidur untuk ke- kata Gading. "Entah pertunju- mudian mendarat dengan lem- kan apa lagi yang akan diperli- but di tempat tidur. hatkan hantu ini." Badeng menyeka peluh yang melumuri wajahnya. Dengan wajah yang masih menampak- kan ketakutan, anak itu bersan- GELAR KARYA KALI ini Kakak tampilkan dua buah gambar karya Ni Wayan Novi Candrasari dan Suwartama Yuana, Adik Novi menggambar pemandangan laut. Gambarmu sudah bagus. Sekarang cobalah menggam- bar yang lain. Coba perhati- kan bagaimana bentuk pohon kelapa itu. Bagaimana bentuk daunnya, dan bagaimana bentuk pepohonan yang letaknya di kejauhan. Adik Novi, kalau pergi ke pantai cobalah perhatikan bentuk perahu yang ada di sana. Bila perlu langsung menggambar di tempat itu. Adik Suwartama meng- gambar pohon pisang. Gambarmu sudah bagus. Namun tentunya akan menjadi lebih bagus sean- dainya Adik memperhatikan pohon pisang dengan seksa- ma. Perhatikan bagaimana bentuk batangnya, bentuk daun dan pelepahnya, serta bentuk anak pohon pisang tersebut. Kalau Adik sudah melakukan hal itu, Kakak yakin gambarmu akan menjadi lebih bagus. Kak Wied, N. Nama: Suwartama Yuana Sekolah: SD 5 Saraswati Denpasar (Kelas V B) Alamat: Jln. WR. Supratman 239 Denpasar RUBRIK "Gelar Karya dan Puisi ini terbuka un- tuk anak-anak TK,SD dan SLTP. Kirimkanlah | KUPON gambar atau puisi karya adik-adik ke Redaksi Gelar Bali Post, ukuran kertas folio/kwarto. Lengkapi dengan keterangan nama, umur, sekolah, dan | Karya alamat. Jangan lupa tempelkan "Kupon Gelar Karya di balik gambar. Cerita Minggu Depan Gading tahu Badeng san- gat takut tinggal di rumah itu, jadi ia memutuskan un- tuk tinggal sendiri di rumah tersebut. Ketika bel rumah berdindong, dan tak ada sia- pa pun, Gading malah menanggapinya dengan can- da. "Silahkan masuk bagi siapa pun yang memencet bel rumah," canda Gading sambil membungkuk. Gad- ing bersorak dalam hati karena ia menangkap tanda- tanda persahabatan dari hantu itu. Bagaimana cara Gading bersahabat dengan hantu tersebut? Ikuti cerit- anya Minggu depan. Nama: Ni Wayan Novi Candrasari Sekolah: SD 6 Sanur Denpasar (Kelas IV) Alamat: Jln. Danau Beratan Gg VI/5 Sanur Kaja Denpasar TUNANETRA Seorang tunanetra Usianya masih muda Rambutnya terurai panjang Berjalan meraba-raba Setiap pagi ia berjalan Menuju ke sekolah Untuk menuntut ilmu Walau ia seorang tunanetra Tapi dia tidak putus Oh Tuhan tolonglah dia Jadikanlah dia manusia Berguna bagi nusa dan bangsa Ni Nyoman Suriyati (9 tahun) Kelas III (tiga) SD No. 1 Sesetan Alamat: Jl. P. Saelus No. 42 Den- paşar - Bali NIKE Nyoman Ferra Astari Dewi Minggu Kliwon, 5 April 1998 Sanggar Pas Anak Nama :Ida Ayu Indah Suryawati Ttgl.lahir Sanur Pendidikan: Kelas IV SD 6 Sanur, Denpasar Alamat : Jln. Danau Buyan Gg. VIIV/10 Sanur Kaja menari Hobi Nama :Ida Ayu Eka Adnyani T.tgl.lahir :Sanur Pendidikan: Kelas IV SD 6 Sanur Alamat : Jln. Danau Beratan Gg.XII/5 Sanur Kaja, Denpasar Hobi : berenang dan menari SANGGAR Pos Anak merupakan wadah dan media untuk r berhubungan, berkumpul dan saling tukar informasiantar anak KUPON Sekolah Dasar pembaca Ball Post Ingin bergabung? Slakan kirim data nama, tanggal lahir, pendidikan, hobi, alamat, dan pasfoto ukuran bebas, ke Redaksi Bal Post Jangan lupa tem- pelkan Kupon Sanggar Anak | Sanggar Pos Anak Boah Hoti Arissa De Sudarta Lahir: 3 Januari 1993 Ida Bagus Govinda Lahir: 8 April 1996 Putra dari: Komang Arini dengan Ich- Putra dari: Ida Bagus Gopala dengan wan Jasin Sudarta Nyoman Suteni Alamat: Jln. Gunung Merapi Gg. De- Reage ab 166bein bagai pembalap nasional. Na- tenis, anak pertama Made Fer- tahun lalu dia mengisi waktu Alamat: Jln. P. Saelus 53 Denpasar mun minimal dari prestasi di ra juga kerap menjadi juara te luangnya bersekolah tenis diwata 1 Denpasar bidang tenis yang sama-sama nis. "Saya memang bukan in- Dharma Praja Club bersama wavuqlamy shell bidang olah raga, tentu darah gin menjadi pembalap seperti sang kakak. juara mengalir dari ayahnya. papa, tetapi menjadi petenis Dalam seminggunya dia Soalnya tidak saja anak kedu- yang berprestasi," ujarnya man- harus menjalani latihan tiga anya itu yang menjadi juara tap. Untuk itulah, sejak 1,5 kali. Simpen Pematung Cilik Nasional I Nengah Simpen (gus) WALAUPUN hampir tak ber 1983 ini tak punya ibu lagi, merasakan kasih sayang orang sedang bapaknya kini sedang Ni Luh Putu Diah Fernanda tua, tak membuat I Nengah mengidap sakit jiwa. Ternyata Julianti Simpen frustrasi. Ia malah te- keadaan keluarganya tak mem- Lahir: 14 Juli 1996 Ni Made Suriati, S.H. food Alamat: Jln. Drupadi Gg. 1/3 Denpasar lah menunjukkan kemampuan- buatnya patah semangat. Putra dari: Ir. I Made Sucita dengan nya untuk mengangkat nama Beruntung ia dibesarkan di Bali di tingkat nasional. Bay- daerah seni Singapadu Kaler, angkan saja, pada lomba pela- Gianyar. Tentu juga berkat jaran kesenian Maret lalu di bimbingan gurunya I Putu Ke- Jakarta, ia berhasil keluar se- sumayudha, B.A. membuatnya bagai juara I nasional. "Berun- terampil, sekaligus meraih jua- tung saya mendapat bantuan ra. "Di Jakarta saya memper dana dari GN-OTA (gerakan oleh piala, piagam, medali, dan nasional orang tua asuh-red) tabanas," ucapnya bangga. Sim- sehingga bisa sekolah seperti pen tercatat sebagai pematung teman-teman lain," tutur siswa cilik keenam utusan SD3 Sin- kelas VI SD 3 Singapadu Kaler gapadu Kaler meraih prestasi ini. Anak kelahiran 31 Desem- membanggakan itu. (jan) BILUTING OLEH: KESUMA.T TERNYATA SUNGAI INI SANGAT DANGKAL LAGIPULA TIDAK ADA BUAYANYA KITA DIBOHONGI HAI KAWAN-KAWAN, LIHAT DISANA... PISANG MENGUNING, RUMPUT MENGHIJAU... CEPAT SEDIKIT KURA-KURA, AKU LAPAR... MAAF TEN AWAS KAMU LUTUNG... KAMU PEMBOHONG KAMU BERMULUT BESAR..!! RASAKAN PEMBA- LASANKU RUBRIK ini terbuka untuk putra- putri Anda. Kirimkan foto-foto lucu mereka ke Redaksi Bali Post Minggu, Jl. Kepundung 67 A Den- pasar. Sisipkan data putra-putri Anda: nama lengkap, tanggal la- I Gede Yoga Danu Tirta Lahir: 24 Agustus 1996 Kadek Ariantini Putra dari: I Ketut Parwata dengan Alamat: Jln. Tukad Balian 72 Renon, Denpasar L KUPON Boah Hoti hir, nama orangtua, dan alamat rumah. Jangan lupa cantumkan "Kupon Buah Hati di sudut kiri amplop. AKU TIDAK BERMAKSUD MEMBOHONGIMU TIDAK INGINKAH KITA MEMAKANNYA....? TAPI SUNGAINYA SANGAT DALAM DAN ADA BUAYA, LEBIH BAIK AKU SAJA YANG MENYEBRANG BERSAMA SI KURA-KURA, NANTI AKAN AKU BAWAKAN MAKANANNYA. MANA JANJIMU LUTUNG.... CEPATLAH KEMBALI !!! KALAU TIDAK, AKU AKAN IKUT MENYEBRANG. IKAT DIA.. AGAR TIDAK BISA MAKAN PISANG. Minggu Kliwon, 5 April Remaja Remaja Denpasa Ciri lainnya, merel untuk mandiri. Munculnya si menilai: berusaha tidak menjamin ke Prof. Dr. dr. TAHAPAN perkembangan sua jiwa pada fase peralihan terdi- teg ri atas fase remaja (usia 12-20 rut tahun), dewasa muda (21-30 ber tahun), dan dewasa (di atas 30 per tahun). Selama ini para pakar ita dan masyarakat berpendapat sek bahwa pada usia itu, remaja fil ada dalam masa krisis yang pa penuh "badai" ketegangan gas dalam mencari jati diri. Pendapat tersebut diban- tah Offer berdasarkan peneli- cir tiannya. Disebutkan, ternyata ala hanya 20% dari kalangan re- un maja yang diteliti mengalami sik krisis. Sisanya biasa-biasa nil saja," papar Suryani pada dis- be kusi pertemuan remaja yang ka digelar Yayasan Putra Sesana ver bekerja sama dengan Sanggar ke Pos Remaja, Jumat (3/4) di kit Wantilan DPRD Tk. I Bali. Pendapat Offer ini tidak ma jauh berbeda dengan hasil pene- m litian Suryani pada remaja tid sekolahan di Denpasar, tahun ita 1992. "Remaja di Denpasar ni ternyata biasa-biasa saja. ka Hanya 6% yang mengalami di gangguan emosional," lanjut ya Suryani. Gangguan emosional ga itu berupa benturan dengan or- angtua, keluarga, dan lingkun- re gan sekitarnya. m Namun, menurut Suryani, ad bukan berarti remaja di Den- ga pasar loyo seperti anggapan pa masyarakat selama ini. "Yang Be ada, mereka memiliki cita-cita se tinggi. Sayangnya, disertai be ketidakinginan mencoba se- m Menulis, Paculah diri Anda untuk mempunyai keterampilan menulis yang baik. Dewasa ini dan seterusnya, terampil menulis menjadi salah satu kunci keberhasilan usaha dan bisnis. ef bi ha pa p se ti T in MENYEWA wartawan le- p pas dan pakar jurnalistik un- te tuk mengajar karyawan atau si mahasiswa menjadi ti kecenderungan baru pada pe- ta rusahaan dan sekolah bisnis st di Amerika Serikat. Kemam- ta puan menulis dengan baik, ba yang sempat dianggap kuno, na kembali mencuat. Jangan ba salah persepsi sebab komu- ba nikasi pada era global ini id makin membutuhkan keter- ka ampilan tersebut. p Bila melihat fenomena di n sekililing kita, jelas terlihat makin banyak jumlah ek- sekutif yang harus menulis p surat bisnis, makalah, pre- P sentasi, pidato, brosur, surat tu elektronik (e-mail) serta ben- ia tuk komunikasi tertulis lain- m nya. Untuk dapat mengkomu- te nikasikan bisnisnya secara a KOPAJA bergoyang. k Selembar rambut putih n berkilau di kehitaman rambut- d nya ikut bergoyang. a Aku berdebar. Mataku tak lepas-lepasnya memandang m selembar uban milik seorang m wanita yang duduk tepat di depanku. "Kompleks!" teriak u kermet mengejutkan aku. Mini- k bis menepi. Wanita itu bang- pa kit berdiri, rambutnya meny- m entuh langit-langit minibus a meskipun dia sudah mem- bungkuk. Dia pun turun. M Kurasakan ada sesuatu yang u hilang dari hatiku. Kendaraan umum itu mela- O ju lagi. Bergoyang lagi. Tapi tak S ada seutas rambut putih ber- goyang di depanku. d Sekolah teriak kernet lagi. p Aku pun turun di depan u sekolah lalu masuk gang yang menuju rumah kontrakanku. a "Mungkin aku sudah gila," d gumamku seraya menuang kopi. S Si.... siapa yang gila Ari?" t Tante kost dari belakang men- d yahut K Aku kaget setengah mati. Ng.... nggak. Maksud saya bu- in kan siapa-siapa yang gila, p Tante, kataku gelagapan den- a gan muka memerah. k Kusulut sebatang kretek k lalu membaca koran sore yang k kubeli dari terminal Blok M. a Gadis itu naik lagi. Kulihat dia di mengepit tas kulit warna mer- ta ah. Rok dan blusnya berenda- e renda warna merah jambu. Dia ra lalu mengambil tempat duduk yang kosong. Sial, tepat di a depanku bangku sudah ada k penumpang, dia duduk di baris al depannya lagi. lo Aku agak kecewa karena su tak bisa lagi dengan santai melihat seutas ubannya. pa "Sialan, gerutuku dalam hati seraya berusaha melihat al ubannya yang selalu menggo- da hatiku. m Beberapa kali aku harus ja memiringkan kepala untuk memandang uban kehitaman F rambutnya karena terhalang g kepala penumpang yang tepat duduk di depanku. Ketika minibus berbelok di ka tikungan, semua penumpang la bergoyang, sekelebat sempat 2cm Color Rendition Chart