Tipe: Koran
Tanggal: 1998-04-05
Halaman: 09
Konten
4cm 2cm won, 5 April 1998 fungsi hambatan zat se- mbatan terhadap ejaku- iga, karena gangguan ang mengontrol ejaku- ak ada hubungan de- ulasi dini. Berarti penis panjang atau lebih be- dak terjadinya ejakula- enis yang berukuran le- pasti mengalami ejaku- a mengukurnya, maka -9 cm saat ereksi masih ang jauh lebih penting elainkan fungsinya. Jadi normal, jauh lebih pen- pada ukurannya. Teta- myang saya maksud a- dicapai setelah terjadi al secara normal. jakulasi dini yang ber- at menimbulkan akibat abnya karena faktor ekecewaan akibat me- ni. Apalagi kalau mun- ri pasangannya. ejakulasi dini, bebera- ukan, yaitu pemberian ol ejakulasi, latihan sex -otot sekitar penis, dan yang mengontrol ejaku- sarankan untuk tidak kan hubungan seksual bih baik menunggu sam- Andaikata setelah meni- mengalami ejakulasi erlu mendapatkan upa- nya. Saya yakin upaya auh lebih berhasil sete- ngkan dengan sebelum la saat ini. 9- a- da er- h a- Drs. Darmasutapa eda agak jauh. Apalagi ia . Akibatnya bisa jadi di udian hari Anda akan h cinta lagi kepada lela- ain yang benar-benar se- n, sebaya dan sama-sama esif seperti diri Anda. Saudari Kadek, orang pacaran yang ideal ada- memiliki sebanyak-ba- knya kesamaan-kesa- an seperti sama agama, a kasta, sama asal, sa- tingkat sosial ekonomi. samping masih lagi per- idukung "prinsip saling," ni saling membutuhkan, nghormati, memaafkan, dukung, dan melengka- Orang berumah tangga ak cukup hanya karena ta, sebab kalau hanya ena rasa cinta, bisa jadi ah satu pihak akan ter- sa dan menjadi korban ena demi pengabdian ter- lap rasa cinta saja. Saudari Kadek, itulah ggapan saya. Semoga da mampu menengok mbali secara cermat, jika da ingin selamat dalam cintaan Anda. Jangan apai setelah kecewa ke- dian muncul pendatang u dalam kehidupan cinta Ha. Oleh m Fu Konsentrasi dan semangat la pekerjaan harus di- katkan. Agar segala tang- gan bisa diatasi. Jangan esa-gesa royal, sebab masih Keluarga juga memerlu- ertian dan dengarkan kelu- Hu rasanya. Namun harus Lagi ada kendala, jangan gi jauh-jauh. Perhatikan ■adakan kontrol. Jangan os dan jangan mudah ter- garuh. Tetaplah bertahan kun. Dekatkan diri kepada ang kuat dan tetap menjau- a: Kalau sudah punya, ja- Nasib lagi mujur. Banyak waran yang berharga, na- an jangan serakah. Pilih u atau dua, yang benar-be- bisa Anda kuasai dan men- ncar, banyak uang masuk, -masa kelam yang payah. mara: Selidiki sumbernya. pihak. Untuk mencapai cita-cita mur, harus bisa sabar dan t. Pantang menyerah dalam enghadapi tantangan dan tangan. Maka untuk selan- mantap. Keharmonisan dan dibina. Aturlah waktu dan ngan sombong dan menghi- Minggu ini perlu bebenah. ik bebenah diri sendiri, ke- rga maupun usaha dan pe- jaan. Mana yang kurang k dan tidak menguntung- anyak rencana baru hanya ai. Adakan kerja bakti, ber- ra: Suasananya sedang ga- rekreasi. Kondisi dan situasi belum bil, masih perlu perhatian ng serius. Hindari pergau- myang hanya akan mengu- isi kantong Anda. Hindari ngan. Kemacetan tak akan indungi Bintang Penolong. a: Jaga kondisi, jangan ba- yang menentukan. Minggu Kliwon, 5 April 1998 ●Duet Delapan Puisi Posbud (BPM, 22 Februari 1998) Unsur Narasi Dalam Kemasan Metafor... Dua Penyair yang berduet dalam BPM, 22 Februari 1998 adalah Putu Fajar Arcana dan Warih Wisatsana. Masing- msing tampil dengan empat puisi. Struktur fisik yang segera menarik perhatian saya pada puisi kedua penyair itu adalah banyaknya enjambemen. Tak seperti Hartoyo Andangjaya yang mengeksploatasi enjam- bemen untuk mempertahan- kan rima akhir, kedua penyair im membentuk enjambemen demi kepentingan ritme. Pada Warih hal ini tampak lebih transparan secara literer, sekaligus menunjukkan pen- yairnya menulis puisi seperti ia meng-"oral"-kan puisinya di are- na. Hal ini bisa dimaklumi, karena Warih adalah penyair penulis dan pembaca puisi den- gan intensitas berimbang. Fa- jar lebih kerap sebagai penu- lis. Dalam hal citraan kedua penyair tadi tetap bertahan seperti puisi-puisi sebelumnya yang pernah saya baca. Metaforanya sangat kuat dan berkadar puitis. Tetapi kekua- tan ini sedikit menimbulkan risiko bagi pembaca/pengapre- siasi awam. Pembaca awam kerap kehi- langan jejak untuk menemu- kan makna yang tersimpan di balik puisi yang dibacanya; sebab puisi itu menjadi sangat ambigu. Hal ini misalnya ter- dapat dalam puisi "Metafor Buah Catur" dan "Tukang Es dengan sedikit segi-segi yang baru terdapat pada puisi "Parahyangan". Di sini kemba li dikaji perjalanan hidup kita (manusia) dengan satu pertan- yaan klasik. Apakah hidup kita benar-benar meluncur ke depan seperti yang kita harap- kan dan usahakan, atau cuma berputar-putar di tempat. Ini adalah sebuah persoalan klasik yang telah kerap dikaji dalam berbagai bentuk karya. "Metafor Buah Catur", yang menurut keterangan seorang kawan saya adalah puisi an- dalan penyairnya, juga mem- persoalkan kehidupan. Cuma, puisi ini punya nila ambigu yang kuat. Dari segi kodrati arena hidup kita memang sempit, sumpek, seperti petak catur. Dalam zaman global kini petak-petak sempit itu lebih dijepit lagi oleh nilai-nilai sos- ial, politik, dan ekonomi. Yang mana diacu oleh penyair dalam puisinya, terserah pembaca. Semua tafsir disediakan alat dukung oleh puisi ini. Di sinilah letak nilai-lebih ambiguitas puisi ini. Dalam hal citraan dan metafornya sebagai puisi saya tidak melihat kelebihannya dari puisi Warih yang lain. Berbicara masalah konteks sosial puisi, saya mengkhusus- kan tilikan ke puisi "Jalan By- pas Denpasar" dan "Jalan ke Tanah Lot" (karya Warih). Sesungguhnya kedua puisi ini mengandung nada protes. Tetapi karena kemasan diksi liriknya yang kuat, protes itu hanya muncul sebagai isyarat ajakan, paling jauh sebagai isyarat imperatif. Gaya pro- tesnya jauh dari suara seorang agitator (seperti Rendra). Pro- tesnya tampak samar-sama dan puisinya tidak jatuh ke gaya pamplet. Gaya Warih yang menyindir-nyindir" tetap ber- tahan. Kata-kata berbau teknologi seperti: Bali Post APRESIASI Agenda Kantong Apresiasi 98 Sanggar KATA Amlapura '98 Kukuruyuk KATA Bali Timur Kembali Menguak April Muda...... MINGGU SIANG ini 5 April '98 di Gedung Yayasan Anak Asuh Yasa Kerthi di Muka Selamatkan, selamatkanlah SMUN-1 Amlapura, pukul 14.00 WITA. Semua siswa-siswi SLTP, SMU dan SMK se- dirimu bau busuk pestisida limbah janji kata-kata kini meracuni udara tidak menyebabkan puisi Warih bergaya pamplet, sebab diksi itu punya diksi pengim- bang, sehingga larut dalam ko- mposisi puisi yang utuh. Dialog dan sedikit nada protes dalam Jalan Bypas Denpasar terkemas rapi dalam diksi liris, sehingga ke- beradaannya lebih terasa se- bagai gumam. Tetapi pembaca jeli yang punya sedikit kemam- puan menyiasati bahasa sim- bol akan berhasil menangkap nada itu. Amlapura diundang hadir dalam APRESIASI APRIL KATA... Koordinator: Komang Berata, IDK Raka Kusuma, Wayan Arthawa dkk... Pekan Seni Lovina, 394 Tahun SAR... ●Pameran Seni Rupa, Seni Cak PHRI, Teater Kontemporer, Gong Kebyar, Apresiasi dan Diskusi Sastra 5 April sampai dengan 11 April 1998.... Seni SISWA Seni ●Menggalakkan Tahun Seni Budaya ya Kembali ke Sekolah SENI Siswa.... JAGA di BPM 12 April 1998 Seni SISWA Seni.... Satria KSB Wijana dkk ●Ke Sarang Drama Gong Banyuning ya ke Sarang Drama Kotemporer' 98 sebuah LAKON Putu Satria Kusuma dan Nengah Wijana dkk KSB.... (Kampung Seni Banyuning) di Warbud 18 April 1998 Ruwatan GHUMI Ruwatan Ghumi Ruwatan Semesta Diri dalam Tarian Semesta Raya... Jaga dalam BPM 19 April 1998 90 Thn Puputan Klungkung Halaman 9 Warung Budaya: Kepedulian Komunitas Kesenian lewat Banjar Budaya Oleh Aant S. Kawisar Sekitar pertengahan tahun 80-an, ketika se- bagian dari kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta mulai dijamuri warung makan dan sineplek, terdengar di sana-sini geratu dari banyak seniman. Keberadaan warung-warung dan sineplek tersebut tidak saja dianggap se- bagai "kelunturan" wibawa TIM sebagai pusat kesenian yang jauh dari napas komersialisme, akan tetapi sekaligus dipersoalkan sebagai in- dikator "mencairnya" idealisme kesenian itu sendiri. Dengan kata lain, wibawa TIM yang dibangun dengan semangat idealisme roman- tik di pengujung tahun 60-an, yang mencapai puncaknya pada tahun 70-an, tiba-tiba seperti dibenturkan pada serbuan "pasar" yang menja- di aras utama pembangunan republik ini. Gerutu yang sarat dengan rasa kecewa dan kemarahan tersebut, apabila mau dicermati ujung-pangkalnya, menjelaskan sebentuk kesa- daran, bahkan mungkin suatu visi, yang telah begitu mengakar pada kehidupan kesenian di Tanah Air, khususnya di lingkungan TIM. Bah- wa kesenian adalah sebuah wilayah sakral" yang jauh dari hiruk-pikuk pasar". Dalam hal ini, keberadaan warung-warung dan sineplek tersebut, dilihat sebagai bagian dari institusi pasar, dianggap telah menodai kesakralan tersebut. Dalam hal tema Fajar tak Edisi KHUSUS 90 Tahun Puputan Klungkung, Pesta Seni rupa Kaliunda '98 Budaya Denpasar belum lama ini, menjadi san- banyak berubah, dalam arti tetap pada keragamannya semula; sedangkan Warih tam- pak mulai emrambah wilayah sosial, yang semula belum menjadi perhatiannya. Nyoman Tusthi Eddy Gaib" karya Warih, dan "Sebiji Catatan Budaya Minggu Ini Mata", karya Fajar. Di samping potensi metaforanya unsur narasi pada puisi kedua penyair ini tampak semakin melimpah. Pada Warih hal ini lebih kentara, karena pada puisi-puisi sebel- umnya ia lebih banyak "ber- monolog". Sebaliknya pada Fa- jar tak banyak terasa karena pada puisi sebelumnya warna narasi memang sudah ada, dan dalam beberapa puisinya san- gat jelas kelihatan. Yang lebih menarik saya dengan kehadiran unsur nara- si di tengah kekuatan metafornya adalah kepiawaian kedua penyair ini meramu ked- ua unsur itu. Tampaknya ked- ua unsur itu tarik-menarik. al- hasil tak ada unsur yang menang atau kalah. Muaran- ya adalah sebuah komposisi li- rik yang bila dicermati bermua- tan unsur narasi. Tetapi unsur narasi dalam konteks ini tak sampai membawa puisi itu ke bentuk kisahan. Unsur naras- inya sampai sebatas "bias" yang samar. Misalnya: Setelah pohonan ditebang yang paling rindang adalah doa Kita melaju, Putu di jalan lurus penuh rambu ("Jalan ke Tanah Lot") Sejak awal sesungguhnya kita tahu akan memasuki terowongan ini. Semua kita bisa menduga akan berjalan di rel yang sama ("Parahyangan") Masuknya unsur narasi pada lirik kedua penyair ini saya yakin bukan karena kedu- anya menekuni karya prosa di samping menyair, tetapi oleh desakan tak disadari kebutu- han penyair untuk menyuara- kan fenomena zamannya; baik lewat pengajukan" diri sendiri (pada Fajar), maupun membu- ka dialog dengan lingkungan- nya (pada Warih, dalam "Jalan ke Tanah Lot"). Puisi Fajar lebih banyak mengajuk pada kehidupan. Dalam hal ini kehidupan telah ditempatkan dalam konteks yang luas. Mempersoalkan perjalanan hidup secara klasik - meski WARUNG BUDAYA, SUATU HARI Sakit kutoreh rajah di keningmu Tanganku layu Saat belum selesai kalimat kunciku menyibak pintu hatimu. Keramatkah air mukamu yang tenang tak berdosa melepas kami satu persatu pergi. Betapa tuli telinga yang terpasang setengah hati. Juga topeng jangat yang berabad lekat jadi wajah paling manis cari selamat! Pakai saja topengmu tanpa berpura-pura menari lebih baik bereskan saja hutang-hutangmu. Justru inilah hutang-hutangku, katamu. bn Bagus. Canang berkelenang dan hilang ditelan harga-hargalidom isang.org Blaketidakpastian dan kecemasan. 9 Jangan remas kertasmu, Kawan! Kau tahu, rajahan tak boleh hapus seperti nasib yang kita pertaruhkan. Mana keras pengganti? Kertas amblas, Riki! Mari, menyelam ke batu kalam, ke daun lontar yang lempang ditulisi rajah demi rajah bagi catatanku ini. Jaga dalam BPM 26 April 1998 12 Thn KPS Jembrana Sekali Sebulan Gradag Grudug KPS Jembrana Bali Barat 1998... Senin MALAM 27 April 1998, hubungi PONDOK SENI 400331 (0365) Negara Sanggar BINDUANA '98 ●Kembali ke Banjar Pekandelan, Takmung, Losan dan Tihingan Klungkung JAGA 90 Tahun Puputan Klungkung plus HUT Sanggar Binduana Jln. Flamboyan 57 Semarapura Klungkung Film PICASSO di Darga ●Film Biografi Sejumlah Pelukis Master Dunia al Pablo Picasso Galeri Darga, Kompleks Sanur Raya Sabtu 18 April '98 pukul 18.30 LESEHAN KARTUN Gunasta, Kesuma Tirta, Gus Martin, Wied N, Tusuaria Gus Surya, Jango Pramartha dkk Hadang di WARBUD tiap MINGGU PAGI pukul 10.00 WITA Tiga Sajak Nur Sri Rahayu (Ngawi) ● SEPERTI TAK TERJADI APA-APA, PADAHAL ... Batu yang tertetesi air; meski setetes-setetes akhirnya berlubang juga katamu: kekerasan selalu menaklukkan kelembutan buktinya tak ada yang mengalahkan kesabaran Bertahun-tahun waktu telah terlewat begitu saja kita belum juga beranjak dari tempat semula entah hujan dan kemarau yang ke berapa sekarang jari-jemari kita telah habis dimakan usia 1 BOZDU nga Lonceng yang ditabuh matahari main foss Morogo membangunkan burung-burung; tapi tak membangunkanku tak juga merubuhkanmu seperti tak terjadi apa-apa padahal ketakberdayaan membelenggu berabad lamanya PROSA PENDEK PERANG RUMPUT Mencabut sebatang rumput membakarnya bersama hutan api berkobar menyentuh langit meliuk-liuk bagai penari kemasukan ruh naga garang ia; melahap udara ●Raudal Tanjung Banua udara besi - udara tuba; siapa peduli Galatan Kecil (GAKIL) Pekan Ini PENYAIR DAN PEREMPUAN Ketika bulan bulat bermain pada punggung perempuan, penyair berpikir tentang tanah, pasir, debu serta kerikil kemudian dilukis bumi, segera dibentuk angkasa ditulis sajak bahagia bumi dan bunga ia mengintip ke luar: ternyata bumi dan bunga selalu di kaki angkasa. Ketika matahari menjilat leher perempuan, penyair melihat embun, keringat, hujan dan air mata. Sampai tiba penyair membayangkan perempuan, pada saat yang sama perempuan merindukan penyair penyair dan perempuan berdekatan, berdekapan lalu nyanyikan tembang kanak-kanak: cublak-cublak suweng main gobak sodor sepanjang siang sampai malam bersimbiosis sempurna. kelaparan afrika membayang. Membayang Berhentilah menabuh genderangmu perang sudah lama usai; prajurit-prajurit telah ikhlas mati bersihkan makam-makam syuhada sapu kamboja yang berserakan; cabut juga rumput Cabut. Tak usah bimbang kebimbangan hanya akan menenggelamkan angan-angan MATAHARI DAN BINTANG-BINTANG Melukis matahari di waktu malam; di bawah bulan kuas bagai pedang berputar-putar di arena pertempuran hidup tau redup. Atau tidak sama sekali tangan kokoh mencengkeram Bintang jatuh! Tapi, di langit masih banyak bintang bersinar kedipannya menjadi pralambang purba tentang kebenaran keberanian ●Lies Indrayantie dan pertempuran yang tak jelas kalah-menangnya Sampai hari ini, bahkan masih terasa ada "ketegangan" yang menggantung di antara wilayah kesenian yang mengedepankan ideal- isme di satu sisi, dan wilayah pasar yang men- gutamakan komersialisme di sisi yang lain. Berangkat dari kenyataan tersebut, maka lahirnya Warung Budaya di lingkungan Taman gat menarik untuk dicermati. Terlebih, bahwa relasi antara fenomena pasar dan budaya meru- pakan sesuatu yang signifikan untuk Bali sejak dikemasnya pulau ini sebagai pusat pariwisa- ta terbesar di Tanah Air. Komoditi utama yang menjadi andalannya, salah satunya adalah kekayaan seni budaya. Karena itu, apabila kita mau mencermatinya, suka atau tidak, sebagai pusat pariwisata, Bali sesungguhnya adalah sebuah "warung budaya". Dari situ, maka apabila dibandingkan den- gan munculnya warung-warung dan sineplek di lingkungan TIM, apa yang terjadi di Bali se- sungguhnya jauh melampaui sekadar masalah "lunturnya kewibawaan ataupun "kesakralan" sebuah idealisme seni. Akan tetapi ia juga men- yangkut kewibawaan dan kesakralan Bali, se- bagai basis kehidupan budaya. Di sisi lain, tak bisa pula disangkal, fenome- na pariwisata sebagai bagian dari merebaknya kapitalisme yang melanda Bali sesungguhnya adalah sesuatu yang niscaya diambang global- isasi dunia saat ini. Ia bukan saja mustahil un- tuk dihindari, akan tetapi sekaligus merupa kan satu-satunya pilihan. Berkembangnya pari- wisata sebagai sebuah komodii hanyalah se buah kasus" bagaimana pengaruh dan wujud kapitalisme itu menampakkan sosoknya. Dari kenyataan tersebut, kembali pada Warung Budaya, dengan mengambil kata "warung", agaknya ia merupakan wujud ke- sadran" akan kondisi aktual tersebut. Di samp- ing itu, sekaligus merupakan satu jalan keluar yang cerdas yang diambil oleh para pendirinya, di dalam merespons setiap kecenderungan dan perubahan yang terjadi, dengan melakukan per- (35) ng silangan antara fenomena warung" dan budaya, menjadi semacam basis resistensi yang bersi- fat kreatif dan inovatif, yang secara implisit Yang Tersisa Dari Dialog Seni dan Budaya Warbud DIALOG Seni dan Budaya bersama Nyoman Gde Sug- airta, Wayan Juniarta dkk di Warbud Minggu malam itu ternyata cukup menarik. Setidaknya saya bisa menangkap beragama pola pemikiran tentang seni dan budaya dengan segala tetek bengeknya yang dilontarkan membuat dialog lebih hidup, mengalir, bahkan ngelantur dan ngoyoworo, sehingga membuat suasana malam di Warbud jadi benar-benar gayeng. Persoalan yang ditawar- kan sebenarnya hanya bagaimana keberadaan seni dan budaya setelah dimasuk- kan dalam dua Departemen (P & K, dan Pariwisata, seni dan Budaya) Kabinet Pem- bangunan VII kita. Tetapi karena para peserta nampa- knya sudah membawa unek- unek yang berbeda dari rumah masing-amsing, maka dialog terkesan berbrancangan oleh beragam "benang" yang dilem- parkan dan saling diadu- ●Tiga Sajak Katherina (Bandung)●●Tiga Sajak Reina Caesilia (Singaraja) SAJAK PERSEMBAHAN BUNGKUS PERMEN KEPADA LAUT Kupersembahkan bungkus permen kepada laut, kepada kekaraman samudra rahasia-rahasia purba yang tersimpan di dalamnya Aku, laut, langit dan rasa manis yang kukecap, segenap kesangsianku pada ombak gejolak yang tak pernah diam mempermainkan apa pun Kupersembahkan bungkus permen kepada laut, memuja kepada langit kemaharahasiaan yang kekal yang tak perlu dipersoalkan lagi. HUJAN KEDELAPAN Berjalan menembus hujan biarkan basah diri kerna curahnya MONOLOG Berbincang-bincanglah saya denganku duduk bersebelahan menimbang-nimbang perasaan mencari kesalahan guratan suratan kesempatan bukan dalam kesempitan menciptakan kenyataan tersurat di wajah ku ya! kusapa saya dengan ramah seraya menepuk bahuku : kita teruskan? saya menatapku tak berkedip matanya putih biru hitam menembus relung jiwaku paling dalam saya menjawab tanpa isyarat merasa terjerat terperangkap erat mengikat : kita meneruskan perjalanan ungkapnya tanpa ekspresi lurus kurus menggigit seperti jarum menghujan daun batang dan pohon mengoyak siurhujan kapan berhenti menghujan resah basah gelisahujan kapanpun mati kau hujan semua 'kan menguapkan perasaan hujanhujanhujanhujanhujanhujan hujan sampai kapan? sampai diri sampai duri sampai nyeri berkafan sampai hari sampai mimpi sampai mati dalam tiupan taufan biarkan hujan biarkan ia menghujan dada menikam tanpa kata meredam tanpa suara. Betapa hujan menderakan perasaan. PEREMPUAN DI PANTAI SANUR Kita selesaikan saja perbincangan ini. Tak ada artinya lagi Siapa yang akan mengerti? Rasa jengah kita Bumi tak akan mengendurkan putarannya untuk berhenti sesaat Ombak tetap berdebur mencari titik cakrawala pertunjukan di depan panggung terbuka dengan tepuk tangan dan sorak-sorai yang riuh..... Kita tetap penonton setia Sampai selesai Sampai bulan lindap ke tengah gelombang Cahaya lampu sorot Mencoba menuntaskan sebersit kerinduan bercumbu di bawah pohon gebang, sambil tertawa cekikikan mengendurkan urat saraf! Buah kuldi Kau menyelinap di bawah ketiak perempuanku Membaca syair sambil tertawa lepas Oh, bawalah dia kemari. Ke pangkuanku terkasih Di bawah remang-remang pantai ini Kau masih menunggu? Kesepian demi kesepian mengurung waktu di sini Malam tak pernah selesai Minumlah segelas bir Oh, bulan terkasih. Perempuan ombak sauh rinduku Kemarilah! Peluklah dingin ini Kegelisahan terpedih yang pernah kurasakan menjadi pelajaran terakhir mata kuliahku Kau mengerti bukan? Membaca mataku, membaca setitik rahasia mati dalam semilir angin memeluk tubuhmu semakin dingin tapi kau masih juga tak paham saat kupejamkan mataku tak ada lagi yang tersisa untuk kucatat pada bulan OPERA SUNYI Istriku, tengoklah siapa di luar hubungkan sehingga menjadi ruwet. Meski demikian toh tetap banyak muncul pemiki- ran bagus yang patut dire nungkan dan ditindaklanjuti. Tetapi secara pribadi se- benarnya saya tak terlalu ge- lisah atau menakutkan nasib dan keberadaan seni budaya kita di Tanah Air. Kebetulan saya memang agak dungu dan tak suka pusing-pusing den- gan pikiran rumit (memperu- mit) diri. Saya lebih suka ber- sikap dan menjadi orang yang sumeleh, nrimo ing pandum dengan legowo. Menurut saya seni budaya, Indonesia sejak dulu sudah jelas, sehingga ditaruh di mana (Departemen apa) pun ya tetap begini-begini ini. Jadi semua tergantung pada para pelaku dan praktisinya. Wa- lau seandainya seni dan bu- daya tak dimasukkan dalam satu departemen pun sesung- guhnya tak soal, seni dan bu- daya kita tetap jalan dan bisa bertahan hidup, sebab ia ad- alah termasuk bagian pokok bahkan akar dari kehidupan. Jadi tak perlu ditakutkan dan dikhawatirkan keberadaan- Tamu tak diundang itu selalu tiba lebih dulu sebelum kuundang.. Jerang air panas! Buatkan segelas kopi jahe Bau harum akan membawanya pergi ke tanah seberang... Selalu derap kuda yang kudengar saat kubuka jendela rumah kita! Memandang matahari pagi Kuhitung tanda di almanak Kenapa selalu ada warna merah, untuk musim liburan anak-anak? Mungkin aku sudah terlampau letih untuk mengeja huruf demi huruf dalam bacaan Alkitab Tapi aku harus membacanya setiap malam sebelum tidur Di bawah cahaya lampu minyak yang kau letakkan di atas meja di tepi ranjang tidur kita Berapa tahun Dik? Kita bersama bercumbu di tempat ini? Tentu tanpa rasa dingin Kehangatan itu kau ciptakan malam demi malam Anak-anak kita berlarian di halaman rumah sempit di ujung gang ini... berceloteh beragam hal Musim liburan anak-anak Ke manakah kita? Kebun Raya? Pepohonan hijau itu menghasut rinduku untuk menembang bait-bait Kidung Agung Kau juga suka lagu Credo ini Maukah kau nyanyikan sekali lagi? Biarkan derap kuda itu makin dekat Entah kepada siapa ia memanggil Kesunyian akan menjawabnya mengisyaratkan sebuah solusi alternatif di dalam menghadapi fenomena Bali secara kese- luruhan. Dengan kata lain, tersirat adanya tang- gung jawab budaya sebagai kerangka acuan ide- alisme yang melatarbelakanginya. Dan, dari be- berapa kegiatan yang diselenggarakannya, se- bagai "menu" yang disajikan, "tanggung jawab" tersebut tampak mulai memperlihatkan arah dan bentuknya. Sebutlah misalnya acara dis- kusi yang berlangsung pada tanggal 22 Maret 1998 lalu, yang menampilkan dua pemikir muda potensial Bali saat ini, I Nyoman Gede Sugi dan I Wayan Juniartha, sebagai pemakalah dan moderator, yang membahas masalah ke menterian pariwisata, seni dan budaya, yang baru saja terbentuk dalam Kabinet Pemban- gunan VII, yang urgensinya memang lebih ter- tuju pada Bali sebagai pusat pariwisata terbe- sar di negeri ini. Terlepas dari tema yang dibahas dalam dis- kusi tersebut, acara diskusi itu sendiri kian menegaskan keberadaan Warung Budaya tidak saja sebagai tempat berkumpul, bersosialisasi, dan seterusnya, akan tetapi sekaligus merupa- kan bentuk kepedulian dan rasa tanggung jawab terhadap permasalahan kebudayaan dan ke- hidupan kreatif di bidang kesenian, dalam be- ragam konteks yang melingkupinya. Dengan kata lain, ia adalah sebuah wacana budaya, yang mengingatkan kita pada tradisi "Banjar", sebuah institusi komunal yang memang telah menyatu dalam kesadaran dan keseharian masyarakat Bali. Dan bagi masyarakat kesenian modern yang cenderung mengarah pada semangat indi- sekarang ini, keberadaan Warung Budaya vidualistis dan opportunistik ekonomis dengan demikian menjadi semacam ikatan yang menjalin kembali arti kebersamaan tersebut, dengan kesadaran memikul tang- gung jawab bersama akan kehidupan dan perkembangan seni budaya. Kiranya, di si- nilah arti penting keberadaan Warung Bu- daya, apabila ia mau diletakkan sebagai model alternatif guna menghadapi kenis- cayaan akan proses transportasi budaya, dí tengah arus globalisasi yang melanda perad- aban dunia secara keseluruhan saat ini, tan- pa harus bersikap apriori ataupun meneri- ma secara telanjang setiap pengaruh dan kecenderungan yang ditimbulkannya. Terma- suk, tentu saja, pengaruh dan perubahan yang menjalar masuk melalui arus pariwisata. Bertolak dari pemahaman dan kesadaran seperti situ, maka kecuali segelintir para pel- aku kesenian yang menjadi pengunjung tetapn- ya, eksistensi Warung Budaya agaknya juga akan sangat ditentukan oleh kontribusi pemiki- ran, wawasan dan pengalaman dari para pen- gamat kesenian, para penyelenggara maupun pengusaha kesenian, para birokrat kesenian, dan sebagainya, yang secara langsung bersing- gungan dengan kehidupan dan perkembangan seni-budaya, khususnya di Bali. Dalam hal ini, kehadiran Jais Hadiana Dargawidjaya, salah seorang maesenas dan pengelola gallery, dan Ambar B. Arini, kurator Ganesha Gallery, pada acara diskusi beberapa waktu yang lalu, patut dipuji. Siapa tahu melalui Warung Budaya, Bali sebagai "warung budaya" yang sesungguhnya, akan kian memperkaya wawasan di dalam menyusun daftar menu yang ditawarkan, tidak melulu sekadar kesenian suvenir yang eksotik, kemasan upacara keagamaan yang diprofan- kan, atau yang sejenisnya. Mudah-mudahan! Aant S. Kawisar, sastrawan, pelukis nya. Lebih-lebih di Bali (dan budaya dimasukkan ke Ke- Jawa) yang sudah jelas jun- menterian Kehutanan pun trungnya, punya dasar kuat saya juga tetap tak menolak dan konsep laku seni budaya dan bisa menerima dengan yang tinggi dan adiluhung. ikhlas dan legowo. Sungguh Bahkan di Bali seni dan bu- tak soal bagi saya. Saya han- daya merupakan akar, jalan ya mencari manfaat dan segi dan dasar falsafah hidup positifnya saja. Hitung-hitung menuju Sangkan Paraning saya bisa menjadi "monyet", Dumadi, rasanya tak akan bisa belajar kepada ular mati terlindas pusaran roda bagaimana cara mematuk modernitas, termasuk yang mematikan, bisa bela- perkembangan pariwisata jar pada singa bagaimana yang selalu ditakutkan dan menerkam mangsa, bisa be- diresahkan itu. Selama para lajar pada gajah bagaimana pelaku dan praktisi seni bu- cara memanjangkan dan daya dan masyarakat Bali memperkokoh belalai kekua- masih tetap berpegang teguh saan, bisa belajar pada kan- pada prinsip dan falsafah cil bagaimana cara mengela- hidup yang telah disepakati buhi lawan yang hendak sejak dulu. Sependapat dengan Pak Nikayana saya menganggap positif dimasukkannya seni dan budaya dalam dua depar- temen, artinya lebih memu- ngkinkan dan leluasa untuk mengembangkan gerak kare- na diberi ajang lebih dari satu. Bahkan seandainya dalam waktu dekat ini seni dan budaya diberi satu "ru- mah" lagi, misalnya dimasuk- kan dalam Depsos pun saya okey-okey saja. Saya malah bersyukur, sebab semua kan tergantung kita bagaimana memanfaatkannya. Ditaruh dimana pun seni budaya kita tetap bisa hidup dan kita pun tetap bisa jadi orang yang ber- budaya. Seni Budaya me- mang bisa dihubungkan den- gan apa saja. Bahkan misal- nya tiba-tiba ada perubahan pikiran pemerintah dan seni ngakalin saya. Semua kan ada manfaatnya, semua ter- gantung dan kembali pada kita. Apalagi Bali yang sudah jelas alang-ujurnya. Bahkan hanya dengan konsep Desa Kalap Patra saja sudah bisa menjawab segalanya. Nuryana Asmaudi SA KENANGAN Untuk Alm Adhy Ryadi Aku kehilangan istri dan anakku, suaramu begitu parau hadir dalam mimpiku. Sejenak aku termangu memandang langit gelap di luar jendela Kubiarkan ia bersemayam di antara rimbunan daun-daun dengan tangkainya begitu kukuh merayap di setiap jengkal dinding berlumut Bila pagi menjelang menghirup embun-embun yang turun berkejaran dari langit, dingin dan sejuk Aku tak ingin menjawab suara angin sepoi yang mengajuk melantunkan pantun asmaradana tentang Arjuna yang merayu Dewi Supraba Di luar jalan begitu padat Suara juru parkir berteriak di tengah gemuruh deru jalanan Hiruk pikuk pasar sepanjang hari melintasi tanah becek penuh sampah berbau Waktu telah berlari menyalinap di balik bangunan gedung pertokoan, membawamu pergi dengan kenangan Setiap waktu aku menghitung ranting yang patah tertiup angin, membawanya dalam sesak nafasku membiarkan almanak menutup dirinya Tentu aku gelisah dengan setumpuk pesan tak tersampaikan bersama angin mencoba membagi cerita di masa silam di antara tangga-tangga tempat aku memijakkan kaki mencari jawaban dari seribu pertanyaan Kenapa juga kau tinggalkan kesedihan? Color Rendition Chart
