Arsip
Halaman Artikel
Creative Commons License

Jika anda mendapati gambar tidak sesuai dengan spesifikasi data (salah tanggal dan atau salah penomoran halaman), posisi gambar landscape, satu gambar terdapat dua halaman, kualitas gambar kabur, anda bisa melaporkan data tersebut agar segera diperbaiki dengan menekan tombol laporkan.

Kata Kunci Pencarian:

Nama: Bali Post
Tipe: Koran
Tanggal: 1998-04-05
Halaman: 07

Konten


4cm won, 5 April 1998 Minggu Kliwon, 5 April 1998 Bali Post REMAJA FIKSI - IPTEK - os Anak Remaja Denpasar, Kaya Ide tetapi Pasif? ma :Ida Ayu Indah Suryawati gl.lahir Sanur ndidikan: Kelas IV SD 6 Sanur, Denpasar mat Jln. Danau Buyan Gg. VIIV/10 Sanur Kaja :menari bi ma :Ida Ayu Eka Adnyani gllahir :Sanur ndidikan: Kelas IV SD 6 Sanur amat Jin. Danau Beratan Gg.XII/5 Sanur Kaja, Denpasar bi : berenang dan menari media untuk antar anak KUPON Sanggar Pas Anak g? Silakan amat, dan mupalem- Hoti Bagus Govinda hir: 8 April 1996 utra dari: Ida Bagus Gopala dengan oman Suteni amat: Jln. Gunung Merapi Gg. De- ata 1 Denpasar mehn het eluase ab usstsein Gede Yoga Danu Tirta ahir: 24 Agustus 1996 tra dari: I Ketut Parwata dengan adek Ariantini amat: Jln. Tukad Balian 72 Renon, enpasar KUPON Boch Hoti! Jangan lupa cantumkan "Kupon HEMAKANNYA...? DALAM DAN ADA U SAJA YANG SI KURA-KURA, AN MAKANANNYA. Remaja Denpasar, kaya ide tetapi pasif. Ciri lainnya, mereka tidak ada keinginan untuk mandiri. Munculnya sikap ini karena mereka menilai: berusaha keras dengan belajar, tidak menjamin kecerahan di universitas. Benarkah pendapat Prof. Dr. dr. LK Suryani, Sp.J. ini? suatu karena keadaan sistem, tegas Suryani. Hal itu, menu- rutnya, disebabkan kejenuhan berlarut-larut akibat sistem pendidikan yang banyak meny- ita waktu keseharian siswa di sekolah. "Jadi yang muncul pro- fil remaja yang kaya ide, tetapi pada kenyataannya pasif," te- gas Suryani. TAHAPAN perkembangan jiwa pada fase peralihan terdi- ri atas fase remaja (usia 12-20 tahun), dewasa muda (21-30 tahun), dan dewasa (di atas 30 tahun). Selama ini para pakar dan masyarakat berpendapat bahwa pada usia itu, remaja ada dalam masa krisis yang penuh "badai" ketegangan dalam mencari jati diri. "Pendapat tersebut diban- tah Offer berdasarkan peneli- tiannya. Disebutkan, ternyata hanya 20% dari kalangan re- maja yang diteliti mengalami krisis. Sisanya biasa-biasa saja," papar Suryani pada dis- kusi pertemuan remaja yang digelar Yayasan Putra Sesana bekerja sama dengan Sanggar Pos Remaja, Jumat (3/4) di Wantilan DPRD Tk. I Bali. Pendapat Offer ini tidak jauh berbeda dengan hasil pene- litian Suryani pada remaja sekolahan di Denpasar, tahun 1992. "Remaja di Denpasar ternyata biasa-biasa saja. Hanya 6% yang mengalami gangguan emosional," lanjut Suryani. Gangguan emosional itu berupa benturan dengan or- angtua, keluarga, dan lingkun- gan sekitarnya. Namun, menurut Suryani, bukan berarti remaja di Den- pasar loyo seperti anggapan masyarakat selama ini. Yang ada, mereka memiliki cita-cita tinggi. Sayangnya, disertai ketidakinginan mencoba se- Tidak Mandiri Selain kaya ide tetapi pasif, ciri lain remaja Denpasar ad- alah tidak punya keinginan untuk mandiri. Munculnya sikap itų karena mereka me- nilai berusaha keras dengan belajar tidak akan memberi- kan jaminan kecerahan di uni- versitas. Hal ini yang meredam keinginan remaja untuk bang- kit," ucap Suryani. Dalam soal seksualitas, re- maja di Denpasar yang pernah melakukan hubungan seks tidak separah seperti pember- itaan di media massa atau opi- ni masyarakat. "Jumlah mere- ka kecil. Dari 100 siswa yang diteliti, cuma ditemukan satu yang pernah melakukan hubun- gan seks," ujarnya. Lantas, bagaimana profil remaja menurut kalangan re- maja sendiri? "Masa remaja adalah masa ingin bebas," te- gas Alvin, siswa SMUN 1 Den- pasar mewakili kelompoknya. Bebas dalam artian, bebas dari segala peraturan orangtua dan bebas melakukan apa yang mereka anggap benar. Penda- REMAJA - Sekelompok remaja Denpasar sedang bermain video game di sebuah pusat perbelanjaan. Benarkah remaja Denpasar kaya ide, tetapi pasif? pat Alvin ini dilengkapi Indra, siswi SMU 3 Denpasar. Menu- rut Indra, masa remaja adalah masa ingin melakukan atau mencoba sesuatu yang baru. Tak terkecuali keinginan untuk mencoba berpacaran. Namun dalam mencoba itu remaja umumnya melakukan secara berkelompok, karena loyalitas pada kelompok sangat besar. "Muncul kondisi, di satu sisi merasa masih bergantung, di sisi lain merasa sudah menja- SANGGAR POS REMAJA Halaman 7 Sanggar Pos Remaja merupakan wadah dan media komunikasi antar-remaja (siswa SLTP, SMU, mahasiswa, umum) pembaca Bali Post. Dalam wadah ini, remaja bisa menjalin komunikasi terkait dalam bidang kesenian, olah raga, keorga- nisasian, dan hobiis. Ingin bergabung? Silakan kirim data nama, tanggal lahir, pendidikan, hobi, alamat, dan pasfoto ukuran bebas, ke Redaksi Ball Post. Jangan lupa tempelkan "Kupon Pos Remaja". No.Induk Nama Tgl.lahir 0676 :IGN Gde Setya Wijaya 0682 :IGA Ayu Swandewi : 28 Mei 1983 Pendidikan: Siswi SLTPN 2 Abiansemal No.Induk Nama :17 Juli 1982 Tgl.lahir Pendidikan Hobi Siswa SLTPN 3 Tabanan Hobi Alamat : Jln. Gunung Agung No.17 Tabanan Alamat Telp. : Dengar musik, menonton, mancing. No.Induk : 0677 Nama Tgl.lahir : 28 Mei 1980 Hobi Alamat Jln. Ahmad Yani No.15 : Koresponden, renang, jalan-jalan. : Br. Aseman, Ds. Sedang Kec. Abiansemal - Badung 410668 : Maximus Effendi Nabut Pendidikan: Siswa SMUN 1 Dompu NTB : Koresponden, tukar foto, olahraga taekwondo. RT 01 RW 01 Dorotai I Kel. Dorotangga Dompu NTB 84212 No.Induk : 0683 Nama Tgl.lahir : IGA Komang Dewi Yuliati : 29 November 1983 Pendidikan: Siswi SLTPN 3 Tabanan : Menyanyi : Jln. Pulau Menjangan No.38 Tabanan No.Induk Nama Pendidikan: Siswa SMU Kuta Pura, Kuta Hobi Alamat : 0684 : Ni Luh Komang Sutresna Dewi : 16 Februari 1982 Pendidikan: Siswi SLTP Wiyata Yadnya : Kenalan lewat telepon : Jln. Gunung Muliawan No.52 Br. Sengguan Kawan Gianyar No.Induk Nama : 0678 Tgl.lahir : I Nyoman Wijana Tgl.lahir : 19 September 1979 Hobi BPM/dok Alamat Hobi : Road race, musik Alamat : Jln. Juwet Sari Gg. Taman Sari No.17 Telp. :93663 Br. Kajeng Pemogan :722458 No.Induk : 0685 Nama :0679 Tgl.lahir : Gd. Gerat Murdiana R. : 7 Oktober 1981 Hobi Alamat maja muncul sikap cepat ani juga menginformasikan berubah tujuan bila menghada- pi benturan dari segi fasilitas. "Namun kalau mendapat larangan dari orangtua, justru muncul sikap melawan laran- gan itu," tandas Indra. Menyikapi sikap-sikap re- maja yang demikian, Suryani menyarankan agar orangtua bersikap Tut Wuri Handayani. "Orangtua harus berada di be- lakang layar. Kalau sikap anak remajanya agak melenceng, di orang dewasa," papar Indra.dekati dan beri pengertian. lebih lanjut. Pendapat Indra didukung mahasiswi semester awal PSTP Unud, Indri (19 tahun). Menurut Indri, dalam diri re- Bukan larangan," saran Sury- ani pada akhir pertemuan sekaligus sebagai pertemuan terakhir program pertama. Pada kesempatan itu, Sury- bahwa program kedua perte- muan remaja ini dimulai lagi pada 1 Mei mendatang. Sifat- nya terbuka untuk pelajar SLTP, SMU, mahasiswa atau- pun remaja luar sekolah yang belum menikah. Peserta bisa mendaftar di Sekretariat Ya- yasan Putra Sesana, Jl. Gan- dapura No. 12 Denpasar. Peser- ta dikenakan biaya pendidikan selama tiga bulan Rp 75.000 dan dapat dicicil tiga kali. "Na- mun bagi mereka yang tidak punya uang, kami beri kesem- patan mengikuti secara gratis, asal memiliki keinginan ber- sungguh-sungguh mengikuti program ini," ujar Suryani. (nan) Menulis, Keterampilan yang kian Diperlukan Paculah diri Anda untuk mempunyai keterampilan menulis yang baik. Dewasa ini dan seterusnya, terampil menulis menjadi salah satu kunci keberhasilan usaha dan bisnis. MENYEWA wartawan le- pas dan pakar jurnalistik un- tuk mengajar karyawan atau mahasiswa menjadi kecenderungan baru pada pe- rusahaan dan sekolah bisnis di Amerika Serikat. Kemam- puan menulis dengan baik, yang sempat dianggap kuno, kembali mencuat. Jangan salah persepsi sebab komu- nikasi pada era global ini makin membutuhkan keter- ampilan tersebut. Bila melihat fenomena di sekililing kita, jelas terlihat makin banyak jumlah ek- sekutif yang harus menulis surat bisnis, makalah, pre- sentasi, pidato, brosur, surat elektronik (e-mail) serta ben- tuk komunikasi tertulis lain- nya. Untuk dapat mengkomu- nikasikan bisnisnya secara efektif kepada atasan, mitra bisnis atau juga menarik per- hatian konsumen, eksekutif pada abad ke-21 harus mam- pu menyusun pesan tersebut secara jelas, cepat, tepat dan tidak membosankan. Direktur Humas Majalah Time, Diana Person meng- inginkan para stafnya mam- pu menulis seperti wartawan, terutama dalam menyiapkan siaran pers. Untuk itu Diana tidak segan menyewa war- tawan senior untuk melatih stafnya. Pada prinsipnya war- tawan senior itu mengajar bagaimana cara menyederha- nakan permasalahan dalam bahasa tulisan. "Intinya, bagaimana mematangkan ide yang ingin Anda komuni- kasikan dengan satu atau dua pokok bahasan yang sederha- na," ujar Diana. sekalipun Tuhan membekali bakat menulis yang hebat. Bagi kebanyakan orang, menulis merupakan hal yang sulit, tetapi sebagian lain mengalami momen yang mengasyikkan manakala menuturkan pikiran dalam bentuk tulisan. Tidak ada for- mula khusus. Para penulis andal sekalipun memulainya dengan cara yang biasa dial- ami semua individu. Harry H Crosby dalam bukunya "The Committed Writer" menasihatkan, jan- gan kaget bila Anda sempat "terdiam" lama ketika hendak mulai menulis. "Se- bagian besar penulis memu- lai dengan cara-cara umum, seperti berpikir berjam-jam untuk memulai sebuah tu- lisan, bingung menentukan tema dan menghabiskan ban- yak kertas karena tidak puas dengan tulisannya," kata Crosby. Bukan Sulap Kemampuan menuturkan pikiran, pendapat maupun pengamatan dalam bentuk tulisan membutuhkan keahl- ían tersendiri. Kemampuan menulis bukan sulap. Ia tidak terbentuk dalam sekejap apalagi tanpa usaha, ni tidak menunggu ide atau bergoyang. kulihat seutas rambut putih- KOPAJA Selembar rambut putih nya. Namun ketika bus melaju berkilau di kehitaman rambut- di jalan lurus Cileduk Raya, nya ikut bergoyang. aku kehilangan kesempatan. Kumiringkan kepala. Sedikit melongok ke kiri atau kanan mencari kesempatan. Sia-sia. Aku berdebar. Mataku tak lepas-lepasnya memandang selembar uban milik seorang wanita yang duduk tepat di depanku. "Kompleks!" teriak kernet mengejutkan aku. Mini- bis menepi. Wanita itu bang kit berdiri, rambutnya meny- entuh langit-langit minibus meskipun dia sudah mem- bungkuk. Dia pun turun. Kurasakan ada sesuatu yang hilang dari hatiku. Kendaraan umum itu mela- ju lagi. Bergoyang lagi. Tapi tak ada seutas rambut putih ber- goyang di depanku. Sekolah!" teriak kernet lagi. Aku pun turun di depan sekolah lalu masuk gang yang menuju rumah kontrakanku. "Mungkin aku sudah gila," gumamku seraya menuang kopi. Si.... siapa yang gila Ari?" Tante kost dari belakang men- yahut. Aku kaget setengah mati. "Ng.... nggak. Maksud saya bu- kan siapa-siapa yang gila, Tante," kataku gelagapan den- gan muka memerah. Kusulut sebatang kretek lalu membaca koran sore yang kubeli dari terminal Blok M. Gadis itu naik lagi. Kulihat dia mengepit tas kulit warna mer- ah. Rok dan blusnya berenda- renda warna merah jambu. Dia lalu mengambil tempat duduk yang kosong. Sial, tepat di depanku bangku sudah ada penumpang, dia duduk di baris depannya lagi. Aku agak kecewa karena tak bisa lagi dengan santai melihat seutas ubannya. "Sialan, gerutuku dalam hati seraya berusaha melihat ubannya yang selalu menggo- da hatiku. Beberapa kali aku harus memiringkan kepala untuk memandang uban kehitaman rambutnya karena terhalang kepala penumpang yang tepat duduk di depanku. Ketika minibus berbelok di tikungan, semua penumpang bergoyang, sekelebat sempat "Mas pusing ya?" kata pen- umpang yang duduk di sebelah- ku karena melihat gerakan ke- palaku. Aku menggeleng agak malu karena tingkahku ket- ahuan. "Jendelanya ditutup saja Mas kalau pusing," ucap pen- umpang lain. "Saya bawa minyak angin Oom," seorang gadis murid SMU menyambung. Aku menggerutu terus dalam hati. Seharusnyá semua penumpang diam saja, tak usah ikut campur urusanku. Tiba-tiba saja aku dapat akal. Kucolek penumpang yang duduk tepat di depanku. "Bung, tolong tukar tempat, saya tak tahan angin dari pin- tubelakang," pintaku. Lelaki di depanku mengangguk setuju. Kami bertukar tempat. Lega sekali aku. Yang ku- inginkan tercapai. Sepanjang perjalanan Celeduk - Blok M aku dapat menikmati ubannya karena duduk tepat di bela- kangnya. Putih berkilang di kehitaman rambutnya. Beber- apa kali aku harus menahan diri dengan meremas-remas tanganku sendiri agar tak berg- Pakar jurnalistik Elaine Maimon berpendapat bahwa proses kreatif penulis saling berbeda, tetapi mereka pun- ya kekuatan yang sama, yak- katanya seraya tersenyum lagi. "Saya di Bank itu," kataku, lalu kami bersimpang arah. Di depan kantorku Bram menepuk pundakku. "Nyisir dulu," sindirnya seraya mem- permainkan kunci mobil kred- itannya yang baru. Sejak peristiwa itu aku menjadi penggemar buku yang baik. Ada saja buku yang kubeli di toko F, mulai dari manaje- men sampai filsafat politik. Sepatah dua patah aku sem- pat bicara dengannya bila se- dang membayar harga buku di kasir. "Kamu istirahat jam bera- pa?" tanyaku seraya menyodor- kan uang pembayaran. "Jam dua belas aku bisa is- tirahat, kasir diganti kawan yang piket," jawabnya. "Kalau aku jam satu baru bisa istirahat," ucapku. Dalam hati ingin sekali aku berbicara lebih banyak sampai berhasil mengajaknya makan siang di luar tetapi dia sibuk sekali me- layani pembeli. Ketika pulang kami sama naik minibus lagi. Kami duduk bersebelahan. Terus terang aku agak kecewa karena dalam po- sisi seperti ini sulit menonton selembar ubannya. Kami tak banyak bicara dalam perjalan- an. Ada sedikit kemajuan, ku- tahu namanya Santi. "Kamu mau besok makan erak ke depan untuk mencabut siang denganku?" aku menga- rambut yang putih berkilat itu. jak. Dia mengangguk. "Kalau kau tak keberatan, kau bisa menunda istirahat sampai jam satu," kataku. "Itu gampang, aku bisa men- gatur dengan kasir piket," jawabnya bersungguh-sung- guh. Di Blok M ketika dia turun, Tersenyum. Giginya tak terla- aku mengiringi tepat di bela- lu putih, tetapi aku menyu- kangnya. Beberapa langkah kainya. aku mengikutinya. Kucopot ar lojiku lalu cepat-cepat kuma- sukkan ke saku celana. Kupercepat langkahku sam- pai aku berjalan di sisinya. "Zus, jam berapa sekarang?" aku membuka serangan. Dia berhenti melangkah, menoleh kepadaku. Jam 7.30", jawabnya singkat. "Ah, masih pagi," sahutku. "Perasaan kok sudah siang," gumamku lagi. Dia tersenyum lalu melang- kah lagi, kami berjalan seiring. "Zus kerja di mana?" sapaku lagi. 'Di Melawai, di toko buku F," "Sampai di sini," katanya lalu berdiri siap hendak turun ketika kernet meneriakkan "ko- mpleks." Esoknya kuajak dia makan siang di sebuah kafetaria. Ke- tika hendak memilih tempat duduk, aku mulai serba salah. Kalau aku duduk berhadapan dengannya aku akan senang sekali menikmati wajahnya inspirasi untuk menulis. Para penulis andal berkeyakinan bahwa ide dan sejenisnya ber- jalan bersamaan dengan pros- es penulisan, tulis Maimon dalam buku "A Collaborative Rethoric for Writer". Crosby menambahkan, para penulis profesional itu sering mendapatkan hasil akhir yang sedikit melenceng dari rencana semula. Namun hal tersebut tidak menggang gu karena mereka sadar menu- lis adalah proses merekam ide dengan cara yang berbeda. Menulis bukan proses mene- mukan ide," ujar Crosby. Empat Tahap Secara sederhana para pa- kar menyimpulkan setidaknya ada empat proses menulis. Pertama, tahap peren- canaan di mana individu mu- lai menegaskan tujuan penulisan, mengamati calon pembacanya, mengumpulkan informasi serta mengem- bangkan tema utama. Kedua, tahap penyusunan kerangka penulisan. Buatlah alur cerita tetapi jangan kha- watir bila tidak berurutan, karena bisa diperbaiki pada tahap selanjutnya. Ketiga, proses revisi di mana penulis melakukan pe- motongan, penambahan, mengatur kembali paragraf untuk mendapatkan draft sedekat rencana awal atau mungkin meletakkan ide baru yang muncul dalam pros- es penulisan. Keempat, tahap penyunt- ingan. Membuang bagian yang menggantung, memerik- sa tata bahasa, ejaan, tanda baca, memberi finishing touch dan membaca hasil akhir se- cara keseluruhan. Tidak semua penulis mengikuti empat tahap di atas secara berurutan. Ada yang tidak memerlukan tahap ked- ua, sementara yang lain perlu mengulangi tahap tertentu. Yang penting tiap individu memperhatikan kemajuan yang dicapainya dan tidak al- ergi dengan kegagalan. Agaknya menulis menjadi begitu menyusahkan bila didefinisikan sebagai aktivi- tas langsung jadi. Bila me- mang keterampilan menulis perlu proses, mengapa tidak dimulai dari sekarang? (ant) Telp. No.Induk Nama Tgl.lahir Pendidikan: Siswa SMK Pembangunan Dps. Hobi Alamat : Biliar, dengar musik : Jln. Trenggana No.61 Penatih - Denpasar No.Induk Nama Tgl.lahir Pendidikan Hobi Alamat 0680 : Desak Made Sri Wahyuningsih : 28 Juni 1982 Pendidikan: Siswi SMU Widya Brata Mengwi : Modelling, nyanyi, menari : Br. Sunia, Ds. Werdi Bhuana Mengwi - Badung No.Induk Nama Tgl.lahir 0686 : Ni Komang Suryastini : 13 Juli 1978 Pendidikan: Alumnus SMUN 3 Klungkung Hobi Alamat : Mertayasa KD : 21 Juli 1981 Siswa SMUN 2 Singaraja : Musik : Jln. Sudirman Gg.4 No.25 Singaraja Telp. No.Induk Nama Tgl.lahir : 0681 : I Wayan Wija :9 Februari 1980 Pendidikan: Siswa SMK Kertha Wisata Dps. Hobi Alamat : Main voli, menembak : Br. Paneca - Payangan Gianyar : Koresponden, dengar musik, kenalan, olah raga. : Jln. A. Yani Gg. Arjuna No.3 Semarapura Kaja Klungkung 80712 : (0366) 21717 No.Induk : 0687 Nama Tgl.lahir : Ni Ketut Susandewi : 17 Mei 1978 Pendidikan: Mhs. FT Sipil ITN Malang Hobi Alamat : Renang, membaca, filateli, dengar musik. : Jln. I Gst. Kt. Jelantik No.24 Br. Lebah Pangkung Mengwi - Badung Rancang Bangun WS Internet bagi Pemula MEMPUNYAI Web Sites (WS) pribadi di internet adalah suatu kebanggaan tersendiri, selain memperlihatkan seber- apa "mahir" seseorang men- guasai bahasa HTML (Hyper Text Markup Language) atau JavaScript (bahasa Pemogra- man Java) juga menunjukkan seberapa kreatif pembuatnya. Tak heran jika beberapa Web Server seperti Geocities, Tripod atau Angelfire, mengadakan lomba kreativitas Web Sites dengan hadiah yang cukup be- sar. Membuat WS di internet se- benarnya tidak terlalu sukar, apalagi saat ini tersedia fasili- tas pembuat WS gratis yang pengoperasiannya tidak terla- lu sulit, karena bersifat inter- Uban QJA Cerpen Adi Samekto yang siang itu sangat cerah. kan," katanya. "Kok?" Namun ini berarti kerugian besar bagiku karena aku tak bisa menonton selembar uban- eras. nya yang tumbuh di bagian be- lakang kepalanya. Yang paling menyenangkan adalah duduk di belakangnya seperti dalam bus kota. Namun tak ada aturan macam begini di dunia mana pun dalam ac- ara makan siang. "Aku mau begitu," dia berk- "Tapi aku yang mengajak- mu," bantahku. "Hhm... gantian. Kalau sekarang aku yang bayar, kamu akan merasa berutang budi. Itu akan mendorongmu untuk mengajakku lagi," katanya ter tawa. Akhirnya kupilih jalan ten- "Ide bagus, aku setuju. gah, kami duduk berdampin- "Kamu suka apa?" gan. Dengan begitu, sesekali "Aku suka yang kamu suka," aku bisa mencuri pandang un- balasku menyerah. Dia men- tuk menengok ubannya. cabut selembar kertas yang di- "Kita bikin perjanjian," kat- tawarkan pelayan lalu anya tiba-tiba. menuliskan makanan yang kami pesan. Sejak itu aku menjadi akrab Ya?" "Kali ini aku yang bayar ma- aktif. Mereka yang ingin mem- buat Web Sites ini dapat sekali- gus belajar bahasa pemrogra- man untuk membuat WS sep- erti HTML. Geocities (Http:// www.geocities.com) misalnya, selain memberikan WS, juga memberikan arahan bagi mere ka yang sudah mahir meng- gunakan HTML dengan mem- berikan fasilitas advance editor atau basic editor bagi pemula. yang ingin mencoba memban- gun WS. Dalam Basic HTML, juga disediakan pilihan warna serta gambar-gambar yang bisa ditayangkan di home page. Kapasitas memori yang diberikan Geocities bagi mere- ka yang ingin memiliki WS sendiri memang tidak terlalu mencabutnya. Namun kurasa belum saatnya kukatakan ini padanya. Sudah beberapa hari ini bila kami pulang bersama tak lagi kulihat selembar ubannya yang membuatku setengah sinting. Aku selalu berusaha menahan diri untuk tidak menanyakan ini padanya. besar yaitu sekitar 4 mega byte. akan selalu diminta jika ingin Namun kapasitas tersebut memasuki atau mengedit cukup untuk membuat berb- home page. agai macam kreasi yang cukup atraktif seperti gambar anima- si atau tiga dimensi. Tripod seperti halnya Geoc- ities memberikan dua pilihan editor yaitu basic editor danad- Selain Geocities, WS lain vance editor bagi mereka yang yang menyediakan fasilitas telah menguasai HTML. Ada gratis membuat home page ant- beberapa kelebihan yang dimi- ara lain Tripod (Http:// liki Tripod dibandingkan den- www.Tripod.com), dan Angel- gan basic editor dari Geocities, fire (Http://www.angelfire.com) di antaranya tersedianya dua Tripod.Com pilihan tata letak home page Berbeda dengan Geocities, yaitu dengan menggunakan Tripod misalnya, mengharus- frame atau tidak. Basic editor dari Tripod juga kan mereka yang tertarik mem- buat home page untuk menja- lebih interaktif karena setelah di anggota, dengan cara mengi- kita memillih satu option baik si daftar isian yang memang itu judul atau gambar home sudah tersedia. Setelah meng- page, secara langsung akan isi daftar isian tersebut maka ditampilkan hasil pilihannya. segera diperolehpassword yang ingku. Dalam banyak hal, mereka lebih pintar. Generasi seumur kita sering ketinggalan mengikuti cara berpikir dan bergaul mereka," katanya ber- sungguh-sungguh. "Santi," aku mulai bersung- guh-sungguh. "Kok kita jadi serius?" dia mencoba mencairkan Aku selalu bertanya-tanya dalam hatiku. "Mungkinkah kekakuan. karena dandanan rambutnya berubah, sehingga ubannya tersembunyi?" Sudah beberapa kali ini bila kami duduk dalam bus kota dan angin dari jendela me- mainkan rambutnya aku sela- lu menyelidiki. Sial. Aku tak pernah berhasil menemukan sehelai rambut putih itu lagi. Sengaja beberapa kali kusenggol bahunya agar dia bergoyang seraya aku menye- lidiki kepalanya, namun tak pernah berhasil. Aku makin penasaran ingin rasanya tan- ganku mengobrak-abrik ram- butnya mencari sehelai rambut putih itu. Suatu kali pernah dia kua- jak ke rumah kawanku di luar kota Bogor. Kami berlarian di pematang sawah dan tiap kali rambutnya bergoyang aku menyelidiki mencari sehelai rambut putihnya. Selalu saja aku kecewa karena tak mene- mukannya. Lebih dari dua minggu aku tersiksa tanda tanya, ini tak mungkin kubiarkan. Aku harus menanyakannya. Aku tak boleh ragu-ragu. dengannya. Aku mulai belajar menjadi lelaki romantis seperti Minggu pagi aku ke rumah yang diajarkan almarhum ayah- ku dulu. Aku jadi mengenal war- nya. Santi sedang memimpin na kesukaannya, parfumnya adik-adiknya membuat kue. Aku ikut membantu mengocok dan kurasa sepatunya. Aku makin menyukai semua telur sambil bercanda dengan yang ada padanya. Aku menyu- keluarganya yang sangat ra- kai cara dia mencabut tissue mah dan terbuka. Santi agaknya tahu aku in- atau menyedok sup. Aku senang gin mengatakan sesuatu. Den- melihat dia menuang teh. Kalau tertawa aku suka me- gan bijaksana dia mengajakku lihat giginya yang tak terlalu ke ruang depan setelah mem- putih. Juga aku suka tangannya beri petunjuk memanggang kue yang tak bisa kukatakan mungil pada adiknya. "Ari," katanya sedikit malu- dan lembut. Semua yang ada malu. Sikap yang tak seperti padanya aku suka. Tapi yang paling kusuka ad- biasanya. "Adik-adikku ternya alah selembar ubannya yang ta lebih pintar dari kita," kat- putih. Bila aku membayangkan anya lagi. "Dalam soal apa?" panc- ini, menghangat hasratku untuk "Oh, tidak, aku hanya..." Aku tiba-tiba saja hilang akal untuk mengucapkan kalimat yang baik. Kami terdiam lagi. Kuden- gar adik-adiknya berdebat ten- tang cara memanggang kue. "Santi, kita sudah lebih dari sahabat kan?" kataku. "Ya, singkat dia menjawab. "Aku suka rambutmu. Jan- gan tersinggung kalau aku bert- erus terang padamu." "Katakanlah, Ari," ucapnya tenang. "Aku tertarik padamu sejak semula karena selembar uban- mu "Kau berolok-olok, Ari?" "Aku bersungguh-sungguh." "Aku bisa memaafkan kalau kau berolok-olok," katanya se- raya memandang tajam aku. "Sungguh, sejujurnya kuka- takan padamu, bagiku kau san- gat memikat dengan selembar ubanmu itu." "Sayang sekali aku sudah mencabutnya, Ari," katanya seraya bangkit dari duduk. Kutangkap tangannya. Duduklah, kita belum selesai bicara," ajakku. (ant) Kalaupun kau ingin mencabut- nya, seharusnya kau memberi kesempatan padaku..." "Ari!?" dia memotong kataku dengan tangkas, Wajahnya ber- paling ke samping, tepat me- nentang mukaku. Matanya memandang tajam. "Ari, aku menyesal, aku te- lah salah sangka. Kupikir kau tertarik padaku karena bany- ak hal yang ada padaku. Baiklah kalau begitu aku bert- erus terang padamu, aku kecewa. Kau tertarik hanya pada hal yang sekecil itu..." "Kau salah mengerti Santi..." "Cukup," katanya lantas bangkit. Aku memegang bahunya untuk mengajaknya duduk lagi. "Apa lagi?" sengitnya. "Aku ingin kau mendengar- kan dengan tenang. Dengan cara-caramu selama ini, sabar- lah...aku membujuknya. "Baiklah, aku tegaskan ram- butku kini sudah hitam se- muanya," dia makin sengit. "Kau dengarlah kataku yang sejujurnya..." aku meminta. "Ari, kita bersahabat saja. Jangan lebih dari ini. Mulai saat ini kita akan saling beru- saha untuk membatasi diri. Untuk tidak saling menuntut. Kau tahu kini rambutku sudah hitam seluruhnya. Kau tak per lu merisaukan, apakah ram- butku putih, cokelat atau biru," ketusnya. Sejak itu Santi selalu me- nolak bila kuajak makan siang. Ada saja alasannya untuk Dia menurut, duduk lagi di menolak. Aku tak tahu lagi cara men- sampingku. "Sudah kubilang, aku sudah mencabutnya. Aku gajaknya mengerti jalan piki- belum cukup tua untuk uban- ran dan perasaanku. an kan?" Aku masih sering ke toko "Aku ingin menjelaskan buku F. Masing-masing saling yang sebenarnya, Santi, jangan bertatap muka bila aku mem- salah paham." bayar di kassa. Selalu saja dia "Ya, selama ini kuakui kau kulihat agak bergetar kalau menyadarkan aku dalam ban- menerima bon dan pembaya- yak hal, Ari. Sebelum aku ber- ran dariku. "Terima kasih," itu yang se- temu dengan kau, aku terlalu sibuk mengurus adik-adikku. lalu diucapkan dalam perte- Baru beberapa hari lalu aku muan sangat singkat. Hanya menyadari aku telah mulai itu. Tak lebih. beruban. Sebelumnya mungkin adik-adikku telah sering men- gatakan, tetapi aku acuh dan tak pernah kudengar..." "Santi, aku menyukai itu. KUPON "SANGGAR POS REMAJA" 2cm Color Rendition Chart