Tipe: Koran
Tanggal: 1998-05-01
Halaman: 05
Konten
4cm 2cm Umanis, 1 Mei 1998 n Mutu Labuanbajo ebih ana dengan dana Rp 900 juta yang dilaksanakan sela na tiga tahun anggaran sejak 997/1998. Kakandepdikbud Mangga ai Drs. Antony Bagul Dagur etika dihubungi Bali Post Kamis (30/4) kemarin di Euteng sehubungan dengan masalah itu, mengaku tidak ahu menahu soal pengerjaan royek pembangunan SMK egeri Labuanbajo tersebut Proyek itu ditangani langsung Canwil Depdikbud NTT. Baik impro maupun pengawasnya la di Kanwil. Kami di kabu aten tidak pernah tahu siapa ontraktor pelaksana di lapan an dan berapa besar dans- ya. Kalau mau tahu soal royek pembangunan SMK egeri Labuanbajo itu, tanya- an langsung ke Kanwil Dep kbud di Kupang karena pim- onya ada di Kanwil," ujar agul. Alfred Surya Perdana yang hubungi Bali Post beberapa li di Ruteng per telepon, Hak berhasil diminta konfir asinya. Keterangan yang peroleh menyebutkan, Alfred Hak mau diganggu karena dang sibuk. (log) u sebagai n Guru "Saya sering sidak, tetapi lihat aparat yang tidak ada Kerjaaanya. Bawahan yang ak bekerja atau tidak tahu a yang dikerjakan, itu kare- salahnya pimpinan," tutur bernur Sebagai abdi negara, ucap a, aparat jangan terjebak ngan rutinitas pekerjaaan. Capi harus mengisi waktu tuk terus belajar, kreatif meningkatkan kemam- an kerja. Gubernur juga maparkan hubungan aratur negara dan syarakat sebagai mitra ng kuat dalam pemban- man. Sering dilupakan bah- aparatur negara itu milik yat. Dikatakan, sikap aparatur n dinilai masyarakat, ter- ma mengenai tingkah laku ratur dalam menjalankan enangan atau menampil- kekuasaan yang diserah- kepadanya, dari mental krasi yang dilayani menja- melayani masyarakat. (058) Hektar di Lobar jurus pada keresahan sos- Guna mengantisipasinya, RI dengan Deptan serta de emen terkait lainnya men- bil langkah strategis akukan Operasi Bhakti unggal Pertanian. Melibat- satuan ABRI, aparat pe- intah serta masyarakat, k menggarap lahan telan- orem mempersiapkan lah- idur 4.300 hektar se- NTB, an rincian Mataram 200 ar, Lobar 500 hektar, Lo- 1.000 hektar, Lotim 500 ar, Sumbawa 800 hektar, pu 500 hektar dan Bima mektar. Tenaga yang disiap ABRI satu SSK ABRI ingan sebanyak 150 orang, ngkan pada tiap kabupat turunkan satu SSK Satgas an 100 orang personel. encanangan OM ABRI Per- an selain dihadiri Bupati r serta Danrem 162/Wira kti juga dihadiri Wagub Drs. H.L. Azhar. Lahan ada ditanami dengan kede- nis wilis yang diharapkan berikan hasil 1,3 ton per ar. duga 4 Juta (060) BSK merasa prihatin den- keluarga SR. Rencana "elesaian itu ternyata membuahkan hasil, se- za BSK menempuh jalur am. "Keluarga SR me- g pernah menghubungi , hanya saja sampai ang tidak ada realisasin- ajarnya. ades Jorok Wahyudin benarkan SR sudah be- at ke Saudi secara ilegal. i laporan dari ayahnya, kabarkan berada di Mat- (052). OMBOK TIMUR yarakat KARYA atas Dilantiknya - TAMIN geri Republik Indonesia 1998 Lombok Timur dir K. 25587 Jumat Umanis, 1 Mei 1998 Harian untuk Umum Bali Post Pengemban Pengamal Pancasila Terbit Sejak 16 Agustus 1948 Tajuk Rencana Kasus Orang Hilang menjadi Isu Dunia HILANGNYA sejumlah tokoh dan aktivis masyarakat belakangan ini berkembang menjadi isu dunia. Perhatian dan keprihatinan bukan hanya muncul di kalangan masyarakat In- donesia, tetapi mulai menyentuh komunitas internasional. Tanggapan di dalam negeri masih tetap simpang siur. Munculnya kembali korban penculikan beserta keterangan yang kemudian mereka beberkan, juga belum menghasilkan kejelasan, bahkan makin membingungkan. Dari pihak aparat keamanan, keluar pernyataan tentang ketidakterlibatan instansinya. Dengan adanya reaksi dari luar negeri seperti yang datang dalam bentuk pertanyaan lima orang dubes beserta staf mereka, rasanya sudah saatnya pemerintah, khususnya aparat keamanan, memperhatikan masalah tersebut lebih serius. Apabila masalah itu berlanjut berlarut-larut, di samping akan makin membuat resah masyarakat, juga bisa membuat pemerintah, termasuk aparat keamanan, makin terpojok. Dalam suasana merosotnya kepercayaan dari dalam dan luar negeri, serta krisis ekonomi, kondisi seperti itu akan sangat merugikan bangsa kita secara keseluruhan. Kita sering berbicara tentang kemampuan mengatasi krisis ekonomi kita secara mandiri. Sebagai semboyan nasionalistis pernyataan semacam itu memiliki sisi positif. Namun kita juga perlu melihat kenyataan yang ada di negara lain. Krisis ekonomi yang melanda negara-negara Amerika Latin hanya bisa teratasi dengan bantuan internasional. Krisis ekonomi yang menimpa negara sekuat Korea Selatan pun, mulai teratasi setelah datang uluran tangan dari IMF. Demikian juga Thailand dan Filipina. Sementara itu, krisis ekonomi yang kita alami paling berat di Asia. Dewasa ini dunia makin mengglobal. Sikap tertutup atau mengucilkan diri sudah tak bisa dilakukan lagi, lebih-lebih dalam bidang ekonomi. Dari sejarah kita bisa belajar bahwa bangsa kita terpuruk dalam kesulitan ekonomi ketika mencoba melakukan politik isolasi dengan keluar dari PBB dan menolak semua hubungan kerja sama dan bantuan dari Barat. Setelah pemerintah Orde Lama tumbang, pemerintah Orde Baru harus menghadapi perekonomian negara yang amat memprihatinkan. Kita pun bisa belajar, bahwa keberhasilan Orde Baru mengatasi keadaan buruk itu juga berkat kerja sama dan bantuan dari luar. Kita memang juga menghadapi kenyataan bahwa pemerintah Orde Baru pun akhirnya harus menelan kenyataan pahit, karena bantuan luar negeri dalam bentuk utang kini telah menggembung tak kurang dari 140 milyar dolar. Kita sudah bertekad memasuki apa yang dinamakan pasar terbuka lewat jalinan Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC). Dalam jalinan semacam itu masyarakat kita menjadi masyarakat dunia yang terbuka. Kita tak lagi bisa memendam diri dalam masalah-masalah kita sendiri, sebaliknya kita menjadi bagian tak terpisahkan masyarakat dunia. Hal ini membawa konsekuensi berat, salah satu di antaranya adalah dituntutnya kemampuan kita untuk memperoleh kepercayaan dari masyarakat internasional. Kepercayaan itu bukan semata-mata menentukan tingkat bantuan yang kita terima, tetapi juga tingkat kerja sama yang bisa kita bangun dengan negara-negara lain. Pergaulan internasional dewasa ini, dan tampaknya juga pada tahun-tahun mendatang, didominasi negara-negara maju. Iklim pergaulan internasional amat diwarnai isu-isu demokrasi, hak asasi manusia, senjata nuklir. Kekuatan ekonomi banyak digunakan untuk mendorong pertumbuhan demokrasi dan pelaksanaan hak asasi manusia. Kekuatan ekonomi juga diterapkan sebagai tekanan untuk membendung pelecehan hak asasi manusia dan pengembangan senjata pemusnah masal. Bantuan dan hubungan ekonomi terbuka lebar bagi negara-negara yang dengan gigih mengembangkan demokrasi dan pelaksanaan hak asasi manusia, sebaliknya akan ditutup buat mereka yang melecehkan hak asasi manusia dan membangun persenjataan pemusnah masal. Orang hilang bukan masalah kriminalitas biasa, juga bukan sekadar masalah gangguan keamanan. Orang hilang adalah masalah kemanusiaan. Penculikan merupakan sebuah tindak perampasan terhadap kebebasan manusia, yang merupakan salah satu dari hak-hak asasi manusia. Dari sini kita bisa mengerti mengapa demikian besar konsern negara-negara Barat kepada kasus yang terjadi di negara kita. Kita tidak bisa menepis sorotan tajam pihak luar hanya dengan kata-kata atau sikap balas mencerca. Kita harus menunjukkan kedewasaan berbangsa dengan mengusut kasus tersebut secara tuntas. Keberhasilan kita menguak misteri di belakang kasus orang hilang tersebut akan menunjukkan kepada masyarakat internasional, bukan hanya apa yang sebenarnya terjadi, tetapi juga kemampuan dan kemauan kita melaksanakan hak asasi manusia secara konsekuen. Jawaban lewat kata-kata hanya akan menimbulkan kesan pembelaan diri, sebaliknya jawaban berupa tindakan nyata akan membeberkan fakta nyata tentang hakikat kehidupan berbangsa kita. Surat Pembaca Persyaratan: Sertakan n Fotokopi KTP atau SIM Tentang Pernyataan Rudini Tiap kali Pak Rudini, man- tan Mendagri, mengemuka- kan pendapatnya, tiap kali saya mengaguminya. Dari rasa kagum ini saya ingin menafsirkan pendapat beliau sehubungan dengan kasus be- berapa orang yang dikabarkan hilang, seperti diberitakan Bali Post, 29 April 1998. Ada salah seorang saksi terhadap kasus itu yang hendak minta suaka ke negara lain. Pak Rudini lalu berkata: "Lebih baik mati dari pada harus minta suaka poli- tik yang akhirnya dapat men- ciptakan citra buruk bagi bangsa Indonesia." ta orang lain yang harus mati bagi bangsa Indonesia. Ba- rangkali kita boleh mengharap pengorbanan orang lain, tidak kematiannya. Yatma Pr. Sempidi, Badung Pemilihan Kades Bona Membaca berita Bali Post, 2April dengan judul "Pemilihan Kades Bona tetap Sah", saya se bagai warga Desa Bona menja- di agak kaget karena dalam berita itu dikatakan bahwa dalam pelaksanaan pemilihan Kades Bona 25 Maret 1998 ada temuan di lapangan seperti: 1. Warga banyak mengeluh karena tidak menerima surat panggilan, sehingga mereka tidak dapat melaksanakan hak pilihnya. Bali Post Hubungan IMF-Indonesia dan Utang Luar Negeri Swasta "THE metaphor, that the IMF-Indonesia match is like two scorpions in a bottle, should be one of two escaped convicts shackled together. They have some common interests, and also some divergings interests. But to accomplish anything, they have to cooperate". (Ibaratnya pertarungan IMF-Indonesia dua kalajengking dalam satu botol tertutup, hendaknya dilihat sebagai dua tahanan yang dapat lari keluar dari penjara, tetapi yang kedua tangannya masih terbelenggu satu sama lain. Kedua pelarian itu mempunyai kepentingan sama, tetapi juga mempunyai kepentingan yang bertentangan. Untuk mencapai sesuatu, kedua pelarian itu harus bekerja sama). Wartawan Aristides Katoppo dari Jakarta, seperti dikutip oleh majalah Time 20 April 1998. "The Indonesian private sector foreign debt was estimated at US$ 73,9 billion at the end of 1997, but 20 billion more may be added to the figure under a new tally being done by the Central Bank as part of the third IMF package. The rupiah value of those IOUS are up more than threefold since July 1997, wiping out the assets of most debtors and rendering them technically bankrupt" (Utang luar negeri swasta Indonesia pada akhir tahun 1997 telah diperkirakan 73,9 milyar dolar AS. Tetapi mungkin masih ditambah lagi dengan 20 milyar, atas dasar perhitungan baru oleh Bank Sentral sesuai dengan perjanjian ketiga dengan IMF. Nilai rupiah dari se- mua utang itu turun sampai tiga kali lipat sejak Juli '97. Akibatnya semua aset para debitor hanyut dan membuat mereka secara teknis bangkrut). Wartawan Jose Manuel Tesoro dalam majalah Asiaweek 24 April 1998. Tidak Mulus Hubungan Indonesia-IMF sejak kita memerlukan bantu- an pada pertengahan tahun lalu tidak selalu berjalan mu- lus. IMF menyetujui bantuan 43 milyar dolar AS dengan ber- bagai persyaratan. Persyara- tannya banyak. Antara lain penghapusan monopoli, dan dismantling" atau pengkelon- tokan dari dunia bisnis yang tidak wajar dalam pertumbu- hannya, yaitu dunia bisnis yang berwatak kapitalisme-"cerony", karena fasilitas dari Pemerin- tah, terutama dari pemegang kekuasaan top, kepada konco- konco dan kerabatnya. Ini menurut IMF yang men- jadi salah satu sumber sebab krisis moneter-ekonomi dewa- sa ini. Karena menurut IMF Indonesia tidak melaksanakan persyaratan ini dengan sepe- nuhnya, maka janji bantuan, yang sudah diberikan 3 milyar dolar AS dihentikan. Datanglah kemudian perjan- jian kedua. Terdiri dari 50 butir, yang ditanda-tangani oleh Pre- siden Soeharto bersama-sama dengan Direktur Eksekutif IMF Camdessus di Jakarta pada tanggal 15 Januari. Ini pun, kata IMF, diingkari oleh Indonesia. Dasar tuduhan ini ialah bebe rapa ucapan pihak kita, bahwa Indonesia akan merevisi per- janjian itu. Rencana revisi itu terkenal dengan nama IMF plus". Plus-nya ad- alah gagasan pem- bentukan Dewan Mata Uang, yaitu "Currency Board", yang tidak disetujui se-penuhnya oleh IMF. Pihak Indonesia berpendapat, setelah renungan dan analisis men- dalam perjanjian 50 butir itu banyak mengandung penyim- pangan terhadap cita-cita nega- ra kita, dan bahwa "IMF plus" tidak mengabaikan persyara- tan IMF. Melunak Tetapi, bagaimana pun, perjanjian kedua ini pun ma- cet, dengan akibat bantuan kedua 3 milyar dolar AS tetap ditunda. Di tengah-tengah perasaan cemas serta tergang- gu iritasi dari kedua belah pi- hak, tercapailah sekarang per- janjian ke-3 tertanggal 8 April yang baru lalu. Pokok isinya ialah lima memorandum tam- bahan perjanjian RI-IMF. Lima butir itu mencakup pro- gram stabilisasi, restruktur- isasi bank, reformasi struk- tural, penyelesaian utang luar negeri swasta yaitu corporate debt", dan bantuan untuk rakyat kecil. Dibanding dengan dua per- Oleh Dr. H. Roeslan Abdulgani janjian yang dulu, perjanjian ketiga ini lebih kongkret rumu- sannya. Juga tersirat di dalam- nya pelunakan sikap IMF ter- hadap Indonesia. Tetapi seba- liknya kita akan lebih banyak "dimandori" oleh IMF. Pelunakan sikap IMF ada- lah akibat kita tidak mau me- nelan begitu saja segala "dik- tat" IMF. Juga akibat berbagai kritik dari kalangan Dunia Barat sendiri, yang mengang- gap persyaratan IMF pada umumnya terhadap negara- negara yang memerlukan ban- tuan, sangat berat dan sangat mencekik. Apalagi terhadap Indonesia. Dilema Kalau sampai rencana ban- tuan IMF ke Indonesia gagal, citra IMF akan sangat mero sot. Terutama di dunia Barat sendiri. Banyak orang melihat pertikaian IMF-Indonesia ini belum final. Seakan-akan sama dengan dua petinju yang masih sama tegarnya setelah ronde ketiga. Ada juga yang Inilah dilema hubungan Akar Sebab Krisis mengibaratkan sebagai dua masih belum datang kepada kalajengking dalam satu bo- angka yang pasti. Andaipun tol. "Like two scorpions in a bot- sudah datang, belum tentu tle", demikian ungkapan seo- akan diumumkan. rang staf IMF di Washington. Kemudian ibarat ini dianggap Menurut majalah Warta oleh wartawan Aristides Ekonomi tanggal 2 dan 9 Fe- Katoppo dari Jakarta, kurang bruari 1998, sekitar 50 bos sempurna. Yang lebih tepat konglomerat dari 200 lebih pe- ialah ibarat dua tahanan yang rusahaan besar-besar masuk berhasil lari dari penjara, teta- dalam daftar penunggak utang ini. Masalah utang para kong- pi yang kedua tangannya ma- sing-masing terbelenggu satu lomerat itu, yang menjadi salah sama lain. Mereka mempu- satu sebab utama tentang kri- nyai kepentingan sama, dan sis moneter-ekonomi sekarang. juga kepentingan berbeda. Tampaknya ada konflik ke- Tetapi untuk mencapai sesuatu pentingan, yang menyebabkan yang tidak merugikan mereka, tim Radius tidak bersedia keduanya harus be-kerja-sama. membeberkan rinciannya. Tampak jelas, akar-sebab IMF-Indonesia sekarang. Ka- krisis moneter sekarang ini lau sampai persetujuan ketiga sudah dimulai beberapa tahun ini tertunda lagi, maka Indone- yang lalu. Akibat kelengahan sia akan menderita kerugian Pemerintah sejak berantakan- material. IMF akan menderita nya sistem komunisme inter- kerugian citra efektivitas dan nasional, telah muncul berba- moralnya. Keduanya akan rugi. gai sentra kapitalisme, yang Lepas dari dilema ini, ada hendak memperbesar penga- masalah baru yang terdapat ruhnya ke Dunia Ketiga, ter- dalam perjanjian ketiga ini, masuk ke Indonesia maka kita yaitu masalah penyelesaian terperosok ke dalam situasi utang luar negeri swasta. sekarang. Kelas kapitalisme yang baru di Indonesia, yang wataknya komprador, ersatz dan crony, dibiarkan melaku- kan "overborrowing", yaitu meminjam secara berlebih-le- bihan. Juga pihak Pemerintah membiarkan mereka itu "over- investing", yaitu penanaman utang itu dalam proyek-proyek mewah-mubazir, seperti pro- perti, apartemen dan hotel. Perangkap Utang Ganda Jumlah Utang Swasta Sekalipun pihak resmi tidak atau belum mau mengumum- kan siapa-siapa debitor itu dan berapa utangnya masing-mas- ing, di banyak kalang-an dunia pengamat ekonomi kita telah beredar daftar sekitar 247 deb- itor Indonesia de-ngan jumlah utang luar negeri 58 milyar dolar AS, Kebanyakan tidak di- "hedge", yaitu tanpa jaminan nilai utang tidak akan naik, apabila nilai valuta dolar naik. Sehingga dengan melonjaknya nilai dolar sekarang sampai tiga kali, boleh dikata aset deb- itor kita surut harganya. Mala- han ada yang hanyut dan se- cara teknis boleh dikata keban- yakan mereka sudah bangkrut! Dalam pada itu, menurut James Wolfensohn, Presiden Bank Dunia, utang luar negeri Indonesia seluruhnya sekitar 143 milyar dolar AS. Yang dari swasta sekitar 80 milyar, teta- pi menurut dunia perbankan di New York, jumlah utang swas- ta kita 73,9 milyar plus 20 mil- yar lagi. Jadi total 93,9 milyar. Mana yang benar sulit di- pastikan. Tim Pemerintah un- tuk menangani ini, dan yang dipimpin oleh Radius Prawiro, Fasilitas mendirikan bank dipermudah, sedangkan pen- ga-wasan sangat lemah. Ini me-nyebabkan pula utang- utang bank-bank itu menum- puk. Situasi makin tidak se- hat. Apalagi utang-utang itu sudah jatuh tempo pada pertengahan tahun 1997. Rush ke dolar pada tahun 1997 itu hanya pemicu tetapi akar sebabnya beberapa tahun sebelumnya, akibat dari kebi- jaksanaan ekonomi dan politik yang lengah dan keliru. Kita sekarang ibarat terperosok ke dalam debt trap, yaitu perang- kap utang dunia perbankan internasional. Sedangkan me- minta bantuan IMF, yang oleh sementara pihak juga di- sinyalemen sebagai debt trap, karena itu reformasi ekonomi dan politik perlu! Perhatikan Kesehatan sebagai Dampak Krisis Keuangan KESEHATAN merupakan tan dan pendidikan. masalah utama yang harus mendapat perhatian dalam mengatasi dampak krisis keuangan di kawasan Asia, guna mencegah bencana yang lebih buruk pada masa datang. Krisis ekonomi yang me- mukul Asia Timur dan Tengga- ra, khususnya anjloknya mata uang rupiah di Indonesia dan bath di Thailand segera mem- pengaruhi berbagai sendi ke hidupan masyarakat, seperti penurunan daya beli terhadap barang kebutuhan pokok serta akses pada pelayanan keseha- masih terdaftar. Tetapi ini pe- ngaruhnya tidak banyak kare- na mereka praktis tidak datang sehingga tidak merugikan ca- lon kades bersangkutan. Tam- bahan lagi dikatakan pelajar yang ikut memilih itu bisa saja sepanjang mereka telah nikah. Tetapi kalau di bawah umur apalagi belum nikah ini jelas penyimpangan. Terhadap per nyataan ini penulis bertanya: apakah pernyataan ini tidak keliru kok ada pelajar nikah? Lagi pula dikatakan bahwa terhadap temuan ini pihak Kabag Pendes Kabupaten Gia- nyar akan mengecek ke lapa- ngan. Ini perlu menurut penu- Kepala Biro Kesehatan, Kesejahteraan Sosial, dan Nu- trisi pada Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bap- penas) Triono Soendoro, MD.,Ph.D dalam simposium internasional Senin (27/4) tampil sebagai pembicara per- tama dalam simposium inter- nasional bertema "Upaya-u- paya Kesehatan dalam Meng- hadapi Krisis di Asia-Mela- lui Pendekatan pada Manusia", yang berlangsung di Universi- tas PBB di Tokyo. Perhatian utama harus ter- wajar. Apalagi penggantian kepala desa sudah diatur dalam peraturan tertentu. Saya tidak memihak, namun men- dambakan konstruktifnya se- buah demokrasi. Kalau di dalam pemilihan kepala desa lantas ada kejadian di lapang an seperti yang terjadi dalam pemilihan Kades Bona, menga- pa aturan itu tidak dijadikan pelurusnya sekaligus untuk ditegakkan? Oleh karenanya sesuai dengan pernyataan Ka- bag Pendes Kabupaten Gianyar akan mencek ke lapangan, saya pun berharap kepada Panitia agar: 1. Mencek ke lapangan te- muan-temuan tersebut 2. Jika temuan itu benar akuilah kebenarannya, namun jika tidak benar panitia kan berhak membela diri. Oleh Maria D. Andriana pusatkan pada perlindungan kelompok rentan, yaitu kelom- pok masyarakat berpenghasi- lan rendah serta mereka yang kehilangan pekerjaan akibat krisis keuangan, katanya. Penurunan akses masya- rakat tersebut pada pelayanan kesehatan akan terlihat pada dua-tiga tahun mendatang, karena terjadinya kekurangan nutrisi dan gizi pada bayi yang sudah menjadi lahan tongkro- ngan kaki lima yang benar-be- nar mengganggu keindahan taman kota yang makin lang- ka tersebut. Saya dan ponakan tidak bisa duduk dengan nya- man di hamparan rumput yang sudah tidak hijau lagi karena takut terkena bekas siraman kuah bakso. Kemudian saya putuskan untuk beralih ke Lapangan Puputan Margarana Renon. Mungkin jalan-jalan sore nikmat di sana karena le- ngang dan bebas polusi. Tetapi apa yang saya dapatkan? Ham- paran rombong bakso, peda- gang kelapa muda, nasi goreng dan lainnya. Apa sudah jadi pasar senggol, ya? Begitu yang tersirat dari benak saya. Hal itu saya temui lagi sewaktu jalan jalan ke Kuta untuk menikmati suasana malam di salah satu cafe (Hard Rock Cafe). Saya lis karena konstruktifnya Ida Bagus Nyoman Raka benar-benar kaget dengan demokrasi perlu diwujudkan. kesemrawutan jalan Legian Dikatakan pula bahwa kedua tersebut. Trotoar seakan tertu- Andai saja beliau pribadi calon kades tersebut dapat Taman Kota tupi oleh pedagang kaki lima kena mengena dengan kasus menerima hasil keputusan pe- yang menjual dagangannya. tak Nyaman lagi itu dan berkata: "Saya lebih milihan itu karena tidak ada Belum lagi yang menjual ma- baik mati daripada ...dst.", komplin, sehingga tidak ada Saya seorang warga Bali kanan dan minuman yang maka kekaguman saya makin alasan untuk diadakan pemili- yang sudah cukup lama beker mengganggu kelancaran lalu bertambah-tambah. Namun han ulang. ja di luar pulau tercinta ini. lintas, parkir dan kenyaman- berita Bali Post itu memberi Terhadap hal ini saya ingin Sewaktu saya libur mengam- an pejalan kaki. Apa yang te saya bayangan dan tafsiran bertanya: bil cuti panjang, saya pulang lah terjadi sehingga keasrian begini: hendaknya 'si saksi' Apakah hal ini merupakan kampung dengan harapan bisa Bali luntur demikian parah? Di tidak mencari suaka politik 3. Di salah satu TPS, ada kepentingan mereka berdua? memperoleh penyegaran piki- mana ketegasan aparat? Di sekalipun harus mati agar pelajar yang ikut memilih. Bukankah ini kepentingan se ran untuk kembali kerja di kota mana perhatian Dinas Pariwi- tidak memperburuk citra Terhadap ketiga kejang- luruh warga masyarakat yang katanya bikin stres. Teta- sata Bali? Apa kita ingin bangsa Indonesia. Harapan ini galan tersebut lantas ada ula- sekaligus pemerintah karena pi kenyataan yang saya peroleh wisatawan kabur? Aparat yang tidak bijaksana dan tidak be- san yang mengatakan: Kemu- mereka ini nantinya aparat? sewaktu berlibur adalah pe- bersangkutan dengan hal terse nar. Memang tiap warga nega- ngkinan kekeliruan seperti Yang menjadi titik beratnya mandangan yang malah bikin but tolong perhatikan jika tidak ra Indonesia wajib bersedia tersebut bisa saja terjadi, se- apakah komplinnya? stres. Kenapa? Saya jalan-jalan ingin citra kita tegores. Saya mengorbankan jiwanya untuk perti halnya warga yang kawin Terhadap semua temuan itu sama ponakan ke lapangan dari jauh hanya bisa menyam- Tanah Air, namun semangat keluar atau yang telah mening saya memberikan argumen se- Puputan Badung yang seingat paikan keprihatinan saya kare ini harus kita terapkan mela- gal diberikan surat panggilan bagai berikut: Penggantian saya adalah tempat berekreasi na saya cinta Bali yang bisa lui diri kita sendiri dan bukan karena warga tersebut tidak pimpinan dalam organisasi so- terdekat, nyaman dan termu- membuat saya bangga jika dengan mengharap atau min- melapor sehingga mereka sial kemasyarakatan itu adalah rah di pusat Kota Denpasar berkenalan dengan orang asing 2. Warga yang telah kawin keluar bahkan yang telah me- ninggal justru dibuatkan surat panggilan. Bona Anggota Redaksi Denpasar: Agustinus Dei, Dwi Yani, Legawa Partha, Nikson, Palgunadi, Pasma, Srianti, Sri Hartini, Suana, Suarsana, Bali Post Sudarsana, Sueca, Sugendra, Suja Adnyana, Sutiawan, Artha, Alit Suamba, Subagiadnya, Sugiarta, Sutarya, Kasubmahardi, Martinaya, Rai Anom, Sarjana, Adnyana, Agus Astapa, Mas Ruscitadewi, Oka Rusmini, Umbu Landu Paranggi. Bangli: Karya, Buleleng: Tirthayasa, Gian- yar: Alit Sumertha, Jembrana: Edy Asri, Karangasem: Dira Arsana, Klungkung: Daniel Fajry, Tabanan: Alit Purnatha, Jakarta: Wisnu Wardana, Muslimin Hamzah, Bambang Hermawan, Darmawan, Suyadnya, Djamilah, Rudiyanti, Suharto Olii, Ghazali Ama Lanora, Yahya Umar, Pamuji Slamet, Ria Tanjung Pura. NTB: Agus Talino, Nur Haedin, Riyanto Rabbah, Raka Akriyani, Siti Husnin, Izzul Kairi, Syamsudin Karim, Ruslan Effendi, Antony Mithan. Surabaya: Endy Poerwanto, Bambang Wiliarto. NTT: Hilarius Laba. Yogyakarta: Suharto. Wartawan Foto: Arya Putra, Djoko Moeljono. baru lahir, ibu hamil, kaum lan- jut usia serta para pasien yang memerlukan perawatan jang- ka panjang tetapi kini tidak lagi mampu melanjutkan perawa- tan kesehatan, tegasnya. Para ibu hamil akan cen- derung memilih proses kelahi- ran di rumah dengan pertolo- ngan dukun bayi karena tidak mampu membayar biaya pe- meriksaan oleh bidan ataupun pemeriksaan di rumah sakit, sehingga tingkat risiko bahaya kehamilan dan persalinan makin tinggi. Langkah strategis untuk di luar negeri. Terima kasih, semoga menjadi lampu kuning bagi kita semua, Ketut Diah Puspadanti Jl. Palem Hijau V/25 Blok G4 Real Estate Bulevar Hijau Pejuang Bekasi Barat menekan sekecil mungkin dampak krisis ekonomi pada aspek kesehatan antara lain tetap menjaga tersedianya dana pelayanan kesehatan dasar misalnya untuk meng- atasi penyakit anak-anak, TBC, AIDS, lepra, dan kanker. Selain itu, memberikan ak- ses pelayanan kesehatan kepa- da kelompok masyarakat mis- kin seperti menggunakan kar- tu sehat, bahkan juga memberi- kan insentif kepada petugas yang memberikan pelayanan pada kelompok masyarakat tak mampu. (anspek) tidak ini adalah langkah awal yang baik. Mudah-mudahan teman- teman mahasiswa Bali khu- susnya Unud, bukan hanya pandai membuat aksi yang berani dan mengesankan teta- pi yang perlu waspada jangan sampai kita (mahasiswa) ter- jebak kepentingan praktis se- mata yang sifatnya taktis atau terjebak pada isu-isu murah- an, seperti semacam penggu- naan mahasiswa hanya seba- gai pendistributor sembako bu- kan sebagai agen of change. Oleh karena itu, saya salut untuk mahasiswa Unud dan Dompet Orange Hilang dompet orange 23 April malam berisi surat-surat penting atas nama Musmul- yadi dan I Made Sukadana. Hi- lang di Jln. Wira menuju Jln. Danau Tamblingan Sanur. rektoratnya. Yang menemukannya mohon agar menginformasikannya kepada saya: Artshop Jinggo Leather Jln. Danau Tambli- ngan No. 132 telepon 285707- 286339. Akan diberi imbalan. Musmulyadi Salut untuk Unud Nurul Wathoni Aktivis KS2B (Kelompok Studi Sosial dan Budaya) Mataram Ditemukan Dompet Hitam Minggu 26/4 ditemukan dompet hitam di Jl. D. Bera- tan Sanur, berisikan: Beberapa hari yang lalu te- patnya tanggal 23 April 1998, teman-teman aktivis Bali 1. KTP a.n. Agus Sutrisno, khususnya mahasiswa Univer Dusun Krajan, Banyuwangi. sitas Udayana telah melaku- 2. SIM C an. Agus Sutrisno, kan aksi yang menurut saya Jl. Tirta Ening No. 15 Sanur. cukup berani dan mengesan- 3. STNK Kawasaki Kaze R kan". Kata "berani" dan DK 3376 BB a.n. I Wayan Rat- "mengesankan" ini terlontar nika, Jl. Betngandang Sanur, bukan hanya terlihat lewat ke- 4. Uang Rp 92.000. beraniannya melempar-lempar Saya telah berusaha men- (lemparan batu dengan aparat) cari ke alamat tersebut, na- tetapi ada yang lebih menarik mun tidak berhasil menjum- dari itu yakni adanya suatu ke pai pemilik barang-barang berpihakan" pihak rektorat ter tersebut dan juga melapor ke hadap aksi dan nasib maha- Polsek Sanur melalui telepon siswanya, di mana hal sema- yang sampai saat ini belum cam ini jarang sekali terjadi di ada yang menghubungi saya. daerah lain. Yang terjadi tam Yang merasa kehilangan, da- paknya rektorat selaku lemba- pat menghubungi saya di ala- ga pemberi, pelindung, penun- mat di bawah ini. tun dan pelegitimasi aktivitas mahasiswa yang ingin menyu- arakan kebenaran (keadilan) telah menjalankan fungsinya dengan baik walau mungkin belum maksimal. Tetapi paling IB Toni Astawa, S.E. Jl. Hang Tuah I/9 Sanur, Denpasar Telepon 287491/239633 HP 081 138 0759 Kolom Halaman 5 Mimpi Suzan Jadi Konglomerat SUATU hari saya jalan-jalan di pasar loak-tempat jual beli barang-barang murah/bekas-di Jalan Gunung Agung. Ketika saya melihat-lihat barang, seorang pedagang nyeletuk "Kok bisa yaaa..., konglomerat bisnisnya gede ha- nya dengan modal dengkul," ujar Mursan, salah seorang pedagang elektronik di pasar itu. Bisnis dengan modal dengkul, kan itu identik dengan bisnis jual daging mentah yang kini marak di Jalan Gotot Subroto Barat," sahut pedagang sebelahnya. Di antara obrolan itu terdengar lagu Suzan yang dilan- tunkan Ria Enes. "Suzan,... Suzan..., kalau besar cita-cita- nya jadi apa? Jadi Konglomerat.." Obrolan yang demikian itu terjadi karena konglomerat belakangan ini kembali jadi sorotan masyarakat yang pa- ling bawah sekali pun. Apalagi ketika itu, Jumat Wage 24 April di media ini pengamat ekonomi Dr. Umar Juoro se- cara transparan mengungkapkan, sebagian besar pengusa- ha nasional (baca konglomerat) bermodal dengkul. "Usah- anya sebagian besar modalnya dari pinjaman." Ketika utangnya dalam bentuk dolar jatuh tempo, ba- nyak yang kelimpungan. Bahkan seorang teman saya di Jakarta yang bisnisnya juga cukup gede mengatakan, saat ini banyak konglomerat jatuh "miskin". Jangankan bermi- tra dengan pengusaha kecil seperti yang mereka (kelompok Jimbaran) sepakati, untuk mengurus dirinya saja sekarang susah, kata teman saya itu. Di kalangan masyarakat bawah-sekelas pedagang kaki lima di pasar loak - konglomerat sampai-sampai dipe- lesetkan jadi konglomelarat. Meski demikian, kehadiran konglomerat di Indonesia, tidak bisa disalahkan seratus persen sebagai penyebab kri- sis sekarang ini. Pertumbuhan ekonomi nasional yang mela- ju cepat sejak orde baru memungkinkan tumbuhnya bisnis- bisnis besar menjadi satu kelompok usaha konglomerasi. Konglomerasi ini menghimpun perusahaan-perusahaan yang beraneka ragam, mulai dari hulu sampai ke hilir un- tuk mendapatkan laba yang sebesar-besarnya. L Sebenarnya, konglomerasi merupakan kenyataan yang tak dapat dihindari dalam pembangunan ekonomi nasio- nal. Dalam UUD 1945 secara tegas menyebutkan pelaku ekonomi di Indonesia adalah swasta, BUMN (badan usaha milik negara pemerintah) dan koperasi. Ini berarti, tidak tertutup bagi swasta warga negara Indonesia asli mau- pun keturunan-untuk berusaha. Hanya yang perlu diper- hatikan, etika bisnis yang mengacu kepada UUD tadi. Apa- kah usaha itu sudah untuk kemakmuran bangsa atau ha- nya untuk kemakmuran pribadi atau golongan. Lalu bagaimana tanggung jawab sosialnya terhadap masyarakat. Cerita-cerita sukses para konglomerat ketika itu-tahun 1980-an-banyak menghiasi media massa. Ada yang mem- ulai dari pedagang kaki lima kemudian menjadi konglo- merat dan memiliki puluhan perusahaan, ada pula yang besar karena fasilitas, monopoli, dan lain-lain. Mereka yang besar karena fasilitas - mungkin karena dekat dengan kekuasaan telah menimbulkan ketidak- adilan dalam berusaha. Ketidakadilan ini bukan kali per- tama yang dikeluhkan pengusaha maupun pengamat. Bah- kan Pusat Data Bisnis Indonesia yang dikomandoi Chris- tianto Wibisono memaparkan, kenyataannya konglomerasi di Indonesia sebagian besar hidup dari fasilitas. Konglo- merasi yang demikian ini, katanya, mudah keropos Kwik Kian Gie, tokoh vokal PDI pro Megawati ini dalam bukunya Saya Bermimpi jadi Konglomerat" juga tak kalah gusarnya. Berbicara konglomerat, menurut dia, tidak terle- pas dari berbicara tentang kapitalisme. Bahkan, kapitalis- me adalah syarat mutlak bagi pembentukan dan tumbuh kembangnya konglomerat. Bentuk-bentuk kapitalisme model begitu, sangat ditabukan UUD 45. Kapitalisme adalah dibolehkannya orang memiliki mo- dal, dibolehkannya pemilik modal berproduksi dan berdis- tribusi dengan motif memperoleh laba atau menumpuk ke- untungan. Lalu laba itu digunakan lagi untuk melakukan ekspansi usaha. Begitu seterusnya. Bagaimana dengan mimpi Suzan yang bercita-cita jadi konglomerat? Bercita-cita tinggi boleh saja. Untuk mewu- judkan mimpi Suzan kecil itu, ia saat ini harus banyak belajar dari para konglomerat di negeri tetangga, Jepang, misalnya. Konglomerat di negeri Matahari Terbit itu, dike- nal sebagai pekerja keras. Berbeda dengan di negeri ini, banyak konglomerat kita dililit utang dan ujung-ujungnya menyusahkan rakyat kecil. Selain itu, masih ada suara- suara-mudah-mudahan tidak benar-yang megatakan masih ada konglomerat merengek-rengek minta fasilitas. Untungnya IMF datang, sehingga bentuk fasilitas, mono- poli dan sejenisnya sudah mulai berkurang. Di satu pihak memang kita gembira, bangsa memiliki perusahaan-perusahaan raksasa yang banyak menyerap tenaga kerja. Selain itu, peran mereka juga cukup besar dalam membayar pajak. Di lain pihak, amanat Pasal 33 UU 1945 jelas menyebutkan Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan." Akankah mimpi Suzan itu jadi kenyataan? Kita serah- kan kepada Suzan untuk menjawabnya. Yang pasti, sema- ngat, jiwa kewirausahaan harus ditumbuhkembangkan se- jak dini. Faktor keberhasilan lainnya, pemerintah harus adil dan tidak pilih kasih dalam memberikan kesempatan berusaha. Kita tunggu. Wirya Catatan Lembaga "Artha" yang akan pungut "Dana Punia" langsung dari umat jangan terjebak sikap tertutup pengurus PHDI masa lalu, kata Prof. Dr. Ngurah Ba- gus. - Maksudnya terbuka bertanggung jawab agar umat tidak bersungut-sungut. *** Dari informasi yang masuk ke polisi yang hilang dalam dua atau tiga bulan terakhir ini 60 orang, kata Kadis- pen Polri. - Pasti ini ulah "oknum-oknum". *** Menurut lembaga rating AS S&P, restrukturisasi perbankan di Indonesia tidak berlangsung cepat se- hingga tertinggal negara-negara tetangga. - Maklum sedang "sakit". Bang Podjok Color Rendition Chart
