Tipe: Koran
Tanggal: 1998-05-01
Halaman: 07
Konten
4cm sam manis, 1 Mei 1998 isnis a Industri Pariwisata mbako dalam rangka ril 1998. Paket semba- rga kurang mampu di a itu, berisi beras, gula, aket dibeli Rp 15.000 3.000. Tampak Ketua n) menyerahkan sem- mis (30/4) kemarin. (*) Bagi Sembako mbantu (Capem) Gianyar m pokok (sembako) kepada a Sidan dan Temesi, Keca- Bantuan tersebut selain se dalam mengemban keper- eringatan Hari Kartini, anyar I Ketut Wijaya, S.H. kan buat 6 dusun di Desa paket di dua dusun Desa kan masing-masing kades m.Hk mewakili Bupati Gi- saat ini dinilai sehat oleh ngi masyarakat dan peme- ekonomi yang menerpa momi kepercayaan masya- ti dana masyarakat yang arakat dalam bentuk tabu catat Rp 79 milyar lebih. ingkat menjadi Rp 87 mil- eposito meningkat dari Rp h, sedangkan kredit yang ar menjadi Rp 233 milyar. si 5 kg beras, 1 kg gula pasir nasabah BSP cabang Gia- Cabupaten Gianyar dengan injam sekitar 2.000 orang. (031) - EMAS 1998 m) JUAL TV 8.600,00 5.475,00 4.550,00 5.685,00 13.500,00 1,350,00 4.250,00 5.675,00 1.225,00 5.475,00 6.500,00 2:350,00 550.00pme 280,00 4.350,00 98 dari: TV (Tarukan Valas). telpon 263598 Tarukan Valas. karta, di PT.Central Inter- eli) dan Rp 73.000/gram (jual). 5.750/gram (beli), Rp 81.750/ gram (beli), Rp 70.000/gram am. 23 karat Rp 54.350/gram. 2.700/gram N VALAS CHANGER 98-756302 ok D-33, Jl. Bakung Sari Kuta. to Bejangka 6bln 12bln 25%/Thn 20%/Thn 25%/Thn 22%/Thn 24%/Thn 22% Thn 16%/Thn 82-2467 01 ADI SP. 2318 24bln VISA Ho MasterCard BCA Diners Club International ya ngan ESAR..... Jumat Umanis, 1 Mei 1998 Aspirasi "Dukungan NW Terkesan Emosional" NAMA besar ormas Nahdlatul Wathan (NW) bisa menjadi pertaruhan yang cukup berpengaruh dalam suksesi di NTB, khusus nya dalam bursa pencalonan gubernur. Na- mun, ormas tersebut belakangan ini menam- pakkan perpecahan, terutama sekali sejak pendiri NWDI, TGKHM Zainnudin Abdul Madjid meninggal dunia. Persoalan di tubuh antarpengurus di NW itu pun kemudian tidak saja makin suram, juga merembet pada masalah-masalah poli- tik. Contoh yang cukup nyata kita lihat dalam pencalonan gubernur. Para elite politik di tu- buh NW atau mungkin lebih tepat oknum pengurusnya, terkesan terlalu emosional untuk mencalonkan nama gubernur NTB," kata pengamat politik H. Syahibuddin Djau- hari kepada Bali Post di Pancur, Lombok Timur. Mantan anggota F-KP DPRD NTB itu menyodorkan beberapa bukti. Seperti juga pernah dilansir belum lama ini. Ketua PDNW Lombok Timur, Drs. H. Abdul Hayyi Nu'man dan sekretarisnya Drs. H. Sahafari Asyari mengatasnamakan pengurus besar (PDNW) mencalonkan Mayjen Yudomo SHD sebagai gubernur NTB periode 1998-2003. Persoalan itu kemudian diprotes oleh PDNW Lombok Tengah melalui ketuanya, H. Lalu Muh. Syamsir, S.H. PDNW tidak pernah diajak musyawarah untuk pencalonan gubernur," ucapnya. PDNW Lombok Tengah kemudian men- calonkan Drs. H. Lalu Mudjitahid sebagai gubernur pasca-Warsito. Tokoh NW lainnya, mantan Sekjen PDNW dan Ketua STKIP Hamsanwadi yang juga menantu almarhum Syeikh Maulana, Drs. H.M. Syubli malah mencalonkan Kol. Iping Somantri sebagai calon gubernur. "Saya melihat mereka men- calonkan gubernur yang berbeda-beda kare- na berangkat dari pemikiran yang emosio- nal. Mereka lupa bahwa organisasi NW me- miliki aturan jelas, berikut dewan mukhta- sarnya pun ada," lanjut Syahibuddin. Bahkan, pengamat politik lainnya menud- ing para oknum elite politik di NW tersebut dalam kondisi kurang sehat. "Seharusnya mereka jangan banyak omong dulu kalau se dang kurang sehat. Konsentrasilah ke dalam tubuh sendiri untuk menyembuhkan penya- kit yang diderita," ujar seorang pengamat yang enggan disebut identitasnya. "Nama- nya orang sedang pusing, sakit, tentunya sulit berbicara sesuai akal sehat," lanjut tokoh tadi. Cukup Solid Baik Syahibuddin maupun pengamat tadi sama-sama melihat warga NW dua per tiga MUNCULNYA nama Yu- domo SHD SIP pada deretan bacagub NTB periode 1998- 2003 seolah-olah menengge- lamkan nama bacagub lain- nya. Seolah-olah bacagub lain- nya tidak lebih sebatas peng- gembira. Padahal sebenarnya tidak demikian. Semua ba- cagub yang merupakan aspi- rasi masyarakat dan diusul- kan ke DPRD memiliki pelu- ang yang sama untuk bisa ter- pilih sebagai gubernur meng- gantikan Warsito yang akan mengakhiri masa tugasnya akhir Agustus mendatang. Belakangan nama Yudomo yang muncul pada bursa ba- cagub babak kedua-bursa bacagub yang pertama ada lima nama, masing-masing Mudjitahid, Azhar, Muharso, Suparman dan Iping Somantri memang kelihatannya le- bih berkibar. Tetapi bukan berarti nama lain seperti nama Mudjitahid dan Muharso tidak bersinar. Kedua nama bacagub terakhir juga tetap bersinar. Buktinya, aspirasi yang masuk ke DPRD untuk Mudjitahid dan Muhar so pada masa penjaringan ini tetap ada, walau tidak dalam gelombang yang besar-besar. Bahkan aspirasi terhadap Su- parman pun sebenarnya juga tidak sepi. Belum jelasnya bacagub yang kelihatan" bakal meng- ganti Warsito memunculkan berbagai rumor dan spekulasi di masyarakat. Pendukung masing-masing bacagub me- miliki argumentasi sendiri- dari total penduduk NTB dalam keseharian cukup solid. "Mereka bahkan dak tampak tidak main politik-politikan, tetapi lebih me- nerima apa adanya," katanya. Warga NW yang dikenal paternalistik itu, kata Syahibud- din, seharusnya jangan sampai dibuat bi- ngung oleh para tokohnya sendiri. "Sekarang ini kan mereka berdiri di te- ngah persimpangan, tokoh ini lari ke situ, tokoh yang itu lari ke sini, apa ini nanti tidak akan menjadi penghambat untuk kemajuan organisasi dan menjadi duri dalam pemba- ngunan," lanjutnya. Bagi Syahibuddin, kerena persoalan khusus di tubuh NW yang demikian, mau tak mau DPRD NTB harus arif memilah- milah aspirasi yang masuk ke dewan soal bakal calon gubernur. "DPRD harus objektif melaksanakan tugasnya, menggolkan suara rakyat terbanyak," katanya. "Kami tentu tidak ingin DPRD akan terkecoh dengan as- pirasi yang seolah-olah diinginkan rakyat banyak, tetapi nyatanya hal itu untuk men- cari keuntungan pribadi oknum tertentu," ujarnya seraya menjelaskan, sesungguhnya yang sakit itu ialah oknum-oknum yang se- perti itu, bukan warga yang diatasnamakan. Ketua Umum PBNW, H. Ma'sum Ahmad Abdul Madjid pernah mengungkapkan ke- pada Bali Post, persoalan khas di tubuh NW diharapkan bisa selesai melalui muktamar. Ma'sum yang secara AD/ART otomatis tampil dalam posisi Ketua Umum PBNW setelah Drs. H. Lalu Gde Wiresentane meninggal dunia itu, menjelaskan, proses menuju muk- tamar saat ini sedang dilalui. "Masing-ma- sing pihak harus melihat organisasi NW ini secara luas, sebagai aset bangsa, masyarakat, dan agama," katanya. Ma'sum belum berha- sil dikonfirmasikan soal pencalonan guber- nur NTB karena dia sedang ke luar daerah. Namun, sependapat dengan Ma'sum, pe- ngamat seperti H. Syahibuddin atau H. Mo- hamad Djuwayni merasa yakin bahwa muk- tamar bisa menyelesaikan semua persoalan. Muktamar yang dilakukan secara organisa- toris itu di luar urusan keluarga pendiri NW," katanya. Semua pihak harus bisa membe- dakan mana yang kepentingan organisasi dan mana kepentingan keluarga. Jangan di- campuradukkan, sebab nanti bisa-bisa merugikan masyarakat banyak," katanya. Bagi Syahibuddin, di sinilah profesional- isme dan objektivitas anggota DPRD diuji. Aspirasi yang masuk ke dewan soal calon gubernur memang dilihat juga sosok, pan- dangannya, serta bagaimana aksesnya ke- pada masyarakat," katanya. Kejelian para anggota wakil rakyat tersebut pun dituntut. rebamamamam (zul) Bali Post Halaman 7 Politik para Tuan Guru TUAN Guru (TG) dan politik, bukan hal yang baru. Namun, "mengorbankan" kader umat dengan ikut-ikutan berpoli- tik merupakan hal baru yang mesti dipikirkan akan berdampak pada tersendatnya visi pendidikan dan dakwah yang dilakukan. Menjelang pemilihan Gubernur NTB periode 1998- 2003, aspirasi TG- untuk tak menyebut keberpihakan-keberpihakan TG itu mulai tampak. Bahkan dengan membawa "keyakinan", mereka memperjuangkan figur yang akan mampu membangun bumi gora. Bagaimana kiprah TG di Lombok di balik makin ramainya bursa cagub. Berikut laporan Bali Post. Tiba-tiba saja PB Nahdlatul Wathan (NW) menyebut nama Mayjen TNI Yudomo SHD SIP, ASPAM KASAD, sebagai cagub NTB periode 1998-2003. Mas- sa NW yang berada di ranting- ranting pun terkejut. Tak se- perti beberapa tahun lalu, orga- nisasi keagamaan terbesar di NTB itu biasa mengusulkan fi- gur putra daerah sebagai kan- didat. Lima tahun sebelumnya, misalnya, PB NW melontarkan nama Drs. H. Lalu Gde Wire- sentane (alm) sebagai cagub dengan pertimbangan figur tersebut menguasai kondisi daerah setempat. Toh di DPRD nama Wiresentane tenggelam oleh Warsito. Apakah karena kegagalan tadi skenario mem- perjuangkan putra daerah tahun ini dianggap mubazir? Menurut pengakuan Ketua PB NW Drs. H. Abdul Hayyi Nu'man, "Yudomo sudah me- ngenal situasi dan kondisi NTB secara mendetail, karena beli- au pernah mengemban tugas sebagai Danrem 162/Wira- bhakti." Sebagai lembaga besar de- ngan jumlah massa hampir 90 persen penduduk NTB, kepu- tusan tersebut membuat ke- panikan" tersendiri di lingku- ngan NW. Apalagi keputusan PB NW didukung DPRD Pim- pinan Daerah Satuan Karya Ulama Indonesia NTB yang diketuai Drs. HM Mustamiu- din Ibrahim, S.H., DPRD Mus- tasyar PB NW TGH Muham- mad Saleh Ahmad dan TGH Samar-samar Pengganti Warsito sendiri, bahwa bacagub yang mereka dukunglah yang bakal menang dalam pemilihan gu- bernur mendatang. Argumentasinya bahwa fi- gur yang mereka dukung bakal menang tidak sebatas dengan melihat pertimbangan kalku- lasi kekuatan politik, tetapi berkaitan dengan persoalan agama. TGH Hafidz, pimpinan Ponpes Nurul Iman NW Keru- ak Lombok Timur, misalnya, mengatakan bahwa keyaki- nannya Muharso bakal me- nang tanda-tandanya setelah dia melakukan salat istikha- rah tiap malam. Pendukung figur lainnya juga ada yang mengatakan hal yang sama. Bahkan PB NW yang men- dukung Yudomo melalui pen- jelajahan spiritualnya dengan melakukan salat istikharah melihat tanda-tanda bahwa yang menang itu adalah Yudo- mo. Salat istikharah yang ramai dilakukan masing-masing pen- dukung bacagub mudah-mu- dahan tidak sebatas dijadikan sebagai alat legitimasi politik" untuk memberi keyakinan ke- pada masyarakat, terutama anggota DPRD agar bacagub yang didukungnya dipilih oleh anggota DPRD. Jika hal ini ter jadi, taruhannya terlalu mahal karena kita telah menyentuh wilayah keagamaan yang me- mang tidak pantas dijadikan alat legitimasi politik. Kaburnya spekulasi siapa yang bakal menggantikan Warsito sebagai gubernur NTB memang makin menarik sekaligus bisa menghilangkan rasionalitas politik dengan mencari-cari argumentasi poli- tik agar figur yang didukung- nya memenuhi persyaratan untuk muncul menggantikan Warsito. Tetapi di NTB kondi- si semacam ini terlihat belum terjadi. Argumentasi-argumentasi politik yang muncul sebagai persyaratan figur pengganti Warsito masih berada di dalam koridor rasionalitas politik. Katakanlah seperti yang dilansir harian ini (BP, 6/4) anggota DPR-RI asal NTB Dr. Burhan D. Magenda me- ngatakan bahwa figur guber- nur NTB pasca-Warsito yang diharapkan muncul nanti ada- lah figur yang mampu berbi- cara masalah pertanian pada tingkat nasional dan interna- sional. Artinya, figur tersebut mengetahui masalah perta- nian secara umum. Kalau demikian argumenta- si Burhan D Magenda, inter- pretasi politik yang muncul bahwa secara implisit Burhan D Magenda mendukung Supar- man yang kini sebagai Irjen Departemen Pertanian. Pada- hal, rumor awalnya ketika ter- jadi deklarasi Jakarta dengan melahirkan lembaga adat NTB Burhan D Magenda disebut- sebut sebagai salah seorang yang menginginkan adanya kader nasional kelahiran NTB sebagai pengganti Warsito. Namun interpretasi politik semacam itu tetaplah sebagai interpretasi politik. Karena bisa saja Burhan D Magenda melihat, bahwa yang mampu berbicara soal pertanian terse- but adalah kader nasional kelahiran NTB. *** Pengurus Besar (PB) Nah- dlatul Wathan (NW) yang ber- pusat di Lombok Timur pada tiap ada momentum politik ibarat neon yang dikerubungi laron. Seperti pada tiap pemi- lu, NW selalu menjadi "rebu- tan" orsospol, terutama di NTB (baca: Lombok) lekat dengan sistem paternalistik, yakni TG (tuan guru) memiliki kekuatan penentu terhadap umatnya. Padahal, sebenarnya NW se- bagai organisasi keagamaan tidak berafiliasi terhadap salah satu orsospol. Lalu Anas Hasyri selain PW Muslimat NW yang diketuai Hj. Siti Raihanun Zainuddin Abdul Madjid. Gambaran itu seolah men- cerminkan kalangan TG di ba- wah naungan lembaga tersebut sepenuhnya mendukung Yudo- mo. Benarkah? Hal itu tak sepenuhnya be- nar. Selain PB NW, di Masjid Mekkah milik Yayasan Pendi- dikan Al-Islahuddy, Kediri, Sabtu (18/4), sekitar 500 ja- maah dipimpin kalangan TG memanjatkan doa untuk cagub (juga) Yudomo yang mereka unggulkan. Acara itu dimulai sejak pk. 11.30, menampilkan TG-TG yang secara bergiliran memimpin pembacaan surah yaşsin. Sedangkan pembacaan ratib yang sangat khusyuk dibawakan TGH Helmy Ibra- him, disusul zikir dan doa oleh TGH Muhibullah dan TGH Moh. Idris. Kata TGH Syihabu- din Asy'ari dan TGH Mukhlis Ibrahim, yang hadir pada aca- ra tersebut, doa itu sebagai ber- kah bagi cagub Yudomo. Untuk memperkuat asum- si Yudomo sebagai figur unggu- lan-yang dipilih Allah SWT secara spiritual pun kalang- an pengurus mengaku telah melakukan salat istikharah (menentukan pilihan). Selain oleh PB NW Drs. L. Hajar yang Ketua Majelis Zikir Kodiriah Na'zabandiah Pringgarata, juga melakukan hal serupa. Namun belakangan seorang TG di lingkungan ranting NW pun mengaku melakukan salat is- memasuki wilayah politik pen- calonan gubernur, PB NW misalnya tidak saja memberi sebatas dukungan terhadap Yudomo, tetapi duku- ngan tersebut diperkuat" de- ngan pernyataan bahwa pilihan itu ditentukan" setelah mela- lui salat istikharah. Begitu juga dukungan terhadap Muharso diakui oleh TGH Hafizd yang juga salah seorang TG NW dari Keruak Lombok Timur telah pula melalui salat istikharah. Hanya sepeninggal TGH Zainuddin Abdul Madjid dan NW menjadi rebutan putrinya kelihatannya terjadi suatu pergeseran. PB NW tampak- nya tidak saja seperti kehilang- an tongkat sebagai penentu dalam sistem paternalistik yang mereka pegang selama ini. Tetapi PB NW diingkari" dan dikecam umatnya. Seperti dilansir harian ini (BP, 26/3) Pengurus Daerah (PD) NW Lombok Tengah mengecam pernyataan H. Ab- dul Hayyi Nu'man yang me- ngatasnamakan PB NW men- dukung Yudomo dalam pemi- lihan gubernur mendatang dan disebut pilihan PB NW tersebut telah melalui proses salat Istikharah. Kini dalam proses pencalo- nan gubernur pasca-Warsito kelihatannya juga demikian. Selain itu, pada tiap ada Tanpa melihat siapa yang momentum politik di NTB membutuhkan siapa atau sia- tersinyalemen TG selalu ikut pa yang merekayasa siapa, turun ke panggung politik. NW yang sekarang sedang Tidak saja TG dari NW, juga terkeping-keping sepeninggal TG-TG lainnya yang bukan pendirinya TGH Zainuddin dari NW. Tidak terkecuali Abdul Madjid karena organisa- dalam pemilihan gubernur si ini menjadi rebutan dua pu- pasca-Warsito. trinya secara eksplisit telah DO the right think! (tal) Bali Post/dok Almarhum TGKHM Zainuddin Abdul Madjid di tengah massa Nahdlatul Wathan. tikharah. Petunjuk dalam is- tikharah justru mengarah pada HL Mudjitahid. Manuver Budayawan M. Yamin me rasa risi dengan manuver- manuver politik yang terjadi belakangan. Pasalnya, TG me- miliki umat yang melimpah, hampir di tiap desa di Lombok. Implikasi yang dikhawatirkan, umat yang sedang dalam pem- binaan intensif di pulau seribu masjid ini akan terpecah belah. "Sehingga visi yang semula mereka perjuangkan akan tera- baikan oleh hal yang sifatnya sesaat," kata Yamin. Ia mengatakan, belakangan jumlah TG makin bertambah banyak. TG yang dikenal sejak abad ke-18, pada masa kini sudah terseret pada arus poli- tik menjelang pemilihan guber- nur. "Hampir semua TG se- karang berpolitik," tukasnya. "Yang ironis, jika ada TG salat istikharah, justru hasilnya berbeda." Mencampurbaurkan agama dan politik, memang sebuah hal yang absurd-lebih absurd daripada sekadar berpolitik. Paling tidak, umat dibuat bi- ngung. Menurut pengamat poli- tik yang mantan anggota DPRD, Said Ruhpina, S.H., M.S., tidak pada tempatnya salat istikharah dalam kaitan politik yang serta merta mem- bawa ribuan umat, kecuali jika salat meminta petunjuk akan sesuatu yang bersifat pribadi. "Sebab nanti semua TG akan salat istikharah. Nah, bagai- mana kalau hasilnya berbeda- beda. Umat akan makin bi- ngung saja kan?," tukasnya. Terlepas dari masalah key- akinan tadi, kalangan TG me mang sudah membanjiri DPRD NTB dengan berbagai surat dukungan aspirasi. Selain Yo- domo, nama Mudjitahid (Bu- pati Lombok Barat), Kol. Iping Somantri (mantan Danrem), H. Lalu Azhar (Wagub NTB) dan Muharso (mantan Kakanwil Depkes NTB) pun diunggulkan beberapa TG di Lombok. Mudjitahid misalnya, diung- gulkan Yayasan Qomarul Huda Bagu pimpinan TGH Lalu Muh. Sidiq, Yayasan Ashunnah Praya pimpinan TGH Abdul Waris dan Yayasan Al Hafiziyah pimpinan TGH Lalu Muad. Sedangkan Muhar- so didukung 125 organisasi- termasuk di antaranya organ- isasi keagamaan baik di Lom- bok Barat maupun Lombok Tengah. Yang paling seru justru dukungan pada Yudomo. TGH Hulaimy Umar, pimpinan Pon- pes Al Umariyah, Praya Barat, TGH Mohammad Nizom (pon- pes Istihadul Ishlah), TGH Muslih (Ponpes Rabithaus Sa'adah) dan beberapa TG yang tak mungkin disebut satu per satu- mendukung Yudo- mo. Memang, Yudomo, selama menjadi Danrem, dianggap sangat dekat dengan kalangan ulama. Sehingga begitu gong penjaringan dipukul, TG ber- munculan mendukungnya. Kata Wakil Ketua DPRD NTB, KH Anwar MZ, partisipasi itu merupakan indikasi mening- katnya kesadaran politik ma- syarakat. Lima tahun lalu, kata dia, hanya surat aspirasi yang NPC kini di Graha Nokia Bali! Jangan lewatkan penawaran spesial selama pembukaan. Bergegaslah! Hanya berlaku hingga 31 Mei 1998 atau selama persediaan masih ada. • Check up dan servis gratis (tidak termasuk suku cadang) • Headset kit gratis bagi 100 pembeli pertama Nokia 3810 dan Nokia 6110 • Tukar tambah khusus ponsel Nokia (hingga 15 Mei 1998) • Tas Nokia eksklusif bagi 100 pembeli pertama N 6110 000000 masuk, belakangan warga pen- dukung langsung mendatangi DPRD di samping membawa surat aspirasi. "Banjir surat aspirasi dari kalangan TG akan menjadi baik jika datang dari penilaian dan daya analitis yang cermat, kata Rektor Universitas Gu- nung Rinjani (UGR) Moh. Ali B. Dahlan, S.H. didengar. Namun yang me- narik, jarang kalangan TG mempermasalahkan lebih jauh jika figur yang diunggulkan ternyata tidak jadi. Dampak dukungan terha- dap figur terpilih cenderung bersifat internal. Sebagai con- toh ketika Warsito terpilih se- bagai gubernur lima tahun lalu, NW yang semula menjagokan Wiresentane, merasa dianak- tirikan. Tiap kali kita mengun- dang gubernur dalam acara- acara besar, beliau selalu tidak hadir dan mewakilkan pada bawahannya," kata salah seo- rang pengurus PB NW. Hal ini memang belum di- carikan konfirmasi kepada gu- bernur setempat, apakah ke- tidakhadirannya akibat keke- cewaan atau alasan lain. Teta- pi berbagai pihak mengakui, dampak dukung-mendukung cagub sangat luas mempenga- ruhi visi dakwah (silaturrah- mi). Lantas, mengapa langkah yang mengandung preseden buruk ini masih dilakukan. Apakah keberadaan mereka cuma jadi alat, atau justru murni partisipasi? Pertanyaan ini, memang masih sulit di- jawab. Jika menjadi alat, alat- nya siapa. Kalau murni, mung- kinkah dalam situasi politik sekarang. Kata sejumlah sumber, be- Tetapi Ali menangkap ke- berapa tahun lalu sempat ter- san, TG belakangan dimobilisa- jadi peristiwa dalam kam- si tim sukses yang mendatangi panye, di mana salah satu OPP mereka dengan tawaran-tawa- memberikan seperangkat kom- ran" tertentu. Ditanya apa la- puter ke salah satu ponpes yang tar belakang TG mau mem- dipimpin TG kenamaan. Keti- bantu", ia menduga, "Masalah ka TG tadi ternyata tidak men- yang dihadapi TG sekarang dukung OPP itu, komputer di- adalah ekonomi. Karena mere- tarik kembali dengan alasan ka miskin sehingga gampang salah alamat". diperalat untuk tujuan politik." Namun ia buru-buru me- nambahkan, itu hanya dilaku- kan sebagian kecil TG. Masih banyak yang menyuarakan as- pirasi berdasarkan penilaian yang matang tanpa iming- iming mendapatkan bantuan. Tak Berpretensi Said Ruhpina berpendapat, TG rata-rata bersikap lugu, ju- jur dan selalu ingin memban- tu. Dalam keadaan begitu, tidak ada pretensi TG untuk berpikir lebih jauh apakah ia dijadikan alat politik orang- orang tertentu atau tidak. Karena itulah, TG harus diberi pengetahuan politik sehingga tidak gampang diperalat," kata Said. Sebab banyak pertimba ngan yang membuat oknum oknum tertentu memperalat TG. Pertama, TG memiliki massa dan kedua, power TG bisa diterima masyarakat NTB, sehingga suaranya "wajib" tak ada yang Menurut Said, tiap warga negara, siapa pun ia, berhak untuk menyuarakan aspirasi- nya. Terlebih bagi kalangan TG yang notabene berkepen- tingan terhadap kemajuan daerah. "Sulit untuk membata- si TG tidak menyalurkan as- pirasinya, karena TG pun manusia yang tidak lepas dari kepentingan-kepentingan dalam mencapai tujuan," tukasnya. Antara kepentingan umat secara internal dan kepenting- an pembangunan dalam arti luas, sudah saling berhubung- an. Sehingga masing-masing memiliki sisi-sisi yang baik un- tuk diperjuangkan: ya politik, ya dakwah. Praktis, bursa cagub menjadi arena kompeti- si yang makin memanas. Karé- na tanpa dukungan TG, rasa- rasanya pencalonan gubernur belum pas. (rab) sebaik Nokia dalam melayani pelanggan NPC Pusat Layanan Nokia Apa pun yang Anda butuhkan dari Nokia kini tersedia di bawah satu atap 2 NOKIA 3 NOKIA NOKIA Hee Benery NOKIA 00000 5 N 3810 Koleksi lengkap ponsel Nokia bergaransi dan. aksesorinya Pilihan jaringan operator terlengkap Harga promosi spesial Staf ahli yang profesional Servis kilat 30 menit* dan pemasangan car-kit SUZUKI INOVASI TIADA HENTI Suzuki Shogun Color Rendition Chart bersambung... C. 1000 Graha Nokia Ball: Kuta Centre Blok F1-F2, Jl. Kartika Plaza No.8x, Kuta, Bali Tel: (0361) 753528, 753475 Fax. (0361) 753407 Graha Nokia Service Center didukung oleh PT. Indosel Hanya berlaku untuk tipe ponsel tertentu NOKIA CONNECTING PEOPLE U. 25374 2cm
