Tipe: Koran
Tanggal: 1992-11-23
Halaman: 04
Konten
Color Rendition Chart 2cm 4.SENIN LEGI, 23 NOVEMBER 1992 OPINI Realisasikan Perbandingan Pembangunan Rumah PERBANDINGAN 1:3:6 membangun perumahan kita harapkan tidak lagi jadi impian atau merupakan "political will", tapi jadi suatu kenyataan dalam waktu tidak terlalu lama lagi. Penegasan pihak pemerintah, pendapat golongan pengusaha di bidang ini, apalagi akan adanya SKB tiga menteri (Mendagri-Menteri PU dan Menpera), dapat merupakan dasar yang kuat guna melangkah ke arah itu. Mendorong semua kalangan yang terkait, membangun pemukiman yang bukan hanya merupakan bangunan fisik semata-mata, tetapi mewujudkan lingkungan kehidupan masyara- kat yang layak huni. Tidak ada lagi pandangan yang memamer- kan kawasan perumahan mewah dan pemukiman yang kumuh. Tidak nampak beda yang menyolok antara rumah yang harganya puluhan bahkan di atas Rp 100 juta dan rumah-rumah yang dibangun asal-asalan saja dengan bahan seadanya, karena pendapatannya pas -pasan saja, di atas tanah entah siapa yang punya. Tempat tinggal yang mirip getto, bunker, slump harus digusur, mengikuti irama kemajuan dan modernasi. Bila sudah terealisasi tidak akan ada lagi kepincangan sosial. Penghuninya yang sebenarnya merupakan pilar-pilar kuat bagi tumbuhnya suatu kota, baik sektor formalnya, kebutuhan hidup penduduknya yang berhasil mengenyam kelebihan-kelebihan, berada dalam satu pemukiman yang layak huni dengan dukungan fasilitasnya yang dapat memenuhi semua kebutuhan hidupnya sebagai manu- sia. Kalau pemerintah telah banyak melakukan upaya seperti Inpres 5/1995, guna meniadakan pemukiman kumuh ini, tinggal menunggu langkah konkrit dari pengusaha atau developer. Fungsi sosialnya harus makin ditonjolkan. Sampai sekarang masih lebih banyak terdengar berita tentang makin kuatnya daya beli masyarakat kota besar, guna memperoleh rumah-rumah mewah. Atau pameran yang menampilkan produksi dalam negeri yang hanya patut dan dapat dipakai untuk rumah mewah. Juga interiornya dan arsitekturnya. Masih sangat kurang menampilkan karya barefoot architect atau kata Menpera arsitektur yang manusiawi. Hannya mereka yang mempunyai komitmen kuat terhadap masalah kemanusiaan, akan lebih mampu berbicara dengan kalangan rakyat yang tergolong miskin. Dan menemukan bentuk arsitektur yang serasi dengan segala kebutuhan mereka. Fretilin Harus Tinggalkan Impiannya ADA kabar dari Dili yang melegakan hati Bangsa Indonesia. Pemimpin Gerakan Pengacau Keamanan Fretilin, Xanana Gusmao (45), dapat ditangkap oleh satuan ABRI di Dili, Timor Timur. Kita pantas merasa lega, karena dengan tertangkapnya gembong itu, diharapkan bahwa gangguan di Timor Timur segera padam dan pembangunan dapat lebih dipercepat. Xanana Gusmao (dulu sering disebut Xamana Gusamo) adalah pemimpin Fretilin yang selama ini memprovokasi penduduk Timor Timur agar menentang integrasi ke Republik Indonesia. Sejak tahun 1975 ketika Timtim ditinggalkan begitu saja oleh penjajah Portugal, Fretilin yang merupakan partai berhaluan komunis memang tidak setuju kalau Timtim berintegrasi ke Indonesia. Sedangkan partai lainnya yaitu UDT, Kota, Trabalista, dan Apodeti, sejak pergolakan (lebih tepat disebut perang saudara) tahun 1974 ingin berintegrasi ke Indonesia. Tatkala integrasi benar-benar terjadi pada 1976, Fretilin lalu menempatkan diri sebagai gerakan pengacau keamanan. Sebagian anggota Fretilin ada yang lari ke Australia, melakukan kegiatan dari sana. SUATU hal yang aneh kita amati selama ini, yakni walau Portugal sudah meninggalkan begitu saja wilayah jajahannya tersebut, tetapi masih mengaku punya yurisdiksi atas Timor Timur. Undang-undang dasarnya yang menyebutkan Timtim sebagai bagian wilayahnya, juga tidak diubah. Dengan dasar sikap itulah Portugal selalu memunculkan persoalan Timtim di forum PBB. Bahkan tak lama setelah terjadi Peristiwa 12 November 1991 di Dili, Portugal menggunakan kesempatan untuk mengangkat masalah itu dengan pelayaran kapal Lusitania Expresso yang dinakodai Luis dos Santos, ke Timor Timur. Dalam pelayaran itu ikut serta mantan Presiden Portugal, Antonio Ramallo Eanes. Berkat kesiap-siagaan pasukan kita, pelayaran itu tak berhasil mendekati Dili. Salah satu bentuk terobosan kita sudah mengenalkan pula rumah susun. Pembangunannya tidak seratus persen untuk hunian saja. Terdapat bagian-bagian yang diperuntukkan bagi keperluan bersama. Bagi keluarga, anak serta kebutuhan hidup lainnya. Suasana semacam ini pasti akan menumbuhkan gairah yang dapat meningkatkan produktivitas kerja. Beda dengan rumah susun di negara barat yang kini sudah mulai ditinggalkan, hidup dalam sermacam kurungan persegi empat, anaknya disebut anak kunci, karena dikalungkan kunci, hingga kalau pulang dari sekolah bisa masuk rumah, mengunci diri pula. Kondisi semacam ini banyak menimbulkan penyakit neurose dikalangan orang tua, dan kekangan terhadap pertumbuhan jiwa sehat anak-anak. Kerjasama antara pemerintah dengan swasta, dari bentuk subsidi silang seperti Proyek Kampong Improvement Progamme (KIP) yang berhasil dilakukan di Surabaya, menggunakan tanah desa, pembebasan tanah dengan penggantian tanah lain, dapat digunakan guna melancarkan terealisasinya perbandingan 1:3:6 (untuk pembangunan satu rumah mewah, diwajibkan memba- ngun tiga rumah sedang dan enam rumah sederhana). Alasan sulit pembebasan tanah, lahan terbatas kurang layak diperdengarkan lagi. Kalau pembangunan rumah sedang dan sederhana terpaksa Anak Masa Kini diadakan di tempat lain, tidak memperlihatkan adanya kepinja- ngan sosial lagi, tapi keserasian dalam keseimbangannya. Kawasannya menampakkan bangunan rumah yang layak huni dengan segala fasilitas pendukungnya guna memenuhi semua kebutuhan hidupnya. Tinggallah sekarang menunggu pelaksana- annya. Semua saling memberi, menggunakan hak tanpa melupa- kan kewajibannya terutama yang sosial. Operasi yang dilakukan Pemerintah Indonesia, hanyalah perwujudan dari konsekuensi atas kesanggupannya menerima pernyataan integrasi rakyat Timtim. Sikap konsekuen dan konsisten Indonesia juga sudah ditunjukkan dengan dilaksa- nakannya pembangunan yang pesat di Timor Timur. Dulu, zaman Portugal masih bercokol di Timtim, pembangunan macam itu tak pernah dilakukan. Jalan aspal jarang dijumpai, walau Portugal selalu mengangkut hasil hutan dan perkebunan ke luar Timtim. Sekolah dan rumah sakit atau balai pengobatan juga tidak diperhatikan. Sedangkan sekarang, perguruan tinggi pun sudah dibangun di Timtim, rumah sakit serta tenaga paramedisnya disediakan oleh pemerintah Indonesia. MENYAKSIKAN dan mengalami sendiri perbedaan zaman Portugal dan zaman integrasi, seharusnya para anggota Fretilin sudah membuang jauh-jauh impiannya. Apalagi kalau diingat bahwa Australia yang mereka harapkan mau mendukungnya, malah sudah (sejak 1978) mengakui bergabungnya Timtim menjadi wilayah Indonesia. Kalau belakangan ini Portugal punya niat mengadakan pembicaraan langsung dengan Indonesia menggunakan peranta- raan PBB, rasanya memang itulah jalan terbaik dan terhormat baginya. Sebab, kalau masalah Timtim tidak segera selesai, citra pemerintah Portugal akan hancur di mata rakyatnya sendiri. Lebih-lebih kalau nanti ada pihak ketiga yang membeberkan kemajuan Timtim dalam era integrasi. BERNAS BERNAS Pemimpin Umum: Kusfandi Wakil Pramono BS Pemimpin Redaksi : Abdurrachman Wakil: AM Dewabrata, R. Subadhi Redaktur Pelaksana: Trias Kuncahyono, J. Roestam Afandi Wakil: Bambang Sigap Sumantri, Y.B. Margantoro, Sulaiman Ismail Manajer Produksi : Yusran Pare Sekretaris Redaksi: Ny. Arie Giyarto. Penerbit: PT Bernas ISSN: 0215-3343 Konflik Nilai dalam Remaja perkembangan berjalan secara "sinergik", serentak, selaras, serasi, seimbang. Namun terka- dang ada anak yang bongsor, namun lugu. Ada anak yang sudah siap nge-seks, tapi kepri- badiannya labil. Eric Erikson mencoba melukiskan perkem- bangan manusia sebagai pertau- tan antara dua kekuatan yang berkonflik. Anak-anak pra re- maja, mengalami konflik untuk rajin atau "minder". Kalau mere- ka berhasil melampaui tahap ini, maka kepribadian mereka bakal kooperatif dan pandai. Remaja-remaja mengalami konflik antara kejelasan identi- tas dengan kekacauan identitas. Kalau mereka berhasil melalui tahap ini, maka kepribadian mereka bakal setia dan suka menolong. Sementara bila mere- ka sudah sampai pada tahap dewasa awal, maka mereka SIUPP: SK Menpen No 110/Menpen/SIUPP/A.7/1986, tanggal 22 Maret 1986. Redaktur: Agoes Widhartono, Baskoro Muncar, Giyarno MH, Hari Budiono, Ireng Laras Sari, LB Indrasmawan, Putut Wiryawan, Rs Rudhatan, Sigit Setiono. Staf Redaksi: Anis Suryani, Anggit Nugroho, Basili, Bambang Sukotjo, Daniel Tatag, Dedi H Purwadi, Eddy Hasby, Endah Saptorini, Farid Wahdiono, Handoko Adinugroho, Herry Varia Deriza, Krisno Wibowo, Mantoro FX, Nuruddin, RHA Sarjana BS, Rr. Susilastuti, Suroso, Suryanto Sastroatmodjo, Sugeng Prayitno, Tertiana Kriswahyuni, T. Poerya Langga, Tarko Sudiarno, Wineng Endah Winarni, Yuliana Kusumastuti. Kehidupan SEBAGIAN orang percaya bahwa masalah yang dihadapi keraton Solo hari-hari ini, ketika PT Bimantara Siti Wisesa akan mendirikan hotel dan menggu- sur keputren, adalah masalah pelecehan budaya. Hanya se- bagian kecil saja yang melihat masalah ini sebagai masalah konflik kepentingan, conflict of interest, antara berbagai pihak yang perlu diselesaikan dengan negosiasi. Tetapi, karena bar- gaining power dari pihak kera- ton dalam hal ini Sri Susuhu- nan Pakubuwono XII- amat lemah, maka hampir mokal rasanya negosiasi berjalan sesu- ai asas "sama-sama menang". Begitu pun isu tentang berbagai tingkah polah remaja hari-hari ini. Majalah Editor mengung- kapkan hasil polling dan menemukan bahwa lebih dari 40% remaja SLTA di Jakarta sudah melakukan hubungan seksual pranikah. Lalu temuan dari psikolog Sarlito Wirawan (mudah-mudah- an salah cetak), lebih dari 80% remaja SLTA di Jakarta sudah melakukan hubungan seksual pranikah. Apakah sebenarnya yang terjadi? Pelecehan norma- norma susila masyarakat; atau masalah kebutuhan serta cara memenuhinya? Karena isu ini ditimpal oleh isu perkelahian antarpelajar, plus perompakan bus kota oleh para pelajar di ibu kota; maka selesailah ru- musan masalahnya: Kenakalan Remaja - Juvenile Delinquency dan Opportunity Maka, kenakalan itu sudah jadi kultur yang punya struktur. Satu subkultur yang mau tak mau mesti dilewati sebagian dari remaja-remaja yang memi- liki kesempatan untuk bersing- gungan dengan subkultur tadi; baik lewat aktor-aktornya, kegi- atannya, bahkan isunya. Tidak- lah mengherankan bila nenek SERING terdengar keluhan para orangtua, khususnya para ibu, bahwa mendidik anak di lingkungan perkotaan merupa- kan tugas yang sangat berat pada masa sekarang. Mereka tidak tahu pedoman apakah yang harus diikuti agar anak mengikuti dan memilih jalan yang baik, tumbuh sebagai orang dewasa dan melakukan perannya di kelak kemudian hari sesuai norma-norma yang berlaku di masyarakat. Ada yang dilanda ketakutan, karena anak kenalannya putus sekolah, terlibat perkelahian, pecandu alkohol dan obat bius, atau kawin "paksa". Pendek kata, ada kecemasan di kalangan orangtua, bahwa dalam perjalanan hidup seorang anak, banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Dan pada gilirannya, anak tumbuh jauh berbeda dengan apa yang diha- rapkan, gaya hidupnya bertolak belakang dengan harapan o- rangtua dan masyarakat. Paulus Hadisuprapto Diklat KMSI Diklat Penulisan Kreatif Ma- hasiswa yang diselenggarakan KMSI (Keluarga Mahasiswa Sastra Indonesia) Fakultas Sastra UGM ternyata mendapat kepe- dulian yang tinggi dari para peserta. Satu di antara buktinya adalah surat pembaca yang ditulis Anton S Yanto di Bernas (19/11-92). moyang kita dulu bilang: Aja cedhak kebo gupak, jangan melibatkan diri pada godaan. Data-data di atas mengejut- kan, karena akhir tahun 80-an, penelitian-penelitian serupa di beberapa tempat sudah cukup mengguncangkan dengan ang- ka-angka seputar 5% remaja sudah melakukan hubungan seksual pranikah, baik di Yogya maupun Semarang. Sementara itu penelitian dari John Hopkins University di Amerika Serikat menunjukkan bahwa remaja- remaja lepas SLTA, yang pria 60% sudah melakukan hubung- an seksual. Sedang, yang putri 40%. Darmanto Jatman Inilah bukti dual standard dalam kehidupan moral Ameri- ka. Pada satu sisi sangat menun- tut kesucian calon-calon presi- dennya, pada sisi lain sangat membebaskan masyarakatnya untuk melakukan sesuatu secara bebas sesuai dengan keputusan akal sehat mereka. Nyonya Bet- ty Ford pernah dituduh membe- ri peluang remaja untuk mela- kukan hubungan seksual, hanya karena dia berkata bahwa rema- ja-remaja itu membutuhkan perhatian yang lebih besar. Dan lebih besar lagi, karena mereka sudah melakukannya pada ma- sa yang terlalu awal untuk bisa bertanggung jawab. Isu tentang moral dan keluarga inilah yang dilontarkan oleh presiden Geor- ge Bush dan wakilnya Dan Qu- ayle sewaktu menghadapi calon presiden Bill Clinton. Mereka ingin Amerika kembali pada ke- luarga yang kukuh memegang norma-norma yang lebih puri- tan. DARI ANDA Pengirim rubrik ini harap melampirkan fotokopi KTP atau identitas lainnya DENGAN tertangkapnya Xanana, terbukti bahwa tokoh yang mereka anggap mempunyai kesaktian itu ternyata juga orang Tanggapan Panitia pengganti tersebut termasuk biasa. itu mestinya menjadi bahan bagi penduduk yang masih bermimpi untuk memisahkan diri dari Indonesia dan ingin dijajah kembali oleh Portugal. pembicara yang difavoritkan peserta Diklat. Lebih dari itu, penggantian pembicara disebabkan oleh kondisi yang tak bisa dielakkan. Arwan Tuti Arta sedang menda- pat tugas dari instansinya ke Jawa Timur, sedangkan Rustam F Mandayun terlibat masalah penting berkaitan dengan jabat- annya sebagai Kepala Biro Tempo Cabang Yogyakarta. Pemimpin Perusahaan : A. Kardjono Wakil: Bimo Sukarno Erich Fromm juga menunjuk- kan, bahwa banyak orang A- merika mencoba lari dari kebe- basannya karena takut mesti Alamat Redaksi/Tata Usaha : Jl Jend. Sudirman 52, Yogyakarta 55224 Telepon Semua Bagian: 61211 (PABX) Fax: 64062 Tumbuh di belantara sistem nilai Kingsley Davis (seperti diku- tip T.O Ihromi) mengemukakan tiga faktor universal penyebab terkondisinya situasi kesenjang an antara generasi tua dan anak. Pertama, perbedaan siklus kela- hiran yang dilalui oleh kedua belah pihak. Secara sederhana hal itu dapat dijelaskan, bahwa selama siklus hidup, seseorang terbuka terhadap pengalaman- pengalaman yang sangat berke- san selama dia mengalami pro- ses asuhan. Potongan penga- laman sejarah yang dialami orangtua dan anak jelas berbe- da, dan artinya pun jadi sangat berbeda. Kedua, merupakan kenyataan bahwa sukar sekali bagi generasi tua untuk meru- bah pendiriannya mengenai sesuatu hal (kopijg), walaupun pendiriannya itu sering karena kemajuan zaman sudah tidak memadai dan cocok lagi. Ketiga, faktor yang khas bagi masyarakat yang mengalami proses industrialisasi, yakni Pertanyaan pertama menge- nai penggantian pembicara selama Diklat yakni Arwan Tuti Arta yang digantikan Agnes Yani Sardjono membahas Penu- lisan Cerpen dan Rustam F Mandayun yang digantikan Agus Noor untuk membahas Proses Kepenulisan Kreatif Sebagian besar peserta tidak mempersoalkan penggantian itu dan para pengganti pun telah diupayakan panitia untuk men- dapatkan kualifikasi yang sepa- dan. Berdasarkan 97 angket yang Kemudian tentang tiadanya makalah dari Prof Dr Umar Kayam dan Suwarsono MA, karena kedua pembicara me- mang tidak bersedia membuat makalah. Jadi panitia tidak ber- hak memaksanya. Bisa jadi de- ngan asumsi pemberian maka- lah justru akan menjadikan perhatian peserta terpecah. Sedang untuk dokumentasi, pembicara tanpa makalah dian- tisipasi panitia dengan rekaman kaset dan penyempurnaan notu- lensi. Panitia telah memperhi- masuk dari 112 angket tungkan kemungkinan-kemung- yang disebar, kedua pembicara kinan tersebut secara matang. Pelaksana Pemimpin Perusahaan : Bambang Trisno Manajer: Sirkulasi: Sugeng Hari Santoso, Iklan: Bimo Sukarno, Gunawan Wibisono (Wakil), Promosi: Indro Suseno, Keuangan: Daryono, Umum: Gunawan Wibisono, Personalia: Isnu Hardoyo. Tumbuh di Belantara Sistem Nilai dengar kudangan itu). Mungkin kinan yang dapat terjadi pada saat kini, orangtua ngudang diri anak. anaknya nanti tumbuh besar menjadi "MBA" atau "Konglome- rat", dan entah apa lagi. perubahan yang menjadi bagian integral dari masyarakat demiki- an. Dalam suatu masyarakat di mana tradisi masih kuat dan perubahan sosial belum menjadi gaya yang sudah diterima, ke- senjangan antargenerasi sedikit saja riaknya. Lain halnya bila perubahan sosial itu berlang- sung secara berkesinambungan -- lazimnya terdapat dalam ma- Maka syarakat industrial - salah satu konsekuensi dari kesinambungan perubahan ma- syarakat itu ialah ketidakpastian. Masa depan merupakan tanda tanya besar. Orangtua merasa kebingungan pola nilai pendi- dikan manakah yang perlu diterapkan atas anak-anaknya untuk mengantisipasi peranan anak di masa datang yang serba tidak pasti itu. Sebagai contoh, orangtua di masa raja-raja sering ngudang anak-anaknya tumbuh besar dan menjadi "priyayi" (tanpa menjelaskan apa yang dimaksud dengan priyayi itu). Lalu dalam, perkembangannya, orangtua mengharapkan anak-anaknya tumbuh besar menjadi "pegawai negeri" (hingga kini masih ter- Tarif Langganan: Rp 9.000/bulan (7 x seminggu) Tarif iklan: Warna Rp 3,000/mmk (minimal 1.215 mmk), Umum Rp 2.000/mmk, Keluarga Rp 1.300/mmk, Kolom Rp 2.000/mmk (minimal 1x30 mm, maksimal 1x150 mm), Mini Rp 1.500/baris (minimal 3 baris, maksimal 15 baris). Semua ditambah PPN 10% BANK: Lippo Bank Sudirman Yogyakarta AC 787.30.0386.5, Bank Niaga AC 211.2078.2 BANK BNI '46 Rek No. 008561001 Yogyakarta, Rekening Dinas & Giro Pos: J 11848 Percetakan : PT Muria Baru Offset Yogyakarta Isi di luar tanggung jawab Percetakan bertanggung jawab. Mereka membunuh orang, dan berpura- pura gila ketika ditangkap poli- si. Bahkan, 85% remaja pria me- ninggalkan pacar mereka ketika tahu Itulah sebabnya kenapa buku Sol pacarnya hamil. Gordon dan Judith Gordon Raising A Child Conservatively In A Sexually Permissive World jadi amat diperlukan. Ternyata, orangtua-orangtua di Amerika juga amat mengkhawatirkan perilaku seksual anak-anak mereka. • Biro Jakarta: J Soetardjo (Koordinator), Marcel Weter Gobang (Sekred), Manuel Kaisiepo, Richardus Satrio Hutomo, Ferdinand Matita, Arief Sofiyanto, Doddy Barnas, Josef Umarhadi, Rochyati, Yosef Suhimno, Alex Palit, Ries Mariana, Herryanto Prabowo, Heroe Baskoro, Budi Purnomo, Ermansyah Rachman, Nanik Ś Deyang, Andy Pribadi, Ratih Prahesti Sudarsono, Drajat Wibawanto, Daryadi Pribadi, Tatang Suherman, Paulus Sulasdi, Victorawan M Sophiaan, Tonnio Irnawan, Sugiyanto, A M Putut Prabantoro, Yan Supriyatna, Agus Setyabudi, Waris S Haroen, Antonius Bramantoro. (Jalan Palmerah Barat 33-35, Jakarta 10270, Telepon: 548363, 5495359, 5483008, 5490666 (ext: 4340-4341), 5494999, 5301991, 5495077, 5495006, (ext: 300-3005). Fax: 5495360 Semarang: Yupratomo Dwi P (Koordinator), Suherdjoko, Heru Prasetya, Yohanes Agus Ismunarno (Jalan Menteri Supeno No. 30 Telp. 319659) Solo: Mulyanto (Koordinator), Joko Syahban Panggih (Jalan Slamet Riyadi No. 284 Telp. 42767) Purwokerto: Sigit Oediarto. Di sinilah apa yang kita sebut sebagai konflik nilai berlang sung. Banyak orangtua yang tak sanggup jadi hipokrit, karena mereka semasa mudanya sudah melakukan hal yang sekarang dilakukan oleh anak mereka. Mereka juga tahu, tidak akan mencegah seseorang untuk tidak melakukan itu (hubungan seksual). Karenanya, banyak remaja yang merasa sa-ngat terjajah oleh orangtua mereka, karena menganggap hubungan seksual hanya jadi hak orang dewasa saja. Mereka membe- rontak. Dan kali ini bukan rebel without a cause, karena mereka menganggap orang-orang dewa- sa terlalu egoistis. "Pemilu ha- nya untuk orang dewasa. SIM hanya untuk orang dewasa. Seks hanya untuk orang dewa- sa. Apalagi?!". Nah. Konflik nilai di sini telah jadi konflik kepentingan. Karena- nya, Sol Gordon dan Judith Gordon lebih suka mengajak remaja memahami pertumbuhan dan perkembangan diri mereka sampai mereka tahu, siap, mam- pu dan bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan. Perkembangan moral Alam mengatur agar berbagai akan mengalami konflik antara intimitas atau isolasi. Kalau berhasil, mereka bakal mampu mencintai orang lain. Tampak- nya ini merupakan sesuatu yang wajar saja. Namun Erich Fromm menunjukkan, bahwa banyak o- rang yang tak mampu mencintai dengan benar. Mereka cuma si- buk agar dicintai orang, tetapi sungguh sungguh untuk hor- mat, emhan, appreciate dan tang- gung jawab pada orang yang mereka cintai. Panitia Diklat Penulisan Kreatif Mahasiswa KMSI Fakultas Sastra UGM Yogyakarta Sayang, banyak orang yang kemudian mereduksi gagasan Erich Fromm tentang seni men- cinta ini dalam bentuk norma- norma, termasuk norma seksual. Informasi Lembaga Penelitian Bidang penelitian menunggu para sarjana (Bernas 17/11-92 kolom opini). Disebutkan pula LIPI sebagai lembaga penelitian kekurangan tenaga peneliti. Sebagai sarjana sebetulnya saya berminat sekali untuk ter- jun di bidang penelitian. Akan tetapi sejauh ini saya kurang informasi tentang lembaga-lem- baga penelitian yang ada di negara kita. "Kalau cinta ya jangan cium dong. Cemar!" atau "Bukan cinta itu namanya kalau nafsu!". Di sinilah kita perlu mengingat kembali berbagai teori perkem- bangan moral manusia seperti yang ditulis oleh Kohlberg. Bahwa pada awalnya, orang tidak mau melanggar norma itu karena takut hukuman. Kemudi- yang membingungkan. Pada gilirannya, anak lebih mengede- pankan sikap cuek dan mene- lantarkan sikap madbep-manteb membangun masa depan. Interaksi keluarga dan nilai religi Tentang digantinya satu sessi- on akhir dengan acara dialog, bukankah juga atas kesepakatan peserta? Dialog pun tidak keluar dari tema dan justru mendu- kung pelaksanaan Diklat. Peser- ta ternyata menanggapi positif dialog tersebut. Diklat KMSI ambivalen? Inl semestinya tak perlu dipertanya- kan. Sebab, panitia tidak saja memberi materi teori tetapi peserta diberi kesempatan un- tuk berpraktek dari materi yang diperoleh. Adakah Saudara An- ton tidak memanfaatkan kesem- patan tersebut? Padahal, panitia Apalagi di masa mendatang siap dengan tim juri yang bertu- bidang penelitian akan sangat gas mengevaluasi tugas peserta. mendukung perusahaan-perusa- Tabloid dari panitia the old haan swasta di dalam rangka serials number, kenapa mesti mengembangkan produk-pro- old and new-nya yang diperso- duknya. Dengan kata lain bi- alkan? Panitia memberi tabloid dang penelitian merupakan dengan maksud agar peserta kunci untuk mengejar ketinggal- dapat melihat langsung contoh- an kita di bidang Iptek. contoh bentuk penulisan kreatif di dalamnya. Jadi, yang penting bukan wajahnya tetapi isinya. Lebih dari itu, panitia telah berusaha memberikan pelayan- an semaksimal sesuai kontribusi dari peserta, termasuk beasiswa bagi 9 peserta terpilih. Perlu diketahui bahwa hasil Dompet Siapa? angket yang dievaluasi panitia menunjukkan hampir 90 persen peserta Diklat merasa puas atas penyelenggaraan Diklat kali ini. Sebagian diantaranya bahkan meminta diadakan lagi kegiatan - serupa dan ingin yang rutin. Namun demikian, betapapun sulitnya, peran orangtua dalam mempersiapkan masa depan anak yang serba tidak pasti itu tetap diharapkan. Permasalah- annya kini terletak pada pola interaksi yang terbangun dalam keluarga. Dengan pola interaksi tertentu, keluarga tetap dapat mengantisipasi segala kemung- tanyaan: apakah seorang sarjana seperti saya dapat diterima se- bagai tenaga peneliti. Lebih jelasnya bidang-bidang apa saja, dan syaratnya apa saja yang diperlukan jika seseorang akan mengabdikan diri pada LIPI. Kata interakst dalam penger- tian ini bukan saja proses pe nyampaian pesan searah, proses Kebingungan orangtua dalam pengoperan lambang (simbol) memilih pola nilai pendidikan dari sumber pada penerima, pada masyarakat industrial itu tetapi hendaknya mencermin- tentu berdampak pula pada akan pula proses penyampaian nak didiknya, Persepsi dan pesan timbal balik, dari orang- pengharapan antara orangtua dan anak berbeda, ditambah "intervensi" nilai-nilai dari luar rumah, mengakibatkan anak sekolah tumbuh berkembang di hutan belantara sistem nilai tua kepada seluruh anggota keluarga dan sebaliknya. Ka- dang-kadang, proses ini tidak berlangsung dalam kondisi "mulus", tetapi berlangsung da- lam suatu diskusi dan dialog (masing-masing saling mengisi dan berlangsung secara konsis- ten). Sehingga, persepsi dan kehendak masing-masing dapat dimengerti, dan karenanya terta- nam sangat dalam, sehingga sangat berpengaruh pada ma- sing-masing pihak yang terlibat dalam proses interaksi tersebut. Saya memohon alangkah baiknya bila lembaga-lembaga penelitian dapat memberikan informasi kepada masyarakat tentang berbagai hal yang ber- kenaan dengan bidang peneliti- an. Mengingat bidang penelitian sangat penting bagi pemba- ngunan masyarakat dan negara. Muhammad Husni (Sarjana Jurusan Sejarah UNS) Nambangan RT 01 RW 01 Selogiri Wonogiri Hari Minggu (22/11-92) pu- kul 05.00 anak saya menemu- kan dompet tergeletak di depan rumah saya. Dompet berwarna hitam bergambar, berisi: 1. KTP atas nama Prasetya Wahyu Jatmiko, Karangasem, Condongcatur Depok Sleman (sudah habis masa lakunya). 2. SIM C dan Kartu Mahasiswa UGM Fakultas Peternakan, keduanya juga atas nama Prasetya. 3. STNK Honda C 86, AB - 3983 LH atas nama Bambang Setiawan, Jalan Minggiran 54 Mantrijeron Yogyakarta. an, mereka tak mau melanggar norma agar supaya dipuji orang lain. Sesudah itu mereka mela- kukan norma yang benar, kare- na mereka berharap akan diper- lakukan sama. Baru sesudah itu, mereka melakukan norma kare- na tahu bahwa itu penting bagi kelangsungan sistem masyara- kat. Dan pada tahap terakhir, mereka melakukan norma kare- na ini merupakan moral univer- sal. 4. STNK Suzuki FR 80, AB - 4600 EE atas nama Rinedi Sujatmiko, Karangasem Con- dongcatur Depok Sleman. Kepada siapa yang merasa kehi- langan dompet tersebut, dipersi- lakan mengambil di rumah saya dengan membawa bukti diri atau surat lapor polisi. Untuk ini, ada baiknya kita ingat para samurai Jepang yang sangat berdisiplin dalam mela- kukan asas sampai ke normatif- nya. Mereka mesti bertindak sesuai dengan status mereka. Mereka mesti bertindak yang terbaik. Mereka mesti bertindak agar bernilai' dihadapan atasan mereka. Dan mereka mesti ber- tindak hormat kepada orangtua mereka. Kaidah-kaidah ini me- mang berujung pada pengem- bangan otonomi remaja, juga dalam bidang moral. Perilaku moral yang otonom pada remaja memang belum bisa dituntut matang seperti orang dewasa, justru karena Furter menyatakan pada masa remaja inilah perila- ku moral otonom mulai terben- tuk, termasuk, tentu saja moral seksualnya. Selama ini yang saya ketahui Djoko Suripto tentang LIPI hanya secara gram- Jalan Damai JT 1/100 byangan, sehingga timbul per- Pingit Yogyakarta. Karenanya, ungkapan do as your age, bertindaklah sesuai dengan usiamu, perlu diperhati- kan, agar anak-anak tidak dibe- bani hal-hal yang belum mampu mereka pertanggungjawabkan. Di sinilah ungkapan Jawa: Anak polah bapa kepradah, itu berla- ku. Di sinilah kita berhadapan dengan kenyataan sosiologis yang rumit. Secara hormonal, fisiologikal, remaja sebenarnya sudah siap melakukan hubung- an seksual; tapi secara emosio- nal, barangkali belum. Penunda- an usia nikah jadi amat tinggi di atas 25 tahun membuat perilaku seksual mereka pun, jadi terkendala. Banyak dokter yang pada "instansi" terakhir menyetujui masturbasi, bahkan terjadinya hubungan seksual, bila itu membahayakan kejiwa- an seseorang. Penundaan masa nikah da- lam dunia yang semakin terbu- ka - juga secara seksual - mem- buat remaja-remaja terpaksa mengembangkan berbagai pola perilaku seksual yang sering tampak "aneh". Atau, mereka Mengenai pengaruh keteri- katan anak pada orangtua terha- dap pola perilaku anak, dapat dikemukakan contoh hasil studi tentang kenakalan remaja di Kotamadia "Scorpio", (Lihat ta bel). Tidak Mutlak Nur Mashitoh Mahasiswa Fak Ushuludin IAIN Sunan Kalijaga, Yogya kerangka pacaran, tidak setiap pacaran dalam kerangka perka winan. Karenanya, diperlukan jadi moralis yang tega mengarak pria dan wanita yang tertangkap basah dikampungnya ketika se- dang in de boy. Atau, mereka pemahaman tentang berbagai "menarik diri" dari semua kon- kencan lengkap dengan meka- tak lintas seksual; atau mereka nismenya, dan juga pacaran. jadi amat sangat agresif, terma- Pergeseran norma-norma suk memperkosa orang. seksual telah membuat untuk sekelompok orang, ciuman 'se- lamat malam" sehabis kencana- dalah keharusan seperti pe gang-pegangan adalah keharus- an dalam dansa - tetapi bagi se- kelompok orang lain, kencan Sigmund Freud mencatat ber- bagai ego defense seperti "rasio- nalisasi", "sublimasi", "regresi" dan lain-lain, yang maksudnya hanyalah menjaga agar setiap orang merasa aman dalam diri- nya sendiri. Celakanya, banyak rangsangan dari luar yang sering membuat pertahanan diri ini je- bol. Siapakah pada masa ini yang berharap tidak pernah me- lihat adegan seksual lewat film atau video atau televisi atau majalah? Siapakah yang pada zaman ini berharap untuk tidak melihat paha, bokong, dada atau bibir yang seksi, sensual, penuh glamour pun sudah terlalu berlebihan. Ini tidak hanya terjadi di Indo- nesia, juga di Amerika. Banyak orangtua yang memberi peri- ngatan keras pada pria yang sudah mengajak kencan anak perempuannya, biar pun, baru ketemu siang harinya. Karenanya, perlu lebih dike- nal fungsi kencan sebagai "wa- hana pergaulan lintas seksual. supaya tidak cooper, dan ken- can dalam rangka memperkuat cinta dalam pacaran, pemaham- an bersama akan makna serta tanggung jawabnya. Artinya, kencan dan kencan berbeda- beda. Lihatlah bagaimana seo rang boss kencan dengan sekre tarisnya. Begitu pun pacaran, banyak orang yang pacaran sampai amat jauh, sekalipun mereka belum memutuskan untuk nikah. Tetapi ada pula yang menolak untuk pacaran. dengan full contact- dan me- nyatakannya sebagai dosa. Ka renanya perlulah pacaran dile. takkan dalam proporsinya, yak- ni dalam konteks peneguhan cinta menuju ke perkawinan. Dalam hal ini pun perlu kita pahami, bahwa pacaran dan pacaran pun berbeda-beda. Ada pacaran yang hanya sebatas enjoy saja. Karenanya pelatihan to deal dengan situasi-situasi seksual ini amat diperlukan. Kencan dan pacaran, apabila diformatkan dalam kerangka ini akan menja- di sangat berarti bagi kehidupan pasca remajanya kelak. Karena- nya kencan dan pacaran yang sesuai dengan tugas perkem- bangan remaja amat diperlukan! Tugas perkembangan seksual Setiap orang berkewajiban melaksanakan tugas perkem- bangannya masing-masing sesu- ai dengan tahap kematangan dirinya. Seo anak bayi yang lagi menyusu pun sebenarnya sedang melaksanakan tugas perkembangan seksual-oralnya. juga kalau mereka lagi ke WC, menikmati e'ek, mereka sedang melaksanakan tugas perkem- bangan analnya. Juga ketika mereka iseng-iseng memegang "anu" mereka, mereka lagi me- laksanakan tugas perkembang- an genitalnya. Tugas-tugas per- kembangan itu perlu dilakukan tahap demi tahap secara sebaik- baiknya, sehingga tidak menim- bulkan stres atau trauma yang mengganggu perkembangan mereka kelak. Di sinilah arti pentingnya kencan dan pacaran pada masa remaja. Mereka berlatih untuk saling memperhatikan, saling menghormati, saling menyukai, saling bertanggungjawab - yang kemudian dikenal sebagai cinta itu. Tidak setiap kencan dalam Hubungan Kenakalan dengan Keterikatan pada Orang Tua (N = 1500) Tidak Nakal Total Nakal Kuat 240 380 620 Lemah 540 340 880 Total 780 720 1500 Kekuasaan Yudikatif dapat kita pahami dari Ps 24 dan Ps 25 UUD 45. Dalam penjelasan pasal tersebut akan tergambar dengan jelas bahwa, kekuasa- an Yudikatif terpisah dengan kekuasaan Legislatif dan Ekse- kutif, dan kekuasaan Yudikatif adalah "merdeka" tidak terpe- ngaruh oleh Pemerintahan. Akan tetapi ada beberapa campurtangan Eksekutif yang perlu kita tanggapi. Pertama, Ps 31 UU No 14/- 1970 yang menyatakan bahwa, "Hakim diangkat dan diber- hentikan oleh Kepala Negara". Dari sini secara psikologis ataupun moral, seseorang yang diangkat akan merasa segan dan hormat pada peng- Sumber: Penelitian P Hadisuprapto, 1990 Perhitungan Nilai Chi-square dan derajad keandalan memper- lihatkan, bahwa antara keteri- katan anak pada orangtua dan kenakalan anak, terdapat kore- lasi "nyata". Semakin kuat keter- ikatan anak pada orangtua, se- makin kecil kecenderungannya terlibat kenakalan. DEBAT MAHASISWA Pemisahan Kekuasaan Yudikatif-Eksekutif : Dari temuan studi di lokasi penelitian di atas, kiranya bisa disimpulkan bahwa dalam hal tertentu bagaimanapun "kuno" nya orangtua, tetap ia mampu memainkan peran sebagai "pe- nyelamat" anak-anaknya dalam mengantisipasi kehidupan di masa datang. Namun demikian dalam konteks masyarakat in- dustrial yang cepat berubah ini, "kekunoan" orangtua perlu dimodifikasi dengan cara belajar dan jeli mengamati tanda-tanda zaman. Khususnya yang berkait- an dengan pola-pola tata nilai yang tengah dihadapi anak- angkat ini. Dan, sedikit ba- nyak akan berpengaruh dalam menentukan kemandirian Hakim, Kedua, adanya hak Grasi, Amnesti, Abolisi dan Rehabili- tasi yang dipunyai Presiden. Hal itu jelas merupakan pem- batasan terhadap kekuasaan Yudikatif. PEMISAHAN kekuasaan Yudikatif dan Eksekutif menu- rut saya adalah pemisahan yang tidak mutlak, seperti apa yang dicetuskan oleh Montes- queiu dengan teori Trias Poli- tikanya UUD 45 sebagai landasan pelaksanaan kenegaraan, telah mengatur dengan jelas akan pemisahan kekuasaan antara lembaga Legislatif, Yudikatif dan Eksekutif. Namun, sistem yang dianut adalah distributi- on of power bukan separation of power, (pembagian bukan pemisahan) kekuasaan Ps 5 (1) dan Ps 20 (1). Jelas bahwa Mutlak kedua konsep itu berbeda S Agustin Pancaningrum jauh dalam pelaksanaannya. Pemisahan berarti, lepas anta- Mahasiswa Fak Ekonomi UGM, Yogya ra yang satu dengan yang lain- nya dan berdiri sendiri. Tetapi dalam pembagian, masih di- mungkinkan adanya kerjasama antara lembaga Yudikatif de- ngan Eksekutif, juga sebalik- nya. Amerika Serikat yang diang- gap paling baik dalam mene- rapkan sistem pembagian kekuasaan ini, ternyata tidak- lah semutlak yang diharapkan. Ini dapat kita lihat dalam sis- tem kenegaraan yang dianut, yaitu Chek and Balance Po- wer. Yakni, sistem saling me- ngawasi dan mengadakan pertimbangan antarlembaga negara. Jadi, jelaslah bahwa pemi- sahan ini adalah tidaklah mut- lak. *** Rubrik ini mengundang mahasiswa untuk berpendapat tentang tema aktual. Tulisan maksimal dua halaman kwartd spasi rangkap. Dimuat setiap Senin dan Kamis. Dan justru karena itulah, ada baiknya kita kutip Betty Ford ketika ia menyatakan ketidak- percayaannya akan perlunya hubungan seksual pranikah. Te- tapi justru karena itulah, kita perlu mencintai mereka (yang melakukan itu) lebih bersung- guh-sungguh. Maksudnya bu- kan kita menyetujuinya, tetapi agar supaya kita bisa membantu mereka kalau mereka membu- tuhkannya. Suatu sikap yang rumit dan membutuhkan kema- tangan dalam melaksanannya, *** PEMISAHAN itu mutlak perlu, karena memang bersifat konstitusional (lihat Ps 24, 25 serta penjelasannya). Hanya di sini tergantung dari good will penguasa, karena memang hal tersebut merupakan tuntutan demokratisasi di era keterbu- kaan ini maupun masa men- datang. Dikatakan "hanya", karena faktor ini memegang peranan hampir 100% dari suatu proses perubahan yang terjadi di negara kita. Mengi- ngat, penguasa mampu me- ngendalikan dan menguasai supra struktur maupun infra struktur yang ada. Namun demikian, setidak- nya ada dua hal pokok lain di luar itu. Yakni, pertama, kapa- bilitas setiap personal/anggota parlemen (DPR) untuk meru- *) Darmanto Jatman, dosen Undip Semarang anaknya. Sehingga, proses inter- aksi yang berlangsung dalam keluarga itu tetap bisa berlang- sung timbal balik, tidak hanya searah dan didominasi oleh si anak yang merasa "modern" itu. Sejalan dengan tabel di atas, kiranya pantas pula dikemuka- kan pengaruh penghayatan nilai-nilai religi, di kalangan anak (baik nilai-nilai itu dipero- leh dari orangtua atau dari pi- hak lain) mampu pula menjadi "penyelamat" keterlibatan anak pada perbuatan-perbuatan ke- nakalan. Semakin tinggi peng- hayatan nilai-nilai religi anak, semakin tinggi pula kemungkin- annya tidak terlibat kenakalan. Benturan-benturan nilai dari luar yang bersifat kontradiktif dengan nilai-nilai religi berhasil ditepis, sehingga tidak mampu mempengaruhi pola perilaku- nya yang tebal religiusitasnya itu. Hanya perlu dicatat dalam hal ini, bahwa tampaknya pena- naman dan penginternalisasian nilai-nilai religi itu hendaknya jangan dilakukan secara dogma- tis dan normatif. Melainkan dilakukan dengan diskusi dan dialog saling berpendapat dan berargumentasi. **** *) Paulus Hadisuprapto SH MS, dosen Undip Semarang ga tersebut. Kedua adalah, ke- beranian fraksi-fraksi memper- juangkan produk hukum lama untuk digugurkan, yang nota bene memang tidak sesuai de- ngan hukum di atasnya yang seharusnya menjadi dasar. Kapabilitas dan keberanian seolah merupakan hal yang sepele. Namun, hal ini me- mang faktor penting untuk mencapai proses perubahan dari status quo. Tidak bisa dipungkiri, anggota parlemen sampai saat ini hampir sebagi- an besar kapabilitasnya patut dipertanyakan. Memang tidak sedikit pula mereka "vokal" dan pandai membuat move politis untuk kepopulerannya. Namun, kapabilitas mereka untuk merancang dari awal sampai "setengah jadi pun" - yang berupa seperangkat peraturan perundangan ternyata masih jauh dari yang diharapkan. Maka, mereka perlu membuat suatu kelom- pok atau caucus yang terlepas dari pengkotakan fraksional (membebaskan diri dari asal usulnya). Dan, menjadikan caucus itu sebuah team work dengan keinginan dan kemau- an satu, yakni, membuat pro- duk hukum baru untuk lemba- ga yudikatif yang konstitusio- nal, atau sesuai yang diama- natkan dalam UUD 1945. Sedangkan faktor keberani- an tanpa takut direcall atau- pun kadang justru "dicap" ma- kar - mengingat akan menga- dakan perubahan dari kondisi yang mapan (status quo) -- adalah faktor yang tidak mu- dah untuk dilaksanakan para anggota DPR dari fraksi mana- pun. Keberanian melontarkat opini kepada publik, tentang pengguguran pro- duk hukum lama yang tidak sesuai dengan UUD 1945 -hal itu tentunya bukan tindakan makar atau merongrong kewi- bawaan pemerintah. bah produk hukum yang men- dasari tentang eksistensi lem- baga Yudikatif, dan mengaju- kan produk hukum baru (Un- dang Undang) tentang lemba- Dema berikutnya: Tahun 1993 Banyak Bank akan Tutup Kantor Cabangnya? BISNI VALUTA ASI Shilling Austria Dolar Australia France Belgia Dolar Brunei Darusalam Dolar Kanada Franc Swiss Mark Jerman Kron Denmark Franc Perancis Poundsterling Inggris Dolar Hongkong Lira Italia (100) Yen Jepang (100) Ringgit Malaysia Gulden Belanda Krone Norwegia Dolar Selandia Baru Peso Filipina Krone Swedia Dolar Singapura Bath Thailand Dolar AS Bank BTN BPD DIY Bank Summa Bank Jakarta BII BBI Bank Niaga Lippo Danamon TABUNGAN Bank BNI '46 Bukopin BTPN 4cm Daftar Kurs Konversa di Bank Indonesia. H BCA BDN BHS Bapindo BBD BONI Be 18 1.40 Bank Pasar Bank Duta BPR Mandiri SP BPR Danagung R BUN 63 1.25- 1.612 1.44 1.30- 33 38 3.15- 26 145 1.64 81 1.16 31 1.04 8 31 1.25 8 2.05 Tab BDN Tab. Harap Tab. Harap Kesra Mitra Tab. Buda Jumbo Tabung Ma Kesra Dana In Tab. Bank Tamasya Tab. Duta Tab Mandi Tab. Dana Tabunas BUN Aktif Bunawisat BPR Redjo Bhawono Tab. RB BPR Bhumikarya Pala Tabungan Jenis Tabanas Pradana Upakara Terjamin Taperum Sutera Simpeda Tabanas E Kesra Kencana Tabungan Tabungan Kesra Prioritas Produktif Tab Bunga Tahapan Super Sav Tahapan Kesra Primadana Primagold Tabungan Tabanas SiAga Tabanas Si Kosi Tabanas Kesra Tab. Pensi Citra Tahapan Tapres Tabanas Central Sa Tabanas ZOO SENEN, 23 NOV. 10 REPORTE MEMBURU AP INVESTIGA 104 Setiap hari: 07.00-C apa yang diturunka Kejahatan kerah p Sedikitnya 1,5 mill Siapa mereka, ap Baru 3 bulan proy Benarkah penamb Kualitas Pergurua Karena itu harus Obyektifkah mere UNISI BROAD alat tulis MULIA FOTO ALAT TULIS JI. AM. Sangaji 33 A Telp. 63 Yogyakarta Sedia alat-alat tulis / Ka dengan harga grosir. Melayani party dan eceran. bimbingan belaja KARIER UNISA GAM- Program kesempatan berkari Alumni SLTA, Diploma, Sarjan pada bagian : 1. Sekretaris 2. Administrasi 3. Keuangan 4. Jurnalistik Daerah Syarat: Ulet, kreatif dan sanggup mengikuti Pendidikan dengar biaya ringan bagi yang belum berpengalaman Hubungi segera: Jl. Laksda Adisucipto 01 Km. (Timur Kali Gajah Wong) Yk. mesin jahit SINGER, SINGER, SINGER, SING Mesin Jahit, Obras, Zig-zag & Alat2 Dealer "SUMBER HARAPAN Jl. Jend, A. Yani 102, Telp. 3628 Garansi: 3 Th. Service Terjami mobil dijual Dijual segera mrh. Sedan T. Corom 7/T//V/Msn Kond. Mulus, STNK Hrg. 4,5 jt. Hubungl Ny. Ha Munengan KR V/144 Sidoluhur Go
