Arsip
Halaman Artikel
Creative Commons License

Jika anda mendapati gambar tidak sesuai dengan spesifikasi data (salah tanggal dan atau salah penomoran halaman), posisi gambar landscape, satu gambar terdapat dua halaman, kualitas gambar kabur, anda bisa melaporkan data tersebut agar segera diperbaiki dengan menekan tombol laporkan.

Kata Kunci Pencarian:

Nama: Bernas
Tipe: Koran
Tanggal: 1992-12-29
Halaman: 04

Konten


2cm Color Rendition Chart 4. SELASA PAHING, 29 DESEMBER 1992 OPINI Tempat untuk Para Pedagang Kecil ORANG Jakarta mengenal betul warung tegal, yakni rumah makan kecil-kecilan kadang menggunakan tenda, yang memasang tarif murah. Nama itu dulu berasal dari nama kota di Jawa Tengah, Tegal. Para pemilik warung tegal, pada mulanya memang hanya orang-orang asal Tegal dan sekitarnya. Sekarang, warung makan sejenis itu sudah berkembang pesat di kota Yogyakarta, dengan nama warung makan murah meriah. Tarifnya benar-benar murah. Seporsi nasi dengan lauk pauk telur atau daging sekerat, harganya hanya Rp 350 sampai Rp 450. Menurut pemilik warung yang diwawancarai Bernas (28-12-92), dari tiap porsi paling tidak masih mendapat keuntungan Rp 50. Kalau pembelinya banyak, tentu keuntungannya juga banyak, demikian kata salah seorang dari mereka itu. Di kota pelajar seperti Yogyakarta memang terbuka kemung- kinan bagi mereka yang mau "menyingsingkan lengan baju" untuk membuka usaha kecil-kecilan. Selain warung makan, kini banyak pula yang membuka rumah pondokan, ketik skripsi, terjemahan, sewa komputer, kursus bahasa, bimbingan belajar, jual pakai- an/sepatu bekas, membuat vandel, loak buku, sablon kaos, dan lain-lain. Sedangkan sebagai kota budaya, Yogyakarta juga memberi rezeki kepada golongan ekonomi lemah yang secara kecil-kecilan menjual souvenir di pinggir-pinggir jalan, kerajinan kulit/kerang, sewa kendaraan, warung lesehan, membuka penginapan murah, menjadi pemandu wisata. Mereka itu berwiraswasta tanpa pengetahuan manajemen, melainkan bisa dikatakan asal-asalan atau coba-coba. BERKEMBANGNYA warung tegal di Jakarta, warung makan murah meriah dan sebagainya di Yogyakarta, maupun kehadiran pedagang kaki lima, membuktikan bahwa usaha kecil-kecilan pun sebenarnya bisa berfaedah bagi dirinya maupun orang lain. Pedagangnya mendapat rezeki walau tidak banyak, sedangkan konsumen tercukupi kebutuhannya. Namun dipandang dari sudut perekonomian negara pada keseluruhannya, usaha macam itu tidak masuk hitungan" alias, informal. Mereka tidak masuk dalam statistik perkembangan ekonomi, dan pengaturannya yang dilakukan oleh pemda masing- masing biasanya kurang menunjang mereka. Lalu apa peranan para pedagang "super mini" itu? Adakah sumbangannya bagi bangsa dan negara? Jawaban atas pertanyaan itu jelas, yakni peranan dan sumbang- an mereka tetap penting. Minimal, mereka bisa menghidupi diri sendiri beserta keluarga. Kadang juga merupakan lapangan kerja terbatas bagi lima sampai sepuluh orang, yang masing-masing menanggung dua atau tiga jiwa. KENYATAAN bahwa pedagang tingkat kaki lima itu tak lagi berharap mendapatkan pekerjaan dari sektor formal, adalah suatu hal yang meringankan beban Departemen Tenaga Kerja. Oleh karena itu, sebaiknya pemerintah tidak terlalu menyudutkan keberadaan mereka yang tampil seadanya itu. Alangkah bijaknya kalau pemerintah justru memberi alternatif yang bisa meningkatkan usahanya. Umpamanya menyediakan ball atau los untuk menampung mereka, dengan tarif sewa yang rendah. Di Jakarta kini keberadaan pedagang kecil itu kian teratur dalam bentuk pusat-pusat/kelompok, antara lain adanya los untuk ikan hias, kaki lima untuk tanaman hias. Di Yogyakarta juga sudah ditemukan deretan los tambal ban di dekat Jembatan Jenderal Sudirman (Gondolayu), los penjahit jean di Bulaksumur. Kita berharap, Pemda Kodya Yogyakarta melan- jutkan penataan pedagang kaki lima dan usaha kecil itu ke dalam los/pusat penampungan yang merata di bagian-bagian kota. Sehingga, kelak tak akan telihat lagi tenda centang perentang di Jl. Kaliurang dan lain-lain. Tentunya para pedagang juga perlu menyadari tanggung jawabnya menjaga ketertiban kotanya, sehingga tak usah menolak ketika diajak masuk pusat penampungan. Mewujudkan kota bersih, sehat, indah dan nyaman, adalah kewajiban kita semua. Dijadikan Anak Asuh F. Kehutanan UGM GEMPA bumi yang terjadi di pulau Flores, 12 Desember yang lalu, oleh Presiden Soeharto telah ditetapkan sebagai "Bencana Nasional". Hal ini berarti semua potensi yang kita punya akan dikerahkan guna menanggulangi bencana tersebut dan dilakukan secara terpadu. Masyarakat di seluruh kepulauan tanah air melalui cara-caranya sendiri telah mengulurkan tangan memberikan bantuan. Media massa pun tidak tertinggal, membuka kolom- kolomnya menyalurkan bantuan tersebut. Di DIY berdasarkan SK Gubernur/Kepala Daerah DIY nomor 361/3290, tentang Gerakan untuk Sumbangan Bencana Alam Flores 1992, sesuai pula dengan kawat Mendagri tanggal 17 dan 19 Desember yang lalu, telah ditunjuk instansi-instansi yang dapat menerima uang yang telah terkumpul. Bantuan ini akan diakhiri tanggal 5 Februari 1993. Di samping itu guna membantu mahasiswa NTT yang kuliah di UGM yang jumlahnya 157 mahasiswa, Rektor UGM telah membentuk satu tim guna mengumpulkan dana. Langkah yang diambil rektor ini, paling tidak sejalan dengan imbauan mahasis- wa NTT beberapa waktu yang lalu supaya keadaan mereka diperhatikan pula. Dana yang terhimpun akan dipakai guna membiayai hidup mereka di sini dan untuk membayar SPP tahun depan. Jika masih terdapat kelebihan akan dikirim ke NTT. Langkah simpatik dan manusiawi ini, kita kira bisa juga dilakukan oleh PTN atau PTS yang banyak mahasiswa dari NTT pula. Diantara ke-157 mahasiswa itu, terdapat sekitar 10 orang yang kuliah di Fakultas Kehutanan UGM. Jika diantara mereka, karena keadaan tidak mungkin lagi mendapat biaya dari orang tua atau keluarganya di NTT, mereka akan dijadikan anak asuh Fakultas Kehutanan. Dan yang akan menangani adalah alumni Fakultas Kehutanan. Begitu keterangan yang diberikan oleh Pembantu Dekan III fakultas tersebut kepada wartawan Bernas Senin (28/12) kemarin. Siapa tahu fakultas dilingkungan UGM yang lain mengikuti jejak Fakultas Kehutanannya? Sedangkan Sema IAIN Sunan Kalijaga sejak seminggu yang lalu mengkoordinir pendaf- taran tenaga kerja sukarela (TKS) ke NTT. Dibatasi 100 orang dilakukan secara selektif, menanggung biaya sendiri. Mengenai pembentukan TKS ini masih akan diadakan dialog dengan Gubernur DIY. Secara nasional penanggulangan bencana alam Flores diharapkan bisa selesai bulan Maret 1993 dan kehidupoan sudah dapat normal kembali akhir bulan itu juga. Sesuai dengan petunjuk Presiden penanggulangan bencana itu akan dilakukan secara terpadu. Hal ini dikemukakan Menteri PU kepada warta- wan Senin (28/12), setelah Panitia Penanggulangan Bencana Alam NTT (terdiri dari Menteri PU, Mensos, Mennud Perindustrian, KSAD Jenderal TNI Edi Sudrajat, KSAL Laksamana TNI Arifin, Sekretaris Koordinatornya dan Bob Hasan). Pengangkutan bahan- bahan akan dilakukan oleh AL. Pelaksanan pembangunannya dikerjakan oleh Zeni TNI AD bersama dengan masyarakat setempat dengan mendapatkan imbalan upah, sebagai penghasil- an. Sedangkan Masyarakat Perkayuan Indonesia akan memberikan bantuan berupa kayu dan tripleks untuk pembangunan 15.200 rumah di sana. Disamping itu akan didahulukan pembangunan puskesmas, sekolah dan rumah ibadah. Sampai sekarang telah berhasil dikumpulkan dana sebesar Rp 8 milyar oleh Panitia Nasional Penanggulangan Bencana Flores, NTT. Ternyata bila nasib suatu bangsa terkena berupa apa pun penderitaan, bahaya, ancaman dari mana pun datangnya- seluruh lapisan masyarakat dari tingkat nasional sampai daerah pasti tergerak hatinya untuk bersama-sama membantunya, mengantisi- pasinya dan membelanya, tidak saja sebagai ungkapan rasa solidaritaas sosial, tapi sebagai rasa senasib dan sepenanggungan sebagai satu bangsa." Pemimpin Umum: Kusfandi Wakil: Pramono BS BERNAS Pemimpin Redaksi : Abdurrachman Wakil: AM Dewabrata, R. Subadhi Redaktur Pelaksana: Trias Kuncahyono, J. Roestam Afandi Wakil: Bambang Sigap Sumantri, Y.B. Margantoro, Sulaiman Ismail Manajer Produksi : Yusran Pare Sekretaris Redaksi : Ny. Arie Giyarto. Penerbit: PT Bernas ISSN: 0215-3343 SIUPP: SK Menpen No 110/Menpen/SIUPP/A.7/1986, tanggal 22 Maret 1986. Redaktur: Agoes Widhartono, Baskoro Muncar, Giyarno MH, Hari Budiono, Ireng Laras Sari, LB Indrasmawan, Putut Wiryawan, Rs Rudhatan, Sigit Setiono. Staf Redaksi: Anis Suryani, Anggit Nugroho, Basili, Bambang Sukotjo, Daniel Tatag, Dedi H Purwadi, Eddy Hasby, Endah Saptorini, Farid Wahdiono, Handoko Adinugroho, Herry Varia Deriza, Krisno Wibowo, Mantoro FX, Nuruddin, RHR Sarjana BS, Rr. Susilastuti, Suroso, Suryanto Sastroatmo Sugeng Prayitno, Tertiana Kriswahyuni, T. Poerya Langga, Tarko Sudiarno, Wineng Endah Winami, Yuliana Kusumastuti. BERNAS Kian Sulit Menagih Peranan Keluarga kuan masyarakat. Apabila ia seorang pemimpin keagamaan, maka pengaruhnya hanyalah terbatas pada aspek agama saja, dan kurang berpengaruh pada aspek ekonomi atau politik, Demikian pula apabila ia seo- rang pamong desa (lurah), ma- ka pengaruhnya hanya terbatas dalam aspek pemerintahan dan kurang berpengaruh pada aspek agama atau ekonomi. BULAN-BULAN menjelang penghujung tahun 1992 ditandai oleh semakin meningkatnya ke- nakalan pelajar. Banyak kalang- an menilai bahwa masalah ke- nakalan pelajar yang terjadi su- dah melewati batas toleransi. Sebagian mereka bukan hanya dihinggapi penyakit suka hura- hura dan berkelahi, tetapi sudah melakukan perbuatan yang ber- kategori kriminal. Tentu masih segar dalam ingatan kita kasus pembajakan bus kota yang dilakukan oleh sejumlah pelajar Jakarta, bahkan salah satu di antaranya adalah seorang pelajar wanita. Kemudi- an informasi yang paling meng- hentak banyak pihak adalah ha- sil penelitian dari Bappenkar Ja- wa Timur yang menemukan, bahwa sekitar 42 persen respon- den di sana pernah melakukan hubungan seksual, yang konon sebagian dilakukan dengan re- kan-rekannya sendiri. Sudah demikian rusakkah moral para pelajar kita seka- rang? Tentu saja tidak, sebab ti- dak sedikit di antara mereka yang memiliki prestasi akade- mik yang sangat gemilang. Bah- kan ada di antara hasil karya mereka yang layak ditempatkan dalam deretan reputasi nasional. Tetapi bahwa tendensi kenakal- an pelajar akhir-akhir ini sema- kin brutal, hampir diketemukan di kota-kota besar di seluruh penjuru tanah air. Pemerintah sebenarnya telah melakukan berbagai macam ke- bijaksanaan untuk menangkal- nya. Sekolah-sekolah juga telah lama sibuk menyusun kemasan program ekstra-kurikuler, yang mengarahkan para pelajar tidak hanya menjadi kutu buku, tetapi Sehubungan dengan terjadi- nya musibah di NTT, banyak pihak yang telah membagikan kasih dengan bantuan kemanu- siaan dalam berbagai bentuk kepada para korban di daerah bencana. Tetapi banyak putra- putri dari daerah tersebut yang melanjutkan studi ke luar dae- rah, teristimewa di Pulau Jawa. Dapat dimaklumi bahwa saat ini mereka dalam keadaan bi- ngung, baik tentang keluarga- nya maupun tentang kelanjutan studi mereka. Karena dana yang biasa mereka terima terhambat atau bahkan terhenti sama seka- li. juga menjadi insan yang luwes. dalam beradaptasi dengan ling- kungan. BERITA gembira telah mem- an, tetapi kenaikan ini membuk- buka lembaran pendidikan ta- tikan betapa besarnya perhatian hun 1992, yaitu berita tentang pemerintah terhadap pemba- naiknya anggaran sektor pendi-ngunan di bidang pendidikan. dikan. Dalam menyampaikan Apakah berita gembira me- Rancangan Anggaran Pendapat- ngenai kenaikan anggaran sek- an dan Belanja Negara (RAPBN) tor pendidikan tersebut mampu tanggal 6 Januari 1992 di hadap- membebaskan dunia pendidik- an kita dari "hiruk-pikuk" (keru- an sidang DPR, Presiden Soe- harto menyatakan adanya kena- wetan)? Rasanya tidak! Sebagai ikan anggaran untuk sektor mana dengan tahun-tahun sebe- pendidikan. lumnya, tahun 1992 ini pun hiruk-pikuk pendidikan masih tetap berlangsung. Dalam bagian pidatonya tersebut, Presiden menyatakan bahwa sektor pendidikan tetap mendapatkan prioritas. Ini me- mang benar, karena sejak bebe- rapa tahun sebelumnya sektor pendidikan juga selalu menda- patkan prioritas. Sejak tahun 1989/1990 sam- pai dengan 1991/1992, RAPBN kita senantiasa menempatkan sektor pendidikan dalam kelom- pok the best three untuk soal jumlah dana. Pada RAPBN 1992/1993 yang dikomunikasi- kan presiden di awal tahun 1992 itu, sektor pendidikan dengan alokasi dana lebih dari Rp 3,0 trilyun kembali masuk dalam kelompok tersebut. Alangkah baiknya jika perha- tian yang tulus yang telah atau akan dihimpun tersebut tidak hanya diberikan pada para kor- ban yang ada di lokasi, tetapi juga untuk putra-putri dari dae- rah tersebut yang sedang studi keluar daerah, serta kebetulan tidak mempunyai seseorang yang dapat menanggung dana yang mereka butuhkan untuk Namun, hasilnya dirasakan masih terbatas dan masih belum menyentuh relung persoalan yang sebenarnya. Itulah sebab- nya kini banyak orang kemudi- an mendambakan lagi peranan keluarga. Dasar asumsinya adalah kelu- arga sebagai unit terkecil dalam masyarakat sebenarnya bukan sekadar a kinship group yang terdiri atas ayah, ibu dan anak yang terhimpun atas dasar da- rah atau perkawinan. Tetapi ke- luarga adalah kelompok sosial yang menjadi perantara norma dan ajang sosialisasi nilai. Dalam fungsinya sebagai per- antara norma, keluarga diang- gap ikut bertanggung jawab da- lam proses menyampaikan un- sur-unsur normatif masyarakat yang seyogyanya diikuti atau dihindari oleh anak. Sedangkan dalam fungsinya sebagai ajang sosialisasi nilai, keluarga diang- gap memiliki peranan penting sekali dalam menentukan cetak biru tingkah laku yang seharus- nya diperlihatkan oleh anak. Persoalannya sekarang ada- lah, benarkah keluarga masih layak didambakan sebagai insti- tusi sosial yang dapat meredam dan menangkal kenakalan pela- jar yang berkembang semakin brutal itu? Benarkah keluarga masih sanggup melakukan fungsi kontrol terhadap anak, sehingga tidak terjerumus pada tingkah laku yang tergolong deviance? Pemimpin Perusahaan: A. Kardjono Wakil: Bimo Sukarno Tidak mudah menjawab per- tanyaan semacam ini.Satu hal yang semakin sering dirasakan oleh banyak keluarga sekarang Apabila dibandingkan de- ngan besarnya alokasi dana da- lam RAPBN satu tahun sebelum- nya yang jumlahnya "hanya" sekitar Rp 2,50 trilyun, maka sektor pendidikan tahun ini me- mang mengalami kenaikan ang- garan yang sangat berarti. Kena- ikan ini bukan saja meningkat kan nilai rupiah untuk melaksa- nakan pembangunan pendidik- DARI ANDA Pengirim rubrik ini harap melampirkan fotokopi KTP atau identitas lainnya sementara waktu. Bantu yang Ada di Sini Uluran tangan kita bersama untuk mereka yang membutuh- kan di sini, sedikit banyak akan meringankan beban mereka. Pendidikan tinggi Di antara ketiga jenjang pen- didikan, yaitu jenjang pendidik- an dasar, menengah dan tinggi, yang paling berkesan banyak hiruk-pikuknya untuk tahun 1992 ini adalah pada pendidik- an tinggi. Selama perjalanan ta- hun ini, jenjang pendidikan tinggi paling terjerat dengan berbagai kompleksitas; dari ke- naikan Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP), di berbagai PTN, fleksibilisasi kurikulum di IKIP, menjamurnya lembaga pe- nyelenggara program Master of Business Administration (MBA), terbongkarnya kasus universitas fiktif, sampai pemalsuan gelar akademik. Alamat Redaksi/Tata Usaha : Jl Jend. Sudirman 52, Yogyakarta 55224 Telepon Semua Bagian: 61211 (PABX) Fax: 64062 Rasanya memang aneh, sek- tor pendidikan yang dalam RAPBN untuk tahun ini menda- pat kenaikan anggaran sekitar 20 persen dibanding tahun sebelumnya, ternyata dalam im- plikasinya terdapat hal-hal yang terkesan kontroversial. Naiknya L Niken Laras S Kampung Asem RT 004 RW 001 Cijantung Jakarta Iklan Obat di Radio Penayangan iklan obat, teru- tama obat kuat di radio tak kalah ngeres-nya dengan pe- nampilan para figuran dan pe- nyanyi dangdut di televisi. Kata- kata yang tak pantas ditayang- kan karena berbau porno dan tidak mendidik begitu mudah terdengar dari radio di sekitar kita. Padahal iklan seperti itu akan berdampak negatif terha- dap masyarakat terutama anak- anak dan remaja. Agar dampak yang tidak diinginkan itu tidak semakin meluas, maka penayangan iklan obat di radio perlu ditertibkan dan dipersopan. Untuk melaku- kan penertiban itu dapat kami Pelaksana Pemimpin Perusahaan : Bambang Trisno Manajer: Sirkulasi: Sugeng Hari Santoso, Iklan: Bimo Sukarno, Gunawan Wibisono (Wakil), Promosi: Indro Suseno, Keuangan: Daryono, Umum: Gunawan Wibisono, Personalia: Isnu Hardoyo. Tarif Langganan: Rp 9.000/bulan (7 x seminggu) Tarif iklan: Warna Rp 3,000/mmk (minimal 1.215 mmk), Umum Rp 2.000/mmk, Keluarga Rp 1.300/mmk, Kolom Rp 2.000/mmk (minimal 1x30 mm, maksimal 1x150 mm), Mini Rp 1.500/baris (minimal 3 baris, maksimal 15 baris). Semua ditambah PPN 10% BANK: Lippo Bank Sudirman Yogyakarta AC 787.30.0386.5, Bank Niaga AC 211.2078.2 BANK BNI '46 Rek No. 008561001 Yogyakarta, Rekening Dinas & Giro Pos: J11848 Percetakan : PT Muria Baru Offset Yogyakarta Isi di luar tanggung jawab Percetakan • Biro Jakarta: J Soetardjo (Koordinator), Marcel Weter Gobang (Sekred), Manuel Kaisiepo, Richardus Satrio Hutomo, Ferdinand Matita, Arief Sofiyanto, Doddy Barnas, Josef Umarhadi, Rochyati, Yosef Suhirno, Alex Palit, Ries Mariana, Herryanto Prabowo, Heroe Baskoro, Budi Purnomo, Ermansyah Rachman, Nanik S Deyang, Andy Pribadi, Ratih Prahesti Sudarsono, Drajat Wibawanto, Daryadi Pribadi, Tatang Suherman, Paulus Sulasdi, Victorawan M Sophiaan, Tonnio Irnawan, Sugiyanto, A M Putut Prabantoro, Yan Supriyatna, Agus Setyabudi, Waris S Haroen, Antonius Bramantoro. (Jalan Palmerah Barat 33-35, Jakarta 10270, Telepon: 548363, 5495359, 5483008, 5490666 (ext: 4340-4341), 5494999, 5301991, 5495077, 5495006, (ext: 300-3005). Fax: 5495360 Semarang: Yupratomo Dwi P (Koordinator), Suherdjoko, Heru Prasetya, Yohanes Agus Ismunarno (Jalan Menteri Supeno No. 30 Telp. 319659) Solo: Mulyanto (Koordinator), Joko Syahban Panggih (Jalan Slamet Riyadi No. 284 Telp. 42767) Purwokerto: Sigit Oediarto. Sunyoto Usman adalah justru merosotnya wiba- wa orangtua. Hasil penelitian mendalam tentang masalah ini memang belum banyak dilaku- kan (dipublikasikan). Tetapi sepanjang pengamatan, tidak sedikit jumlah keluarga yang merasakan bahwa perbedaan pendapat dan kepentingan yang terjadi antara orangtua dan anak semakin sukar dikompromikan. TENDENSI semakin sukar kompromi dalam keluarga seca- ra sosiologis dapat dijelaskan sebagai berikut, atan memaksa dan keberadaan- nya di luar individu-individu yang terhimpun di dalamnya. Karena itu, semakin berbeda ka- rakteristik kelompok sosial tem- pat afiliasi orangtua dengan ka- rakteristik kelompok sosial tem- pat afiliasi anak, semakin sukar tercipta kompromi sikap dan tingkah laku di antara mereka. Kedua, sejajar dengan deras- nya penetrasi modernisasi, ber- kembanglah privacy dalam ke- Telah terjadi pergeseran peranan keluarga Pertama, sebagai akibat dari sebagai akibat dari melejitnya kebutuhan sosial, penetrasi modernisasi dan diferensiasi sosial. Keluarga semakin sulit ditagih peranannya sebagai institusi sosial yang mampu meredam meningkatnya kebutuhan sosial dan diferensiasi sistem pembagi- an kerja, telah tumbuh berma- cam-macam kelompok sosial. Kelompok-kelompok sosial ter- sebut terbentuk atas dasar pel- bagai rupa kepentingan, baik ekonomi, politik maupun kul- tural. Konsekuensinya kemudi- an adalah di dalam keluarga berkembang bermacam-macam referensi dalam bersikap dan bertingkah laku. perbedaan pendapat dan perbedaan kepentingan para anggotanya. Apabila benar demikian, maka keluarga juga semakin sulit diharapkan peranannya sebagai institusi sosial Kelompok-kelompok sosial semacam itu mempunyai keku- yang dapat meredam tingkah laku menyimpang. Hiruk-pikuk Pendidikan Tinggi di Tahun 1992 beroperasi universitas "konyol" yang menganugerahkan gelar akademik bagi lulusannya. Kasus tersebut aneh juga, karena bila dilihat dari proses- nya, "mahasiswa" universitas tersebut seharusnya mengerti bahwa proses belajar menga- jarnya tidak bisa dipertanggung- jawabkan. Bagaimana mungkin hanya dalam waktu beberapa bulan gelar akademik dapat di tangan; apalagi ada "mahasiswa" pada universitas tersebut yang tidak pernah menyelesaikan pendidikan menengahnya. Dari ilustrasi tersebut, kesa- lahan mungkin saja tidak 100 persen pada penyelenggara, te- tapi juga pada "mahasiswa"-nya. Yang paling menarik dari kasus ini adalah ternyata masih ba- nyak anggota masyarakat kita yang "demam gelar" (degree minded) untuk memperlancar urusannya di masyarakat. Sampai akhir tahun ini, per- masalahan universitas fiktif dan pemalsuan gelar belum tertun- taskan, lebih dari itu diperkira- kan dalam waktu-waktu menda- tang akan segera terkuak uni- versitas-univesitas fiktif yang lainnya di wilayah nusantara ini. Itulah hiruk-pikuk pendidik- an kita di tahun 1992 ini, berba- gai permasalahan masih memer- lukan waktu untuk dicarikan so- lusi efektifnya. Dan, semoga sa- ja solusi efektif ini akan segera diperoleh di tahun 1993 menda- tang.*** anggaran pendidikan justru di- sambut dengan naiknya SPP di berbagai PTN. Memang, kenaikan SPP ter- hendaki oleh penyelenggara sebut sah-sah saja kalau dike- lembaga pendidikan tinggi yang bersangkutan. Mengapa? Karena dengan dikeluarkannya Peratur- an Pemerintah (PP) No 30/1990 tentang Pendidikan Tinggi, ma- ka setiap perguruan tinggi, PTN maupun PTS, memiliki otonomi di bidang keuangan. Dari pasal 111 PP No 30/1990 dapat dikonklusikan adanya tiga sumber untuk membiayai kegi- atan operasional perguruan tinggi, yaitu sumber pemerintah, masyarakat dan pihak luar ne- geri (ayat 1). Karena alokasi dana dari pemerintah relatif terbatas, maka usaha menggali dana masyarakat, termasuk SPP, dan bantuan luar negeri perlu lebih ditingkatkan. Pasal 112 menyebutkan bahwa otonomi dalam bidang keuangan menca- kup kewenangan perguruan tinggi menerima, menyimpan dan menggunakan dana yang berasal dari masyarakat, terma- suk SPP (ayat 1). Relatif banyak PTN yang di- beritakan menaikkan SPP bagi mahasiswa barunya, antara lain UGM Yogyakarta, ITB Bandung, UI Jakarta, USU Medan, IKIP Medan, Unair Surabaya, Uni- luarga. Dalam situasi semacam ini fungsi kontrol dari keluarga besar (the extended family) ter- hadap keluarga batih 'semakin menipis. Tentu saja eksistensi dan aktivitas keluarga besar masih tampak dalam masyara- kat, terutama di kalangan ma- syarakat yang dalam sistem so- sialnya mengenal sistem marga. Tetapi kelihatannya semakin su- lit melakukan fungsi kontrol se- cara efektif. Segala masalah Supriyoko usulkan langkah-langkah seba- gai berikut: 1. Badan sensor periklanan perlu lebih memperketat iklan-iklan yang akan disiar- kan oleh radio. Menanggapi berita Bernas (1/12-92) berjudul Terlibat Per- jokian Mahasiswa Diskors, de- ngan ini kami jelaskan bahwa berita itu tidak benar. yang terjadi dalam keluarga se- makin menjadi masalah intern keluarga itu sendiri, karena itu segala bentuk pemecahannya harus dicari dan dirumuskan sendiri. Karena sampai saat ini kami belum menerima laporan secara resmi dari Dekan Fakultas Perta- nian Unsoed mengenai masalah perjokian mata kuliah Agro I seperti diberitakan. Ir JB Karnomo WH Pembantu Rektor I Unsoed Grendeng Purwokerto Salut untuk RS Sudirman Tentu saja tidak berarti bah- wa tali ikatan dengan keluarga besar putus sama sekali. Keluar- ga besar tetap berpeluang men- dekat. Tetapi hanyalah dalam batas-batas mengetahui atau Lembaga profesional Menjamurnya lembaga pe- dan keluarganya. Apalagi beaya berobat di ru- mah sakit yang terletak sekitar 200 meter di sebelah timur SMA Negeri 8 Yogyakarta ini relatif sangat murah (periksa dokter hanya Rp 1.500). Pelayanan obat resep dokter juga dilaku- milih iklan yang laik tayang, kan di rumah sakit yang buka baik dari segi bisnis maupun 24 jam tersebut. Bagi keluarga dari segi moral. yang kurang mampu seperti saya ini, sungguh sangat mem- bantu. 2. Pihak radio seharusnya mela- kukan sensor ulang dan me- -3. Departemen Penerangan cq Dirjen RTF harus berani memperingatkan radio yang menayangkan iklan yang tidak baik, kalau perlu izin siarnya dicabut. Semoga berbagai usulan ini menjadi perhatian yang berwe- nang. Kita jadikan radio sebagai sarana menambah ilmu, jangan jadikan radio sebagai musuh para guru. braw Malang, dan Unud Denpa- sar. Ada sesuatu yang pantas mendapatkan perhatian dalam soal ini; di tengah-tengah ba- nyaknya PTN yang beramai-ra- mai menaikkan SPP, ternyata hanya sedikit IKIP (negeri) yang berani mengambil kebijakan se- rupa. Ada apa dengan IKIP? Apakah IKIP takut mengambil kebijakan yang sama karena ta- kut ditinggal lari oleh masya- rakat peminatnya? Entahlah! an. Rupanya tuntutan pasar kerja yang makin heterogen telah mendinamisasi (mengin- tervensi?) makna dan eksistensi sebuah lembaga pendidikan. Sarjiyana Mahasiswa Fakultas Peternakan Bukan dari Natalan UGM (90/77026/PT/02625) Tidak Benar Hanya saya mengusulkan agar bagaimana supaya korden berwarna putih di kamar perik- sa itu tidak selalu dipermainkan angin, sehingga pasien yang sedang diperiksa tidak sering terlihat dari luar. Ny Tuti R Kompleks APMD Jalan Timoho Yogyakarta menyaksikan saja, bukan dalam usaha mencampuri proses peng- ambilan keputusan keluarga. berkembang menjadi urusan ke- Keputusan keluarga semakin luarga itu sendiri. Membaca berita Bernas edisi Minggu (27/12-92) berju- dul Tiga Pemuda Mabuk Ken- darai Motor Tewas Tabrakan, kami melihat ada sedikit kesa- lahan. Dalam berita tersebut antara lain disebutkan: ... Basuni, Agus dan Sugeng baru saja mengikuti malam perayaan dan syukuran Natalan. sangat berbeda sekali dengan Kecenderungan semacam itu yang berkembang di kalangan masyarakat agraris-tradisional. Di kalangan masyarakat sema- cam ini, arah dan bentuk inter- aksi sosial yang terjalin antara suami, istri dan anak tidak ber- diri sendiri, tetapi lebih banyak di bawah kontrol keluarga be- sar. Kontrol tersebut terwujud Di tahun 1992 ini, IKIP sendi- ri tampaknya bertekat untuk mengadakan fleksibilisasi kuri- kulum; maksudnya dengan ku- rikulum yang fleksibel diharap- kan lulusannya akan fleksibel pula. Ada pun makna fleksibel dalam hal ini adalah lulusan yang tidak hanya sanggup me- nembus lapangan kerja di bi- dang keguruan, akan tetapi juga di luar bidang keguruan dan pendidikan. Diakui atau tidak, berkem- Rasanya aneh juga, sebuah bangnya teknologi lapangan kerja yang lebih pesat diban- institusi keguruan dan ilmu ding dengan perkembangan pendidikan menyiapkan lulus- teknologi sekolah, telah menye- annya yang harus sanggup me- babkan berkurangnya keperca- nembus dinding pasar kerja nonkeguruan dan nonpendidik-. yaan masyarakat terhadap lem- baga akademik. Mereka ada yang menganggap bahwa lem- baga akademik tidak mampu la- gi memberikan bekal bagi lulus- annya untuk berkiprah secara profesional di lapangan kerja. Akhimya mereka mencari pendidikan alternatif untuk mengatasi problematikanya ter- sebut. Orientasi mereka berge- ser dari lembaga akademik ke Kami perlu menjelaskan, sebenarnya ketiga korban terse- but bukan habis Natalan. Waktu itu, malam sebelum peristiwa kecelakaan, di rumah kami Kampung Pucangan RT 01 RW XII kami mengadakan acara syukuran peringatan sepuluh tahun berdirinya rumah kami. Kebetulan keluarga kami semu- kemudian oleh sebagian warga anya menganut Agama Kristiani, acara syukuran pribadi itu dika- itkan dengan perayaan Natalan. Waktu itu ketiga korban me- mang nampak hadir turut mera- yakan syukuran itu, tetapi mere- ka duduk di rumah salah seo- rang tetangga kami. Tanpa se- pengetahuan kami, ketiganya melakukan mabuk-mabukan de- ngan biaya sendiri. Ketika beberapa waktu yang lalu sekitar pukul 14.00 saya membawa anak saya yang sakit berobat ke klinik RS Sudirman Yogyakarta, hati ini merasa sejuk dan nyaman ketika disam- but dengan ramah oleh perawat dan pegawai rumah sakit terse- but. Dokternya yang masih muda pun turut menyapa ra- mah. (Jangan salah duga, dok- ternya putri). Ini bisa menghibur hati yang sedang sedih lantaran anak sakit. Seandainya di semua rumah sakit, perawat dan pega- P Agus Sri Mulyo R wainya bersikap ramah seperti Pucangan RT 01 RW 12 Kartasura Sukoharjo itu, alangkah senangnya pasien Melalui surat pembaca ini kami ingin meluruskan berita tersebut. sebagai kesadaran kolektif yang keberadaan dan kelangsungan- nya didukung masyarakat. Ketiga, sebagai akibat dari derasnya penetrasi modernisasi di dalam masyarakat, juga ber- kembang karakteristik kepe- mimpinan yang monomorphic. Dalam ciri kepemimpinan sema- cam ini, seorang pemimpin ha- nya berperanan kuat pada bi- dang yang menjadi dasar penga- nyelenggara program MBA di kota-kota besar menambah hi- ruk-pikuk pendidikan di tahun 1992 ini. Bak cendawan di mu- sim penghujan, lembaga penye- lenggara MBA bermunculan di mana-mana. Di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, bahkan lebih semarak lagi; di satu kota muncul belasan pro- gram MBA sekaligus. Jurusan yang dikembangkan pun cukup menawan: Banking and Fi nance, Information Manage- ment, General Management, Marketing, Strategic Manage ment, Accounting, dsb. Dalam kondisi semacam itu, baik pemimpin formal maupun informal semakin tidak terdo- rong mencampuri urusan intern yang terjadi dalam keluarga, kecuali bersentuhan langsung dengan sifat kepemimpinan yang disandangnya. Tendensi demikian berbeda dengan yang terjadi dalam kehidupan masya- rakat tradisional-agraris. lembaga profesional; dan akhir- nya mendapatkan MBA sebagai program aplikatif pada lembaga profesional. Oleh karena program MBA diyakini sebagai lembaga profe- sional alternatif, maka program ini cepat meningkat popularitas- nya. Sayangnya, peningkatan popularitas ini tidak dibarengi dengan profesionalisme penye- lenggaraannya. Dari sekian ba- nyak penyelenggara program MBA, ternyata banyak pula yang sistem penyelenggaraan- nya terkesan kurang tertib, "pure-profit oriented", dan bah- asalan saja. kan ada yang cenderung asal- Munculnya lembaga program MBA ini sebenarnya cukup konstruktif, karena di samping menjadi kompleks manakala Permasalahan program MBA menandakan berkembangnya Depdikbud menilai ada bebera- kreativitas dan kepedulian ma- syarakat terhadap dunia pendi- dikan, juga memberikan alterna- tif pendidikan bagi kelompok masyarakat yang memerlukan- nya. pa kejanggalan pada pelaksana- annya. Misalnya saja tentang lembaga penyelenggaraannya, kualifikasi dosennya; gelar aka- demiknya, dan sebagainya. Memang tidak lazim lembaga profesional memberikan gelar akademik bagi lulusannya; di samping dalam sistem pendidik- an nasional kita tidak dikenal "gelar asing" (semacam MBA) yang dimunculkan dari lembaga di dalam negeri. Saling-silang penyelenggaraan program MBA pún sampai kini belum tersele- saikan pula. Dalam kehidupan masyarakat semacam yang disebut terakhir itu, sifat kepemimpinan lebih polymorphic atau menguasai be- berapa bidang sekaligus. Seo- rang pemimpin tidak hanya ber- kecimpung pada bidang yang menjadi dasar pengakuan ma- syarakat saja, tetapi juga pada lain. qiz Itulah sebabnya tidak meng- herankan apabila dalam kehi- dupan masyarakat semacam itu, baik pemimpin formal maupun informal mencampuri urusan intern keluarga. Bahkan tidak jarang terjadi semua anggota keluarga secara bulat menerima alternatif pemecahan persoalan dari seorang pemimpin. Persetu- juannya kerapkali bukan karena ka Apabila benar demikian, ma- keluarga juga semakin sulit diharapkan peranannya sebagai institusi sosial yang dapat mere- dám tingkah laku menyimpang. Kalau begitu lalu bagaimana al- ternatif solusinya? Tidak mudah menjawab per- tanyaan semacam itu. Saya kira perlu dibangun model dan me- kanisme yang memungkinkan ulama, misalnya, tidak hanya organisasi-organisasi sosial di kuat dalam masa- lah agama, melainkan juga da- lam masalah ekonomi dan poli- tik. tingkat bawah seperti Rukun Tetangga (RT) dan Rukun War- ga (RW) dapat berperanan aktif memecahkan persoalan-persoal- an yang berkembang dalam ke- luarga. Apa yang masih tampak sekarang adalah organisasi-orga- nisasi sosial semacam ini lebih sering berfungsi sebagai kepan- jangan tangan birokrasi.*** alternatif yang ditawarkan ada- lah pilihan yang terbaik bagi ja- lan keluar memecahkan perso- alan keluarga, tetapi karena alternatif tersebut dianggap membawa berkah dan diyakini dapat menjaga keharmonisan hubungan segenap anggota ke- luarga. Ketika g-sengkarut pe- nyelenggaraan program MBA belum berakhir maka di peng- hujung tahun ini terkuak perma- salahan baru yang tak kalah menariknya; yaitu mengenai kasus universitas fiktif dan pe- malsuan gelar. Di Jakarta telah 1993 TAHUN JAGO... *** DALAM uraian di depan di- perlihatkan bagaimana telah ter- jadi pergeseran peranan keluar- ga sebagai akibat dari melejit- nya kebutuhan sosial, penetrasi modernisasi dan diferensiasi so- sial. Keluarga semakin sulit di- tagih peranannya sebagai insti- tusi sosial yang mampu mere- dam perbedaan pendapat dan perbedaan kepentingan para anggotanya. ) Dr Sunyoto Usman, staf pengajar Jurusan Sosiologi Fisi- pol UGM Dr Supriyoko SDU MPd, Ketua Pendidikan Majelis Lu- bur Persatuan Tamansiswa. 29 KUSS 92 12 NDARTO ... APA ITU PERTANDA: BANYAK ORANG BERANI 'NJAGO; SI JAGO SEMAKIN JAGOAN; MULAI MUNCUL JAGO BARU; ATAU MALAH KITA KIAN RINDU JAGO BARU?! Juaz BISN 4cm B BANK JAKARTA J.P. Mangkubumi No. 2, Telp. 62 VALUTA A Daftar Kurs Ka di Bank Indone Shilling Austria Dolar Australia France Belgia Dolar Brunei Darusalam Dolar Kanada Franc Swiss Mark Jerman Kron Denmark Franc Perancis Poundsterling Inggris Dolar Hongkong Lira Italia (100) Yen Jepang (100) Ringgit Malaysia Gulden Belanda Krone Norwegia Dolar Selandia Baru Peso Filipina Krone Swedia Dolar Singapura Bath Thailand Dolar AS SUKU BUN BTN BPD DIY Bank Jakarta BIl BBI Lippo Bank Danamon Bank Niaga Bank BNI 46 BCA BTPN Bukopin BDN BHS Bapindo BDNI BBD BRI В, Bank Pasar Bank Duta BPR Mandiri SP BPR Danagung R BUN BPR Redjo Bhawono BPR Bhumikarya Pala Angkutan U Penerbangan Eks 29 Desember 1992 Rute Jakarta-Denpasar Denpasar-Jakarta Jakarta-Denpasar Denpasar-Jakarta Jakarta-Denpasar Batam-Jakarta Jakarta-Yogya Yogya-Jakarta Jakarta-Solo Solo-Jakarta Jakarta-Batam Batam-Jakarta 30 Desember 1992 Jakarta-Denpasar Denpasar-Jakarta Jakarta-Denpasar Denpasar-Jakarta Jakarta-Denpasar Denpasar-Jakarta Jakarta-Batam Batam-Jakarta Jakarta-Yogya Yogya-Jakarta Jakarta-Solo Solo-Jakarta Jakarta-Taipeh Taipeh-Jakarta vember 1992 Jakarta-Denpasar Denpasar-Jakarta Jakarta-Denpasar Denpasar-Jakarta Denpasar-Jakarta Jakarta-Batam Batam-Jakarta Jakarta-Yogya Yogya-Jakarta Jakarta-Solo Solo-Jakarta Organisasi Perajin JAKARTA - Asosias Indonesia (APPKOTASI kan dibuatnya Undang- kepada pengusaha kecil ada saat ini usaha kec pengadaaan maupun pe maka kami yakin para pe bertahan," kata Ketua Un menemui Wakil Ketua D di DPR, Senin (28/12). fungsionaris APPKOTAS (Sekjen), Drs Oman All (Ketua), Ny Tina Melind kenalkan diri kepada DI Prospe MIRIP kumpulan sur Ibu Kartini yang dib berjudul "Habis gelap, t terang", prospek pasar Indonesia pun demikian. lah pelaku pasar moda dihubungi Bernas pekar rin secara terpisah, di menyampaikan rasa opti atas perkembangan pasa khususnya bursa efek d 1993 mendatang. "Habis gelap, tentu t terang," komentar Tito yang terpilih sebagai Umum Ikatan Pialang E karta untuk periode 199 menyampaikan alasan cukup sederhana itu. Malah Ketua Badan was Pasar Modal (Bar Prof Dr Sukanto Reksoh djo mengatakan, prospe modal Indonesia cukup dilihat dari segi perminta penawaran dana, me masih sulit untuk men vestor (pemodal) baru. Komentar optimisme memang bukan menga Meskipun beberapa p sempat menggoyahkan seperti kasus saham pals