Tipe: Koran
Tanggal: 1997-12-07
Halaman: 03
Konten
ANALISA-MINGGU, 7 DESEMBER 1997 Kondisi Kepariwisataan Sumut Memprihatinkan Kondisi pariwisata di Sumatera Utara kini sungguh memprihatinkan. Dari kunjungan wisatawan man- canegara yang terus merosot, masa tinggal turis di daerah inipun rata-rata hanya satu hari. DEBURAN ombak di pantai Sorake dan Lagundri siang itu menepis pasir putih yang lan- dai Dua bocah bermain selancar dengan riang mengikuti debur ombak yang mencapai ketinggi- an antara dua hingga tiga meter. Pantai Sorake yang terkenal itu sudah beberapa kali dijadikan arena even internasional.Pese- lancar dari berbagai negara di dunia sudah hapal lekuk dan gerak deburan ombak di pantai ini. Masyarakat di Kecamatan Inspektur Jenderal Pembangunan Ir. Humuntar Lumbangaol dalam rangkaian kunjungan kerjanya di Teluk Dalam kelihatan sudah mampu dan mengerti tentang tatacara menyambut wisatawan mancanegara. daerah ini meninjau sejumlah obyek wisata di Kabupaten Nias, dan wartawan Analisa Ali Sati Nasution menurunkan laporan hasil kunjungan itu dalam beberapa tulisan. Fasilitas pendukung harus pula tersedia seperti telepon umum, sehingga dengan adanya fasilitas telepon ini Wisman merasa dekat dengan dunia luar. Sarana transportasi menempati bahagian terpenting pula menu-, ju obyek wisata sehingga wisa- tawan tidak merasa bosan sela- ma di perjalanan. Keterpikatan Wisman akan pantai Sorake dan Lagundri di Kecamatan Teluk Dalam ini karena memiliki tantangan dan ketika memandang laut biru lepas,mata seolah dihipnotis. Tantangan dan pemandangan alam seperti inilah yang selalu ditunggu-tunggu pada setiap geberket detom nado a daid *-angee otroTalari y de no bast 1909m 5001 BURUNG Beo Nias yang menjadi maskot Sumatera Utara jumlahnya benar-benar langka. Kini binatang yang dilindu- dungi itu jumlahnya hanya tinggal tujuh ekor. Antara percaya dengan tidak, tetapi penjelasan tersebut dike- mukakan Bupati Nias Drs.H. Zakaria Y.Lapau kepada warta- wan di Pendopo Gunung Sitoli beberapa waktu lalu. Dijelaskan Bupati Nias, jumlah burung langka tersebut sesuai hasil penelitian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) akhir 1996 lalu, lama penelitian di hutan-hutan Kabupaten Nias memakan waktu sekitar tiga bulan. Untuk meningkatkan popula- si burung beo tersebut bupati membuka pintu bagi investor yang ingin menangkarkannya. Tetapi tempat penangkaran burung beo itu idealnya memang harus di Nias. Bupati Nias bercita-cita, selain habitat burung beo tetap terjaga, populasinya dapat diti- ngkatkan dan mendatangkan penghasilan bagi masyarakat di daerah ini. JITU even. Menyinggung kualitas buru- ng beo dari Nias memang diakui cukup jitu, terutama dari Keca- matan Lahusa dan Gomo. Selain tubuhnya yang bagus juga suaranya merdu dan mudah dilatih. Sehingga harga pasar burung beo Nias bagi pengge- mar burung di daerah ini ber- variasi dan yang sudah pandai bicara mencapai jutaan rupiah. "Anaknya saja harganya mencapai Rp.500.000,-", ujar salah seorang penjual burung di Gunung Sitoli. TATA RUANG Menanggapi kondisi sejum- lah obyek wisata pantai di Kabu- paten Nias, khususnya di Keca- matan Teluk Dalam Irjenbang Ir. Humuntar Lumbangaol meni- lai, obyek wisata pantai di kawasan ini sudah cukup baik. Untuk mencari anak burung beo Nias bukan main susahnya, sejak bertelur sudah dijaga rakyat di bawah pohon kayu dimana burung beo itu bertelur, tutur penduduk yang dihubungi Namun berdasarkan pengala- man dan membandingkannya dengan sejumlah obyek wisata yang pernah dikunjunginya di berbagagai negara, kebersihan sejumlah obyek wisata pantai di daerah ini perlu diperhatikan. Dari segi tata ruang, menurut Humuntar Lumbangaol, tempat bermukim para Wisman harus jelas, untuk itu menurutnya perlu dibuat zone pemukiman pantai dan tempat rekreasi bagi wisatawan lokal.. "Antara yang Analisa/anto. DIBENAHI: Pantai yang terletak di belakang Sorake Bach Resort dengan kondisinya yang mendangkal perlu dilakukan pembenahan, selain tertata dengan baik juga menambah panoramayang menggiurkan bagi wisatawan. Gambar bawah Irjenbang Ir. Humuntar Lumbangaol ketika meninjau lokasi pembangunan lapangan terbang di Desa Hilimaenamolo. Menyinggung kepunahan burung beo Nias, disebabkan berbagai faktor seperti harga brung beo yang cukup melenjit, ke mana saja di hutan-hutan derah Nias burung beo terus dicari. neb nellohet udmom Avagal SE islinse llawon lounosi gaslid. 1aqats amnls2 uinu lob stui nagnulub tegebrom M dolo gelatedib moon791 mudar Agaknya perburuan burung beo ini tidak pernah berhenti, selama harganya tetap tinggi dan penggemarnya setiap tahun terus meningkat. Memang kejernihan suara burung beo Nias yang dapat meniru suara manusia jauh berbeda dengan burung beo asal daerah lain. Di sinilah letak spesipik suara burung beo Nias yang diperebutkan itu. satu dengan lainnya jangan bercampur aduk", ujarnya. Tuntutan utama di setiap obyek wisata yakni bagaimana menciptakan keamanan dan kenyamanan dan ini sangat penting, katanya. Bagi penggemar berat buru- ng beo, harga tidak ada masalah dan hal inilah yang menjadi inceran pemburunya dari waktu ke waktu. . di Kecamatan Gomo. kan burung beo dewasa ini, Selain di kedua kecamatan penggemar burung di daerah ini ini, burung beo terdapat juga di mulai melirik burung murai batu Pulau-pulau Batu jumlahnya dan suranya juga cukup merdu. berkisar antara 60 hingga 70 ekor, tetapi mutunya kelas dua. Dapat dibayangkan, untuk mendapatkan anak burung beo Nias, penduduk ada yang rela membuat pondok dan tidur berbulan-bulan lamanya di bawah pohon kayu tempat burung beo itu bertelur. Setelah melalui proses pe- nantian panjang beberapa bulan lamanya, anak burung beo yang sudah pandai belajar terbang diambil orang yang menunggui- nya.Pasar penjualannya tidak usah disangsikan, setiap saat ada yang membelinya. Upaya pemerintah untuk me- nunjang laju pertumbuhan obyek wisata di daerah ini menurut Humuntar Lumbangaol sudah cukup baik, yakni mem- bangun jalan antara Gunung Sitoli-Teluk Dalam sepanjang 108 Km. Populasi burung beo Nias memang tidak banyak, apabila bertelur hanya satu atau dua telur. Di dalamnya terdapat 23 jembatan, untuk membangun transportasi dimaksud sudah menghabiskan dana sekitar Rp.23 milyar. Sisi lain ekosistem alam Nias sekarang kurang mendukung karena hutannya semakin hari semakin gundul. Perkemba- ngbiakan burung beo terganggu. Karena sulitnya mendapat- Diakui Humuntar Lumban- gaol, yang perlu menjadi pemi- kiran dewasa ini bagaimana agar wisatawan mancanegara itu cepat sampai ke setiap obyek Selain obyek wisata kelautan yang memang daerah Kepulau- an Nias memilki panjang 120 Km dengan lebar 40 Km, dengan luas 5.625 Km persegi (7,82 persen) dari seluruh luas Suma- tera Utara, keberadaannya dike- lilingi Samudera Indonesia. Obyek wisata andalan kelau- tan memang memiliki prospek di samping obyek wisata buda- ya, purbakala sejarah dan Beo Nias Langka, Murai Batu Dilombakan Kabupaten Nias yang terletak Mengundang Wisatawan di pantai paling barat pulau Sumatera memiliki 131 pulau dan yang terbesar adalah pulau Nias. MURAI BATU Pada even lomba selancar pada bulan Mei 1998, direnca- nakan pula lomba suara murai batu. Tujuan lomba tersebut ber- kaitan dengan upaya menda- tangkan wisatawan lebih banyak ke daerah ini, ujar Bupati Nias yang sudah menawarkan kegia- tan ini kepada sejumlah sponsor dari Medan. Sisi lain untuk menarik wisatawan mancanegara dan domestik datang ke daerah ini masih banyak yang perlu dila- kukan, serlain lomba selancar yang sudah terjadwal di Keca- matan Teluk Dalam, juga loma suara murai batu tadi. Kemudian atraksi memanjat kelapa, di mana pria dari Nias paling jago memanjat pohon kelapa, walau pohon kelapa itu cukup tinggi. Atraksi memanjat kelapa ini pernah disponsori pihak Sorake Beach Resort di Teluk Dalam. Namun karena minimnya kunju- ngan wisatawan akhir-akhir ini atraksi tersebut tidak berkela- njutan. PARIWISATA memasarkan sebentuk barang, mereka bertutur kaku. Selain kelapa, pihak pihak SBR Teluk sponsor atraksi panjat Dalam telah banyak melakukan terobosan-terobosan seperti menghimpun muda-mudi dae- rah ini di dalam suatu sanggar tari Perang yang terkenal itu. Seperti dituturkan aparat Pariwisata Nias, bapak angkat untuk membina sanggar tari daerah ini sangat diharapkan terutama dari pihak pengusaha. Dari pihak Pemda Nias diakui terbatas kemampuannya terutama dari segi pendana- an,karena Pendapatan Asli Da- erah (PAD) Nias cukup rendah, hanya sekitar Rp. 1,1 milyar. wisata ini.Dalam hal ini perlu hubungan penerbangan udara yang dekat ke obyek wisata tadi. Apabila hal ini secepatnya ditanggulangi wisatawan tidak banyak keluhan. LAPANGAN TERBANG Sekitar rencana pembangu- nan lapangan terbang di kawa- san Desa Hilimaenamolo dan lokasinya sebahagian sudah dibebaskan PT Ira Widya Utama menurut Irjenbang, dari sudut urgensi sudah cocok. Namun dari segi skala prio- ritas harus diteliti lebih dahulu oleh pihak berkompen, mana yang lebih penting atau memper- panjang landasan pacu Bandara Binaka atau membangun baru di Teluk Dalam. Menyinggung sarana pengi- napan di kawasan Teluk Dalam sudah memadai baik hotel kelas bintang maupun maupun pengi- napan murah dengan tarif Rp.5000,-per malam. Untuk hotel kelas bintang Sorake Beach Resort pimpinan H.Yopie Batubara telah me- nyediakannya sebanyak 73 kamar berupa kottage. Dengan biaya murah para wisatawan bisa tinggal lebih lama di daerah ini. Namun untuk menahan wisatawan tinggal lebih lama diperlukan pertunju- kan/atraksi yang dapat memikat hati. Pertunjukan yang ada sekara- ng seperti loncat batu dan tari perang perlu dipertahankan dan dilestarikan. Untuk obyek wisata budaya dan sejarah yang sering dikunju- ngi wisatawan di Kecamatan Teluk Dalam yakni pemukiman tradisional di Desa Bawomata- luo dan Desa Hilisimaetano. Letak obyek wisata yang satu dengan lainnya dinilai sangat strategis hanya dalam radius sekitar 20 Km. PEMBINAAN Namun masyarakat di lokasi pemukiman tradisional Desa Bawomataluo masih perlu pem- binaan dari instansi terkait, terutama pembuatan souvenir dan sistem penjualan kepada wisatawan dituntut profesional. Menurut penuturan masyara- kat di desa ini, pembinaan untuk membuat souvenir yang baik dari pihak instansi terkait belum pernah mereka rasakan. Demikian pula di bidang penjualan, hanya mengandalkan apa adanya dengan menjajakan sejumlah barang kepada wisa- tawan mancanegara maupun domestik. KERAGAMAN obyek wi- sata di Kabupaten Nias memiliki ciri khas tersendiri dibading dengan daerah lain. Dengan berbagai obyek wi- sata ini maka pemerintah pusat sejak 1974 menetapkan daerah ini sebagai salah satu daerah tujuan wisata (DTW) nasional. Untuk mencpai Kabupaten Nias yang terpisah dari pulau Sumatera dapat ditempuh de- ngan prasarana perhubungan udara dan laut, bandar udaranya Binaka dan pelabuhan lautnya di Gunung Sitoli. V Perjalanan udara dari Banda- ra Polonia Medan menuju Bandara Binaka ditempuh sekitar satu jam menggunakan pesawat SMAC jenis Cassa dengan kafasitas 17 tempat duduk. Beberapa obyek wisata lain seperti benda purbakala dan rumah adat tradisional, kelihatan 8 J. naliMasigl Jangan pula ditanya soal sarana perhubungan menjadi kendala yang tidak mungkin bahasa, yang namanya bahasa Inggris sama sekali tidak mereka dapat diatasi dalam waktu relatif kuasai bahkan dalam pengguna- singkat menuju sejumlah obyek an bahasa Indonesia untuk wisata itu. Tetapi kondisi Bandara Binaka telah dapat didarati pesawat jenis F-27 dengan kapasitas 44 tempat duduk. Untuk memasarkan souve- nir yang kebanyakan dijajakan anak-anak usia sekolah, mereka tidak dibekali yang namanya ilmu memasarkan. Sementara untuk prasana perhubungan melalui laut sejak beroperasinya kapal ferry pada 1992, kelancaran jasa angkutan laut antara Sibolga-Gunung Sitoli dengan jarak 85 mil telah dapat ditingkatkan. Dari cara-cara mereka me- masarkan barang terkadang sempat membuat jengkel para pengunjung sehingga wisata- wan tidak nyaman di lokasi obyek wisata tersebut. Kelancaran hubungan laut ini didukung pula beroperasinya kapal cepat "Jumbo Zet" dengan masa tempuh antara Sibolga- Gunung Sitoli sekitar empat hingga lima jam. Terbukanya peluang hubu- ngan laut ini dapat memper- lancar mobilisasi penduduk dan pengangkutan barang dari dan ke Kabupaten Nias. Sarana perhubungan laut antara Gunung Sitoli-Padang- Jakarta sudah lancar dengan beroperasinya KM.Kambuna dan KM.Kerinci yang berope- rasi sekali seminggu sejak 1996 lalu. Dalam kaitan ini mereka sangat perlu pembinaan dari instansi terkait atau bapak angkat yang sudi mengulurkan tangan. Bupati Nias Drs.H.Zakaria Y.Lapau dalam eksposenya di balai data kantor bupati menye- butkan, sejak 1974 pemerintah pusat telah menetapkan daerah tingkat II Nias sebagai salah satu daerah tujuan wisata nasional karena daerah ini memiliki keragaman obyek wisata yang tidak kalah menariknya dengan daerah lain. BAHARI Dari segi banyaknya pulau- pulau yang terletak di sekitar pulau Nias, daerah ini sangat berpeluang dijadikan obyek wisata bahari. Beberapa obyek wisata ter- sebut antara lain obyek wisata alam, bahari, seni/karya buda- ya,sejarah dan obyek wisata agraris. Perkembangan kepariwi- sataan di daerah ini pada Pelita V terus mengalami peningkatan dalam tiga tahun terakhir wisata- wan mancanegara dan domestik yang mengunjungi obyek wisata di daerah ini sebanyak 66.196 orang di antaranya 23.950 orang wisatawan mancanegara. Namun dalam satu bulan terakhir daerah ini minus dikun- jungi wisatawan akibat penga- ruh asap dan trauma jatuhnya pesawat Garuda. Untuk menggairahkan kepa- riwisatawan di daerah ini me- nurut Bupati Nias ada beberapa masalah yang dihadapi seperti sarana dan prasarana yang sangat terbatas, terutama prasa- rana hubungan darat ke lokasi obyek-obyek wisata. baik ke dalam maupun luar nege- Kurangnya promosi wisata, ri. Di saping itu keterbatasan keuangan daerah untuk pengem- bangan obyek-obyek wiasata yang ada. Langkah yang akan ditempuh pada Pelita VI mendatang me- nurut Bupati Nias Drs.H.Za- karia Y.Lapau yakni pengemba- ngan beberapa kawasan obyek wisata, pemugaran benda-benda purbakala (batu-batu megalith), pemugaran rumah-rumah adat tradisional, pembangunan mu- seum dan program promosi pariwisata serta pelestarian pengembangan seni budaya. Memang, dari sekian banyak obyek wisata yang terdapat di Kabupaten Nias barulah obyek wisata kelautan yang dapat diandalkan dan didominasi Kecamatan Teluk Dalam. Kepala Kanwil Deppar- postel Sumut, Jodi S. Soesilo Pariwisata Diharapkan Menjadi Roda Penggerak Pembangunan Nias tergali, misalnya di kawasan pulau-pulau ini dapat pula dijadikan arena olahraga bagi penyelam. Selama ini yang menjadi ganjalan adalah sarana perhu- bungan antara satu pulau ke pulau lainnya, ujar masyarakat yang dihubungi di Kecamatan Teluk Dalam. *****# Berbagai obyek wisata yang terdapat di daerah ini memang memiliki prospek cerah sehing- ga Irjenbang Ir. Humuntar Lum- bangaol yakin pembangunan obyek wisata di daerah ini diharapkan menjadi roda peng- gerak pembangunan di sektor lain seperti pembangunan di sek- tor pertanian, perikanan dan industri rumah tangga serta lainnya. Irjenbang Ir. Humuntar Lum- 12 POLISI Analisa/ton SUN VISTA: Kapal pesiar milik perusahaan Singapura Sun Vista dijadwalkan secara rutin menyinggahi pelabuhan Belawan, Kapal yang mampu menampung 1200 penumpang itu diharapkan dapat menggairahkan kembali kunjungan wisman ke Sumut, Kini Saatnya Membenahi Obyek Wisata di Sumut Selamat Datang "Sun Vista" lanjut Jodi, bila secara reguler kapal pesiar Sun Vista dapat rata-rata menyumbangkan seki- tar 500 wismannya, hal ini sangat membantu dan mengun- tungkan masyarakat, khususnya di kalangan dunia usaha. MASYARAKAT Sumatera Utara bisa berbangga bila kapal pesiar "Sun Vista" milik perusa- haan Singapura dapat secara reguler menyinggahi pelabuhan Belawan. Bayangkan kapal pesiar mewah sepanjang 214 meter itu (hampir dua kali lapangan sepakbola) membawa turis mencanegara parkir sepe- kan sekali di pelabuhan Bela- wan. Sedangkan kapasitas kapal yang dapat menampung 1200 penumpang itu, seperti yang disepakati Kakanwil Parpostel Sumut dengan pihak Adminis- tratur Pelabuhan Belawan, penumpangnya diizinkan turun dan menyinggahi beberapa obyek wisata terdekat di Sumut. Pada pelayaran perdana, Rabu (3/12) lalu, meskipun terlambat sandar di dermaga Belawan, namun kesan di antara sesama pejabat pengelola pari- wisata daerah ini cukup mele- gahkan untuk menggairahkan kunjungan wisatan manca- negara di daerah ini. Bila isi kapal itu setiap minggu rata-rata membawa 500 turis untuk melihat 'keindahan' kota Medan dan sekitarnya, tentu dapat kita bayangkan berapa isi kocek yang akan mereka salurkan di daerah kita. bangaol mengisyaratkan, dalam upaya pembangunan sektor pariwisata di Kabupaten Nias diperlukan roda-roda gila yang akan memutar sumbu-sumbu pembangunan di sektor lain. Roda-roda gila tersebut secara gamblang diuraukan Humuntar Lumbangaol, yakni pembangunan sektor pariwisata. Dengan terbabgunnya sektor pariwisata di daearah ini akan dapat menggerakkan pemba- ngunan di sektor perikanan, pertanian, perkebunan dan lainnya. Apabila pembangunan sektor pariwisata sudah berkembang, sektor lain yang akan tumbuh adalah bidang pertanian, misal- nya bidang usaha sayur mayur. Tida seperti sekarang, untuk kebutuhan bahan makanan di Oleh: Anthony Limtan Pusat Promosi Pariwisata Indo- yang masih menjabat Direktur nesia (P3-I) di Singapura me- ngatakan, keberhasilan Sun Vista singgah di pelabuhan Belawan adalah untuk mengop- timalkan peranan pelabuhan itu sebagai salah satu pintu gerbang masuknya wisman. Ia mengungkapkan, selama ini wisman yang mengunjungi Sumut 75 persen melalui ban- dara Polonia, sementara dari pelabuhan hanya sekitar 25 persen. Maka dengan kehadiran Sun Vista setiap minggu, diha- rapkan angka masuk wisman melalui Belawan dapat diting- katkan, meskipun penumpang- nya tidak menginap di hotel. Seperti yang disepakati, lama kapal sandar hanya berkisar 8 jam. Waktu tersebut cukup untuk membawa turis manca- negara tersebut melihat-lihat sejumlah obyek terdekat dengan pelabuhan di daerah ini. Namun yang menjadi "pekerjaan rumah" pengelola pariwisata, apakah Sumut sudah siap mela- yani mereka? MENURUN Jodi S. Soesilo, mengakui akhir-akhir ini jumlah wisman yang masuk ke Sumut, baik melalui pintu masuk bandara sejumlah hotel di Teluk Dalam terpaksa didatangkan dari Sibol- ga atau daerah lain. Sedangkan hasil sayur mayur dari daerah ini belum memadai. Demikian pula buah-buahan dan daging masih didatangkan dari daerah lain kendati dengan biaya yang lebih besar. SUBUR Padahal apabila ditinjau dari kultur tanah di daearah ini sangat cocok untuk tanaman sayur mayur dan buah-buahan. Demi- kian pula potensi peternakan dan perikanan tergolong cukup memadai. Hanya saja sumber daya ma- nusia yang bermukim di sekitar obyek wisata ini belum digerak- kan secara optimal. Memang diakui Bupati Nias Drs.H.Zakaria Y. Lapau, untuk menggerakkan SDM warga yang bermukim di sekitar obyek wisata ini memakan waktu. Pihaknya terus berupaya memberikan bantuan berupa penyuluhan kepada masyakat AD $ 10 Jodi S. Soesilo Polonia maupun pelabuhan Belawan menurun cukup tajam. Menurutnya, faktor alam me- mang sangat mempengaruhi, seperti kejadian kabut asap beberapa waktu yang lalu. Akibatnya, wisman yang masuk via Polonia menurun drastis karena mereka datang ke daerah ini ingin menghirup udara segar dan menikmati obyek wisata. Mereka tidak mau mengambil resiko sekecil apa- pun. Melalui pelabuhan Belawan, tentang prospek pembangunan pariwisata yang diharapkan menjadi adalan daerah ini, Untuk memancing minat wisatawan datang ke daerah ini perlu diperbanyak atraksi dan suguhan-suguhan menarik yang dapat pula dijadikan promosi ke dunia luar. Namun menurut penuturan Ritanga Dachi, ketua Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD) Hilisimaetano, warga di desanya bukan tidak mampu membuat sejumlah atraksi yang dapat disuguhkan bagi wisata- wan. Ganjalan satu-satunya adalah sarana perhubungan jalan darat. Kondisi jalan menuju desa yang terkenal dengan rumah adat tradisional ini masih jalan batu. Sesuai data yang diperoleh, panjang seluruh jalan darat di Kabupaten Nias 426,99 Km terdiri dari hitmix 127,04 Km,aspal 142,50 Km, onderlag 64,95 Km dan jalan tanah 92,50 Km. Menurut Ritanga Dachi, jalan onderlag dan jalan tanah inilah yang perlu ditingkatkan, karena sebahagian obyek wisata purba- kala di daerah ini terdapat di pe- dalaman yang membutuhakn perjalanan yang memadai. Apabila poros jalan ini sudah lancar, bukan hanya sektor pariwisata yang memiliki pros- pek, sektor-sektor lain juga akan hidup.ujar Ritanga Dachi. HALAMAN 3 Bahkan jalan menuju ke obyek wisata tersebut juga rusak berat, terutama yang menuju ke obyek wisata air terjun Moramo, sehingga para pengunjung ke obyek wisata itu harus rela terantuk-antuk di atas mobil karena kondisi jalan yang rusak. Kepala Dinas Pariwisata Sultra Drs. Abdul Karim ketika dihubungi mengakui kondisi obyek-obyek wisata tersebut dan pihaknya terus melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk membenahinya. Selain itu, pihaknya juga terus mencari mitra, terutama dari kalangan investor untuk mengelola obyek-obyek wisata Selain pantainya dapat dijadi- potensial tersebut, karena dikan arena selancar, keragaman Analisa/anto. Pemda setempat mengalami MEMPRIHATINKAN: Kondisi sarana perhubungan jalan darat antara Gunung Sitoli-Teluk keterbatasan dana untuk me- alam hayati di dasar laut samu- dalam memprihatinkan, bus angkutan umum dan mobil pribadi masih ada yang melewati jembatan nangani secara optimal. dera Indonesia ini masih me- batang kelapa karena jembatan permanen belum rampung. Gambar bawah mobil Polisi terperangkap "Oleh karena itu, kami nyimpan prospek yang belum di sungai terpaksa ditarik dengan mobil lain. mengundang kehadiran para Mengunjungi obyek wisata tersebut, melihat hampir semua sarana penunjangnya seperti kamar ganti dan rumah per- istirahatan rusak berat, se- mentara rumput liar dan sampah tampak bertebaran di sana-sini, PENAWAR PIL PAHIT Tampaknya kehadiran Sun Vista menjadi salah satu pena- war pil pahit yang dialami sektor wisata daerah ini. Seperti yang diberitakan beberapa waktu lalu, perusahaan penerbangan nasi- onal Garuda Indonesia dinyata- kan akan menghentikan semua penerbangan yang menempuh rute Eropah-Medan karena rendahnya tingkat penggunaan tempat duduk (seat) yang tersedia. Menurut sumber yang tak bersedia disebutkan namanya, penerbangan Garuda dari Ero- pah ke Medan dijadwalkan akan berakhir 28 Oktober 1998. Dikatakan, penerbangan rute tersebut bisa dibuka kembali setelah permintaan pasar me- ningkat. Menanggapi hal tersebut, Ketua Badan Pariwisata Daerah (Bawisda) Sumut Ir. Henry Hutabarat, mengatakan tanpa adanya penambahan fasilitas penerbangan langsung dari luar negeri ke Medan semakin sulit bagi Sumut untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan. dia, Bawisda Sumut bersama asosiasi dan kalangan dunia usaha pariwisata terus berusaha memanfaatkan peluang kerja- sama segitiga pertumbuhan utara (IMT-GT) untuk menjadi wisman, khususnya dari Malay- sia dan Thailand. Namun demikian, menurut Sedangkan tantangan lain yang perlu mendapat perhatian dari Pemda, menurut Henry, banyaknya jalan menuju obyek wisata dalam kondisi rusak berat hingga selalu mengecewakan wisatawan, sementara kondisi di obyek wisata banyak pula yang tidak memenuhi standar. Dalam kaitan itu, Kakanwil Parpostel Jodi S. Soesilo pada ekspos di depan para anggota DPR Sumut memaparkan, sek- tor pariwisata banyak tergan- tung pada instansi lain, khsusnya dalam penyiapan sarana dan prasarana pendukung, seperti jalan raya, perhubungan, fasi- litas umum dan lainnya. Kondisi Sejumlah Obyek Wisata di Sultra Memprihatinkan KONDISI sejumlah obyek investor, baik dari dalam mau- wisata potensial di Sulawesi pun luar negeri, untuk mengelola Tenggara, seperti air terjun obyek wisata tersebut, baik Moramo di Kabupaten Kendari, secara langsung maupun dengan danau air asing Napabale cara menjalin mitra dengan (Muna) dan pantai Nirwana pengusaha lokal," katanya. (Buton), kini tampak mem- prihatinkan. Kepada investor yang ber- minat, termasuk yang men- sponsori masuknya wisatawan ke Sultra, Pemda akan mem- berikan berbagai kemudahan, seperti perizinan, pengadaan sarana penujang dan pemberian bebas pajak selama beberapa tahun. Namun demikian, Jodi sudah berupaya memasukkan kunju- ngan wisman ke daerah ini melalui kapal pesiar Sun Vista. Dalam kaitan inilah, bila para wisman tidak mau dikecewa- kan dalam lawatannya di daerah ini, sudah saatnya instansi terkait membenahi sektor-sektor yang dianggap penting mendukung kenyamanan para wisatawan tersebut. Selamat datang Sun Vista! Ditanya soal masih minim- nya jumlah kunjungan wi- sawatawan mancanegara di Sultra, dia mengatakan, pe- nyebabnya bukan karena kon- disi obyek wisata yang kurang menarik, melainkan semata- mata karena sarana dan pra- sarana yang belum memadai. Untuk sarana transportasi misalnya ke dan dari Sultra, misalnya, terutama yang melalui udara, hingga kini hanya di- layani oleh satu penerbangan (Merpati) dengan frekuensi penerbangan hanya 10 kali seminggu. Jumlah kunjungan wisata- wan mamncanegara ke Sultra tahun 1996 tercatat hanya 3.000 orang, jauh di bawah jumlah yang dicapai daerah tetangga seperti Sulsel dan Sulteng yang rata-rata di atas 30.000 orang/ tahun, padahal obyek wisatanya relatif sama. (Ant)