Tipe: Koran
Tanggal: 1997-11-16
Halaman: 09
Konten
ANALISA - MINGGU 16 NOVEMBER 1997 Ketika Jono Terbaring Sakit JONO tengah terbaring tak berdaya di sebuah kamar pasien. Sudah seminggu ia terpaksa dira- wat di rumah sakit gara-gara de- mamnya yang tinggi disertai pa- nas yang cukup tinggi. Melihat kondisinya yang amat mengkha- watirkan itu, orang tua Jono se- gera membawa anaknya ke rumah sakit. Kabar Jono yang tengah dira- wat di rumah sakit telah tersebar dan didengar oleh teman-teman sekolahnya. Sebagian ada yang merasa prihatin dan turut mera- sa kasihan, sebagian lainnya ma- lah bersikap cuek saja seolah tak begitu perduli dengan sakit yang dialami temannya itu. Kesemua- nya itu tentu ada penyebabnya. Semasa Jono dalam keadaan sehat-sehat dan melihat temannya jatuh sakit, kerapkali Jono suka sekali mengejek dan menyindir teman-temannya yang jatuh sakit. Jono sering menganggap teman- temannya sembrono, tidak pandai menjaga kesehatan dan gampang sakit. Tidak seperti dirinya yang jarang sekali jatuh sakit. Setiap bulan ia selalu memeriksakan ke- sehatannya pada dokter spesialis langganan rutin ayahnya. Jono memang terlahir dari sebuah ke- luarga yang serba mampu hingga setiap bulan ia selalu mampu me- meriksakan kesehatannya. Berbe- da dengan teman-temannya yang tentu tak bisa melakukan itu. Karena merasa jarang sekali jatuh sakit, lantas Jono sering me- nyombongkan diri. Bila temannya jatuh sakit, memang ia ikut men- jenguk dan membawa oleh-oleh dengan memberi doa agar cepat sembuh. Tapi begitu teman- temannya yang sakit itu telah sem- buh dan kembali masuk sekolah, maka Jono mulai menyindir te man-temannya yang jatuh sakit. Ia mulai meremehkan teman-te mannya yang pernah jatuh sakit itu dengan kalimat-kalimat yang penuh ejekan disertai kesombong- an ucapannya tentang seberapa daya tahan tubuhnya terhadap se- rangan penyakit. Rata-rata teman yang sakit dan berhadapan dengan kalimat ejekannya itu merasa kecewa dan tersinggung oleh ejekannya. Tapi ada juga yang coba bersabar hati menerima segala sindiran yang di- ucapkan oleh Jono. Mereka per- caya suatu saat kelak Jono akan menerima akibat dari kesom- bongannya itu. Dan kini Jono baru merasa- kan akibat dari kesombongannya selama ini. Ia yang selalu mem banggakan diri tak pernah jatuh sakit kini benar-benar tak berdaya dan terbaring lesu di rumah sakit. Berat badannyapun menurun. Ia benar-benar nampak lemah. Beberapa temannya yang telah lebih dulu menjenguk Jono di ru- mah sakit hari ini bercerita ten- tang kondisi Jono yang amat memprihatinkan. Mereka mem- punyai rencana sore itu sepulang sekolah akan membezuk Jono di rumah sakit. Rencana itu juga te- lah dibicarakan dengan Pak Sabri wali kelas mereka. Wali kelasnya setuju dan akan sama-sama mem- bezuk Jono di rumah sakit. Di antara teman-teman seke- las Jono memang banyak yang ke- beratan untuk membezuk Jono. Soalnya mereka rata-rata sakit ha- ti oleh sikap dan ulah Jono sela- ma ini terhadap mereka sewaktu jatuh sakit. Mereka malah bersyu- kur dan menganggap itu salah sa- tu pelajaran bagi Jono agar tidak suka meremehkan orang lain yang tengah menderita. Apalagi me- nyombongkan diri. YAH, AKU INGIN KE MENARA JAKARTA... Oleh: Su le SS MASYARAKAT HARUS TETAP WASPADA! TIDAK, YAH! "Makanya kalau tidak ingin jatuh sakit, jangan suka nekat me- nerobos hujan. Sudah tahu hujan itu bisa membawa penyakit, apa- lagi untuk ukuran orang seperti kamu yang fisiknya lemah masih berani menerobos hujan. Tunggu sampai hujannya berhenti kena- KITA BELUM TAHU SIAPA DIA SEBE- NARNYA... SEGERA LAPORKAN... BILA MELIHAT HAL- HAL MENCURIGAKAN pa? Jangan samakan dengan saya yang berani menerobos hujan se- lebat apapun dan tanpa jatuh sa- kit setelah itu. Soalnya setiap bu- lan, saya selalu memeriksakan ke- sehatan saya, sedangkan kamu ja- Manusia Akar rang memeriksa kesehatanmu. Malah kulihat badanmu yang ku- rus itu sebenarnya kamu kurang gizi. Tapi kamu sering meremeh- kan soal kesehatan hingga dalam sebulan saja ada saja penyakitmu. Malang memang nasibmu, An! Mudah-mudahan setelah sakitmu yang baru lalu itu, kamu tidak ja- tuh sakit lagi. Soalnya kalau ka- mu jatuh sakit lagi, nggak keba- yang deh kamu akan semakin kurus". Ani adalah salah seorang yang merasa sakit hati atas ejekan Jo- Tapi ketahuilah suatu hari kelak kamu pasti akan jatuh sakit juga. no terhadap dirinya. Dia juga Jangan menyombongkan diri. yang mewakili suara hati bebera- pa temannya menyatakan tidak ikut serta membezuk Jono. Dia masih ingat bagaimana Jono me- nasehatinya dengan kalimat yang bernama ejekan sewaktu ia baru sembuh. "Ucap Ani marah sekali. Jo- no yang mendengarkan kemarah- an itu tertawa dan beranjak per- gi. Ani merasa tersinggung seka- li. Dalam hati ia terus menyum- pahi bahwa kelak Jono pasti ja- tuh sakit. "Cukup, Jon! Aku tak butuh lagi nasehatmu. Aku tahu kamu memang serba mampu dalam menjaga kesehatan.Harus kuakui aku memang orang yang kurang mampu. Kamu itu sombong dan terlalu membanggakan kesehatan- mu hingga kamu itu jarang sakit. DIA JAHAT! 7/1 joll Sekarang mendengar Jono te- ngah terbaring di rumah sakit, ia jadi ingat lagi peristiwa seming- gu yang lalu. Ani merasa yakin Jono sakit pasti karena ia mandi hujan hari Sabtu yang lalu. Kini terbukti sudah bahwa kesom- bongannya yang selalu mengata- kan hujan tak akan membuatnya jatuh sakit tidak terbukti. Bukti- nya ia telah jatuh sakit karena mandi. PETUGAS KEAMANAN MEMBENTUK TIM KHUSUS *** 91 Ia ingat karena kebetulan ju- ga berkumpul dengan seluruh te- *** CUMA DALAM FILM,YAH... hil man sekolah yang ingin pulang Sabtu kemarin. Hujan turun lebat sekali. Rata-rata teman sekolah- nya berteduh di halaman sekolah sambil menunggu hujan reda. Be- gitu juga dengan Ani. Ia melihat Jono tengah bersiap-siap dengan jaket hitam yang dibawanya. Tas sekolahnya ía gantungkan di ba- hu dengan jaket hitam tebal yang menutupi. Ia pun siap-siap mene- robos hujan lebat itu. TAMAN RIANG "Kamu benar-benar nekat ingin menembus hujan selebat itu?" Ta- nya Ari teman sebangkunya. "Iya! Sudah berulang kali ku- katakan terhadap hujan selebat apapun tidak akan berpengaruh apa-apa deh terhadap kesehatan- ku. Kan sudah sering kalian lihat aku berhujan-hujan pulang dari ,,۱۲ ۱۱ sini, besoknya tetap segar-bugar". "Jangan berkata begitu, Jon! Hujan hari ini lain dengan hujan yang biasa turun. Lagipula kalau selama ini kamu tidak jatuh sakit karena hujan, mungkin karena nasibmu lagi baik saja. Apalagi akhir-akhir ini kabut sangat tebal. Dan hujan kali ini pasti bercam- pur dengan kabut kebakaran hu- tan yang jelas membawa penyakit. Jadi sebaiknya urungkan niat- mu!" Saran Ari waktu itu. "Aku harus segera pulang. Li- hat saja hari Senin aku pasti kem- bali dengan kondisi yang segar bugar. Akan kubuktikan bahwa terhadap hujan aku tidak akan ja- tuh sakit. Lain dengan kalian yang memang kondisi kesehatan kalian kurang terjamin. Jadi sebaiknya kusarankan kalian menunggu hu- jan reda. Jangan ikut-ikutan aku. Kondisiku cukup kuat, sedang ka- Oleh: Erlangga 4752go JANGAN! HARI SU- DAH LARUT! KAMU TAK TAKUT MONS- TER AKAR ? O lian lemah. Sudah, ya! Ingat pe- sanku," ucap Jono sombong seka- li. Tapi Ari yang menerima ucap- an itu tidak merasa tersinggung. Sepertinya ia sudah bisa menger- ti kebiasaan dan sifat buruk Jo- no yang sering bicara ceplas- ceplos begitu saja tanpa memper- timbangkan apa yang diucapkan- nya menyinggung perasaan teman. Ari menatap Jono yang telah jauh menembus hujan lebat de- ngan geleng-geleng kepala. Ia su- dah bisa memperkirakan bahwa hari Senin Jono pasti jatuh sakit. Apa yang diperkirakan oleh Ari benar-benar terjadi. Hari Se- nin pagi-pagi sekali ia telah me- nerima kabar bahwa Jono tidak bisa sekolah karena demam. Ari juga menerima sepucuk surat dari orang tua Jono yang dikirimkan pagi-pagi sekali lewat pembantu- nya ke rumah dan mengharap Ari segera menyerahkan surat itu ke- pada ketua kelas. Ari kala menerima surat itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Hari ini Jono telah menerima aki- bat dari kesombongannya selama ini. Dan jika teman-teman lainnya tahu pasti mereka juga berbuat sa- ma. Mentertawakan kesombongan Jono selama ini dan kini terbaring sakit. Walau nanti teman-teman- nya akan mentertawakan Jono, Ari akan mencoba bersikap bijak dan mengajak mereka untuk ikut prihatin serta mau membezuk Jo- no di rumah sakit. Meskipun usa- hanya bakal sulit karena mereka rata-rata telah membenci Jono, ta- pi Ari yakin ia bisa berhasil me- yakinkan teman-temannya. Seti- daknya memaafkan Jono yang se- lama ini sering membuat mereka kesal. Ari yakin dalam sakit yang tengah Jono alami, anak itu pas- ti mulai menyadari akibat kesom- bongannya selama ini. Dengan berkunjungnya semua teman-te- man sekelas, Jono pasti merasa terharu dan kian merasa bersalah dan akan segera merubah kebiasa an jeleknya itu. Usaha Ari membujuk teman- temannya untuk segera membe- zuk Jono tidak segera terlaksana. Rata-rata mereka menolak ke sa- na walau Jono memang pernah membezuk mereka sewaktu sakit. Tapi rupanya rasa kecewa dan sa- kit hati oleh ejekan Jono selama ini belum bisa terlupakan oleh mereka. 04 Ari terus berusaha membujuk mereka agar mau membezuk Jo- no karena dengan kehadiran me- reka pasti akan mempercepat pro- ses kesembuhan Jono. Satu-per- satu di antara mereka yang semula menolak membezuk Jono akhir- nya bersedia. Malah mereka ada yang coba berangkat sendiri. Be- gitu mendapatkan kondisi Jono yang memprihatinkan, mereka tak sampai hati untuk tak memaaf- kan Jono. Merekapun membantu Ari membujuk teman-temannya untuk membezuk Jono. Sampai hari Sabtu, baru Ari dan teman- temannya berhasil membujuk hampir semua teman sekelas yang ingin membezuk Jono di rumah sakit. Hanya Ani dan dua orang temannya yang nampak tetap ngo tot tak perduli dengan rencana itu. Mereka tetap tak ingin membezuk Jono. Apalagi ikut mendoakan agar ia segera sembuh. Ari dan teman-temannya be- nar-benar kewalahan membujuk Ani dan dua orang temannya itu. Mereka menyerahkan sepenuhnya pada Pak Sabri wali kelas mereka. Pak Sabri pun sebenarnya te- lah tahu banyak watak dan ke- biasaan jelek Jono yang selama ini sering membuat teman-te- mannya kecewa. Terutama kesom- bongan bicara Jono. Pak Sabri mulai menasehati mereka. Dengan kalimat saktinya, ia berhasil menyadarkan dua orang teman Ani. Mereka berse- dia memaafkan Jono dan ingin bersama membezuk Jono di ru- mah sakit. Mereka sadar keben- cian yang dipendam terus lebih- lebih pada orang yang tengah ja- tuh sakit dan pernah berbuat sa- lah itu tidak ada gunanya jika di- perpanjang terus. Apalagi men- dengar cerita Pak Sabri Jono te- lah menyadari kesombongan dan keangkuhannya selama ini. Jadi untuk apa dipendam terus. Se- baiknya diakhiri dengan jalan da- Arek-arek Surabaya Oleh: Pahrus Zaman Nasution Biarpun dari angkasa ada ancaman dari laut ada ancaman dari darat ada ancaman membumihanguskan Surabaya namun tiada gentar Dengan gagah perkasa dengan sejuta keikhlasan arek-arek Surabaya bersatu padu ke medan laga tua muda siap persembahkan raga dan nyawa demi Indonesia demi martabat bangsa meluluhlantakkan Mallaby-Mallaby tuk kibar sang merah putih disetiap tangan orang Indonesia 58 5! Bung Tomo, kau tiada gentar kau teriakkan Allahhuakbar membakar semua arek Surabaya tuk bersama mengepung penjajah . .49 Bung Tomo Oleh: Pahrus Zaman Nasution Bung Tomo, darahmu menggelegar basahi Surabaya ketika Mallaby-Mallaby si mata biru curahkan pisau yang menusuk hati Indonesia. 97 48 Mari Mewarna 57 Cakenda 51 2 adovom Autnu nezab Evanisl grts Bluq delat Xibs-libe 41 52 mai. Toh setiap umat manusia pernah berbuat salah dan Tuhan selalu membuka pintu maaf ter- hadap umatnya yang benar-benar jera dan bertobat. Lain halnya dengan Ani. Ia tak gampang untuk menyetujui rencana mereka ingin sama-sama ke rumah sakit. Ia malah memi- lih pulang kala teman-temannya siap mengumpulkan uang mem- beli oleh-oleh buat Jono di rumah sakit. Pak Sabri tidak bisa berbuat banyak. Ia yakin ketidak hadiran Ani akan sangat mempengaruhi proses kesembuhannya nanti. Se- karang usahanya membujuk Ani agar mau memaafkan Jono dan membezuknya telah gagal. Tanpa Ani mereka pun be- rangkat ke rumah sakit. Di luar dugaan ternyata diam-diam Ani telah hadir sendiri ke rumah sa- kit itu. Malah ia yang mendapat giliran pertama membezuk Jono yang terbaring sakit. Diam-diam selama membezuk Jono, Ani te- lah banyak mendengarkan penye- salan Jono atas kesombongan dan kalimat-kalimat yang pernah me- rendahkannya itu. Dan Ani me- Puisi-Puisi 39 38 3 37 53. E dib420 mungor 55 10 44 2 (i 36 35 Bung Tomo, Surabaya kau persembahkan untuk kami Indonesia kau nyanyikan untuk kami jasamu tak kan kulupa terima kasih, Bung Tomo maafkan Jono. Pak Sabri dan teman-teman sekelas begitu tahu Ani telah le- bih dulu membezuk Jono nampak gembira sekali. Walau harus me- nunggu jam bezuk selanjutnya mereka rela. Kisah Hari Pahlawan Oleh: Pahrus Zaman Nasution 34 Begitu jam bezuk selanjutnya tiba, mereka pun diijinkan masuk. Lagi-lagi terhadap teman-teman nya, Jono menyatakan maaf dan penyesalannya selama ini karena sudah terlalu sombong membang- gakan diri dan menghina mereka. Mereka pun bersedia memaafkan Jono. Tahun sembilan belas empat lima teriak merdeka jadi milik Indonesia Mendengar maaf yang tulus dari mereka membuat Jono agak semangat. Kondisi kesehatannya pun kian membaik. Ia pun ber- janji kelak tak akan sombong dan angkuh lagi. Apalagi suka meng- ejek teman-temannya. Ia sadar bahwa tak ada seorang manusia pun bisa kebal bila penyakit me- nyerang. Semampu dan sepintar apapun menjaga kesehatan, kalau penyakit mau menyerang dan se- dikit ada kelalaian pasti akan ja- tuh sakit juga. Ini telah diakuinya. ✰✰✰ 27. agar Surabaya dikosongkan dari senjata semua harus diserahkan pada mereka jika tidak 28 namun Belanda menyempatkan singgahi Surabaya air liurnya kembali meleleh untuk kuasai Surabaya kita tidak tinggal diam rakyat melawan Mallaby mati tertembak mereka marah mereka memaksa Surabaya dijadikan arang Arek-arek Surabaya bukan pengecut tidak dihiraukan ancaman musuh tidak dicari musuh datang tidak lari Belanda menantang digempur semua maju menggempur Peristiwa itu 10 Nopember 1945 jadilah hari pahlawan bukti penghargaan kepada pahlawan 26 31 ستماتیک == 29 M / 5 25 'so .30 LAG 6 5820 usud '22 Andi, demikian panggilan akrabnya saat ini masih duduk di bangku SD kelas V adalah putra pasangan Efendi Pulungan yang juga Kepdes di Desa Lumban Dolok, Kecamatan Siabu, Tapanuli Selatan dan Hayani br. Nasution, yang mengemban tugas sebagai bidan di Puskesmas Siabu. Sesungguhnya bakat melukis Andi tidak menurun dari orang- tuanya, hanya karena ia rajin latihan dan bila ada waktu H 12 16 HALAMAN 9 STOLA Ibst b 21 29 Andi Juara Melukis se Tapsel ANDI Hairun Pulungan, senggang, ia menggores-gores- pemenang lomba melukis se kan secari kertas, namun lama- Tapsel tingkat Sekolah Dasar lama kreatifitas Andy menjadi bakat yang disenangi. (SD) terpilih menjadi utusan daerahnya mengikuti lomba melukis di tingkat I Sumut yang akan digelar Desember 1997. SELAMAT DATANG Ketika berkunjung ke rumah kakeknya di Indrapura Asahan baru-baru ini, putri pertama pasangan Ir H Arfanul dan Hj Rohana tersebut mengatakan, ia sangat mendambakan menjadi seorang Polwan karena salut terhadap tugasnya yang selalu sigap. .9 30 31 Kesigapan Polwan itu terlihat langsung di mata Maulidita ketika dilaksanakannya upacara hari ABRI 5 Oktober di Jakarta, di tayangkan langsung oleh enam stasiun televisi Indonesia. Yang jelas Polwan tersebut sudah sejak lama jadi dam- 10 مع ASi uit sensm Walau Andi dapat dikatakan pelukis yang masih bau kencur, namun hasil kreasinya dapat diandalkan. Untuk pengem- bangan bakatnya dan rekan- rekan pelukis lainnya di Siabu, Andi sangat senang bila Pemda setempat mengadakan lomba lukis. Andi juga gemar saling tukar informasi dengan kawan-kawan sebayanya. Sedangkan pres- tasinya di sekolah pun lumayan, sehingga orangtuanya tidak khawatir pelajarannya tertinggal karena gemar melukis. (tamleho nasution) Analisa/tn TROPI: Andi Hairun Pulungan yang memegang tropi (ketiga dari kanan) berfoto bersama dengan teman-temannya saat penerimaan hadiah di Desa Lumban Dolok, Siabu. Maulidita Ingin Jadi Polwan POLISI wanita (Polwan). baannya. Ketika mereka ber- Itulah keinginan dan cita-cita baris, mata Maulidita asyik Maulidita gadis cilik kelahiran melihat barisan Polwan yang Lhokseumawe (Aceh Utara) bergerak taratur. yang kini menetap di Jalan Cempaka V nomor 5 Kampung Aluek Hasan Banda Aceh. Cita-cita itu sudah disam- paikan Maulidita kepada ayah dan ibunya tercinta Ir. H Arfanul dan Hj Rohana. "Mereka setuju. Saya sangat gembira", ujar Maulidita. Untuk tahun ajaran 1997/ 1998, Maulidita tekun belajar di Taman Kanak-kanak YKA Banda Aceh. Mudah-mudahan cepat berhasil. Dan langsung melanjut ke SD, SMTP dan SMTA untuk seterusnya. Maulidita selain bercita-cita jadi Polwan, ternyata juga senang baca puisi. Belum lama ini ia tampil di stasion TVRI Banda Aceh membaca puisi. (alkisah led)
