Arsip
Halaman Artikel
Creative Commons License

Jika anda mendapati gambar tidak sesuai dengan spesifikasi data (salah tanggal dan atau salah penomoran halaman), posisi gambar landscape, satu gambar terdapat dua halaman, kualitas gambar kabur, anda bisa melaporkan data tersebut agar segera diperbaiki dengan menekan tombol laporkan.

Kata Kunci Pencarian:

Nama: Analisa
Tipe: Koran
Tanggal: 1997-11-16
Halaman: 11

Konten


ANALISA-MINGGU, 16 NOVEMBER 1997 500 Sastrawan dari 8 Negara Ikut PSN IX dan Persi di Padang SEBANYAK 500 sastrawan jadi 500 sesuai dengan kapasitas dari Brunei Darussalam, Malay- ruang pertemuan Ruang Pendidik sia, Singapura, Jerman, Korea Se- INS Kayutaman berikut enam latan, Jepang, Tasmania dan dari ruang sidang dan lima arena kese- nian. 27 propinsi di Indonesia akan mengikuti Pertemuan Sastrawan Nusantara (PSN) ke-9 dan Perte- muan Sastrawan Indonesia (Per- si) 1997 di Kayutaman, Padang, Sumatera Barat, 6-11 Desember 1997. "Secara teknis, hingga kini be- lum ada permasalahan. Panitia te- rus menyempurnakan persiapan kegiatan tersebut dan persiapan telah mencapai 80 persen selesai", kata Ketua Panitia Pelaksanaan, AA Navis dalam pernyataannya di Jakarta, pekan lalu. Ia mengatakan, sampai 30 Sep tember 1997, tercatat 469 sastra- wan akan mengikuti kedua ke- giatan tersebut. Peserta akan men- "Apa yang kami kerjakan bu- kan main-main. Tetapi kami ingin mempersembahkan sesuatu yang bukan main". Demikian A.Rahim Qahhar se laku Ketua Panitia Pelaksana Per- gelaran Kolaborasi Seni Tradi- sional Sumatera Utara, dalam pi- dato laporan pelaksanaan, pada upacara pembukaan di Gedung Utama Taman Budaya Propinsi Sumatera Utara 25 Oktober 1997 malam, di depan penonton yang memadati lebih dua pertiga ge- dung berkapasitas lima ratus orang itu. Sebuah lalu lintas peran yang tidak disokong dan diungkapkan oleh ketegasan dan susunan peran yang sesungguhnya, adalah bukan se- buah penyelesaian dan akan runtuh ke dalam ketidak berwujudan. (GROTOWSKI) JANJI "Sesuatu yang bukan main". Itulah janji. Bahwa kekeda- laman panca indera keenam pe- nonton, akan disemburkan se- suatu yang "wah". Sekurang- kurangnya layak diberi acungan jempol. Bukankah ia suatu yang "bukan main" dan "bukan main-main"?. Sedikitnya pemakalah akan membentangkan pemikirannya dalam forum tersebut. Tentu saja, adanya janji ini sangat menggembirakan. Sebab ti- dak gampang juga berjanji. Se- bab, hakekat janji itu sudah lama ditunggu-tunggu. Kita telah ka- dung menggelupur dalam "Lum- pur Kerinduan" akan hadirnya pertunjukan berkwalitas, oleh ka- renanya bukan "kacangan". Bu- kan pula sesuatu yang sekedar mencukupi pertunjukan itu. Sejak semula saya berharap, semoga bukan semata-mata janji Indonesia mengutus sastrawan dari seluruh propinsi. Peserta ter- banyak 122 dari Jabotabek, Jawa Timur (22), Aceh, Sumatera Ba- rat, Riau, Yogya, Jawa Barat dan Bali mengirim utusan antara 20-35 peserta. Sedangkan peserta dari propinsi lain mengirim ku- rang dari 10 sastrawan. CERPEN Monster Oleh : Sam SECARA iseng-iseng aku menghitung jumlah bantuan yang dijanjikan oleh IMF yang sebesar dua puluh tiga miliar dollar Ame- rika Serikat serta bantuan dari Je- pang dan Singapura sebesar sepu- luh miliar dalam mata uang yang sama ke dalam nilai rupiah. Aku mengalinya dengan angka tiga ri- bu enam ratus rupiah per dollar kemudian aku pun membaginya dengan jumlah seluruh penduduk negara ini yang sudah mencapai angka dua ratus juta. Ternyata angkanya adalah lima ratus em- pat puluh ribu rupiah. Aku menggeleng-geleng kepa- laku. Ini berarti setiap manusia yang menyebut dirinya penduduk negara ini akan berhutang sete- ngah juta empat puluh ribu ru- piah pada saat bantuan itu direa lisasikan. Ia mengatakan, saat kegiatan berlangsung, setiap malam dime- riahkan acara kesenian pada lima arena yang meliputi pembacaan puisi, pementasan drama modern, kesenian tradisional, tari, musik Gelar Kolaborasi Etnis Sumut (Sebuah Tinjauan Teateral) Pergelaran yang terdiri dari dua bagian masing-masing Ram- pak I berisi Etnis Simalungun, Angkola Mandailing, Pesisir dan Karo, dipergelarkan usai acara Lalu, bagaimana dengan jan- pembukaan. Sementara Rampak ji itu? Mari kita lihat. PEMERANAN II dipergelarkan di tempat yang sama pada 1 Nopember 1997 de- ngan muatan Etnis Nias, Batak Toba, Pakpak Dairi dan Etnis Melayu. Tanpa music, tanpa setting, tanpa make up, tanpa tata busa- na dan perkakas panggung lain- nya, dapatkah sebuah peristiwa te- ater hadir? Ya, dapat. Bahkan tan- pa alur cerita, sebuah peristiwa te- ater tetap dapat dihadirkan. Seja- rah teater membuktikan hal ini. Tetapi, dapatkah teater hadir tan- pa pemeran (dan penonton)? Ti- dak terdapat contoh untuk ini. Se- bab teater, mengambil tempat di antara pemeran dan penonton. yang untuk dilanggar, seperti la- zimnya janji di abad ke-20. Apa- lagi jika dengan maksud agar di- taburi bunga demi kepentingan se- buah upacara. Tetapi jikapun de- mikian, biarlah. Boleh jadi karena tak bisa lagi dikembalikan pada raknya. Bila aku seorang buruh yang mendapatkan UMR sehari seba- nyak enam ribu rupiah, maka itu adalah hasil kerjaku tepat sembi- lan puluh hari. Wah, sayangnya aku ini bukahlah buruh. Aku adalah pengusaha yang sukses. Aku bahkan nyaris memperoleh penghargaan Upakarti bila sean- dainya tempo hari aku tidak me- nolak memberikan uang siluman yang diminta oleh seornag peja- bat dari departemen perindus trian. Oleh Imran Pasaribu Selebihnya, tulisan ini tidak bermaksud "menihilkan" arti ke- hadiran kolaborasi yang tentu sa- ja yang dipersiapkan dengan se- luruh kerja keras oleh semua pen- dukungnya, art dan non art seka- ligus. Betapapun, harus diakui, kehadirannya merupakan bukti kecintaan yang besar pada dunia kesenian, dalam warna dan untuk kepentingan apapun cinta itu termanifestasikan. Pemeran menjadi sangat pen- ting, ketika idiom lain menggeser- nya atau diabaikan. Yakni ketika kedudukan pemeran tergusur, menjadi alat untuk menyampai- kan thema-thema dan kesan- kesan, bukan pesan. dalam kapasitasnya sebagai cer- min ketulusan seorang manusia, akan hadirnya manusia lain (pe- nonton). Untuk kepentingan itu lah, tubuh seorang pemeran harus pabrik tempe itu? Bisa-bisa kau yang jadi tempenya". Itulah kata- kata mereka. Tanpa memperdulikan omong an mereka aku melaju dengan te- kadku. Karena aku yakin tempe adalah makanan khas rakyat ne- gara ini yang dapat bersaing de- ngan makanan-makanan impor lainnya. Mula-mula aku memang sukar sekali memasarkan tempe- tempe itu. Baik itu tempe basah, keripik tempe, maupun tempe ke- ring. Tapi, alhamdulillah, berkat Tuhan pulalah usaha itu bisa bangkit selangkah demi selang- kah. Perlahan tapi pasti, langga- nanku semakin banyak. Aku pun membuat hak patennya. Aku ti- dak mau penjiplak-penjiplak me- niru tempe-tempe keluaran pa- brikku yang memang mempunyai kualitas dan rasa yang tidak ada duanya. Usahaku setelah lima tahun semakin berkembang. Ekspor te- lah pun aku lakukan ke negara- negara tetangga. Bahkan tempe- ku sekarang telah menjadi makan an kegemaran di Eropa, Timur Tengah dan Amerika Serikat. Tiba-tiba handphone-ku ber- bunyi mengeluarkan suara yang merdu. dan musikalisasi puisi. Teater Satu Merah Panggung Jakarta yang dipimpin Ratna Sa- rumpaet mementaskan "Marsinah Menggugat", Akhudiat dari Sura- baya mementaskan "Apologia". Banyak grup lain dari Sumbar, Brunei Darussalam, Aceh, Riau, Yogya, Medan dan utusan dari luar negeri secara bergantian se- tiap malam sehingga arena perte- muan akan padat dengan acara. Para pelukis antara lain Amang Rahman, Nuzurlis Koto, Darvies Rasyidin dan perupa dari Surabaya, Yogya dan Padang atas biaya sendiri menggelar karyanya untuk memeriahkan acara ter sebut. "Baik Ron. Ron, kamu sudah tahu berita bahwa enam belas bank telah dicabut izinnya oleh pemerintah ?" Ia menambahkan, forum PSN IX juga akan memberikan hadiah sastra kepada pemenang lomba karya sastra. Sebanyak 119 karya dari 40 sastrawan telah diterima "Ah, Bang kamu jangan me ngada-ngada. Aku tidak mende- ngar berita itu. Dari mana kamu tahu itu ?" Dunia seniman teater dan du- nia penonton adalah sebuah tawar menawar, untuk menetapkan har- Pemeran adalah manusia yang ga dalam urusan ke-manusia-an- berkarya di depan penontonnya, nya, dimana keduanya terlibat se- cara mutlak dalam peristiwa teater. Aku masih ingat dulu ketika aku ingin membangun pabrik tem pe yang aku punyai sekarang ini. Begitu banyak orang yang mener- "Ron, temanku dari Jakarta tawaiku. "Pabrik tempe? Pabrik barusan meneleponku. Katanya tempe? Kau mau jadi apa dengan pada jam setengah dua tadi, Men- terbebas dari segala rintangan dan ia harus hadir secara hakiki; re- la, pasrah, bergerak hidup karena berjiwa. Seorang pemeran, tidak sela- yaknya hadir sebagai sekumpulan tehnik dengan tipuan-tipuan, tak jarang dengan kegemaran meng- gurui penonton, membuat penon- ton menjadi tidak manusiakan, ti- dak dianggar, atau dianggap kambing. Selayaknyalah, seorang peme- ran tidak boleh "bersetubuh" de- ngan penonton. Tetapi, ia harus melakukan "sexual intercourse" resmi,, artinya bukan pelacuran, dengan penuh cinta, dengan pe- ran yang dimainkannya. Memper- sembahkan dirinya kepada penon- ton secara terbuka, luwes, mem- beberkan seluruh apa yang ter- sembunyi dibalik topeng keseha- rian. Dan, ia harus adil. Seorang pemeran, tidak berfi- kir tentang penonton ketika se- dang memainkan perannya. Arti- nya, pemeran tidak menjadikan penonton sebagai titik tuju. Ini jsutru pembusukan, yakni ketika pemeran memperlakukan dirinya sebagai barang yang bebas dikon- sumir karena orang telah membe- linya. Seorang pemeran besar dari Polandia sebelum perang dunia, menyebutnya dengan "publicotro pisme". Sampai disini, bagaimana ke- dudukan janji itu? Tetapi, mari ki- ta lihat lagi. PENONTON Tidak ada teater tanpa penon- ton. Oleh karena itu, kedudukan seniman teater dan penonton ada- lah sejajar. Keduanya mengingin- kan terwujudnya sebuah peristiwa dialektik, puncaknya pada "mu- tual spiritual orgasm". Maka, siapakah itu yang telah menyediakan dirinya untuk da- tang ke gedung pertunjukan de- teri Keuangan telah mengumum- kan itu. Dan Ron, yang mau aku beritahu, Bank Makmur terma- suk salah satu di antaranya." "Bang, jangan mengada-nga da." Sekali lagi aku tidak per- caya. Bank Makmur ? Keringat mulai merembes dari pori-poriku. Jantungku mulai berdetak lebih keras. "Ron, percaya Ron. Itu betul. Makanya aku menelepon kema- ri. Ron, bukankah kamu nasabah Bank Makmur ?" Keringatku semakin banyak mengucur. Dari jidat, kepala, pundak, dada dan punggungku. Aku mulai gemetar. Tanganku menjadi dingin. "Ya, halo. Roni disini." "Ron, ini aku, Bambang." "Hai, Bang apa kabar." Bambang adalah sahabatku. Dia lah satu-satunya sahabatku yang "Ron..Ron...kamu masih di- dulu mendukung bisnisku itu. Dia sana ?" suara Bambang dari turut membantu modal pertama ujung sana bernada khawatir. "Ya...ya...Bang, terima kasih atas informasi ini. Aku akan menghubungi kamu lagi." ku. "Baiklah Ron, kalau ada yang bisa aku bantu. Hubungi aku la- gi. Oke?" "Bang, iii...itu betul. Seluruh uang perusahaanku ada disana." dan diseleksi panitia untuk me- nentukan pemenangnya. Karya sastra sebanyak itu ter- diri atas 54 puisi, 20 kumpulan cerpen, 19 esai, 12 novel dan lima drama telah diterima panitia. Kar- ya sastra dari luar negeri antara lain 16 judul dari Malaysia, Bru- nei dan Singapura. "Baiklah Bang. Terima ka- sih." Aku pun menutup handpho ne-ku. Aku terhenyak di kursi. Baju yang kukenakan telah basah kuyup. Kepalaku berdenyut-de nyut kencang. Bibirku gemetar. Karya sastra dari Indonesia yang dilombakan antara lain kar- ya Asrul Sani, Goenawan Moha- mad, Soebagya Sastrowardoyo, Abdul Hadi WM, Wisran Hadi, Rusli Marzuki Saria, Afrizal Mal- na, Gus TF dan Taufik Ikram Jamil. Selain itu karya Putu Wijaya, Muhammad Ali, Radhar Panca Dahana, Dorothea Rosa Herliany, Seno Gumira Ajidarma, Arswen- do Atmowiloto, La Rose, S. Sinan- sari Ecip dan lain-lain. (Ant) ngan bersengaja? Siapakah dia, yang telah dengan suka rela me- nyediakan panca inderanya untuk digelitik. Tentu saja, ia datang dengan harapan, matanya akan dipuaskan oleh pesona-pesona yang seluruh- nya merupakan hasil dari rencana- rencana yang bernilai me-ma nusia. Pesona yang hadir wajar seolah-olah tanpa perencanaan, hasil kesadaran atau bawah sadar kreator. Ia datang, tak lain untuk melihat manusia menjadi pelaku utama. Siapakah dia, yang berhasrat tidak hanya melihat rentetan kejadian-kejadian dan bukan hi- buran semata-mata? Bukan kein- dahan semata-mata. Ia adalah yang haus untuk melakukan sebuah pengembaraan spiritual. di pintu masuk, mengapa penja- ga tidak mengusirnya?. Sampai disini, terjawablah janji itu? Mari kita lihat lagi; PERISTIWA TEATER Peristiwa teater bukan pemin- dahan keseharian. Ia adalah se- suatu yang dibungkus dan tidak vulgar. Ketika ke hadapan kita disu- guhkan adegan dimana dua buah mobil tabrakan, dan kedua orang sopir yang malang itu, harus me- nebus cintanya yang besar kepa- da dunia teater, dengan mengor- bankan nyawanya yang cuma sa tu-satunya?. Ke opera batak dipindah- kan, persis sebagaimana opera itu dimainkan di Siborong-borong pada tahun 200 Sebelum Masehi misalnya. Ketika teater bangsawan di tempelkan seluruh batang tu- buhnya, untuk kita mamah tanpa pilihan. Ketika silat dari pesisir memasukkan "jurus patuk ular" dengan gerakan yang tak dikenal oleh masyarakat pemilik tradisi itu. Ketika "orang-orang" berge- rak bebas semau-maunya, sekedar untuk menyampaikan kesan-ke san. Ketika suara hati nurani di- kumandangkan tanpa riset yang mendalam. Ketika rampak. 1 men Untuk memastikan berita dari Bambang, aku pun menghubungi beberapa kolegaku. Ada yang ter- kejut mendengar pernyataan mau pun pertanyaanku. Ada pula yang memang telah mengetahuinya. Be rita ini memang benar! Habislah sudah semua usahaku selama ini. Habislah sudah pabrik tempe ke- banggaanku. Uang perusahaanku seluruhnya ada di bank itu. Da- na itu tidak bisa ditarik lagi dan ada kemungkinan dana itu bisa ludes! Sebenarnya semalam aku te- lah mendengar isu-isu miring mengenai Bank Makmur itu. Te- tapi, sebagai bank yang sudah sangat aku percayai, aku sama se- kali tidak mempercayai isu itu. Pula bank itu adalah bank terbe- sar yang berasal dari kota ini. Bank itu usianya sama dengan umur kemerdekaan negara ini. Ah, bodoh sekali aku ini. Kalau saja..., kalau saja.... Ah, sial sekali. REBANA Ant KERETA KENCANA: Rendra (kiri) sebagai kakek berumur 700 tahun dan istrinya Ken Zuraida nenek berusia 697 tahun, berdialog dengan penguasa pada penampilan mereka dalam Kereta Kencana di TIM, Jakarta, Minggu (2/11) malam. Naskah yang ditulis pada tahun 1962 merupakan saduran sejadi-jadinya dari naskah The Chairs untuk pertama kalinya tampil guna memperingati HUT ke-29 Taman Ismail Marzuki. Kalau ia cuma kambing, sejak gung, aktor, sutradara dan petu- tunjukan drama mulai tidak di- minjam di perpustakaan da- gas-petugas teater lainnya, ma- sing-masing memiliki tanggung jawab yang besar, dalam kapasi- tas saling menghargai. Seluruh ha- silnya, akan terlihat jelas dari salah yang lebih gawat. Kenapa selama ini pemerintah tidak per- nah memberikan sinyal kepada masyarakat kalau sebuah bank te- lah tidak sehat malahan dengan terburu-buru dan penuh nafsu memangkas bank-bank bermasa lah itu? Aku teringat dengan syarat yang telah disepakati oleh pemerintah dengan IMF. IMF se- jadi korban Rampak. 2; bagaima- na dengan janji itu? Satu hal la- gi, kita lihat lagi; RAKITAN EMOSIONAL Menyelenggarakan sebuah pertunjukan, pada dasarnya ada- lah sebuah "team work". Dalam sebuah team work, berlaku "Ke- rendahan hati yang menyeluruh". Tidak boleh terselip atau diselip- kan dewa atau yang minta dide- wakan. Oleh karenanya tidak ada kacung, apalagi yang memaksa agar dijadikan kacung. Sebuah te- am work adalah sebuah "kebersa- maan" yang lentur, tidak kaku. HIPOTESA penulis bahwa sebagian peminat karya sastra - tetapi dalam jumlah yang relatif besar adalah para remaja ter- utama anak sekolah. Apalagi di sekolah, bukan hanya karya sas- tra, tetapi juga teori, sejarah dan kritik sastra dipelajari melalui bi- Dalam sebuah team work, ti- dak boleh ada yang menyembu-dang studi. Bahkan lebih jauh lagi bahwa karya sastra selalu menjadi bahan apresiasi mereka dalam berbagai bentuk kegiatan intra- ekstra. nyikan belati dipinggang. Tidak selayaknya ada yang menyembu- nyikan "Godot" sambil tangannya tengadah ke langit. Tidak ada yang wajib disapa de- ngan: "Selamat pagi, siang dan malam sekaligus, bapak". Dengan Profesor Dengan demikian, peminat karya sastra tetap ada yang justru bagi anak sekolah bukan hanya dipe- gagap seorang intelektual, profe-lajari, tetapi juga untuk dapat sor cukup menjawab dengan se- dikit saja lirikan ekor matanya. menumbuhkembangkan kreatifi- tas seni sastra siswa itu sendiri. Namun belakangan ini, ba- Team Work adalah kerja ber- sama, satu sama lain memiliki ke-nyak pengamat memprediksi bah- wa karya sastra seakan kehila- tergantungan yang tak terpisah- kan. Administrator, pekerja pang- mulai tidak dibaca lagi dan per- ngan peminatnya. Novel/roman pertunjukannya. Untuk Rampak. 1, selamat malam. Saatnya minum secangkir teh hangat. 0819 0815.00EX Untuk Rampak. 2, kecuali un- tuk dukun dan pembantu orang kaya dalam teater bangsawan - ke- duanya ternyata sudah langganan - dan pemunculan tokoh etnis Me- layu, Batak Tobak dan Nias dalam acara serempak bernyanyi, sele- bihnya nyaris tak saling mengenal. Lalu, janji itu?. Yang perlu menjadi catatan adalah, bahwa kolaborasi ini di- dukung oleh seniman-seniman ter baik Sumatera Utara saat ini. Bu- kan main. Saya ingin menutup tulisan ini dengan berkata: Kembalikan te- ater sebagai "Upacara Bersama". Hanya dengan demikian teater ki- ta bisa menaikkan harga, kalau memang dulu pernah punya har- ga, seperti yang selalu kita lontar- kan dalam diskusi-diskusi kita yang semakin keberatan beban itu. Ini sebuah introspeksi, lewat sisi cermin yang berbeda. karang bagiku bukan lagi kepen- dekan dari International Moneta- ry Fund tapi adalah International Monster Fund. Moneter telah ber ubah menjadi monster. IMF ke- lak akan menjadi monster yang selalu siap mendikte apa yang diinginkannya. Keringatku mengalir lagi ke- tika aku ingat hari ini adalah "Ron, ya...yaa... Itu bisa sa- tanggal satu dan hari Sabtu. Upah ja terjadi. Kamu tahu sendiri ka- dan gaji seluruh karyawanku be- lau bank itu adalah grup dari se- lum dibayar dan memang biasa- buah perusahaan relestat yang pa- nya itu dibayar pada hari Senin ling ternama di kota ini. Grup bila tanggal satunya jatuh pada Makmur. Kamu tahu sendiri hari Sabtu. Paling tidak upah dan Ron, dalam keadaan likuiditas gaji itu berjumlah dua puluh li- yang ketat dan bunga yang begi- ma juta. Dari mana uang itu ? tu tinggi, rumah-rumah yang me- Pada detik itu aku betul-betul reka bangun tidak laku. Belum la- Bagaimana ini ? Aku tidak dapat telah kalut. Aku menyumpah- gi kredit macet dari pembeli. Se berpikir lagi. nyumpah. Kenapa dengan tiba-ti pertinya sebagian besar kredit ba keputusan itu dikeluarkan di dari Bank Makmur itu dikucur- saat keadaan moneter sangat kri- kan untuk proyek-proyek relestat tis seperti saat ini ? Rakyat justru Grup Makmur itu sendiri. Ya... bisa panik. Belum lagi satu ma- ya, itu bisa saja terjadi." salah selesai muncul lagi satu ma- Ferry di ujung saja mengulang "Ron, pengumuman itu juga menyebutkan kalau untuk semen- tara deposan yang memiliki dana di atas dua puluh juta tidak bisa menarik dananya. Menunggu ha- sil likuidasi dari tim yang ditun- juk oleh pemerintah. Menurut aku, paling cepat enam bulan." Aku terdiam. Tidak bisa dita- rik ? Paling sedikit uangku ada se- tengah milyar di bank itu ! Aku betul-betul tidak mempercayai- nya. Bukankah selama ini tidak pernah ada isu apa pun mengenai bank itu? Tiba-tiba saja bank itu akan dilikuidasi? Bagaimana ini? . Aku menghubungi Ferry, pe- milik ratusan hektar perkebunan coklat, "Fer, ini aku. Roni. Fer kamu sudah tahu mengenai beri- ta dicabutnya izin bank-bank oleh pemerintah ?" "Oh, Ron. Iya...ya...aku su- dah tahu." "Fer, aku dalam kesulitan se- karang ini. Fer, kamu tahu sen- diri kalau bank langgananku satu- satunya termasuk dalam keenam belas bank itu ?" Angket Buktikan Peminat Novel dan Drama Oleh: Drs. Mihar Harahap "Bank makmur ?" "Ya, Fer. Aku sebenarnya ti- dak percaya. Tetapi itu benar. Ke- napa bisa begitu ? Padahal bank itu tidak pernah dilanda isu apa pun sebelumnya." kalimat yang sama. Aku mengang guk. Barulah sekarang terpikir- kan olehku. Betul apa yang dika- takan oleh Ferry. Grup Makmur, perusahaan relestat paling terna- ma di kota ini adalah perusahaan yang sangat ambisius. Di koran- koran hampir setiap hari terpam- pang iklan-iklan penawaran ru mah-rumah dari berbagai proyek tonton lagi. Paling tidak, menu- rut mereka, jumlah peminat itu semakin berkurang. Sayangnya, prediksi itu tidak dibuktikan de- ngan penelitian. Sehingga terge- rak hati penulis untuk mengang- ket sebagian peminat karya sastra yakni 150 siswa SMU jurusan IPA dan IPS di Medan. Memang hasil angket ini bukanlah jawaban mutlak prediksi tersebut, kecuali hanya sekedar memberikan gam- baran kondisi peminat karya sastra. PEMBACA NOVEL Hasil angket membuktikan bahwa novel/roman masih tetap dibaca, sebab dari 150 responden maka 142 orang (94,7%) menya- takan pernah membaca novel/ro- man. Hanya 8 orang (5,3%) yang mengaku tidak pernah membaca- nya. Meski begitu, ada yang pa- tut menjadi perhatian. Sebab, 37 orang (24,7%) mengaku memba- ca hingga tamat dan 28 orang (18,7%) mengaku membaca bebe- rapa kali, berarti sekitar 65 orang (43,4%) pembaca tuntas. Sedang- kan 57 orang (38%) mengaku membaca tidak tamat dan 20 orang (13,3%) mengaku memba- ca ringkasannya, berarti 77 orang (51,3%) pembaca tak tuntas. Grup Makmur. Dari Padang In- dah hingga Villa Permai. Dari Pondok Emas hingga Graha As- ri. Proyek-proyek yang ambisius ditambah keadaan yang sangat ti- dak menguntungkan pada akhir- akhir ini, maka Bank Makmur itu pun kolaps. Dan aku pun akan ikut kolaps? Bedebah! "Fer, aku perlu bantuanmu." Aku melanjutkan dan berharap- harap agar Fer mau membantu kesulitanku. "Ya?" "Fer, aku membutuhkan da- na segar paling sedikit seratus juta rupiah dalam minggu ini. Aku perlu membayar karyawanku. Aku perlu membayar hutang-hu tangku. Aku perlu membeli kede- le. Dan biaya-biaya lainnya. Bi- sakah kamu membantuku, Fer ?" "Ron, aku tahu kamu sedang dalam kesulitan. Ron, maaf seka- li. Saat ini aku juga dalam kesu- litan. Kamu tahu sendiri, perke- bunan coklatku tidak menghasil- kan lebih daripada target mini- mum kami. Gejala El Nino dan musim kemarau ini telah meng- hancurkan sebagian besar dari ha- sil perkebunan kami. Ron, maaf- kan aku! Pada saat ini aku tidak bisa membantumu". Kemudian, novel/roman yang dibaca itu adalah karya penga- rang dari berbagai angkatan. Per- tama, Balai Pustaka sejumlah 53 orang (35,3%). Kedua, Pujangga Baru dan Angkatan 80-an ke atas, masing-masing 28 orang (18,7%). Ketiga, Angkatan 45 sejumlah 22 orang (14,7%). Keempat, Angka- tan 66 sejumlah 11 orang (7,3%). Peringkat ini membuktikan bah- wa responden masih gemar mem- baca novel/roman periode lalu (Balai Pustaka) dibanding perio- de sekarang (Angkatan 80-an, ke atas). Mengapa demikian?. Per- lu penelitian. Barangkali penceri- taan, bahasa dan kesan novel za- man itu atau adanya campur ta- ngan guru. Bagaimana responden mem- peroleh novel/roman ? Hasil angket membuktikan bahwa 86 orang (57,4%) menyatakan me- "Fer, ya...ya....Aku menger- ti. Terima kasih, Fer." Keringat dingin mulai lagi merembes dari pori-poriku. Aku menjadi haus. Aku pergi ke dapur. Terasa kese- garan menjalari seluruh tubuhku setelah setengah botol Aqua aku tuang ke perut. Aku kembali ke ruang tamu dan menghempaskan tubuhku di sofa yang empuk. Ku- rentangkan tanganku untuk me- nikmati kesegaran sesaat itu. Ma- taku menatap langit-langit. Siapa lagi yang bisa membantuku ? Aku teringat pada Bambang. Ah, aku tidak mau mengganggu nya biarpun tadi dia telah menya takan akan membantuku. Kare- na aku pun tahu, perusahaan asu- ransinya telah menghadapi badai lam/luar sekolah. Hanya 23 orang (15,4%) yang membeli sen- diri/dibelikan orang lain. Selebih- nya, 14 orang (9,3%) masing- masing mengaku milik orang- tua/keluarga dan menyewa di ta- man bacaan, serta 5 orang (3,3%) lagi mengaku sebagai pemberian/ hadiah. Tampaknya, budaya baca tidak diimbangi dengan budaya beli- mungkin karena anak sekolah apalagi budaya hadiah. Karena itu, perlu pengarahan, termasuk upaya melengkapi perpustakaan dan wajib kunjung ke perpusta- kaan itu sendiri. Rupanya, keinginan memba- ca novel/roman bukan karena ke- gemaran sebab hanya 4 orang (2,7%) menjawab seperti itu-me- lainkan karena sekedar mengisi waktu luang (67 orang atau 44,7%) dan disusuloleh 45 orang (30%) karena ingin mengetahui jalan ceritanya. Juga bukan ka- rena tak ada bacaan hiburan lain- nya atau disuruh guru untuk me- ngerjakan PR, sebab hanya 15 orang (10%) dan 11 orang (7,3%) yang menjawab seperti itu. Hal ini berarti bahwa keinginan mem- baca novel/roman adalah karena kemauan sendiri meski sekedar yang besar karena harus menang- gung asuransi bagi ke-234 korban kecelakaan pesawat baru-baru ini. Aku menghubungi Rudi, pe- ngusaha hotel kenalan terbaikku. Kuberitahukan masalah yang sa- ma dan bantuan yang aku harap- kan darinya. "Ron, aku sendiri dalam ke- sulitan sekarang ini. Lihat saja sendiri akibat kabut yang melan- da negeri ini. Tamu-tamuku dari luar negeri menurun drastis. Ho- tel kami kosong. Maafkan aku, Ron!" "Ron, aku juga dalam kesu- litan. Maafkan aku! Kamu tahu sendiri Ron, akibat kurs dollar yang melonjak, harga pupuk yang harus kami beli meningkat drastis selain harganya sendiri ju- ga telah naik. Sekali lagi maafkan aku, Ron!" Aku menghubungi Anthony, pengusaha showroom. "Ron, wah. Kamu lucu, Ron. Tahu sendiri, Ron. Tidak ada showroom yang akan hidup lebih dari pada enam bulan sejak seka- rang ini bila keadaan moneter te- rus begini. Sejak seminggu yang lalu. Tidak ada satu pun mobil kami yang laku. Maafkan aku, Ron!" Aku menghubungi William, pemilik sebuah pabrik plywood. Inilah harapan terakhirku satu- satunya, pikirku. PUISI "Maafkan aku, Ron! Pembu- kuan kami saat ini sedang dipe- riksa oleh Dinas Pajak. Mereka telah menemukan kesalahan da- lam pembukuan kami. Paling ti- dak kami harus menanggung lima LAZUARDI ANWAR ANGIN LAUT Angin laut mengantarkan matahari dari benua ke benua meracau fatamorgana bermain-main di pentas panggung buana menaksir pesona cakrawala rendah diri berhadap dengan prahara. Angin laut di dada laut menjelajah ruas petang bercerita tentang bulan menggenggam pasang tanpa tilang ombak-ombak tersedak menyandar ke dinding malam terasa putaran terhenti ketika membentur kaki langit. Tlang-tlang mengerucut dibungkus kabut kapal-kapal pencalang dan kole-kole dipaksa angkat salut melintas pada setiap keleluasaan tidak bertepl angin laut teroleng hilang seimbang dimabuk laut Medan, 1 Januari 1997 ANCHI SOFT COORPERATION TA' TAU" Insan-insan ceroboh di palung terjal tak bertepl berjalan perlahan menapak licinnya setapak temanku, sirene mendengung sayup-sayup tertampung juga terapung tak bernyawa seperti patung, dirangkul yang Agung menuju Kampung Dirimu ta'tau Kamu hanya secull debu Hatimu ta'tau Kamu berdiri di ujung jarum Sampal kapan kamu berdirl sadarlah, hal temanku Kita manusia lemah, tak berdaya digoncang nasib setiap saat dapat dipanggil untuk duduk disamping-Nya mengisi waktu luang. Pada gi- lirannya nanti, kita percaya, akan terbina kegemaran membaca no- vel/roman sastra itu asal tetap diupayakan. Aku menghubungi Denny, pe ngusaha perkebunan kelapa sa- Lenny, istriku tercinta, tiba- wit. Aku harap aku memperoleh tiba telah duduk di sampingku. bantuan darinya. Bukankah har-Sel-sel otakku kembali menyatu ga minyak goreng sedang mela- setelah melayang-layang menera ngit? Aku tahu itu dari repetan wang. Mbok Tinah, pembantu istriku, setelah pulang dari belanja bebe- rapa hari lalu. PENONTON PERTUNJUKAN DRAMA 2 otnir dalo Hasil angket membuktikan bahwa pertunjukan drama masih tetap ditonton, sebab dari 150 res- ponden maka 144 orang (96%) menyatakan pernah menonton. Hanya 6 orang (4%) yang me- ngaku tak pernah menontonnya. Memang 47 orang (31,3%) di an- tara penonton itu, menonton ti- dak sampai selesai. Akan tetapi selebihnya, 46 orang (30,7%) me- nonton hingga selesai, 40 orang (26,7%) menonton beberapa ka- li dan 11 orang (7,3%) menonton secara tidak sengaja. Meski begi- tu, penonton tak tuntas inipun perlu dipikirkan. Selain masalah pribadi penonton, barangkali ke- tidaktuntasan terletak pada kele- mahan pertunjukan. HALAMAN 10 Selanjutnya, di mana menon- ton pertunjukan drama ? Secara mengejutkan bahwa 110 orang (73,3%) mengaku menonton di televisi. Lalu, 12 orang (8%) me- ngaku mendengar di radio, 7 orang (4,7%) masing-masing ratus juta. Ini adalah kesulitan terbesar yang pernah kami alami. Sekali lagi, maafkan aku, Ron!" "Maafkan aku, Ron! Maaf- kan aku, Ron!" Itulah semua ja- waban yang aku dapatkan. Kena- pa semuanya menghadapi masa- lah? Kenapa semuanya menjadi seperti itu? Kenapa tidak ada sa- tu pun yang mau membantu aku? Monster yang menakutkan se olah-olah tertawa-tawa di depan- Ku. Aku..aku....apa yang harus aku lakukan? Oh, pabrik tempe- ku. Oh karyawanku. Pabrik tem- peku, haruskah tamat riwayatmu kini ? "Mas Ron, aku tahu segala kesulitan Mas sekarang ini. Dari tadi aku telah mendengarnya di kamar." "Len..habislah sudah. Kita akan bangkrut." Aku mendesah pelan. Aku menjolorkan tangan- ku dan memeluk istriku. Kutatap lantai keramik Italia seperti me- natap dengan penuh kagum, pa- dahal kosong. "Mas Ron, aku bisa bantu." Kata-kata istriku itu tiba-tiba menghentak seluruh sendi-sendi ku. Memaksa otot-ototku untuk bekerja. Aku membalik posisi du- duk dan menatap dalam-dalam mata istriku. Kutunggu perka- taannya lebih lanjut. Seolah-olah bibirnya menari-nari mengeluar- kan suara yang sungguh indah dan dengan serta merta menggu- yur seluruh gejolak yang bergo lak-golak di dadaku. "Aku punya simpanan di Bank Asing sebanyak dua puluh ri bu dollar AS. Aku pun barusan mengambil uang arisanku seba- nyak sepuluh juta. Dan aku pu- nya perhiasan yang tidak sedikit bila diuangkan. Paling tidak lima puluh juta juga. Aku rasa itu Medan, 1997 mengaku menonton di sekolah dan di tanah lapang/halaman ru- mah dan hanya 8 orang (5,3%) mengaku menonton di gedung ke- senian. Makanya media televisi menjadi tantangan pertunjukan drama di gedung kesenian, radio dan tanah lapang. Sebaliknya, pertunjukan drama di televisi ha- rus dapat bersaing secara wajar dengan pertunjukan sinetron, film dan acara-acara hiburan me- narik lainnya. Alasan menonton pertun- jukan drama - sebagaimana mem- baca novel/roman - lebih domi- nan karena mengisi waktu luang yakni 79 orang (52,7%). Akan te- tapi alasan karena gemar menon- ton diakui 38 orang (25,3%) le- bih meningkat dari gemar mem- baca yang hanya 4 orang (2,7 %). Selain itu, alasan karena ingin melihat keluarga/orang yang di- kenal bermain drama 14 orang (9,3%), karena diajak kawan/ke- luarga 9 orang (6%) dan alasan karena disuruh guru untuk me- ngerjakan PR sejumlah 4 orang (2,7%). Dengan demikian, seba- gaimana gemar membaca, maka gemar menonton pun diharapkan meningkat asal tetap diupayakan. (Bersambung ke hal. 14) akan cukup untuk sementara ini agar pabrik kita bisa jalan." Kata-kata Lenny, istriku sung guh bagaikan bunga-bunga surga yang mengeluarkan harum yang langsung membunuh habis sega- la resah yang ada di dadaku. "Kenapa kamu selama ini ti- dak pernah bilang kalau kamu punya simpanan sebanyak itu, Len?" Aku mendekati Lenny, kuta- tap mata indahnya semakin da- lam. Aku menyibak sejumput rambut hitam yang menutup ke- ningnya. Kuelus dengan lembut dagunya yang indah. "Bagaimana dengan per- hiasanmu itu? Apakah kamu ti- dak sayang kalau itu dijual, Len?" "Karena kamu tidak pernah tanya, Mas. Untuk perhiasan itu tidak apa dijual. Nanti kalau Mas sudah punya uang Mas bisa meng gantinya. Itu semua juga adalah pemberian Mas. Mas sudah lupa kalau Mas pernah menghadiah- kan kepadaku sebanyak lima pu- luh juta sebagai hadiah perkawin an kita? Dari dulu itu sudah aku depositokan dalam dollar AS. Mas sudah lupa kalau dalam se- tiap ulang tahunku dan hari per- kawinan kita Mas selalu membe- rikan perhiasan-perhiasan? Itu se- mua kusimpan Mas. Karena aku tahu kelak itu pasti akan bergu "3 na." "Oh, Len. Kamu sungguh me ngerti aku." sahutku seperti bu- nyi sebuah iklan shampoo di te- ve sambil memeluk istriku erat- erat. "Mas, kayak anak-anak sa- ja.." suara istriku tidak bisa me- nari keluar lagi. Aku telah meng- hadangnya dengar bibirku. Bibir kami bertaut erat. Aku merasa- kan kelembutan dan kehangatan yang begitu indah mengalir dari bibirnya, menjalari seluruh tu- buhku. (Medan, 2 November 1997).