Tipe: Koran
Tanggal: 1998-01-26
Halaman: 07
Konten
4cm 2cm 26 Januari 1998 ILAS getaran gempa ma- dalam skala richter (24/1) dini hari. Demi- A, Minggru (25/1) ke- da laporan kerugian (pal/rtr) --Seorang warga Ko- setelah rakit mereka Badan Keselamatan petualang Korsel itu Hari Rusia ke Korsel. Hi sebelah barat Kepu- sekitar 90 kilometer gas penyelamat dari satu di antara keem- endati mereka belum at petualang tersebut, al Soo (38), Lim Hyun (ant/rtr) AN-Enam lagi pesa- gabung dengan Ang- Mirage 2000-5s di- bandar laut Hualien ke sebuah pangkalan uh, tulis surat kabar mam pesawat tempur U utara di Hsinchu, esawat tempur telah Mei 1997. Angkatan perusahaan industri yar dolar, November (ant/afp) DARA-Kongo, Sabtu ca korban yang tewas makaman di sekolah tah, Liberte. Menteri a resmi meluncurkan asi Kesehatan Dunia, rsebut di tempat pe- a korban tewas itu te- rang saudara, yang ang dari Juni hingga (ant/afp) i Myanmar Thailand pemerintah Myanmar Singapura dengan sua- eritakan media massa marin. rsama keluarganya le- pada 20 Januari, me- Cangkok Post. erempuan Letnan Jen- ri utama bekas Dewan ertib Negara (SLORC) atannya karena tudu- mengungkapkan kepa- han berusaha mening- hnya dipaksa melepas mya, yang juga mantan an selama penyelidikan ntan para menteri itu reka dibekukan," kata onem saded ah satu sebab pembu- ewan Perdamaian dan vember tahun lalu. (ant/afp) Dikecam uannya Fidel Castro, Sabtu (24/ s lawatan Paus Yohanes aus agak menyedihkan aya kepada rakyat Kuba am permainan psikolo- ada radio Prancis, France Kuba dengan berpura- an kini tinggal di Ameri- radio itu, ia mengkha- ka ayahnya tidak mam- muncul kekacauan. Ini in yang disandarkan ke- lembaga yang mungkin beradab," ujarnya. na Fernandez Revuelta pemimpin Kuba itu se- ang tidak berhasil bagi elta, tetap menjadi pen- gal di Havana, ibu kota (pal/afp) CECEWA? aran merek selama ini? ubungi: T P/FAX 261251 HULU C 108851 ROTO ■ntung Kota Tersedia: T.36/100 = 3 Unit T.70/200 = 2 Unit Bedahulu) T.120/180 1 Unit JI Ganctri) 1.160/153 (Tingkat = 1 Unit (Jl Gatsu I VI No.12) a merah, lantai keramik kamper, PLN,PDAM, biaya notaris gan fasilitas lengkap, VELOPMENT 467 REI. 1300129 C. 112952 Senin Umanis, 26 Januari 1998 Harian untuk Umum Bali Post Pengemban Pengamal Pancasila Terbit Sejak 16 Agustus 1948 Tajuk Rencana Menggarap Pasar Wisata Dalam Situasi Krisis KRISIS moneter yang melanda sebagian besar negara di Asia telah terasa memberikan pukulan berat bagi industri pariwisata Bali. Sumber-sumber wisatawan, seperti negara Korea, Taiwan, Malaysia, Singapura, Hongkong, terjerat krisis sehingga untuk sementara tidak menjadi pemasok wisatawan yang banyak dan lancar bagi Bali. Oleh karenanya, banyak hotel sepi di Bali, banyak biro perjalanan yang biasa menggarap in bound tours (wisatawan yang datang dari luar) kalang-kabut, Ancaman PHK muncul di beberapa industri pariwisata, apalagi bayangan krisis seperti tak akan berhenti segera. Dalam situasi krisis, tidak lancarnya aliran wisatawan ke Bali akibat krisis yang menimpa negara-negara di Asia, apakah yang bisa dilaksanakan penguasa dan pengusaha di Bali untuk tetap bisa mendapat kunjungan wisatawan? Masih adakah harapan bagi industri pariwisata Bali untuk menggarap pasar-pasar wisatanya di luar neger? Tampaknya masih bisa, karena di kawasan Asia Pasifik ini, ada dua pasar wisata Bali yang sangat kuat yang tidak terkena krisis moneter. Kedua negara tersebut adalah Jepang dan Australia. Secara "tradisional", Jepang dan Australia telah lama menjadi sumber wisatawan bagi Bali. Dalam situasi krisis moneter ini, keduanya bisa dikatakan tidak terlalu terpengaruh, sehingga kemampuan warga kedua negara tersebut tetap kuat secara finansial untuk bepergian. Selama ini, Bali rata-rata mendapat kunjungan dari wisatawan Jepang per tahun sekitar 350-an ribu, sedangkan dari Australia rata-rata 275 ribu wisatawan. Potensi ekonomi kedua negara tersebut serta popularitas Bali di mata mereka, merupakan dua potensi yang harus digarap Bali untuk bisa selamat pada masa-masa krisis. Dalam setahun ada sekitar 17 juta warga Jepang menjadi wisatawan ke luar negeri. Destinasi yang populer di mata wisatawan Jepang adalah Hawai, Eropa, Australia, dan beberapa destinasi di Asia seperti Hongkong, Thailand, dan Bali. Menguatnya nilai mata uang Amerika sedikit banyak menyurutkan minat wisatawan Jepang ke Amerika, begitu juga halnya dengan tujuan liburan ke Eropa. Untuk di kawasan Asia, popularitas destinasi Hongkong sempat anjlok karena kasus flu burung. Kedua kondisi tersebut, untuk sementara, bisa dikatakan sebagai menguntungkan Bali, karena Bali bisa menjadi destinasi yang kuat daya tariknya untuk wisatawan Jepang. Untuk pasar wisata Australia, Bali memang sudah sejak lama populer. Popularitas Bali seperti merata terjadi di berbagai la- pis. Wisatawan usia muda yang gemar disko atau berselancar bisa mendapatkan Bali terutama Kuta dan sekitarnya sebagai tempat yang ideal untuk itu. Bagi wisatawan usia lanjut, destinasi Bali siap memberikan pengalaman kultural yang memikat, terutama yang bisa disodorkan daerah wisata Ubud. Bagi pelajar-pelajar Australia, destinasi Bali juga menarik karena bisa dijadikan laboratorium studi. Sejak dulu, banyak pelajar Austra- lia datang ke Bali, baik untuk belajar bahasa, seni-budaya, maupun mengadakan pelatihan riset lapangan. Sekolah atau universitas Australia memandang Bali daerah yang unik, yang dengan mudah dan menarik bisa dibandingkan budaya dan kebiasaan hidup Australia yang berciri Berat. Selain semua faktor tersebut, keunggulan destinasi Bali bagi Australia adalah jaraknya yang dekat, lalu lintas penerbangan lancar, dan ongkos berlibur relatif rendah. Atas pertimbangan-pertimbangan potensi Jepang dan Aus- tralia seperti itu, maka sudah saatnya industri pariwisata Bali dengan gencar menggarap pasar kedua negara tersebut pada masa krisis ini. Bukan mustahil, Jepang dan Australia, akan menjadi penyelamat industri pariwisata Bali yang dihadang masa paceklik akibat krisis moneter dan faktor-faktor penyebab terkait lainnya. Selama ini, promosi pariwisata Bali ke kedua negara tersebut sangat kurang, baik dalam pengertian sales promo- tion (promosi dagang oleh tiap-tiap industri, pengusaha) maupun dalam pengertian image promotion (promosi citra Bali sebagai destinasi). Kalau toh ada promosi di kedua sumber wisatawan Bali itu, promosi tersebut biasanya dilakukan pengusaha kedua negara, seperti maskapai penerbangan di sana. Bali, tampaknya, sejak lama terlena, tidak agresif menggarap Jepang dan Australia. Kuat kesan bahwa Bali tidak perlu banyak berpromosi ke kedua negara tersebut karena dari Jepang dan Australia sudah mengalir wisatawan ke Bali; tanpa promosi gencar di Jepang dan Australia, wisatawan sudah datang. Kini sikap berdiam diri itu harus diubah menjadi sikap agresif. Saatnya, Bali menggarap dengan efektif dan luas pasar Jepang dan Australia, karena keduanya bisa menjadi penyelamat industri pariwisata Bali dalam masa sulit. Kita Berdoa Semoga Cinta Rupiah Berhasil SITUASI ekonomi yang kalang-kabut, memunculkan demam cinta rupiah. Gerakan moral ini dipelopori pejabat dan kaum pemilik duit. Dengan melupakan kebiasaan belanja ke luar negeri, yang notabene harus melepas dolar, sebagian dari kita tersadar bahwa rupiah harus dicintai. Bangsa Syria lama mengenal dewa uang atau kekayaan yang disebut Mammon. Namun dalam perkembangan sejarah, kedudukan dewa tersebut bergeser ke arah negatif menjadi simbol kerakusan. Seorang yang rakus disebut penyembah atau pemuja Mammon. Kalau dulu dewa ini dipuja-puja, dalam perkembangan selanjutnya ia dicaci dan digunakan untuk mencaci. Sementara kitab suci menyebutkan, manusia tak mungkin menyembah Tuhan sekaligus menyembah Mammon. Kemudian muncul istilah "mammonisme", yang kurang lebih berarti garis-garis pikiran, sikap atau motivasi hidup yang mengutamakan uang dan/atau kekayaan. Seorang mammonis menempatkan uang sebagai segala-galanya. Seorang pejabat mammonis menggunakan kekuasaan dan wewenangnya, bahkan menggunakan apa saja yang tersedia, untuk menumpuk kekayaan, baik untuk diri sendiri, keluarga, anak-anak, sanak- kadang maupun klik. Penguasa mammonis merekayasa kebijakan dan peraturan, termasuk hukum, untuk menopang kegairahannya terhadap kekayaan. Pejabat dan penguasa mammonis pada hakikatnya, demikian bunyi ayat kitab suci tadi, menyembah Tuhan sekaligus Mammon. Cinta rupiah bisa dipahami dari dua jalur. Jalur pertama melihat rupiah sebagai nama mata uang dari negara tertentu. Jalur kedua melihat rupiah sebagai salah satu wujud atau bentuk uang. Dengan demikian, rupiah sama saja dengan dolar, franc, poundsterling, gulden maupun detschemark. Semuanya adalah uang. Jika rupiah dalam arti pertamanya berfungsi sebagai simbol kesatuan dan kesejahteraan bangsa, dalam arti keduanya rupiah merupakan simbol milik atau kekayaan. Mengacu pada arti yang kedua ini, siapa pun yang berhasil menumpuk rupiah, akan memiliki kekayaan. Jadi tegas bahwa cinta rupiah model pertama sangat berbeda dengan cinta rupiah model kedua. Yang pertama berkaitan erat dengan harga diri bangsa, bisa juga dengan nasionalisme. Kalau rupiah rontok nilainya, seluruh bangsa Indonesia merasa terpukul harga dirinya. Oleh karena itu, lalu muncul gairah untuk meningkatkan nilai rupiah. Dari gairah yang satu ini, mungkin juga muncul dorongan untuk berjuang mengembalikan citra dan kesejahteraan bangsa dan negara. Kalau sampai di sini dampaknya, barulah cinta rupiah memiliki makna nasionalisme. Namun kalau berhenti pada sekadar mengembalikan nilai mata uang bernama rupiah, cinta rupiah bisa sekadar ungkapan kepentingan ekonomi atau politik. Rupiah memang bisa menjadi bagian dari ungkapan nasionalisme, tetapi tidak tiap cinta ru- piah merupakan ungkapan nasionalisme. Makna kedua mengacu pada rupiah sebagai simbol uang pada umumnya. Dengan demikian, cinta rupiah juga merupakan simbol kekayaan dan menjadi tujuan dari kerakusan dan ketamakan. Dengan kata lain, cinta rupiah bisa identik dengan mammonisme. Seorang pencinta rupiah, dalam pengertian ini, mengutamakan pengumpulan rupiah, juga dolar, untuk membangun kepuasan hati dan batinnya. Caranya bisa diatur, strateginya bisa dirancang. Masalahnya, cara bisa dibuat bermacam-macam, tetapi tujuan tetap sama: mendapatkan uang sebanyak-banyaknya. Dari sini bisa dimengerti kalau akhirnya cinta rupiah identik dengan cinta dolar. Ada hubungan yang erat antara kedua makna cinta rupiah tersebut. Hubungan itu demikian eratnya, sehingga sering yang satu sulit dibedakan dari yang lain. Cinta rupiah macam pertama bisa saja hanya merupakan stretegi dari tujuan yang kedua. Demikian juga, cinta rupiah yang dikemas sebagai cinta makna pertama bisa bergeser ke makna kedua. Maklumlah, kenyataan menunjukkan bahwa rata-rata manusia cenderung Mammon loving atau Mammon worshipping, pecinta dan penyembah kekayaan. Artinya, rata-rata manusia memiliki kecenderungan mengumpulkan harta. Oleh karena manusia memiliki bakat dalam engeneering, maka mammonisme pun bisa di- engeneered. Namun kita memang tak boleh terlalu berprasangka. Bangsa yang berjiwa besar dan berbudi luhur tak mudah berprasangka. Oleh karena itu, kita harus menyambut gembira gebrakan cinta rupiah sambil terus berdoa agar niat yang tulus dan suci itu tetap tulus dan tetap suci. Cinta rupiah kita semoga berhasil, bukan hanya menepis krisis moneter yang kini tengah berkecamuk, juga menanamkan kesadaran bahwa pada masa-masa mendatang kita perlu menanamkan cinta rupiah yang lebih mendasar, yaitu dalam makna pertama, cinta bangsa dan negara. Jangan lupa, cinta bangsa, bukan hanya negara. Salah satu ciri lain dari bangsa berbudi luhur adalah mau mendengar masukan pihak lain dan selalu bersikap waspada termasuk terhadap tujuan baiknya sendiri. Surat Pembaca Persyaratan: Sertakan Fotokopi KTP atau SIM Dikirim 16 Oktober belum Diterima Bulan Oktober 1997, te- man saya dari Jerman kirim surat tercatat dua kali. Surat I dikirim 10 Okto- ber '97. Lewat Deursche Post AG 60313 Frankfurt, dengan No. Reg. 01.9895. 2022. 5 DE.DE Nat, sudah saya teri- ma 21 Oktober '97. Surat II dikirim 16 Okto- ber 97, lewat pos yang sama dengan No. Reg. 01.9896. 6987. 5 DE.OE Nat. Tetapi surat ini belum saya terima sampai saat ini. Hal ini sudah saya tanyakan ke Kantor Pos Tampaksiring dan Kantor Pos Gianyar. Jawaban yang saya terima bahwa surat belum sampai. Bahkan hal ini juga saya ta- nyakan langsung ke Kantor Pos Besar Denpasar Bagian Ekspedisi. Dengan jawaban yang saya terima juga sama. Tetapi bapak pegawai di Bagian Ekspedisi berjanji akan menghubungi ke Kan- maupun datang ke Indonesia tiap tahun. Yang perlu saya tanyakan : - Apakah surat-surat yang dikirim dari luar negeri (Jer- man) harus lewat Kantor Pos Jakarta dulu. - Kenapa surat 10 Oktober '97 saya terima, sementara surat 16 Oktober '97 tidak. - Sejauh mana keamanan kirim surat tercatat lewat jasa pos. Mohon diberi jawaban/ penjelasan lewat media cetak ini agar dapat saya sampai- kan ke teman saya nanti, karena ia akan datang bulan Februari 1997 ini. Vrecvec Suarsana Buruan, Tampaksiring, Gianyar telepon 297457 facsimile 901219 Kesemrawutan Pedagang dan Parkir kesemrawutan tersebut, di samping menjaga citra Bali di mata tamu-tamu man- canegara. Karena jalan ini banyak dilalui pejalan kaki, trotoar tidak lagi berfungsi sebagai tempat pejalan kaki, karena dimanfaatkan pedagang kaki lima, acung untuk menjaja- kan barang dagangannya di trotoar. Pendapat saya ini mung- kin juga dirasakan sama oleh beberapa orang karena harus melapor ke mana dan kepa- da siapa, maka saya sebagai penyambung lidah surat pembaca Bali Post. Yohannes Kuta Mencari Orangtua Asuh Saya, mahasiswi Universi- tas Gadjah Mada Yogyakarta sedang skripsi, umur 24 tahun, sudah berkeluarga dan mem- punyai dua anak. Suami saya umur 24 tahun juga masih kuliah di perguruan tinggi swasta Islam di Yogyakarta. Di samping kuliah suami saya saya (keluarga-red) sedang menghadapi masalah besar dengan usahanya yang macet, akibatnya pemasukan keua- ngan praktis tidak ada sama sekali. Sementara kebutuhan keluarga makin hari makin tidak sedikit. Sekarang kuliah kami (saya dan suami) macet total karena tidak ada biaya. Untuk sementara ini kebutu- han sehari-hari terutama su- su untuk anak berasal dari bantuan teman-teman dan ter- paksa ngutang. Bali Post Halaman 7 Krisis Moneter dan Rekayasa Opini Publik Dunia KRISIS moneter, gejolak rupiah, dan menguatnya dolar; siapa yang pa- ling merasakan dampaknya? Bukan para konglomerat yang masih bisa ce- ngengesan" di lapangan golf. Bukan para menteri dan pejabat yang masih dengan bangga memakai baju safari saat pengguntingan pita meresmikan proyek. Rakyat jelata, pedagang kaki lima, buruh, ibu rumah tangga, dan pegawai rendahanlah yang pertama menjerit minta tolong. Ketika kerusuhan sosial sing tujuh keliling. terjadi di beberapa daerah, rakyat kecil pula yang merasakan getahnya. Aktor dan "dalang" kerusuhan tak pernah tampak batang hi- dungnya. Saat terjadi pere- butan kekuasaan di tubuh PDI antara kubu Megawati dan kubu Soerjadi, lagi-lagi rakyat biasa yang menelan pil pahit, Mereka yang seka- dar menjadi korban propa- ganda, isu, dan rekayasa politik ditangkap, diadili, dan dijebloskan ke penjara. Sementara para "preman politik" yang berganti-ganti topeng bebas berkeliaran hingga kini. Sama persis dengan krisis moneter. Bank-bank dilikui- dasi. Nasabah yang hanya menyimpan uang jutaan ru- piah kalang kabut. Para pe- milik bank masih bisa tidur nye-nyak. Rupiah melemah. Harga kebutuhan pokok rakyat melambung. Swala- yan diserbu, membeli beras, gula, dan minyak goreng mesti dibatasi. Ke mana lar- inya barang-barang itu, sia- pa yang me-nyembunyikan- nya, dan untuk apa? Para menteri dan peting- gi negara mengimbau pe- ngusaha untuk mengembali- kan dolar yang ditimbun di luar negeri. Dolar makin menggila saja. Ujungnya, para menteri, beberapa pe- ngusaha menjual dolar mere- ka. Anggota DPR/MPR tak mau ketinggalan. Para gu- bernur dan pejabat di dae- rah juga tak mau kalah. Rakyat bertanya, siapa yang selama ini menimbun dolar? Siapa yang selama ini mem- buat gonjang-ganjing rupiah? Dari mana pejabat negara itu memperoleh dolar? Lagi-lagi rakyat yang bingung dan pu- Proses Opini Aksi dan gerakan cinta Rupiah dengan menjual dolar merupakan gerakan yang terlambat. Begitu komentar seo-rang pengamat ekonomi nasional. Tidak keliru tentu ana-lisis pengamat tersebut. Iba-rat orang hendak mem- beli rakit, sementara banjir sudah mengepung rumah- nya. Lagi pula apakah jum- lah dolar yang terkumpul dari para pejabat dan kong- lomerat itu mampu mengo- bati derita perekonomian In- donesia yang sudah sekarat? Karenanya, aksi jual dolar itu lebih sekadar upaya un- tuk membentuk opini dunia tentang kepedulian pelaku eko-nomi dan politik Indone- sia untuk mengatasi krisis moneter. Lantas citra seper- ti apa yang bakal dihasilkan dari rekayasa pembentukan opini publik dunia itu? Ada dua hal yang perlu diamati netralisasi. Apalagi beberapa situasi dan kejadian mendu- kung terbentuknya opini publik yang festig, opini yang mengkristal bagai batu. Kri- sis moneter telah mengun- dang konflik-konflik kecil di ma-syarakat. Para tokoh politik, intelektual, selebri- tis, dan seluruh masyarakat membica-rakan krisis mon- eter. Frustrasi dan kegelisa- han terasa di mana-mana. Pedagang me-nimbun barang, spekulan menaikkan harga, dan masyarakat menyerbu pasar swalayan. Dalam kondisi opini pub- lik yang sudah membantu dan kokoh memang sulit un- tuk menetralisasi, apalagi mengu-bahnya menjadi cair atau me-nguap. Salah satu cara adalah dengan melaku- kan aksi atau gerakan yang dapat memunculkan isu baru. Dengan isu baru itu diharapkan tumbuh opini publik baru untuk menetral- isasi opini di seputar krisis Oleh Chusmeru dalam kasus tersebut, yaitu proses pembentukan opini publik dan bentuk citra yang berkembang, moneter. Jenis Citra Gerakan cinta rupiah se- bagai sumber isu baru bagi Pada awalnya, meminjam pembentukan opini publik klasifikasi Ferdinand Ton- dunia tampaknya bertujuan nies, opini seputar krisis menciptakan citra tentang moneter masih luftartig, se- kredibilitas Indonesia di perti uap. Isu bank-bank ber- mata internasional. Apakah masalah telah membentuk opini publik itu akan berha- opini yang melayang-layang sil me-ngangkat citra Indone- bagai uap. Rakyat Indonesia dan masya-rakat interna- sional masih belum yakin tentang kesehatan perbank- an di Indonesia. Ternyata isu itu kurang digarap dan dikelola secara baik oleh pemerintah. Isu bank bermasalah disusul Tantangan Indonesia di masa datang justru berkaitan dengan penciptaan citra majemuk (multiple image). Citra seperti ini akan muncul pada tiap lembaga sosial, politik, dan ekonomi. Reformasi ekonomi karenanya akan mubazir belaka jika tidak dibarengi dengan reformasi sosial dan politik. Gerakan cinta rupiah dan transparansi ekonomi bagi pelaku bisnis mesti dibarengi dengan gerakan cinta demokrasi sebagai bagian dari transparasi politik. Anyar Ubung, Jl. Patih Nambi Denpasar untuk me- minta tanggapan dari PLN tentang masalah yang kami hadapi belakangan ini. 1. Listrik di kawasan kami sering mati, dalam satu hari bisa 3-4 kali. Wa- lau tak lama namun jelas mengganggu kegiatan kami. 2. Seringnya tegangan tu- run drastis, sehingga untuk menghidupkan pompa air pun tak mampu (dulu-dulu tak pernah ada masalah). 3. Banyak peralatan elek- tronik kami (terutama tele- visi, komputer) yang meng- alami kerusakan akibat te- gangan yang begitu down itu. Sebagai contoh: tetang- Upaya mencari dana agar ga saya yang memakai daya usahanya dapat jalan lagi listrik 2200 V sekalipun, kini sudah tidak kurang-kurang- tak mampu lagi menghidup- nya. Terus terang saat ini kami kan AC, walaupun itu siang sudah seperti putus asa. hari (apalagi malam), sete- Kami mengharapkan sau- lah televisi di rumahnya ru- dara semuslim yang terketuk sak beberapa kali. hatinya berkenan memberi- Tolonglah PLN untuk kan jalan keluar dengan menanggulanginya. masalah tersebut. Syukur apa- bila ada seseorang atau kelu- arga yang sudi kiranya mau mengambil kami sebagai anak angkat/asuh. Yang paling penting bagaimana kami bisa selesai kuliah dan anak-anak bisa makan. Endang Setia Arini Pogung Dalangan Sia XVI RT.12 Saya, karyawan toko di daerah Kuta, yang melihat tor Pos Jakarta. hari demi hari kesemrawu- Hal ini sudah saya sam- tan antara pedagang kaki paikan ke teman saya di Jer- lima, pedagang acung, dan berwiraswasta, untuk men- No. 12 Yogyakarta 55284 man dan ia akan mencari parkir kendaraan bermotor cukupi kebutuhan keluarga- tahu di mana keberadaan antara depan pasar seni sam- nya. Suami berlatar belakang surat tersebut. Dia bilang pai depan Hotel Bali Rani di keluarga ekonomi sangat le- baru pertama kali mengala- Jln. Kartika Plaza Kuta. mah sedangkan saya sejak tiga mi kejadian seperti ini se- Saya mengharapkan pihak tahun lalu pisah dengan orang- mentara dia sudah hampir yang terkait dengan masalah tua. 25 tahun berkirim surat ini, supaya bisa mengatasi Beberapa bulan terakhir ini PLN, Tolonglah Kami Saya mewakili pendu- duk di Perumahan Permata Anggota Redaksi Denpasar: Agustinus Dei, Dwi Yani, Legawa Partha, Nikson, Palgunadi, Pasma, Srianti, Sri Har- Bali Post tini, Suana, Suarsana, Sudarsana, Sueca, Sugendra, Suja Adnyana, Sutiawan, Artha, Alit Suamba, Subagiadnya, Sugiarta, Sutarya, Kasubmahardi, Martinaya, Mas Ruscitadewi, Oka Rusmini, Umbu Landu Paranggi. Bangli: Karya, Buleleng: Tirthayasa, Gianyar: Alit Sumertha, Jembrana: Edy Asri, Karangasem: Dira Arsana, Klungkung: Daniel Fajry, Tabanan: Alit Purnatha, Jakarta: Wisnu Wardana, Muslimin Hamzah, Bambang Hermawan, Darmawan, Suyadnya, Djamilah, Rudiyanti, Suharto Olii, Ghazali Ama Lanora. NTB: Agus Talino, Nur Haedin, Riyanto Rabbah, Raka Akriyani, Siti Husnin, Izzul Kairi, Syamsudin Karim, Ruslan Effendi, Antony Mithan. Surabaya: Endy Poerwanto, Bambang Wiliarto. NTT: Hilarius Laba. Yogyakarta: Suharto. Wartawan Foto: Arya Putra, Djoko Moeljono. Mewakili/Mengetahui tetangga-tetangga: Md. Regug Yonis S Y. Pangaribuan Ibu Marni Dewi Sri Ningsih Kt. Megug, S.H. Dina Susianita, S.E. Dompet Coklat Hilang dompet coklat beri- si surat-surat penting a.n. Sa- gung Istri Ary Indrawati. Diperkirakan hilang di seki- tar/belakang kampus Fakul- tas Ekonomi Unud, 23 Janu- ari sore. Yang menemukan- nya tolong menghubungi saya Jl. Blambangan No. 21, tele- pon 422112. Akan diberi im- balan. Sagung Istri Ary Indrawati sia, sa-ngat bergantung pada jenis citra yang muncul. Bisa saja, gerakan cinta rupiah dan gebrakan-gebra- kan reformasi ekonomi akan melahirkan citra yang di- harapkan pemerintah (wish image). Lantaran gerakan dan reformasi itu relatif baru, maka belum banyak khalayak dalam dan luar negeri yang memiliki infor- masi memadai. Harapan berlebihan ter- hadap upaya yang tengah di- lakukan Indonesia dapat melahirkan citra bayangan (mirror image). Citra semacam ini cenderung posi- tif, bahkan terlalu positif. Pemerintah membayangkan hal-hal hebat tentang refor- masi ekonomi serta me-nga- nggap bahwa masyarakat dunia juga mempunyai pan- dangan yang sama. Karena- nya, citra bayangan acapka- li tidak tepat dan sekadar ilu- sif. Tentu saja yang diharap- kan Indonesia bukan cuma citra bayangan, juga citra yang berlaku di masyarakat dengan isu pengusaha ber- (current image). Citra yang masalah, likuidasi bank, pe- berlaku merupakan pandan- nyalahgunaan dana APBN, gan yang melekat pada utang swasta yang mesti di- masyarakat tentang peme- tanggung peme-rintah, isu rintah Indonesia. Citra ini merger bank pemerintah, pun tidak selamanya positif sampai isu kesehatan Pak dan tidak selalu realistik. Harto dan kudeta. Berbagai Pandangan negara-negara itu berkembang menjadi opi- maju tentang Indonesia dan ni publik yang flusig. Opini negara-negara dunia ketiga publik seperti air. Me-ngalir acapkali tidak dilandasi in- ke segala penjuru Tanah Air, formasi yang lengkap ten- bahkan ke penjuru dunia. tang kondisi sosial, politik, dan ekonomi. Opini publik yang sudah mencair itu makin sulit di- Tantangan Indonesia di Telkomsel tak Lakukan Ekspansi Jaringan Denpasar (Bali Post) - Menghadapi situasi ekonomi yang sulit belakangan ini, Telkomsel Regional Denpasar tak akan melakukan ekspansi jaringan dan perluasan ke kota-kota baru di Indonesia. Pe- ningkatan pelayanan Telkomsel hanya dilakukan dengan mengoptimalkan jaringan yang telah ada. Hal itu dikatakan Direktur Niaga Telkomsel Ardin Ich- wan, ketika ditemui usai acara peluncuran kartu halo isi ulang "Simpati", Sabtu (24/1) di Hotel Patra Jasa, Kuta. Menurutnya, pada situasi perekonomian yang lesu tahun ini, setidaknya ada empat hal yang menjadi tantangan bagi pemasaran Telkomsel. Pertama, masyarakat yang tadinya merencanakan membeli telepon seluler (Ponsel), bisa me- ngubah prioritasnya yaitu memelihara kesehatan perusa- haan atau mendahulukan membayar gaji karyawan. Ke- dua, akibat ketidakpastian konsumen menjadi ragu-ragu atau menunggu harga yang lebih murah. "Minggu ini har- ga Ponsel Rp 1 juta, tetapi bisa saja minggu depan turun menjadi Rp 800 ribu," ujarnya. Tantangan ketiga, karyawan perusahaan swasta sedang menghadapi "hantu" PHK. Keempat, pelanggan "Simpati tentu bukan orang baru. "Dalam situasi krisis di mana se- mua masyarakat sedang mengencangkan ikat pinggang, tentu saja konsumen mengirit penggunaan pulsa," kata- nya. Sementara itu, Jenderal Manajer Telkomsel Regional Denpasar Ir. Agus Witjaksono mengaku optimis "Simpati" akan mengalami sukses di Bali. Mengingat, masyarakat Bali memiliki karakter yang dinamis dan tak mau repot. "Berdasarkan pengalaman di tiga kota, Jabotabek, Band- ung dan Surabaya, "Simpati" telah mendapatkan respons yang sangat memuaskan, dengan melampaui target pen- jualan. Dalam beberapa bulan saja, penjualan di tiga kota itu masing-masing mencapai 52 ribu, 8 ribu dan 10 ribu unit," ujarnya. (bud) masa datang justru ber- nimbunan mata uang asing tra majemuk (multiple ima dan pengusaha. Namun tidak kaitan dengan penciptaan ci- oleh pejabat, masyarakat, ge). Citra seperti ini akan mustahil gerakan itu hanya muncul pada tiap lembaga menjadi aksi sekejap saja. Še- sosial, politik, dan ekonomi. cara historis, keinginan untuk Reformasi ekonomi karena- menimbun uang dan harta nya akan mubazir belaka jika benda sama tuanya dengan tidak dibarengi dengan refor- sejarah umat manusia. Oleh masi sosial dan politik. Ge- sebab itu, reformasi ekonomi rakan cinta rupiah dan dan politik perlu pula dibare- transparansi ekonomi bagi ngi dengan reformasi moral pelaku bisnis mesti dibare- agar uang dan kekayaan tidak ngi dengan gerakan cinta menjadi sumber kekuasaan demokrasi sebagai bagian politik. dari transparasi politik. Gerakan cinta rupiah me- Penulis, staf pengajar Pro- mang dapat menangkal pe- gram Studi Pariwisata Unud Refleksi Domino, Catur, dan Pemimpin Oleh Pitana SEMUA orang tahu, kalau Bali saat ini sudah teramat sesak bin padat. Semua juga tahu, bahwa pembangunan fisik cenderung terjadi secara sporadis. Paling tidak, sering terjadi unplanned expansion (pemekaran yang tak ter- encana) dari tiap-tiap pusat yang dikembangkan. Yang le- bih menyedihkan, pemekaran yang tak terencana ini acap- kali tak terkendali. Berbagai bangunan dan sarana meram- bat sambung-menyambung, berantai, sehingga pada akhir- nya membentuk "pola yang tidak berpola" Dalam kaitan ini, menarik konsep yang dikedepankan Mayjen (Pur) Putra Astaman. Menurutnya, pembangunan Bali tidak boleh menganut model domino, yang merambat semata-mata mengikuti ekor terdahulu, tanpa konsep. Se- baliknya, masih menurut Putra Astaman, Bali harus mem- bangun dengan konsep permainan catur, yang berarti bah- wa konsepnya harus jelas, terutama mengenai "apa di mana"-nya (Bali Post, 24/1 1998). Saya jadi teringat berbagai teori pembangunan, dari grand theories seperti modernisasi dan dependensi, sam- pai pada micro-level theories seperti community-besed management, people-centred development, dan putting the last first. Teori-teori ini, dari cara pandang yang vari- atif, secara implisit menjelaskan bahwa model domino dan sporadic development muncul karena pembangunan (de- velopment) semata-mata diartikan sebagai pertumbuhan ekonomi (growth). Dengan demikian, apa pun yang mam- pu menghasilkan pertumbuhan yang tinggi, akan dilaksan- akan. Pendekatan ini cenderung mengabaikan aspek keber- lanjutan (sustainability), sehingga pada akhirnya akan terjadi proses development kills development (pemban- gunan = mematikan pembangunan itu sendiri). Saya tidak mengatakan bahwa selama ini pembangunan Bali tanpa konsep. Dengan membaca berbagai dokumen resmi pemerintah (misalnya Perda 5/1993 tentang Pola Dasar Pembangunan Bali), atau mendengarkan wacana- wacana pejabat di atas mimbar, konsep pembangunan Bali sudah cukup jelas. Paling tidak, kendali pembangunan se- benarnya sudah ada. Yang menjadi masalah, apakah ken- dali tersebut sudah dipegang dengan baik? Apakah peme- gang kendali sudah cukup konsisten pada arah yang telah ditetapkan dalam dokumen? Konsep "catur" yang dikedepankan Putra Astaman sebe- narnya juga sudah ada, walaupun dengan pengungkapan yang berbeda. Paling tidak ini terlihat dari adanya peratu- ran daerah tentang tata ruang (Perda 6/1989, yang disem- purnakan menjadi Perda 4/1996). Lalu, bagaimana pelaksanaannya? Inilah yang masih perlu dilihat di lapangan. Kita tahu bahwa sebuah rencana belum dapat dianggap selesai dengan selesainya rencana ditulis dan ditandatangani. Pelaksanaan dari berbagai ren- cana dan aturan yang telah disusun justru lebih kompleks. Di sinilah diperlukan seorang kapten kapal yang tegas dan lugas, yang mempunyai visi ke depan, dan tetap mempu- nyai komitmen bahwa kapal besar yang dikapteninya mem- bawa banyak orang, bukan hanya si kapten sendiri. Peranan kapten yang membawa tongkat komando me- mang sangat krusial. Bali tidak memerlukan seorang kapten yang hanya mampu bergerak cepat. Apalagi kalau gerak cepat tersebut meniru gaya pebalap sepeda. Seorang peba- lap sepeda, agar bisa cepat mencapai titik tujuan, ia akan makin keras membungkukkan badannya. Namun bersa- maan itu, kedua kakinya pun menginjak ke bawah makin keras dan makin kencang. Konsep catur yang diutarakan Putra Astaman, memang manis untuk diimplementasikan dalam konteks Bali yang sudah padat, sesak, dan penat. Hanya, masih perlu diper- tanyakan, apakah pemimpin Bali akan mampu menjadi kapten kapal yang baik? Apakah ia akan memposisikan diri sebagai pemain catur? Kalau ya, di sinilah bahaya- nya. Pemain catur tidak akan segan-segan mengorbankan rakyat, yang penting raja selamat! Catatan Menurut kalangan budayawan, seluruh kebijakan dan pemikiran yang berkembang guna pelaksanaan pem- bangunan di Bali selalu patah. - Kalau saja selalu bertekad: patah tumbuh hilang berganti. *** Berbicara tentang pengangguran, Bomer Pasaribu mengatakan, jangan hanya melapor yang baik-baik. Kini kita telah memasuki lampu merah. Apalagi laporan asal bapak senang (ABS), semua bisa diatur. *** Kadin Indonesia minta pemerintah mengadakan nego- siasi dengan kreditur luar negeri untuk memperpan- jang utang swasta yang jatuh tempo. - Tidak untuk meninggalkan utang kepada generasi penerus... Bang Podjok Color Rendition Chart
