Tipe: Koran
Tanggal: 1998-01-26
Halaman: 08
Konten
4cm KULTUR SENIN UMANIS, 26 JANUARI 1998 Halaman 8 Bali Post TGH Muhammad Anwar MZ: Maleman, Lailatul Qadar dan Idul Fitri HARI Raya Idul Fitri 1418 H tinggal beberapa putaran lagi. Pesta kemenan- gan bagi umat Islam itu akan dikuman- dangkan di mana-mana setelah kaum muslimin menundukkan hawa nafsu di bulan suci Ramadhan. Di NTB, pesta kemenangan akan diwarnai dengan berbagai kesibukan, baik memasak, menggelar beraneka lomba, nyekar ke kubur, dan tentunya bersilaturahmi. Selain itu, tradisi masyarakat setempat jelas melengkapi perayaan Idul Fitri sehingga menjadi lebih kaya, penuh warna dan bernuansa. Seberapa jauh aspek budaya masyarakat setempat memberi aroma dalam tradisi berleba- ran di Lombok? TGH Muhammad Anwar MZ, pimpinan Pondok Pesantren Darun Najah, Desa Duman Kecamatan Narmada, Lombok Barat, mengatakan TGH Muhammad Anwar MZ Lombok memiliki berbagai macam tradisi menjelang hari raya. Seberapa jauh budaya masyarakat Sasak (Lombok) mewarnai ritual keagamaan seperti Idul Fitri? Kalau pengaruh budaya terhadap Idul Fitri, di mana- mana sama saja. Pada umumnya masyarakat dalam me- nyambut Idul Fitri disibukkan oleh membeli pakaian baru dan makanan minuman yang bisa disantap pada hari yang berbahagia itu. Tentunya pengaruh yang cukup terlihat ka- lau sudah akhir Ramadhan. Misalnya, di kota. Pasar-pasar pasti ramai. Padahal itu sebenarnya bukan prioritas uta- ma. Dalam Islam disebutkan, bukan hari raya itu orang kemudian berpakaian baru. Tetapi yang penting, orang sudah berhasil mengejar tingkat ketakwaan itu. Berhasil mengendalikan diri, mengendalikan nafsu. Idul Fitri adalah hak kaum muslimin untuk merayakannya, baik yang ber- puasa maupun yang tidak. Cuma, antara yang berpuasa dan yang tidak, nilainya berbeda-beda. Banyak penda- pat Wakil Ketua DPRD NTB ini patut disimak menyangkut Idul Fitri. Ketua F-PP DPRD NTB, kelahiran Lombok Barat tahun 1949 ini dikenal sebagai tokoh masyarakat dan tuan guru den- gan ribuan santri. Sebagai tuan guru, figur yang satu ini memang dikenal luas di NTB. Bahkan bisa dibilang, pendidikan di pondok pesantrenlah yang mampu mengkadernya sebagai hamba Allah SWT yang memiliki po- tensi unggul. Betapa tidak, jenjang SD, SMP dan SMA, dilalui di sekolah umum. Justru setelah tamat SMA ia melanjutkan ke pondok pesantren di Lombok, Jawa, kemudian Saudi Ara- bia. Terakhir menamatkan tingkat akhirangtua kita bakar lampu. Maksudnya hanya untuk meng- Tampaknya, ada yang unik di Lombok, yakni kebiasaan di malam ganjil pada bulan Ramadhan -banyak warga menyalakan obor-obor kecil dari biji jarak di halaman ru- mah seolah penanda Idul Fitri akan datang? di Ponpes Futuhiyah, Meranggen, Jawa Tengah. Dengan modal pendidikan dan wawasan seperti itu jelas ia sangat menguasai persoalan-persoalan kea- BNW tentang Ramadhan dan perayaan NO SON POS 130 100 100 808 202 158 gamaan, khususnya Islam. 106 1025 Lantas, bagaimana pendapatnya 00 010 四 NOW Idul Fitri di NTB? JON SA Berikut petikan wawancaranya 100 dengan wartawan Bali Post SER SON Riyanto Rabbah. RSA Ya. Itu namanya maleman (mal-mal). Dilakukan setiap tanggal ganjil dari tanggal 21 hingga terakhir (mal siwak likur). Mereka nyalakan lampu diistilahkan maleman. Jika dicari pada ajaran agama memang tidak ada itu. Cuma mereka dengan cara itu ingin menyambut kedatangan lai- latul qadar, yang dimungkinkan akan diturunkan oleh Al- lah pada tanggal-tanggal tersebut. Mungkin untuk me- nyambut malam yang sangat mulia itulah dilakukan seh- ingga kelihatan meriah. Apalagi di desa-desa yang listrik- nya belum masuk. Jika maleman dikaitkan dengan keyakinan mereka ter- hadap dampak-dampak tertentu bagi yang tak melakukan- nya, bagaimana? Ini jelas melanggar. Jadi tugas mubalig meluruskan yang tak benar. Kalau ceramah saya jelaskan, kenapa dulu or- lailatul qadar, malam yang sangat mulia. Karena ingin menyambut malam yang sangat mulia, maka dibuat lah secara lebih meriah. Ini perwujudan. Seandainya ada yang berpendapat tak dipasang akan membawa kebutaan, itu namanya khurafat, yaitu pendapat-pendapat kotor dan keji yang tidak bisa dipakai. Lailatul qadar banyak diperbincangkan, termasuk lewat tindakan dengan cara maleman tadi. Seberapa jauh sebetul- nya pemahaman masyarakat terhadap malam yang lebih baik dari seribu bulan yang dijanjikan Allah itu? Benar. Saya kalau ceramah Nuzulul Quran banyak men- gupas lailatul qadar - malam yang sangat istimewa yang lebih baik dari seribu bulan. Itu sebenarnya tidak perlu bakar lampu. Biar bakar lampu kalau kita hanya tidur- tiduran, berbuat hal yang sia-sia, rugi juga di malam itu. Justru yang beruntung di malam itu adalah orang yang beri- badah. Bisa shalat tarawih, sholat sunnat lain, zikir, baca Al-quran, justru itu yang harus disuburkan di malam qa- dar. Selama yang sifatnya untuk keindahan tidak apa-apa. MARI BER "TIRTHAYATRA" KE INDIA SEKALIGUS MENGIKUTI FESTIVAL ROHANI TERBESAR DI SUNGAI GANGGA Pura Laksman Jhola (KUMBHA MELA PUJA) Dengan Objek Tirthayatranya : ⚫KUALALUMPUR: Panorama keindahan Pura Batu Cave dengan 272 anak tangga yang diyakini setiap tangga mempunyai makna penebusan dosa, sebagai tempat pemujaan Dewa Siwa dengan Putra Beliau Dewa Kumara. (Subrahmaniam). WRINDHAWANA: Tempat mengalirnya Sungai Suci YAMUNA dan Taman Tulasi sebagai tempat Krishna Lila, Tempat terbunuhnya Raja Ular serta permandian para gopi. Berangkat tanggal : 17 Pebruari 1998 FE malaysia MATHURA: Jalma Krishna Pur Mandir/Krishna Jalma Bumi yaitu tempat di mana Shri Krishna dan Baladewa dilahirkan. AGRA: Anda dapat menyaksikan keindahan Taj Mahal yang merupakan salah satu dari 7 (tujuh) keanehan Dunia. NEW DELHI & OLD DELHI: Birla Mandir, Catar Pur Mandir, bekas Istana Indraprastha, Istana President, gandhi memorandum, dll. ⚫ KURUKSETRA: Tempat terjadinya perang Maha Baratha, Brahmasarwara tempat pertama kali Dewa Brahma melakukan upacara ghni hotra, sumur Drupadi, Bhisma Kunda tempat berbaringnya Bhagawan Bhisma setelah kena panah dari Srikandi dan tempat Beliau mewejangkan ajaran-ajaran Dharma kepada para Pandawa serta Jyothir yang merupakan tempat terpenting di Medan Kuruksetra karena di tempat inilah Kitab Suci Bhagawadgita diwejangkan oleh Shri Krishna kepada Arjuna. ⚫HARIDWAR : Dengan keindahan panorama Sungai GANGGA Anda akan dapat merasakan kesuciannya dan di tempat inilah Anda dapat mengikuti Upacara Besar Festival Rohani KUMBHA MELA dan Upacara Ararthi sekaligus memohon Air Suci Gangga untuk dibawa pulang serta menuju Dewi Mansa Pur Mandir yang berada di atas bukit dengan naik troli. ⚫HRSIKESH: Tempat pertapaan Sang LAKSMANA, dan Laksman Jhola, Sorga Ashram, Siwananda Ashram dil. Pulang tanggal : 26 Pebruari 1998. Untuk keterangan lebih lanjut silahkan hubungi :. PT. BUMI NATA WISATA TOURS & TRAVEL CO. Drs. I Putu Ane Edi. DISCOUNT KHUSUS Jl. Tukad Pakerisan No. 68 Panjer - Denpasar. Phone: 0361 240858, 229873 Fax: 0361 241342. C. 110583 Ada hadis mengatakan Allah itu indah dan senang pada yang indah-indah. Selama keindahan lampu tidak meru- sak tatanan yang sudah ada silakan saja buat yang indah- indah. Pawai takbiran dengan obor yag ramai dilakukan seolah- olah merupakan transformasi dari tradisi maleman. Dari kaca mata Islam bagaimana Anda melihat ini? Itu hanya spontanitas. Dulu mengapa bawa obor, karena tak ada listrik. Jalan gelap. Karena itu bawa obor. Sekarang jika jalan sudah terang tak perlu bawa obor. Ya, takbir saja. Karena yang dianjurkan agama takbirnya. Adapun apa yang dibawa dalam takbir, inilah yang berkembang. Tak ada atu- ran harus bawa lampu dan obor. Apalagi jika cenderung ke arah negatif. Harus hati-hati betul. Orang meledakkan mer- con untuk memeriahkan Idul Fitri, itu cara yang salah. Or- ang lain jadi terkejut dan maki-maki. Nah, penggunaan mercon dan kembang api itu menjelang hari raya sudah menjadi masalah lama. Bagaimana seharus- nya sikap pemerintah? Kita sudah jelas. Pemerintah sudah melarang ledakan mercon, dan memang kalau ini dianggap memeriahkan ra- madhan itu keliru. Kadang imam tarawih terperanjat. Yang begini salah. Wajar pemerintah menertibkan sehingga tak jadi kebiasaan. Yang patut digalakkan sekarang pesantren kilat dan adanya orang gemar bersadakah di bulan ra- madhan. Bagi yang punya kemampuan silakan berikan. Bagi pengusaha, wajib memberikan zakat usahanya. Siraman rohani itu perlu dikembangkan dan digalakkan. Soal inten- sitas kegiatan ini di NTB cukup terkesan. Asal ada yang mengkoordinasikan. Sekarang tangan koordinator yang per- lu. Orang-orang yang mau menyisihkan waktu. Tak cuma zakat, namun juga infaq dan sadakah. Ini potensi di NTB. Bagaimana hak merayakan Idul Fitri segelintir orang yang melakukan puasa di awal dan di akhir Ramadhan? Yang jelas pada hari raya siapa saja berhak. Tak bisa melarang. Andai pun tak puasa. Cuma alangkah ruginya mereka itu. Jadi pada saat satu bulan ini Allah SWT me- limpahkan rahmatnya begitu banyak, mereka kok tak me- manfaatkan untuk meminta rahmatnya. Alangkah rugi- nya mereka itu. Sedangkan rahmat yang datang pada awal, tengah dan akhir ramadhan sudah mereka lewati. Itulah kelompok yang betul-betul merugi. Orang yang betul-betul memanfaatkan, jika dalam tarawih satu rakaat saja ter- tinggal akan dikejar. Ramadhan bukan tempat akal- akalan, ammo finish, and tract i bea dual nan led istumom dere to get gray and ande Lebaran tupat yang diselenggarakan tujuh hari setelah Idul Fitri menarik disimak. Di Lombok Barat begitu besar dan meriah. Kenapa? Sekarang yang bikin besar masyarakat luar itu. Sebe- narnya yang punya hati pada lebaran tupat ini adalah or- ang yang mengerjakan puasa sunnat enam hari sesudah puasa ramadhan mulai tanggal 2 syawal. Di situlah tem- pat kemenangannya orang yang puasa enam hari. Mungkin mereka bawa ketupat ke pantai, mandi di laut. Ada pun yang tak puasa sunnat ikut nimbrung misalnya, saya kira itu partisipasi. Selama dalam kegiatan tidak membuat hal- hal yang menyalahi ketentuan agama, mubah-mubah (boleh-Red) saja. Tetapi kalau di tempat itu menyalahi se- perti buat kelompo.. dan minum-minuman keras, apa pun alasannya jelas haram. Bagaimana jika event ritual keagamaan masuk sebagai salah satu tur wisata? Selama tidak menyimpang dari agama boleh-boleh saja. Misalnya ada turis yang mau melihat bagaimana makan ketupat atau bikin ketupat, saya kira tak mesti pada leba- ran ketupat. Sekarang pemerintah sudah mengendalikan dengan kegiatan positif. Ada pun datangnya turis nonton tak ada masalah. Tak ada kaitan apanya. Sama saja de- ngan di Lombok, orang ngantar haji, sulit dilarang. Mau datangkan wisatawan saat itu, tak masalah. Dalam perayaan Idul Fitri kali ini tampaknya dibentur- kan dengan masalah krisis moneter. Bagaimana sebaiknya warga bersikap? Jadi sebaiknya masyarakat mengutamakan kesederha- naan. Dalam Islam, buat makanan dan minuman boleh, namun diberi garis jangan sekali-kali berlebihan. Berlebih- an tidak disenangi betul oleh Allah. Sederhana saja. Jadi tak dilarang buat makanan asal tak berlebihan. Mana yang sewajarnya. Sudah begini utang kan salah. Bukan pahala yang datang, malah dosa. Apa saja yang namanya berlebih- an atau bermewahan, tidak boleh. Lantas bagaimana me- ngukur lebih atau kurang? Itu relatif. Seorang yang taraf hidupnya lebih tinggi atau tidak, itu menurut ukuran mere- ka. Tak bisa dipukul rata. Bagi yang ekonomi lemah, Rp 20 ribu sudah banyak. Bagi yang berpenghasilan lebih tinggi, Rp 50 ribu mungkin tak ada apa-apanya. Ini di luar ritual keagamaan. Soal perayaan Idul Fitri yang dilanjutkan dengan makan bersama di masjid, bagaimana? Makan di masjid pada dasarnya dibolehkan, tetapi yang perlu digarisbawahi, selama tidak mengotori masjid itu. Kalau sudah terjadi pengotoran, oknum yang mengotori sudah salah. Dalam kitab fikih disebutkan, makan boleh selama tidak mengotori. Orang harus membedakan makan di masjid dan di rumah. Satu biji pun jatuh harus cepat angkat dan naikkan. Jadi harus superhati-hati. Apa perlu rambu-rambu? Maka itu. Harus hati-hati. Jika sampai mengotori tidak bisa ditawar-tawar. Masjid harus dibersihkan dari makan minum, termasuk dari merokok. Di Mekah, dari halaman masjid sudah ditulis dilarang merokok. Kalau di sini belum tegas karena belum ke arah sana. Pokoknya pada dasarnya siapa pun yang melanggar salah. Idul Fitri 1418 H seolah mengalami kontroversi. Masyarakat bingung, Muhammadiyah mengatakan tanggal 29 Januari, sedangkan di kalender umum tanggal 30 Janu- ari? Saya sering sampaikan. Sebenarnya masyarakat jelas patokannya. Anda boleh puasa setelah melihat bulan dan berlebaran setelah melihat bulan. Sekarang kita sudah mempunyai tim rukyat dengan alat yang begitu canggih. Menurut saya percayai itu saja. Tak usah repot pada mas- ing-masing, toh sudah ada yang dipercayakan. Menurut per- hitungan hisab, hari Kamis tanggal 29 Januari nanti, bulan sudah ada di ufuk tetapi dua derajat. Nah keberadaan bu- lan yang dua derajat ini untuk di rukyah, tidak mungkin walau dengan alat teropong yang bagaimana pun canggih- nya. Tetapi ini mungkin oleh ahli hisab. Karena oleh mere- ka dianggap di atas ufuk, walau satu derajat sekalipun sudah bisa dikatakan bulan muncul. Namun dari hukum rukyah belum bisa karena memang terlalu rendah. Kita sekarang berpegang pada rukyah. Jadi hari Jumat (30/1) hari rayanya. Tradisi Lebaran di Desa Korl Dulu Ayam Jago, Kini c SEBUAH keluarga dengan tujuh anak, empat di antaranya laki-laki, merasa girang menyambut datangnya lebaran yang tinggal beberapa hari lagi. Kalau tiga saudara pe- rempuannya sibuk di dapur menyiapkan keperluan lebaran, empat saudara yang laki- laki dibelikan empat ekor ayam jago oleh orang tuanya. Setelah puas memperlakukan keempat ayam jago tadi sesuai keinginan mereka, sehari sebelum lebaran, ayam itu kemudian digorok. Tentu saja dagingnya untuk menambah "heboh" saat berlebaran. Begitulah tradisi yang berlangsung di Desa Korleko Kecamatan Selong, Lombok Timur, dan sekitarnya, yang berlangsung cukup lama. Tradisi itu mengisyaratkan an- tusiasnya kaum muslimin di sana menyam- but hari raya nan suci itu. "Tetapi kini tra- disi tersebut nyaris tidak tampak lagi di sini," kata Burhanuddin, seorang tokoh pe- muda setempat, kepada Bali Post belum lama ini. "Entah karena tradisi itu dianggap tidak pas lagi, atau mungkin karena per- soalan ekonomi masing-masing keluarga," sambungnya. Berangsur hilangnya tradisi itu, diakui- nya, bisa jadi juga lantaran kesibukan ma- sing-masing orang yang kini lebih memikir- kan kepentingan dirinya sendiri atau kesi- bukan lainnya. "Akhirnya, kalau dulu ma- sing-masing jejaka memegang seekor ayam jago, kini cukup memegang sebutir telur itik asin pada hari lebaran," katanya. Burhanuddin, sarjana lulusan sebuah perguruan tinggi di Malang, Jawa Timur, memiliki kenangan yang juga dikenang oleh hampir semua anak kelahiran warga Desa Korleko tentang tradisi itu. Sepekan sebelum lebaran Idul Fitri, ka- tanya, seorang ayah yang bertanggung jawab akan mengajak seluruh anak lelakinya ke pasar, memilih sendiri ayam jago yang hendak dibeli. "Kalau kebetulan persediaan ada, atau keluarga tadi memang gemar me- melihara ayam, ya tentunya tidak membe- li," katanya. Perlunya masing-masing anak lelaki kec- uali yang sudah beristri dan tidak lagi kum- pul dengan ayahnya diberikan seekor ayam jago konon memiliki makna yang cukup men- dalam. "Anak lelaki di dalam suatu keluarga merupakan simbol keturunan, kekuatan dan bentang untuk mempertahankan keutuhan ke- luarga tersebut di masa mendatang," ujarnya sembari menambahkan ayam jago yang diberi kan pun sebenarnya suatu simbol betapa si anak lelaki harus tampil sebagai jago membela kepentingan keluarga dalam kondisi apa pun. Namun, ia menolak jika dikatakan hal itu melecehkan kaum wanita. "Dalam tradisi itu, keberadaan anak perempuan bukan dileceh- kan. Juga tidak ada alasan untuk merendah- kan martabat perempuan," tuturnya. Buktinya, ketika lebaran tinggal sehari lagi, ayam-ayam tadi harus digorok, apa pun alasannya. "Sau- dara perempuannyalah yang kemudian me masak ayam tadi di dapur. Ada yang disate, dibuat rawon atau makanan khas lainnya. Se- dangkan yang tidak boleh dilupakan yakni masa- kan yang disebut pelalah, atau lumrahnya dise- but opor ayam." DEA Bagi keluarga yang mampu, demikian tra- disi di desa tersebut, bahkan ada yang membe likan anak lelakinya masing-masing seekor sapi jantan. "Tetapi khusus sapi, hewan itu tidak akan digorok pada sehari menjelang lebaran, tetapi dijadikan modal bagi si anak kalau kelak jago yang diberikan kepada masin dewasa," lanjutnya. Diakui Burhanuddin, sebe lelaki-karena harus diperlaku narnya tradisi itu memang bermula dari pem- sendiri, termasuk diadu dengan belian seekor sapi bagi anak lelaki, kemudian nya dipandang sebagai sala hanya dibelikan seekor ayam jago bagi anak le Dalam pada itu, adu ayam atau laki. Bahkan, tradisi untuk memberikan ma berlangsung tidak dimungkiri dil sing-masing sebutir telur asin pada hari leba-judi. Karena dibumbui judi, seda ran pun kini mulai pudar juga, meski masih ba- langsung di bulan yang mulia, i nyak keluarga yang mempertahankannya. Turbuat marah para alim ulama," k Adu ayam itu pun mau tidak gulangsung, mengingat ayam jago Burhanuddin, tokoh muda yang cukup paham sebagai salah satu simbol kejantar dengan perkembangan desa dan karakter pen na alasan itu juga, tambahnya, y duduknya lantaran sering berdiskusi dengan kan cukup banyak anak lelaki yang para tetua adat setempat, tidak melihat secara kalau ayam jagonya digorok untuk gamblang penyebab memudarnya tradisi ayam lebaran. "Sedangkan ayam jago ya jago" itu. "Menjadi persoalan yang cukup me- lelaki, lalu si anak tidak merelak narik untuk diteliti, apakah tradisi itu memu gorok, hal itu dianggap sebagai p dar karena masing-masing keluarga sudah tidak terhadap perintah orang tua." lagi semakmur dulu ataukah karena masing Memang, cukup rasional kala masing keluarga sibuk dengan urusan dirinya, ang tua tidak lagi membelikan tandasnya. ayam jago, khawatir akan timbu Akan tetapi, diakuinya, ada hal-hal prinsip kangan. Tradisi itu lalu diganti d yang bisa jadi sebab tradisi itu memudar. Ayam aan telur asin per butir untuk Lukisan "Topeng Tua" karya Hendra.) *** Gal Gelar Gel DUAPULUH delapan pelukis muda kini tengah menggelar 62 karya di Galeri Batuan, Gianyar. Pameran yang berta Gelur 97 tersebut berlangsung hingga mendatang. Para pelukis yang berpameran itu di Prof. Drs. AA Rai Kalam, Drs. Gung Way Drs. I Wayan Suartha, Drs. Nyoman Su Cok Mas Astiti, Dra. Ni Made Rinu, Drs. na, Kasmiarta, Ebi Hutagalung, Cundra wati, Hendra dan Soma Wijaya. Selain niman mereka juga berstatus dosen, mah alumnus Program Studi Seni Rupa dan De RD) Unud Seminar Internasi MEMPERINGATI kelahiran pujangg nia Rabindranath Tagore, Program Pase Kajian Budaya Fakultas Sastra (FS) U menggelar seminar internasional "Kebud sional Indonesia: Hubungan Pemikiran Rabindranath Tagore dengan para Buda donesia Seminar akan menampilkan 12 pemb tara lain Dirjen Kebudayaan India, Dubes tuk Indonesia, rektor dan dua guru besar versitas Santiniketan, Dr. Somvir, Dubes untuk Indonesia, serta Direktur Unesco u nesia Prof. Stephen Hill. Sedangkan pembicara dari dalam neg lain Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono (UI) sono, S., (UGM), DR. Ki Supriyoko (Tan Yogyakarta), budayawan Agus Dermawan ka Affandi (pelukis), serta pakar budaya IGN Bagus. "Cucu Tagore, Prof. Sondip guru besar FS Universitas Otemon Gakui juga telah mengirim faksimili untuk me 2cm Color Rendition Chart
