Tipe: Koran
Tanggal: 1998-01-26
Halaman: 09
Konten
4cm Bali Post Halaman 9 si Lebaran di Desa Korleko Jago, Kini cukup Telur di dalam suatu keluarga keturunan, kekuatan dan pertahankan keutuhan ke- nasa mendatang," ujarnya kan ayam jago yang diberi- suatu simbol betapa si anak sebagai jago- membela a dalam kondisi apa pun. lak jika dikatakan hal itu vanita. "Dalam tradisi itu, erempuan bukan dileceh- a alasan untuk merendah- puan," tuturnya. Buktinya, gal sehari lagi, ayam-ayam apa pun alasannya. "Sau- alah yang kemudian me li dapur. Ada yang disate, makanan khas lainnya. Se- boleh dilupakan yakni masa- lalah, atau lumrahnya dise- ang mampu, demikian tra- , bahkan ada yang membe a masing-masing seekor sapi sus sapi, hewan itu tidak sehari menjelang lebaran, dal bagi si anak kalau kelak jago yang diberikan kepada masing-masing anak Diakui Burhanuddin, sebe lelaki-karena harus diperlakukan seenaknya memang bermula dari pem-sendiri, termasuk diadu dengan ayam jago lain- bagi anak lelaki, kemudian nya dipandang sebagai salah satu sebab. ekor ayam jago bagi anak le Dalam pada itu, adu ayam atau gocekan yang Hisi untuk memberikan ma berlangsung tidak dimungkiri dibumbui dengan ir telur asin pada hari leba judi. Karena dibumbui judi, sedang gocekan ber- i pudar juga, meski masih ba- langsung di bulan yang mulia, itu tentu mem- g mempertahankannya. buat marah para alim ulama," katanya. *** DEA Adu ayam itu pun mau tidak mau harus ber- regulangsung, mengingat ayam jago tersebut dinilai okoh muda yang cukup paham sebagai salah satu simbol kejantanan lelaki. Kare- ngan desa dan karakter peń na alasan itu juga, tambahnya, yang menyebab an sering berdiskusi dengan kan cukup banyak anak lelaki yang merasa sayang tempat, tidak melihat secara kalau ayam jagonya digorok untuk disantap di hari ab memudarnya tradisi ayam lebaran. "Sedangkan ayam jago yang dimiliki anak i persoalan yang cukup me lelaki, lalu si anak tidak merelakan ayamnya di- ti, apakah tradisi itu memu gorok, hal itu dianggap sebagai pembangkangan -masing keluarga sudah tidak terhadap perintah orang tua." lu ataukah karena masing Memang, cukup rasional kalau akhirnya or- ibuk dengan urusan dirinya, ang tua tidak lagi membelikan anak lelakinya yayam jago, khawatir akan timbulnya pembang- akuinya, ada hal-hal prinsip skangan. Tradisi itu lalu diganti dengan penyedi b tradisi itu memudar. Ayam aan telur asin per butir untuk masing-masing anak lelaki pada hari lebaran. "Saya masih ingat juga, kalau kita diberikan masing-ma- sing sebutir telur asin di hari lebaran, kita akan mengadu kekuatan telur yang satu de- ngan lainnya," katanya sembari menambah- kan hal itu pun tidak menutup kemungkinan munculnya unsur judi. Sebenarnya, tradisi di Desa Korleko dan sekitarnya itu masih relevan dengan berlan- daskan kepada ayat suci Alquran. Sebab, se- cara simbolis tentu saja dimaksudkan agar anak laki-laki mampu menjaga keluarganya dan bisa tampil sebagai sosok lelaki yang jantan. Dalam hal ini ada kutipan kitab suci yang bisa dijadikan pegangan: Jagalah dirimu dan keluargamu dari siksaan api neraka. Namun, begitulah sepotong tradisi yang se- betulnya sarat akan muatan pendidikan ke- luarga kini telah pudar, bahkan mungkin hi- lang. Atau mungkin tidak kontekstual lagi? Hanya masyarakat Desa Korleko dan seki- tarnya yang tahu dan bisa menakar nilai-nilai tradisi itu di hari yang fitri. (zul) Galeria? Gelar Gelur" di Galeri Galar DUAPULUH delapan pelukis muda dan senior kini tengah menggelar 62 karya di Galeri Galar Desa Batuan, Gianyar. Pameran yang bertajuk "Gelar Gelur 97 tersebut berlangsung hingga 30 Januari mendatang. Para pelukis yang berpameran itu di antaranya Prof. Drs. AA Rai Kalam, Drs. Gung Wayan Tjidera, Drs. I Wayan Suartha, Drs. Nyoman Sukaya, Dra. Cok Mas Astiti, Dra. Ni Made Rinu, Drs. Surya Bua- na, Kasimiarta, Ebi Hutagalung, Cundrawan, Eka- wati, Hendra dan Soma Wijaya. Selain sebagai se- niman mereka juga berstatus dosen, mahasiswa dan alumnus Program Studi Seni Rupa dan Desain (PSS- RD) Unud. Karenanya, pertemuan antara guru dan anak di- dik dalam satu ajang bergengsi ini melahirkan suatu "perkawinan" aneka corak dan gaya. Namun secara keseluruhan tema alam dan budaya Bali masih mendominasi pameran "Gelar Gelur" di Desa Batu- an yang mempunyai ciri khas estetik, dinamik dan magis itu. Secara keseluruhan, pameran di awal tahun 1998 ini menyajikan kekhasan masing-ma- sing, sebagaimana seniman-seniman yang digodok di PSSRD Unud selama ini. Keberanian mengangkat tema-tema yang kasat mata membuktikan bahwa mereka lahir sebagai seniman yang menguasai teori dan kemampuan menuangkan konsep seni rupa. (018) Seminar Internasional "Rabindranath Tagore' MEMPERINGATI kelahiran pujangga besar du- nia Rabindranath Tagore, Program Pasca Sarjana Kajian Budaya Fakultas Sastra (FS) Unud akan menggelar seminar internasional "Kebudayaan Na- sional Indonesia: angan Pemikiran dan Karya Rabindranath Tagore dengan para Budayawan In- donesia" Seminar akan menampilkan 12 pembicara, an- tara lain Dirjen Kebudayaan India, Dubes India un- tuk Indonesia, rektor dan dua guru besar dari Uni- versitas Santiniketan, Dr. Somvir, Dubes Banglades untuk Indonesia, serta Direktur Unesco untuk Indo- nesia Prof. Stephen Hill. Sedangkan pembicara dari dalam negeri antara lain Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono (UI), Dr. Mar- sono, S.U, (UGM), DR. Ki Supriyoko (Taman Siswa Yogyakarta), budayawan Agus Dermawan T., Karti- ka Affandi (pelukis), serta pakar budaya Prof. Dr. IGN Bagus. "Cucu Tagore, Prof. Sondip K. Tagore, guru besar FS Universitas Otemon Gakuin, Jepang, telah juga mengirim faksimili untuk menyatakan 99 kesediaannya menghadiri seminar ini," ujar Dr. Somvir, panitia pengarah seminar itu. Ketua panitia Dr. Wayan Ardika, M.A. mengata- kan, ada tiga pokok masalah yang akan dibahas dalam seminar itu, yakni ruang lingkup sastra, pen- didikan, dan seni (seni lukis). "Kami juga akan me- ngadakan pameran karya-karya dan dokumentasi Tagore dalam perjalanannya ke Bali dan Jawa. Tagore pernah singgah di Bali selama 14 hari, dia sempat bertemu dengan Raja Gianyar dan Klungkung. Di Jawa, pengarang "Gitanjali" yang terkenal itu pernah menemui Raja Surakarta," pa- parnya. Seminar akan digelar pada 16-17 Februari dan diharapkan dihadiri para guru dan siswa di Bali, mahasiswa S1 dan S2 FS Unud, para dosen, bu- dayawan, serta seniman. Biaya seminar, peserta umum Rp 100 ribu/orang, sedangkan untuk peserta mahasiswa dan guru masing-masing Rp 50 ribu, se- dangkan pelajar SMU dikenai biaya Rp 25 ribu. (bud) Lebih Islami Pukul Bedug MENYAMBUT lebaran Idul Fitri, yang tinggal beberapa hari lagi, memang bisa di- lakukan dengan banyak cara dari takbi- ran keliling kampung, karnaval obor keliling kota, hingga perayaan bersifat glamor de- ngan kembang api dan petasan cukup ba- nyak mewarnai penyambutan lebaran. "Teta- pi, tentu akan lebih islami dengan menghi- langkan budaya kembang api atau petasan. Lantas diganti dengan rebana kasidah atau memukul bedug di masjid dan mushalla," papar H. Mohd. Sam'an Hafs. Menurut mubalig dan pembina majelis taklim yang beranggotakan khusus kaum muda di beberapa tempat di Lotim itu, se- mangat kaum muda lebih tinggi dibanding- kan dengan orang dewasa dalam menyam- but hari kemenangan itu. "Padahal belum tentu para pemuda tersebut berpuasa genap sebulan," kata anggota DPRD Lotim yang suka humor itu. Di zaman yang penuh dengan "sulap" ini, demikian Sam'an mengistilahkan, semua persoalan tidak jelas ujung pangkalnya. Tiba-tiba saja begini, tiba-tiba saja begitu, itulah sulap. Kalau tadinya seorang pemu- da rajin mengaji atau tadarrusan Alquran di masjid, tiba-tiba dia ke luar dari masjid membeli mercon atau petasan. Mengapa itu harus terjadi?" tanyanya heran. "Sebenar- nya boleh-boleh saja, tetapi berpikir pula- lah tentang manfaat dan mudaratnya," sam- bungnya. Pemuda yang shalat, rajin mengikuti ma- jelis taklim, diakuinya tidak akan membeli petasan. "Petasan bisa meledakkan apa saja, termasuk si penyulut petasan itu sendi- ri," ujarnya. Oleh karena itu, ia menganjur- kan lebih baik mendendangkan irama reba- na kasidah tentang firman-firman Allah. Na- mun, dengan tidak bermaksud mengajak pe- muda kembali ke alam tradisional di desa- desa yang masih religius, Sam'an juga men- dukung sikap glamor yang bernapaskan Is- lam. Contohnya, membuat lampion yang berisi Asma'ul Husna untuk diarak di malam takbiran. Majunya pendidikan kaum muda dewasa ini, menurutnya, juga melahirkan kerja seni seperti kaligrafi. "Kaligrafi itu budaya Islam yang lahir sejak zaman nabi-nabi dan berkembang sesuai zamannya," katanya sependapat dengan para pemikir Islam ten- tang karya yang dimunculkan masing-ma- sing manusia. Seni kaligrafi atau lampion Asma'ul Husna, misalnya, menandakan pembuatnya senang dengan ajaran agama Islam. "Kalau ternyata lebih senang dengan kembang api atau petasan untuk memeri- ahkan lebaran, itu lebih dekat dengan mak- siat," katanya. Secara kebetulan, pemerintah dan apa- rat keamanan sangat tanggap dengan fenomena yang berbau glamor tadi yang kerap memunculkan gangguan keamanan dan ketertiban. Kalaupun harus merekomen- dasikan karnaval di malam takbiran, se- perti kenyataan yang dilihat di tahun-tahun sebelumnya, aparat keamanan diimbau be- kerja ekstrakeras untuk mengawasinya. Menjelang lebaran, bagi Sam'an Hafs, se- baiknya kaum muda lebih banyak instros- peksi terhadap perjalanan yang telah dila- lui sesuai arti harfiahnya, Idul Fitri meru- pakan waktu yang tepat untuk memulai hal- hal yang lebih bersifat positif. "Ibaratnya kita terlahir kembali, dosa-dosa telah diam- puni, mengapa harus memulai dengan ke- giatan yang bisa mengarah kepada keru- gian?" Ia juga menilai, tidaklah cocok me- rayakan Idul Fitri dengan kebut-kebutan di jalan atau yang lainnya. *** Di sisi lain, Sam'an Hafs melihat perkembangan mental kaum muda dewasa ini cukup menggembirakan. Dia mengambil contoh kesemarakan yang terjadi selama bu- lan ramadhan di desa-desa. Di masjid- masjid yang ramai dengan kegiatan mem- pertebal iman dan ketakwaan, seperti per- ingatan Nuzulul Quran (turunnya Alquran), kepanitiaan dipegang oleh remaja masjid, berikut kegiatan badan amal, zakat, infaq dan sedekah (bazis) yang dilakukan pemu- da. Kondisi di atas menjanjikan harapan baru bagi terciptanya manusia yang bertak- wa di masa mendatang. Karena itulah, menu- rut Sam'an, ajaran agama yang antara lain menyiratkan akan lebih besar pahala sese- orang bila kebajikan dilakukan saat remaja tersebut mulai dipahami kaum muda. "Pada prinsipnya, bagaimana hidup berbangsa dan bernegara telah diatur secara jelas di dalam Alquran. Kalaulah itu dilaksanakan, teru- tama oleh para pemuda, Insya Allah selu- ruh program pemerintah akan terlaksana dengan baik," ujarnya. Budaya-budaya minum arak, doyan pe- rempuan, ekstasi hingga menimbulkan AIDS dipandangnya merupakan satu bukti kerapuhan mental keagamaan oknum per- orangan. "Masih lebih banyak pemuda yang sadar akan dirinya, masa depannya," kata- nya. Itu dibuktikan dengan masih ramainya kaum muda di masjid-masjid menghidup- kan budaya memakmurkan masjid. Dalam hal berpakaian, bagi Sam'an, se- jauh pengamatannya memang pemuda tidak mau larut dengan apa adanya. "Sebenarnya lebaran tidak harus dengan pakaian baru dan bagus," katanya. Tidak ada dalam bu- daya Islam yang mengharuskan umatnya me- makai pakaian baru di hari lebaran. Tidak satu pun ayat di dalam Alquran yang menya- takan kita berdosa bila tidak memakai jin atau hem baru saat lebaran," ujarnya. "Apalagi masa sekarang yang dihadap- kan dengan krisis moneter atau melonjak- nya harga barang. Apakah pemuda harus stres gara-gara tidak mampu membeli pa- kaian baru? Kan tidak. Kalau remaja yang Islami akan memilih lebih baik tampil apa adanya, asal sopan, tidak akan tampil beda hanya karena riya atau takabur," jelasnya. Dia berpendapat, harus tampil dengan pa- kaian baru dan bagus di hari lebaran ha- nyalah kebiasaan anak kecil dan cengeng. "Apakah pemuda mau disebut sebagai anak kecil yang cengeng?" lanjutnya. Ajaran Islam sendiri menuntut umatnya untuk harus tampil berpakaian bersih dan sopan. "Pakaian bersih dan sopan tidak lan- tas diartikan baru dan bagus," demikian Sam'an. Dia melihat ada sisi keliru dari pen- didikan orang tua terhadap anak yang me- manjakan anaknya secara berlebihan, teru- tama di hari lebaran. Sejak kecil dibiasa- kan dengan pakaian baru dan bagus. "Tak masalah kalau ekonomi cukup, tetapi kalau nanti laut sedang surut atau rupiah tidak cinta sama kita, mau apa lagi?" tandasnya. (zul) Garis Suci Budhiana-Wirata di Bali Mangsi DI Bali, garis suci ada- lah rajahan. Demikian Hartanto, pemilik rumah budaya Bali Mangsi berkesimpulan. Rajahan -yang kemudian menjadi muara dari sket dan draw- ing, merupakan muara dari seni rupa yang sangat religi sifatnya-dan untuk alasan tersebut Bali Mangsi yang beralamat di Jalan Satelit 17 Denpasar, menghadirkan karya sket dan drawing Made Bu- dhiana dan Nyoman Wira- ta, 24 Januari-24 Februari 1998 Made Budhiana, lulus- an Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta menye- butkan perjalanan di alam terbuka merangsang diri- nya untuk melukis. "Saat saya melakukannya, saya sering tergerak oleh lingkungan sekitar," ka- tanya. Maka melalui peng- hadapan manusia kepada alam inilah, Budhiana menyadari budaya asal dan mengungkapkan lewat upacara dan ritus. "Semua perayaan sekaligus peris- tiwa estetis. Saya mere- spons hal-hal tersebut, dalam renungan tentang dari ruang pencarian kreatif visual". Selain itu, hal yang realitas kekinian," jelas perupa. Proses perupa, kata- menarik dari karya-karya Budhiana yang sudah ma- nya, adalah gabungan dari drawing adalah komposisi lang melintang pameran eksplorasi bentuk, penge- yang lebih 'nekat', keluar baik di dalam maupun di nalan bahan, teknik dan pe- dari aturan baku komposi- luar negeri. mahaman perasaan subjektif si dan justru mampu men- Sementara itu Nyoman serta pemikiran dan kesada- jelajah wilayah baru, Wirata mengatakan, tema ran sosial yang berujung pada Hingga tahun 70-an, dan makna bagian penting penyelarasan ke semua fak- kata Lopulalan, berlaku bagi dirinya. "Lukisan saya tor tersebut dalam pemak- pemeo kalau tak bisa haruslah mampu bercerita naan yang bersifat subjektif. bikin sketsa, kalau tak dan bermakna. Kadang Akibat kuatnya unsur pe- bisa drawing, bukan pe- saya berangkat dari tema, maknaan tersebut membuat lukis'. Pemeo ini kemudi- tapi bisa saja saya tidak proses-proses visual seperti an memudar, akibat dite- konsekuen dengan tema sket atau drawing, pernah mukan banyak pelukis ab- awal ketika mengambil tidak dianggap sebagai se- strak yang loncat' dalam pena bambu dan mulai buah karya mandiri "jan- arti ekspresi visualnya ter- menggaris," kata Wirata, tung gagasan visual" tersebut jadi tanpa pernah meng- peraih Bali Art Award dianggap sebuah karya seni gambar sketsa-sketsa, se- 1997 dalam Pesta Kese- yang belum selesai. hingga timbul kondisi nian Bali XIX, yang sehari- Namun, Lopulalan me- berkesenian yang membu- hari juga berprofesi se- ngakui pemahaman di atas takan diri dari originalitas. bagai pendidik. semakin pudar, karena Karenanya Lopulalan Menurut Benito Lopula- makin banyak pengamat mengatakan sangat pen- lan, yang berbicara banyak menilai bahwa karya-karya ting drawing dan sketsa tentang drawing dan sket- sket atau drawing seorang berkembang secara mandi- sa, menggambar atau me- pelukis terkadang lebih me- ri, dan menjadi karya lukis adalah proses kerja nonjol dari lukisannya. Ala- mandiri yang ditampilkan visual dan juga sebuah pro- sannya, drawing dan sket secara mandiri pula. Kare- ses psikologis dan sosiolo- sering lebih menarik karena na dari karya-karya draw- gis. Dengan kata lain meng- dekat dengan emosi sang pe- ing dan sketsa, para peru- gambar dan melukis ada- rupa, dan karenanya garis- pa bisa belajar menampil- lah mengkomunikasikan garisnya lebih jujur, karena kan diri secara lebih jujur. bahasa visual yang lahir tidak disertai "kekhawatiran (wan) CASPER JULAIMA Bersilaturahmi di Kubur BIASANYA, dalam rahmi yang memiliki makna suasana hari raya, orang- orang berbondong-bondong menjual bunga. Kenapa harus bunga? Di samping hampir identik dengan hari raya, bunga dekat hubungannya dengan alam kematian alias kubur. "Banyak orang nyekar jika hari raya Idul Fitri. Mere- ka perlu bunga," tukas So- mad, salah seorang penjual bunga di sepanjang pe- kuburan Islam Karang Me- dain Kecamatan Ma- taram. adalah bersilaturahmi kepa- da orang yang pernah atau sedang marah kepadamu; sebab jika bersilaturahmi kepada kawan, sudah biasa. Sama halnya berbuat baik kepada orang yang baik; di Lombok justru mengajak or- ang bersilaturahmi ke kubu- ran. Kenapa ke kuburan? Menurut budayawan Drs. L. Agus Faturrahman, pada dasarnya, tradisi Islam yang berorientasi pada kesadaran ke fitrah manusia, menekan kan pada aspek silaturahmi. Silaturahmi itu pun tidak melihat tempat, tidak juga terbatas pada tetangga atau kerabat, melainkan lebih luas lagi. Ziarah ke makan merupakan salah satu mo- del silaturahmi yang me- ngakar. "Di makam, seluruh rumpun keluarga bisa berte- mu. Yang tidak bisa bertemu pada saat-saat tertentu, pada hari raya berkumpul di sana." *** tahu. Ini sudah berlangsung sejak lama dan bertahan hingga sekarang. Jika ada masyarakat Sasak yang meninggal, ia akan berusa- ha untuk kembali ke kubu- ran keluarga. Bagaimana jika tujuan reuni makam akhirnya bergeser pada konteks ke- yakinan atau kepercayaan terhadap hal-hal mistik yang bersifat pribadi? "Me- mang ada kecenderungan seperti itu, namun jumlah yang melakukan tidak ba- nyak. Jadi, kebanyakan warga Sasak memberi mak- na hanya menyangkut aspek kultur saja," tandasnya. Memang, paling tidak, Idul Fitri merupakan saat monumental untuk me- lakukan nyekar -tidak Memang harus diakui, seperti hari-hari biasa. Se- pada masa lalu, ziarah jak dibukanya bedug tak kubur pernah dilakukan bir pada malam hari, or- sambil membawa makanan ang-orang berkemas un- dan membawa dupa. Itu ter- tuk nyekar ke kuburan, jadi sekitar tahun 1970-an. seolah-olah tanpa nyekar, Setelah dekade 80-an de- hari raya belumlah ngan lancarnya dakwah Islam lengkap. Di Lombok, bah- yang berkehendak melakukan kan ada yang ziarah pemurnian, pelan-pelan kon- malam hari, yakni pada disi itu lenyap, sehingga Islam malam lebaran ketika tak- yang belum murni dengan bau bir berkumandang. Mere- IDUL FITRI memang sinkretisme yang sangat ken- ka berbondong-bondong memiliki kekuatan untuk tal tadi menjadi hilang. membersihkan kuburan menyatukan. Saat itu pula Sekarang, menurut Agus, kerabat, berzikir, berdoa, kerap digunakan sebagai re- sudah tidak ada lagi dupa dan dan tak lupa membaca uni keluarga dari berbagai makan bersama di atas kubu- surah yassin. jalur yang mengambil kubur ran. Sudah seperti orang Dalam Islam diajarkan, sebagai pusat pemakaman nyekar pada umumnya. tujuan melakukan ziarah (silaturahmi) keluarga. Bah- Sudah seperti orang mengi- kubur untuk mengingat- kan, kuburan bagi ma- ngat kematian pada hakikat- kan kita pada kematian. syarakat Sasak, Lombok, nya Bahwa kematian berada di sangat penting artinya-tak Persoalannya ada pada urat lehermu dan rumah sekadar makam dalam ben- kubur-kubur tertentu. Seper- masa depan berada di sana tuk-bentuknya, melainkan ti makam Loang Baloq di Ke- tanpa kita harus mem- memiliki hubungan kekelu- camatan Ampenan yang di- belinya. Ia pasti datang argaan untuk mengetahui anggap sebagai makam kera- dan menjemputmu. Den- garis-garis keturunan seseor- mat. Makam ini dipercaya gan mengingat kematian, ang. "Orang bisa melihat si berkhasiat jika penduduk diharapkan orang-orang ini berasal dari keturunan meminta sesuatu, sehingga beramai-ramai berbuat keluarga mana, bisa dilihat berdatanganlah penduduk kebaikan, melupakan sifat dari ke mana dia melakukan dari berbagai pelosok desa sombong dan angkuh. Ya, ziarah kubur," tukas Agus dengan transportasi darat. seolah-olah kematian itu Faturrahman. Seperti pada setiap hari raya, esok hari, sehingga kita tak makam ini akan menjadi ser- lupa pada kebaikan. buan masyarakat tanpa hen- ti-hentinya. Praktis warga se- Lombok pun bertemu di sana, bersalaman, bersilaturahmi. Lantas, adakah beda makna silaturahmi seperti ini? Orang Mataram yang ber- ziarah ke Sakra, Lotim, mi- Namun di Lombok, tu- salnya, punya garis ketu- juan nyekar atau ziarah runan keluarga Sakra. kubur tidak lepas dari sila- Barangkali sebelumnya ia turahmi. Jika mubaligh tidak tahu ia orang Sakra, se- kondang Zainudin MZ hingga dengan mengetahui mengatakan, bersilatu- langkahnya ke kubur, jadi Riyanto Rabbah PERUMAHAN DAN HOTEL BERTARAF INTERNASIONAL DALAM SATU KAWASAN RESORT Lokasi yang strategis pada daerah pariwisata, panorama alam yang indah dan hutan lindung yang menghijau JARAK TEMPUH KPR HOTEL 150 M dari patung Garuda Wisnu Kencana yang sedang dibangun 5 menit ke Kampus Unud 10 menit dari kawasan Pariwisata Nusa Dua •6 menit ke kawasan pariwisata Pecatu Graha •12 menit ke Lapangan Terbang Ngurah Rai 10 menit ke kawasan pariwisata Jimbaran 15 menit ke kawasan pariwisata Kuta Patung Ngurah Rai Λ Air Port GEBYAR DISCONT Miliki segera sebelum harga naik !!! Dengan Type 21/60, 27/70, 36/90, 36/120, 45/150, 55/150, dan 70/200 serta kavling tanah dalam satu Resort., dengan sertifikat Hak milik dan tingkat bunga mulai dari 11%/th, 14%/th SAMPAI AKHIR BULAN Fasilitas telah tersedia - Air PAM - Listrik - Telephone - Taman bermain - Hotel bertaraf internasional Kami memberikan bukti bukan janji ....!! FASILITAS KPR BPD BALI Pengembang PT Trimas Karya Jl. Teuku Umar No.65 Dps Telp. 238952, 238265, Fax. (0361) 226646 No.REI. 1300122 Jimbaran -By Pass Nu Dua Pura Patung Garuda Wisnu Kencana Bah Puncak Pesona Kencar Resort 500M 200M Bak Ciff Pecatu Graha PAM Ball Cu C. 3841 Color Rendition Chart 2cm
