Tipe: Koran
Tanggal: 1998-01-18
Halaman: 02
Konten
4cm Halaman 2 Abu Bakar: Bali Post POTRET Teater Modern di Bali Begitu Buruk APA komentar seniman modern soal tahun seni dan budaya dan peluang kesenian modern untuk tampil? Menu- rut Abu Bakar, tokoh drama modern Bali, dalam era yang dicanangkan ke dalam tahun seni dan budaya, apa yang bisa dikembangkan tampaknya kesenian yang diarahkan pada satu tujuan praktis. Di mana kemudian disamakan dengan produk nonmigas mendatangkan devisa misal- nya. Tetapi menurutnya, produk kesenian yang murni, kon- tekstual sayangnya tak bisa berkembang. Semua kese- nian yang bagus tida berkembang apakah ia berasal dari Garin Nugroho, Teguh Karya, entah bagaimana tidak berkembang. "Karena iklim yang berkembang atau dikembangkan atau diperkenankan adalah kesenian hiburan yang kayaknya acuh tak acuh terhadap keprihatinan bangsa. Kalau mau ngomong soal dolar, takut. Kesenian kita ada- lah kesenian yang mau amannya. Asal jangan diganggu, asal bisa makan ini itu," ujarnya ketika ditemui Bali Post di kediamannya, Jumat (16/1). Apalagi pandangannya soal dunia kesenian khususnya teater modern? Berikut petikan wawancara Bali Post dengan Abu Bakar. Melihat fenomena krisis ekonomi sekarang ini, apakah Anda punya ide untuk menga ngkatnya ke dalam satu pe- mentasan teater? Selama ini kesenian kita di Indonesia umumnya atau yang digalakkan ada satu kecenderungan satu kesenian yang tidak konseptual. Kese nian yang tak dimuati takaran pikiran atau misi untuk mem- perbaiki keadaan, atau merangsang. Dari sekian ke- senian yang dibuat adalah ke senian hiburan, kesenian ton- tonan, kesenian coca-cola yang dibuat habis dibuanglah botol- nya, selesai. Adakah kesenian yang di- angkat dengan takaran mua- tan krisis dolar? Mungkin pe- merintah tidak berkenan kita mengangkat itu. Sekarang se- gala sesuatu yang bermuatan kritis kayaknya diblok untuk tidak berkembang. Mung diangkat, tetapi mungkin lagi- lagi kita terbentur oleh birokra- si. Tampaknya oleh satu situa- si kita dipaksa untuk membuat kesenian dalam arti hiburan sekali habis begitu saja. Sehing- ga pementasan-pementasan, pikiran-pikiran yang bersifat kritis yang datang dari Rendra, Ratna Sarumpaet, sederetan hal-hal ini pasti diblok, pasti tidak diperkenankan. Ini yang saya sayangkan. Apakah hal semacam itu baru terasa belakangan ini saja? Mungkin sudah cukup lama. Misalnya pengaruh sen- sorship atau pengarahan lang sung membuat seniman was- was atau takut atau tidak mau ambil risiko. Lalu bersyairlah mereka soal bulan, batu, angin, yang apakah dibaca oleh yang ada kaitannya. Kebanyakan penyair, ya menyair sendiri. Kalau diangkat sebagai satu cerpen? Boleh dikata Bung perhati- kan hampir semua cerpen saya dengan muatan sosial kritik. Dengan stil yang agak hitam misalnya, hampir se- mua cerpen saya begitu. Ban- yak yang senang tetapi ba- nyak juga yang tidak suka. Tetapi nuansa yang umum saya kembangkan, cerpen sep: erti itu tidaklah berkenan bagi penguasa. Pokoknya kita berkesenian dalam artian hiburan atau tontonan untuk menemani turis makan apa- kah legongnya dilihat atau tidak, tak pedulilah. Kesenian yang diharapkan sepertinya begitu. Pokoknya aman-aman. Sementara kesenian yang kritis selalu menemui prob- lem. Padahal apa, seperti yang dibuat Ratna, Rendra, Emha, bagi saya begitulah cara mere ka mencintai Indonesia. Dari- pada acuh tak acuh. Begitulah cara saya mencintai Indonesia, sarat dengan kritik sosial teta- pi itulah masyarakat saya. Be gitulah saya menyadarkan bangsa saya, karena saya tidak bisa demonstrasi, sloganistis, mogok, maka saya membawa- kan pentas untuk bangsa saya. Tetapi itu kan di-cut? Apakah kondisi itu juga yang makin membedakan an- tara kesenian mayoritas dan kesenian pinggiran? Saya membedakan antara kesenian pop dan kesenian se- rius. Begitupun ada majalah pop dan majalh serius. Misal nya majalah Horizon. Lihat oplahnya Horizon. Nah, lihat juga karya-karya Garin. Ada tendensi yang sangat jelek pada bangsa kita, segala se- suatu yang bagus, out! Segala sesuatu yang mempunyai takaran misi nggak laku di pasaran. Ini persoalan yang sangat serius bagaimana mengembalikan kondisi itu. Saya rasa kunci yang pen- ting pada pemerintah untuk melakukan satu proteksi mis- alnya. Satu contoh misalnya, oke kesenian luar boleh tetapi kita bersikap selektif Nyatanya apa, sekarang film-film yang saya nilai sampah" dari Amerika seenaknya masuk. Dengan seenaknya sekarang mode gaya pakaian dan topi segala macam, diimpor habis-habisan oleh pe- muda kita. Apakah kondisi itu juga yang membuat sejumlah seni- man serius, tak tahan akhirn- ya ngepop juga? Nah, di situ proses seleksi. Ada yang bertahan menjadi minoritas, menjadi sendirian, menjadi kesepian. Misalnya Asrul Sani pernah membuat pengakuan. Bagaimana sine tron kita? Ah, ndak itu urusan merekalah. Tidak berbuat kan satu sikap juga. Teguh karya tidak produktif, saya melihat mereka tidak berkenan de- ngan situasi saat ini. Tetapi ke senian pop pun tampaknya ter- us diulur sampai muntah, sampai kita bertanya apa ng- gak ada yang serius? Sampai kita merindukan ada muatan takaran, apa ndak begitu? Sekarang betul-betul bagi saya sangat mengecewakan. Anda sendiri masih bertah- an untuk serius? Saya tidak demikian. Saya tidak ngotot, tetapi saya tetap merasa kalau ada kesempatan, saya tetap menjadi diri saya, mengekspresikan pikiran saya, apakah karya sastra atau tea- ter. Tidak terpikir untuk nge- pop. Saya hanya resah kesenian pop ini sangat melembekkan nasionalisme bangsa kita. Maksud Anda, karena membanjirnya produk budaya asing seperti Amerika yang Anda sebutkan? Ya... ya... apa yang dari luar tanpa saringan. Saringan kita sudah bobol atas nama globa- lisasi apa saja bisa masuk. Se- benarnya bangsa kita belum siap bersaing saya lihat. Semacam anak yang buru-buru confindet, sudah bisa melepas kanjab satu buru-buru menan- tangjuara dunia. Oke, kita lihat globalisasi. Begitu film India masuk, film Hongkong masuk, hancur. Kan begitu? Orang Iri- an saja masih kelaparan sudah buat mobil. Sering saya lihat ke jadian aneh yang menggambar- kan kebanggaan pada bangsa itu sudah luntur. Kalau ada seniman yang berdalih, mereka kan cari ma- kan juga? Saya dengar alasan itu sering dipakai dan amat klise, kita kan perlu makan? Terus sekarang ternyata pernyataan saya perlu makan ternyata bu- kan diungkapkan oleh seniman yang melarat. Seniman yang sudah bonafide pun meng- gunakan kata-kata itu. Perlu income bagus untuk karyawan saya. Semua akan meng- gunakan kata-kata itu. Makan untuk 200 orang apa makan untuk diri sendiri. Artinya saya tak sependapat dengan dalih semacam itu. (Bagi Abu Bakar, idealisme pada seniman merupakan satu modal sikap dasar. Dalam per- jalanannya dia akan menguat atau melemah. Di situlah kua- litas seseorang ditentukan apa- kah ia akan hanyut pada du- nia pop, kemudian goodbye kesenian atau sastra murni. Proses perkembangan yang akan menentukan ia akan ber- tahan atau tidak. Apakah ia akan mencari dalih tertentu untuk terjun ke dunia pop atau ia tetap pada idealismenya den- gan segala risikonya) Bicara soal teater modern, kadang perlu biaya besar. Bagaimana Anda meman- dang kehadiran sponsor atau penyandang dana? Ada satu hal, kalau berge rak dalam kesenian pop, di mana adanya kesenian ini me mang untuk menghibur mu- ngkin tidak problem mencari sponsor. Sponsor kan selalu punya kepentingan untuk menyampaikam pesan lewat spanduk atau tetek bengek lainnya. Ia mengeluarkan satu juta, ia harus dapat berapa Abu Bakar juta, ada imbalan namanya menjadi terkenal. Itu dalam kesenian pop, sponsor no prob- lem. Tetapi dalam kesenian serius, bukan tidak mungkin mereka juga melihat, 'wah ini kesenian kritis. Cari kerja apa gua, kalau disponsori nanti malah repot urusannya. Bah- kan saya pun merasa, untuk mencari satu sponsor untuk kesenian yang bersifat kritik sosial dicari satu sponsor yang mempunyai keberanian plus. Di dunia film misalnya, Eros Djarot pernah berkorban menjual rumahnya hanya un- tuk merampungkan film "Tjo- et Nja'Dhien", apakah itu juga bagian dari risiko seorang se- niman untuk mengejar mim pinya? Orang mungkin mengor- bankan apa saja. Saya tidak menganggap Eros Djarot lalu merasa menyesal karena itu. Mungkin kebahagiaan yang didapat dengan lahirnya TND dapat melebihi nilai beberapa rumah yang ia jual. Mungkin bisa saja ia gambling, karya- nya jadi booming, jangan-ja- ngan uangnya malah balik, jadi ada spekulasi. Tetapi saya selalu melihat ada orang yang berani mem- bayar mimpinya dengan sa- ngat mahal. Saya lihat seorang Umbu (Umbu Landu Parang gi) membayar mimpinya sa- ngat mahal. Saya tidak tahu keluarganya di mana, anak nya di mana. Begitu berhar- ganya, sehingga saya melihat betapa mahalnya mimpi. Maka saya menganggap kese nian itu begitu mahalnya. Apa memang begitu ciri sen- iman? Mungkin karena sifat total- itas, all out. Kalau sudah ma- suk ya masuk. Karena mere- ka memberi seluruh pikiran- nya, rohnya kepada kesenian itu. Obsesif sekali. Kalau sudah tenggelam, habis dia di sana. Bahkan ada yang men- gatakan kesenian nomor satu, keluarga nomor dua. Apakah selalu begitu, ya itu karena to- talitas mereka membuatnya menjadi obsesi Memang tidak semua. Ada seniman yang bisa membagi karyanya ini untuk dijual, ini untuk pameran, ini untuk museum. Ada yang ker- "Saya Jadi Tua dan tak cukup Sabar" SETELAH terakhir muncul di Pes- ta Kesenian Bali pertengahan tahun lalu, Abu Bakar memang belum per- nah lagi menggarap satu pentas dra- ma modern. Meskipun menurutnya, keinginan untuk pentas kembali ada. Hanya karena salah satu teman yang ia harapkan mau jadi pimpro menga- takan nanti berisiko, Abu Bakar me- ngurungkan niatnya. "Saya tahu diri, saya tak akan mem- buat orang lain celaka," ujarnya. Dihi- tung-hitung, seberapa mahal biaya sebuah pentas teater modern? Abu Bakar menyebutkan, terakhir ketika ia pentas di PKB, itu satu con- toh pola pementasan yang penuh sua- Abu Bakar berbuatlah, kau tahu begitu cara kau mencintai republik ini," katanya. Ia menyebutkan, kalaupun sekarang ada tawaran untuk menyutradarai, mu- ngkin ia akan lihat-lihat dulu. Kare- na menurutnya, sekarang ini ia tak perlu berbuat banyak. Bagaimana kalau mengkader pe- main-pemain teater muda? "Ndak. Kalaupun kemudian lahir seorang Kaseno, itu di luar kaderisasi," sergah- nya. Selama ini, sepertinya dua nama ini memang kompak dan pas kalau menggarap satu pementasan. Beber- apa kali misalnya Kaseno tampil dalam monolog seperti "bos" dan "ka- sir kita", sedangkan Abu Bakar se- bagai sutradaranya. Menurut Abu, semua itu terjadi karena tingkat keakraban mereka cukup tinggi. "Melatih satu aktor tentu berbeda sana Indonesia. Sarat dengan potret an lighting, kostum, trik ini trik itu. diri, penonton tertawa dan menter- Saya lebih suka menggali karakter tawai diri sendiri. Baginya, kalau di- tokoh. Kaseno menjadi apa, Hendra tanya berapa dana yang dihabiskan, menjadi apa, si Mona menjadi apa. sepertinya ia lebih asyik, lebih sibuk Ketimbang repot mengeluarkan uang apabila berhadapan dengan 30 aktor. untuk menyiapkan satu pementasan untuk hal yang tidak penting?," jelas Sebab, total seluruh pikiran kita ketimbang berhitung soal dana. Begi- nya lagi. curahkan ke dia," ujar pria yang ge- tupun saat latihan di rumahnya, apa- Lalu bagaimana tanggapan anak mar mengenakan kaos dan sarung ini kah istrinya hanya punya ubi, ubi dire- maupun sang istri atas "kegilaan" Abu sambil menambahkan, Kaseno yang Bakar dalam berkesenian? Sambil pernah mendukung sinetron "Warteg" tersenyum pria berdarah Jawa-Bali garapan Putu Wijaya di TPI itu mem- yang dilahirkan di Bali ini mengatakan, punyai kesiapan fisik dan mental yang pi". Waktu itu kami dap dana dari sebegitu jauh istrinya happy-happy memadai. Pengalamannya cukup un- panitia 1,5 juta. Dari Parfi ada bantu- saja. "Dia happy. Dia ikut membantu, tuk menerjemahkan "mimpi" mereka an sekitar satu juta. Saya main ikut mengurus. Dari hasil nol kita puas berdua. bus untuk konsumsi latihan. "Kami sibuk bukan mengurus tetek bengek, tetapi sibuk mengejar mim- belakangan tidak lagi turun membi- didukung sekitar 30 orang. Itu kan naif saat orang berkata bagus," katanya. Begitupun, Abu Bakar mengaku dalam pola berpikir bisnis seperti Menanggapi tahun 1998 yang di- sekarang. Siapa mau jadi sponsor?," canangkan sebagai tahun Seni dan na teater-teater sekolah maupun ka- tuturnya panjang lebar. Budaya, tampaknya penghobi me- mpus. Tak tahu Bung, belakangan "Saya tahu uang itu sulit, makan mancing ini kurang begitu antusias. saya menjadi tua dan menjadi tak cuk- ya saya sibuk, asyik menggali potensi "Kalau memang pencanangan itu up sabar untuk mengisi orang. Saya aktor. Daripada menggali kostum dibarengi dengan statemen kebebasan lebih ingin mencari Kaseno-Kaseno menghitung tetek bengek dengan cat- berkreasi, nah, baru itu dia. Jangan- lain yang sudah memiliki kemasakan cat tembok dan sebagainya. Tidak ada jangan kesenian Indonesia akan mem- berpikir, daripada anak muda yang urusanlah dengan pola fisik, permain- bludak. Jadi, diberi kebebasan, oke, rohaninya kosong," tukasnya. (adn) ja saja, hasilnya untuk koleksi sendiri. Bervariasi saya lihat. Kembali ke soal teater mo- dern sepertinya di Bali belum bisa diterima sepenuh hati se- perti kesenian tradisional? Menurut saya teater mo- dern di Bali begitu buruk sih. Pementasannya buruk. Kalau kesenian tradisional Bali umurnya sudah ratusan tahun. Basic-nya filsafat budaya dan agama. Dia sudah mempunyai bentuk, semangat, naskah no problem sudah diatur dalam babad dan sebagainya. Sebe- narnya sangat tidak adil dan sangat aneh kalau memban- ding-bandingkan, seperti sela- lu ditanyakan mengapa kese- nian modern lumpuh, kesenian tradisonal tetap hidup. Saya anggap orang yang menanyakan tidak mengerti hakikat kedua kesenian itu. Mereka jiwanya berbeda. Ke- senian tradisional yang saya lihat belakangan adalah kese- nian yang sifatnya menghibur. Lakonnya sudah ada, kostum- nya sudah ada. Segala tetek bengeknya sudah ada. Kese- nian modern berangkat dari zero. Mulai dari naskah, kos- tum, ide-idenya musti yang paling mutakhir. Ia berangkat dari nol sementara tradision- al berangkat dari pranata yang sudah ada, perangkatnya, po- lanya, stilnya sudah ada. Lha kesenian modern, me- mainkan satu naskah oleh 100 sutradara, 100 bentuk bisa ha- dir. Selalu ada proses pencari- an yang tiada henti. Selalu dih- adapkan pada kegelisahan. Jadi, ada semangat yang sa- ngat berbeda antara teater modem dan kesenian tradisio- nal. Dalam kesenian modern segala sesuatunya tantangan, Mungkin seniman modern untuk memberi pemikiran, di Bali perlu semacam tempat memberikan tafsir baru. Lho berkumpul, seperti TIM di kok kostumnya begini, kenapa Jakarta? lighting-nya tidak begini. Sebe- tulnya tak adil membanding- kan. Mereka cukup berbeda. Apakah Anda melihat kese- nian yang serius itu tidak ada unsur hiburannya? Ada, tetapi agak balance. Dalam pemikiran saya, mereka sangat bersemangat menyam- paikan satu ide. Kadang teater modern terasa berat, karena memang format yang diberikan memang bukan untuk meng- hibur saja. Tetapi ada satu prob- lem yang disodorkan, Anda da- tang sebagai partisipan. Pemen- tasannya bagus kalau Anda bisa masuk. Kalau tradisi tidak. Pe- nonton datang murni menonton. Kita ketawa, bosan, pergi. Tidak ada kontribusi pemikiran balik. Kalau kesenian modern punya problem, di mana kehadiran penonton menjadi aktor lain mereka terlibat secara improve, Lalu apakah itu menghibur? Iya, bagi orang tertentu. Bagi saya tidak tahu. Maaf, saya berkata kesenian Bali akhirnya jatuh sebagai hibu- ran, menemani kita makan, turis makan. Ditonton nggak ditonton nggak ada urusan. Sayang kan? Dengan kondisi begitu bu- kankah teater modern akan menjadi eksklusif? Saya kira itu unsur ketidak- sengajaan, karena suatu situ- asi saja. Semacam barang se- ngaja tidak lepas supaya nilainya tinggi, tidak ada un- sur begitu. Tetapi saya me- mang mengakui, kenapa tea- ter modern tidak mampu, ka- lau dipaksa bersaing atau ka- lau dipertanyakan bagaimana dengan kesenian tradisional, teater modern di Bali memang kacau. Tidak bagus. Mungkin nggak, suatu saat pentas teater modern di Indo- nesia bisa memasyarakat se- perti teater di Eropa? Saya kira untuk waktu yang lama teater modern akan tetap sebegitu saja. Akan teta- pi ada teater kontemporer modern yang bersifat meng- hibur. Seperti Gandrik atau apa yang bersifat tontonan, mengambil pola Ludruk atau Drama Gong. Tetapi yang di luar itu, yang tidak dipenuhi niat menghibur tetap akan kesepian untuk waktu yang lama, tetap akan resah dengan dirinya dalam pengejaran mimpi itu. Resah mencari ak- tor, resah mencari produser. Surat Pembaca Persyaratan: Sertakan Fotokopi KTP atau SIM Sebenarnya kita punya ru- mah, selama ini kumpul-kum- pul, ngobrol di aula Fakultas Sastra, di rumah si A, B, C, tem- pat itu sangat tidak memadai tetapi kita kemudian merasa privacy terjaga karena tidak diaduk, tidak ditunggu. Ada satu gedung besar, sangat terkenal, sangat diharapkan untuk men- jadi rumah seniman, namanya Taman Budaya. Tetapi justru orang tidak suka di sana. Me- mang Pak Nikanaja bilang sila- kan pakai, tidak usah dipikir kan. Umbu misalnya, lebih senang di kelas-kelas. Saya merasa ada hal-hal tertentu, sekalipun mereka diundang mungkin kurang senang di sana. Kalau dibangun cafe misal- nya? Kembali kenapa mereka tidak suka. Mereka suka de- ngan suasana pinggiran kare- na suasana pinggiran adalah kemerdekaan. Mereka bisa le- pas, tidak takut, tidak merasa diawasi omongan mereka. Tetapi kalau kita ngomong di satu lembaga milik pemerin- tah, ditongkrongi oleh pejabat, oleh aparat, kemerdekaan ut- nuk berkata sudah hilang. Mu- ngklin alasan sepele itu menyebabkan mereka lebih suka nongkrong di warung di pinggir Sungai Badung. Saat ngobrol di ruang yang disedia- kan kita menjadi orang yang tak bijak,sangat hati-hati, men- jaga kata-kata. Maka kalau toh idealnya dijadikan cafe, satu hal jaminan kemerdekaan ada. Lalu bagaimana kalau dibandingkan dengan kondisi Taman Ismail Marzuki (TIM) di Jakarta? Di situ kemerdekaan tera- sa betul. Banyak sekali orang membandingkan romantisme di TIM dengan di Bali. Saya bilang di Bali lain sih. Sentra- sentra kesenian ribuan. Di banjar ada latihan, di situ ada latihan. Di Jakarta kan sunyi. Satu tempat berkumpul di situ. Keadaan itu membuat romantisme di sana lain. Di Bali banyak tempat ngobrol. Lalu apa harapan Anda? Mereka diberi jaminan me- memiliki kemerdekaan yang mutlak, bisa ngomong apa saja. Begitulah mereka anak bang- sa, begitulah cara mereka men- cintai publik ini. Daripada men- jadi orang pinggiran terus. Berprestasi tetapi tidak Sekolah Pewawancara : Made Adnyana nya dapat mengharuskan nama daerah. Nyoman Sukajaya Delod Peken Tabanan Minggu Pon, 18 Januari 1998 NAFIRI Ramadhan 1418 H MAUIDZAH Iqra' Wa Rabbuka (A) LAkram "TERNYATA, membaca sebagaimana diperintahkan oleh Allah dalam ayat-ayat pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW memiliki makna yang mendalam," kata Ahmad Zaki kepada para sahabatnya di teras masjid, keti- ka mereka menunggu beduk Maghrib. "Ya, itulah sebabnya, bahasa Alquran disebut sebagai ba- hasa simbolis dan bukan bahasa eksposisi," sahut Munir. "Maksudnya apa itu?," tanya Laila. "Maksudnya, bahasa Alquran, tidak cukup dibaca sekali lalu kita dapat memahami segala maksudnya. Makin kita ulang akan makin kagum pada makna yang tiada habis- habisnya." "Tiap kata dan kalimat dalam Alquran, mempunyai sudut yang masing-masing memancarkan kilau dan kita masing- masing memperoleh cahaya petunjuk Alquran tersebut se suai ilmu dan kemampuan kita masing-masing. Bukan be gitu?," tanya Aziz. Munir mengiyakan pernyataan Aziz tersebut lalu: "Ayat-ayat pertama yang turun kepada Rasulullah SAW memerintahkan kepada kita agar kita membaca bahkan sampai diulang dua kali. Lihatlah judul tulisan ini. Kalau beberapa hari yang lalu telah kita ikuti terjemahan ayat pertama dan kedua yakni "Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Yang menciptakan manusia dari setetes darah yang menggantung", maka pada ayat yang ketiga Al- lah berfirman yang terjemahannya: "Bacalah dan (demi) Tuhanmu yang Maha Pemurah," urai Munir "Apa maksudnya perintah membaca sampai dua kali?," tanya Mufatirah. "Tentunya agar kita banyak membaca, baik objek tertu- lis, maupun objek yang tak tertulis," seru Ahmad Zaki. "Alam terkembang jadi guru," seru Dewi. "Bukankah al akram itu dari kata karim yang artinya mulia?," tanya Laila. Para sahabat yang ditanya sama-sama diam, sampai Munir mencoba menjawab: "Memang dapat diduga dan boleh diartikan seperti itu, namun dalam hubungan dengan ayat sebelum dan sesudah- nya, al akram di sini artinya Yang Maha Pemurah." "Maha Pemurah, karena Dia telah menciptakan kita men- jadi manusia dan tidak makhluk yang lain, hewan atau tum- buh-tumbuhan misalnya," sahut Sujono. Perintah membaca, merupakan kunci kemajuan ilmu dan ternyata kemudian bahwa umat Islam dapat memajukan ilmu pengetahuan, bukan saja menjembatani antara ilmu pengetahuan masa silam tetapi menambah dan menjadi- kan ilmu sebagai milik bersama." Senja temaram, anak-anak remaja itu tenggelam dalam renungan dan tidak lama kemudian beduk Maghrib pun bertalu-talu. TAZKIRAH (WAA) TIDAK MASUK SORGA "Empat golongan manusia, yang Allah berhak tidak memasukkan mereka ke dalam sorga Peminum/pemadat, pemakan riba, pemakan harta anak yatim, dan pendurhaka orangtua." (HR Hakim dan Baihaqi) IMSAKIYAH Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan 18 dan 19 Januari 1998 Imsak 04.40; Subuh 04.50; Dzuhur 12.32; Ashar 15.55; Maghrib 18.50; Isya' 20.04. Dikurangi : Kupang 35 menit; Raba 11 menit; Dompu 10 menit; Sumbawa 7 menit; Selong 5 menit; Praya 4 menit; Ma- taram 3 menit; Karangasem 3 menit; Klungkung/Bang- li 1 menit. Ditambah: Lumajang/Jember 5 menit; Banyuwangi 4 menit; Jembrana/Buleleng Barat 2 menit; Singaraja 1 menit. Telepon Penting 01. Permintaan Interlokal :100 Agar kualitas sumber Di Banjar Grokgak Gede, let yang andal dan nanti- 07. Penerangan Interlokal : 106 daya manusia meningkat, pemerintah melaksanakan program Pendidikan Dasar 9 tahun, yaitu seseorang harus tamat dari SD dan SLTP. Untuk menyukses- kan Pendidikan Dasar 9 tahun diperlukan peran ser- ta dari berbagai pihak dari pemerintah maupun dari swasta, begitu juga dalam pembinaan olah raga. Kelurahan Delod Peken, Ke- camatan Tabanan, ada seor- ang yang belum tamat SLTP. Ia hanya sekolah sampai kelas I (semester I) SLTP swasta di Tabanan. Sebe- narnya ia mempunyai presta- si yang bagus di bidang aka- demis maupun nonakademis (olah raga). Saat itu ia mem- peroleh juara II dalam cabang atletik (lari). Setelah mem- peroleh juara tersebut ia sem- pat dibina. Pembinaan ter- Kecil Coklat henti gara-gara ia tidak lagi Hilang dompet kecil melanjutkan pendidikannya. coklat 15 Januari 1998 an- Saya salut pada Pemda tara Jl. G. Lempuyang - Jl. Tabanan (instansi terkait) G. Cemara - G. Slamet - G. dengan adanya pembinaan Bromo dan Muliawan, beri- olah raga sejak dini. Tetapi si surat sangat penting atas saya harapkan untuk lebih nama Gereja Pantekosta memperhatikan lagi atlet Isa Almasih Jl. G. Lempu- yang sedang dibina teruta- yang VI/d-2 (TK Simon ma pendidikannya. Semoga Petrus) Denpasar. pembinaan yang telah di- lakukan, menghasilkan at- Yang menemukannya, dimohon menginformasi- kan ke alamat tersebut, atau telepon 482028/ 481069. Pdt. A.A. Sutedja, S.Th. Tidak hanya Satu Ida Ayu Nyoman Sriasih Membaca berita Bali Post 10 Januari 1998 "Dipertany- akan Komisi A DPRD Bali Masalah Tanah di Tanah Lot", muncul tanda tanya: atas dasar apa Ketua Komi- si D DPRD Bali menyatakan ada satu orang pemilik yang masih belum tuntas pembe- basan tanahnya di kompleks Meninggalkan Nirwana Bali Resort (NBR)? Sebetulnya atas dasar fakta Rumah yang ada tidak hanya satu Meninggalkan rumah se- orang yang masih mempun- jak 11 Januari 1998, Ida Ayu yai masalah seputar pembe- Nyoman Sriasih, umur 25 basan tanah oleh NBR. tahun, tinggi 165 cm. Yang Masih ada yang lainnya. Jika bertemu dengannya dimohon dicek kembali kebenarannya menginformasikannya ke langsung dari bawah, pasti kantor polisi terdekat atau ditemukan. kepada kami di Banjar Sidan Gianyar, telepon 813354 Nama dan alamat ada di Redaksi Ida Bagus Arka pa 18. Info Pelayanan KB 19. Info Telegram/ Phonogram 20. Info Pariwisata Pelayanan 24 jam: 227912-15 462629, 462488 462488 RUMAH SAKIT 02. Permintaan RSUP Sanglah Internasional 101 RSU Wangaya 222142 03. Info SLI :102 RSAD Udayana, 04. Informasi waktu :103 Buka 24 jam dan menerima 05. Booking Interasional :104 pasien umum 228061 06. Interlokal Tanpa Tunda RSU Surya Husada 235041, 105 233786, 233787 08. Booking Intern untuk Wartel 09. Penerangan Lokal 10. Info Tagihan Telepon 11. Polisi RSU Puri Raharja :107 JI. WR Supratman 14 Denpasar 108 109 110 Buka 24 Jam 222013 RSU Saidharma JI. Tukad Unda No. 1 Renon 12. Pemadam kebakaran :113 Pelayanan Poliklinik: 24 Jam 13. SAR :115 Dokter Panggilan dan 14. Gangguan Telepon :117 Ambulance Service 227220 15. Ambulance : 118 RSU Dharma Yadnya 16. Info Pelayanan Pos 17. Telemarketing :161 JI. WR. Supratman no. 256, $ :162 Tohpati Denpasar Timur :163 :165 :166 Fax. RS Khusus Bedah GRAHA USADHA :175 JI. Cokroaminoto 30 :13011 Denpasar-Bali Buka 24 Jam :13022 :13033 Poliklinik, Ambulance service dandokter panggilan 423467- :13099 426492 Klinik SOS Gatotkaca :122 Buka 24 jam 223555 :234567 RS Bhakti Rahayu :289090 Jalan Gatot Subroto II/11 :701111 Buka 24 jam. Dokter panggilan dan Ambulan Service 430270 430245 235169 :235358 :237343 Nusa Dua Clinic Jalan Pratama 81A-81B Nusa Dua :241397 Pos Call: (0361) 71324 161 Markas PMI :433162 Cabang Badung :703162 Jalan Imam Bonjol Denpasar 484305 Pelayanan Ambulance Gawar Darurat PMI Cabang Badung 21. Telkom Calling Card :168 22. Info Pendidikan 23. Skytel 24. Starko Dikira Gaji Saya adalah bekas kar- yawan "Hero Photo" di Cakra Negara, Kodya Mataram. Saya dipecat gara-gara saya pulang kampung untuk me ngikuti upacara ngaben salah satu kelurga saya selama be- berapa hari. Saya dipecat tan- 25. Easy Call 26. Starpage diberi pesangon, padahal 27. Posko Kewaspadaan saya bekerja sudah hampir Nasional sepuluh tahun. 28. Biz Call Sebetulnya saya ingin men- 29. Taxi Praja gadukan hal ini ke Depnaker, 30. Bali Taxi tetapi yang saya alami sama 31. Ngurah Rai Taxi :724724 seperti yang pernah dialami 33. Informasi Penerangan: 757164 32. Bandara Ngurah Rai :751011 teman saya yang dipecat se- 34. GIA tahun yang lalu. Teman saya 35. Reservasi Merpati itu hanya dikalahkan selem- 36. Reservasi Sempati bar kuitansi yang telah ditan- 37. Reservasi Bouraq 38. Pelayanan Telkom datangani pada waktu peme- Ubung catan terjadi. Kami menyang- 39. Pelayanan ka uang yang kami terima itu 40. Telkom Jimbaran adalah gaji kami pada bulan 41. Info Data Pelanggan : 228042 42. Info Hunting & itu. Ternyata uang itu dipakai untuk berdalih bahwa kami sanggup dipecat dengan uang yang tertera di kuitansi terse- but. I Nyoman Sukarta Karang Songkang Cakra Timur Dompet Hitam Hilang (tercecer) dompet hitam berisi surat-surat pen- ting a,n. A.A. Ngurah Eka Arisnawan, alamat Jl. Sura- bi No. 10, Kesiman, Denpasar timur (Br. Dajan Tangluk), 16 januari 1998 di sekitar jalan W.R. Supratman menuju by pass Sanur. Yang menemu- kannya mohon menginfor masikan ke alamat tersebut atau telepon 240173. A.A. Ngurah Eka Arisnawan Features 43. Info Tunggakan 44. Info Klaim Pulsa 240024 :228062 233321 45. Gangguan Telp Umum: 117 46. PMVRSUP Sanglah 47. InformasiAIDS 48. RSU Manuaba 49. RSUP Wangaya 50. Gangguan PLN 51. STB-N 52. Telkomsel 484305 Pelayanan Usaha Transfusi Darah (PUTD) PMI Cabang Badung d.a. RSUP Sanglah Denpasar :227911 227224 :239191 227911 :426393 :222141 Pesawat s.d. 227915 161 234806 RS. Dharma Usadha 262872 :239540 Pal, 24 Jam dan UGD Jl. Jendral Sudirman 50 227560- 234824 Anggota Redaksi Denpasar: Agustinus Bali Post Del, Dwi Yani, Legawa Partha, Nikson, Palgunadi, Pasma, Srianti, Sri Hartini, Su- ana, Suarsana, Sudarsana, Sueca, Sugendra, Suja Adnyana, Sutiawan, Artha, Alit Suamba, Subagiadnya, Sugiarta, Sutarya, Kasubmahardi, Martinaya, Mas Ruscitadewi, Oka Rusmini, Umbu Landu Paranggi. Bangli: Karya, Buleleng: Tirthayasa, Gianyar: Alit Sumertha, Jembrana: Edy Asri, Karangasem: Dira Arsana, Klungkung: Daniel Fajry, Tabanan: Alit Pumatha, Jakar- ta: Wisnu Wardana, Muslimin Hamzah, Bambang Hermawan, Darmawan, Suyadnya, Djamilah, Rudiyanti, Suharto Olii, Ghazali Ama Lanora. NTB: Agus Talino, Nur Haedin, Riyanto Rabbah, Raka Akriyani, Siti Husnin, Izzul Kairi, Syamsudin Karim, Rus- lan Effendi, Antony Mithan. Surabaya: Endy Poerwanto, Bam- bang Wiliarto. NTT: Hilarius Laba. Yogyakarta: Suharto. War- tawan Foto: Arya Putra, Djoko Moeljono. Minggu Pon, 18 Ja R Mand Pandangan yang yang manja tidak sela kendati orangtuanya t faatkan sebagian wal gan bekerja sambil s lebih dari sekadar mer Ada kebanggaan lain beri sesuatu kepada sendiri. Inikah w BERAGAM cara di puh remaja untuk memp bal dompetnya. Walau jatah dari orangtua diperoleh, remaja yang ukuran ekonomi term kategori mampu bar menggunakan waktuny tuk "nyambi". Mewuju sikap mandiri tersebut, yak pilihan yang dikemb kan. Mulai dari magar sebuah perusahaan m man terkenal, mengemb kan bakat dengan me guru musik, sampai "b ru" artis untuk diwawa ai. Bahkan para remaj ada yang berpikir jau depan, aktivitas yang di ni sambil sekolah dih bisa dijadikan batu lond untuk bisa mencipta lapangan usaha sendiri Harapan yang dipup Made Agus Budiartha, p tidak menunjukkan sika riusnya melatih kemandi Latihan menjadi mandir menuju cita-cita mem lapangan kerja sendiri t at dari penuturan "Syukur-syukur bisa p banyak pengalaman, k sudah lulus mudah me kerja. Atau ada bekal u membangun usaha sen ungkap siswa SMK 3 S wati ini. Dengan motiva pula tampaknya Agus sa menikmati kegiatannya n isi waktu luang dengan m di hotel. Awalnya mer ikut-ikutan saja, lama- senang. Dapat uang, jad yang bisa ditabung u bekal usaha," kata Agus. Apa yang digamba ☐ GG.01 7.81ee Rata-rata KETUA Teater Anta (SMUN 7 Denpasar) Juni caya mengatakan, persi menuju arena Pekan Ser maja (PSR) ke-14, kini s hampir rampung 60 pe Masing-masing siswa yan pilih mewakili SMUN 7 tiap cabang yang akan dilo kan, sudah melakukan lat awal. "Anda tahu kalau ta tahun lalu SMUN 7 belum yak disebut di arena PSR ini kami ingin menghapu san negatif itu. SMUN 7 tempur," kata Juni. Sikap optimis Juni ba tim SMUN 7 mampu bers dengan sekolah lain, tern cukup beralasan. Dia mer tohkan, pada cabang pop ah dan keroncong, Prastya yang baru saja merebut j lagu bernapaskan P4 se mendapat binaan intensif bang masatua, mengar poster, dan baleganjur mendapat perhatian seriu Kegairahan tim SMU tak lepas dari dukungan K la Sekolah (Kasek) SMU berlokasi di Jalan Kamboja Kasek SMUN 7 IG Ta menginstruksikan stafnya membentuk tim khusus un memantau bakat anak-a yang terpendam. Pun sek menyediakan segala san dan prasarana yang diperlu selama persiapan sampai mpetisi berakhir. Sement SMUN 3 tampak tak kalah soal merancang age AKS Meiyani Lestar APA hubungannya dengan kalender? "Hu telah dibuktikan salah remaja Ni Made Meiy ani Lestari. Sebaga model, siswi SLTPK Swastiastu Denpasa ini beberapa waktu lalu telah terpilih sebaga Putri Kalender 1998. Prestasi yang dirail Meiyani tersebut me mang sejalan dengan pandangannya bahwa usia muda memang harus diisi dengan sega la aktivitas yang positi Untuk memperdalam nya tentang dunia mode imba ilmu secara serius elling School. Hasilnya, bet juara pada pemilih ender, Meiyani juga ser 2cm Color Rendition Chart
