Tipe: Koran
Tanggal: 1998-01-18
Halaman: 07
Konten
4cm Baliis JAK Minggu Po do RIAL YU DA KANSAS (3) -anak t Hadiah dan Ngurah yang kelas enam mendapat bagian lomba ge buk bantal dan cepat-cepatan seragam mengenakan sekolah. Mia dan Rimba ikut lomba lari menggigit sendok berisi kelereng. Dewi, Dayu dan Sari menjadi grup untuk lomba menghias sepeda. Hari yang ditentukan un- tuk lomba anak-anak itu pun tiba. Hari Minggu, tanggal delapan belas Agustus, Sejak pukul tujuh pagi anak-anak sudah berkumpul di lapan- gan. Yang tidak ikut berlom- ba menjadi suporter bagi te- man-temannya. Suasana bu- kan main ributnya. Masing masing menjagokan wakiln- ya. Sepintas, anak-anak dari masing-masing gang seperti bermusuhan. Karena mereka tahu, gang yang wakilnya kalah akan diejek habis habisan oleh anak-anak dar gang yang menang. Walau pun itu cuma berlaku seben tar, tetapi bagi yang kalah cukup membuat panas hati juga. Aku kok tiba-tiba sakit perut, ya?" Anom berbisik pada Bayu. man 99 obrs ve חשוב- 10 MINGGU PON, 18 JANUARI 1998 Pada Tahun Seni dan Budaya Bali Post FENOMENA HALAMAN 13 SOROT Saatnya Seni Tradisi dan Kontemporer Bersilaturahmi Tahun Komitmen Saling aling 'serempet" dan perseteruan seniman kontemporer dan tradisional yang mengemuka belakangan ini, tampaknya bakal segera berakhir. Setidaknya, mengawali Tahun Seni dan Budaya ini, Kepala Taman Budaya (TB) Drs. Nyoman Nikanaya memberi rambu-rambu menuju "perdamaian" antara kedua kubu. "Untuk apa membedakan-bedakan seni, kesenian Bali bersifat fleksibel. Seniman kontemporer tak usah khawatir, mereka akan saya berikan porsi yang sama melakukan aktivitas di TB," tegas Nikanaya. Lantas, apa komentar seniman kontemporer dan pengamat seni terhadap angin segar yang dihembuskan pihak TB itu? DRAMAWAN Drs. IB Anom Ranuara mengatakan, pemilahan bentuk-bentuk seni di masyarakat tradisional dan kontemporer atau modern-belum punya taka- ran yang jelas. Pemahaman haki- kat dan eksistensi kesenian kon- temporer khususnya, masih terke san kurang transparan. Untuk itu, bicara soal seni, apa pun bentuk- rje nya, harus kembali pada dinami- ka struktur kesenian. "Seni kon- temporer bukan hanya sekadar menampilkan yang aneh-aneh. 99 Jika tidak berangkat dari akar gas budaya, dan tidak punya bentuk, allapa mungkin kita sebut karya seni rieb hasil sebuah kreativitas?" kata- irinya. -360 -mol ud st Blo Anom sendiri mengaku kurang yali sreg memakai istilah seni kontem- aids porer, dan lebih suka menyebut rnb kreativitas seni. Kesenian kontem- ale porer, tambah pemimpin Sanggar 19ds Mini Badung ini, merupakan wu, del jud hasil kreativitas para seniman ad yang mengikuti arah perkembang an zaman. Namun demikian, tina mereka bekerja berlandaskan akar dieid budaya, dalam hal ini kesenian un daerah yang berkembang di "Alasan, biasanya kamu masyarakat. Ketika membuat se- paling rakus. Jangankan buah bentuk seni yang baru, para kerupuk, sambal terasi se bete pekerja seni akan terinspirasi dan mangkok saja kamu sikat "deberangkat dari keberadaan kese- Pram yang mendengar bisadnian tradisional. Karenanya, produk yang dihasilkan sesuai konteks zaman disebut seni mo- dern - merupakan pembaruan bentuk-bentuk seni yang ada. Ini sebuah proses berkesenian, dan te- rus akan berlanjut mengikuti ira- estra Adi Putra tahun Kolah Dasar mg, Kel. Paket Agung raja ma zaman. "Jika lantas ada yang mempermasalahkan kehadiran kesenian kontemporer, apanya yang perlu dipersoalkan? Kalau dinilai merusak kesenian tradisi- onal, apanya yang dirusak? Per- kembangan macam itu malah se- buah hakiki, lahir secara alami akibat peradaban budaya manu- sia," tegasnya. Menyinggung perjalanan kese- nian kontemporer mewarnai du- nia kesenian di Bali, menurut Anom, sudah mulai sejak tahun 1935, bahkan bisa jauh sebelum itu. Pada era kejayaan kesenian tradisional seperti arja, joged, dra- ma gong, dll., hal-hal yang bersifat modern Anom menyebut kreativitas seni-sudah tampak pada aspek-aspek tertentu. Masya- rakat penikmat seni justru me- nerima dengan baik kehadiran bentuk-bentuk seni baru, yang mereka nilai sebagai hasil kerja seniman kreatif. "Kalau hanya ter- paku pada bentuk pergelaran yang sudah ada, tanpa kreativitas, se- mua akan terasa kaku. Yang baku harus kita hargai, tetapi bukan berarti menolak kehadiran sebuah proses," lanjutnya. Terhadap proses perjalanan seni, Tan Lioe le juga menilai ke- senian kontemporer merupakan hasil pembaruan atau wujud krea- si seni-seni yang sudah ada. Menu- rut penyair Bali ini, seni sebagai output kebudayaan senantiasa ber- jalan dinamis menembus ruang dan waktu. Karenanya, kesenian kontemporer lahir sesuai konteks zaman dan berakar dari kesenian tradisional. Dia menyebut, seni modern yang lahir punya bentuk lengkap dan mudah bersosialisasi di masyarakat. Warna-warna kes- enian kontemporer memungkin- kan muncul di Bali lantaran pro- ses, mobilitas, dan informasi ber- langsung sangat tinggi. Dalam perjalanannya, seni kon- temporer tak lepas dari sumbang- an kesenian tradisional. Tahun 1934, kata Tan Lioe le, Yayasan Walter Speace dan Limbak mem- buat pergelaran kesenian cak. Atau di bidang seni lukis, kelompok Pita Maha yang dibuat pelukis Bali ter- nama seperti Lempad, Kobot, dan Bonet dari Walter Speace, bisa di- jadikan acuan betapa kesenian modern-tradisional sudah berjalan beriringan sejak dulu. Pada prinsipnya tidak ada ke- terasingan bagi seni tradisi untuk menerima seni kontemporer se- bagai khasanah seni budaya. "Jus- tru moment itu diibaratkan sebagai silaturahmi di antara kedua pa- ham tersebut," komentar Nyoman Wirata, seniman lukis dari Den- pasar. Dikatakan, kehadiran seni kontemporer justru memberikan nuansa dan warna tersendiri guna lebih memperkaya dan mengem- bangkan kesenian tradisi. Kalaupun ada pendapat atau pandangan sementara orang yang melihat seni kontemporer belum begitu diterima di hati masyarakat, menurutnya, itu tak lain karena kondisi ke arah itu belum tercipta. Misalnya, masih adanya kesan ke- NITA S langen" (terpesona) pada seni tra- disi. Dengan demikian, dia melihat hal tersebut sebagai tantangan bagi seniman kontemporer untuk berjuang merebut perhatian ma- syarakat melalui penampilan teknik tinggi dan wawasan yang luas. Banyak contoh dapat diambil sebagai tonggak keberhasilan sen- iman kontemporer dalam membu- mikan karyanya sehingga diteri- ma secara baik oleh masyarakat. Dalam hal itu, seniman Putu Wijaya dapat dijadikan teladan yang baik. Dengan karya bertajuk AIB" yang sempat dipentaskan di Art Centre, penampilannya ter- nyata menyedot banyak penonton. "Nah penonton tidak akan tahu sa- jian tersebut kontemporer. Dari ke- san mereka, seni tersebut baik," tandasnya. Kontribusi seni kontemporer terhadap seni di Bali, kata Wirata terutama seni lukis, sangat besar. Dengan penampilan lebih kreatif, berani mengambil objek-objek leb- ih luas untuk mengkomunikasikan idealisme senimannya, kemam- puan teknik yang tinggi, serta di- tunjang wawasan luas, menjadi- kan seniman kontemporer mem- beri inspirasi tersendiri bagi seni- man tradisi Bali. Wirata mencon- toh seniman asal Batuan. Dalam lukisannya, seniman Batuan sudah berani menyentuh objek yang lebih berdenyut dan hidup mengikuti realitas waktu. Jadi objeknya tidak hanya kehidupan masyarakat tradisional, tapi sudah Grafis Raj mencakup kehidupan yang lebih luas," tandasnya. Melihat gejala tersebut, Wira- ta mengaku tidak khawatir akan tercabutnya pakem seniman tr- adisi yang dimiliki seniman Bali. Bagaimanapun seniman Bali akan tetap menampilkan karak- teristiknya sebagai seniman Bali. Ia mengibaratkan hanya logat yang membedakannya den- gan seniman lain. "Pe-ngaruh paham tradisi sangat kuat dan sulit dihilangkan begitu saja," katanya seraya meng-ambil con- toh keahlian, teknik seniman Made Wiyanta. Diterimanya perjalanan kese- nian modern oleh masyarakat, juga tampak kental pada karya- karya kartunis di Bali. Tema-tema yang diangkat dan dituangkan dalam bentuk gambar-gambar, berangkat dari permasalahan yang kontemporer. Tak perlu Dikritik Sementara Anom menyoroti sisi pekerjaan seniman yang terka- dang tidak dibekali basic. Menjadi seniman kontemporer, katanya, jauh lebih sulit ketimbang belajar kesenian secara alami. Sebelum berkarya atau membuat pertunju- kan yang bersifat kontemporer, seniman harus paham struktur seni dan berpengalaman di bidang- nya. Misalnya menjadi sutradara, penulis naskah sampai pemain, harus berangkat dari keterampil an dan jam terbang yang mema- dai. Anom malah mengimbau, ka- lau belum punya basic bidang seni, sebaiknya jangan dulu mencoba masuk dunia kontemporer. "Bagaimana bisa membuat naskah kontemporer, kalau pengetahuan tentang akar budaya saja belum dipahami," kata penulis naskah drama klasik di TVRI Denpasar ini. Memahami kesenian kontem- porer merupakan bentuk kreativi- tas seni di masyarakat, menurut Anom, masyarakat atau pakar seni tak usah mengritik kehadiran seni modern itu. Sebagai sebuah produk zaman, dia akan muncul dan hilang dengan sendirinya dalam batas periode tertentu. Un- tuk itu, mengritik sesuatu yang belum tentu akan bertahan terus adalah pekerjaan sia-sia. "Kalau dikritik hari itu, esok lusa bisa hi- lang dan muncul yang baru lagi. Kan rugi mengritik, apalagi me- nilai yang bukan-bukan. Biarkan saja berkembang, malah perlu di- hargai," katanya sambil menam- bahkan, seniman kontemporer per- lu bekerja lebih inovatif menyam- but Tahun Seni dan Budaya. Tan Lioe le melanjutkan, aktivi- tas seniman modern harus lebih inten mengangkat kembali sendi- sendi budaya daerah. Gejolak mo- neter yang melanda Indonesia, bu- kan alasan bagi pekerja seni menu- runkan semangatnya. "Kita sudah harus berpikir masalah mutu kes- enian," tegasnya. Ada tiga hal yang diharapkan Tan Lioe le menyambut tahun 1998 ini. Pertama, pengkajian se- jarah seni dan identifikasi masing- masing bidang agar dapat arah yang jelas. Kedua, Bali perlu me- miliki atau minimal bantuan aka- demisi yang menguasai sejarah Bali. Ketiga, diharapkan lahir kri- tikus yang mampu menemukan reaktualisasi seni yang adiluhung. Dicontohkan, Bali punya bahan- bahan seperti lontar, epos Ramaya- na, atau seni topeng Pajegan yang bisa digali dan diangkat dalam bentuk kontemporer. Sementara itu menyambut Tahun Seni dan Budaya, Wirata mengharapkan pemerintah mem- berikan suasana kondusif pada seniman kontemporer sehingga memudahkan mereka untuk meng- aktualisasikan dirinya dalam ke- hidupan berkesenian. Plus meng- harapkan kehadiran sponsor se- hingga merangsang kehidupan kreativitas senimannya. Untuk mengisi tahun ini, Wira- ta mengaku telah menyiapkan pe- manasan" yakni berupa penyeleng- garaan pameran Sket di Ang-kul- angkul Galeri yang diprakarsai seorang temannya. Sasarannya, mengajak budayawan untuk lebih mencintai seni lukis dalam bentuk memiliki hasil karya para seni- man. Seniman Bali Kemungkinan Jadi Korban Terbesar PENCANANGAN tahun 1998 mengaku tak berencana membuat sebagai Tahun Seni dan Budaya, mungkin tak akan menambah greget seniman dalam berkarya. Karena seniman lebih banyak berkarya berdasarkan mood (ke- inginan). Seniman lukis Nyoman Erawan karya khusus, berkaitan dengan Tahun Seni dan Budaya. "Kalau direncanakan jauh-jauh hari asanya malah tidak jadi. Saya bi- asanya lebih memilih membuat karya berdasarkan inspirasi yang muncul secara tiba-tiba," katanya. Seniman yang sukses dengan pe- mentasan "Cak Erawan" setahun lalu, malahan ingin menjadikan tahun 1998 sebagai tahun introspek- si diri. Maksudnya, sebagai seniman saat ini kesempatan baik untuk ber- tanya kembali apakah karya seni yang dibuat selama ini telah ber- dasar pada kemurnian jiwa, bukan menjadikannya sebagai komoditi. "Seniman harus merenungkan kembali hal ini," tegasnya. Penyair yang juga wartawan, Putu Fajar Arcana beranggapan, sesungguhnya kebijakan pemerin- tah mencanangkan Tahun Seni dan Beri Ruang yang lebih Besar kepada Seni Kontemporer SENI kontemporer menurut seniman tari Nyoman Suarsa ad- alah suatu pementasan atau per- tunjukan yang dibuat mendadak dan selalu berubah. "Tergantung situasi dan kondisi saat pemen- tasan dan untuk siapa pemen- tasan itu dibuat," jelas Suarsa. Jadi, tidak seperti kesenian tra- disi yang kuat dengan pakemn- ya masing-masing. dia, muncul secara tidak sengaja, sekarang ini sudah ditata menja- di kontemporer. Ia menilai pada Tahun Seni dan Budaya ini per- lu mengembangkan seni kon- temporer. Seni ini harus terus diberi ruang yang lebih besar. "Siapa tahu dari sana akan mun- cul seni yang mengagumkan, dan mengharumkan nama bang- sa. Namun, saya ingatkan jan- gan sampai meninggalkan tra- disi," ujarnya. Seni pertunjukan kontempo- rer menurutnya bisa sangat me- narik selama ada konsep jelas yang mendasarinya. "Kalau asal- asalan, tentu bukan seni yang baik, tapi cuma sebuah kegiatan yang iseng belaka, yang kemudi- an berlindung dalam khasanah seni kontemporer. Hal ini tentu sangat tidak menguntungkan dalam perkembangan seni kon- temporer itu sendiri," ujarnya. Seni kontemporer bisa beras- al dari seni tradisional dan seni modern. Tapi menurut Suarsa, ia tetap berprinsip bahwa orang yang masuk ke seni kontempor- er harus menguasai seni tradisi dulu secara baik. Arja Muani yang diprakarsainya bisa saja dis- ebut seni kontemporer dari segi lelucon atau dagelannya, namun tidak dari bentuknya karena di- akuinya, dia masih memakai pa- kem pengarjan secara cermat. Dalam berkesenian dulu, ia menduga sudah ada seni kontem- porer, tapi tidak dicatat. Waktu dulu seniman hanya mencipta dan tidak peduli pada konsep seni kontemporer atau tidak. Setelah berjalan sekian periode, sudah ada ketetapan, jadilah ia sebuah seni tradisi. "Saya pernah mem- buat tari. Tari itu tidak pas, saya benahi terus sampai baku. Nah nai tradisi. kalau sudah tetap, ia tidak kon- temporer lagi. Malahan setelah adanya kemajuan, makin me- mancing adanya perubahan," kata Suarsa. Seperti adanya pe- rubahan komposisi penari menyesuaikan kondisi panggung. Seni kontemporer dulu, kata Seniman Buleleng Menurut seniman asal Bule- leng, Wayan Silur, seni tradisi dan kontemporer menyatu karena Bali sebagai daerah yang unik. Banyak sekali seni tradisi yang tinggi sudah mengkontemporer dan seni kontemporer yang diwar- Dramawan bumi Panji Sakti ini mencontohkan, seni tradisi dan kontemporer seperti seni arja. Wa- laupun kelihatannya seni tradisi tetapi di bagian lain banyak yang kontemporer. Silur melihat men- yatunya seni tradisi dan kontem- porer saling mengisi. Berbeda den- gan bentuk kesenian di luar negeri yang memang seni kon- temporer tidak mempunyai akar tradisi (seperti di Australia). Sosok seniman yang paling getol memasyarakatkan seni kontemporer di Bumi Panji Sak- ti ini menilai, sebenarnya seni kontemporer ini sudah menyer- ap secara perlahan tetapi pasti di kalangan generasi muda, teruta- ma di bidang musik, teater, dan sastra. tis, malah pencanangan ini akan lebih memberikan makin ditum- buhsuburkan kesenian di Bali. Pencanangan Tahun Seni dan Budaya, menurut dia, merupa- kan suatu tantangan dan sekali- gus memacu untuk lebih menge- mukakan kreativitas para seni- man Bali. Seniman asal Buleleng lain- nya, Dharna menilai, seniman Bali tidak mempermasalahkan tradisional maupun kontempor Menurut dia, seni kontempor- er dalam pencanangan Tahun er di Bali Utara sangat mengga- Seni dan Budaya. Namun dari irahkan untuk digarap. Para se- pihak penggagasan perlu mem- niman teater dan musik di Bule- berikan penjelasan sasaran yang leng, selain melihat dicanangkan lebih rinci sehingga masyarakat nya tahun ini sebagai Tahun Seni dan seniman mengerti dan me- dan Budaya, juga melihat pers- maknai. pektif ke depan dengan mulai menghimpun diri. Para seniman di Bali Utara tampaknya menyambut gembira Dia melihat pencanangan pencanangan Tahun Seni dan Tahun Seni dan Budaya ini agak Budaya ini, melalui kegiatan terlambat, terlebih dalam situa- temu kangen di Puri Gede Sin- si krisis moneter. Namun, bagai- garaja, Jumat (16/1) malam. Bah- manapun para seniman me- kan, para seniman ditantang oleh nyambut gembira karena seba- komponen PHRI Buleleng untuk gai tantangan dan harapan un- mengisi panggung terbuka yang tuk lebih intensif melakukan ada di Lovina. penggarapan yang tidak mengu- ras biaya tinggi. Temu kangen seniman dan usahawan hotel dan restoran Seniman lain, Hardiman, malam itu merupakan awal ke- malah tidak mengkonotasikan bangkitan mereka untuk saling sebagai suatu keterlambatan mengisi untuk menyemarak- karena bagi seniman di Bali yang kan kepariwisataan di Bali Uta- merupakan gudang seni dan bu- ra melalui seni dan budaya. daya senantiasa bergelut dengan Para seniman sepakat puncak kesenian. Hanya saja dia mengi peringatan HUT Kota Singara- syaratkan, dengan pencanangan ja akan diisi dengan pemen- ini seniman harus pandai-pandai, tasan seni dan budaya ciri khas jangan sampai terjebak demi Bali Utara. dolar. Tetapi dia tidak pesimis- (wan/gre/tir) Budaya tak beda dengan saat pe- merintah mencanangkan Tahun Kunjungan Wisata dan sejenisnya. Ia menduga kebijaksanaan seperti ini seringkali hanya berhenti pada politik kemauan baik pemerintah terhadap rakyat. Artinya, secara politik sesungguhnya pemerintah ingin mengokohkan kepercayaan rakyat terhadapnya (semacam poli- tik etis versi lain). "Ini memang un- gkapan yang terlalu kasar, karena nilai yang melekat pada politik etis itu adalah nilai-nilai kolonial," kat- anya. Dengan mencanangkan Tahun Seni dan Budaya, menurutnya seolah-olah pemerintah telah ber- buat dan memperhatikan seni dan budaya yang selama ini menjadi tumpuan utama pariwisata Indone- sia. Dan Balilah yang akan menja- di korban terbesar, karena seperti yang terjadi, masuknya kapitalis secara tidak disadari telah mengha- lalkan segala cara untuk menjual seni dan budaya Bali. "Orang Bali tak bisa protes den- gan tuntas karena sebagian dari mereka (tentu saja yang tidak kri- tis-red), telah memperoleh kenik- matan yang dahsyat dari industri ini. Lalu apa yang bisa dipetik sen- iman dari kenyataan semacam itu?" tanya Fajar. Menurut Ketua Yayasan Cak (Catatan Kebudayaan) ini, seni akan tumbuh dengan baik apabila di suatu daerah kebebasan kreatif sangat dihargai. Sebaliknya seni cenderung menjadi kerdil dan hidup di bawah tanah apabila atensi pe- merintah terhadap seniman ber- lebihan. Pencanangan Tahun Seni dan Budaya, kata dia, bukannya menyediakan lahan subur bagi ke senian, namun malah menjebak seni ke dalam ruang politik birokra- si. Celakanya seringkali tidak se- hat bagi bertumbuhnya sebuah ke- senian. Seolah-olah kesenian yang selama ini "liar", sekarang tiba-tiba jadi urusan pemerintah. Tentu saja ada sesuatu yang diinginkan pe- merintah dari situ. Apa? Ya, seni dan budaya ternyata mampu men- jadi investasi kultural yang men- (jep/asa) guntungkan. Ini bisa dibuktikan dari kasus di Bali," katanya. Dalam bahasa yang lain, Nyo- man Erawan mengungkapkan fenomena seperti inilah yang harus diwaspadai oleh seniman. Sebagai seniman yang mencintai seni dan budaya Bali, Erawan lebih memil- ih merenung ketimbang membuat karya. "Mungkin selama ini kita (seniman-red) salah. Buktinya lihat saja, kita tak bisa sebagai pusat seni seperti Singapura teta- pi hanya sebagai objek untuk men- cari keuntungan. Seni dan budaya dipandang hanya sebagai komodi- ti bukan sebagai subjek yang boleh ikut ambil peran dalam industri pariwisata," katanya dengan nada prihatin. Keprihatinan itu juga dirasakan Fajar. Ia malah mengaku salut den- gan protes gaya I Ketut Kantor, sen- iman topeng asal Batuan yang me- nolak untuk pentas di hotel. "Wa- laupun hal yang dilakukan I Kan- tor terlihat kecil, tetapi ia sadar kalau ia menari di hotel hanya di- jadikan objek, sehingga master topeng ini mengaku sebagai bum- bu penyedap masakan saja," jelas Fajar. Menurut peraih nominasi Borobudur Award ini, seharusnya Tahun Seni dan Budaya dimanfaat- kan untuk menetralisasi ekspansi kapitalisme. Caranya, dengan melakukan gerakan kembali ke akarnya yakni kultur bangsa yang berlatar belakang sosioreligius. Ilmu salak dan ilmu subak, kata dia, justru kemilau di tengah perg- erakan modernisasi, harus dihidup- kan. Baginya modernisasi boleh jalan, tetapi seni budaya teknologi seperti subak harus terus dihidup- kan. Sejak dulu, orang Bali tidak berpikir bahwa budaya mereka bisa dijual. Kalau sekarang tiba-tiba kita sudah berpikir untuk menjual, ka- pan kita pernah menciptakannya? Kalau begitu, budaya kita ciptakan berasal dari perilaku menjual yang instan itu. Sesuatu yang instan nyaris tidak akan pernah menjadi 'way of life' suatu bangsa," ungkap alumnus Faksas Unud ini. (ita) TIBA-TIBA saja pemerintah menjadikan tahun ini sebagai Tahun Seni dan Budaya (Dirjen Kebu- dayaan, Edi Sedyawati "melarang" istilah tiba-tiba, karena konon sudah direncanakan sejak 1992). Ada yang berseloroh, ini sebagai terapi bagi kege- rahan hidup yang meningkat tajam gara-gara situ- asi ekonomi tak stabil. Banyak orang mengalami depresi berat maupun ringan gara-gara nilai rupi- ah jeblok dan utang mendadak jadi berlipat-lipat ketika dikurs dari dolar. Kalau orang kecil sih sudah biasa merasakan gerahnya hidup dan men- gencangkan ikat pinggang. Teman saya masih bisa berseloroh pahit, "Kita kan selalu kebagian jadi pinggang, yang jadi pengikatnya, ya mereka yang borong-borong barang di zaman resesi lantaran takut kelaparan. Akibatnya, hidup kita yang kecil makin ceking." Ketika para petinggi mengimbau gerakan cinta rupiah, siapa sesungguhnya yang tak cinta? Rakyat jelata sih sudah terlalu cinta, cuma rupiahnya yang tak mau berlama-lama tinggal di kantong rakyat kecil. Di saat ekonomi sulit seperti saat ini, orang in- gin berpaling ke kesenian, tentu sah-sah saja, kare- na kesenian memang berpotensi untuk dijual se- bagai komoditi nonmigas mendatangkan devisa. Hanya, jika seni budaya dalam konteks Tahun Seni dan Budaya ini dikaitkan dengan dunia pariwisa- ta, kita telanjur menyaksikan bagaimana kalang- an pariwisata memperdagangkan kesenian dan ke- budayaan. Tak jauh berbeda dengan cara memperdagangkan barang apa saja. Itulah sebabnya, ketika ada yang menyebut booming seni lukis pernah terjadi, akibat pariwisata, saya tak ingin cepat-cepat ikut arus pemikiran itu. Benarkah pariwisata menyebabkan boom itu, atau munculnya kelompok-kelompok ek, sekutif berkantong tebal yang menjadi kolektor den- gan bekal nol soal kesenian? Mereka hanya melihat kesenian sebagai barang investasi, untuk sewaktu- waktu dijual dan mempertebal kantongnya. Akankah dunia pariwisata kita bisa memperlakukan kesenian dan kebudayaan lebih dari sekadar barang dagangan? Itu persoalannya, jika Tahun Seni dan Budaya di- gunakan mendongkrak dunia pariwisata, sebagaim- ana berulang-ulang dinyatakan oleh Mendikbud War- diman Djojonegoro dalam wawancara radio, televisi dan koran. *** Benar tidaknya seni budaya jadi terapi hidup yang sulit, benar tidaknya ia telah direncanakan sejak 1992 dan "kebetulan" ditetapkan tahun ini, biarlah. Paling tidak penetapan Tahun Seni dan Budaya bisa menja- di momentum untuk mendefinisikan bagaimana ke- senian dan kebudayaan, kita posisikan dalam hidup. Sebab, selama ini kita selalu berhadapan dengan rea- lita empiris kesenian menjadi sesuatu yang tak gam- pang dihormati. Dalam kurikulum sekolah ia "kelas dua", karena minimnya alokasi waktu pengajaran, juga tak di-Ebtanas-kan. Dalam pementasan ia sela- lu membuat aparat dan birokrat khawatir, sehingga harus dilarang. Jika ia tercatat dalam kurikulum sekolah, paling-paling dengan alokasi waktu satu atau dua jam seminggu. Itu pun harus berbagi di antara beberapa cabang kesenian, seperti sastra, musik, tari dan seterusnya. Anehnya, ketika kenaikan sekolah tiba, guru-guru kesenian seringkali dipaksa" men- ing-gikan nilai murid untuk mengkatrol angka-ang- ka yang di bawah standar kenaikan atau kelulusan. Karenanya, dalam Tahun Seni dan Budaya ini, barangkali pemerintah melalui Depdikbud perlu meng-evaluasi kurikulum kesenian. Langkah kongkretnya mungkin dengan mengeluarkan kuriku- lum yang memberi keleluasaan lebih besar bagi pen- didikan kesenian. Apalagi, Mendikbud Wardiman Djojonegoro sudah menegaskan, pencanangan Tahun Seni dan Budaya dimaksudkan menstimulasi kese- nian sebagai industri. Untuk masuk dunia industri perlu dukungan teknologi yang lebih mampu menjawab tantangan du- nia industri. Ini antara lain tanggung jawab Depdik- bud. Misalnya, dengan mengeluarkan kurikulum sekolah yang memungkinkan para guru kesenian berkreativitas dalam mengajar, sehingga mengarah- kan para siswa menjadi manusia dengan dasar-dasar kepekaan nurani dan kreativitas. *** Dalam lingkup Bali, Tahun Seni dan Budaya mu- ngkin menjadi momentum bagi para pejabat yang ber- kaitan dengan kesenian, untuk meneruskan kerja yang macet atau mewujudkan gagasan yang belum sempat terealisasi di waktu-waktu lalu. Dr. Wayan Dibia yang kini Ketua STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia) Bali pernah melempar gagasan menjadikan Taman Budaya Bali sebagai "rumah se- niman". Seperti apa wujudnya, bagaimana pengelo- laannya, dari mana sumber dananya, barangkali ini saat yang baik untuk merembukkan dan merealisasi- kan gagasan itu. Kalangan seniman barangkali banyak juga yang merindukan Taman Budaya Bali tak hanya ramai di saat berlangsungnya Pesta Kesenian Bali, selebihnya menjadi tempat berlarian bocah-bocah. Gagasan Dibia mestinya bisa dirembukkan dengan Drs. Nyoman Ni- kanaya, Kepala Taman Budaya Bali, untuk menyulap gedung megah di atas areal luas itu menjadi tempat mangkalnya para seniman memperbincangkan dun- ia kesenian dan kehidupan di mana dia berada. Taman Budaya selayaknya dijadikan pusat berba- gai aktivitas untuk terus-menerus memberi pijaran- pijaran api hidup kesenian -kesenian modern khususnya di daerah ini. Mengundang seniman- seniman luar yang kebetulan atau sengaja didatang- kan ke Bali, misalnya, untuk berdiskusi dengan sen- iman Bali yang selama ini kurang terkondisi oleh sua- sana berkesenian. Yayasan Walter Spies juga punya kerja yang ma- cet. Festival Seni Masa Kini (FSMK) yang pernah diprakarsainya hingga kini belum ada tanda-tanda akan berlanjut. Mengisi penetapan Tahun Seni dan Budaya ini juga bisa dengan mengaktifkan kembali kepedulian lem- baga-lembaga terhadap kesenian, semacam Fakultas Sastra Udayana, yang pernah memprakarsai Lomba Drama Modern Se-Bali. Sayang sekali jika peran Fak- sas Unud yang satu ini tak berkelanjutan, sebab ia bisa diarahkan menjadi barometer untuk mengukur kekuatan insan teater modern yang hidup dan berkembang di Bali. Majelis Pertimbangan Kebudayaan Bali (Listibiya) yang hidupnya bak kerakap tumbuh di batu, kini saat- nya dipertegas oleh Pemda Bali. Jika Gubernur Bali sudah memastikan tak akan mengganti Listibiya menjadi Dewan Kesenian Bali, mengapa harus menunggu-nunggu lagi membentuk divisi seni mod- ern di dalam Listibiya? Alit S. Rini 2cm Color Rendition Chart
