Arsip
Halaman Artikel
Creative Commons License

Jika anda mendapati gambar tidak sesuai dengan spesifikasi data (salah tanggal dan atau salah penomoran halaman), posisi gambar landscape, satu gambar terdapat dua halaman, kualitas gambar kabur, anda bisa melaporkan data tersebut agar segera diperbaiki dengan menekan tombol laporkan.

Kata Kunci Pencarian:

​
Nama: Bali Post
Tipe: Koran
Tanggal: 1998-01-18
Halaman: 13

Konten


4cm 18 Januari 1998 Minggu Pon, 18 Januari 1998 : k Sosial nonfiksi," katanya. gung seniman yang menyendiri, Retno me- sebagai privacy pen- iri. Mungkin karena a sendiri sudah mera- mingga tidak mau ter- cynya. Ia akan men- kan mengganggu ke- apnya. Mereka tidak pada kenyataan se- Hengan kehidupan so- na pun, kata dia, sen- makhluk sosial. okelah seniman, teta- alu total tidak akan di, terlalu obsesif. Ka- sesif susah mengata- pengarang tersebut mia tidak merasakan- oh ia bisa menikmati arena yang diharap- asil karya pengarang, hidupnya," katanya mbahkan, kalau cara menjauhkan diri dari Sosial sementara ia Hirinya diperhatikan ain, bukan eksis na- menganjurkan dalam hendaknya demi ke- asyarakat. (goa) xspresi aidah-kaidah seni yang Namun keterikatan itu u melahirkan kebe- berekspresi tanpa me- mg dari bentuk, gaya orak. Setidaknya bekal tahuan yang diperoleh a di perguruan tinggi Derikan sentuhan-sen- "beda" dengan seni- ang lahir tanpa pendid- formal. Sertifikat Pemula bagai keseriusan pem- an yang dilakukan D berintikan empat ajar dari PSSRD Unud i Made Yasana, Ni eRinu, Ketut Sedeng I Gusti Ketut ada pembukaan pame- itu diserahkan serti- tingkat pemula. Dela- murid yang meneri- ya adalah Indrayuni, run Fajarno, Legawa, Pt. Susila, IB Kt. Sari na, A.A. Anom Giri, zia Medina dan A.A. ang Meiliawati. Untuk antapkan bakat mere- Hi bidang seni, para a ini perlu menempuh jaran tingkat lanjutan g memakan waktu dua an lagi hingga mencapai p akhir. • Doflank dah tua renta ini. dangan kosong suamin- buat air matanya meni- uah kartu pos saja sudah njadi penawar kerindu- berkata lagi. - Tapi un- Dun anak cucu kita mera- untuk melakukannya. ngan itu kembali menja- ng. Diambilnya benang- wol di keranjang, dia mer- mbali untuk membuat ngat cucunya yang baru r satu tahun. Suaminya mendekat.-Apalagi yang nya kita inginkan? - tan- potong daging bistik yang yang hanya kita makan a kerat atau goreng ayam lalap sambal yang kita Hengan nafsu besar dan an hanya kita makan dua ap. - Suaminya menerus- mbicaraan. - Atau mobil rumah baru dengan uk ruangan yang mem- ita menggigil dan batuk- a tidak butuh apa-apa lagi badan kita sudah tidak enopang keinginan kita, nya butuh perhatian.-Dia vab sambil melanjutkan nya. rnyata benar, anak-anak lak selamanya akan men- lik kita.-Kita hanya men- dan membesarkan mere- -lah itu mereka punya ke- an sendiri-sendiri yang apat kita atur lagi. akan kata ahli filsafat. - kannya benang wol itu i ke dalam keranjang. ah aku akan memperha- u. - Dipeluknya suamin- a akan saling memperha- - Suara suaminya jukkan hatinya seperti uh tahun yang lalu. ua orang tua itu tertawa ia pernah dengar bebera- pagi itu udara amat cer- ak-anak kecil bermain di gan sampai siang hari. Di mari yang terik remaja ber- berbisik-bisik di teduhnya Onan sampai sore hari. Di ari orang orang tua duduk Cap matahari yang akan lam. Sebentar lagi kegela- kan tiba. ●Sebuah Pengantar Tadarus Puisi Kakalam PERJALANAN PULANG MENUJU "NA'TIYAH" Boleh jadi apa yang di- tawarkan oleh timpal-timpal di Kalangan Katulampo Loloan merupakan sebuah tawaran yang banyak menawarkan kemungkinan akan lahirnya dialog kreatif, yang diharapkan bermuara pada proses kesadaran-peny- adaran dari diri kita sebagai pelaku utama kehidupan di bumi ini. Tadarus Puisi se- bagai sebuah kemungkinan lain dari beberapa lorong lain- nya, mungkin akan memba- wa kita pada sebuah per- cakapan yang terus menerus, menuju kekhusukan diri, yang lebih pada pencapaian lewat jalan Dzikir. Pendekatan Puisi sebagai media dialog, tentu bukanlah sesuatu yang mengada-ada. Karena lewat karya sastra yang telah sampai pada hak- ikat puisi, tentu akan mem- berikan pencerahan bagi pel- aku sendiri di dalam mono- log kehidupan sehingga me- mungkinkan akan tercapain- ya proses kesadaran yang leb- ih sempurna. Tetapi di balik semua itu, memang dituntut sebuah keikhlasan diri, di dalam penyerahan secara utuh, kepada puisi sebagai puncak pencapaian dialog spiritualitas, yang didasari oleh estetika kehidupan se- bagai hamba. Dan bukan se bagai raja diraja. Puisi telah mengajarkan kita untuk semakin santun di dalam melakoni setiap ep- isode kehidupan itu sendiri. Seperti yang dilontarkan oleh Penyair Abdul Hadi WM, "Dalam peradaban Islam, bentuk-bentuk ekspresi yang berhubungan dengan spiri- tualitas dan religiusitas seperti puisi-puisi pujaan ke- pada Nabi Muhammad SAW yang disebut Na'tiyah memiliki kedudukan istime- wa." Kata istimewa di sini ten- tulah bukan berarti diagung- agungkan, tetapi lebih mencerminkan akan proses penyadaran yang diberikan oleh nurani puisi kepada set- iap penikmatnya. Dan dari keberadaan inilah, langkah awal yang ditawarkan oleh timpal-timpal di Kakalam, boleh diterima sebagai cer- min bening dari proses pan- jang sebuah pergaulan krea- tif. Yang tidak kalah penting nya dari tawaran yang sem- pat disampaikan oleh Abdul Hadi WM, adalah posisi yang sangat strategis dari estetika sebagai jembatan menuju penyempurnaan proses pen- yadaran diri lewat tawaran karya sastra puisi. Sehingga apa yang menjadi puncak dari puncak penyadaran itu, sebe- narnya kembali lagi kepada si manusia sebagai pelaku utama. Artinya sejauh mana dia mampu menuangkan rasa estetikanya ke dalam setiap dialog yang ditawar- kannya. Dan semua itu san- gat ditentukan oleh kesada- ran penyairnya di dalam melahirkan karya sastra pui- si sebagai proses pengenda- pan pengalaman bawah sa- dar, yang diterjemahkan den- gan - rangkaian kata puiti- ka, yang memiliki sentuhan religiusitas dan spiritualitas hampir sempurna. Tadarus Puisi sebagai se- buah media dialog, tentu tidak akan berhenti pada jagongan seniman dan pen- yair semata. Tetapi yang leb- ih dari semua itu adalah, bagaimana proses penyada- ran dan kesadaran dengan pilihan karya sastra puisi mampu membuka kembali dialog-dialog lainnya, sehing- ga tercipta harmoni di dalam proses pergaulan kreatif itu sendiri. Demikian pula den- gan dipilihnya Kampung Loloan sebagai sentra kegia- tan ini tentu menjadi catatan dan tantangan tersendiri. Kesadaran masyarakatnya yang demikian tinggi atas bu- daya sastra, akan dapat men- jadi lawan dialog yang san- gat mengasikkan. Namun, sejauh manakah kita mam- pu mengurai simpul-simpul tradisi sastra di Kampung Loloan ini? Bali Post APRESIASI Agenda Kantong Apresiasi 98 Tadarus Puisi Nuzulul Quran Sekali Sebulan Gradag grudug KPSJ Bali Barat Bersama KAKALAM, Pondok Seni, RPA BATANAS, RPA Expedisi DEWATA, Sanggar- PILOT, Teater GAR, KAKEJEN, Pondok PESANTREN dalam acara Kunjungan Budaya, Penerbitan, Sarasehan, Diskusi, Baca Cerpen dan Puisi di Bulan Ramadhan Minggu 18 Januari '98, jln Kato Lampo 29 Loloan Barat atau telepon (0365) 40031, 41169, 42798 Negara, Jembrana STKIP-SAR ●JAGA jaga Ulangtahun STKIP Singaraja Media Februari '98 KODYA DENPASAR Edisi KHUSUS HUT Kodya DENPASAR - 25 Februari '98 GITARANA Marga ●Temu Kelompok GITARANA SLTPN I Marga Tabanan 1 Maret '98 HUT-SINGARAJA Edisi KHUSUS Ulangtahun SAR Singaraja 15 Maret 1998 JAGA dan jaga PESTA SENI REMAJA 21 Februari 17 Maret '98 PEMANASAN MUSPALAPOGANGGA Sanggar CANDI 8 Maret '98 Halaman 19 Jamiah Tadarus Puisi Nuzulul Quran "Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu sekalian berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan atas mereka sebelum kamu, agar kamu sekalian bertakwa." (QS. AL BAQARAH, 183) niat tulus ikhlas. Serta ber- juan akhir puasa tentunya sungguh-sungguh menjauh- kan dirinya dari perbuatan keji dan mungkarhot' yang telah digariskan Tuhan sebagai larangan-Nya. BERBAGAI upaya dilaku- kan manusia untuk lebih mendorong kita untuk berlom- mendekatkan diri pada Tu- ba-lomba dalam memetik hik- hannya. Baik melalui sholat, mah dan rahmat kemuliaan- tirakat dan puasa. Maupun Nya yang bergelantungan di dengan mengerjakan peker- antara cahaya Bulan Suci ini. jaan yang mengandung nilai Oleh karena itu, kehadiran Kendati untuk meraih ibadah sebagai 'amalan soli- puasa di tengah Bulan Suci 'syafaat' tertinggi berupa han' terhadap makna kehad- Ramadhan, di samping meru- pangkat takwa tersebut ter- irannya di tengah ladang per- pakan kewajiban bagi setiap lampau sulit sekalipun. Na- buruan ini. Sedangkan sebagai orang mukmin, juga sekaligus mun di tengah-tengah 'ritus' Yang Maha Hadir, Tuhan pun merupakan teguran Tuhan Bulan Seribu Bulan yang kita PSR-XIV senantiasa merentangkan ke- terhadap golongan orang-or- tadah kehadirannya ini, ke- mudahan-kemudahan di atas ang yang beriman. Dan han- beradaan sebuah Jamiah Ta- jalan kebajikan yang sedang ya dengan berimanlah, dapat darus Puisi Nuzulul Quran, ditata untuk kemudian ditem- mengantarkan kita kembali paling tidak memberikan pe- puh oleh makhluk-Nya. Dan kepada makna sebuah per- luang tersendiri bagi kita salah satu dari sinyal kemuda- jalanan panjang menuju kesu- dalam membaca, mengkaji han tersebut, telah Dia hadir- cian batiniah, hingga menje- dan menerjemahkan kandun- kan Bulan Suci Ramadhan. lang pada kelahiran yang 'fi- gan ayat-ayat Alquran ke Yang di dalamnya berhembus trah. Artinya, bahwa dengan dalam perilaku hidup sehari- nafas ketenteraman, sampai menunaikan Ibadah Puasa, hari. Nuzulul Quran: Pembaharuan dan Pembangunan Umat Ketika Alquran diturunk- an kepada Nabi Muhammad, kondisi dunia saat itu berada di puncak kritis. Umat manusia di berbagai belahan Untuk menjawab semua bumi - terutama Arab itu, kesungguhan, dan total- itas di dalam menggauli set- sedang mengalami masa ja- iap riak dan kemungkinan-hiliyah. Suatu kondisi ke- kemungkinan sosial budaya di Kampung Loloan, harus- lah disiasati dengan berbekal pada kearifan puisi. Di mana semuanya dibiarkan menga lir, sambil kita menjaga kese- imbangan diri di dalam mendapatkan kembali se- buah hakikat. Akhirnya selamat berdialog Tabik! Gayatri Praba Putra hidupan yang semrawut, ka- cau balau, rusak dan mu- ngkar. Zaman kebodohan yang orang-orangnya berada di tingkat kengawuran yang sangat parah, jauh mening- galkan kodratnya sebagai pen- erima amanat dan pengabdi Tuhan. Hukum yang telah ditetapkan sebagai panutan dan pegangan hidup, yang pernah dibawa-ajarkan para pemimpin umat utusan Tu- han sebelumnya tak dihirau- masan. Umat Oleh Nuryana Asmaudi S ke lubuk hati para hamba-Nya yakni menahan diri dari lapar Tetapi karena Alquran & Nabi Muhammad SAW telah ditetapkan sebagai Kitab Suci dan Rasul terakhir, maka set- elah ini tak mungkin lagi di- turunkan Kitab Suci dan utu- san baru, untuk membangun dunia dan umat yang kembali mengalami zaman "ja- hiliyah". Kalau sekarang ada masyarakat, bangsa dan negara sedang dalam bahaya: mengalami zaman kegelapan, mungkar, kacau, krisis dan kritis (jahiliah modern), maka Tuhan tak akan mau me- nolong lagi jika mereka tak mau berusaha sendiri mem- bangun negerinya ke jalan yang benar dengan mencon- toh dan mengikuti apa yang suatu umat atau kaum; kon- disi krisis, kritis dan ambur- adul suatu negara lantaran ulah mungkar dan nagwur bangsa itu sendiri. Misalnya para pemimpin tidak amanah dan rakyatnya bobrok moral dan apatis. Pembangunan suatu umat dan negara yang berha- sil selalu membutuhkan ker- ja sama dan kepemimpinan yang haq: jujur (sidiq); dapat dipercaya serta menjalankan amanat dengan baik dan be- nar (amanah); menyampai kan, menyuarakan, memberi contoh dengan perilaku serta membawa rakyat dan neger- inya kepada kebenaran (ta- bligh); dan terhindar dari ke- salahan atau menjaga diri Menimang Ramadhan Menyangga (Budaya) Kita kan lagi. Peraturan yang pernah digariskan Tuhan dari perilaku buruk dan BERADA di dalam sua- sana Ramadhan, di bawah be- siraman cahaya Bulan Suci, yang di tengah-tengahnya terdapat Malam Kemuliaan. Karena pada malam itulah (yakni malam ke tuj las), selaku Sang Maha Pen- gatur Urusan, memerintah- kan kepada para malaikat di bawah pimpinan Malaikat Jibril. Menuruni tangga lan- git yang pintu-pintunya se- bagai tempat menabur dzikir dan doa-doa telah terbuka leb- ar bagi setiap insan yang ber- iman dan bertakwa pada kemuliaan-Nya. Dan atas izin Tuhannya, merekapun rukuk dan sujud di bumi. Se Oleh Achmad Saichu Imran baik ayat-ayat-Nya yang ter- sirat maupun tersurat. wajiban yang satu ini sangat memerlukan kesadaran. Artinya, bahwa dengan kesa- daran untuk saling berpe- gang pada pertalian-Nya, menuntun kita menjadi masyarakat yang berbudaya, berpikir dan berperilaku Isl- ami. Yang sudah barang ten- tu juga sesuai dengan kand- ungan Kitab Suci Alquran. Dan untuk menjadikan kita makmum' yang berbudaya, dengan berpuasa di Bulan Kerinduan ini Tuhan pun telah merentangkan Malam Kemuliaan-Nya (Lailatul Menimang-nimang Ra- madhan dengan menjalan- kan Ibadah Puasa, mengan- tarkan kita untuk menjun- jung tinggi nilai kemanu- siaan yang sudah berkolabo- rasi dalam rutinitas kehidu- pan. Karena itu, dengan me- nerjemahkan hikmah ber- puasa sebagai salah satu pon- dasi keimanan yang kokoh. Membuat batin dan kepe- kaan kita semakin suntuk membangun benteng-ben- Qadar). Di mana pada menjadi kesepakatan bersa- dalam Kitab Suci dan utusan- merugikan-korup, penin- ma dilanggar, bahkan senga Nya. Bangsa tersebut harus das, sewenang-wenang dan ja dijungkirbalikkan untuk merenovasi, membenahi, sebagainya (fathonah). Yang mengumbar hawa nafsunya. membangun dan memperba- semua itu sudah dicontohkan Dan tragisnya, kemungkaran harui diri atau negerinya oleh Rasulullah dan Alquran. itu justru banyak didalangi sendiri. Mereka tak boleh ber- Dengan mengikuti (itba') oleh para pemimpin yang pangku tangan menunggu berkuasa pada saat itu. dewa penolong untuk men- Tetapi sudah menjadi sun- gadakan perbaikan, tetapi natullah salah satu bukti rakyat dan pemimpin negeri Kasih Sayang Tuhan pada itu harus menata kembali hamba-Nya bahwa setiap negerinya dari puing-puing kondisi umat dalam bahaya kehancuran, secara tepat, be- (di ambang kehancuran) nar dan baik. maka Dia turun tangan mem- bantu manusia dengan utu- san-Nya untuk memberantas kemungkaran, memotori pembangunan, merenovasi teng moral untuk memagari malam inilah Tuhan dan mengentaskan umat dari perilaku hidup yang berkenan melimpahkan se- jurang kehancuran. Maka semes- diutuslah Nabi Muhammad Akhirnya, hanya dengan Kemuliaan dan Kemurahan- Nya semata, kita mesti berser- ah diri sepenuhnya terhadap pekerjaan yang telah dan kelak kita kerjakan selama Bulan Suci Ramadhan ini. Dengan sebuah harapan, se- moga Tuhan 'Azza wa zallah' mencatatnya sebagai nilai ibadah yang suntuk. Sehing- Sungguh luar biasa rasan- ga kehadiran Jamiah Tadarus ya, bila dalam berpuasa kali Puisi Nuzulul Quran, dapat ini nilai ibadah kita akan ber- memberikan nilai tambah bagi tambah dari tahun sebelumn- kegiatan Tadarus Puisi di ya. Sehingga dengan pertam- samping mengisi momentum bahan itulah akan menempat- Nuzulul Quran tahun ini. 'khusyuk dan kan posisi kita sebagai kaum Marhaban Ya Ramadhan, tawadhuk yang sudah barang yang beruntung di hadapan- Ramadhan Ya Mubarokh... tentu harus dimulai dengan Nya. Dan takwa, sebagai tu- yang sholeh, yang beriman. dan dahaga, serta belajar Akan tetapi sebagai orang mengekang hawa nafsu sepa- mukmin, tidaklah mudah njang perjalanan matahari. untuk memperoleh sebuah 'ti- Setidaknya akan melatih ke tel beriman di sisi Penciptan- pekaan batin dan kelembutan ya. Karena hakikat orang yang hati kita dalam memahami beriman, sesungguhnya bu- 'grafiks' sosial dan kesenjan- kanlah hanya dengan melak- gan hidup yang tengah melilit sanakan perintah-Nya seka- batang kepedulian kita yang dar 'gugur kewajiban' saja. kokoh. Melainkan bagaimana dengan 'status' mukmin yang sudah kita sandang sebelumnya se- bagai masyarakat Islami terse but. Kita juga mampu melak- sanakan segala perintah-Nya secara Achmad Saichu Imran. Sajak sajak dari BALI BARAT Sajako maka basuhlah luka pertapaan dengan bayangan embun yang kita gali di dasar lumpur pada genengan peristiwa sebelum malam menawarkan hening bagi ruang sujud kita di kening-Nya Achmad Saichu Imran SUJUD DI MALAM HENING bilik heningku bergetar ketika malam menggugurkan daun daun kebimbangan yang tumbuh dari pepohonan gulitamu dan di rimba doaku Nabi dan berpegang teguh kenangan itu mengeras Alquran maka setiap insan bersama batu batu ziarah mimpi bisa menjaga dan memimpin yang kemarin sempat ditasbihkan cahaya dirinya sendiri, tak perlu se- sebab bulan tinggal sepotong lalu menunggu contoh untuk memagari senyap pemimpinnya, dan tidak ikut- dalam pengembaraan musim ikutan berbuat kerusakan, yang suntuk disembahyangi angin tidak ikut-ikutan "ngedan" meski hidup di tengah kepun- gan zaman yang edan". Set- iap pribadi mampu memban- gun dirinya, mengubah nasib ke arah yang lebih baik. Kehadiran Alquran dan Nabi SAW sangat tepat dan ideal untuk pegangan hidup masyarakat, berbangsa dan bernegara. Semua sudah ter- tuang dalam Alquran dan Sun- nah segala yang kita perlukan dalam kehidupan, tinggal menggali, memahami dan mengamalkannya, sebagai bekal untuk membangun ke hidupan, menghindarkan diri dari bahaya kehancuran. Se bagai tali pegangan dan titian penyelamat yang haq menu- ju kehidupan yang khasanah, kembali ke jalan Tuhan dan fitrah kita sebagai khalifat- sebentar lagi gelap,- hiburmu ul ardhi dan Abdillah: engkau boleh pulang setelah makan dalam kehidupan negeri serta maka kita pun menyalakan tungku dunia yang baldatun thoyy- aku mengunyah keratan pertama masa silammu engkau menghisap bagian paling hitam ibatun warabbu ghofur. jantungku. darahku Nanoq da Kansas PERCAKAPAN belum kemudian menyam- 'akhlaqul karimah. Sehing- luruh keng beri- sebagai Rasul dengan Kitab aranya harus selalu terjaga sebagai pribadi dalam ber- SEBELUM PULANG paikan ayat-ayat-Nya kepa- da Rasulullah Muhamamd SAW yang sedang tafakur di Gua Hira. Sedemikian berartinya peristiwa tersebut bagi umat Islam seantero jagat, sehing- ga setiap tanggal tujuh belas Ramadhan, diperingati se- bagai Hari Turunnya Alqu- ran (Nuzulul Quran). Semen- tara Alquran itu sendiri, di samping sebagai Samudra Ilmu di dunia, juga merupa- kan tamsilan atas kekua- saan-Nya. Agar kita senan- tiasa berpegang sembari membaca tanda-tanda kebe- saran Tuhan yang berteba- ran di langit dan di bumi, pun senantiasa menjaga Malam Kemuliaan tersebut sampai ke bentangan wak- tu fajar. matan Lil 'Alamin. Per- caya ataupun tidak Alquran diturunkan untuk seluruh umat manusia, tidak hanya bagi segolongan atau orang Islam saja, bahkan seluruh mahluk penghuni langit dan bumi. ga pahala puasa yang kita ta bagi dapatkan dari sebuah pertem- man dan bertakwa. Sehing- Suci Alquran sebagai Rah- puran batin dalam menge- ga demi kesucian-Nya, Dia kang hawa nafsu di antara lapar dan dahaga, bisa lebih besar dari pahala jihad fisabi- lillah' sewaktu perang Badhar dahulu. Karena pada hakikatnya jihad yang paling besar setelah perang Badhar, adalah pertempuran kita dalam memerangi gejolak hawa nafsu yang setiap saat menjajah ketenteraman lu- buk jiwa kita. Sedemikian besar dan pentingnya puasa dalam memerangi hawa nafsu itu sendiri, sehingga sebagai golongan yang beriman, ke- Catatan Kecil (Cakil) Pekan Ini Ziarah ke Kampung Nenek DI PINGGIR kelok-kelok sungai ini, telah Awak temu- kan perkampungan sunyi, yang telah lama ditinggalkan oleh penghuninya. Yang ada hanya sebuah Surau tua, yang ditunggui oleh seorang nenek bernama Sa' Odah. Di sinilah, Awak rangkai Bulan - Bintang, menjadi pep- antunan sebagai pengantar tidur. Atau kisah tentang seorang pangeran yang dibuang ke Pulau Peranggi. "Ini Loloh penyegar badan," demikian Nenek Sa' Odah menyuguhkan. Sebelum semua kisah kita tuangkan, biar kudendangkan sebuah nyanyian untukmu. Dan melan- tunlah suaranya yang merdu. Gurat-gurat wajahnya masih menyisakan kecantikan, lekuk mata dan hidungnya, mengingatkanku pada seseorang yang kini menjadi bagi an dari hidupku. Seseorang yang kini setia mengasuh anak buah cinta kami. "Ini dendang Siti Jubaidah. Sebuah kisah romantis, yang mencerminkan perjalanan hidup manusia. Dan kini kita bisa bercermin di sana. Tetapi sayang, orang sekarang telah lama melupakannya. Mereka lebih suka lagu dan- gdut untuk mengantar tidur anak-anaknya," Nenek sea- kan mengguman. Namun tangannya tetap asyik memain- Nah, melalui kegiatan ibadah di Bulan Kemuliaan ini semoga itikad' serta 'nawaitu' yang kita lafalkan bersama, senantiasa ber- muara 'lillahi taala'. Dan mampu menyangga nilai nilai budaya Islami yang se- lama ini berdiri dan berger- ak-gerak dalam tatanan masyarakatnya yang se- makin 'absurd' dan mengglo- bal saja. Amin.... kan terbangan. Kehadiran Alquran dan Rasulullah terbukti mampu merombak kondisi jahiliah yang amburadul ke alam pencerahan dan kehidupan yang dinamis, melebihi masa para pemimpin (Nabi dan Rasul) sebelumnya. Manusia dan dunia telah berhasil men- capai kejayaan dan masa kee- Seteguk loloh telah membasahi tenggorokan kami, alu- nan tembang dari suaranya yang merdu, mengingatkan Awak pada Kisah Legenda Nenek Ratih. Kisah ten- tang seorang gadis rupawan, yang memiliki suara merdu - yang mampu menidurkan para perjaka dan lelaki se- buah kampung. Namun sayang, karena sebuah kutukan, Nenek Ratih harus menerima hukuman, untuk tetap ter- perangkap di tengah-tengah buluh-buluh bambu. Dan leg- enda ini, senantiasa tumbuh di tengah-tengah kampung nenek. Malam semakin larut, nyanyian serangga sesekali men- ingkahi alunan tembang nenek, atau sesekali nenek menyelipkan pantun sebagai sesindiran yang hangat. Dan tanpa terasa, rajutan bulan bintang telah hampir usai. Inilah, sebuah kampung ditepian kelok-kelok sungai. Yang orang menyebutnya Liloan-Liloan, dan kemudian akrab dengan lidah melayu menjadi Loloan. Dan hingga kini, kampung pinggir kali itu, dikenal sebagai Kampung Loloan. Sebuah kampung yang dibangun dengan kesa- daran budaya sastra yang tinggi. Yang banyak menyisa- kan tuah dan pantun. Juga Dara-Dara. Tanah datu yang terasa makin sepi, tak lagi ditemukan para Lebai sedang mengejakan Alifbataku. Gayatri Praba Putra Pondok Seni Menguras Laut, Mengurus Perut Pembangunan dan pem- baharuan umat (bangsa dan negara) memang tak pernah lepas dari pedoman dan kepemimpinan yang baik dan benar. Baik dan benar bagi manusia, alam dan Tu- han, Keseimbangan di ant- dengan baik dan harmonis. Kalau pedoman yang di- gunakan sudah benar dan baik, tetapi tak dilaksanakan sebagaimana mestinya atau disalahgunakan lebih-leb- ih jika para pemimpinnya adalah segolongan orang yang gemar berbuat mungkar dan rusak: korup, jahil, arogan, feodal dan sejenisnya. Semen- tara rakyatnya tak jauh ber- beda, tak berani meluruskan, selalu mendukung bahkan ikut mungkar-maka tung- gu saja kehancurannya. Kerusakan di muka bumi se lalu diakibatkan oleh ulah manusia sendiri. Kehancuran Catatan Budaya Minggu Ini MALAM KEMULIAAN MALAM SERIBU BULAN I Malam yang penuh berkah Tuhan membagi-bagi hadiah pada hamba-Nya yang taat tunduk menyerah Orang-orang keluar rumah ke tempat-tempat ibadah menggelar sajadah berjajar shalat tarawih merundukrendahkan wajah menghitung tasbih memuji Allah "Allah O Allah Kau sungguh gagah!" "Allah O Allah berkah-Mu melimpahruah!" "Allah O Allah aku berserah pasrah!" bibirnya merekah-rekah tengadah minta hadiah MALAM KEMULIAAN MALAM SERIBU BULAN II seperti burung-burung pasukan jibril turun mengepak-ngepakkan sayapnya putih menebar berkah kurnia Allah Azza Wajalla Buah surga yang ranum lezatnya tiada tara bagi orang-orang yang taqwa menjaga siam dan cinta menahan lapar dahaga merenda amal shaleha hanya untuk-Nya jiwa segala jiwa pemilik kuasa muasal dan akhir segala : kepada santi kita berduyun, sedang hujan datang sendiri. menggoyangkan cemara muda tempat kita berteduh senja itu siapa di antara kita yang teringat ibu? kampung halaman tak lagi mengirim angin hanya selembar potret dalam hati dengan gambar begitu samar mempercakapkan genangan danau dan demam yang dikepung ribuan kota dalam kesepian matamu sempurna lama. hujan tak pernah sampai ke stasiun gelap yang lapar juga menelan jalan puisi di depan kita : aku buta arah tempuh engkau kehilangan waktu kita tak pernah bisa pulang Gde Suta Parwata MATA AIR IV pada belantara sepi sebuah tunas tumbuh di dalamnya dengan dua daun berwarna keemasan ia bernama cinta dan kebenaran aku menjaganya dengan hati-hati lalu kau datang untuk memetiknya membawa cerita tentang kemegahan taman yang penuh aneka bunga dan mata air yang tak pernah mati tidak. aku tak akan menyerahkannya biarlah ia tumbuh seadanya melewati musim demi musim dengan bersahaja di taman yang kuciptakan bersama matahari hati ia akan tumbuh walau dalam kegersangan musim karena aku percaya gerimis akan senantiasa mengunjunginya menjadikannya hidup dan bercahaya bagi segenap bagian takdirku sebab ia adalah milikku yang kekal biar ku simpan ceritamu sampai tunas ini tumbuh menjadi pohon yang kokoh dan aku menyematkan ceritamu di dahan hingga kau dapat melihat ia melambai dengan asing dan gamang. BERPIKIR tentang laut kmatan tersendiri dalam mata para sastrawan (pen- ahu yang masih tertambat dengan segala 'ekosistem' di menafsirkan berbagai mak- yair). Betapa banyak karya- di mulut muara itu. Kare- dalamnya, betapa banyak na dunia. Setidaknya, keti- karya yang 'ter-inspirasi' na musim tengah meman- pertanyaan bergemuruh ka menyaksikan tarian dari 'khasanah' kehidupan cung purnama di atasnya, dan hendak ke luar dari gelombang tersebut sedang di laut. Bukan lantaran sas- sedangkan ikan-ikan di kepala. Tapi mari kita lep- sembahyang dan selalu trawan (penyair) itu memi- dalam laut enggan bermain as saja pertanyaan-pertan- sembahyang, serta mentas- liki kepekaan yang lebih dengan cahaya. Atau ten- yaan itu ke udara. Agar bihkan kebesaran-Nya le- untuk menuliskan kemba- goklah jukung-jukung yang angin yang senantiasa me- wat gemuruh dzikir yang li isyarat keindahan yang mengecil ke tengah hampa- Asep Syahmid Pangrango nari di perut bumi, mener- panjang. Begitupun angin berhasil mereka jaring le- ran laut itu. Dengan mata PURNAMA RAMADHAN bangkannya dalam kesen- dan burung-burung yang wat kata-kata. Tapi justru kailnya seorang nelayan Nuryana Asmaudi, SA mari kita awali pendakian ini yapan yang masih tertawa mendendangkan nyanyian laut itu sendiri yang me- bertarung menahan alur dengan getar nafas doa di mulut badai. Lantas be- waktu dan alam raya. Juga mang menyediakan per- samudra yang menderas rangkatlah ke pesisir bersa- takjub pada bentangan sa- mainan yang mampu mem- oleh terpaan angin liar dari kadang kita sering men- nya tengah terjadi di laut. sampai jiwa kembali pada fitrah ma jiwa yang hening dan jadah yang sesekali mere- buat batin kita terlelap dan kutub-kutub belahan bumi. gadakan penawaran di Lantas kepekaan model apa saat bersa- Adakah di antara kita bawah harga jual sebuah lagi yang sanggup kita per- redam redamlah pisau nafsu batin yang mengidamkan ka sentuh, dicium-cium terjaga tahankan? Selain memenu- yang kerap menusuk lambung nurani perahu 'samsara' kan me- dan dicumbu sambil meng- maan. Seorang pemuja cin- mampu membayangkan, pertarungan hidup. Ternyata mengenal laut hi tuntutan hati, berangkat hingga doa yang kita jalarkan nepi di bibir gelombang. hitung-hitung pasir yang ta saja, ketika ingin me- bahwa nelayan kecil itu Membawa kenangan yang menanam usia percintaan nenteramkan hati kekasih- meski dengan sepasang apa lagi untuk menuangkan ke pesisir, memandang laut menepi ke bukit purnama kemarin kita lungsurkan mereka. Laut adalah sa- nya ia juga memilih laut mata kail sekalipun. Sang- nya ke dalam karya-karya dalam kesenyapan, berdzikir pengembaraan jadah dunia. Yang luas dan sebagai tempat untuk gup menguras laut' hanya seni (sastra dan rupa), tak dalam tarian gelombang dan pintu pintu cahaya telah terbuka musim. Ke saat mana kita panjangnya tak bisa kita menumbuhkan suasana berbekal kesabaran dan cukup hanya dengan mem- menghitung-hitung pasir, di sini tempat kita menyulam doa saling berebut muatan der- ukur hanya dengan beber- romantis. Sehingga seben- sejumput harapan, agar bayangkan tanpa ada usaha Sambil sesekali berpikir un- tar kemudian ia sudah dapat mengurus perut' ke- dan keinginan untuk meny- tuk terjun "menguras laut, lekas mendekatlah ke pintu cahaya ita, untuk bisa memahami apa catatan peristiwa. meruntuhkan luarganya. Termasuk juga aksikan peristiwa yang ten- mengurus perut" bersama se- rembulan telah menanti lidah doa kita betapa laut menyimpan Dalam karya-karya sas- mampu beribu misteri. tra (puisi), fenomena' laut karang kebencian yang perut kita yang kadang ter- gah kita geluti hingga detik rombongan nelayan yang dan cahyanya akan memupuskan Memandang laut bagi or- sebagai bagian dari 'vitali- sempat tumbuh di lautan lalu manja untuk bisa ma- ini. Karena apa yang kita se- tabah merangkul nasibnya. lukisan awan di tapak perjalanan kan enak dari hasil tangka- but sebagai 'teater rakyat' Subhanallah! ang-orang yang berpikir, tas' alam, telah menyajikan jiwa kekasihnya. Tapi lihatlah perahu-per- pan nelayan tadi. Meskipun salah satunya, sesungguh- Achmad Saichu Imran. tentunya merupakan keni- perenungan tersendiri di dalam sewaktu kita mengalungkan debu dalam hamparan jejak gulita AG Pramono PS SAHUR BERSAMA NINGRUM Ajarkan hatimu menengadah pahatkan cahaya dalam setiap dzikirmu dan ucapkan segalanya dengan syukur sebab Ramadhan telah hadir di hatimu, Ning dengarkah kau, orang-orang bertadarus setiap malam dan embun rerumputan seolah telah paham tentang segala nikmat yang ada di antara waktu yang lamban dan ajarkan hati senyummu, Ning untuk lebih bersabar mengantarkan gerimis isak perjalanan ini meski degupmu senantiasa menjadi rahasia sebelum imsyak membawamu pergi Begitulah dengan sadar batu-batu diam di sudut hatimu senantiasa kudengar meski sampai ke tepi seakan mengingatkanku kepada cermin yang bening berceritera tentang rindu r dan mengajarkan tentang hidangan pagi ini serta ucap terima kasihku kepadamu dan kau rentangkan air matamu setiap isyarat air di keningmu Berpalinglah Ning pohon-pohon sedang mengasihimu membaca ayat-ayat yang merimba ke dalam jiwa dan pada hari-hari panjangmu kau bisikkan beberapa ayat di telingaku Hidangan sahur ini, Ning cukup sederhana lewat tanganmu dan begitu dalam diamku saat pohon-pohon gaibmu menyusup ke ruang semesta kecil kita Ali Fikri Krisna SUARA SUNYI Suara sunyi, pagi ini adalah gelombangmu Bertaut bertahun Membias sebening kaca menembus dinding angin Hari ini runtuh dalam rintik suara Cahaya ini membalut jiwa-jiwa nestapa pembawa desah-desah nyawa pembaring waktu Gemuruh yang kau dengar dalam sunyi tak pernah sampai pada embun pagi pada bening penyuci diri dalam salat waktu menguak cahaya matahari Raudal Tanjung Banua PENYEBERANGAN -gilimanuk-ketapang Di tepian selat Termangu aku mengenangmu Senja telah sempurna Melulur riak di hatiku Tapi lampau yang nyala Menjangkau kilau wajahmu di ceruk laut susut di gamang Jadi pasang hatiku Lengking pluit keberangkatan Tak meriuhkan jerit camar malam Begitu terbiasanya dengan perpisahan Setiap jangkar adalah jarak yang tak menakar perhitungan Riak dan angin kini menari Mengirim asin tanah seberang Sebentar lagi sayang. Sebentar lagi Kutinggalkan pantai penghabisan Tanpa isak Sebab camar yang berputar dalam gelap Lamat menyebut biru namamu Namamu sebiru laut Dilambai lampu-lampu kota kecilmu yang kini bagai terapung hanyut di kejauhan Menyimpan hangat kenangan. 2cm Color Rendition Chart