Tipe: Koran
Tanggal: 1998-01-18
Halaman: 08
Konten
4cm Halaman 14 Bali Post FENOMENA Minggu Pon, 18 Januari1998 Minggu Pon, 18 Ja Drs. Nyoman Nikanaya: FOKUS LUAR NEGERI Gaya Politik ala India Saya Tantang Seniman Kontemporer Partai Kongres masih Bertumpu pada Kerabat Nehru Presiden Soeharto mencanang- kan tahun 1998 sebagai Tahun Seni dan Budaya, Apakah pihak Taman Budaya (TB) Denpasar sudah menyusun program berkaitan de- ngan pencanangan Tahun Seni dan Budaya tersebut? Program yang berjalan seka- rang, masih termasuk keputusan dan agenda kegiatan tahun angga- ran 1997/1998. Kami sedang mem- persiapkan langkah-langkah-ter- masuk menetapkan program untuk tahun anggaran 1998/1999. Na- mun, setidaknya ada dua terobosan yang dilakukan TB mengisi Tahun Seni dan Budaya ini. Pertama, mulai Februari nanti, pengelola TB menggelar pentas rutin bertajuk "Pentas Malam Minggu". Semen- tara memasuki pertengahan 1998 (15 Juni), kami akan menyelengga- rakan acara "Temu Budaya" yang melibatkan hampir semua daerah di Indonesia. Dua bentuk aktivitas itu akan mewarnai pemberdayaan TB para seniman berkreasi. Tentu, ke-gia- sebagai wadah tan yang lebih besar dan mendapat penanganan lebih intensif, terprogram, akan menyusul setelah TB menyu- sun kalender kerja mendatang. Ya..., kita lihat dulu bagaimana respons masyarakat terhadap gebrakan TB. Hasilnya, akan menjadi bahan evaluasi kami, untuk kemudian mengambil langkah-langkah penting demi penyempurnaan mekanisme kerja. Bisa dirinci lebih detail tentang acara Pentas Malam Minggu" dan "Temu Budaya" itu? Acara Pentas Malam Minggu" akan menggelar pa- ket rutin tiap malam Minggu. Kesenian yang akan dita- mpilkan dari berbagai jenis, dan semua seniman atau dari berbagai kalangan diberi kesempatan mengisi keg- iatan ini. Tentunya mereka akan digilir, sesuai jadwal yang dibuat panitia. Saya tak mau bicara mana yang tergolong seni tradisional dan mana modern atau kon- temporer, apalagi bekerja atas dasar perbedaan kelas untuk saling fanatik pada bidang seni tertentu. Saya tegaskan, TB welcome pada semua jenis kesenian. Ke- senian yang digelar pada "Pentas Malam Minggu" nan- ti dari yang tradisional sampai kontemporer. Kita atur jadwalnya biar tidak bentrok, dan saya harap ma-sing- masing pihak saling mengerti, saling memberi demi kemajuan budaya Bali. Misalnya, untuk minggu perta- ma saya coba dulu joged bumbung, sambil menunggu proposal lain yang masuk. Sedangkan untuk acara Temu Budaya berskala na- sional itu, susunan acaranya agak kompleks. Saya un- dang tim kesenian dari berbagai daerah untuk tampil bersama-sama mengadakan pameran, sarasehan, dan berbagai pementasan. Untuk kegiatan pameran misal- nya, masing-masing peserta dipersilakan membawa ha- sil karya seniman dan perajin yang khas sesuai kondisi masyarakat atau yang selama ini menjadi produk ung- gulan daerah bersangkutan. Tim dari Kalimantan akan memajang lukisan khas gaya Kalimantan, atau tim dari Jawa tentu akan memamerkan hasil kerajinan masyarakat setempat. Sementara untuk sarasehan, nanti diisi kegiatan-kegiatan sastra-diskusi antarsas- trawan, baca puisi, atau pementasan drama modern. Mengapa jadwalnya bulan Juni, apa tidak berbentu- ran dengan pelaksanaan Pesta Kesenian Bali (PKB) 1998? Oh, nggak apa-apa, saya sudah atur. Acara Temu Budaya mengambil waktu kosong di PKB. Jadi, sama sekali tidak mengganggu kegiatan atau jadwal PKB yang sudah ditetapkan panitia. Saya malah melihat, kedatangan tim dari luar Bali itu bisa menjalani tugas ganda, tampil dalam "Temu Budaya" sekaligus mengi- si kegiatan PKB. Beberapa tahun silam, TB sebagai wadah berkese- nian sempat dikritik para seniman kontemporer sema- ta-mata sebagai wadah untuk kesenian tradisio-nal. Para seniman kontemporer ini merasa terpinggirkan" oleh pihak TB. Bagaimana komentar Anda? Sebenarnya untuk apa membeda-bedakan seni, ke- senian Bali itu fleksibel. Kalau hubungan seniman saja sudah retak, apa mungkin Bali bisa maju dan lahir karya-karya seni yang inovatif. Saya tidak memihak salah satunya. Kalau toh selama ini ada seniman kon- temporer merasa dianaktirikan, sekarang tidak usah Tahun Seni dan Budaya 1998 ini akan menandai "perseteruan" antara seniman tradisional dan modern atau kontemporer bakal berakhir. Setidaknya, hal ini tersirat dari keinginan Drs. Nyoman Nikanaya, Kepala Taman Budaya Denpasar. "Sekaranga giliran saya menantang para seniman kontemporer," katanya. Dengan begitu, apa saja program Taman Budaya Denpasar mengisi Tahun Seni dan Budaya ini? Berikut perbincangan Bali Post dengan mantan kepala SMSR Bali itu. khawatir. TB memberi kesempatan yang luas bagi sen- iman kontemporer berkarya, demikian juga yang tra- disional, kami bina dan dorong agar beraktivitas dan berkarya demi kemajuan bersama. Malah, harus dike- tahui, dilihat dari segi persentase pementasan di ajang PKB, kesenian kontemporer sudah mendapat jatah tampil yang lebih banyak. Contohnya, kelompok kese- nian tradisional yang ada di Bali 700 lebih, sementara sanggar-sanggar atau kelompok seniman modern yang tercatat hanya 17 buah. Nah, mereka yang menggeluti seni kontemporer dapat manggung empat kali, dan si- sanya dibagi 700 grup kesenian tradisional. Saya harap, itu tak perlu dipermasalahkan lagi. Kalau kita terlalu fanatik, menganggap kehadiran seni kontemporer merusak dan mematikan kesenian daer- ah, lantas apakah semua bentuk seni tradisional itu tidak mengambil konsep-konsep seni modern? Lihat drama gong, topeng, dan sendratari yang notabene masuk seni tradisional, belakangan ini malah meng- gunakan pakaian modern yang tidak pernah dipakai para pemain zaman dulu. Tidak saja soal busana, ma- teri cerita, ucapan pemain sampai bentuk pertunjukan- nya sudah dimasuki unsur-unsur seni kontemporer. Kalau dulu pementasan drama diawali dengan tukang tumbak, tukang kursi, dayang-dayang, baru keluar raja. Sekarang itu tidak ada, dan pemain tertentu malah memakai pakaian tinju. Atau topeng yang hidungnya mirip turis, ini kan sudah masuk konsep kontemporer. Jadi, apa alasan kita menyebut yang kontemporer meru- sak seni tradisional, untuk kemudian saling tidak teg- ur sapa. Kan malah membuat kesenian tak bergairah, kurang darah begitu. Sekali lagi, di Bali, konsep seni modern atau kon- temporer dan tradisional sudah sejak lama hidup ber- dampingan. Kedua konsep ini sama-sama "hidup". Yang perlu dipersoalkan sekarang bukan tradisi atau kon- temporernya, tapi sejauh mana masing-masing konsep ini bisa tampil baik dan sejauh mana seni kontemporer memiliki akar yang jelas. Seni kontemporer yang baik, dalam arti memiliki akar budaya yang kuat, pasti akan ditonton orang, sedangkan yang tidak berakar akan ditinggalkan penonton. Burmaro artrol Jadi, TB sekarang menerima baik kedatangan seni- man kontemporer ikut berkarya di sini? Bukan sekadar menerima, saya malah tantang mere- ka (seniman kontemporer-red) agar mau datang ke TB untuk berkesenian. Cuma maaf, kami selaku pengelo- la TB terkadang sangat sibuk, dan tidak sempat meng- hubungi lebih dulu. Saya minta kesadaran para seni- man modern. Nikanaya tak memakai istilah jemput bola. Mereka yang aktif ke TB, pasti saya layani dan sebisa mungkin membantu keperluannya. Dulu kan memakai salah satu ruangan di TB saja seniman kontemporer kena biaya. Sekarang? Nggak usah bayar, semua gratis. Saya tegaskan, di samping dibebaskan memakai ruangan untuk berkarya atau menggelar pementasan, dalam hal tertentu saya akan bantu mereka. Misalnya untuk sekadar honor tukang bersih-bersih, atau biaya kudapan, pokoknya saya bantu sesuai kemampuan keuangan TB. Untuk itu, para seniman baik kontemporer maupun tradis- ional, saya harap sejak awal sudah mengajukan pro- posal pementasan. TB kan milik masyarakat, tentu yang menggunakan bukan sekelompok manusia. Ma- kanya, proposal yang masuk akan kami bagi-bagi un- tuk menentukan jadwal pemen- tasan. Minimal bisa memenuhi ke- inginan para seniman melakukan pertunjukan, dan tidak lagi terben- tur satu sama lain. Saya jamin, tidak ada istilah anak tiri dan anak emas lagi. Pokoknya asal proposal masuk, saya akan carikan jadwal pementasan. Bukan sekadar gagah- gagahan, bila perlu mari kita buat pergelaran khusus seni kontempo- rer. Sekarang, yang penting mau nggak seniman kontemporer rajin datang ke TB. Apakah gebrakan Anda tersebut sekaligus ikut menyemarakkan Tahun Seni dan Budaya? Saya belum begitu berpikir pro- gram dan prioritas secara khusus untuk Tahun Seni dan Budaya. Bagi saya, tahun 1998 ini justru lebih penting mari bersama- yang sama memikirkan keseimbangan fisik dan batin. Un- tuk apa punya nilai kreativitas seni yang tinggi, kalau hati tetap miskin dan menderita. Ketika orang-orang sibuk bekerja, banyak karya seni lahir, mereka perlu santapan rohani. Atau sebaliknya, orang yang berjiwa beringas, galak dan suka memeras, perlu diarahkan untuk berkesenian. Seni akan memberi kelembutan dan menjauhkan anak muda dari hal-hal yang negatif. Un- tuk itu, TB sudah mulai memikirkan bagaimana mem- bantu anak-anak muda agar tertarik menekuni dunia seni. Ada terbersit kabar bahwa TB sebentar lagi akan punya "Warung Budaya". Bisa dijelaskan lebih jauh? Ya, benar. Kami sudah rapat bersama Dinas Kebu- dayaan, termasuk Kodya Denpasar yang memberi dukungan penuh. Dengan melibatkan seniman dari berbagai kalangan, sudah disepakati membentuk "Warung Budaya". Jadi, di TB nanti disediakan ruang- an khusus tempat seniman berembuk, diskusi, latihan, atau apa saja menyangkut aktivitas seniman. Saya harap, wadah itu dapat melahirkan kesemarakan kes- enian, seniman makin bergairah bekerja. Sekarang, lagi giliran saya menantang, apakah seniman-seniman muda mau datang ke TB? Saya harap dari tingkat SD sampai yang sudah mapan bisa berkumpul di "Warung Budaya" ini. Lakukan yang terbaik untuk Bali. Untuk pementasan, kalau sudah ada hasil rapat di "Warung Budaya", saya akan sediakan tempat yang bagus. Jan- gan khawatir, mari bekerja bersama-sama, karyawan TB juga siap membantu. Apakah Anda akan mengerahkan karyawan untuk hal-hal tertentu, seperti membantu seniman yang akan pentas? Kenapa tidak? Karyawan TB adalah abdi negara, dan harus membantu masyarakat. TB punya karyawan 130-an orang. Kalau hanya untuk menyelesaikan uru- san administrasi, 35 orang saja sudah cukup. Kalau memang perlu bantuan, sebisanya saya akan perintah- kan pegawai untuk terlibat sesuai kemampuan. Seka- dar untuk diketahui, karyawan TB tiap hari harus bek- erja di lapangan. Gong di ruangan itu harus berbunyi tiap pagi, seluruh halaman dibersihkan, ruangan yang ada harus dirawat, dan tidak ada yang ke kantor han- ya duduk di kursi. Saya tegaskan, kalau mau jadi karyawan TB hanya duduk di kursi, silakan pindah ke tempat yang lain. Anda tampak bersikap tegas memimpin TB, bagai- mana dengan sistem kerja di TB? Sederhana saja, tiap kritikan yang masuk saya tam- pung dan jadikan bahan evaluasi. Bagi saya, kritikan dari masyarakat menandakan mereka mencintai TB. Coba kalau tidak mencintai TB, seperti orang luar yang hidup di Bali, mana mungkin mau meluangkan waktunya un- tuk mengritik TB dan susah-susah nulis di koran. Saya benar-benar berterima kasih pada Bali Post, yang sempat memuat pandangan masyarakat tentang TB. Semua kri- tikan di koran itu sudah saya kliping, dan tiap rapat saya pakai acuan menegur anak buah. Coba kalau TB men- gadakan jajak pendapat, mencari masukan, berapa dana yang harus disediakan. Bali Post malah tidak minta apa- apa, ini kan artinya saya beruntung. Lalu Lintas Ide di Taman Budaya KENDATI Bali dijuluki Pulau Seni Budaya, ternyata tak mudah menggiring seni kontemporer ke Taman Bu- daya Denpasar (TBD). Banyak sebab bisa dilontarkan. Misalnya, masyarakat Bali dinilai terlalu fanatik pada seni tradisi mereka, sehingga ruang gerak seni modern pun menjadi sangat sempit dan tertatih-tatih. Akibatnya, sulit mencari kelompok seni modern yang bertahan lama dalam gerusan zaman. Sebab lain misalnya, seniman kon- temporer selalu kesulitan dana, tak punya maesenas seni. Fanatisme pada seni tradisi membuat pendukung seni kontemporer pun sangat sedikit. Tak mengherankan, jika ada pementasan seni pertunjukan modern di TBD, pe- nontonnya pasti segelintir. Syukur, media massa mem- beri perhatian lebih pada seni kontemporer, sehingga ge- manya justru bisa lebih luas dibanding seni tradisi. Ada ratusan kali pertunjukan drama gong, namun tak per- nah menjadi berita, apalagi mendapat perhatian dari kri- tikus seni. Tapi sekali Nyoman Irawan menggelar Cak Seni Rupa, justru mendapat liputan luas dan beragam. Maka menghadirkan seni pertunjukan kontemporer di TBD, tetap merupakan pekerjaan tak mudah. Pada awal 80-an, ketika Taman Budaya di Abiankapas itu masih terasa anyar sudah muncul dugaan-dugaan ten- tang apakah TBD bisa seperti TIM di Jakarta? Banyak orang tak yakin akan hal itu, karena gaya berkesenian orang Bali yang homogen beda dengan gaya orang-orang Jakarta yang kosmopolitan. Ketika itu aneka bentuk ke- senian ditumpahkan ke TBD, mulai drama gong, arja, sampai musik pop dan dangdut. Musik dangdut mendatangkan penonton berlimpah, namun orang kemudian sadar, untuk yang semacam itu tak cocok buat TBD. Penonton yang berjubel merusak pagar-pagar bangunan TBD. Maka jadilah TBD hanya ramai ketika pesta kesenian Bali di pertengah tahun ber- langsung setelah itu sepi, paling hanya digelar pameran lukisan. Jika kemudian ada tantangan dari TBD bagi seniman kontemporer untuk mengisi acara ini sebenarnya bukan tantangan pertama. Dulu pun hal itu pernah dilakukan, tapi hasilnya belum sesuai harapan. Sebab, tantangan itu hanya bersifat improvisasi. Jika sekarang keinginan memanfaatkan TBD untuk secara teratur menggelar per- tunjukan seni modern tetap merupakan tantangan im- provisasi, niscaya hasilnya tetap saja di luar harapan. Para pengelola taman budaya pasti paham betul, kegi- atan kesenian di tempat itu tak mungkin lancar dan mu- lus tanpa kalender kegiatan. Jika ide memanfaatkan taman budaya sebagai kegiatan seni modern muncul saat ini, tentu tak bisa dilaksanakan saat ini juga, segalanya butuh perencanaan. Di Bali ada cukup banyak sanggar seni kontemporer. Tapi hampir tak ada yang secara teratur berproduksi se- lama lima tahun. Sanggar-sanggar semacam ini tak bisa dimulai berproduksi mendadak. Jika tantangan TBD muncul sekarang, mereka butuh waktu berbulan-bulan untuk mempersiapkan satu nomor pertunjukan. Artin- ya, jika ide atau tantangan memanfaatkan TBD buat sen- iman kontemporer muncul sekarang, hasilnya paling ce- pat baru bisa dilihat tahun depan. Memang, bisa saja dige lar nomor dadakan, namun begitu dipertunjukkan pasti terkesan asal ada, tergesa-gesa. Maklum, memang begit- ulah ciri produksi seni pesanan yang memanfaatkan situ- asi dan kondisi. Di sinilah bedanya dengan seni tradisi Bali. Jika TBD punya rencana dadakan menggelar seni tradisi, dalam tempo dua pekan bisa melakukannya. Yang digelar pun seni pertunjukan bagus dari sekeha yang hebat, karena seni tradisi digeluti sehari-hari, puluhan tahun, tanpa henti. Begitulah persoalannya. Seni kontemporer di Bali tak pernah siap dengan tangkas dan sigap dalam tempo se singkat-singkat memanfaatkan sebuah momentum. Mereka tak siap karena memang tak pernah memper- siapkan diri. Sulit sekali di Bali mencari seorang seniman yang menyerahkan hidupnya untuk seni kontemporer. Di Bali sungguh tak mudah mencari seorang yang betul- betul se-niman kontemporer. Karena itu jika seniman- seniman modern menyambut tantangan TBD untuk seg era berproduksi, hasilnya pasti bolong-bolong" di sana- sini. ●Pewawancara: Suentra/Gus Martin kontemporer. Masyarakat pendukung seni modern ini bisa dimulai dari sekolah-sekolah dan perguruan tinggi. Ham- pir mustahil memulainya dari banjar-banjar, kendati mereka sudah tergabung dalam sekeha teruna-teruni, yang anggotanya juga anak-anak sekolah dan mahasiswa. Tapi begitu mereka membawa nama banjar, mereka lang- sung lebih suka menghidupkan seni tradisi dibanding seni modern. Maka tidak mengherankan, jika lomba balegan- jur antarkarang taruna pasti sukses besar, menyedot per- hatian luas, dibanding memanfaatkan mereka untuk lom- ba drama modern misalnya. Jika masyarakat pendukung seni modern sudah mu- lai tumbuh di sekolah dan kampus, kita harap mereka akan menularkannya perlahan-lahan ke banjar-banjar, sehingga anggota karang taruna yang biasanya mena- buh gamelan untuk mengiringi Oleg Tamulilingan, mau me-ngolah kreativitas membuat garapan ilustrasi musik untuk drama modern. Kendati menjadikan taman budaya di Bali sebagai tem- pat kegiatan seni modern butuh proses cukup lama, bu- kan berarti kegaitan seni budaya modern ditiadakan sama sekali. Sejauh ini, yang kurang dilaksanakan di TBD ad- alah memanfaatkan tempat itu sebagai lalu lintas ide di antara seniman dan budayawan. Lalu lintas ide bisa di- laksanakan tanpa memerlukan persiapan berat dan lama seperti membuat garapan pertunjukan drama mo-dern. Diskusi seni budaya dengan topik dan arahan jelas bisa dilaksanakan kapan saja dengan biaya tak terlampau be- sar. BEBERAPA tahun lalu di India, ketika Par- tai Kongres kehilangan tokoh andalannya, Rajiv Gandhi akibat pem- bunuhan yang ko-non dilakukan seorang ang- gota kelompok militan -muncul gagasan un- tuk menampilkan Sonia Gandhi, isterinya, ke panggung politik prak- tis. Namun gagas-an itu berakhir dengan penola- kan sang janda kelahi- ran Italia tersebut, sem- bari menyatakan dirin- ya tak punya minat un- tuk terlibat dalam poli- tik secara langsung. It- ulah sebabnya, usulan untuk me-mimpin Par- tai Kongres pun ditolak Sonia mentah-mentah. Tampaknya dalam perkembangan pasca Rajiv Gandhi, Partai Kongres bernasib tak mujur. Di bawah kepemimpinan Narashima Rao, partai itu memang masih bisa menggapai kekuasaan, tetapi akhirnya harus menyerah juga terhadap ke- perkasaan kelompok Hindu fundamentalis, Bharatiya Janata. Walaupun akhirnya pemerintah- an kelompok Hindu fundamentalis ini harus mun- dur karena ketiadaan dukungan, pemerintah yang menggantikannya juga tidak memiliki kekuatan cukup. Aliansi tengah-kiri dengan dukungan sete- ngah hati Partai Kongres hanya sempat memerin- tah beberapa bulan. Gabungan partai-partai kecil ini akhirnya rontok setelah Kongres menarik du- kungannya. Sonia Gandhi (kanan) Dalam kemelut yang kemudian muncul, ambisi partai warisan Pandit Jawahrlal Nehru tersebut untuk kembali ke tampuk pemerintahan juga tak bisa terwujud. Dukungan suara dalam parlemen tak mencukupi untuk membentuk sebuah kabinet. Cela- kanya lagi, sementara itu salah seorang tokohnya, Narashima Rao sendiri, harus bejuang keras mene- pis tuduhan korupsi di pengadilan. Dengan demikian, Partai Kongres tidak saja dibelit krisis kekuasaan dan peranan, yang sela- ma ini selalu dibangga-banggakan, tetapi juga di- lilit krisis kepemimpinan. Dalam keadaan se- perti itulah akhirnya para tokoh partai ini ingat kembali kepada janda mendiang Rajiv Gandhi. Kali ini, permintaan para tokoh mendapat jawa- ban manis. Sonia Gandhi bersedia turun gelang- gang dan ikut bermain politik di India. Sebagai bukti nyatanya, tak tanggung-tanggung lagi, wa- nita keibuan itu langsung berkampanye dan menggebrak kota Sriperumbudur, tempat sua- minya menemui ajal akibat ulah seorang pem- bom bunuh diri 21 Mei 1991. Selama ini, Sonia sebenarnya tak memiliki cata- tan politik cukup menonjol. Dia amat jarang mun- cul di depan publik dalam rangka kegiatan politik. Kalau toh dia muncul di hadapan khalayak ramai, lebih banyak dalam upacara seremonial kenegaraan atau menyertai suaminya dalam sebuah kegiatan partai. Namun oleh banyak orang, wanita ini diang- gap memiliki peran menentukan di balik tirai kekua- saan Partai Kongres. Bahkan pada awal-awalnya, dia menentang keras niat suaminya memasuki du- nia politik di negaranya. Dia lebih senang berkeci- mpung dalam kegiatan sosial. BPM/afp lewat bang kemampuan dan penyaringan sistem kaderisasi yang baik. Barangkali, Kong- res ingin menjadikan So- nia, yang janda mantan tokoh utama partai, se- bagai vote-getter alias penjaring suara. Sebagai istri seorang Rajiv Gan- dhi dia tentu memiliki pengaruh ku-at dalam masyarakat, dan mela- lui pengaruhnya itu dia diharapkan dapat me- narik dukung-an rakyat India seba-nyak mu- ngkin. Memang bukannya tak mungkin apabila se- bagai istri seorang tokoh partai dia juga memiliki informasi cukup dan kemampuan dalam bidang politik. Melalui kombinasi karisma dan ke- mampuan warisan sang suami, warga Kongres ber- harap memperoleh seorang pemimpin yang bisa di- andalkan, seperti halnya Rajiv Gandhi sendiri. Tetapi naga-naganya, kegiatan politik Sonia masih harus menghadapi upaya pembatasan, ha- nya berkampanye untuk Partai Kongres, bukan un- tuk mencalonkan diri dalam kontes memperebut- kan kursi di parlemen. Pembatasan itu datang dari seorang tokoh Partai Rakyat Nasional bernama La- loo Prasad Yadav. Menurutnya, wanita kelahiran Italia itu juga tidak boleh mencalonkan diri sebagai perdana menteri. Tokoh partai yang rencananya akan berjuang bahu-membahu dengan Partai Kongres dalam pemi- lu 16 Februari s.d. 7 Maret mendatang itu memang tidak mengemukakan alasan yang jelas dan terinci. Dia hanya sekadar mengusulkan gagasan. Namun kalau kita kembali kepada budaya politik yang ada, kita bisa meraba alasan-alasan yang melandasi gagasan Laloo Prasad Yadav tersebut. Tampak-nya, dia merasa ngeri terhadap pengaruh karisma warisan Sonia, sehingga dia khawatir jangan-ja-ngan Partai Kongres yang dijadikan sekutu itu akan me- menangi pemilu dengan mayoritas solid. Kalau itu yang terjadi, dukungannya tak akan berarti lagi, dan dengan demikian harapan untuk ikut menikmati kursi menjadi amat kecil. Dari situ menjadi jelas bahwa sikap mengan- dalkan karisma dan hubungan kerabat tidak ha- nya terdapat dalam tubuh Partai Kongres saja, tetapi juga pada partai yang lain. Kalau kita lihat lebih luas lagi, sikap semacam itu tidak hanya kedapatan di India, tetapi juga di Pakistan, Bang- ladesh dan Sri Langka. Di Pakistan kita pernah bertemu dengan seorang perdana mentari berna- ma Benazir Bhutto. Di Bangladesh, perdana men- teri saat ini adalah anak kandung perdana men- teri Mujibur Rahman. Di Sri Langka perdana menteri saat ini juga putri mantan seorang par- dana menteri. Dalam kaitan inilah kita bisa memahami apabi- la ada sebagian kecil rakyat Indonesia mengusul- kan Megawati yang putri sulung mendiang Presi- den Soekarno, sebagai calon presiden mendatang Demikian juga, kita bisa memahami apabila sebagi- an masyarakat yang lain menonjolkan Ny. Siti Har- diyanti Rukmana, yang putri sulung Presiden Soe- harto, sebagai calon wapres. Bangsa ketimuran memang masih lebih mengandalkan pada karisma dan perkerabatan ketimbang kemampuan atau kualitas atas dasar penyaringan lewat sistem yang Tetapi mengapa Partai Kongres akhirnya mende- saknya juga? Walaupun India telah mengembangkan iklim demokratis secara konsekuen, walaupun den- gan bayaran cukup mahal, tampaknya mereka be- baik. lum bisa meninggalkan model kepemimpinan lama. Karisma dan asal-usul tokoh lebih menonjol ketim- Cara Malaysia Bangun Bandara Kasubmahardi W. Megah dan Mampu Gelar Balap Mobil KRISIS moneter boleh saja menghambat bany- ak proyek, tetapi megaproyek yang satu ini harus tetap berjalan. Tak ada tawar-menawar lagi. Masalahnya, ada sejumlah muatan dalam mega- proyek yang bernama Bandara Internasional Kuala Lumpur alias Kuala Lumpur International Airport (KLIA). Lebih dari itu, bandara yang satu ini juga meren- canakan menjadi tuan rumah untuk putaran perta- ma Kejuaraan Grand Prix Formula Satu tahun 1999 nanti. Hadiah yang disediakan cukup adu- hai. Tak kurang dari 300 juta ringgit, atau seki- tar 75 juta dolar AS. Namun kalau yang satu ini tak disebut, belumlah afdol. Sebuah kompleks Di tengah krisis yang melanda Asia ini, terma- pertokoan duty free pun bakal dibangun di ban- suk negara jiran Malaysia, kata megaproyek sudah gunan terminal utama. Salah satu di antaranya, turun harga. Kalau dulu bikin bangga, dengan kata menurut rencana, bakal dioperasikan oleh depart- lain mengangkat derajat nama bangsa, kini justru ment store Harrods yang sudah kondang itu. Teta- bikin gerah bin geram. Pasalnya, banyak orang ber- pi yang satu ini masih dalam proses perundin- pikir, megaproyek membuat rakyat kocar-kacir ak- gan. Khairuddin mengakui, dengan nilai tukar ibat menyedot dana dan devisa, tanpa jelas man- seperti sekarang ini, sulit menarik masuk toko faatnya bagi rakyat. Tambahan lagi, belakangan ini asing. banyak megaproyek pemerintah di sejumlah nega- ra berkembang tiba-tiba menjadi milik swasta pada- hal biayanya datang dari dana pinjaman lembaga keuangan internasional. Tetapi kalau pemerintah Malaysia melanjutkan megaproyek bernama KLIA tersebut bisa dipaha- mi, artinya cukup alasan. Proyek itu kini sudah mendekati rampung, diperkirakan sudah mencapai 75%. Itu artinya sudah telanjur banyak biaya diser- ap. Rencananya, KLIA di Sepang ini, sekitar 50 km sebelah selatan Kuala Lumpur, akan mulai berop- erasi triwulan pertama tahun ini. Alasan lain ber- kaitan dengan kondisi bandara lama di Subang, Sultan Abdul Aziz Shah Airport, yang tak memenu- hi lagi untuk lalu lintas udara di kawasan Asia-Pas- ifik. Catatan tahun 1996 menunjukkan bandara Subang hanya memiliki kapasitas melayani penum- pang sejumlah 11,4 juta orang, jauh di bawah kapa- sitas KLIA yang ditargetkan mencapai 25 juta. Dalam operasi fase pertamanya, KLIA sudah men- targetkan angkutan barang sebesar 1 juta ton per tahun. Oleh banyak orang, KLIA dinilai sebagai sumbu atau poros bagi rancangan Malaysia memodernisasi- kan wilayah luar kota. Tak jauh dari bandara ber- gengsi itu, bakal dibangun sebuah Multimedia Su- per Corridor versi lokal, untuk apa yang di Amerika disebut Silicon Valley. Di sampingnya, akan mun- cul sebuah kawasan pemerintahan atau adminis- tratif, tempat kantor-kantor pemerintah bertengger. Kawasan ini punya nama mentereng Putrajaya. Melihat hebatnya rancangan tersebut, bisa di- mengerti apabila dengan bangganya Meggy Stew- ard, eksekutif hubungan masyarakat KLIA, men- gatakan, "Bayangkan saja, betapa banyak kamar ruangan tersedia bila bandara baru itu dibuka nan- ti." Bandara semarak apa pun tanpa jalan peng- hubung yang memadai tentu takkan ada artinya. Untuk menunjang kesemarakan KLIA, pemerintah Malaysia tak segan-segan mengucurkan dana sebe sar 2 juta ringgit untuk membangun jalan besar, dan 1,2 juta ringgit lainnya untuk memasang jarin- gan rel. Semuanya itu tentu saja guna memberikan Alasan berikutnya berkaitan dengan harga fasilitas jalan yang nyaman sekaligus hemat wak- diri bangsa dan fasilitas yang tersedia. Khairud- tu. din Ibrahim, Managing Director KLIA menutur- Jika diskusi sebagai perwujudan lalu lintas ide di TBD Jangan Anda terkejut apabila di sebuah kota tak Apakah ini berarti, sebaiknya seni modern diam saja digelar, seyogyanya jangan hanya dimonopoli oleh seni- kan, bandara yang akan segera dioperasikan ini jauh dari bandara itu, yaitu Nilai, telah dibangun menyambut ajakan TBD, dan senimannya berpangku man dan budayawan dari Denpasar atau Badung saja. pu-nya misinya sendiri. Dia bukan sekadar ban- fasilitas-fasilitas pendukung, seperti restoran, per- tangan saja? Tentu saja tidak. Banyak hal bisa dikerja- Seniman dan pekerja seni dari kabupaten lain di Bali harus dara biasa-biasa, tetapi bandara yang punya nilai kantoran, bahkan ada juga pendidikan tinggi. Se- le-bih. Dia dibangun untuk menyaingi, syukur muanya itu dimaksudkan untuk memberikan pel- syukur mengungguli, dua bandara yang kini ayanan bagi para pekerja bandara maupun para sudah punya pamor, yaitu Singapura dan pengguna. Anak pekerja yang sudah memasuki jen- Bangkok. Di sinilah letak kemegaproyekan jang perguruan tinggi tak perlu repot-repot mencari KLIA, bukan hanya soal besarnya dana, tetapi sekolah di tempat yang jauh. Ingin menikmati hari juga dalam hal beratnya misi yang harus diem- libur mereka dengan keluarga, tak perlu susah-sus- ah cari restoran di kota besar seperti Kuala Lum- pur. kan di TBD, sepanjang kegiatan itu mencoba meman- dilibatkan terus menerus secara teratur. Rasanya men- faatkan potensi yang ada. Misalnya, tak usah memaksa- cari puluhan pemikir seni dan penyumbang gagasan dari kan diri membuat nomor-nomor khusus kalau memang Klungkung, Karangasem, Singaraja, Tabanan, Negara, waktu dan dana sangat kepepet. Lakukan saja yang kecil- tidak sulit. kecil dan sederhana, seperti baca puisi atau cerpen secara teratur, gilir di antara anak-anak sekolah menengah, mahasiswa dan sanggar-sanggar. Kegiatan ini relatif menuntut persiapan yang tidak terlalu lama, tidak begi- tu rumit. Sebagai pusat lalu lintas ide inilah yang juga seyog- yanya dilakukan oleh TBD. Dari diskusi dan tukar menukar gagasan bisa diatur siasat untuk memperluas pendukung seni kontemporer. Karena namanya lalu lin- tas, arusnya harus lancar, jangan macet. Misalnya, kegi- atan diskusi harus dilaksanakan terus menerus, teratur, terencana, dan terarah. Kegiatan ini juga harus dija-min kebebasannya untuk bisa menghasilkan kreativitas dan inovasi. Kegiatan sederhana ini bisa memperluas masyarakat pendukung seni kontemporer secara perlahan-lahan na- mun pasti. Di Bali seni tradisi tak pernah kehilangan pen- dukungnya. Yang tinggal digerakkan adalah, bagai-mana agar masyarakat pendukung itu, para penonton, mau membayar seni tradisi mereka, tak selalu gratis. Masyarakat pendukung seni tradisi di Bali sudah jelas sosok, visi, dan jumlahnya. Tak demikian dengan seni lender kerjanya. Kita yakin TBD pasti sudah memikirkan dan menga- rahkan diri sebagai pusat lalu lintas ide, dengan mema- sukkan kegiatan-kegiatan diskusi seni budaya dalam ka- Aryantha Soethama ban. Bicara soal fasilitas, KLIA barangkali bakal jadi bandara paling unik di seantero jagat. Dia Dengan fasilitas-fasilitas semacam itu, rasanya bukan saja berstatus sebagai pintu gerbang udara tak terlalu mengada-ada kalau Khairuddin Ibrahim utama di Malaysia, tetapi juga pusat daya peso- berucap, "Di waktu lalu, orang bilang bandara Kua- na pariwisata dan olah raga. Pemerintah negeri la Lumpur terlalu kecil untuk menjadi pusat kegia- jiran itu merencanakan mengubah tanah kosong tan, dan itulah sebabnya kami selalu menjadi no- seluas 10 hektar menjadi sebuah equestrian park mor dua bagi siapa pun. Tetapi semuanya akan atau taman menunggang kuda, taman hiburan, berubah di Sepang." dan sebuah tempat latihan menembak. E-mail Andai saja tiap orang di dunia ini memiliki alamat surat elektronik atau e-mail, ten- tunya fungsi per- angko hanya tinggal sejarah. E-mail atau elek- tronic mail meru- pakan suatu lom- patan teknologi di bidang surat me nyurat, yang mampu menghi langkan jarak, ba tas negara, bah- kan waktu. JAM-JAM sibuk pada hari dan kemacetan lalu li memberikan jalan bagi de telepon, faksimile, dan kom er di Silicon Valley, sement lebih banyak lagi pendu memilih bekerja di rumah di tung teknologi tinggi Ame itu. Menurut para ahli, mela kan perjalanan pergi-pul (nglaju) makin menjadi nyataan di Amerika Serikat Kalifornia kian berubah. mentara teknologi berkemb yang akan kita lihat ada suatu perubahan definisi ka dari suatu lokasi yang t berubah menjadi suatu ja gan," kata John Holey, k Perhimpunan Holey, kelom arsitektur yang bermarka San Francisco. Yang benar-benar mer kenyataan terjadi di da ARSITEKT N Presiden Soeharto t ini sebagai Tahun Sen gan ini, Presiden an bangsa Indonesia sel gunan peninggalan n qsangat berharga ARSITEKTUR tradisi yang merupakan salah wujud hasil seni dan bud sangat banyak dimiliki ba Indonesia. Sebab, bangsa I nesia terdiri atas banyak s sehingga identitas perwuju arsitekturnya juga bera dan masing-masing mem kekhasan. Kondisi geogr demografis dan kebuday masing-masing suku ban merupakan pokok-pokok y sangat menentukan iden perwujudan arsitektur tra ional tersebut. Bangunan tradisional yang merupakan salah dari arsitektur tradisiona Indonesia, adalah perwuju ruang untuk menampung tivitas kehidupan manusia gan pengulangan bentuk generasi ke generasi, der sedikit atau tanpa peruba Identitas perwujudan ars turnya dilatarbelakangi no norma agama, dilandasi kebiasaan setempat, serta wai kondisi dan potensi a lingkungannya. Adanya bangunan tradi al Bali ini, berdasarkan mi gi Hindu, adalah diturun oleh Sang Hyang Widhi (T Yang Maha Esa) melalui ifestasi-Nya-Sang Hy Wismakarma - untuk menyempurnakan tata kel pan manusia. Mem Isyarat Presiden Soeh dalam hal ini sudah sangat Bangsa Indonesia tidak dih kan menghancurkan bangu bangunan peninggalan sej maupun bangunan yang be GEBYA T 12 BERHADIAH BELI T 120 SS MIN dapat HONDA SU Gunakan Peluang Emas Tanggal 10 Januari s/d 10 Fe Segera Hubungi ka KY PT. JL. IMAM OUT LET JI. R BENGK Melayani penjualan, p Kaloka Ardi 2cm Color Rendition Chart
