Tipe: Koran
Tanggal: 1998-01-18
Halaman: 12
Konten
4cm Halaman 18 Bali Post APRESIASI Posisi Sulit Pengarang KONON, fiksi itu merupakan gabungan atau kombinasi dari pengalaman inderawi dengan pengalaman estetis, yang kemudian dirangkai dalam bentuk tulisan. Kalau kita sepakat den- gan pendapat itu, maka yang tetap menjadi kepenasaranan saya seberapa kuatkah pen- galaman inderawi dan pengalaman estetis terse- but dalam mendorong dan membangkitkan kita untuk sampai ke taraf menghasilkan karya? Masalahnya, secara prinsipil harus kita akui, bahwa setiap waktu kita memang selalu men- galami pengalaman inderawi maupun pengala- man estetis. Pokoknya, sepanjang kita masih merasakan kesadaran, baik di kala senggang atau pun sibuk, siang atau pun malam, dan di rumah atau pun di luar rumah, indera kita akan selalu tetap bekerja. Begitu juga naluri-naluri estetis yang ada pada diri kita. Tapi, mengapa ia tak selamanya mampu - atau sempat mem- bangkitkan kita untuk berkarya? Apakah, mis- alnya, karena pengalaman yang terus bertam- bah itu, maka kepekaan kita pun justru cen- derung menjadi tumpul? Bagi setiap pengarang, masalah kreativitas dan produktivitas memang selalu menjadi per- soalan besar. Nurani mereka akan selalu digugat. Makin mandul kita berkarya, gugatan itu pun terasa makin kuat. Pengarang seperti merasa kan sebuah dosa yang berkepanjangan bila ia sudah sekian lama tak lagi menghasilkan karya. Dilema yang pelik ini tak jarang menjadi semacam teka-teki silang yang pertanyaannya hilang sebagian. Artinya, kalau kita ingin me- menuhi semua kotak pada teka-teki silang itu, Oleh Yukie H. Rushdie maka kita pun harus mampu menebak secara tepat pertanyaan yang (kebetulan) tidak terce- tak tadi. Di sini, yang berbicara itu adalah tanggung jawab moral, atau-katakanlah (supaya tidak terlalu pretensius)-tanggung jawab kepenga- rangan. Sebab, yang menjadi obsesi bagi setiap pengarang itu bukanlah sekadar kontinuitas dan produktivitas, tetapi juga stabilitas dari standar kualitas karyanya. Tentu saja, yang diharapkan adalah adanya peningkatan kualitas. Tapi, bisa mencapai kualitas yang "standar" saja, itu sudah mendingan. Yang paling ingin dihindari, adalah degradasi. Artinya, mutu dari karya yang dihasil- kan kemudian ternyata lebih rendah ketimbang yang dilahirkan sebelumnya. Di sinilah sulitnya posisi seorang pengarang. Pada posisi pertama, ia berkedudukan sebagai individu atau pribadi yang menerima berbagai pengalaman dari sekelilingnya. Pengalaman yang diterimanya ini menyebabkan posisinya bergeser. Ia bukan lagi sebagai individu yang terpisah dari lingkungannya, melainkan anggo ta penuh dari sebuah lingkungan sebuah masyarakat di mana ia tak sekadar terikat, tapi juga terpanggil. Panggilan (yang lebih bersifat "mistis") inilah yang kemudian menyebabkan posisi seorang pengarang menjadi unik sekali- gus misterius. Ia berkomunikasi dan kemudian beresonansi dengan lingkungan sekelilingnya, tempat di mana pada akhirnya - ia bereaksi. Reaksi (yang dalam hal ini sudah tentu diak- tualisasikan dalam bentuk karya tulis) inilah yang pada gilirannya nanti menyeret sang pen- garang kepada-katakanlah - medan yang tidak keruan". Ia bereaksi berdasarkan nalur- inya sendiri. Sehingga, kalaupun nantinya ter- jadi apa-apa." maka makhluk individu yang mencoba mengikatkan dirinya ke dalam ikatan sosial itu pun justru akan kembali ke posisi indi- vidunya yang semula. Misalnya, ketika seorang pengarang sedang didaulat untuk mempertang gungjawabkan karyanya, ia di satu pihak ditempatkan pada kedudukan yang (seolah-olah) telah menerima "iuran" dari berbagai pihak, se- mentara di pihak yang lain ia dibiarkan dikuliti sampai ke tulang sumsum. Satu hal yang (relatif) kurang disadari oleh seorang pengarang itu, adalah kenyataan bah- wa yang pertama-tama mendorongnya un- tuk berkarya bukanlah "paksaan," melainkan spontanitas". Bukan semata-mata spontanitas yang emosional, tapi spontanitas yang telah ber- simbiosis dengan naluri-naluri estetis. Spontan- itas inilah yang kalau sedang mencapai kli- maksnya justru tak pernah peduli dengan aspek-aspek rasionalitas. Padahal, kalau karya tersebut sudah dilemparkan ke masyarakat, jus- tru aspek rasionalitas inilah yang pertama-tama akan bicara dan dibicarakan. Minggu Pon, 18 Januari 1998. Dra. Retno IG Kusuma: 0901 Seniman tetap Makhluk Sosial realitas selalu diperdebatkan, menjadi pengarang pun memang akan tetap gampang-gampang susah. Mengapa saya mengemukakan tentang nilai? Karena, pengetahuan tentang nilai-nilai inilah yang nantinya justru akan memainkan peran yang sangat dominan, terutama di bidang sas- tra. Kalau belakangan ini banyak orang yang (masih) bingung dan menjadi samar untuk misalnya membedakan mana karya yang "hiburan" dan mana yang (benar-benar) "sastra", maka saya berpendapat bahwa hal itu sebenarn- ya merupakan tugas para pengamat, kritisi, dan pengajar sastra-bukan tanggung jawab si sas- trawan itu sendiri. Itu sekadar contoh kecil saja. Bagi saya, per- masalahan sastra jauh lebih luas dan lebih ru- mit lagi. Bayangan sejumlah nama besar seper- ti Boris Pasternak, Chairil Anwar, atau Amir Hamzah, selalu menimbulkan penasaran. Ken- yataan bahwa karya sastra mampu menimbul- kan gelombang pembicaraan yang meluas, atau bahkan - dinyatakan sebagai bacaan yang terlarang, menyiratkan kesan bahwa sastra memang mengandung magnet yang daya tarikn- ya bersifat gaib. Dari kenyataan-kenyataan sep- erti itu, bisa dipastikan bahwa sastra bukanlah sekadar deretan kalimat yang disambung-sam- bung untuk menjadi cerita, juga tidak sekadar mengandung amanat "hiburan atau kenikma- tan" semata... Penulis adalah cerpenis dan eseis, tinggal di Maka, selama dialektika seperti itu - yakni nilai-nilai relatif-estetis dan nilai-nilai normatif- Denpasar, Bali. DILEMA seniman (baca: pen- garang) harus mempunyai aktivi- tas dan produktivitas yang tinggi, mendorong pengarang tersebutnye- leneh, hidup menyendiri" dan ego yang tinggi. Dengan ke-nyelene han-nya itu, kadang-kadang seor- ang seniman dianggap "gila" oleh masyarakat sekitar, karena ia menulis di luar kenyataan dirinya. Dalam pandangan Dra. Retno IG Kusuma, secara psikologi penga- rang mempunyai kelebihan kare- na ia bisa merambah di luar dunia kenyataan. Mereka bebas mengek- spresikan diri, kamauan, cita-cit- anya dalam sebuah karya. Akan tetapi kadang-kadang pengarang tidak mempunyai kontrol, terlihat lupa diri karena terlalu obsesif. Pengarang menulis tidak harus terikat pada kenyataan. Mereka be bas mengekspresikan kesenima- nannya. Justru seniman tidak ak- tif kalau ia hanya melihat di seke- lilingnya saja," ujar psikolog yang sehari-hari bertugas di Bagian Re- habilitasi Medik RSUP Sanglah ini. Jadi, kata ibu dua anak ini, ak- tivitas para seniman memang harus tinggi. "Wajar-wajar saja kalau pengarang menulis di luar dari kenyataan dirinya, terutama Melongok Pameran SSLD untuk cerita nonfiksi," katanya. Menyinggung seniman yang suka hidup menyendiri, Retno me- lihat hal itu sebagai privacy pen- garang sendiri. Mungkin karena pengarangnya sendiri sudah mera- sa ngetop, sehingga tidak mau ter- ganggu privacynya. Ia akan men- gira orang akan mengganggu ke- bebasan hidupnya. Mereka tidak mau berpijak pada kenyataan se- hingga lupa dengan kehidupan so- sial. Bagaimana pun, kata dia, sen- iman tetap makhluk sosial. "Seniman okelah seniman, teta- pi kalau terlalu total tidak akan bijaksana. Jadi, terlalu obsesif. Ka- lau terlalu obsesif susah mengata- kan bahwa pengarang tersebut gila. Mungkin ia tidak merasakan- nya karena toh ia bisa menikmati hidupnya. Karena yang diharap- kan adalah hasil karya pengarang, bukan cara hidupnya," katanya seraya menambahkan, kalau cara hidup yang menjauhkan diri dari kehidupan sosial sementara ia mengharap dirinya diperhatikan oleh orang lain, bukan eksis na- manya. Ia menganjurkan dalam mengarang hendaknya demi ke- pentingan masyarakat. (goa) Persaingan Pengarang dan Karyanya Antara Kebebasan dan Keterikatan Berekspresi Pengarang dan karyanya masing-masing berdiri sendi- ri-sendiri. Bahkan keduanya memiliki tingkat persaingan yang ketat. Pengarang dan karyanya sama-sama punya potensi merebut perhatian masyarakat sastra. Bisa saja, dibanding kualitas karyanya, ternyata pengarangnya jauh lebih terkenal, misalnya kare- na obsesi atau pemikiran- pemikirannya yang kontro- versial. Atau, bisa sebaliknya, karya sastranya bikin heboh, tapi tak ada yang kenal sosok atau kehidupan pengarang. Ada kredo berkata: ketika puisi tercipta, penyairnya mati. Artinya, tak mesti ada hubungan antara pengarang dan karyanya. Ketika lahir, karya sastra bebas bergerak, menjadi dirinya sendiri dan bebas menentukan dirinya sendiri, juga bebas ditentukan penikmatnya. Artinya lagi, karya sastra tak melulu harus dihubungkan dengan latar belakang pengarang atau proses pembuatannya. Namun, apakah karya sas- tra bisa tercipta tanpa sebuah latar belakang? Apakah se- bagai teks, sebuah karya sas- tra tak penting memiliki kon- teks? Soalnya, seorang penga- rang tentu saja selalu melin- tas di atas setiap inci jalan ke- hidupannya, juga selalu menghayati setiap detik ger- ak kehidupannya. Sebab dari atas jalan dan gerak hidup it- ulah ia bisa mendapat dan meramu gagasan demi se- buah karya sastra. Dalam buku berjudul "Ke- tika Jurnalisme Dibungkam Sastra harus Bicara", Seno Gumira Ajidarma menulis- kan semacam latar belakang atau semacam penuturan proses kreatif tentang kump- ulan-kumpulan cerpennya, salah satunya tentang buku kumpulan cerpen Saksi Mata. Lahirnya Saksi Mata, tulisn- ya, disebabkan karena ia pu- nya obsesi tingkat tinggi ter- hadap peristiwa-peristiwa yang terjadi di Timor Timur. Sementara sebagai wartawan ia telah mendapat ancaman" serius ketika harus menyiar- kannya sebagai karya jurnal- istik. Atau beberapa tahun lalu pernah terbit beberapa buku yang memuat kumpulan- kumpulan proses kreatif dari sekian banyak pengarang di Indonesia. Karena memapar- kan proses kreatif, tentu mere- ka harus beberapa kali mem- beri gambaran tentang bagaimana latar belakang la- hirnya karya-karya yang ten- tu saja sudah pernah disiar- kan lewat media massa atau telah terkumpul dalam se- buah buku. Itu menunjukkan lahirn- ya sebuah karya sastra tak bisa dipisahkan dari sejarah Cerpen AS Gandhi Menjelang Matahari atau realitas yang dilewati pengarangnya. Setiap karya sastra lahir dari sebuah latar belakang dan memiliki kon- teks. Keduanya punya hubun- gan, tapi, meski absolut dan mutlak, sesungguhnya hubungan itu tak menjadi jaminan untuk menentukan sebuah karya sastra dianggap baik atau buruk. Kisah hidup, proses kreatif, pengalaman, obsesi, harapan, mimpi, atau ambisi pengarangnya mu- ngkin asyik sebagai gosip, tapi tak bisa dijadikan faktor yang ikut menentukan kualitas se buah tulisan. Dalam kasus dua jenis buku Seno Gumira Ajidarma, yakni yang memuat penjela- san proses kreatif (mewakili sosok pengarangnya) dan kumpulan cerpennya (me- wakili karyanya), sesunggu- hnya terjadi persaingan ket- at yang tentu di antara kedu- anya bisa saling mengalah- kan atau bisa saja sama-sama kalah atau sama-sama menang. Penikmat sastra bisa amat puas membaca han- ya kumpulan cerpennya tan- pa harus tahu latar belakang pemuatannya. Bisa juga han- ya perlu membaca proses kre- atifnya, mungkin karena isi pikiran pengarangnya, dan merasa mendapat penge- tahuan tanpa perlu lagi mem- baca kumpulan cerpennya. Atau, jika keduanya dianggap Ilustrasi N.wirata Terbenam menarik, bisa saja diburu ked- ua-duanya. Akhirnya, masalahnya, bukan mana yang penting dan mana yang harus menang, pengarang atau karyanya. Bukan pula hubungan di ant- ara keduanya. Melainkan, apa- kah seorang pengarang bisa setia dan jujur pada jalan se- jarah tempat di mana ia lewat dan bergerak, dan selanjutnya juga bisa setia dan jujur pada realitas yang telah dilewatin- ya itu. KESUNGGUHAN dan kerja keras yang ditoreh se- lama dua tahun oleh para pengabdi seni lukis akhirn- ya membuahkan hasil. Ha- sil yang dimaksudkan itu tak lain adalah sebuah pameran yang mengetengahkan karya-karya beraneka corak di Museum Sidik Jari, Tan- jungbungkak, Denpasar. Mereka yang kini tengah ber- Bali Post/018 GADIS BALI-Salah satu lukisan karya siswa SSLD, A.A. Anom Giri bertajuk "Gadis Bali" yang kini tengah di- pamerkan di Museum Sidik Jari Denpasar. SEPERTI biasanya, setiap Banyak anak memang mere- pagi sesudah sembahyang subuh potkan apalagi kalau mempun- dia tidak pernah tidur lagi. Sete- yai lima orang anak laki-laki yang lah membersihkan halaman ru- mempunyai perbedaan umur mah dan menghitung kuntum yang dekat. Mereka selalu ribut, mawar yang mekar dia selalu bertengkar dan berkelahi, entah menunggu anak-anak sekolah sudah berapa kali jendela kaca lewat di depan rumahnya. di depan rumahnya diganti. Dibandingkannya besar anak- anak itu dengan ketiga belas or- ang cucunya dan kalau ada anak sekolah yang mengucapkan se- lamat pagi kepadanya dibagikan- nya gula-gula yang selalu diper- siapkan sebelumnya. Pagi di bu- lan Januari ini sudah seminggu sepi, anak sekolah semuanya ber- libur puasa dan karena itu sudah tiga hari dia tidak pernah ke luar rumah. Hawa pagi terasa'tera- mat dingin. Dipandangnya suaminya yang masih tertidur pulas, lelaki yang menjadi teman hidupnya selama lima puluh tahun itu sudah tujuh puluh tahun umurn- ya. Biasanya setiap pagi suamin- ya berolah raga pagi berjalan kaki mengelilingi komplek peru- mahan tetapi akhir-akhir ini kesehatannya menurun tajam, batuk kronisnya kambuh kembali. Anak perempuan selalu mengun- dang masalah terutama menje- lang mereka dewasa, selain me- merlukan banyak modal untuk membuat mereka cantik mere- ka selalu merasa benar sendiri, susah diatur dan memilih jodoh sendiri. Tahun yang lalu seluruh ke- luarganya berkumpul menjadi- kan suasana rumah hingar bin- gar. Selusin gelas dan piring pecah dan tembok rumah men- jadi kotor oleh bekas tangan dan coretan alat tulis. Cucu-cucunya menjerit, menangis, kencing di karpet kesayangannya dan main bola di dalam rumah. Dia tidak pernah berhenti un- tuk berteriak melarang dan set- iap teriakannya selalu dibalas dengan cibiran dan uluran lidah. Amat menyesal tetapi itulah yang dirindukannya sekarang. Suaminya batuk lagi dan ter- bangun, duduk lalu menuju ru- ang makan di mana biasanya secangkir kopi sudah siap untuk diminum. - Mana kopinya! - Suminya berseru. Di atas meja kecil di mana ter- dapat sebuah potret keluarga tergeletak selembar surat dari anaknya yang tertua. Isinya per- mintaan maaf karena tidak bisa datang tepat pada hari Lebaran karena ada keperluan-keperluan yang mendesak. Empat orang cucunya memang sedang libur tetapi sekali ini liburan mereka diisi oleh kesibukan mereka mas- ing-masing oleh karena itu pula mereka tidak dapat datang ber- tertawa. libur. Di bawah surat itu ada sebuah pos wesel dari anaknya yang ked- ua. Dia dapat maklum akan ala- san yang dibuat anaknya untuk tidak dapat datang berkunjung karena dia tahu betul keadaan keuangan anaknya tidak memu- ngkinkan untuk membiayai ong- kos perjalanan bersama istri dan ketiga orang cucunya. Sudah seminggu pos wesel itu tergele- tak, dia merasa malas untuk menguangkannya. Anaknya tujuh orang, lima laki-laki dan dua perempuan tinggal satu yang belum berke- luarga itu pun tidak lagi tinggal di rumahnya. - Lho ini bulan puasa, kau sudah minum tadi waktu sahur Dia menjawab sambil mena- han tawa. Suaminya memegang kepala, menggaruk-garuk dan - Rupanya aku sudah mulai pikun. - Kau sudah tujuh puluh tahun. - Tetangga kita lebih tua dari aku masih baik daya atnya. - Kau tidak pernah lagi bero- lah raga pagi. - Kakiku tidak kuat lagi menanjak. - Diurutnya kaki itu, terasa sudah tinggal tulang-tu- lang tanpa daging. -Sudahlah, kau memang ku- rus. - Desisnya. - Biar kurus begini aku belum pernah merasakan masuk ru- mah sakit. Dipejamkannya matanya. Rumah sakit adalah suatu hal pameran hingga 15 Februari itu berasal dari Sanggar Seni Lukis Denpasar (SSLD), dos- en PSSRD Unud dan STSI Denpasar. Hal menarik bisa dipetik dari ajang itu adalah dita- mpilkannya karya-karya sen- iman pemula yang dikawin- kan dengan pelukis yang boleh dibilang profesional. Seniman pemula SSLD ang- gotanya mulai dari anak- anak hingga pensiunan yang usianya telah menyentuh 70 tahun. Sebagai perimbanga- nnya ditampilkan karya se- niornya seperti I Nyoman Sukaya, I Gusti Ketut Ka- simiarta, I Dewa Made Pas- tika, Wayan Suarta, Tjok Mas Astiti, Ketut Murdana, Bendi Yudha dan Mertana Mandala. Melongok pameran di Museum Sidik Jari ini tak ubahnya seperti perjalanan sebuah karya seni lukis, mulai dari tahap belajar hing- ga menginjak jenjang pe- lukis matang. Kenapa begi- tu? Di dinding putih Museum Sidik Jari milik I Gusti Ngurah Gede Pemecutan itu berderet karya yang berane- ka gaya dan tema. Jumlah- nya sekitar 80 lukisan. Bagi calon seniman atau yang paling membuatnya takut, bayang-bayang wajah orang tua yang harus terbaring lama menunggu ajal tiba selalu tebay- ang dalam pikirannya. Dia ter- ingat percakapan keponakannya pada waktu salah seorang kakaknya dirawat di rumah sa- kit. - Berapa biayanya bulan ini? - Suara istri keponakannya. - Lima ratus ribu, belum ter- masuk obat dan ongkos dokter. Jawab suaminya. Tanya dokter, masih berapa lama bapak bisa bertahan. - Kita harus berusaha untuk menyembuhkannya. - Sudah tujuh puluh tahun, mana ada harapan. - Istrinya berkata dengan nada kesal. - Saudaraku yang lain tidak ada yang membantu ongkos pen- gobatan. - Suaminya menjawab lesu. - Mereka tidak mampu!-Ben- tak istrinya. - Dia orang tua kita - Suara keponkannya lirih. Ketika dua bulan kemudian kakaknya meninggal semua anak kakaknya menangis, men- jerit memanggil nama bapakn- ya seolah-olah mereka tidak rela untuk ditinggalkan. Munafik, itu menurut perasaannya dan oleh sebab itu dalam setiap doanya dia berharap agar dia tidak mengal- ami hal yang sama. Dia tidak mau menjadi beban anak-anakn- ya. - Berapa jumlah simpanan kita? - Suara suaminya menem- bus keheningan. - Cukup untuk biaya rumah sakit sampai kita mati. - Desisn- ya. Kau melakukan suatu hal yang bijaksana. - Kita tidak perlu merepotkan anak-anak kita dan menyerah kan masa tua dan kematian kita pada belas kasihan mereka. Dihapuskannya air mata yang mengalir di pipinya. - Kau ingat Pak Prawira. Suaminya berkata lagi. -Dia dikirim anak-anaknya ke panti jompo yang katanya sekarang sudah berubah nama. - Panti manula. - Suaminya tertawa - Penampungan manu- sia usia lanjut! - Kau tahu apa sebabnya dia dikirim ke sana. seniman pemula, terutama berupa kanvas dan cat min- anak-anak, dalam karya mereka tersirat suatu kebe- basan berekspresi. Tema- tema yang yang diangkat terasa ringan, berkisar di lingkungan mereka berada. Mereka mulai menggambar dengan pensil di atas kertas, seperti karya I Ketut Ardika dan Surya. Kedua calon sen- iman ini mengangkat ke- hid ikan. Lain lagi karya I Wayan Darmawan yang bertutur "Patung Singa". Mereka ini adalah siswa- siswi SD Cipta Dharma, SD K. Swastiyastu, SD 2 Saras- wati, SD 18 Dangin Puri dan SD Muhammadyah Den- pasar. tuhan "beda" dengan seni- man yang lahir tanpa pendid- ikan formal. akan kaidah-kaidah seni yang yak. Nuansa-nuansa kebe- ada. Namun keterikatan itu basan berekspresi masih jelas justru melahirkan kebe- tampak. Hal ini beralasan basan berekspresi tanpa me- karena dari sekian jumlah lenceng dari bentuk, gaya anggota SSLD, sebagian be- atau corak. Setidaknya bekal sar mengaku hanya untuk pengetahuan yang diperoleh menyalurkan hobi. Sedang- mereka di perguruan tinggi kan keikutsertaan mereka di memberikan sentuhan-sen- SSLD sebagai ajang memu- puk bakat dan pengabdian ter- hadap seni. Karena itulah tema lingkungan masih men- dominasi, seperti pemandan- gan, bunga, penari Bali atau buah-buahan. Karya Indra- yuni berjudul "Pura Pengere- bongan" dan goresan A.A. Anom Giri dengan "Gadis Bali", misalnya, masih ber- cerita tentang alam dan manusia. Begitu juga karya IB Putu Susila yang menga- ngkat tema buah atau Fauzi Medina dengan potret. Se- bagai seorang wanita, A.A. Meliawati tak bisa lepas den- gan bunga. Sertifikat Pemula Sebagai keseriusan pem- binaan yang dilakukan SSLD berintikan empat pengajar dari PSSRD Unud yakni Made Yasana, Ni Made Rinu, Ketut Sedeng dan I Gusti Ketut Menurut salah seorang itu, pada pembukaan pame- pembina SSLD, Drs. I Gusti ran itu diserahkan serti- Ketut Kasimiarta, mendidik fikat tingkat pemula, Dela- anak-anak dalam melukis pan murid yang meneri- tak ubahnya seperti mem- manya adalah Indrayuni, bangkitkan suatu kebebasan Bachrun Fajarno, Legawa, berkreasi. "Paling tidak IB Pt. Susila, IB Kt. Sari mereka bisa mengenal atau Berbeda halnya dengan Buana, A.A. Anom Giri, mengerti bentuk," ujar dos- seniman senior yang telah Fauzia Medina dan A.A. en senior PSSRD Unud ini. matang, seperti Bendi Sagung Meiliawati. Untuk Meningkat ke jenjang Yudha, Murdana, I Dewa memantapkan bakat mere- yang lebih dewasa, anggota Made Pastika, Tjok. Mas As- ka di bidang seni, para SSLD ini adalah kalangan titi atau Sukaya, yang tam- siswa ini perlu menempuh remaja, bahkan ibu rumah paknya telah menguasai pelajaran tingkat lanjutan tangga, karyawan bank dan teknik melukis yang ma- yang memakan waktu dua manula. Buat pelukis pemu- tang. Mereka telah mengua- tahun lagi hingga mencapai la ini media yang dimanfaat- sai ilmu berkesenian yang tahap akhir. • Doflank kan berkarya lebih banyak mantap seolah-olah terikat - Mungkin karena membuat repot anak-anaknya. Benar, dalam usia yang hampir dela- pan puluh tahun selain pikun Pak Prawira sering buang air besar dan kecil di celana. - Lalu, anak-anaknya jijik dan malas untuk mengurusn- ya. Suara suaminya perlahan. -Kata anaknya yang baru pu- lang dari luar negeri mengirim- kan orang berusia lanjut ke pan- ti manula adalah hal yang lum- rah. Dia menahan air mata. - Tapi sudah menjadi tradisi dalam masyarakat kita untuk mengurus orangtuanya sampai pada suatu hari maut menjem- put mereka, seperti kau mengu- rus ayahku selama enam tahun pada waktu ayahku sakit kare- na ketuaannya. -Sudah dua minggu tidak se- orang pun dari lima anak-anak Pak Prawira menengok bapakn- ya padahal tiga di antaranya tinggal satu kota. sekali yang dimakan oleh mere- ka bedua. Setiap pagi selalu ada sisa makanan untuk diberikan ke- pada tukang air, tukang koran dan kalau ada yang enak biasan- ya dia bagikan kepada tetangga. Memasak merupakan salah satu kegemarannya. Dibukanya lemari pendingin. Banyak sekali makanan kesu- kaan cucunya dan itu dipersiap kannya di hari pertama anak- anaknya libur sekolah. Tetapi mengapa tidak seorang dari tiga belas orang cucunya da- tang berlibur. Ditutupnya lemari pendingin itu, dia kembali ke ru- ang duduk di mana suaminya sedang membaca koran pagi. - Bagaimana kalau kita saja yang pergi ke Jakarta? - Dia mem- buka percakapan - Tiga orang anak kita tinggal di sana. - Malas, di sana udaranya panas. Suaminya menjawab sambil meletakkan koran. - Biar saja kalau mereka ingat tentu mereka datang. Kedua orang tua itu saling berpandangan, sama-sama ter- - Benar juga, aku kapok ke tunduk kemudian suasana men- Jakarta. - Dia duduk di depan jadi sedemikian sepi sampai suaminya. Rasanya anak-anak batuk keras-keras suaminya sudah tidak punya waktu buat terdengar seolah-olah memecah kita, yang laki kerja yang perem- kesunyian. Dahulu rumah itu puan kerja kalau mereka datang terasa amat sempit, tujuh orang kelihatannya mereka selalu lelah anaknya harus diatur untuk dan enggan untuk mengantar dapat tidur dengan teratur. Di kita ke mana-mana. setiap kamar ada ranjang sus- un. Buku-buku tergeletak di mana-mana. Sulit sekali untuk membuat rumah itu tetap rapih walaupun kebersihan dan men- gatur letak alat-alat rumah tangga merupakan salah satu kesukaannya. yang sudah tua renta ini. - Pandangan kosong suamin- ya membuat air matanya meni- tik.-Sebuah kartu pos saja sudah bisa menjadi penawar kerindu- an kita. - Dia berkata lagi. - Tapi un- tuk itu pun anak cucu kita mera- sa berat untuk melakukannya. Ruangan itu kembali menja- di hening. Diambilnya benang- benang wol di keranjang, dia mer- ajut kembali untuk membuat baju hangat cucunya yang baru berumur satu tahun. Suaminya datang mendekat. - Apalagi yang sebenarnya kita inginkan? - tan- yanya. Sepotong daging bistik yang empuk yang hanya kita makan dua tiga kerat atau goreng ayam dengan lalap sambal yang kita tatap dengan nafsu besar dan kemudian hanya kita makan dua tiga suap. - Suaminya menerus- kan pembicaraan. - Atau mobil dan rumah baru dengan penyejuk ruangan yang mem- buat kita menggigil dan batuk- batuk? -Kita tidak butuh apa-apa lagi karena badan kita sudah tidak bisa menopang keinginan kita, kita hanya butuh perhatian.-Dia menjawab sambil melanjutkan rajutannya. - Ternyata benar, anak-anak Benar apa yang kau katakan kita tidak selamanya akan men- atau mungkin karena kita sudah jadi milik kita. - Kita hanya men- tua perasaan kita sudah sedemiki gurus dan membesarkan mere- an rapuh sehingga kita menjadi ka setelah itu mereka punya ke- amat mudah tersinggung kalau hidupan sendiri-sendiri yang mendengar anak-anak kita meng- tidak dapat kita atur lagi. gerutu. Itukan kata ahli filsafat. - -Heran, dahulu orang tua kita Diletakkannya benang wol itu Satu per satu anaknya men- selalu menganjurkan kita untuk kembali ke dalam keranjang. inggalkan rumah dan satu per berlibur di rumah nenek-kakek, Sudahlah aku akan memperha- satu kamar tidur diubah ben- di rumah paman dan bibi, pokokn- tikanmu. - Dipeluknya suamin- tuknya. Kini hanya tinggal dua ya kita selalu disuruh untuk erat ya. ruang tidur, ruang tamu, ruang dengan saudara-saudara kita. -Kita akan saling memperha Nyatanya sekarang, di ant- tikan. Suara suaminya keluarga dan ruang makan yang dirasakan terlalu luas. ara saudara mereka sendiri yang menyejukkan hatinya seperti Sudah lama dia tidak tidur ber- sekandung di Jakarta mereka yang dia pernah dengar bebera- sama suaminya, dia tidak tah- sudah jarang sekali saling pa puluh tahun yang lalu. an untuk mendengar suara berkunjung.- Suaminya sendiri. - Kedua orang tua itu tertawa batuk yang terus menerus. Tampak kekesalan di wajahnya. karena pagi itu udara amat cer- Tinggal bertiga dengan seorang Kemajuan yang dicapai kadang- ah. Anak-anak kecil bermain di pembantu yang tidur di kamar kadang mengubah sifat dan bu- lapangan sampai siang hari. Di belakang terasa terlalu sepi. Me- daya manusia. Anak-anak kita siang hari yang terik remaja ber- nonton televisi sampai habis ac- merasa sudah cukup berbakti bila naung berbisik-bisik di teduhnya ara rasanya sudah tidak kuat dia sudah bisa mencukupi kebu- pepohonan sampai sore hari. Di lagi. Akhir-akhir ini rasa men- tuhan orangtuanya, menghargai sore hari orang orang tua duduk gantuk selalu datang lebih awal. sesama manusia hanya diukur menatap matahari yang akan Di meja makan terletak bany- dengan lembaran uang saja. tenggelam. Sebentar lagi kegela- ak piring makanan, sedikit Apalah artinya uang bagi kita pan akan tiba. Minggu Pon, 18 Ja Sebuah Pengar PERJALANAN Boleh jadi apa yang tawarkan oleh timpal-timp di Kalangan Katulam Loloan merupakan sebu tawaran yang bany menawarkan kemungkin akan lahirnya dialog kreat yang diharapkan bermua pada proses kesadaran-per adaran dari diri kita seba pelaku utama kehidupan bumi ini. Tadarus Puisi bagai sebuah kemungkin lain dari beberapa lorong la nya, mungkin akan mem wa kita pada sebuah p cakapan yang terus mener menuju kekhusukan d yang lebih pada pencapa lewat jalan Dzikir. Pendekatan Puisi seba media dialog, tentu bukan sesuatu yang mengada-a Karena lewat karya sas yang telah sampai pada h ikat puisi, tentu akan me berikan pencerahan bagi aku sendiri di dalam mo log kehidupan sehingga mungkinkan akan tercapa ya proses kesadaran yang ih sempurna. Tetapi di b semua itu, memang ditur sebuah keikhlasan diri dalam penyerahan sec utuh, kepada puisi seba puncak pencapaian dia spiritualitas, yang dida oleh estetika kehidupan bagai hamba. Dan bukan bagai raja diraja. Puisi telah mengajar kita untuk semakin san di dalam melakoni setiap isode kehidupan itu sen Seperti yang dilontarkan Penyair Abdul Hadi W Menimang R BERADA di dalam sana Ramadhan, di bay siraman cahaya Bulan S yang di tengah-tengah terdapat Malam Kemulia Karena pada malam itu (yakni malam ke tujuh las), selaku Sang Maha H gatur Urusan, memerin kan kepada para malaika bawah pimpinan Mala Jibril. Menuruni tangga git yang pintu-pintunya bagai tempat menabur dz dan doa-doa telah terbuka ar bagi setiap insan yang iman dan bertakwa p kemuliaan-Nya. Dan atas Tuhannya, mereka rukuk dan sujud di bumi. belum kemudian meny paikan ayat-ayat-Nya k da Rasulullah Muhama SAW yang sedang tafaku Gua Hira. Sedemikian berarti peristiwa tersebut bagi u Islam seantero jagat, seh ga setiap tanggal tujuh b Ramadhan, diperingati bagai Hari Turunnya A ran (Nuzulul Quran). Sen tara Alquran itu sendir samping sebagai Samu Ilmu di dunia, juga mer kan tamsilan atas kek saan-Nya. Agar kita ser tiasa berpegang semb membaca tanda-tanda k saran Tuhan yang bert ran di langit dan di bu Catatan Ke Ziarah ke K DI PINGGIR kelok-ke kan perkampungan sur oleh penghuninya. Yan yang ditunggui oleh sec Di sinilah, Awak rangka antunan sebagai peng seorang pangeran yang "Ini Loloh penyegar b menyuguhkan. Sebelum kudendangkan sebuah tunlah suaranya yang me menyisakan kecantika mengingatkanku pada s an dari hidupku. Sesed anak buah cinta kami. "Ini dendang Siti Jul yang mencerminkan pe kita bisa bercermin di sa telah lama melupakann gdut untuk mengantar t kan mengguman. Namu Mengu BERPIKIR tentang dengan segala 'ekosisten dalamnya, betapa ban pertanyaan bergemu dan hendak ke luar d kepala. Tapi mari kita as saja pertanyaan-pert yaan itu ke udara. A angin yang senantiasa nari di perut bumi, mer bangkannya dalam kes yapan yang masih terta di mulut badai. Lantas rangkatlah ke pesisir ber ma jiwa yang hening batin yang mengidaml perahu 'samsara' kan nepi di bibir gelomba Membawa kenangan y kemarin kita lungsur dalam pengembara musim. Ke saat mana saling berebut muatan ita, untuk bisa memah betapa laut menyimp beribu misteri. Memandang laut bag ang-orang yang berpi tentunya merupakan k 2cm Color Rendition Chart
