Tipe: Koran
Tanggal: 1997-10-27
Halaman: 07
Konten
in Kliwon, 27 Oktober 1997 NIA SEKILAS NTINA SIAP Rakyat Argentina ber paikan putusan hukuman terhadap s Presiden Carlos Menem yang telah an tahun melalui pemilu sela Kongres asil pengumpulan pendapat selama 11 Sabtu (25/10) menunjukkan pening. rakyat terhadap Graciela Fernandes didat oposisi dari kelompok Aliansi di res yang merupakan distrik pemilihan na. Hasil survai tersebut menjadi tan- erintah Menem, mengingat pengumpu lakukan oleh penyelenggara jajak pen- Peronis sendiri yakni Julio Aurelio. (ant/rtr) KULIT HITAM - Ratusan ribu wani- erika keturunan Afrika, Sabtu (25/10), "Pawai Jutaan Wanita" untuk me- ersatu memulihkan masyarakat mere ri seluruh AS dan bahkan dari Zimba- tan berkumpul di lapangan parkir Ben- Philadelphia untuk mengetengahkan ahatan, penyalahgunaan obat bius dan na. Penyelenggara pawai me-nyatakan anita menghadiri pawai, yang oleh sta 3 disebut sebagai acara pertemuan wa- besar dalam sejarah AS. (ant/afp) PADA PBB Sekjen PBB Kofi Annan Hari PBB 24 Oktober 1997 menyeru- embaharuan kesetiaan terhadap PBB Hisampaikan di Markas Besar PBB New uga menekankan, PBB pada abad men- embangkan kemitraan baru dengan in- embaga Swadaya Masyarakat (LSM) Annan lebih lanjut mendesak agar se ntu PBB dengan menciptakan masyar makin sejahtera, adil dan lebih menjan- (ant) ITER DI TIMTENG - Ratusan pra- Sabtu (25/10) memulai latihan militer ng merupakan manuver militer terbe h(Timteng). Latihan militer itu dilaku- ngan latihan militer pantai gurun di Angkatan Laut AS, Letnan Mark Bayd anggota marinir AS dari unit ekspedi 24 dan sekitar 200 anggota komando tempat latihan dengan menumpang Hilindungi 26 pesawat. Dalam latihan usaha melumpuhkan pasukan musuh ilayah gurun negara sekutu. (ant/afp) Aktivis Zulu kaan, 33 Tewas dalam kecelakaan itu ter- ang te- bakar sehingga tidak bisa ang ce- dikenali akibat ledakan dalam dan kebakaran yang terja- alu lin- di setelah tabrakan. si Kwa- Dari ketujuh korban an (Af. cedera, empat orang ber- ah bus ada dalam kondisi kritis di an truk rumah sakit, tambah juru ched er bicara tersebut, Laporan- menurut laporan sebelumnya me- ang se- nyebutkan, sedikitnya 11 vanita- orang cedera dalam kece- cai poli- lakaan itu. Sopir truk se- menuju lamat dalam tabrakan utara tersebut dan kini sedang untuk diinterogasi polisi. ketika Para politikus menya- jadi di takan terkejut atas kece uk tan- lakaan itu, dan Wakil Pre- pi jalan siden Thabo Mbeki men- mesin, girim pesan bela sungkawa polisian kepada pemimpin Inkatha Mangosuthu Buthelezi, tewas siar radio SABC. (ant/afp) JUT INDAH FACTORY KSI KAIN RAJUT SEKSPORT IN COTTON RAYON CRINCLE MISTY WARNA/GREY untuk keperluan garment 51 Denpasar 18, 755205 05 C92789 NGA RENDAH DAN MUDAHAN KREDIT SUZUKI "VARIA" 000, MURNI Undian warna dan DOBLE BUKA 9.00 ΤΑ 1997 JZUKI IMAM BONJOL) mam Bonjol 95 Denpasar JZUKI VARIA TABANAN) SEMUA TYPE BEBEK KREDIT S/D 4 TAHUN Pass Pesiapan Perempatan Yeh Gangga TBN JZUKI VARIA SUKAWATI) aya Pasar Seni Depan Kantor Pegadaian SKW C 90710 Senin Kliwon, 27 Oktober 1997 Harian untuk Umum Bali Post Pengemban Pengamal Pancasila Terbit Sejak 16 Agustus 1948 Tajuk Rencana Munculnya Calon Presiden dari Masyarakat TIAP kali agenda pemilihan presiden mendekati pelaksanaan, selalu muncul nama-nama tokoh masyarakat sebagal tandingan bayangan dari calon yang diajukan orsospol. Lima tahun lalu, Guruh Soekarnoputra pernah disebut-sebut, bahkan ia telah menyatakan kesediaannya menjadi calon presiden. Di samping ia, muncul pula sejumlah nama yang tampil karena dukungan sebagian masyarakat atau karena inisiatif sendiri. Selama ini, munculnya nama calon presiden dari masyarakat masih diterima masyarakat sebagai semacam langkah "penggembira" di tengah ketegangan menjelang Sidang Umum MPR. Pelaksanaan sidang akbar ini selalu diwarnai kekhawatiran timbulnya gangguan atau upaya untuk menghalangi kelancaran sidang. Kekhawatiran yang selama ini sempat tercuat tidak terlalu banyak berkaitan dengan masalah penyusunan Garis-garis Besar Haluan Negara, tetapi lebih pada pelaksanaan pemilihan presiden. Masalahnya, tradisi politik kita masih kental dengan calon tunggal, yang tidak menghasilkan pemilihan sebenarnya dalam arti harfiah, tetapi lebih pada pengangkatan. Mengapa calon-calon dari kalangan masyarakat tidak pernah bisa berkibar? Jawaban paling dekat mengacu pada sistem politik kita, dengan landasan UUD 1945, yang menetapkan pencalonan presiden dilakukan fraksi dalam MPR, dan pemilihan dilakukan oleh MPR. Konsekuensi dari ketetapan ini adalah bahwa calon dari masyarakat tidak bisa menembus tembok MPR kecuali sebelumnya mampu melewati celah-celah fraksi. Padahal, sementara ini, fraksi masih mengacu pada tradisi satu calon, belum mencoba mencari calon sendiri-sendiri. Walaupun demikian, suara masyarakat bukan sekadar suara orang berteriak di padang pasir. Suara ini, betapapun lemahnya menghadapi deru mesin-mesin sistem politik Indonesia, tetap terdengar dan akan makin keras terdengar sejalan dengan pertumbuhan kesadaran politik rakyat. Kita mempunyai harapan, rakyat Indonesia yang belakangan ini terpolitisasi dengan tinggi oleh keadaan dan pengalaman mereka, akan dengan cepat mengalami pertumbuhan kesadaran politik. Mereka menjadi sadar bahwa hanya melalui dan dengan kesadaran politik itulah kesenjangan politik yang ada bisa disingkirkan. Dengan kesadaran itu pula hukum bisa ditegakkan dan keadilan sosial ekonomi dapat diwujudkan. Lebih dari itu, dengan kesadaran politik rakyat yang tinggi, kekuasaan rakyat dapat diproporsionalkan. Rakyat tidak menjadi objek semata dari tindakan politik, tetapi menjadi subjek. Kenyataan bahwa hukum masih lebih tunduk pada kepentingan dan kekuatan dalam masyarakat, telah membuat rakyat kita highly politicised dalam arti luas maupun sempit. Dalam arti luasnya, masyarakat menjadi sadar bahwa untuk mempertahankan harkat kemanusiaan mereka, dalam bidang apa pun, diperlukan perjuangan, karena hanya mereka yang berani berjuang yang akan meraih kemenangan. Dalam arti sempitnya, mereka sadar bahwa hanya dengan berani bersuara dan menyuarakan aspirasi mereka sambil memperjuangkannya secara gigih, mereka akan bisa berperan sebagai subjek, bukan sekadar objek maupun tujuan. Kesadaran itu telah mulai mewujud dalam bentuk-bentuk yang berbeda. Aksi protes mulai dilihat sebagai sebuah bentuk kesadaran politik yang nonkonvensional. Melakukan kritik tajam merupakan bentuk hak bersuara yang sudah lebih halus. Melakukan protes dengan cara-cara yang lebih halus, walaupun sering tak digubris, adalah perwujudan kesadaran politik yang ideal. Sampai hari ini, puncak dari kesadaran itu dapat kita lihat dengan munculnya keberanian mencalonkan orang lain atau mencalonkan diri sebagai presiden. Jabatan presiden bukan hak istimewa dari satu orang, satu golongan maupun satu kelompok orang, tetapi hak tiap warga bangsa. Barangkali, karena melihat kenyataan adanya pertumbuhan kesadaran politik yang amat cepat belakangan ini, akibat masyarakat kita terpolitisasikan secara tinggi Siswono Yudohusodo mengatakan, dalam tahun 2203 nanti kesempatan memilih presiden akan lebih terbuka. Kesenjangan Sosial-Ekonomi Pribumi dan Nonpribumi KESENJANGAN sosial-ekonomi antara pribumi dan warga negara RI nonpribumi kini sudah merupakan masalah krusial yang mengancam kehidupan berbangsa kita. Untuk mengatasinya, sudah saatnya pemerintah melahirkan undang- undang baru yang menyangkut masalah tersebut. Kebijakan pemerintah yang selama ini diterapkan masih belum menyentuh permasalahan yang sebenarnya sebagaimana dirasakan masyarakat. Pernyataan tersebut dikemukakan Rudini, Anggota Dewan Penasihat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia, sekaligus Ketua Lembaga Pengkajian Strategis Indonesia. Menurutnya, isu pri-nonpri berbau rasialis, sementara para politisi dan tokoh masyarakat cenderung menutup-nutupinya, sehingga terjadilah kemunafikan. Merasa bangsa Indonesia bersatu, sedangkan kenyataannya tercabik-cabik. Munculnya masalah pri-nonpri, (digunakan istilah "pribumi" dan "nonpribumi" untuk memudahkan kita melihat persoalan yang ada), sebenarnya sudah merupakan masalah lama, bahkan jauh sebelum bangsa kita merdeka. Dapat dikatakan, sebagian masalah ini merupakan warisan zaman penjajahan, sementara yang sebagian lain penerusan model penjajahan. Pada zaman dulu, penduduk Indonesia dikategorikan menjadi tiga kelompok yang memiliki hak berbeda. Kelas paling atas adalah Belanda dan orang Eropa. Kelompok kedua, yang memiliki hak-hak di bawah kelompok satu, adalah orang- orang Timur asing, termasuk di dalamnya Arab dan Cina. Penduduk pribumi masuk kelas paling bawah, yang hak- haknya amat terbatas. Belanda lebih menghargai kelompok Timur asing daripada pribumi dan lebih menghargai kelompok Belanda dan Eropa daripada kelompok Timur asing, tanpa alasan jelas. mempunyai ketekunan, kesabaran, kegigihan dan perhitungan yang lebih matang. Mereka tidak malu-malu menjadi mindring. Pada saat mereka masih melarat, makan nasi berlauk kecap cukuplah. Mereka dengan perhitungan cermat membelanjakan uangnya dengan menekan serendah mungkin pengeluaran pada saat rezeki masih sulit didapat. Dampak kehidupan semacam itu antara lain membawa kelompok nonpri berkonsentrasi pada dunia perdagangan. Dunia di luar perdagangan yang mereka masuki, dalam jumlah yang amat kecil, adalah perguruan dan jasa. Sampai sekarang, pola pemilihan profesi ini masih berjalan terus. Pola pemilihan profesi semacam itu bukan semata-mata karena mereka memang menutup diri terhadap profesi lain, tetapi juga ada kalanya profesi tertentu memang menutup diri untuk mereka. Pola hubungan fasilitas pada zaman Belanda masih berlanjut terus, walaupun alasannya sudah berubah. Sikap semacam itu barangkali bisa diterima secara individual dan khususnya pada masa lampau, tetapi untuk diteruskan hingga sekarang rasanya sudah tak layak lagi. Masalahnya sekarang, pola hubungan semacam itu, telah menghasilkan kesenjangan sosial dan ekonomi, dan makin lebarnya kesenjangan tersebut. Persis seperti yang dikatakan Rudini, kesenjangan itu akhimya akan menimbulkan masalah krusial yang bisa mencabik-cabik kesatuan dan persatuan bangsa. Oleh karena itu, perlu dilakukan tiga langkah untuk mengatasinya. Pertama dilahirkannya suatu peraturan yang bersifat terbuka, yang menjamin perlakuan yang sama kepada semua penduduk. Mengingat pengalaman dan pengetahuan bisnis pengusaha kecil dan menengah kita masih lebih rendah daripada golongan nonpribumi umumnya, perlu peningkatan kemampuan bisnis yang dilakukan berdasarkan peraturan dan program yang jelas serta kontinyu. Ketiga, diperlukan perubahan drastis pejabat kita baik dalam wawasan maupun tindakan yang cenderung mengutamakan kelompok tertentu di atas kelompok yang lain. Namun perlakuan semacam itu tidak terbatas pada status. Perlakuan sedikit istimewa juga mereka berikan dalam bidang ekonomi. Namun hal itu bukan satu-satunya penyebab mengapa kelompok nonpri lebih berhasil daripada kelompok pribumi dalam bidang ekonomi. Kelompok nonpri memiliki sejumlah kelebihan dibandingkan orang pribumi. Mereka tidak semudah mengatakannya. Namun harus kita akui, mengubah wawasan dan perilaku Surat Pembaca Persyaratan: Sertakan Fotokopi KTP atau SIM Sudah Ditanggapi Keluhan saya yang dimuat di Surat Pembaca Bali Post 17 Oktober 1997 dengan judul "Janji BCA" telah ditanggapi dengan baik. Sabtu pagi, Bagi- an Transfer BCA Hasanudin datang ke rumah saya dan menjelaskan persoalannya. Ternyata ada kesalahpaha- man antarkami, tetapi se- karang masalahnya sudah da- pat diselesaikan dengan baik. Terima kasih BCA. David K. Denpasar Mari Kita Waspada Sehubungan maraknya pen- curian kendaraan bermotor yang akhir-akhir ini terjadi di Bali, mari kita merenungkan kenapa hal itu sampai terjadi. Mari kita khususnya yang mempunyai kendaraan bermo- "tor untuk lebih meningkatkan kewaspadaan terhadap barang yang kita miliki itu. Mari kita sadari apa yang telah dianjurkan Bapak-bapak Polisi di antaranya dengan melaksanakan "Lima Im- bauan". lu kita banggakan ini sudah tercoreng oleh ulah tangan-ta- ngan jahil yang tidak bertang- gungjawab. Yang tidak kalah penting si "tukang parkir" yang sering sekali mendapat tudingan aki- bat kelalaian bertugas. Saya sama sekali tidak menyalah- kan Bapak Tukang Parkir, cuma kalau selama ini selalu mendapat tudingan itu kini saatnya mereka untuk mem- benahi diri dengan meningkat- kan kewaspadaan dan pela- yanan kepada yang membu- tuhkan. Kalau kita sadar bukan tidak mungkin keamanan dan ketenteraman yang selama ini kita agungkan akan bisa kita raih kembali. pendapat tanpa harus diba- yangi perasaan takut. Padahal reklamasi sudah dibatalkan dan karang-karang yang ditimbun sudah ditarik kembali. IN Supatra Jl. Kapten Japa XVI/54 Denpasar Abrasi di Pantai Kuta Merebaknya berita tentang reklamasi pantai, saya jadi tergugah untuk menyampai- kan unek-unek tentang keadaan Pantai Kuta bela- kangan ini. Mengamati pena- taan pantai beberapa tahun terakhir ini, jika dibanding- kan keadaan dekade 70-an sungguh saya merasa salut akan keasrian dan kebersih- annya. Namun di balik keasrian- nya, saya mengamati ada suatu yang sangat mengkha- watirkan kelestariannya, yakni tingkat abrasi yang makin hari makin menghe- bat. sekarang, pantai menjadi landai dan bergelombang mirip padang pasir akibat digerus air dan angin. aya masih ingat, hilang- nya rumput pantai ini kare- na sengaja digerus beberapa tahun yang lalu untuk me- nyambut sebuah even olah raga bertaraf internasional. Jika kita masih ingin me- lihat Pantai Kuta lestari, kiranya usaha untuk me- ngembalikan fungsi rumput pantai ini harus segera di- lakukan. Untuk itu saya sa- rankan kepada pihak yang berwenang (Pemda Badung) untuk merintis program pe- nanaman kembali rumput pantai tersebut. Bali Post Halaman 7 Pemuda Dalam Simbolisme Politik BANGSA ini, utamanya kaum muda, pantas berbangga hati ketika dua remaja putri tampil di pentas politik saat pelantikan anggota DPR/ MPR RI. Betapa tidak, dalam usia relatif muda mereka telah menjadi wakil rakyat yang dipercaya untuk memikirkan dan mengurus masa depan bangsa dan negara. Banyak orang menyang- sa. sikan, apakah para remaja Jika ada yang berangga- itu mampu menyuarakan pan bahwa para pemuda aspirasi rakyat. Apakah yang berkiprah di politik, mereka dapat berbuat ba- pemuda yang mengejar kur- nyak untuk mengurangi si di DPR sekadar mencari derita rakyat, sementara mereka masih harus berku- tat dengan segala atribut keremajaannya. Tetapi ada pula yang memandang ke- hadiran anak muda di lem- baga legislatif itu sebagai pembaruan kehidupan poli- tik di Indonesia. Terlepas apakah hadir- nya pemuda dan remaja di panggung politik merupa- kan kemajuan atau ke- munduran politik, itulah fenomena politik Indonesia. prestise politik tentu ada ra- sionalisasinya. Kursi ke- pemimpinan OKP, kursi legislatif adalah simbol prestise politik yang patut diperebutkan. Persaingan memperebutkan kursi men- jelang pemilu tampak lebih penting ketimbang persai- ngan untuk merancang pro- gram politik yang dibutuh- kan rakyat. Binatang sebenarnya juga saling bersaing dengan sesamanya untuk menda- wakil rakyat selama lima tahun masih saja dianggap sebagai simbol prestise poli- tik. Oleh sebagian anggota dewan cincin itu dikembali- kan; bahkan ada niat mem- perkarakan pemberi cincin kenangan itu. Bukan lan- taran anggota dewan itu malu kepada rakyat atas pemberian cincin emas, tetapi karena berat dan ka- darnya dianggap terlalu rendah bagi mereka. Pengalaman Kehadiran para pemuda di pentas politik semesti- nya memang diarahkan se- bagai upaya menggali pe- ngalaman untuk menafsir- Oleh Chusmeru Fenomena semacam itu memang bukan spesifik In- donesia atau dunia politik belaka. Bagi negara-negara berkembang munculnya pat makanan dan kekua- "pemuda karbitan" dalam pentas politik merupakan hal yang biasa terjadi. Be- gitu pun dalam dunia bis- nis, tidak sedikit pemuda yang sejak lahir sudah di- nobatkan sebagai pengusa- ha; baik karena power poli- tik yang dimiliki orangtu- anya maupun fasilitas dan warisan harta kekayaan. Tentu saja kehadiran "pemuda karbitan" dalam dunia politik dan bisnis mempunyai sisi positif dan negatif. Positif, masuknya mereka itu memberi warna saan. Namun tidak seperti manusia, binatang tidak bersaing untuk memperoleh sesuatu yang mewakili sim- bol makanan atau kepe- mimpinan. Manusia bersa- ing dalam simbolisme pres- tise politik dan ekonomi semacam kursi kepemim- pinan, baju safari, gelar-ge- lar, uang, obligasi, saham, kapital, dan sebagainya (S.I. Hayakawa, dalam Wayne Austin Shrope, 1974). Tidak mengherankan ketika para pemuda yang semasa aktif dalam orga- kan simbol-simbol politik secara benar. Sebab, seba- gaimana dikatakan S.I. Hayakawa kadangkala ter- jadi, tidak ada hubungan antara simbol dan apa yang disimbolkan. Orang dapat saja mengenakan pakaian berlayar tanpa pernah mendekati perahu layar. Orang bisa saja menye- but dirinya wakil rakyat tanpa pernah berbicara de- ngan rakyat. Mereka yang duduk di kursi DPR kerap menyuarakan betapa pen- ting keadilan ditegakkan, Kehadiran para pemuda di pentas politik semestinya memang diarahkan sebagai upaya menggali pengalaman untuk menafsirkan simbol-simbol politik secara benar. Sebab, sebagaimana dikatakan S.I. Hayakawa kadangkala terjadi, tidak ada hubungan antara simbol dan apa yang disimbolkan. Orang dapat saja mengenakan pakaian berlayar tanpa pernah mendekati perahu layar. Orang bisa saja menyebut dirinya wakil rakyat tanpa pernah berbicara dengan rakyat. Mereka yang duduk di kursi DPR kerap menyuarakan betapa penting keadilan ditegakkan, tanpa pernah merasakan bagaimana perasaan rakyat ketika diterpa ketidakadilan. tanpa pernah me- rasakan bagai- mana perasaan rakyat ketika di- terpa ketidakadi- lan. Tanpa per- nah tahu derita macam apa yang dirasakan rakyat miskin, para wak- il rakyat acapkali berbicara tentang pengentasan rak- yat dari kemiski- nan. Orang me- nyebut situasi se- perti ini sebagai kesenjangan an- tara dunia verbal dengan dunia eks- tensional. Dunia verbal adalah dunia ka- ta-kata dan lapo- ran. Simbol ver- baru lembaga legislatif, nisasi kepemudaannya sa- bal bisa terdapat dalam peta memberi gairah kerja baru, ngat menggebu menghen- sosial, politik, ekonomi dan dan diharapkan ada gaga- daki perubahan sosial, budaya. Dunia ekstensio- san-gagasan segar untuk ekonomi, dan politik; begi- nal adalah dunia pengala- meningkatkan kinerja tu duduk di kursi, DPR dan man yang dapat diamati DPR. Negatifnya, lantaran berseragam safari lupa dan ditimba dalam wilayah kedudukan para pemuda di pada semangat awalnya. politik, sosial, ekonomi, dan DPR itu berkat "subsidi Baju safari dan kursi DPR budaya. Adanya generasi politik" dari orang tua dan adalah simbol prestise poli- muda dalam lembaga legis- kerabatnya menjadikan tik. Makin empuk kursi latif maupun eksekutif di- mereka sulit mandiri. Me- yang diduduki dan makin harapkan memunculkan reka akan selalu tergan- bagus yang dipakainya, keberanian moral untuk tung pada pemberi subsidi; akan makin terbatas kebe- mempertemukan simbol- mudah memohon petunjuk basan orang untuk bertin- simbol verbal dalam peta politik dengan pengalaman untuk melakukan keputu- dak. san-keputusan politik. Me- empirik dalam wilayah reka sekadar menjadi sim- kekuasaan. bol-simbol politik yang cen- derung mempertahankan status quo. Meski begitu, sebagai manusia para pemuda se- sungguhnya bebas meng- Masalahnya memang, hasilkan, mengubah, dan seberapa besar perbanding- menentukan nilai-nilai ba- an porsi dunia verbal dan Dilema serupa dihadapi gi simbol-simbol politik. dunia ekstensional akan mereka yang menggeluti Orang sangat tercengang diperoleh para pemuda. dunia bisnis. Di satu sisi ketika seorang anak muda Makin besar dunia verbal Akan halnya kendala di gairah muda mereka ter- anggota DPRD Kodya Den- yang digeluti para pemuda, lapangan berupa padatnya panggil untuk mengobati pasar menggugat Gubernur makin asyik mereka berku- pengunjung Pantai Kuta, derita rakyat, membebas- Bali untuk mundur dari ja- tat dengan simbolisme poli- maka penanaman dapat di- kan rakyat dari kemelara- batannya. Baju safari dan tik. Makin lelap mereka di lakukan dalam bentuk plot- tan, atau menyumbangkan iming-iming fasilitas meng- atas kursi dewan, makin plot (petak-petak), di jarak energi politiknya buat giurkan yang diperkirakan nyaman mereka di balik tertentu dibuatkan jalan se- rakyat. Di sisi lain, keter- bakal diperoleh dari lemba- baju safari, atau makin be- tapak menuju pantai. gantungan mereka pada ga eksekutif itu ternyata sar harapan mereka untuk Semoga Kuta tetap KUTA kerajaan bisnis akan men- tidak mengurangi kebe- mendapat fasilitas. kondang-unik-tertib-asri. jadikan mereka senantiasa basannya untuk menaf- Bahayanya, jika para pe- taat pada keputusan eko- sirkan simbolisme politik. muda itu tumbuh dalam Nyoman Wadi nomi dan politik yang me- Orang juga bisa saja ter- peta politik yang keliru, Br. Pengabetan, Kuta langgengkan imperium bis- senyum ketika serombo- mereka akan fasih meniru- nis itu. Dengan kata lain, ngan anak muda dengan kan petunjuk, imbauan, gagasan segar dan inovasi atribut OKP-nya membuat atau retorika eksekutif. politik sulit diharapkan, kebulatan tekad tentang Makin pintar mereka me- karena mereka terjebak calon presiden yang itu-itu nuding bahwa protes rak- pada stagnasi kreativitas. pula. Tiap manusia bebas yat terhadap ketimpangan menafsirkan simbol-simbol pembangunan sebagai politik sesuai dengan ke- anarki, ekstrem kiri-ka- pentingannya. nan, dan slogan-slogan poli- tik penguasa yang mena- kutkan. Ditemukan Sertifikat Giyono Banjar Dukuh Tangkas Denpasar SMPT Unud "Menunggu" Pernyataan ketua SMPT Unud (Bali Post 24/10) mem- buat saya prihatin. Dikatakan bahwa SMPT Unud sampai Saya menengarai keadaan saat ini masih menunggu data. ini terjadi akibat ketiadaan Padahal masalahnya sudah "rumput pantai" yang sebe- bergulir relatif lama. Bahkan narnya merupakan pelindung berbagai reaksi dari berbagai pantai yang alami. Rumput Ditemukan sertifikat hak kalangan telah bermunculan yang tumbuh merata di selu- seperti dari masyarakat secara ruh permukaan pantai de- milik No. 567 a.n. I Wayan perorangan atau kelompok, ma- ngan akarnya mencengkram Waken d.a. Br. Batungsel hasiswa, para pakar, pihak pasir, sangat efektif meng- Kaja, Desa Batungsel Keca- Pemda dan DPRD. Tetapi hambat abrasi sewaktu air matan Pupuan, Tabanan. Yang merasa memiliki ser- SMPT Unud akan menunggu pasang dan menahan pasir sampai kapan? dari gerusan angin pada tifikat tersebut, hubungi CV SMPT Unud takut berge- musim angin Barat. Ini da- Karya Primandiri Jl. Bedu- rak di luar sistem? Kenapa? pat dilihat dari bentuk pan- gul No. 15 Sidakarya telepon Siapa ada di luar dan siapa tai yang berbentuk gundukan 724452. yang ada di dalam sistem? Saya di tepiannya sewaktu masih Ni Wayan Sukerthi, S.E. kira semua orang berhak ber ada rumput. Berbeda dengan Anggota Redaksi Denpasar: Agustinus Dei, Dwi Yani, Legawa Partha, Nikson, Palgunadi, Pasma, Srianti, Sri Har- Bali Post tini, Suana, Suarsana, Sudarsana, Sueca, Sugendra, Suja Adnyana, Sutiawan, Artha, Alit Suamba, Subagiadnya, Sugiarta, Sutarya, Kasubmahardi, Martinaya, Mas Ruscitadewi, Oka Rusmini, Umbu Landu Paranggi. Bangli: Karya, Buleleng: Tirthayasa, Glanyar: Alit Sumertha, Jembrana: Edy Asri, Karangasem: Dira Arsana, Klungkung: Daniel Fajry, Tabanan: Alit Pumnatha, Jakarta: Wisnu Wardana, Muslimin Hamzah, Bambang Hermawan, Darmawan, Dadang Sugandi, Alosius Widiyatmaka, Suyad-nya, Djamilah, Rudiyanti, Suharto Olii, Ghazali Ama Lanora. NTB: Agus Talino, Nur Haedin, Riyanto Rabbah, Raka Akriyani, Siti Husnin, Izzul Kairi, Syamsudin Karim, Ruslan Effendi, Antony Mithan. Surabaya: Endy Poerwanto, Bambang Willarto. NTT: Hilarius Laba. Yogyakarta: Suharto. Wartawan Foto: Arya Putra, Djoko Moeljono. Meningkatkan kewaspa- daan; Tidak meninggalkan ken- daraan dalam keadaan tidak terkunci; Tidak memarkir di tempat yang tidak aman/jauh dari jangkauan kita; Meng- gunakan kunci tambahan; dan segera melaporkan kepada yang berwajib jika melihat mengalami pencurian. Mari kita sadari bahwa keadaan keamanan yang sela- Simbol Prestise Di tengah tudingan ke- mandekan kreativitas or- Cincin emas bagi sepa- ganisasi kemasyarakatan dan pemuda (OKP) tentu sang pengantin merupakan Pada peringatan Hari nya masih cukup banyak ikatan cinta kasih yang para pemuda yang berusa- tidak dapat diukur dengan Sumpah Pemuda kali ini ha "tampil beda". Upaya berat dan kadarnya. Bera- masih terbuka kesempatan yang dilakukan para pemu- pa pun gram dan karatnya, untuk menentukan pilihan. da untuk mengadakan per- selama berangkat dari niat Apakah para pemuda yang baikan sistem sosial politik suci kedua pihak, jadilah bernasib mujur duduk di pun tidak semulus mereka cincin itu simbol cinta kursi dewan itu akan larut yang mencoba berlindung di kasih. Bagi anggota DPR RI dalam simbolisme politik balik baju penguasa. Pemu- cincin emas ternyata me- verbal atau hendak meng- da kreatif itu kerap menja- ngundang masalah. Cincin gali lebih banyak pengala- di simbol antikemapanan, emas yang dimaksudkan man ekstensional dalam ke- simbol perlawanan ter- sebagai cenderamata dan hidupan sosial politik hadap rezim yang berkua- tali asih atas pengabdian rakyat. Refleksi Pemuda dan Katak Oleh Pitana PEMUDA adalah calon pembawa tongkat estafet kepemimpinan bangsa. Pemuda adalah tiang harapan masa depan negara. Pemuda adalah penentu arah perubahan hari esok. Pemuda adalah generasi tempat masa depan negara dan bangsa akan digantungkan. Masih banyak lagi kata-kata in- dah yang ditujukan untuk mengagungkan para pemuda. Kata- kata itu akan makin berdengung lagi hari-hari ini, menjelang peringatan Hari Sumpah Pemuda/Hari Pemuda ke-69,28 Oktober besok. Apa pun slogan yang dikumandangkan, yang jelas pe- muda adalah pemuda. Pemuda bukanlah sesuatu yang monolitik alias sama sebangun semuanya. Mereka bervari- asi, yang dapat dikelompokkan atas berbagai tipe. Kajian sejarah Indonesia akan mampu mengklasifikasikan pemu- da yang mempunyai ciri berbeda antarzaman. Kajian sink- ronik antardaerah dan bangsa, juga akan menghasilkan klasifikasi yang lain. Secara sosiologis, pemuda di suatu daerah atau negara juga dapat diklasifikasikan atas berb- agai kategori. Secara psiko-sosial, pemuda adalah sosok insan manusia yang sedang mencari identitas. Dalam pencarian identitas ini, sadar atau tidak, mereka ingin mendapatkan identitas yang lain daripada yang lain. "In search of difference", istilah keren- nya. Oleh karenanya, jadilah mereka sekumpulan insan yang selalu ingin tampil beda; ingin diperhatikan. Kalau perlu, mere- ka akan berbuat hal-hal yang aneh bin ganjil, hanya untuk mendapatkan perhatian. Apabila disediakan arena untuk bal- ap sepuasnya, mereka tidak akan begitu senang. Namun di jalan raya yang ramai, tepat di depan kantor gubernur, mereka pun main kebut-kebutan. Kalau polisi mengejar, itu suatu ke- berhasilan bagi mereka. Itu berarti mereka telah mampu mem- buktikan, bahwa perbuatannya telah mampu menarik per- hatian. Tentu, rasa puas mendapatkan perhatian" ini akan lebih tinggi pada pemuda yang di rumahnya kurang mendap- atkan apa yang disebut perhatian". Gambaran tersebut adalah gambaran pemuda kategori satu, yaitu pemuda yang baru mencari-cari identitas, dalam proses in search of difference". Kalau pemuda yang sudah lebih dew- asa, mulailah masuk kategori dua. Mereka bukan lagi in search of difference", melainkan "in search of idealism". Mereka sudah bicara soal-soal makro; sudah mulai peka terhadap fenomena sosial-budaya dan pembangunan. Ini terutama terjadi di ka- langan pemuda yang terdidik. Sikap pandang yang umumnya bertumbuh-kembang di antara mereka adalah sikap kritis dan antiestablisme. Berbagai kebijakan pemerintah selalu didis- kusikan secara kritis. Kesimpulan yang keluar, hampir dapat dipastikan bahwa kebijakan pemerintah selalu salah. Jarang muncul pujian. Merekalah yang umum disebut kaum idealis, yang bicara benar-benar dari hati nurani, terlepas dari benar atau salah. Sikap dan cara pandang yang sangat menghargai hati nurani ini dapat mereka pegang karena mereka adalah orang-orang independen, yang belum merasa tergantung pada superstruktur politik. Namun kalau fase kedua ini terlampaui, karakteristik pe- muda berubah juga. In search of difference" sudah tidak masan- ya lagi. In search of idealism" juga sudah ditinggalkan. Yang ada adalah in search of the future". Inilah pemuda dari kate- gori tiga. Cirinya, sudah mulai belajar membohongi diri dan hati nurani. Berbicara dan berperilaku sudah mulai hati-hati, karena apa yang dikatakan dan dilakukan bukan hanya akan ditanggung sendiri, melainkan sudah menyangkut hajat hidup orang dua, orang tiga, atau orang empat, yaitu istri dan anak- anak. Pada fase ini, para pemuda sudah mengalami "inversi" dan permutasi besar-besaran. Idealisme bergeser menjadi prag- matisme. Kerangka pikir dalam berbicara dan berbuat bukan lagi bagaimana yang benar menurut saya", melainkan bagaimana seharusnya saya berkata dan berbuat agar saya dibenarkan. Aktivitas yang dulu bertujuan untuk mencari jati diri, sehingga sering mendapatkan salam selamat mencari, kini berubah menjadi "mencari selamat". Akar yang semula disuburkan di bawah, kini dicari di atas. Orientasi rasa dan hati nurani berubah menjadi orientasi ekonomi. Independensi menjadi dependensi. Dulu, memandang ke atas dengan gagah dan memandang ke bawah dengan lembut penuh kasih. Kini, memandang ke atas dengan lembut, dan memandang ke bawah dengan beringas. Gaya pun berubah, meniru gaya katak: pan- dangan ke atas selalu, tangan menyikut, kaki menginjak, dan tiap saat siap melompat. Gaya hidup juga seperti katak: selalu berebut untuk bisa hidup di dekat kolam". Kalau sudah ada di sisi kolam, suaranya pun keras dan nyaring, seakan orang lain tidak bisa bersuara. Namun kalau jauh dari kolam, suaranya pun nyaris tak terdengar. Kita kembali pada slogan-slogan indah tadi. Bahwa pe- muda adalah pembawa tongkat estafet kepemimpinan; bah- wa pemuda adalah penentu hari depan bangsa. Kategori pemuda manakah gerangan yang akan mendapatkan slo- gan-slogan ini? Mudah-mudahan bukan pemuda yang ber gaya katak Catatan Kata Mentamben IB Sudjana, meskipun pem- buatan GWK dikejutkan gejolak moneter dan musibah kebakaran, GWK jalan terus. - Jadi rawe-rawe rantas, tantangan jadi peluang.. *** Menurut Direktur Kesehatan Jiwa Depkes Dr. H.A. Hardiman, sekitar 30 juta penduduk Indonesia de- wasa ini mengalami gangguan jiwa. - Bisa jadi juga akibat gejolak moneter akhir-akhir ini? *** Untuk memilih pemimpin nasional bisa dideteksi dengan mengadakan jajak pendapat, kata Dr. Amien Rais. Mungkin ada pendapat: Satria Pinandita sosok pemimpin abad 21, Pak. Bang Podjok Color Rendition Chart 2cm 4cm
