Tipe: Koran
Tanggal: 1997-10-27
Halaman: 19
Konten
Kliwon, 27 Oktober 1997 Hatta menyebabkan pemuda tidak me miliki jiwa kepeloporan. Di- kembangkannya pola top down dinilai kurang mendidik. Namun, bukan berarti top down program ditiadakan, melainkan prakarsa dan inisiatif pemuda harus tetap diadakan. Ia lantas menyitir pi- dato Ginandjar Kartasasmita saat dikukuhkan menjadi guru besar bahwa bersikap netral saja bagi birokrat tidaklah cukup. Melain- kan harus ada keberpihakan pada golongan yang miskin. Perlu Redefinisi Ditanya soal lemahnya ke- peloporan, ia mengatakan, orga- nisasi pemuda diharapkan perlu mengadakan redefinisi. Organ- isasi pemuda perlu mengadakan pengkajian ulang mau berbuat apa dalam jangka waktu terten- tu ke depan mau menjadi apa mereka itu. Jika tidak, mereka tidak akan pernah siap meneri- ma estafet kepemimpinan itu. "Kepeloporan tidak cukup yang kongkret saja seperti kopera- 'si, lingkungan dan yang lain- melainkan bagaimana mengger- akkan pemahaman hak dan ke- wajiban warga negara sebagai bangsa Indonesia," katanya. Soal SMPT Unud yang masih menunggu untuk menyikapi ka- sus Padanggalak, Rindjin men- gatakan tidak tahu persis. "Ka- lau mau berperan, memang ma- hasiswa perlu data pendukung. Untuk itu dia harus punya ak- tivitas, bukan hanya menunggu. Mestinya dia mencari bahan- bahan dari instansi terkait," ka- tanya. (nom) neer Saja! oke lagi! CD PIONEER uat Anda sekeluarga puasss! D-100KV ini Control (11 steps), mic inputs with volume control 760KV) dan masih buanyaaak terdekat di kota Anda untuk PIONEER The Art of Entertainment TOTAL GARANSI mg Blok C 47, Denpasar - Bali C.87691 Senin Kliwon, 27 Oktober 1997 Bali Post Pupuan, Kota Kecil yang Baru Belajar "Bersolek" PUPUAN merupakan salah satu kota kecamatan di wilayah Kabupaten Tabanan yang kini makin menggeliat dan mulai mempercantik diri. Salah satu daerah penghasil buah kopi terbesar di Bali itu memang masih tetap tampak alami, seirama dengan kecantikan para gadis desa. staf, aparat kecamatan, kepa- la desa, dan tokoh adat. "Dari pertemuan itu, kami ber- harap masalah yang ada di la- pangan bisa di atasi," kata Geria. Hembusan hawa sejuk dari kaki Gunung Batukaru, membuat Pupuan tak perlu mesin pendingin untuk me- nangkal kegerahan cuaca a- kibat musim kemarau pan- jang tahun ini. Apakah Pu- puan harus selamanya men- utup diri dari pengaruh abad modern, untuk kemudian me- nampik kedatangan era glo- balisasi? Dalam berbagai hal, kota kecamatan yang mewilayahi 10 desa ini memang masih tetap konsisten pada warisan tradisi. Namun di sisi lain, Pupuan sudah mulai membu- ka diri dan siap digauli" kon- sep pembangunan abad te- knologi. Inilah dua sisi yang kini menjadi tantangan berat para pemegang kebijakan, Camat Pupuan beserta aparat terkait. Setidaknya, sudah tampak usaha dari pengendali roda pembangunan di desa mem- buat wajah kota Pupuan makin manis, cantik dan ang. gun. Jika toh masih terdapat kekurangan, harap maklum, lantaran kota kecil itu baru belajar bersolek". Camat Pupuan Drs. I Gus- ti Gede Putu Geria menga- takan, penataan areal termi- nal kota kecamatan dan pen- ertiban pedagang kaki lima, merupakan masalah yang mendesak untuk ditangani. Untuk mempercantik wa- jah kota, kesan semrawut- nya terminal yang selama ini disoroti pengunjung, harus mendapat pengananan serius. Untuk itu, Geria yang baru satu tahun dipercaya memimpin Pupuan, sudah beberapa kali melakukan evaluasi lapangan. Data-data yang berhasil dihimpun tím khusus peren- canaan pembangunan desa, dibahas dalam rapat rutin dengan melibatkan berbagai Padat Lalin Untuk ukuran kota keca- matan, Pupuan tergolong pa- dat lalu lintas. Sebagai termi- nal trasit penumpang yang melayani tiga kota-jurusan Singaraja, Denpasar, dan Jembrana - Pupuan dising- gahi ratusan kendaraan umum. Fasilitas berupa ban- gunan bertingkat di sepan- jang pinggir terminal, masih belum mampu menampung ledakan para pedagang yang ikut mengais rezeki. Kendati di sebelah selatan tersedia pasar desa dengan luas areal sekitar 35 are, toh para peda- gang kaki lima tak mendapat bagian tempat berjualan. Karenanya, sebagian lokasi penambangan berubah men- jadi stan pajangan berbagai buah, sayur, dan pakaian yang digelar pedagang kecil. Biasanya, kesan kumuh akan muncul, karena penataan kendaraan umum masih ber- baur dengan kegiatan tran- saksi jual beli. Apalagi pada musim hujan seperti tahun lalu, tersumbat- nya selokan/saluran air men- imbulkan banjir yang tak jarang disertai lumpur dan kotoran sampah. Inilah pekerjaan rumah (PR) yang masih tersisa bagi aparat ke- camatan. Adakalanya, wajah bopeng gadis desa harus di- tambal rapi dengan bedak agar tak kalah bersaing de- ngan remaja di perkotaan. Ternyata Geria sudah pu- nya strategi jitu untuk meny- ulap kota Pupuan agar tam- pak elok dan asri. Bersama instansi terkait, pihaknya sudah menyusun program khusus untuk mengatasi CK 93468 Ball Postjep SEMRAWUT - Pasar Pupuan yang semrawut kini secara bertahap ditata sehingga pasar di "segi tiga emas" itu tampak pesolek. Inset: Camat Pupuan Drs. I Gusti Gede Putu Geria kurang rapinya pemanda- ngan di terminal induk kota kecamatan itu. "Kami sudah bahas dalam rapat rutin. Un- tuk mengatasi kesemrawu- tan di terminal, tak ada jalan lain, kecuali membangun pasar bertingkat," katanya. Dia menjelaskan, kesan saling rebut tempat di termi- nal disebabkan kapasitas pedagang sudah melebihi daya tampung yang ada. Pasar induk di sebelah sela- tan terminal, sudah disesaki pedagang tetap. Sementara sejak dia pertama kali meng- injakkan kaki di Pupuan, pedagang kaki lima sudah mengambil sebagian tempat parkir kendaraan umum. "Kalau kami tertibkan de- ngan menindak tegas, rasan- ya nggak etis. Mereka harus disediakan tempat yang lay- ak, mudah-mudahan usulan proyek pasar bertingkat cepat turun dari pemda tingkat II." Geria mengaku sudah mengajukan permohonan pembangunan pasar berting- kat ke Bupati Tabanan, de- ngan pertimbangan untuk TRO menciptakan wajah kota ke- camatan yang bersih dan rapi. Apakah alternatif lain belum bisa ditempuh, sambil menunggu realiasi bantuan pemda tingkat II? Geria me- negaskan, untuk mencari lokasi baru sangat sulit. Langkah itu sudah dijajaki, dan dari lahan di wilayah Kecamatan Pupuan belum ada yang memenuhi syarat standar untuk sebuah pasar atau terminal. "Mencari ta- nah untuk pembangunan pasar baru, sangat sulit. Saya pikir, membuat pasar berting- kat adalah jalan yang paling bagus," katanya. Alami Jika sekarang Geria mem- prioritaskan pembangunan fisik di sekitar kota, bukan berarti yang di desa menjadi terabaikan. Dari 10 desa yang ada, hampir 100 persen sudah mampu membangun sarana dan prasarana secara swa- daya. Di samping jalan raya tampak mulus, jalan-jalan dusun pun sudah berbeton dan dipoles semen. Anom Swastika Sementara listrik sudah masuk desa secara tuntas (100%), dan hanya beberapa dusun-Galiukir, Munduk- temu dan Blatungan yang belum kebagian sumber air bersih. Pada ketiga dusun yang agak terpencil itu, kini sedang berjalan proyek tahap pemasangan pipa. "Saya ber- harap tahun 1998, semua dusun di Pupuan sudah dia- liri air bersih," tambahnya. Kota Pupuan memang se- dang berusaha mempercan- tik diri. Geria tidak saja mengimbau warga desa agar mengembangkan berbagai jenis tanaman hias, dan melakukan penataan areal pekarangan rumah masing. masing. Sementara dinas ke- bersihan kota kecamatan tiap hari melakukan tugasnya di sepanjang jalan raya. Kantor-kantor dari berb- agai instansi, diwajibkan menciptakan keasrian ling- kungan lewat program kerja "kantor taman berbunga". Bahkan, segi pengaturan lingkungan itu masuk dalam agenda kerja bulanan. "Dalam waktu dekat, kami mengadalan lomba kantor taman berbunga. Semua kan- tor di wilayah Kecamatan Pupuan harus memperha- tikan aspek keindahan, mere- ka harus mendukung usaha Pemda Tabanan untuk me- raih Adipura," tegasnya. Usaha pihak kecamatan memoles wajah kota, bukan sembarangan mengubah struktur wujud fisik yang ada. Geria malah sangat hati- hati melakukan renovasi yang mengandalkan kecang- gihan teknologi. Dalam ber- bagai hal, dia justru membi- arkan wajah desa tampak alami, sesuai adat yang ber- laku di masing-masing tem- pat. "Membuat wajah kota agar tampak cantik, bukan harus mengganti semuanya. Dalam berbagai hal, justru yang alami itu lebih indah." Ternyata yang dimaksud- kan Geria itu mengarah pada konsekuensi penduduk untuk tidak tergiur oleh besarnya nilai dolar. Artinya, pen- duduk Pupuan belum ada yang menjual lahan perta- nian/perkebunan kepada in- vestor asing. Kebun yang mengandalkan komoditi kopi, cengkeh, coklat, dll. masih sanggup membuat warga merasa sejahtera dan tenteram. Kendati tidak ada ku- curan mata uang asing, toh Pupuan mampu meraih prestasi bidang kependudu- kan yang membanggakan. Geria menyebutkan, akhir tahun 1996, Pupuan me- nyatakan bebas dari keluar- ga sejahtera (KS) I. Sedang- kan dari hasil pendataan tahun 1997, untuk KS prasejahtera 0 persen, KS I sudah tuntas (0 persen), KS II 3.180 (33,32 persen), KS III 5.986 (62,7 persen), dan KS III plus 379 (3,97 persen). "Pupuan hanya mengembangkan objek agrowisata, keindahan dan kenyamanan suasana yang kami jual. Sejauh ini, war- ga Pupuan tidak ada yang menjual tanah pada orang asing," katanya. (jep) Mantan Anggota Legislatif Itu... I GUSTI Anom Swasti- ka, anggota DPRD Tabanan periode 1992 1997 dari Komisi B F-KP itu memang tak lagi sibuk membawa as- pirasi masyarakat Pupuan dalam rapat paripurna lem- baga legislatif. Sejak memasuki masa purnabakti, pria berper. awakan tinggi tegap ini menghabiskan hari-harinya di sebuah rumah cukup me- wah, Dusun Mertasari, Desa Pujungan. Pertama- nan pada lahan seluas 15 are, lengkap dengan kolam renang, patung, dan berb- agai jenis tanaman hias, tampaknya sengaja ditata sebagai kado khusus untuk hari tuanya. Anom pun kerap kali "bertamasya" sambil mera- wat tumbuhan segar yang mengelilingi rumah berstil arsitektur Bali itu. Tak ada lagi suara lantang tentang kiat pembangunan, hanya desah kecil tentang kuasa Tuhan. "Bagaimana pun kuatn- ya manusia, akhirnya harus kembali ke alam. Anak- anak muda pun harus sa- dar, hidup adalah sebuah proses menuju dunia tanpa batas. Setelah kekuatan tak lagi bisa berfungsi, orang pun harus kembali seperti ketika baru lahir," ujarnya be- ranalogi. Anom Swastika memang sedang mencari arti sebuah per juangan. Setidaknya, ada perbedaan amat mendasar yang dirasakannya sejak melepas segala atribut kepemerinta han. Ternyata alih profesi itu tidak gampang, minimal men- untut Anom untuk lebih memahami hakikat hidup. Untuk ukuran masyarakat Pupuan, suami Jero Putu Su- karti ini tergolong tokoh yang punya segudang pengalaman. Anom tidak hanya menyumbangkan tenaga dan pikiran- nya untuk masyarakat, juga untuk lembaga pendidikan. Bahkan, ketika masih muda, ayah empat putra ini bebera pa kali ditangkap NICA lantaran dipandang menentang penjajahan Belanda. Dia juga menerima dua penghargaan dari pemerintah. Tahun 1979 dianugerahkan piagam tanda kehormatan Presiden RI berupa satya lencana karya satya tingkat III. Tahun 1995, Anom menerima piagam pimpinan LVRI satya lencana legiun veteran RL. Lantas, cerita apa yang terpatri dan kini dikenang kembali mantan anggota legislatif itu? *** Jika toh dari segi perekonomian Anom Swastika tak perlu lagi berpikir panjang, bukan berarti semua sudah selesai. Pada usianya yang ke-73, din masih ingin membagi cerita masa lalu untuk sekadar diingat. Dengan langkah sedikit gontai dan batuan tongkat penyangga tubuh, senyum itu masih mengembang dan menebarkan sikap kebijakan. I Gusti Anom Suastika bersama keluarganya. Tahun 1945, Anom Swastika telah menamatkan pen- didikan Kyu'ing Yosyziu. Sikap pemberontakannya terhadap penjajah, sudah mulai tampak ketika masih menimba ilmu di sekolah setara SD itu. Anom beberapa kali berniat meng himpun kekuatan, mengajak kaum sejawatnya menentang perilaku orang asing. Tahun 1946, dia mengabdikan diri sebagai guru di Se- kolah Rakyat (SD-red) 2 Tabanan. Pada saat revolusi fisik meletus, Anom tampil sebagai pemimpin tokoh muda Desa Tuakhilang. Karenanya, nama Anom Swastika termasuk dalam daftar "pemberontak" bagi pemerintahan Belanda dengan tentara NICA-nya. Didorong rasa loyal pada bangsa, Anom mengaku tak patah semangat mengajar anak-anak Indonesia tanpa mempertimbangkan imbalan. Syukur, minimnya anggaran pemerintah untuk gaji para guru, digantikan sikap masyarakat yang ramah dan toleransi tinggi. Anom pun mendapat sumbangan beras secara cuma-cuma, sekadar imbalan tulus ikhlas atas jer ih payahnya mengajar anak-anak desa menulis dan mem- baca. Setelah dinilai berhasil memangku jabatan dalam bi- dang pendidikan, tahun 1975 Anom diangkat menjadi Kepala P & K Kecamatan Pupuan. Pensiun tahun 1982, dia menyumbangkan pikirannya di SMU PGRI Pupuan, di samping juga aktif membangun desa. Terakhir, tahun 1992 1997, Anom kebagian "rumah" baru di Gedung DPRD Tabanan. Sebagai wakil rakyat dari F-KP, tentu tak lepas dari jerih payahnya membuat wilayah Pupuan serbakun- ing pada Pemilu 1997 lalu. Berkat gebrakan tokoh ka- rismatis ini, Golkar meraup suara 93 persen (23.855 suara) untuk daerah pemi- lihan Kecamatan Pupuan. Sikap manut masyarakat terhadap misi perjuangan seorang Anom Swastika, memang cukup beralasan. Jauh sebelum masuk anggota legislatif, kakek dari enam orang cucu ini sudah meneteskan "air" un- tuk penduduk yang sedang kehausan. *** Tak kurang, berbagai ke- berhasilan pembangunan di Pupuan khususnya Desa Pujungan, tak lepas dari peran Anom memanajemen desa. Sewaktu menjabat LSD (Lembaga Swadaya Desa), dia merancang pem- bangunan pasar desa, reno- vasi tempat-tempat ibadah, sampai mencetuskan ide membangun jalan swadaya. Sementara hubungannya dengan generasi muda malah lebih hebat lagi. Anom Swastika adalah se- orang dermawan, yang tak pernah absen menyisihkan penghasilannya untuk biaya kegiatan-kegiatan di desa. Tiap upacara Nyepi, Galungan, atau ketika muda-mudi Pujun gan membuat suatu acara, sumbangan pun terus mengalir dari rumah yang memasang papan nama UD Jero Anom itu. "Saya hanya memberi sebagian rezeki dari Tuhan. Saat mulai hidup berumah tangga, saya pernah merasakan bagaimana menjadi orang yang serbakekurangan. Jan- gankan rumah, kasur untuk tidur saja, dulu saya minjam di tentangga," katanya mengenang masa lalu. Ball Post/1st Setelah lebih dari setengah abad berjuang memerangi kendala kehidupan, kini Anom Swastika sudah merasa tu- gasnya hampir selesai. Empat putranya sudah semua hidup mandiri - IG Putu Buaningsih adalah pengusaha hasil bumi, IG Made Agustini (pemilik beberapa toko), dr. IG Arya Sidemen, MPH (tugas di Jawa), dan Ir. IG Putu Eka Yud- hana adalah pengusaha dan pemilik Bank Jero Anom. Un- tuk bekal hari tuanya, Anom masih menyisakan warisan 10 hektar lahan perkebunan kopi. Lantas, apa lagi yang belum selesai dalam hidup mantan anggota legislatif itu? Anom hanya memandang jauh ke depan, seperti dia sedang mencari jawaban atas pertanyaan yang tak pernah selesai dijawab. Sulit ditebak, entah apa yang dibaca dari tulisan tanpa huruf itu, hanya tampak kupu-kupu beterbangan mengitari pertamanan. Jika pagi hari tiba, menu sudah siap di meja, jalan-jalan di taman, dan tawa riang cucunya datang memberi keda- (jep) maian. Halaman 19 Ball Post/yep AGROWISATA - Potensi sektor perkebunan Pupuan dijadikan sebagai objek agrowisata yang diandalkan Kabupaten Tabanan. Jalur "Segi Tiga Emas" dan Transit Agrowisata LANGKAH Pemda Tabanan mencanang- kan Kecamatan Pupuan sebagai pusat pengembangan objek agrowisata, memang cukup beralasan dan dinilai tindakan yang sangat tepat. Melihat kondisi geografis dan pontensi yang tersedia, tak terlalu sulit bagi wilayah yang terletak di bawah Gunung Batu- karu itu mencapai sasaran sesuai rencana pemda. Pupuan yang berada pada jalur tiga ka- bupaten-jurusan Denpasar, Singaraja, dan Jembrana-sangat berpotensi untuk dikem- bangkan menjadi "kota transit" berbagai du- nia usaha. Bahkan, Bupati Tabanan Komang Wijana menilai Pupuan adalah kota kecama- tan kecil yang layak dibangun menjadi kota segi tiga emas. Potensi apa yang dimiliki Pu- puan hingga dijadikan sasaran untuk pengembangan objek agrowisata dan jalur segi tiga emas? Camat Pupuan Drs. I Gusti Gede Putu Geria menjelaskan, langkah untuk mewujud- kan Pupuan sebagai kota transit dan pusat pengembangan agrowisata, kini sedang men- dapat penanganan serius. Setelah melakukan penjajakan di lapangan, imbauan pemda ting- kat II untuk menjadikan kota Pupuan sebagai jalur segi tiga emas, mendapat dukungan dari berbagai sektor. Untuk itu, mulai pertenga- han tahun 1997, pihaknya sudah melakukan berbagai terobosan. "Pontensi pendukung- nya sangat memadai, tinggal bagaimana kita bekerja keras sesuai program kerja," kata mantan Sekwilcam Penebel ini. Untuk menunjang obsesinya sebagai ob- jek agrowisata, Pupuan menyediakan 1.114 hektar lahan pertanian, 16.700 berupa lahan kering, perkebunan. Bahkan, objek-objek di sepanjang jalan raya di daerah yang berke- tinggian 625 meter dari permukaan air laut itu, belakangan mulai ramai disinggahi para wisatawan mancanegara. Panorama sawah-sawah yang menghijau dan gerak lugu para petani, kerap kali me- ngundang minat orang asing untuk singgah. Belum lagi beberapa wisata trekking (jalan- jalan di hutan), sudah siap menyambut ke- datangan orang luar yang ingin menikmati kesejukan hawa pegunungan. Karenanya, hampir tiap hari bus-bus pariwisata tampak berjejer di jalur jalan desa yang strategis se- perti Belimbing, Somoja, Tejabukit, dan se- bagainya. Desa Belimbing punya dua tempat "pers- inggahan" yang banyak dikunjungi wisman. Kafe Belimbing milik pengusaha Iskandar Woworuntu dan kedai minum yang dikelola petani setempat, tiap hari disinggahi bus-bus rombongan tamu-tamu asing. Para pelancong tampaknya menaruh perhatian besar terha- dap keindahan panorama persawahan. Mere- ka tampak antusias berpose bersama di ten- gah hamparan ladang penduduk yang meng- hijau, sementara biru langit dengan latar be- lakang gunung menjulang, menambah ke- san alami yang amat dalam. "Saya suka pemandangan yang alami. Saya lebih baik menikmati hawa pegunun- gan, dan berjalan di jalan-jalan kecil itu," kata Mr. Albert, wisatawan asal Kanada sambil menunjuk jalan setapak di tengah sawah. dangan sawah berlatar belakang Gunung Batukaru, Pura Mekori dan nilai sejarah- nya, Dusun Padangan punya Alas Kedaton II, Tejabukit yang terkenal dengan ulah kera di Pura Prajuritan, sudah menjadi agenda perjalanan wisman yang melakukan tur ke Lovina atau Jembrana. Sementara di Dusun Bansing sudah dikembangkan objek agro- wisata dengan luas areal sekitar 11 hektar dengan mengembangkan buah jeruk, durian, dan berbagai jenis bunga. Guna menunjang objek wisata yang kini makin digemari orang asing itu, Geria sudah mencanangkan beberapa program pemba- ngunan fisik. Melalui bantuan pemda, di seki- tar lokasi Pura Mekori akan dibangun 11 kios plus 10 stan buah permintaan masyarakat yang dananya bersumber dari para pedagang. Anggaran dana untuk los pasar dan parkir itu Rp 30 juta, sedangkan harga per kios Rp 5.800.000. "Saya optimis Pupuan punya prospek ce- rah sebagai objek agrowisata. Sebagai ta- hap awal, Pura Mekori perlu dilengkapi sarana pendukung. Pedagang buah kami tata, dan areal parkir harus memadai," te- gasnya.. Sikap yakin Geria terhadap potensi Pu- puan, ternyata dilandasi oleh berbagai hal. Salah satunya, adalah pengembangan ko- moditi buah-buah yang sudah ada dan jalur lalu lintas yang melewati wilayahnya. Mulai dari ujung timur, Desa Belimbing terkenal sebagai daerah penghasil buah duri- an, manggis, wani, di samping kelapa. Me- nyusul Desa Sanda sebagai pengasil kopi dan salak, Batungsel (terutama Dusun Padangan) yang sudah mengekspor buah manggis ke Taiwan. Segi Tiga Emas Salak, coklat, dan kopi juga menjadi sum- ber penghasilan utama penduduk setempat. Kebon Padangan adalah gudang manggis dan cengkeh, sementara Pujungan merupakan wilayah penghasil kopi terbesar di Bali. Pu- puan menjadi sentra perdagangan dan pusat transaksi berbagai kalangan, Pajahan dan Munduktemu terkenal sebagai daerah peng- hasil salak dan kopi. Selama ini, pemasaran hasil panen pen- duduk hanya mengandalkan peran para teng- kulak dari daerah luar. Untuk itu, fluktuasi harga sering menjadi kendala meraih peng- hasilan sesuai harapan. "Kalau benar termi- nal Pupuan akan menjadi pusat pemasaran buah-buahan, saya yakin nasib para petani akan lebih baik," kata pedagang buah asal⚫ Padangan, Ny. Sriwati. Sriwati yang tergolong pengepul buah pa- ling besar di Pupuan menilai, persaingan sau- dagar lokal makin tidak sehat karena pe- ngaruh pembeli dari kota. Artinya, harga buah sering tidak stabil karena selalu ber- gantung pada permintaan dari luar daerah. "Harga buah belum terkoodinasi dengan baik, jadi masih tergantung pada kedatangan sau- dagar dari kota," katanya. Keperluan para petani akan tempat pema- saran hasil panennya itu, merupakan tantan- gan bagi aparat kecamatan untuk memban- tu masyarakat. Geria berharap, usulan proyek pembangunan pasar bertingkat di ter- minal Pupuan cepat terwujud. puan sebagai pusat agrowisata. "Bahan yang kita jual sudah ada, cuma pihak kecamatan masih menunggu bantuan untuk memban- gun sarana fisiknya." Menata Diri Salah seorang penjaga kedai yang menjual minuman dingin, di Belimbing mengatakan, Para pedagang yang menjajakan buah dari sekian turis yang singgah minum, ke- dengan teratur, sangat berperan untuk men- banyakan minta diantarkan turun ke sawah. unjang usaha pemda tingkat II menjadi Pu- "Turis itu sering minta diajak berjalan-jalan ke sawah," katanya. Tampaknya pemilik "pondok" peristiraha- tan buat wisman itu sudah mengambil lang- kah untuk memberi pelayanan yang lebih Selain mengandalkan buah kopi, manggis, nyaman. Pada sebelah kanan kiri jalan raya, dan salak, pada wilayah yang dihuni 6.945 dekat kedai, jalan-jalan setapak menuju la KK (data tahun 1996) itu, juga mulai dikem- dang penduduk ditata dengan rapi. Tak bangkan jeniş komoditi baru. Budi daya bu- kurang dari tiga buah tempat mandi, kamar rung sriti dan berbagai jenis burung kicauan kecil, sampai tempat duduk terbuat dari kayu adalah sektor pendukung pendapatan mirip di hotel-hotel berbintang disuguhkan masyarakat, yang mulai mendapat perhatian untuk para pelancong. Wisatawan pun da warga setempat. pat duduk-duduk santai, sambil memesan mi-, numan dingin. Untuk pengembangan objek wisata agro, menurut Geria, Pupuan mulai menata diri seperti membangun prasarana yang diperlu kan. Pihaknya mengundang investor, di samping yang sudah jalan, untuk diajak be- kerja sama membangun kepariwisataan tan- pa harus mengorbankan hak-hak petani. Art- inya, sistem saling menguntungkan harus di- utamakan daripada sekadar melakukan jaul beli tanah. Darsono dan Wisnu, adalah dua warga Pupuan yang sudah berhasil menjual sarang sriti Rp 200.000 per kilogram. Menurut Geria, untuk masa akan datang, sarang sriti akan dibudidayakan seperti sarang burung walet. "Kami masih melakukan penjajakan, seper tinya pengembangan sriti juga cocok untuk wilayah Pupuan." Sementara untuk jenis kerajinan, di masyarakat berkembang seni ukir, lukis, pa- hat, dan ulat topi benang. Untuk yang tera- khir (ulat topi benang), malah menjadi sum- "Kami mengundang pemilik modal un- ber penghasilan kedua setelah buah kopi. tuk diajak kerja sama, bukan disuruh mem- Hampir 80 persen warga setempat mengam- beli tanah-tanah petani. Misalnya, inves- bil pekerjaan sebagai tukang ngulat topong tor membangun sarana pariwisata dengan (menganyam topi) untuk menutup keperlu- menjual keindahan alam dan aktivitas an dapur. petani." "Pesanan dari Jepang tidak pernah sepi, Sepuluh desa-Belimbing, Sanda, Ba- hasil ulatan masyarakat Pupuan sudah di- tungsel, Kebon Padangan, Pujungan, Pu- akui di luar negeri. Sejak kerajinan ngulat puan, Bantiran, Munduktemu, Pajahan, topi benang masuk di Pupuan, semua warga dan Blatungan yang berada di wilayah desa dapat pekerjaan sampingan, dan upah- Kecamatan Pupuan, sangat mendukung nya cukup lumayan," kata Ny. Sukarya, pen- untuk dijadikan pusat pengembangan gusaha ulat topi benang yang menghimpun agrowisata. sekitar 200 orang perajin Gep) Bahkan, Desa Belimbing dengan peman- Color Rendition Chart 2cm 4cm
