Tipe: Koran
Tanggal: 1997-10-27
Halaman: 24
Konten
2cm Halaman 24 Catatan Pasca-SEA Games (2-Habis) Perlu Pelatda Otonomi DEWASA ini prestasi olah raga telah men- jadi kebudayaan yang amat populer dan te- lah menjelma menjadi mitra kehidupan mo- dern. Semua negara di jagat raya ini terus memacu dan berbenah diri dalam upaya membangun bidang olah raga di masing-masing demi mencapai obsesi dan prestasi. Tak ketinggalan bangsa Indonesia pun sedang berusaha menuju ke arah sana. Tujuannya cukup jelas yaitu memanfaatkan sarana olah raga untuk membangun sumber daya manusia (SDM) yang andal, juga tersirat se- mangat dan motivasi untuk meningkatkan prestasi di tingkat dunia melalui para a- tlet. Pada perspektif sosialisa- si, ternyata prestasi olah raga yang diraih atlet sebuah nega- ra merupakan indikator yang cukup representatif untuk mempersentasikan etos dan kinerja masyarakat di suatu negara kepada masyarakat mancanegara lainnya, karena masyarakat di suatu negara merupakan bagian yang terin- tegratif dengan masyarakat global-dunia. secara sadar telah memberi kan banyak pelajaran bagi segenap pelaku olah raga di Tanah Air, bahwa demi lebih mudahnya sistem kontrol dan pengawasan yang mele- kat terhadap atlet, semua atlet harus dimasukkan dalam kamp-kamp Pelatnas. Jepang, Cina dan Korsel selalu menjadi saudara tuanya nega- ra-negara Asia. Dengan kata lain, negara lain sulit menyai- ngi kekuatan tradisional keti- ga negara ini, baik di tingkat Asian Games maupun se- bagai duta Asia di tingkat dunia. negaranya dan mengharuskan bangsa Indonesia untuk tidak henti- hentinya melakukan pem- benahan di berbagai sektor yang dinilai masih kurang dan perlu merevisi sistem dan pola kerja yang sudah ada. "Kaca mata yang perlu kita gunakan untuk melihat kondisi itu adalah inovasi dan improvisasi sesuai per- kembangan ilmu penge- tahuan dan teknologi. Pada konteks ini, laik kiranya kita menengok kembali sistem dan kebijak an yang mengatur tentang persiapan atlet menjelang menghadapi suatu event. Yakni, sistem TC Pelatnas (pemusatan latihan nasional) tersentralisasi. Kondisi em- Kesadaran untuk menge- jar ketertinggalan, menuntut pirik yang terjadi selama ini, Pejabat Italia Benarkan Tindakan Polisi Roma PEJABAT sepak bola Italia membenarkan tindakan polisi Roma dalam mengawasi massa pada pertandingan penyisihan Piala Dunia di Roma setelah penguasa Ing- gris menuduh polisi Roma sengaja melakukan intimidasi dan provokasi terhadap fans Inggris. "Tindakan petugas keamanan Italia adalah untuk pencegahan. Tindakan itu diperlukan agar fans Inggris dan Italia tidak saling berhubungan di stadion," kata juru bicara Federasi Sepak Bola Italia Antonello Valentini pada jumpa pers, Sabtu (25/10). "Polisi terpaksa turun tangan sesuai dengan penilaian mereka, dan bukan tugas kami untuk menentang atau mengkritik operasi polisi-un- tuk memisahkan fans Inggris yang punya risiko menyer- bu ke daerah fans Italia," katanya. Persatuan Sepak Bola (FA) Inggris menuduh polisi Roma dalam laporan yang dikeluarkan Jumat, dengan sengaja melakukan intimidasi dan adakalanya provoka- si secara berlebihan dalam mencegah terjadinya baku hantam antara fans Inggris dan Italia pada pertandingan 11 Oktober lalu. Ketua Eksekutif FA Graham Kelly mengatakan, semua bukti-bukti menunjukkan terdapat hal-hal yang tidak efisien, kebrutalan yang sebelumnya disiapkan (polisi Ita- lia) dan provokasi yang serius. Fans kedua negara sebel- umnya terlibat dalam perkelahian dengan polisi antihuru- hara Italia, pada saat dan setelah pertandingan yang berakhir seri 0-0 yang menjamin tempat bagi Inggris pada final Pia- la Dunia di Prancis tahun depan. Valentini mengatakan, polisi Italia melakukan tindakan pencegahan ketika ber- langsung pertandingan karena telah terjadi serangan-se- rangan di kota oleh kelompok kecil fans Inggris. Laporan Inggris itu mencakup foto-foto dari fans Inggris yang dipukul pakai tongkat oleh polisi Italia di luar stadion. Dikatakan, pejabat Italia tidak memanfaatkan polisi Inggris yang dikirim ke Italia untuk mengawasi mereka yang dikenal sebagai pembuat kerusuhan. Kepala polisi Italia mengatakan, 21 perwira polisi ter- luka akhir pekan lalu dalam perkelahian dalam kaitan pertandingan. Duapuluh satu suporter Inggris dihukum percobaan setelah pertandingan, karena melakukan tin- dakan kriminal termasuk menyerang polisi dan menolak penangkapan. Seorang pemain internasional Italia yang punya hubu- ngan dekat dengan Inggris, Gianfranco Zola, mengimbau kedua negara agar saling memaafkan dan melupakan ke- jadian itu. "Saya amat menyayangkan. Saya pikir yang paling penting adalah menjadikan situasi lebih baik dan melu- pakan masalah itu," kata Zola yang bermain untuk klub Inggris Chelsea. (rtr/afp) Bagi kita di Indonesia, u- paya ke arah sana sebetul- nya sudah dilakukan sebagi- an pelatih. Namun, belum mendapatkan respon yang positif dari sebagian petinggi olah raga nasional. Sebut saja keberanian seorang Daniel Bahari, pelatih tinju. Ter- catat beberapa kali Daniel menolak anaknya Pino dan Nemo Bahari untuk mengikuti TC Pelatnas, kare- na beliau tahu persis kondisi real di kamp Pelatnas tinju yang kurang menjamin baik dari sisi program latihan maupun pelatih yang mena- ngani para petinju. Penolak- an Daniel mestinya dilihat se- bagai sesuatu yang wajar dan positif. Namun apa yang ter- jadi? Ternyata banyak pe- nilaian kiri dialamatkan ke- padanya. Imbasnya adalah Pino dicoret dari tim yang memperkuat Indonesia di arena SEA Games XIX. Ken- dati alasan dari pencoretan itu adalah karena Pino (kelas berat ringan) gagal melaju ke babak kedua pada piala Pre- siden, Juli 1997. Menurut he- mat kita, alasan itu hanyalah bersifat retorik. Pelatda Otonomi Keuntungan dari TC atlet melalui Pelatda otonomi a- dalah cukup banyak. Perta- ma, pengurus dan pelatih ca- bang olah raga bersangkutan akan lebih leluasa meren- canakan program latihan, karena mereka lebih tahu persis potensi dan karater atlet yang mereka bina. Ke- dua, pelatih lebih bebas melakukan inovasi dan im- provisasi dalam membina dan melatih para atletnya. Sistem dan strategi itu memang cukup bagus. Na- mun, kita tentunya tidak boleh tutup mata akan ber- bagai keluhan yang muncul ke permukaan. Dari tahun ke tahun keluhan yang dimun- culkan oleh sebagian pelatih maupun atlet, masih berku- tat yang itu-itu saja. Di an- taranya, atlet daerah mem- butuhkan waktu minimal satu sampai dua bulan untuk menyesuaikan diri. Baik itu dengan pelatih barunya, se- sama atlet, maupun dengan lingkungan yang lebih luas seputar kamp Pelatnas. Se- lain itu, mereka juga harus menanggung beban psikolo- gis untuk meninggalkan sa- nak famili, handai taulan dalam waktu tertentu dan jarak yang jauh. Masalah ter- akhir ini masih bisa diatasi, tetapi kalau masalah perbe- daan pelatih dan materi lati- han yang diberikan, tentu- nya untuk mencapai target jangka pendek akan kurang maksimal. Di sini, hukum perubahan akan sistem dan strategi persiapan atlet per- lu lebih ditonjolkan. Hukum perubahan yang kita maksud adalah tidak ada sesuatu di dunia ini yang kekal, kecuali perubahan itu sendiri. Begi- tu halnya dengan Palatnas bidang olah raga prestasi. Berpijak pada hukum pe- rubahan, maka tidak salah- nya kalau sistem dan strate- gi yang diterapkan selama ini - melalui TC Pelatnas ter- pusat sudah waktunya dirumuskan menjadi suatu kebijakan baru dengan per- timbangan efektivitas biaya, program latihan, serta mem- berikan kesempatan dan ke- Ketiga, perbedaan sistem percayaan yang lebih luas pendidikan dan program lati- bagi segenap pelatih olah han, paling tidak dicegah se- raga daerah untuk mengatur dini mungkin dan para atlet dan mengelola klub/perkum- tidak perlu dituntut untuk pulan. Visi ini tentunya tidak beradaptasi dengan lingku- dimaksud untuk semua ca- ngan baru lagi. Efektivitas bang olah raga maupun se- latihan dan hasil yang dica- mua perkumpulan/klub olah pai nanti tentunya jauh lebih raga di daerah. Tahap awal- baik. Sudah barang tentu, bi- nya, mungkin memilih pro- aya yang dikeluarkan selama gram prioritas di cabang-ca- ini untuk transportasi dari bang tertentu, dan atas per- daerah ke Jakarta, dialihkan timbangan manajemennya untuk memenuhi kebutuhan sudah bagus. Pertimbangan intern. Keempat, memberi- SDM pelatih dan bibit atlet kan kesempatan lebih luas yang ditangani, menjadi pa- bagi perkumpulan/klub olah rameter utama pemberian raga di daerah untuk meng- Palatda otonomi. atur rumah tangganya sendi- Sekadar menunjukkan ri dan berusaha mengor- contoh negara lain yang sudah menerapkan strategi seperti ini adalah Cina, Jepang, dan Korsel (untuk Asia). Ketiga negara ini sejak pertengahan tahun 1980-an, telah memberikan kesempat- an dan kepercayaan bagi sejumlah cabang olah raga untuk mengelola dan meng- atur sendiri perkumpulan olah raganya. Hasilnya sudah bisa kita lihat bahwa ketiga negara ini selalu mendomina- si prestasi di tingkat Asia. Tidak mengherankan kalau muncul interprestasi dan pandangan yang mengatakan bitkan atlet berprestasi dalam jumlah yang lebih ba- nyak. Dari keuntungan yang te- lah diguratkan di atas, perlu kita garis bawahi kembali bahwa hal itu bukan berarti PB lepas sama sekali tang- gung jawabnya. Jalur per- tanggungjawaban secara ad- ministratif sebagaimana la- yaknya sebuah organisasi, tetap perlu dan penting. Se- lain itu, interaksi komunika- si antarpusat dan daerah dalam bentuk koordinasi mutlak adanya. AS Yasin Bali Post Senin Kliwon, 27 Oktober 1997 Wed INDONESIA Bali Post/ist UCAPAN SELAMAT - Wapres Try Sutrisno memberikan ucapan selamat kepada binaragawan Ade Rai dalam satu acara SEA Games belum lama ini. SELASA, 28 Oktober 1997 bangsa Indonesia memperi- ngati Hari Sumpah Pemuda. Suatu momentum yang me- ngandung ilham kepatriotan dan kepahlawanan yang diprakarsai generasi muda pada 28 Oktober 1908. Para pemuda dengan gigih dan be- rani mengambil keputusan yang sangat strategis yaitu kebulatan tekad menjadi satu bangsa, bangsa Indonesia; ber- sumpah untuk mencintai satu tanah air, tanah air Indonesia, bersepakat untuk meng- gunakan satu bahasa, bahasa Indonesia. Dalam suasana peringa- tan Hari Sumpah Pemuda tahun ini, tidak berlebihan kalau kita menaruh per- hatian pada agenda kajian pemuda dan olah raga. Tuju- annya adalah, dengan se- mangat kepeloporan genera- si muda masa lalu, senan- tiasa menjadi motivasi bagi generasi muda masa kini dan yang akan datang untuk berkiprah dalam mengisi ke- merdekaan dengan berbagai kegiatan yang positif. Salah satunya adalah pemba- ngunan di bidang olah raga. Proposisinya, pemuda se- bagai aset bangsa, khususn- ya mereka yang memiliki minat dan bakat di bidang olah raga, diharapkan mam- pu memanfaatkan sarana olah raga baik untuk menja- ga kesehatan dan meningkat- kan kesegaran jasmani, juga mencapai prestasi setinggi- tingginya guna mengharus- kan nama bangsa dan nega- ra di mata masyarakat man- canegara. Sejarah sudah mencatat, generasi muda pra dan awal-awal kemerdekaan, dalam upaya membangun komunitas pemuda untuk bersatu padu melawan kolo- nialisme, mereka meman- faatkan asrama olah raga untuk menggalang massa. Cabang olah raga sepak IGN Washa: Rindu Tangani PASI Tabanan SEJAK Minggu (26/10) kema- rin, Ketua Pengcab PASI Tabanan I Gusti Nengah Washa kembali menangani para atlétik di kota "Lumbung Beras", setelah satu tahun sejak Oktober 1996 menda- patkan kepercayaan melatih atlet aletik nomor tolak peluru SEA Games XIX 1997 Jakarta. "Saya sudah rindu sekali untuk kembali menangani atletik di Ta- banan. Mulai 27 Oktober saya ter- jun lagi ke Stadion Debes untuk me- lihat anak-anak latihan," ujar Washa kepada Bali Post ketika dite- mui di rumahnya, Sabtu (25/10). Setelah dilepas dari Pelatnas SEA Games Jakarta, Washa tiba di Tabanan pada Jumat (24/10) seki- tar pukul 23.30. Lantas, ia pun men- ceritakan pengalamannya saat melatih di Pelatnas, khususnya para atlet nomor tolak peluru yang menjadi asuhannya. Menurut Washa, meski dua a- tlet asuhannya, Sukh Raj Singh dan Rosalia Kahol, pada SEA Games Jakarta baru-baru ini tidak menda- patkan medali emas seperti yang di- inginkan, tetapi ia menyebut presta- si kedua atlet tersebut mengalami peningkatan. Sukh Raj Singh, atlet asal Medan (Sumatera Utara) ber- darah India itu merebut perak de- ngan jauh lemparan 15,78 meter. Prestasinya itu masih di bawah a- tlet Thailand, Wusnawan Saweshee, yang meraih emas dengan lempa- ran 16,33 meter. Sedangkan atlet putri Indonesia asal Irian Jaya, Ro- salia Kahol meraih perunggu de- ngan catatan lemparan 14,10 meter. Prestasi Rosalia Kahol juga masih di bawah di pilet Thailand, dan 14,38 meter. I Gusti Nengah Washa Juthapen K (emas) dan Kruawa Thaweedech (perak), masing-ma- sing dengan lemparan 17,25 meter Washa menyebut, prestasi yang diukir Sukh Raj Singh meningkat, karena dibandingkan SEA Games di Chiang Mai, ia hanya berada di urutan keenam. "Jadi, kami memang sebelumnya memprediksikan Sukh untuk meraih perak, mengingat Wusnawan Sawesdee (Thailand) merupakan juara bertahan sekaligus pesaing terberat Indonesia," kata Washa. Sedangkan Rosalia, lanjutnya, merupakan atlet pendatang baru di arena SEA Games. Untuk meraih pe- runggu, atlet yang satu ini harus ber- juang melawan pesaingnya dari Ma- laysia dan Myanmar. Sementara dua altet Thailand yang meraih emas dan perak, dikatakan Washa, belum ada atlet tolak peluru di Asia Tenggara ini yang saat ini mampu menandingi mereka. Sebab, Juthapaon adalah pe- raih emas Olimpiade asal Cina yang pindah kewarganegaraan ke Thailand, dan peraih perak Kruawa Thaweedech adalah juara bertahan tolak peluru SEA Games di Chiang Mai. "Jadi, apa yang mereka (atlet to- lak peluru) raih pada SEA Games itu sudah merupakan hasil maksimal, tetapi dalam catatan juga mengala- mi peningkatan dibandingkan prestasi sebelumnya," papar Washa seraya menyebut, secara keseluru- han cabang atletik Indonesia berada di posisi ketiga dengan 8 emas, 8 pe- rak, 13 perunggu, masih di bawah Malaysia (16, 7, 5) dan Thailand (15, 19, 7). Hasil ini cukup bagus dan patut diberikan ancungan jempol bagi pu- tra Tabanan ini. Ia telah membuat Indonesia menuju peningkatan prestasi, khusus di nomor lempar. Akhirnya, selamat kembali berkiprah menangani PASI Taba- nan. Semoga sukses Pak Washa! (gap) Pemuda dan Olah Raga bola misalnya, induk orga- nisasinya PSSI, didirikan pada 1930, ketika negeri ini membutuhkan segala macam alat perjuangan untuk mem- basmi dan menyingkirkan penjajah. Waktu itu, lahirnya PSSI dengan misi dan visi uta- manya adalah membina men- tal dan membakar semangat kebangsaan para pemuda di seluruh pelosok Tanah Air. Setelah merdeka, para pemimpin bangsa secara jeli memanfaatkan bidang olah raga untuk mensosialisasi- kan bangsa Indonesia yang relatif usianya masih muda. Hal ini terbukti, dengan dige- Begitu pula dengan pe- larnya PON I tahun 1948 di manfaatan bidang olah raga. kota Solo, yang sarat dengan Generasi muda pra dan awal- mautan politik. Kenapa awal kemerdekaan, tersim- Lingkungan tidak? Bangsa Indonesia pul memanfaatkan olah raga Agar potensi generasi yang telah memproklamasi-, sebatas membangun mental muda di bidang olah raga da- kan kemerdekaannya sejak dan semangat juang para pe- pat tersalurkan secara baik, 17 Agustus 1945, ternyata muda untuk memerangi pen- maka etika baru perlu dila- Selain kebijakan di atas, sampai dengan tahun 1948 jajah. Prestasi belum menja- hirkan. Yakni, menciptakan masalah yang tidak kalah pun Kerajaan Inggris belum di tujuan yang akan dicapai lingkungan pembinaan olah pentingnya adalah penyedi- mengakui kemerdekaan dari aktivitas olah raga yang raga prestasi, karena maju aan dan pengadaan sarana negara Indonesia. Pada Olim- mereka lakukan. mundurnya pembinaan olah prasarana olah raga yang piade XIV di London, 1948, Sedangkan pada era mod- raga prestasi di kalangan memadai baik di lingkungan seharusnya Indonesia bisa ern sekarang ini, pemban- generasi muda, sangat diten- sekolah mulai dari SD, SMP, ikut serta. Namun Inggris gunan di bidang olah raga di tukan masyarakat sebagai SMU, sampai ke tingkat per- mengeluarkan ultimatum, negara kita, tidak hanya ber- lingkungan pembinaan. Di guruan tinggi, juga di Indonesia bisa ikut asalkan tujuan membangun fisik dan sini, dituntut pemerintah lingkungan masyarakat luas, para atlet dan ofisialnya mental, tetapi juga untuk melalui KONI, Menpora, dan sehingga memungkinkan menggunakan pasfor Belan- mencapai prestasi setinggi- instansi Depdikbud, menge- munculnya niat dan ke- da, tidak boleh menggunakan tingginya. Ini merupakan luarkan kebijaksanaan agar mauan yang keras dari ge- pasfor Indonesia. tantangan yang perlu disika- masyarakat kiat menghargai nerasi muda untuk mengge- Menanggapi ultimatum pi secara arif dan bijaksana pentingnya olah raga bagi luti dunia olah raga prestasi. itu, pemimpin besar revolusi oleh generasi muda sekarang kehidupan manusia Indone- Dengan menciptakan Ir. Soekarno mengambil lang- ini. Karena, usia sangat be- sia terutama generasi lingkungan pembinaan olah kah tegas yaitu menyerukan sar pengaruhnya terhadap muda. Sikap yang perlu di- raga prestasi secara masal pengurus PORI (Peraturan pencapaian prestasi seseor- tanam dan dibina dengan dan merakyat, dapat dipas- Olah Raga Republik Indone- ang. Para pemuda merupa- tingkat perhatian yang seri- tikan potensi generasi muda sia) sekarang KONI untuk kan aset yang ideal untuk us meliputi; pertama, meng- di bidang olah raga tidak tidak mengirim atlet ke pes- pencapaian prestasi di hargai olah raga sebagai akan tersia-siakan. ta Olimpiade London. Kom- tingkat praksis. salah satu kebutuhan dalam pensasinya adalah para atlet Pencapaian prestasi set- memelihara kesehatan dan yang sudah dipersiapkan di- inggi-tingginya sudah menja- meningkatkan tingkat kese- arahkan untuk tampil di di komitmen nasional dalam garan jasmani tiap manusia arena PONI, 1948. Itu semua melaksanakan pemban- Indonesia. sudah menjadi catatan se- gunan di bidang olah raga. Kedua, menghargai olah raga jarah perjalanan bangsa kita. Secara jujur haruslah kita sebagai sarana untuk me- Tantangan-tantangan akui bahwa generasi muda ningkatkan dan mengangkat yang dihadapi para pemuda yang mengisi kemerdekaan harkat dan martabat pribadi, pada awal-awal kemerde- ini, belum menampakkan keluarga, dan mengharumkan kaan, tentunya berbeda den- prestasi yang menggembira- nama bangsa melalui penca- gan tantangan-tantangan kan di event bergengsi man- paian prestasi. Ketiga, meng- yang dihadapi generasi muda canegara. Hal ini tentunya hargai olah raga sebagai lapa- sekarang ini. Perang berbeda tidak boleh ditimpakan ngan kerja. Para atlet, pelatih, dengan tantangan yang akan sepenuhnya kepada genera- dan pembina yang berpresta- dihadapi generasi muda pada si muda, tetapi perlu juga di- si perlu eri perhatian masa datang, karena tantan- lihat dari berbagai aspek pen- khusus dan penghargaan yang gan tiap zaman selalu berbe- dukungnya. Di antaranya wajar untuk meningkatkan se da. menyangkut manajemen, mangat dan motivasi dalam sistem pembinaan, sarana memacu prestasi yang lebih prasarana pendukung, dana, tinggi. Khusus para olah SDM pengurus. ragawan berprestasi perlu ada penanganan yang mendasar dan melembaga terutama memberikan jaminan bagi masa depannya. DAPUR LITBANG Pelatihan SAMPAI sekarang masih saja ada atlet atau pelatih yang tidak tahu bedanya antara pelatihan dengan aktivitas fisik, bermain atau bekerja. Jika ditanya apakah merupakan suatu pelatihan olah raga bila seorang petani yang tiap pagi pergi ke sawah kemudian mencangkul selama 3-4 jam dari pukul 06.00 sampai pukul 10.00 pagi? Atau seorang pegawai yang tiap hari pergi ke kantor dengan naik sepeda yang jaraknya dari rumah sejauh 5 km, ditempuh dalam waktu 15 menit, apakah pegawai tersebut dapat dianggap melakukan pe- latihan olah raga? Atau yang lebih spesifik, apakah seke- lompok orang yang tiap hari bermain sepak bola selama 90 menit, dapat dianggap mereka itu berlatih olah raga? Jawa- ban pertanyaan ini bisa "ya" bisa juga tidak". AS Yasin Oleh Ngurah Nala nya, tetapi relatif kecil atau tidak optimal. Suatu program pelatihan akan mencapai hasil optimal, amat tergantung pada beberapa faktor. Baik yang bersifat internal maupun eksternal. Faktor internal, faktor yang ada di dalam diri orang yang akan dilatih, misalnya umur, kua- litas serta potensi. Sedangkan faktor eksternal, menyangkut hal-hal yang berada di luar diri atlet, baik berupa faktor fisik maupun non-fisik atau psikis. Tiap program pelatihan hendaknya memiliki tujuan. Tanpa tujuan pelatihan, akan sulit menyusun pelatihan yang benar dan tepat. Pada u- mumnya, tujuan pelatihan adalah sebagai berikut: 1. Mengembangkan unsur fisik secara multilateral. Ter- utama berkaitan dengan unsur biomotorik yang dikembang- kan bersamaan, seperti daya tahan kardiovaskuler, daya tahan otot, daya ledak, kekuatan, kecepatan, kelentukan dan keharmonisan perkembangan tubuh. 2. Meningkatkan unsur fisik tertentu sesuai dengan ke- butuhan olah raga yang digeluti. Seperti unsur kekuatan otot absolut dan relatif, massa otot dan elastisitas atau ke- lenturannya, waktu reaksi, koordinasi gerakan dan lain-lain- nya. Tergantung cabang olah raga yang digeluti. Misalnya meningkatkan kekuatan otot tungkai untuk peloncat ting- gi, pelompat jauh, perenang, pelari jarak pendek, dan se bagainya, dengan cara pelatihan yang berbeda. 3. Menyempurnakan teknik bermain sesuai cabang olah raga. 4. Memperbaiki strategi yang dibutuhkan, dengan cara mempelajari taktik yang akan diterapkan dalam menghada- pi lawan, dsb. Pelatihan adalah suatu aktivitas yang dilakukan secara sistematis dan teratur dengan peningkatan beban atau pem- berian beban berlebih yang bertahap sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Petani yang mencangkul di sawah, pe- gawai yang naik sepeda ke kantor dan sekelompok orang yang bermain sepak bola tidak memenuhi persyaratan dari definisi tersebut. Yang jelas mereka tidak meningkatkan beban secara bertahap. Istilah beban dalam dunia olah raga tidaklah selalu berupa halter, barbel atau karung pasir yang harus diangkat atlet. Beban tersebut dapat berupa lama ber latih, kecepatan bergerak, tinggi loncatan, banyaknya ulang- an atau repetisi, banyaknya set, jauhnya lemparan, frekuensi tiap minggu dan sebagainya. Ternyata petani tersebut be- ban kerjanya tetap saja dari hari ke hari, bahkan dari tahun ke tahun tidak ada perubahan. Waktunya tetap dari pukul 06.00 sampai pukul 10.00. Luas tanah yang dicangkul tetap 5. Mengolah kualitas kemauan melalui suatu pelatihan saja. Kecepatan mencangkulnya pun tetap. Pacul yang di- yang sepadan dan perilaku yang disiplin. Dilakukan persiap- gunakannya beratnya tetap. Jadi ditinjau dari beban, tidak an psikologis sesuai dengan situasi dan kondisi yang akan ada penambahan secara bertahap. Demikian pula dengan dihadapi. pegawai yang pergi ke kantor naik sepeda. Jarak yang ditem- puh, kecepatan, lama waktu yang dibutuhkan, berat beban yang dibawa, frekuensi dalam seminggu, semua tetap. Ini berarti baik petani maupun pegawai ini tidak melakukan pelatihan. Hanya melakukan aktivitas fisik berupa men- Dalam menyusun suatu program pelatihan hendaknya cangkul atau naik sepeda saja tiap hari. Bagaimana dengan ada takaran yang baku yang akan diikuti mereka yang sekelompok orang yang bermain sepak bola? Bila beban melakukan pelatihan. Maksudnya agar pelatihan menjadi sewaktu bermain tetap dari waktu ke waktu, yang me- lebih efisien dan hasilnya mudah dievaluasi serta dipredik- nyangkut intensitas, durasi dan frekuensi bermain tidak ada si. Takaran pelatihan tersebut meliputi: intensitas (berat perubahan, maka mereka pun bukan berlatih sepak bola, ringan durasi (lama berlatih), frek i (banyaknya 6. Berbagai persiapan lainnya yang dilakukan sampai optimal, menyangkut masalah kesehatan, pencegahan ce- dera, memperkaya pengetahuan teori terhadap masalah fi- siologi, psikologi, nutrisi, dasar pelatihan dsb. tetapi melakukan aktivitas fisik bermain sepak bola. De- pelatihan dalam minggu) dan evaluasi (tiap hari, minggu, ngan sendirinya tidak dapat diharapkan mencapai prestasi bulan atau beberapa bulan) untuk peningkatan beban. Ter- maksimal dalam bidang olah raga yang mengutamakan masuk juga pemilihan yang tepat tentang jenis aktivitas pe- kekuatan otot lengan atau menjadi pembalap sepeda atau latihan yang sesuai dengan tujuannya. Misalnya untuk me- pesepak bola. Untuk mencapai prestasi dalam bidang olah ningkatkan kekuatan otot lengan pemain tenis akan lain raga, perlu dibuat program pelatihan. Tanpa adanya pro- caranya dengan petinju atau pelempar cakram. Masing-ma- gram pelatihan, sulit sekali diharapkan seseorang akan sing mempunyai tujuan berbeda, sehingga jenis gerakan fisik mampu mencapai prestasi optimal. Waktu, tenaga dan dana pelatihan yang dipilih pun berbeda satu dengan lainnya. yang dipergunakan tidak sebanding dengan hasil yang dica- Salah dalam memilih jenis pelatihan, hasilnya akan lain dari pai. Walaupun ada peningkatan dalam unsur biomotorik- yang diharapkan. Color Rendition Chart 2cm 4cm
